Disclaimer

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning(s)

AU, OOC-maybe, typo(s), gaje.

.

.

.

Found You

.

.

.

Pagi hari Sakura tampak menjalani aktifitasnya seperti biasa, ia sama sekali tidak telat masuk. Karna ia memang bukan tipe orang yang akan bermalas-malas berangkat sekolah. Di hari kedua Sakura bersekolah di Konoha Gakuen tampak berjalan lancar. Ia bertemu dengan Ino, Tenten, dan Hinata yang kini menjadi teman barunya.

Saat memasuki kelas, ia melihat kondisinya belum terlalu ramai. Langkah kakinya ia tujukan ke kursi tempat ia singgah di kelas, yaitu di pojok kiri belakang. Bokongnya ia hempaskan di kursinya tersebut, lalu ditaruhnya tas sekolah di kolong kursinya. Tidak lama kemudian, Ino dan Tenten masuk ke dalam kelas.

"Ohayou, Sakura!" sapa kedua temannya tersebut.

"Ohayou, Ino, Tenten."

"Suatu kebahagiaan bisa melihat pangeran di pagi hari." Ujar Ino sembari menopang kedua tangan di pipinya memandang ke kursi depan pojok kanan.

Tenten yang duduk di samping Ino seketika menoleh ke arah Sakura dengan tatapan bingung. Sakura pun juga mengerutkan keningnya. Seakan mengira-ngira apa yang membuat Ino bergumam seperti itu. Lantas keduanya menatap Ino dengan penuh arti, meminta sebuah kejelasan.

Sedetik kemudian, gadis itu tersadar dari lamunannya saat merasakan ditatap oleh temannya, "H-hei?! Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" ucap Ino sedikit berteriak.

"Kau sarapan apa pagi ini, Ino?" Tanya Sakura dengan wajah innocent.

Sontak Tenten yang mendengarnya tertawa pelan, entah karna ucapan Sakura atau karna melihat wajah Sakura yang seolah sedang mengkhawatirkan kondisi sahabat pirangnya tersebut. Ino pun memutar bola matanya, ia tahu temannya itu sedang mengejeknya. Kedua lengannya bersilang di dada, "Aku hanya melihat dia, dan spontan berucap seperti itu." Jelasnya.

"Dia siapa?"

"Kau tahu pasti, Tenten."

Sedangkan Tenten hanya mengangguk ria saat mengerti apa yang dimaksud oleh Ino. Tetapi tidak dengan Sakura yang semakin memasang tampang bingung. Dan akhirnya Tenten pun menjelaskan kepada Sakura bahwa Ino memiliki crush nya di kelas ini. Lalu Sakura tampak terkejut kemudian menepuk-nepuk bahu Ino sembari berucap selamat.

Hinata pun akhirnya datang, bahkan ia tidak datang sendiri, melainkan ada pria berambut kuning jabrik yang berada di belakang Hinata. Tetapi ada yang berbeda dari raut wajahnya. Semburat merah terpampang di pipi putih miliknya. Pandangannya pun selalu menunduk seperti menyembunyikan sesuatu. Tapi bukan Ino namanya jika ia tidak peka pada semua teman-temannya tersebut. Hinata yang duduk di sebelah Sakura melihat ke arah mereka.

"Wajahmu kenapa memerah Hinata? Kau sakit?" Tanya Sakura terlebih dahulu.

"Ah, t-tidak kok, Sakura-chan."

"Lalu?" Ino pun juga bertanya.

Akhirnya dengan keberaniannya, Hinata menjelaskan kejadian yang ia alami tadi pagi. Tepatnya saat ia berlari memasuki gerbang sekolah. Hinata berlari bukan tanpa alasan, itu karna ia takut terlambat, gerbang sekolah pun akan ditutup dalam waktu sepuluh detik. Hingga saat sudah melewati gerbang, Hinata tidak menyadari bahwa ada batu di bawahnya dan langkahnya tumbang.

Saking terkejutnya, ia memejamkan matanya erat dan berfikir bahwa ia akan jatuh. Namun, Hinata merasa ada yang menarik tangannya dari belakang sehingga menahannya untuk tidak jadi mencium tanah. Lalu, dengan sergap Hinata menoleh ke belakang, matanya terbelalak. Ternyata yang menolongnya dari kesialan di pagi hari ini tidak lain tidak bukan adalah teman kelasnya sendiri.

Uzumaki Naruto. Hinata tidak menyangka Naruto lah yang menolongnya. Sebenarnya, ia juga sudah lama menyimpan perasaan kepada Naruto yang bahkan sahabat-sahabatnya tidak ketahui. Hinata lebih memilih untuk memendam, dan tidak menceritakannya pada siapapun.

