Once

Original Story Belong To Phoebe

Starring:

Kim Jongin (GS)

Park Chanyeol | Oh Sehun

Byun Baekhyun (GS)

Wu Yifan

Summary:

Jongin hanya ingin jatuh cinta sebelum ia mati. Ia juga sangat ingin melakukan seks dengan seorang pria yang benar-benar ia cintai walau hanya sekali dalam hidupnya. Tapi akankan Jongin bisa merasakannya?

.

.

.

This is Remake Novel by Phoebe with the same title.

.

.

.

~ Happy Reading ~

.

.

.

Bab 3

Tuhan, di dunia ini sangat banyak pasangan

Mengapa hanya aku yang merasa sendiri?

Mengapa hanya aku yang tidak bisa merasakan apa-apa?

Jongin bergumam halus di Synagogue. Hari ini adalah hari pertamanya tanpa Sehun. Ia hanya bersedih kemarin dan kehilangan kesedihannya hari ini.

Tapi kesedihan yang lenyap itu hanyalah kesedihan tanpa Sehun. Kesedihan yang lain masih bertahan hingga kini. Kesedihan tanpa cinta dan tidak bisa merasakan cinta.

Jongin menyeka air matanya yang mengalir tanpa sepengetahuannya. Ia hanya merasakan pipinya basah dan segera ingin menghilagkan noda basah itu secepatnya. Mungkin hari ini Jongin ingin pergi keluar rumah.

"Bagaimana keadaanmu, dear?" Kris menyapanya saat Jongin kembali masuk ke dalam rumah.

Jongin tidak ingin belajar hari ini dan ia harap Chanyeol sibuk lagi bersama Baekhyun lalu meninggalkannya sendirian. Jongin sangat kecewa, karena belum mendapatkan perasaan yang di inginkannya juga sedangkan usia tujuh belas tahunnya hampir berakhir.

"Aku masih kurang baik." Ucap Jongin pelan.

"Karena apa?"

Jongin menggeleng. "Cinta itu seperti apa, Kris? Bisakah aku merasakannya?"

"Aku selalu merasakannya, cintaku padamu." Kris tersenyum. "Tapi cinta sebagai saudara jelas berbeda dengan apa yang kau inginkan, bukan? Aku belum pernah merasakannya sama sekali. Jadi aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu."

"Aku takut tidak bisa merasakannya. Aku ingin merasakannya sekali seumur hidupku." Ujar Jongin lemah.

Kris menyentuh kepala Jongin dan membelainya halus. Hal itu adalah hal yang paling Jongin suka dari semua perilaku penuh perhatian Kris kepadanya. "Kau akan merasakannya suatu saat nanti. Percayalah."

"Bagaimana jika Tuhan mengambil nyawaku lebih dulu?"

"Tuhan akan mengirimkanmu malaikat sebagai ganti cinta itu untukmu. Di saat itu, kau bisa mendapakan cinta yang sangat agung-"

"Dan aku bisa bercinta dengan malaikat?"

Kris tertawa sebentar lalu memandang Jongin penuh kasih. "Jadi kau ingin merasakan cinta hanya untuk seks?"

"Aku ingin merasakan bagaimana rasanya seks itu, tapi dengan seseorang yang aku cintai. Seseorang yang memberikanku perasaan agung seperti yang kau katakan."

"Kau tau seks bebas itu tidak di benarkan dalam agama kita, kan?"

"Lalu aku harus bermimpi menikah? Aku tidak bisa melakukan itu, kau tau sendiri keadaanku seperti apa."

"Ya, baiklah. Tapi berhati-hatilah, Sayang. Kita memang hidup di negara bebas seperti Canada, tapi kita tetap tidak bisa bertindak sembarangan, bukan?"

"Ini hak azasi bukan?"

"Yah, jika Tuhan mengirimkan malaikat untukmu, kau boleh bertanya kepadanya apakah dia akan bercinta denganmu. Jika dia mengatakan ya, kau boleh melakukannya." Kris lalu tersenyum geli secara sembunyi-sembunyi. Malaikat tidak akan memiliki nafsu untuk bercinta.

Harapan adiknya sangat mustahil dan ia menjawab dengan hal yang mustahil pula. Demi menyenangkan Jongin, ia terpaksa. "Sekarang aku pergi dulu. appa bisa mengamuk jika aku tidak segera kembali bekerja."

"Sampai Jumpa." Jongin melambaikan tangan.

Ia memandangi Kris yang membalas lambaiannya dan segera masuk ke dalam mobil. Mobil milik Kris pun kemudian melaju kencang tanpa supir pribadi, pria itu yang mengemudikannya sendiri.

Jongin memandangi rumahnya sejenak. Ia sudah bosan di rumah dan ingin keluar sesekali. Sayangnya bisa di pastikan kalau pintu utama tidak akan terbuka untuknya.

