A/N: Awalnya Maiko kira ini akan menjadi oneshoot, tapi ternyata multichap. Hope you like it minna.

Saint Seiya © Kurumada-sensei

Nitsuki Matsushima © TsukiRin Matsushima29

Story, Rhea & Yoru Matsushima © Matsushima Maiko

Matsushima Maiko mempersembahkan

A New Born

~Please Don't~

1 minggu kemudian.

Hades segera memperkenalkan kelahiran sepasang anak kembar yang lahir di malam bulan purnama itu kepada seluruh Underworld, Thanatos dan Hypnos menyambut kedua bayi itu dengan gembira. Mereka segera memerintahkan para Nymph di Elysium untuk mengadakan pesta.

Zeus terkejut saat mendapat undangan dari sepasang dewa kembar itu, terlebih undangan itu atas nama Hades. Belum lagi Poseidon yang sedang berdiam di Atlantis, seluruh Atlantis gempar karena surat undangan itu. Namun kedua dewa tersebut menanggapi undangan tersebut dengan sangat baik.

Dewi Hecate dan Dementer (yang juga bersama Persephone) nyaris memecahkan barang yang mereka pegang saat mendapat undangan itu, ketiga dewi itu bertukar pandangan bingung, namun mereka bertiga mencoba berfikir positif dan langsung bersiap untuk pesta tersebut.

Apollo dan Artemis yang menerima undangan itu langsung bertukar pandangan tidak percaya, nyaris mereka mau menahan Thanatos untuk diintrogasi lebih jauh. Namun tertahan oleh Hypnos yang memberi isyarat kepada mereka berdua, akhirnya Thanatos terpaksa dilepas oleh sepasang kaka beradik tersebut.

Keesokan harinya.

Seluruh dewa yang diundang memandang Hades dengan tatapan penuh ketidakpercayaan, bagaimana tidak? Di samping kiri Hades berdiri seorang wanita manusia berambut dark mint panjang, dan di tangan sang dewa kegelapan tersebut ada sepasang bayi. Persephone nyaris menampar sang suami jika Hades tidak segera menjelaskan bahwa kedua bayi itu bukan miliknya.

Thanatos dan Hypnos menjelaskan kedua bayi itu kepada para dewa, Artemis menyambut kedua bayi itu dengan senang hati. Terlebih setelah mengetahui bahwa keduanya lahir pada malam bulan purnama. Dia langsung memeluk Rhea sambil tertawa riang.

Poseidon memandang Yoru yang berada dalam gendongannya, kemudian dia tersenyum lebar. Terlebih saat Yoru menatapnya dan tertawa polos, membuat seluruh dewa dan dewi yang memperhatikannya tertawa.

Hades dan Persephone berbincang – bincang dengan Nitsuki, tidak membutuhkan waktu yang lama Persephone segera akrab dengan wanita itu. Kemudian mereka berdua terlibat dalam perbincangan berdua. Sementara Thanatos dan Hypnos mengawasi sepasang anak kembar yang dikelilingi para dewa dan dewi.

Beberapa hari kemudian.

Thanatos terbangun ketika mendengar isak tangis seseorang, pria itu mengira Yoru yang kebetulan tidur bersamanya membutuhkan sesuatu atau seseorang. Tapi yang dia lihat adalah Yoru masih tertidur lelap, pria itu berfikir dia salah dengar dan kembali terlelap dalam dunia mimpi.

Sementara itu di tempat Hypnos, Rhea membuka matanya diiringi dengan tawa kecil, membuat sang dewa tidur itu terbangun dan memainkan serulingnya, membuai bayi kecil itu ke dalam dunia mimpi.

2 minggu kemudian.

Nitsuki kembali ke Elysium sambil bersenandung riang dan bercanda dengan Persephone, tidak lama kemudian dia menggendong Rhea dan duduk di dekat kolam teratai putih sambil bersenandung untuk gadis mungilnya.

Tidak lama kemudian dia merasakan cosmo yang sangat akrab di belakangnya, wanita itu memandang ke belakang sambil tersenyum riang "Asmita-nii."

Pria berambut pirang panjang di belakangnya duduk di samping wanita itu, dia agak terkejut saat merasakan cosmo yang luar biasa dari gendongan Nitsuki "Nitsuki... itu siapa?"