Bukan karna ia tidak percaya pada Ino dan Tenten. Tetapi, ia masih malu untuk mengungkapkannya dan terlihat menyedihkan, bahkan berbincang dengan Naruto saja ia sangat jarang. Pernah sesekali Naruto bertanya pada Hinata tentang pelajaran, namun Hinata menjawab dengan sangat gugup, sulit sekali menatap wajah Naruto bagi Hinata.

"Kurasa Naruto adalah pangeran mu di pagi hari ini, Hinata." Ino buka suara setelah Hinata menjelaskan urutan kejadian yang baru saja ia alami,

"Jangan samakan dengan mu Ino." Ujar Tenten menatap Ino malas.

"Apakah sehabis insiden ini akan ada tumbuh-tumbuh benih cinta di antara keduanya?" goda Sakura.

"Kita saksikan setelah jeda iklan yang satu ini." Timpal Ino, lalu mereka bertiga pun tertawa.

"Y-yang benar saja."

Hinata tampak malu-malu mengatakannya, dan itu membuat ketiga temannya sangat gemas. Jarang-jarang Hinata terkena godaan temannya, karna ia merupakan sosok yang paling kalem di antara semuanya. Sakura nampak cocok saat bergabung dengan mereka semua, setidaknya ia tidak menjadi murid baru yang selalu memojok sendiri dan hanya mendengarkan musik sembari membaca buku saja.

"Ngomong-ngomong, apakah sudah kau cari siapa pemilik earphone itu?" Tiba-tiba Tenten bertanya pada Sakura.

Sakura menepuk jidatnya yang lebar tersebut, "Oh iya."

Lagipula bagaimana ia harus mencarinya, tidak mungkin ia mengumumkan nya di depan kelas. Pasti akan terlihat aneh. Sekilas ia berpikir, jika ia menemukan earphone itu di barisan sebelah kanan pasti pemiliknya duduk di barisan tersebut.

Matanya menoleh ke barisan tersebut dan melihat siapa saja yang duduk disana. Tapi ia kembali berpikir tidak ada gunanya hanya cuma melihat saja tanpa ada pergerakan. Lalu Sakura memilih memalingkan wajahnya dan kembali berbincang pada teman-temannya.

Uchiha Sasuke yang sedari tadi duduk di kursinya tampak memandangi lantai bawah, ia seakan sedang mencari-cari sesuatu. Tetapi tidak menemukan benda putih itu, "Dobe, kau melihat earphone milikku tidak?" Tanya Sasuke pada sahabat kuningnya yang duduk di depannya.

"Umm, tidak, Teme." Jawab Naruto sembari menggeleng.

Sasuke tidak membalas perkataan Naruto, lalu ia berpikir untuk mengikhlaskan bendanya yang hilang. Toh, ia bisa membeli yang baru jika ingin. Tidak usah perlu repot-repot mencari. Karna Sasuke tidak menyukai sesuatu yang merepotkan.

.

.

.

Saat istirahat tiba, Sakura menyuruh teman-temannya untuk pergi ke kantin duluan. Lalu berkata ia akan menyusul. Ia pergi ke toilet dahulu karena ingin buang air kecil. Setelah sudah lega, tak lupa Sakura mencuci tangannya sebelum keluar dari toilet tersebut. Saat akan melangkah keluar, tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia mendengar sesuatu.

Sakura mengintip dari sudut dinding, dan ia melihat dua orang berdiri di koridor dekat toilet. Pria dan perempuan. Alangkah terkejutnya perempuan tersebut adalah perempuan yang kemarin ia tantang di kantin. Karin, jika tidak salah ingat, pikir Sakura. Dan pria yang berdiri menyandarkan punggungnya sembari memasukan kedua tangannya di saku merupakan teman kelasnya sendiri.

Ia ingat betul penampilan pria tersebut. Tubuh tingginya, suara baritone, mata onyx yang tajam, raut wajahnya yang datar, dan rambut raven yang pria itu miliki. Bagi Sakura, pria tersebut sangat tampan. Namun, bukan berarti Sakura akan memuja-muja ketampanan Sasuke secara gamblang. Mengingat ia sudah bukan anak sekolah dasar.

"Sasuke, pulang sekolah bisakah kita berjalan-jalan sebentar?" Tanya Karin dengan rona merah di wajahnya.

"Tidak."