Tapi Jongin boleh tenang karena ia belum meminta siapa-siapa untuk menutup lubang di tembok belakang. Ia akan keluar dari sana untuk terakhir kali sebelum tembok itu benar-benar di tutup.

Jongin mengayunkan langkahnya menuju halaman belakang rumah, melintasinya dan mengelilingi Synagogue untuk menggapai lubang yang berada di belakangnya.

Rumpunan bunga krisan dan tanaman rambat itu membuat lubang besar pada tembok tersamarkan. Jongin berusaha melewatinya dengan sangat hati-hati hingga ia berada di sisi luar rumahnya.

Jongin menemukan sebuah lingkungan kosong di balik tembok itu, pemandangan yang sudah puluhan kali di lihatnya setiap kali Jongin melarikan diri dari rumah untuk merasakan udara bebas.

Ia melangkah menuju jalan raya dan dengan santainya bisa menghirup udara bebas. Sebenarnya, Jongin merasa ada seseorang yang mengikutinya, tapi ia berusaha untuk tidak perduli. Ia benar-benar ingin bebas hanya untuk hari ini saja.

"Jongin!"

Langkah Jongin terhenti. Suara Park Chanyeol? Apa yang di fikirkannya, benarkah Chanyeol yang mengikutinya? Atau Jongin hanya memikirkan Chanyeol karena namja itu pasti akan memarahinya karena Jongin bolos lagi kali ini.

Jongin ingin memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang di panggilnya. Tapi sebelum itu, ia di bekap oleh seseorang dan di paksa masuk ke dalam sebuah mobil.

Jongin ingin berteriak, sayangnya ia di bius sehingga tidak bisa melakukan apa-apa.

Tuhan, apa ini? Penculikan? Aku di culik?

.

.

.

~ o ~

.

.

.

Chanyeol merasa kesal. Sangat kesal. Ia memandangi kursi kosong dimana seharusnya Jongin duduk. Anak itu satu-satunya murid di ruangan ini dan sekarang pergi entah kemana. Jika tidak ada Jongin, maka Chanyeol bukanlah seorang guru. Ia hanya menjadi guru untuk Jongin di samping pekerjaannya yang lain. Tapi sekarang anak itu membuatnya kehilangan fungsi.

Chanyeol memandang ke jendela dan menangkap bayangan yang di kenalnya. Jongin sedang berjalan menuju Synagogue di halaman belakang. Chanyeol menghadirkan sebuah senyum di sudut bibirnya.

'Sedang apa kau disana, Jong? Ingin menemui pacar baru?' Chanyeol berguman dalam hati sambil meletakkan bukunya di atas meja.

Ia seharusnya memakai jasnya jika ingin keluar di udara dingin musim gugur. Tapi Jongin lebih menarik di bandingkan dengan jas.

Chanyeol segera mengayunkan langkahnya secepat mungkin untuk memergoki perilaku Jongin. Ia akan memaksa Jongin untuk belajar kali ini. Anak itu harus menyelesaikan pelajaranya sebelum pernikahan Chanyeol dan Baekhyun tiba. Jika tidak, Chanyeol yakin kalau dirinya tidak lagi bisa bersikap tegas kepada Jongin karena saat itu Jongin sudah menjadi adik iparnya.

"Kau tidak mengajar?" Baekhyun mencegat Chanyeol. Ia baru saja pulang kerja. "Kau mau kemana?"

"Mencari Jongin. Dia tidak ada di kelas."

"Lagi? Anak itu..."

"Tunda dulu amarahmu." Chanyeol memotong ucapannya. "Aku meminta izin padamu untuk menyeret Jongin kembali."

"Ya, demi kebaikannya, tentu saja aku izinkan."

Chanyeol tersenyum penuh terimakasih lalu berlari secepat mungkin menuju halaman belakang. Ia melihat Jongin melewati bangunan Synagogue sekilas, maka Chanyeol semakin mempercepat langkahnya dan mendapati bayangan Jongin baru saja menghilang ke dalam semak tanaman rambat yang di lapisi rumpun bunga krisan.

Tidak ada pilihan lain selain mengikutinya. Chanyeol tentu saja tau apa yang bisa di dapatnya dari dalam sana. Ada lubang di tembok dan Jongin sedang menuju ke luar rumah.

Chanyeol berusaha menyibak semak itu dengan hati-hati dan menemukan sebuah lubang besar yang tembus ke sebuah pekarangan kosong. Ia mendapati bayangan Jongin baru saja berbelok menuju jalan raya.

Chanyeol mengayunkan langkahnya dan mengikuti Jongin beberapa lama dalam jarak yang lumayan jauh. 'Jadi ini yang sering kau lakukan Jong?' Chanyeol membatin lalu tersenyum.