Wanita itu memandang Asmita sejenak, kemudian dia tertawa kecil dan mengelus kepala Rhea "Anak ini? Dia anakku... putri pertamaku..." Asmita menatap Nitsuki dengan terkejut "Putri pertama? Tapi... siapa ayahnya?"

Nitsuki terdiam selama beberapa saat, kemudian dia menatap Asmita sambil tersenyum lembut "Aku memiliki sepasang anak kembar, yang pertama seorang putri..." wanita itu memandang bayi yang ada di dalam gendongannya, kemudian dia menatap pria itu sambil tersenyum lagi "Dan yang kedua seorang anak laki – laki bernama Yoru"

Asmita menatap wanita itu, entah kenapa ada sesuatu dari bayi itu yang membuatnya merasakan suatu nostalgia "Siapa ayahnya, Nitsuki?" Nitsuki menundukkan kepalanya, perlahan dia mengangkat kepalanya dan memandang pria itu "Aspros... anak ini putri Gemini Aspros."

Bak tersambar petir, pria itu memandang Nitsuki dengan penuh ketidak percayaan. Dia tahu wanita di sampingnya memiliki sebuah hubungan dengan rekannya, tapi...

Tidak lama kemudian dia teringat akan hari terakhir sebelum mereka berperang. Maka tersadarlah sang saint virgo itu akan arti ucapan Aspros sebelum mereka pergi meninggalkan Sanctuary. Kemudian dia berdiri dan menghela nafas "Berani sekali kau membawa dia ke Elysium."

Nitsuki memandang Asmita dengan heran "Apa maksud Nii-san?" Asmita menatap Nitsuki, entah kenapa wanita itu merasa cosmo pria yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri terasa sangat membahayakan "Anak itu adalah hasil dari perbuatan setan."

Wajah wanita itu memucat "Lalu Nii-san mau bilang kalau anak ini tidak pantas berada di Elysium!?" Asmita menghela nafas "Kau gadis cerdas Nitsuki, seharusnya kau tahu..." pria itu berdiri dan berbalik "Aku tidak bisa menerima kehadiran kedua anak itu."

Wanita itu terdiam selama beberapa saat, cosmo Asmita membuatnya sangat tertekan, terlebih saat dia merasakan cosmo seseorang yang lain. Harum mawar yang lembut tertiup semilir angin, wanita itu menatap ke belakang dan melihat seorang pria dengan rambut biru langit sedang menatapnya dengan dingin 'Fica-nii... apa Fica-nii juga setuju dengannya?'

Wanita itu memeluk bayi yang ada dalam pelukannya dengan erat, perlahan air matanya menetes 'Maafkan mama sayang... mama hanya membuatmu dan adikmu menderita...'

Tidak lama kemudian dia merasakan sebuah cosmo yang tidak asing baginya "Thanatos-sama..." pria berambut perak itu berjalan mendekatinya, kemudian dia duduk di samping wanita itu "Apa yang Virgo itu katakan?"

Wanita itu menggelengkan kepalanya, dalam hati wanita itu sudah menangis pilu. Thanatos menghela nafas, kemudian kesunyian menghinggapi mereka berdua.

2 minggu kemudian.

Hari ini umur Yoru dan Rhea sudah 1,5 bulan. Terkadang Nitsuki masih tidak bisa percaya kedua anak kembarnya yang manis dan lincah menjadi kesayangan Thanatos dan Hypnos, Hades juga sangat menyayangi kedua anak itu.

Wanita itu memandang langit, selama 2 minggu terakhir beberapa kali dia merasakan cosmo dari Asmita, namun bukan cosmo yang biasa dia rasakan di Sanctuary. Entah kenapa cosmo itu terasa sangat menakutkan. Hal itu membuatnya luar biasa gelisah. Wanita itu lebih sering diam di dekat kolam teratai sambil membuai kedua anaknya.

Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Underworld, Hades menyetujui permintaan wanita itu. beberapa dewi menyayangkan keputusannya, namun mereka tetap menghormati keputusan itu. Persephone menatap kepergian Nitsuki dari Elysium dengan sedih, entah kenapa dia merasakan firasat buruk dari kepergian wanita itu.

2 minggu kemudian.

Nitsuki membuai Yoru dan Rhea ke dunia mimpi, beberapa kali dia menghela nafas. Kemudian dia mengambil sebuah orgel dan memutarnya, terdengar sebuah dentingan instrument manis yang sangat dia sukai. Tidak lama kemudian dia menarik nafas dan mulai bernyanyi.