Singkat, padat dan jelas. Itulah kata yang terlontar dari mulut Sasuke. Sakura pun melihat raut kekecewaan yang ditampakan oleh kakak kelasnya itu. Entah, Sakura senang melihatnya, karna ia sedikit muak mengingat perilaku Karin yang sangat tidak ia sukai.

"Kau sibuk?" Karin pun penasaran, "Kalau begitu bagaimana dengan besok?" dan perempuan berambut merah tersebut tidak ingin menyerah.

"Aku tidak ingin." Balas Sasuke menatap datar Karin.

"Kenapa? Tidak bisakah kau membuka hati sedikit untukku, Sasuke?"

Suara Karin terdengar pelan namun masih bisa didengar oleh Sakura yang bahkan masih menguping. Sebenarnya ia bingung kenapa masih berada disitu seperti orang bodoh yang menguping pembicaraan orang lain. Tapi, sangat tidak mungkin jika seenaknya keluar dari toilet dengan tampang wajah tanpa dosa melewati dua insan tersebut. Pasti akan menimbulkan ke-awkward-an.

Lalu ia kembali mengintip, "Jika hanya membicarakan itu saja, aku pergi." Dilihatnya Sasuke berjalan menjauhi Karin dan meninggalkan gadis itu yang masih terpaku dan mengepal tangannya erat. Sakura yakin, gadis itu pasti sangat kesal dengan sikap acuh yang dikeluarkan oleh Sasuke. Tak lama, Karin pun juga berjalan meninggalkan toilet. Hal ini membuat Sakura menghela nafas.

"Akhirnya sudah selesai." Gumamnya.

Sesampainya Sakura di kantin, ia mengedarkan pandangannya mencari teman-temannya. Lalu akhirnya menemukan mereka. Ino pun bertanya mengapa ia lama sekali, bahkan Tenten mengira jika Sakura tersasar di gedung sekolah lalu panik karna menahan buang air kecilnya. Sakura yang mendengarnya hanya mendengus.

Seketika ia teringat kejadian yang baru saja ia lihat, "Hei, apa kalian tahu hubungan Uchiha Sasuke dengan Karin?" Tanya Sakura.

"entahlah, ada yang bilang mereka berpacaran. Tapi ada yang bilang hanya Karin yang mengejar-ngejar Sasuke." Jawab Ino seraya mengendikan bahu.

"Lagipula aku tidak percaya jika mereka pacaran. Kau bahkan tahu betapa cueknya pria Uchiha itu pada perempuan. Dan mana mungkin dia menyukai perempuan seperti Karin."

Bagi Sakura, perkataan Tenten ada benarnya. Meskipun Sakura sama sekali tidak dekat dengan Sasuke, namun ia yakin Sasuke adalah orang yang susah didekati. Tetapi baginya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Bisa saja Sasuke juga pria normal yang menginginkan suatu kasih sayang yang ingin didapatkan. Sakura tersadar tidak ada gunanya memikirkan hal tersebut.

"Memang ada apa Sakura-chan?" Hinata bertanya menatap teman pinknya itu.

"Tidak apa, hanya bertanya saja."

Ino mendadak menyipitkan kedua matanya dan menatap Sakura dengan curiga, "jangan-jangan kau sudah terjerat pesona Sasuke ya, Sakura?"

Sakura pun tersedak jus jeruk yang baru ia pesan tadi.

"Baka. Tidak mungkin, kenal saja tidak." Sanggahnya.

Tenten dan Ino tertawa, sedangkan Hinata hanya menggeleng melihat tingkah sahabatnya.

.

.

.

Sakura sudah mengenakan pakaian olahraga sekolahnya. Sekarang adalah jam olahraga, sejujurnya ia bukan seseorang yang ahli di bidang jasmani. Tetapi bukan berarti fisiknya lemah. Hanya saja Sakura tidak bisa olahraga terlalu lama, itu akan membuat kakinya keram. Ia teringat saat di sekolahnya dulu, Suna Gakuen. Waktu disuruh lari jarak jauh tiba-tiba tubuhnya ambruk.

Seketika teman-temannya panik, ternyata penyebabnya adalah keram di kaki Sakura. Ia sangat malu jika teringat kejadian itu, sangat tidak elit pikirnya.

"Sekarang kalian akan lari jarak jauh. Jangan putus asa dan tetap menjunjung semangat masa muda!" ujar Guy sensei, guru olahraga tersebut sambil mengangkat satu tangannya ke atas.

'Astaga, lari jarak jauh.' Rutuk Sakura dalam hati.

Jika dilihat-lihat semua murid kelas 2-B memasang wajah malas. Terkecuali Lee, dia sangat bersemangat, matanya berbinar-binar memancarkan silau bak terik matahari di siang hari. Bahkan kalau dilihat penampilannya saja sudah seperti Guy sensei. Atau jangan-jangan dia adalah clonning Guy sensei?