Sepertinya lubang di belakang synagogue adalah kebebasan bagi Jongin. Tapi sewaktu ia meminta Sehun untuk tidak datang lagi dan mengatakan akan menutup lubang itu, mungkin Jongin sedang berusaha menutup kebebasannya.

Chanyeol berhenti melangkah saat melihat sebuah van hitam dengan kaca gelap berhenti di antara jaraknya dan Jongin. Beberapa orang turun dan mengikuti Jongin dalam jarak yang sangat dekat. Mereka mau apa?

"Jongin." Chanyeol berteriak. Yeoja itu berhenti melangkah dan Chanyeol menyesali kesalahannya. Jika saja ia tidak berteriak...

Jongin di bekap dengan sesuatu hingga tubuhnya melemah. Yeoja itu di seret masuk ke dalam van dan di bawa pergi. Chanyeol merasa lumpuh, ia harus melakukan sesuatu. Harus melakukan sesuatu untuk Jongin.

.

.

.

~ o ~

.

.

.

"Sehun?" Jongin berdesis saat ia menyadari bahwa van berhenti di sebuah tempat yang sepi dan semua orang di dalam mobil memeganginya.

Tidak ada seorangpun dari mereka yang bisa Jongin kenal selain Sehun. Namja itu tengah merangkak di atas tubuhnya dan Jongin tidak bisa melawan meskipun ia terus mencoba berontak.

Sehun sudah membuka pakaiannya dan Jongin tidak cukup kuat untuk melepaskan diri dari orang-orang yang memegangi tangan dan kakinya.

"Sehun, hentikan atau aku akan berteriak."

"Kau bodoh? Aku tidak akan membiarkanmu berteriak jika tempat ini ada orang. Disini sangat sepi, nona. Dan kau-" Sehun tertawa sinis demi perasaannya. "Kau sial. Kau sudah membuatku sangat-sangat menginginkanmu dan aku harus mendapatkanmu sekarang juga."

"Sehun, hentikan!"

"Jong, aku mengharapkan ini setiap kali kau memulai hasratku dengan oral sex. Kau tau bagaimana rasanya aku harus menahan hal itu setiap hari? Kau harus menyesalinya."

"Jika kau terus memaksakan kehendakmu itu padaku, kau akan menyesalinya." Jongin tidak tau apa yang ia katakan dan mengapa ia sampai mengatakan hal itu. Yang ia tau, Sehun berhenti bergerak.

Pemuda itu memandangi Jongin dengan tatapan heran. Jongin sudah mengeluarkan air mata. Seharusnya ia tidak merasa heran, bukankah Jongin akan di perkosa. Tapi mengapa Sehun merasakan ada suatu hal yang lain yang merasukinya. Seolah-olah, Jongin akan menghantuinya jika Sehun terus melakukan kehendaknya.

"Ya, kau akan menyesalinya."

Sebuah suara membuat Sehun membalikkan tubuhnya. Seorang namja sudah berada di belakangnya, di ambang pintu van yang terbuka.

Namja itu langsung menyerangnya, memukul Sehun beberapa kali sehingga Sehun tersungkur. Park Chanyeol. Semua namja yang tadinya memegangi tubuh Jongin segera menyeruak turun dari dalam van.

Mereka berusaha untuk mengeroyok, tapi sepertinya Chanyeol lebih gesit dan ia berhasil menjauhkan banyak orang. Chanyeol memandangi Jongin sekilas dan kembali berusaha untuk menjatuhkan namja yang lain sambil berteriak.

"Jong, selamatkan dirimu!"

Tapi Jongin tidak bergerak, ia terlalu terkesima. Jongin hanya beranjak keluar dari dalam mobil tanpa niat untuk melarikan diri lebih dulu. Ia masih shock dengan apa yang akan terjadi padanya jika saja Chanyeol tidak datang. Chanyeol sedang menyelamatkannya.

"Kau ini siapa?" Sehun berteriak. "Jangan ikut campur dengan urusan pribadiku."

"Aku calon kakak ipar Jongin. Tentu saja aku harus ikut campur saat adik iparku dalam bahaya."

Sehun berdiri memandangi Chanyeol dan Jongin bergantian. Lalu dalam gerakan cepat ia merogoh sebuah pisau lipat di dalam sakunya dan bertindak seolah-olah hendak menghujam Jongin dengan benda itu.

Jongin terlalu terksima untuk mengelak. Ia akan mati? Tapi malaikatnya belum datang. Jongin memejamkan matanya pasrah, tapi sebuah pelukan Chanyeol mengamankannya.

Sehun mungkin sudah melukai punggung Chanyeol. Jongin membuka matanya dan memandang wajah Chanyeol yang sangat dekat. Chanyeol baik-baik saja? ia bahkan masih bisa tersenyum.