Shizukana kono yoru ni anata wo matteru no

Ano toki wasureta hohoemi wo tori ni kite

Are kara sukoshi dake jikan ga sugite

Omoide ga yasashiku natta ne

Hoshi no furu basho de

Anata ga waratte irukoto wo

Itsumo negatteta

Ima tookutemo

Mata aeru yo ne

Itsu kara hohoemi wa konna ni hakanakute

Hitotsu no machigaide kowarete shimau kara

Taisetsuna mono dake wo hikari ni kaete

Tooi sora koete yuku tsuyosade

Hoshi no furu basho e

Omoi wo anata ni todoketai

Itsumo soba ni iru

Sono tsumetasa wo dakishimeru kara

Ima toukutemo, kitto aerune

Selesai menyanyikan lagu itu Nitsuki berdiri dan memandang kedua anaknya dengan sendu, entah kenapa dia melepaskan kalung yang Aspros berikan kepadanya dan memasangkan kalung itu ke leher Rhea "Sayang, mama pergi dulu ya. Jaga adikmu dengan baik..."

Partita yang tidak sengaja mendengar ucapan itu merasakan firasat aneh, dia mengintip Nitsuki yang memandang Rhea dan Yoru dengan pandangan sendu, firasatnya semakin kuat saat dia melihat Nitsuki memakai jubahnya dan pergi keluar Giudecca.

Di Cocytus.

Nitsuki berjalan di sepanjang jalan yang terbuat dari es sambil memandang ke bawah, pandangannya semakin sendu saat melihat tengkorak – tengkorak para saint yang bertebaran sepanjang mata memandang. Tiba – tiba wanita itu memandang ke belakang saat merasakan sesuatu, namun tidak ada apa – apa saat dia berpaling. Akhirnya dia terus berjalan.

Valentine yang kebetulan sedang mengawasi Cocytus mengerutkan dahi melihat Nitsuki berjalan seorang diri, tanpa Rhea atau Yoru. Pria itu mendekatinya "Tidak biasanya kau berjalan seorang diri, Nitsuki."

Wanita berambut dark mint itu tersenyum mendengar ucapan Valentine "Hanya kebetulan ingin berjalan sendiri." Valentine menatapnya, entah kenapa ada sesuatu yang berbeda dengan Nitsuki saat ini "Begitu? Kuharap aku tidak mengganggumu."

Nitsuki menggelengkan kepalanya "Tentu tidak, Valentine. Aku sama sekali tidak merasa terganggu." Pria itu menatapnya dengan sungguh – sungguh, kemudian dia memutuskan untuk pamit dan berpisah dengan wanita itu.

Nitsuki mengangguk dan memandang kepergian Valentine, setelah pria itu agak jauh tiba – tiba Nitsuki merasa cosmo yang sangat familiar di sebuah benda yang menyerangnya dari belakang, gadis itu langsung memotong benda yang menyerangnya dengan Excalibur. Betapa terkejutnya dia saat melihat benda yang dia potong, setangkai mawar hitam yang telah terpotong kecil - kecil. Kemudian dia memandang sekeliling dengan waspada 'Siapa? Siapa yang...'

Belum sempat dia menduga siapa yang menyerangnya, mawar – mawar hitam lainnya kembali menyerang dia. Wanita itu segera menghindar sambil memotong mawar – mawar itu dengan Excalibur dan mengetahui siapa yang menyerangnya 'Cosmo ini... cosmo ini jelas miliknya!'

Tidak lama kemudian dia mendengar suara yang sangat familiar di telinganya "Ten Bu Ho Rin!" wanita itu langsung membelalakkan matanya 'Apa? Bagaimana...' tidak lama kemudian seorang saint muncul di depannya "Asmita-nii! Bagaimana... seharusnya kau sudah..."

Saint itu menatap Nitsuki "Kau benar, seharusnya aku berada di dalam es Cocytus. Tapi... ada satu hal yang masih harus kulakukan. Nitsuki..." wanita itu menahan nafasnya, kemudian Asmita melanjutkan ucapannya "Dimana kedua bayi itu?"

Nitsuki langsung paham apa maksud saint berambut pirang itu "Tidak akan kuberitahu... mati sekalipun aku tidak akan memberitahukannya kepada Nii-san!" Asmita menghela nafas "Nitsuki, kau tidak boleh menyembunyikan hasil-"

"MEREKA ANAK – ANAKKU, NII-SAN! JANGAN PANGGIL MEREKA DENGAN SEBUTAN ITU!"