Beberapa lama kemudian, murid-murid mulai melakukan lari jarak jauh sesuai urutannya. Lalu disaat Sasuke akan lari, terdengar sorak-sorak dari arah pinggir lapangan. Yang entah sejak kapan sudah penuh dengan beberapa murid perempuan yang mungkin adalah penggemar Uchiha tersebut.

Sakura daritadi terlihat bingung, ia memikirkan untuk tidak mengikuti lari jarak jauh karna suatu alasan. Akhirnya ia pun meminta izin kepada Guy sensei secara sopan. Dan beruntungnya Guy sensei memperbolehkannya karna alasan yang masuk akal. Oh, catat, nilai plus dari guru olahraganya tersebut ialah baik hati.

"Semangat Hinata!" teriak Sakura, Ino dan Tenten saat giliran Hinata untuk berlari.

Hinata yang mendengar lalu menoleh dan menganggukan kepalanya pelan sembari tersenyum ragu. Setelah Guy sensei memberi aba-aba untuk berlari, ia mulai melangkahkan kakinya, namun baru beberapa langkah, tiba-tiba Hinata tersungkur.

"A-aduh.." Rintih Hinata pelan.

Teman-temannya yang melihat kejadian itu pun panik dan langsung mendekati Hinata, disusul oleh Guy sensei. Hinata masih merintih, ia sama sekali tidak bisa berdiri, kakinya mengalami luka lecet, "Hinata, kau tidak apa-apa?!" lalu Naruto berdiri dihadapannya dengan pandangan yang khawatir.

"Kaki mu luka." Lanjut Naruto, "Guy sensei biar aku saja yang membawa Hinata ke uks." Ucapnya.

"Naruto-kun..?" Hinata memandang Naruto terkejut.

Akhirnya gurunya pun mengiyakan bantuan dari anak muridnya itu. Naruto menggendong tubuh kecil Hinata ala bridal style. Sedangkan murid yang lain memasang wajah tak percaya.

"Kau yakin itu Naruto?"

"Wah, sejak kapan dia jadi gentleman seperti itu."

"Naruto akhirnya sudah besar."

Celotehan celotehan itu pun terdengar. Bahkan Sakura, Ino dan Tenten pun sempat berpandangan. Tidak disangka bahwa hari ini Hinata diselamatkan oleh Naruto dua kali. Tapi mereka tidak heran, karna Hinata gadis yang baik, jadi mungkin Naruto bersimpati padanya. Atau kemungkinan lain, ada alasan tertentu, eh?

Sasuke melihat sahabat pirangnya lalu mendengus pelan dan meninggalkan lapangan. Walaupun ada insiden terjatuh, olahraga masih tetap berjalan. Selanjutnya adalah giliran Ino dan Tenten. Sakura yang tidak mengikuti lari jarak jauh hanya menunggu saja. Sebenarnya ia sangat ingin ikut, tetapi ia tahu hanya akan merepotkan teman-temannya saja nanti.

Sakura seketika memikirkan Hinata, bagaimana keadaannya sekarang. Tanpa pikir panjang ia meminta izin lalu berjalan menuju uks. Tetapi ia harus mencuci tangannya dulu di halaman belakang dan menemukan beberapa keran. Sesaat menutup keran tersebut, ia melihat sosok yang sedang duduk di kursi panjang dekat halaman.

Jika dilihat dari belakang, Sakura sangat tahu siapa pria yang sedang duduk sambil menundukan kepalanya itu. Lalu tanpa sadar, kakinya melangkah mendekati sosok tersebut. Hingga akhirnya Sakura tepat berada di depan tubuhnya, dan melihat Uchiha Sasuke sedang memejamkan matanya. Tangannya terlipat di dada, dan kaki kanannya ia silangkan.

Sesaat Sakura terpaku melihat wajah Sasuke yang sangat tenang. Seolah ia terhipnotis dan terus memandangi wajah itu, sampai beberapa detik kemudian kelopak mata milik pria itu terbuka dan memperlihatkan onyx yang kini menatap dirinya. Sakura pun tersentak.

"A-a-ah, i-itu, a-aku.."

Sakura merutuki dirinya yang jadi salah tingkah karna terciduk terang-terangan melihat wajah tampan Sasuke dengan waktu yang lama.

"Sedang apa kau?" Tanya Sasuke dengan tatapan yang tajam.

"A-ano, tadi aku hanya sedang mencuci tangan la-lalu melihat kau disini."