Sehun berusaha menusuk lagi dengan pisaunya, tapi Chanyeol segera berbalik dan meraih tangannya. Saat itu, Jongin semakin terkesima. Chanyeol punya sebuah tato bergambar sayap di punggungnya dan terlihat jelas di sela sobekan lebar di kemejanya.

Tuhan, malaikat untukku. Dia sudah datang?

"Kau harus menjauhi Jongin. Atau aku akan mematahkan tanganmu ini."

Sehun merasakan nyeri menusuk saat Chanyeol memelintir pergelangan tangannya. Ia juga mulai di rasuki rasa takut. Apaka Chanyeol mafia? Mengapa ia punya tato misterius itu? "Kau gangster?"

"Lalu?"

"Baiklah, aku tidak akan mengganggu adik iparmu lagi."

"Kalau kau melakukan hal seperti ini lagi, aku kan mencincang tubuhmu. Sekarang pergilah."

Sepertinya Sehun benar-benar menyerah. Pemuda itu segera masuk ke dalam mini van miliknya dan melarikan diri setelah sebelumnya memandang Jongin dengan tatapan aneh.

Ia pasti merasa kesal karena teman-temannya yang lain sudah lari lebih dulu. Hanya karena sebuah tato, seorang penjahat melarikan diri?

Chanyeol tiba-tiba bergindik, Jongin menyentuh punggungnya. Yeoja itu menelusuri tato di sana. Chanyeol segera berbalik dan memandang Jongin dengan tatapan khawatir.

"Kau tidak apa-apa, Jong?"

"Kau tidak terluka?"

Chanyeol menggeleng. "Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"

"Bajumu sobek."

"Ya, aku baru membelinya minggu lalu. Kau harus menggantinya sebagai ucapan terima kasih, kau tau itu? Ini adalah kemeja kesayanganku."

"Tato itu."

"Ini? Hanya iseng sewaktu remaja. Aku ingin menjalankan operasi laser demi menghapusnya, tapi sayang. Aku menyukainya." Chanyeol tersenyum. "Kau bagaimana Jong? Baik-baik saja?"

Jongin terdiam sesaat. Lalu menyentuh dadanya. Ia mulai merasakan sesuatu yang menusuk. Jongin langsung terduduk di tanah begitu saja. Ia membuat Chanyeol kembali teringat dengan ekspresi sakit yang selalu Jongin tunjukkan. Jongin menekan kuat dadanya.

"Jong, apa yang terjadi padamu?"

Jongin memandangnya dengan tatapan aneh, Chanyeol bisa merasakannya. Ia melepaskan dadanya dan berpidah ke tubuh Chanyeol kedua lengannya melingkari leher Chanyeol erat. "Selamatkan aku." Ujarnya ketakutan. "Selamatkan aku."

Chanyeol memandangi Jongin dengan tatapan kasihan yeoja ini mungkin shock saat dua kejadian naas hampir saja menyentuh hidupnya. Pemerkosaan dan pembunuhan. Ia sangat ketakutan. Chanyeol membelai rambutnya dan mencium bibirnya. Hanya sekilas. Tapi Chanyeol segera menarik diriya dari Jongin. Ia melakukannya?

Astaga. Bagaimana mungkin Chanyeol mencium adik iparnya? Chanyeol termenung dan tidak menyadari bahwa Jongin terkulai lemah di tanah.

.

.

.

~ o ~

.

.

.

Baekhyun memandangi kamar Jongin. Sudah hampir tengah malam dan Chanyeol belum juga menelpon untuk mengabarinya. Apakah namja itu sudah menemukan Jongin? Semenjak eomma tirinya meninggal, Baekhyun selalu memiliki tanggung jawab penuh terhadap Jongin.

Anak itu mungkin tidak merasa nyaman dengan sikapnya, karena itu Jongin selalu berusaha menjauh. Seharusnya Baekhyun lebih banyak belajar bagaimana caranya menjadi ibu. Ia seharusnya bisa mendekati Jongin, bukan malah membuat yeoja itu menjauh darinya.

Langkah-langkah kaki terdengar dengan sangat jelas. Baekhyun tau kalau itu pasti appa-nya. Appa-nya selalu memeriksa Jongin sebelum tidur. Apa yang akan appa-nya lakukan jika Jongin tidak ada di kamarnya?

"Baekhyun? Kau ada disini?"

Baekhyun segera menutup pintu rapat-rapat lalu berbalik menghadap appa-nya. Ia mengusahakan sebuah senyum yang terbaik yang pernah di milikinya. "Ya, aku baru saja melihat Jongin."

"Apakah dia sudah tidur?"

"Ya, dia sangat nyenyak, appa. Sebaiknya kita tidak menganggunya dulu."