Sang saint virgo mendekatinya perlahan "Mereka bukan hasil dari hubungan yang sah mereka anak terlarang yang tidak seharusnya lahir, Nitsuki." Wanita itu menggelengkan kepalanya, dadanya sesak mendengar ucapan pria di depannya "Cukup! Mereka sama sekali tidak bersalah! Kalau Nii-san mau marah, marahlah kepadaku! Kalau Nii-san mau membalas apa yang Nii-san sebut dengan perbuatan setan itu, balaslah kepadaku!"

Asmita menghentikan langkahnya, dia tahu membujuk Nitsuki masalah kedua anak itu adalah hal yang sangat sulit "Nitsuki, Buddha tidak-"

"Jangan apa – apakan mereka, kumohon Nii-san! Mereka sama sekali tidak bersalah! Mereka anak – anakku! Mereka keturunan-"

"Mereka bukan keturunan dari Gold Saint layaknya Regulus. Mereka adalah-"

"CUKUP NII-SAN! CUKUUUP!"

Asmita terkejut mendengar ucapan Nitsuki, terlebih saat dia merasa emosi Nitsuki yang meledak – ledak. Tidak lama kemudian terdengar suara isak tangis dari wanita di depannya.

"Jadi percuma mengingatkanmu..."

Saint itu mundur beberapa langkah "Kalau begitu aku terpaksa menghukummu terlebih dahulu Nitsuki. Aku akan mengambil kelima indramu." Dia memegang rosary dengan kedua tangannya, cosmonya mengitari sekeliling. Tidak lama kemudian suasana di Cocytus berubah, mereka seolah berada di sebuah ruang dan dimensi yang berbeda "Indra pertama diambil."

Nitsuki tercampak jauh ke belakang bersamaan dengan datangnya sinar keemasan dari rosary yang dipegang Asmita "Aaaagh!" wanita itu terjatuh menabrak tiang es, namun dia berusaha berdiri sambil menahan rasa sakit di punggungnya.

"Asmita-nii..."

Wanita itu berusaha untuk berdiri tegak, lututnya terasa lemas tak bertenaga. Dia memejamkan matanya sambil berusaha menajamkan pendengarannya, tapi ternyata dia tidak bisa mendengar suara sekecil apapun.

"Sense kedua diambil."

Nitsuki kembali terlempar ke atas dan terhempas ke bawah, kali ini dia sama sekali tidak bisa mencium bau apapun. Wanita itu kembali berdiri sambil menahan rasa sakit dan ngilu di tubuhnya, kemudian dia berjalan ke depan. Dia mengangkat sebelah tangannya dan mengalirkan cosmonya.

"Exc-"

"Sense ketiga diambil."

Kejadian yang sama terjadi lagi "Aaaaarrgh!" kini dia tidak bisa merasakan apapun, dia merasa ketakutan mulai sedikit menyelip ke dalam hatinya. Perlahan dia memejamkan mata, dalam kepalanya terbayang wajah pria yang dia cintai 'Aspros... apakah ini artinya kita terpisah selamanya?' kemudian dia membuka matanya dan melihat tangannya naik ke atas.

Sekali lagi dia mencoba untuk mengumpulkan cosmo, kali ini di kedua telapak tangannya sambil menatap Asmita dengan sungguh – sungguh.

"Capri-"

"Sense keempat diambil."

Lagi – lagi wanta itu terlempar ke atas, dia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menjerit, kali ini dia tidak bisa melihat apapun. Semuanya gelap. Perlahan ketakutan menguasai hatinya, tubuhnya mulai gemetar.

Asmita melihat wanita di depannya gemetar, dia tahu Nitsuki nyaris berada di ambang batasnya. Wanita itu sudah kehilangan hampir semua indra-nya, seharusnya dia tidak bisa bangkit lagi. Tapi pria itu merasakan semangat Nitsuki masih ada. wanita itu berusaha berdiri sambil membakar cosmo-nya. Kali ini dia mengangkat tangan kanannya dan mengerahkan cosmo ke telapak tangannya.

"Ame no hana!"

Cosmo unik gadis itu terbentuk menjadi ribuan jarum petir menyerang pria itu, namun tidak ada satupun jarum yang mengenai Asmita. Semuanya terpental karena kekai pelindung yang terbentuk dari cosmo pria itu.