'Shannaro! Ayo cari alasan yang logis, Sakura!' innernya mulai bereaksi.

Dengan ragu-ragu Sakura menatap mata pria tersebut, sedangkan Sasuke masih terdiam dan itu makin membuat Sakura salah tingkah. Bahkan terlihat bodoh, ia sangat merasa malu dengan kondisi ini. Ia pun berpikir keras untuk segera terbebas dari suasana canggung itu. Voila! Sebuah ide terlintas di pikirannya. Sakura tampak merogoh saku celana olahraganya dan mengambil sebuah earphone putih.

Sakura bersyukur benda itu selalu ia bawa kemana-mana. Dan akhirnya dijadikan sebuat tameng untuk mengurangi rasa malunya di hadapan Sasuke, "Sebenarnya aku menemukan ini kemarin saat pulang di kelas."

"Karna aku menemukan benda ini di barisan kanan, dan kalau tidak salah kau duduk di barisan itu." Ujar Sakura sambil menggenggam benda tersebut.

"Mungkin kau tahu ini milik siapa, jadi aku memberikannya "

"Itu milikku."

Ucapan Sakura terpotong oleh suara baritone Sasuke. Sasuke menatap datar ke arah tangan Sakura, sedangkan Sakura membentukan mulutnya menjadi huruf 'o'.

"Ah, kalau begitu pas sekali." Balasnya sembari tertawa hambar.

Lalu Sakura pun memberikan earphone tersebut ke tangan Sasuke. Karna tidak mau berlama-lama berada di dekat pria itu, Sakura memutuskan untuk pergi meninggalkan Sasuke, dan pria tersebut masih memandangi punggung gadis itu dari belakang saat tubuh Sakura mulai menjauh. Setidaknya saat sedang tidak dicari ternyata malah ia menemukannya. Atau bisa dibilang orang lain yang justru menemukan benda miliknya.

Ruangan kelas kembali ramai, dan semua murid sudah mengganti baju olahraga dengan seragam. Kondisi Hinata juga sudah membaik setelah dibawa ke ruang uks. Ia sudah bisa berjalan walaupun sedikit pelan-pelan. Tenten membantu Hinata berdiri dari kursinya.

"Dobe, kau pulang duluan saja." Ucap Sasuke yang masih berada di dalam kelas.

"Tumben sekali, Teme." Gumam Naruto, lalu ia berjalan mendahului Sasuke yang masih duduk di kursinya.

Sakura sudah merapikan barang-barangnya ke dalam tas miliknya. Namun Ino masih belum selesai, sedangkan Tenten dan Hinata sudah berdiri, menunggu sahabatnya itu bersiap-siap untuk pulang. Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekati meja Sakura. Ia pun menolehkan wajahnya dan alangkah terkejutnya melihat siapa yang datang ke arahnya.

Tidak hanya Sakura yang terkejut, bahkan Ino, dan Tenten memebelalakan matanya. Sedangkan Hinata menutup mulutnya dengan kedua tangan. Mereka melihat Sasuke berdiri di samping meja Sakura dan meletakan sebuah jus strawberry karna jus tersebut berwarna merah muda itu di atas meja milik Sakura.

Dengan terbengong, Sakura mengikuti arah tangan Sasuke, lalu dilihatnya pria itu pergi menjauhi mereka tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Pandangannya pun masih dingin dan datar, seolah tidak tersirat ekspresi apa yang ditangkap oleh kedua mata Sakura. Sasuke pun sudah keluar dari kelas tersebut.

"Astaga Sakura. Kau harus menjelaskan ini semua." Ujar Ino menatap intens.

"Hah?! Aku juga tidak tahu, Ino." Elak Sakura.

"Tidak mungkin Uchiha itu tanpa alasan memberikan mu jus ini, nona." Timpal Tenten.

"Hei, mana ku tahu."

"Sakura-chan.." Cicit Hinata.

"Aku juga bingung, shannaro..!"

Mereka pun masih sibuk dalam kebingungan di sore hari itu. Biarkan jus itu menjadi saksi aksi tuduh-tuduhan yang dilakukan oleh sekumpulan kaum hawa tersebut. Bahkan di sepanjang jalan, Sakura masih memikirkan kenapa tiba-tiba Sasuke, yang padahal baru saja ia berbincang singkat di halaman belakang, memberikan jus yang kini ada digenggaman tangannya sekarang. Hei, ternyata Sakura sudah menghabiskan jus tersebut tanpa sisa. Wah, Haruno Sakura sampai haus karna memikirkan hal itu.

.

.

.

Tbc

.

.

Read n Review, please?