"Sayang sekali, padahal aku sangat merindukannya hari ini. Tapi baiklah, kau benar. Mungkin dia akan terbangun jika terganggu. Sekarang ayo, appa ingin mengobrol denganmu."

Baekhyun mengangguk sambil menggapai tangan appa-nya untuk di gandeng. Ia memutuskan untuk menunggu sampai besok pagi. Jika sampai besok Chanyeol belum juga memberi kabar tentang Jongin, maka Baekhyun akan melaporkan masalah ini ke polisi.

.

.

.

~ o ~

.

.

.

Bab 4

Tuhan, aku ingin berusia tujuh belas tahun selamanya.

Dan aku ingin memiliki kebebasan untuk melakukan apapun.

Kabulkanlah doaku.

Sebuah helaan nafas berat mengawali pagi Jongin. Ia membuka matanya dan menemukan dirinya di sebuah tempat asing. Sebuah kamar yang tidak terlalu besar tapi sangat nyaman.

Jongin berbaring di sebuah ranjang busa yang sangat empuk dan tebal sehingga membuatnya merasa bukan masalah untuk menggeliat dengan sedikit lebih ekstrim.

Semua yang di lihatnya di ruangan ini berwarna putih, Jongin yakin kalau dirinya mungkin sedang berada di rumah sakit. Tidak, di rumah sakit tidak ada ranjang selebar yang di tidurinya sekarang. Tapi ini juga bukan kamarnya.

Jongin duduk untuk berfikir dan sedikit terkesiap saat selimutnya turun dan memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang polos dari cermin besar yang bersebrangan dengannya.

Dengan cepat ia merespon kalau telah terjadi apa-apa dengan dirinya. Jongin meraba tubuhnya di balik selimut dan sama, ia tidak mengenakan apa-apa. Begitu menyentuh daerah sensitifnya, Jongin merasa lega. Tidak terjadi sesuatu yang aneh dengannya.

Ia menghela nafas dan kembali berbaring sambil memandangi atap ruangan itu. Semalam ia hampir saja mengalami kejadian buruk, di perkosa dan di bunuh jika saja tidak ada Chanyeol yang menolongnya.

Otaknya kembali memutar peristiwa saat ia melihat sayap dari punggung Chanyeol, seperti nyata. Sayap itu berkepak-kepak dengan warna putih bercampur keperakan dengan bunyi yang sangat jelas.

Apakah itu pertanda kalau Chanyeol adalah malaikat untuknya? Jongin menyentuh dadanya, semalam ia benar-benar ketakutan sehingga dirinya merasa kalau dadanya sangat sakit, jantungnya seperti berhenti berdetak dan Jongin takut kalau dirinya akan mati saat itu juga.

Tapi Chanyeol menenangkannya dengan ciuman tadi malam. Ia tersenyum, Chanyeol menciumnya? Jongin di kejutkan oleh bunyi pintu yang di buka. Sebuah klik yang sangat halus mengawalinya dan kemudian Chanyeol masuk membawa segelas susu dan beberapa potong roti panggang lalu meletakkan benda itu di atas meja.

Chanyeol lalu berbalik dan memandangnya dengan senyuman yang biasa. Tapi Jongin tidak bisa merasakan perputaran waktu lagi, seluruh dunia berhenti melakukan apapun agar ia bisa memandangi Chanyeol lebih lama.

Tuhan, aku bingung untuk pertama kalinya

Tunas di dalam diriku hampir saja meneteskan madunya

Selembar kelopaknya mulai terbuka

"Kau sudah lebih baik?" Chanyeol bergumam, tiba-tiba saja namja itu sudah duduk di pinggir tempat tidur dan menyelimuti tubuh Jongin yang terbuka. "Aku membawamu ke rumahku, harusnya aku membawamu ke rumah sakit tapi kufikir, kau mungkin hanya shock karena kejadian semalam."

Jongin berontak dan melemparkan selimutnya. "Aku tidak suka selimut. Apakah rumahmu tidak punya pendingin ruangan?"

"Air Conditioner itu tidak sehat untuk pernafasan."

"Tapi aku kepanasan." Jongin mengeluh, Chanyeol mengambil kembali selimut dan kembali menyelimuti tubuhnya. "Kenapa kau berkeras menyelimutiku? Bukankah aku sudah bilang kalau aku kepanasan? Kau takut tergoda padaku? Bukankah kau sudah melihatku di telanjangi Sehun kemarin?"

Tawa Chanyeol terdengar mengejek. Ia memandangi Jongin seolah-olah anak itu sedang bercanda. "Berapa usiamu? Tentu saja aku tidak akan tergoda pada anak-anak. Karena itu aku berani membuka pakaianmu. Bajumu kotor sekali, aku menemukannya dalam kubangan lumpur dan aku sudah mencucinya. Sebentar lagi kering. Ku kira, mereka akan membuangmu dalam keadaan telanjang disana setelah menghabisimu. Kau beruntung karena aku mengikutimu."