Asmita mengangkat rosary-nya, lurus ke arah Nitsuki. Sementara Nitsuki mengangkat kedua tangannya dan mengumpulkan cosmo ke telapak tangannya lagi.

"Sense kelima diambil."

"Capricorn Noble Shock!"

Tiang petir raksasa menyambar Asmita, sementara Nitsuki kembali tercampak ke atas dan jatuh ke bawah. Kali ini dia jatuh tidak jauh dari seorang pria berambut biru muda panjang. Nitsuki berusaha berdiri, kelima indra-nya telah terebut total, dia tidak bisa melihat, mendengar, mencium bau, merasa bahkan berbicara.

Tidak lama kemudian sebuah suara yang familiar masuk ke dalam kepalanya "Kelima indra-mu sudah direbut Asmita, lebih baik kau beri tahu dimana kedua bayi itu." Nitsuki langsung menggelengkan kepalanya, kemudian dia mengangkat tangannya, merentangkan kedua tangannya di depan pria itu dan bertelepati kepadanya.

"Fica-nii tahu aku tidak akan memberi tahu dimana Yoru dan Rhea berada, seharusnya Nii-san tahu percuma saja bertanya denganku."

Pria itu menahan nafasnya sesaat, matanya terbelalak. Kemudian dia menatap wanita di depannya "Apa kau lebih memilih mati daripada memberitahukan keberadaan mereka berdua? Kau masih bisa selamat jika memberitahu dimana mereka meskipun telah kehilangan kelima indra-mu, Nitsuki."

Wanita itu tersenyum lembut sambil menggelengkan kepalanya sekali lagi, walau dia tidak bisa melihat. Tapi iris ungunya lurus menatap iris biru Albafica.

"Mereka anak – anakku Fica-nii, aku ibu mereka... ibu macam apa aku jika rela mengorbankan nyawa kedua anakku hanya demi keselamatan sementara? Bahkan binatang yang paling rendah sekalipun sangat menyayangi dan melindungi anak mereka."

Albafica seperti tersambar petir, kemudian dia bertukar tatapan mata dengan Asmita "Kalau begitu... maakan aku, Nitsuki..." Nitsuki masih mempertahankan senyum lembutnya, sementara tanpa dia sadari sebuah mawar putih telah menancap tepat di dada kirinya. Wanita itu tidak bisa menahan batuk darahnya, kemudian dia terbatuk tanpa suara, memuntahkan darah dalam jumlah yang cukup banyak.

Perlahan dia berjalan menjauhi Albafica dan Asmita. Berjalan menjauhi Giudecca sementara Albafica dan Asmita menatap kepergian kepergiannya dalam diam. Kedua saint itu saling bertukar pandangan mata.

Nitsuki terus berjalan melewati satu demi satu Inferno, jubahnya dia pakai untuk menutupi luka di sekujur tubuhnya. Beruntung dia hafal setiap jalan di Inferno sehingga dia tidak perlu tersandung ataupun terjatuh.

Tidak lama kemudian dia sampai di Inferno pertama, hall of judgement.

"Nitsuki? Kenapa kau ada di sini?"

Nitsuki memandang sekeliling, kemudian dia bertelepati "Siapa itu?" tidak lama kemudian sebuah jawaban dia dapatkan "Hei, hei, hei... ada apa denganmu? Kenapa jadi memakai telepati?" wanita itu tersenyum, dia jelas mengenal suara itu "Kagaho? Tidak biasanya kau ada di sini?"

"Bukan urusanmu."

Nitsuki tersenyum semakin lebar "Kalau begitu jawabanku sama denganmu." Mendengar jawaban itu, membuat pria di belakangnya menghela nafas "Terserah." Kemudian dia meninggalkannya seorang diri.

Wanita itu tersenyum, kemudian dia memandang sekeliling "Markino, anata wa doko ni iru?" Nitsuki diam selama beberapa saat, setelah tidak mendapat jawabannya. Dia mengulangi panggilannya "Markino. Ima, anata wa doko ni iru?"

"Di sini, Nitsuki-sama."

Nitsuki tersenyum "Ah... Markino, bisakah kau membantuku sekarang?" specter itu menundukkan kepalanya "Apa yang bisa kubantu?" Nitsuki mengangkat kepalanya "Tolong antarkan aku menemui Charon." Specter itu terkejut, dia menatap Nitsuki "Na- nani? Nitsuki-sama." Nitsuki menghela nafas "Kumohon... aku ingin menyebrangi sungai Acheron..."