"Tapi tadi malam kau menciumku. Menurutmu itu keberuntungan?"

Chanyeol terdiam sebentar lalu, "Aku melakukan itu untuk menenangkanmu."

"Benarkah?"

"Kau tidak percaya? Aku tidak mungkin tertarik pada seorang yeoja kecil. Sudah kubilang, kan? Lagipula aku akan menikah dengan kakakmu."

"Jadi bukan masalah kalau aku mengatakan kepada Baekhyun kalau kau menciumku, lalu membuka pakaianku-"

"Kata-katamu akan membuatnya salah paham. Sebaiknya kau rahasiakan masalah ini, demi kebaikan kita bersama. Atau Baekhyun akan membencimu dan aku akan gagal menikah. Aku harap hal buruk seperti itu tidak pernah terjadi, aku bersumpah tidak akan memaafkan dirimu jika itu sampai terjadi."

Jongin membuang wajahnya sambil berdesis. "Aku akan merahasiakannya."

"Benarkah?"

"Karena kau sudah menolongku. Aku akan menghilangkan cerita tentang ciuman itu dan kau yang membuka pakaiaku. Aku hanya akan mengatakan kepada Baekhyun kalau aku tidur di kamarmu dan aku membuka pakaianku sendiri."

Chanyeol menghela nafas berat. "Itu akan memiliki efek buruk yang sama persis."

"Aku tidak perduli. Sekarang aku mau pulang. Kris berjanji akan mengajakku jalan-jalan hari ini. Aku tidak mau kalau sampai ketinggalan cerita darinya. Kembalikan pakaianku."

Chanyeol menghela nafas lagi. Ia memindahkan sarapan yang tadi di bawanya ke atas rajang lalu keluar dari kamar itu. Begitu Chanyeol keluar, Jongin menyentuh roti panggang yang berada dalam sebuah piring keramik dan memakannya dalam gigitan-gigitan kecil.

Setelah itu, Jongin menghabiskan segelas susu daam sekali tegukan. Menu sarapan yang sama dengan yang selalu di dapatkannya di rumah. Park Chanyeol sudah seharusnya melakukan ini mengingat seberapa seringnya Chanyeol sarapan di rumah bersama keluarganya selama enam tahun belakangan.

"Aku tunggu di luar." Chanyeol melemparkan pakaian Jongin tepat mengenai wajahnya lalu menutup pintu.

Jongin mengeluh, ia segera mengenakan pakaiannya secepat mungkin lalu menyusul Chanyeol yang sudah menunggunya di luar dengan kebingungan sebelumnya karena mencari pintu keluar.

Rumah Chanyeol cukup besar untuk di tinggali oleh dirinya seorang, di dinding sangat banyak foto-fotonya dan Baekhyun seolah-olah mereka adalah pasangan yang sudah di tentukan Tuhan dan di takdirkan untuk bersama.

Jongin tersenyum iri dan berjalan pelan menuju pintu depan rumah itu. Chanyeol sudah menunggunya di atas sebuah sepeda motor.

Jongin mendekatinya dan menyodorkan tangannya kepada Chanyeol. "Tuan Park. Pinjamkan aku uang, biar aku naik taksi saja."

Chanyeol menggeleng lalu meletakkan sebuah helm di tangan Jongin. "Pakai itu dan naiklah. Aku tidak punya uang kas sekarang. Uangku sudah habis karena membayar taksi untuk mengejar mini van pacarmu itu semalam."

Terpaksa Jongin menurut. Ia naik di boncengan Chanyeol dan menyandarkan kepalanya di punggung namja itu. Disana bunyi kepakan sayap itu berasal, Jongin memejamkan matanya berharap mendengar bunyi itu lagi. Ia terus menanti dan tidak ada sesuatu yang lain yang bisa di dengarnya kecuali desauan angin yang berusaha Chanyeol tembus dengan sepeda motornya. Lama kelamaan Jongin terlelap hinga akhirnya...

"Jong, bangunlah. Kita sudah sampai rumah."

Jongin membuka matanya perlahan dan turun dari boncengan Chanyeol. Ia segera melangkah memasuki rumah dan Chanyeol menyusulnya.

Sudah Jongin duga, Baekhyun segera menyongsongnya dengan ekspresi cemas. yeoja itu menggenggam bahunya erat.

"Jong? Kau baik-baik saja? Darimana saja kau semalaman?"

Jongin menoleh kepada Chanyeol berharap Chanyeol memberikan jawaban ia mencibir dan saat mulut Chanyeol nyaris terbuka untuk mengatakan sesuatu, Jongin mendahuluinya. "Aku tidur di rumah temanku, kami mengobrol bersama semalaman, bercerita banyak hal lalu tertidur."

Baekhyun mengangkat alisnya heran. "Kau punya teman?"

"Tentu saja. Aku juga pernah sekolah dan aku punya teman untuk ku kunjungi kalau aku sedang keluar dari rumah ini." Jongin menguap. Lalu, "Aku masih mengantuk, kami mengobrol semalaman suntuk dan baru tidur menjelang pagi. Sekarang aku ke kamarku dulu. Kalian mengobrolah seperti biasa. Tapi panggilkan Kyungsoo dulu untukku, ya?"

.

.

.

~ o ~

.

.

.

Jongin membolak-balikkan tubuhnya yang telanjang menghadap cermin. Ia berdesis kesal beberapa kali saat merasakan keputusasaan tentang bentuk tubuhnya.

Chanyeol mengatakan kalau dirinya anak-anak dan dia tidak tertarik pada anak-anak. Jongin kecewa, ia tidak pernah di tolak dengan alasan itu. Bukankah tujuh belas tahun adalah usia yang pas bagi yeoja untuk di katakan menarik?

Jongin mendengus kesal lalu menempelkan tangan pada payudaranya. Hanya segegnggaman tangan.

"Apa lagi yang membuatmu kurang puas?" Kyungsoo yang sejak tadi duduk di ranjang sambil memandanginya berujar. Jongin membuatnya heran hari ini. Tidak biasanya yeoja itu tidak memiliki kebanggaan terhadap dirinya seperti yang biasa di tunjukkannya.

"Apakah benar aku seperti anak-anak?"

"Kau hanya remaja. Tubuhmu masih akan terus berkembang."

"Aku kecewa melihat tubuhku," Jongin merengut. "Tuan Park mengatakan kalau aku seperti anak-anak."

"Sampai kapanpun baginya kau tetap anak-anak, Jong. Dia mengenalmu sejak usiamu masih sepuluh tahun dan Tuan Park juga melihat bagaimana kau tumbuh. Jadi dia tidak akan pernah mengubah anggapannya kalau kau adalah anak-anak. Belum lagi kau selalu bersikap nakal kepadanya. Dia calon kakak iparmu, bukankah lebih baik jika Tuan Park menganggapmu sebagai anak-anak selamanya? Akan bahaya jika dia menganggapmu sebagai seorang yeoja yang cantik dan seksi."

Jongin mendesah lalu duduk di ranjang sambil membungkus tubuhya dengan selimut. "Kau tidak mengerti."

"Jong, boleh aku masuk?"

Jongin dan Kyungsoo menoleh ke pintu. Suara Baekhyun menyela percakapan mereka dan Jongin bisa saja menolak untuk di temui oleh Baekhyun seperti biasa.

Tapi sepertinya tidak akan terjadi lagi. Ia memandangi Kyungsoo meminta yeoja itu untuk meninggalkannya dan Kyungsoo sepertinya mengerti.

Kyungsoo bangkit dengan segera dan menyongsong pintu lalu membukanya, ia tersenyum kepada Baekhyun dan membungkuk halus.

"Silahkan masuk, Nona."

Baekhyun mengangguk. Ia masuk dan menanti Kyungsoo benar-benar pergi lalu menutup pintu. Selang beberapa detik, Baekhyun sudah duduk di sisi ranjang Jongin dan heran saat melihat Jongin menyembunyikan tubuhnya yang tanpa pakaian di balik selimut katun berwarna putih.

"Kau tidak sedang memakai pakaian?" Baekhyun memulai.

Jongin mengangguk. "Aku kepanasan."

"Bisa menyalakan pendingin ruangan kan?"

"Air Conditioner tidak baik untuk perkembangan kesehatan remaja sepertiku. Aku akan tidur seperti ini saja dan membuka jendela. Tidak akan ada yang masuk, kan? Bukankah kamarku berada di lantai teratas rumah ini?"

Baekhyun mengangguk. "Terserah, lakukanlah apapun yang membuatmu nyaman asalkan kau mengunci pintu kamarmu jika akan tidur tanpa pakaian seperti ini. Kau sudah besar, Jong. Dan kau harus bisa menjaga dirimu sendiri."

Jongin tersenyum. Ia menatap Baekhyun dengan seksama. Seperti itukah tubuh dewasa yang di sukai oleh Park Chanyeol. Payudara yang penuh dan pinggul besar. Baekhyun juga cantik jelita dan baik hati. Ia kalah banyak.

Baekhyun menyentuh kepala Jongin saat menyadari kalau anak itu sedang memperhatikan tubuhnya. Ia memandangi Jongin dengan heran. "Kenapa kau memandangiku seperti itu?"

"Kau cantik sekali, tubuhmu juga bagus. Aku ingin sepertimu."