Markino tidak bisa melawan, akhirnya dia menuruti ucapan Nitsuki sementara banyak pertanyaan dalam kepalanya. Sesampai di tepi sungai Acheron, mereka melihat kapal Charon. Markino segera berteriak "Acheron Charon!"

Kapal itu bergerak perlahan, setelah sampai di tepi. Sang pendayung turun dari kapalnya "Markino, tidak biasanya kau memanggilku." Markino mendesis kesal "Itu atas permintaan Nitsuki-sama." Charon memandang wanita yang berdiri di belakang Markino "Nitsuki-sama, ada keperluan apa sampai kau memanggilku?"

Nitsuki memberi isyarat kepada Markino agar meninggalkan mereka, kemudian dia mendekati Charon "Acheron Charon... aku membutuhkan tumpangan kapalmu untuk menyebrangi sungai ini." Charon menyeringai "Tapi aku tidak pernah membawa seseorang pergi dari Inferno, terlebih jika dia adalah kesayangan ketiga hakim Underworld dan Hades-sama."

Nitsuki mengambil sekantong uang perak dan melemparkannya kepada specter itu "Apa ini cukup untuk membawaku menyebrangi sungai Acheron?" mata Charon langsung terbelalak "Ni- Nitsuki-sama..." wanita itu mempertegas nadanya dan mengulang ucapannya "Acheron Charon, aku membutuhkan bantuanmu saat ini untuk menyebrangi sungai Acheron."

"Maka aku hanya bisa mematuhinya bukan? Apalagi jika imbalannya sebanyak ini, nyehehehe..." pria itu melompat dan naik ke kapalnya "Naiklah Nitsuki-sama, aku akan mengantarkanmu ke Gerbang Neraka."

Nitsuki menggelengkan kepalanya "Jika sudah sampai di pertengahan sungai Acheron... beritahu aku." Charon menaikkan sebelah alisnya, namun dia hanya mengangkat bahu. Memperhatikan wanita itu naik ke kapalnya dan mula mendayung.

Setelah beberapa saat, Nitsuki mengangkat kepalanya "Apakah kita sudah menyebrangi setengahnya?" Charon tertawa "Belum Nitsuki-sama, bahkan ini belum setelahnya. Di sini adalah tempat terdalam dan terdingin di sungai."

Nitsuki mengangkat tangannya, memberi tanda agar specter itu berhenti mendayung. Charon mengerutkan dahinya dengan heran, tapi dia tetap mematuhi isyarat Nitsuki "Doushite, Nitsuki-sama? Jangan bilang kau mau menjatuhkan diri di sini, nyehehehe..."

Wanita itu tersenyum, kemudian dia berdiri dan berjalan ke tepi kapal "Ni- Nitsuki-sama, jangan berjalan lebih jauh lagi. Aku hanya bercanda." Nitsuki hanya tersenyum, kemudian dia menggunakan bahasa isyarat tangan "Terima kasih atas bantuanmu Charon. Tolong sampaikan ucapan terima kasihku kepada Hades-sama dan 3 hakim Underworld serta Pandora-nee dan yang lain."

Pria itu menggaruk belakang kepalanya "Aku mengerti, akan kusampaikan nanti. Tapi apa yang hendak anda lakukan?" Nitsuki tersenyum, dia membelakangi tepi kapal dan merentangkan tangannya "Aku akan menghilang... untuk selamanya..." kemudian menjatuhkan dirinya ke dalam sungai.

"Nitsuki-samaaaaaaaaa!"

"Sayonara, Charon... terima kasih..."

Charon mencoba menolong wanita itu, namun terlambat. Mereka yang terjebak dalam sungai itu, menyeret Nitsuki masuk ke dasar sungai. Charon semakin panic ketika wanita itu sama sekali tidak mencoba naik ke permukaan. Dia berusaha kembali ke Hall of Judgement secepat mungkin.

Sementara itu di dalam sungai, Nitsuki membiarkan tubuhnya diseret ke dasar sungai. Dalam kepalanya berputar wajah kedua anaknya 'Rhea... Yoru... mama mohon kepada kalian... hiduplah dengan tegar... maaf... maafkan mama yang tidak bisa menemani kalian berdua...' tubuh wanita itu terseret semakin dalam dan semakin dalam.

Sementara itu di Giudecca.

Di ruang singgasana Hades dan Pandora merasakan firasat buruk, demikian pula ketiga hakim yang kebetulan berkumpul bersama. Sementara itu Rhea dan Yoru menangis dengan suara keras, membuat Partita dan Youma kebingungan menenangkan keduanya sehingga mau tidak mau mereka menghadap Hades dan meminta Hpynos serta Thanatos datang.

Semua berkumpul di ruang singgasana Hades, Hpynos berusaha menenangkan Yoru dan Rhea sambil memainkan serulingnya. Masing – masing merasakan firasat buruk yang sangat kuat, akhirnya Youma hendak keluar. Tapi dia tertahan oleh suara teriakan dari luar.

"Hades-sama! Meio Hades-sama!"

"Minos-sama! Bahaya! Ada bahaya!"

Pandora memandang ke arah pintu, terlihat Paraoh dan Rune datang terburu – buru, nafas mereka terengah – engah. Wanita itu memandang mereka "Apa kalian tidak bisa memelankan suara kalian? Tidak tahukah kalian kalau ada bayi yang sedang mencoba untuk tidur?"

Rune menatap Pandora sesaat, kemudian dia membungkuk "Mohon maaf kepada anda Pandora-sama, tapi ini benar – benar situasi yang genting." Paraoh menatap Pandora dengan panic "Nitsuki... Nitsuki jatuh ke dalam sungai Acheron!"

Semua orang terkejut, bahkan Hypnos berhenti memainkan serulingnya "APA?!" Minos berdiri dan mendekati Rune "Nitsuki jatuh ke sungai Acheron!?" Rune mengangguk panic "Saat ini beberapa specter mencoba mengangkatnya dari dalam sungai, tapi masih belum menunjukkan hasil."

Youma menggeram, kemudian dia berlari keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sementara Partita mencoba mengejarnya. Hades menatap kepergian kedua specternya, kemudian dia berdiri "Aku akan ke sana... kalian tidak akan bisa menyelamatkan Nitsuki dari dalam sungai Acheron."

Paraoh dan Rune menundukkan kepala mereka "Baik!" sementara itu Hades memandang yang lain, memberi isyarat agar mereka tetap diam dan menenangkan si kembar yang menangis semakin keras. Pandora menunduk dan mematuhi isyarat darinya. Sementara Minos dan Aiacos menunjukkan tanda – tanda kegelisahan, namun mereka hanya bisa patuh dan memandang Hades yang keluar dari ruang singgasananya.

Di tepi sungai Acheron terlihat beberapa specter sibuk mencari – cari, ada yang menemani Charon mencari di dekat tengah sungai. Ada juga yang melihat di sekeliling sungai.

"Coba cari di sana!"

"Tidak mungkin! Nitsuki-sama jatuh di bagian terdalam!"

"Kenapa tidak kau cegah dia?!"

"Mauku juga begitu!"

"Alasan! Nanti apa yang harus kita katakana kepada Hades-sama!?"

Tiba – tiba perdebatan mereka terhenti saat merasakan cosmo Hades, seluruh specter membungkuk dan memberi hormat kepada Hades.

Hades hanya diam sambil memandang sekeliling sungai, kemudian dia menuju tempat dimana Nitsuki tenggelam dan mengangkat tangannya. Tidak lama kemudian tubuh Nitsuki terangkat, wajahnya yang telah memucat dan juga tubuhnya yang telah sangat dingin membuat specter – specter yang ada di sana pucat sepucat – pucatnya.

"A... apakah dia sudah mati?"

Hades menggendong wanita itu, denyut nadi Nitsuki terasa sangat tipis, nyaris tak terasa. Kemudian sang dewa kegelapan membawanya kembali ke Giudecca dalam diam, membuat para specter ketakutan akan diamnya sang penguasa Underworld.

-To Be Continued-

A/N: Maiko benar – benar minta maaf karena Asmita dan Albafica jadi sangat OOC, tapi Maiko benar – benar membutuhkan tokoh antagonis yang (entah kenapa) imej-nya cocok dengan mereka berdua. Hope you like it minna. Review please?

Ps: "Anata wa doko ni iru" kalau tidak salah artinya kurang lebih kau ada di mana. Maaf kalau chapter ini pendek.