"Ini pertama kalinya ku dengar kau mengatakan itu. Aku sangat terkesan, sungguh. Kufikir kau membenciku, makanya terus menjauh. Tapi hari ini kau mengatakan ingin menjadi sepertiku?"

"Aku tidak membencimu. Aku hanya merasa tidak pantas menjadi adikmu. Semenjak aku dan Kris datang ke rumah ini, kami merasa kalau kau terlalu hebat untuk menjadi kakak kami. Kau pasti juga tidak ingin hidup dengan adik yang aneh sepertiku."

"Kau tidak aneh, hanya belum dewasa saja." Baekhyun tersenyum lagi. "Ah, Ya. Tadi Chanyeol bilang kalau hari ini seharusnya kalian belajar. Tapi jika kau tidak mau belajar, dia tidak akan memaksa."

"Dia ada dimana?"

"Di ruang tengah. Menanti makan siang, Mau makan siang bersama?"

Jongin menggeleng. "Aku sudah meminta Kyungsoo membawakan makan siang ke kamarku. Aku juga tidak ingin belajar hari ini. Besok saja."

"Kalau besok, dia akan datang lebih cepat. Itu yang di katakannya."

Jongin diam sebentar memikirkan penawaran itu. Lalu, "Baiklah aku akan belajar hari ini setelah makan siang. Besok Kris akan berangkat ke California dan aku harus mengantarnya."

"Tentang itu, aku dan Chanyeol juga akan ikut mengantarnya. Kalau begitu istirahatlah. Dan lain kali kalau ingin tidur di rumah temanmu lagi katakan dulu padaku, agar aku tidak perlu cemas seperti semalam."

Jongin mengangguk dan tersenyum. "Eonni, bolehkah aku bertanya sesuatu?"

"Tanyakanlah."

"Tubuhmu bagus sekali, bagaimana cara mendapatkannya?"

"Kalau kau ingin punya tubuh yang bagus, makanlah sedikit lebih banyak dari porsimu yang biasa. Jika kau selalu makan sedikit, bagaimana tubuhmu bisa tumbuh dengan baik. Kau bisa melakukannya, Jong, usiamu masih muda dan masih memiliki banyak waktu untuk memiliki bentuk tubuh yang indah seperti milikku. Ah, tidak. Bahkan lebih indah lagi."

"Apakah tuan Park menyukainya?"

"Kau sedang mengatakan apa? Kenapa bertanya seperti itu?"

"Aku hanya ingin tau. Aku sedang dalam masa puberitas tingkat tinggi. Jadi jangan heran kalau aku menanyakan hal seperti itu."

Baekhyun tertawa kecil lalu mengangguk. "Dia mengatakan seperti itu. Dia menyukaiku."

"Kau sering bercinta dengannya?"

"Kau menanyakan hal itu tanpa malu-malu, Jong. Apakah ini bagian dari keingintahuanmu lagi?"

Jongin mengangguk.

Baekhyun mengangkat bahunya lalu menatap Jongin lama. "Belum saatnya kau mengetahui hal seperti ini. Sekarang beristirahatlah, bukannya kau akan belajar setelah makan siang?"

.

.

.

~ o ~

.

.

.

"Terimakasih untuk bantuanmu hari ini, Jong." Park Chanyeol berkata sambil membuka-buka halaman bukunya mencari materi pelajaran yang tepat untuk hari ini. Ia sama sekali belum menyiapkannya karena keberadaan Jongin di dalam kamarnya semalam.

Chanyeol mendengus kesal saat melihat Jongin duduk di atas mejanya. Sedikit tidak sopan, tapi Chanyeol akan memaafkannya untuk kali ini. "Kufikir kau akan benar-benar mengatakan kepada Baekhyun kalau kau tidur di kamarku dan seterusnya."

Jongin yang memainkan ujung rambutnya memandang Chanyeol sekilas lalu kembali berkonsentrasi pada rambutnya lagi. "Kau harus membayar itu degan sesuatu."

"Bukannya kau bilang akan merahasiakannya karena aku sudah menyelamatkanmu?"

"Kau sudah menciumku dan melihatku tanpa pakaian, Tuan Park. Maka itulah bayaran untuk menolongku."

Park Chanyeol menggeleng tak habis fikir. Jongin terdengar sangat perhitungan bila ia mengatakan hal seperti itu. "Baiklah, aku akan mentraktirmu di McDonals, atau kau lebih suka Creepers, mana yang kau inginkan?"

"I want to have sex." Jongin memandang Chanyeol yang mematung dengan tatapan serius. "Bercintalah denganku, tuan Park."

"Jong?"

Jongin mendekatkan wajahnya kepada Chanyeol yang kelihatan mulai gugup. "Bukankah kau yang mengatakan padaku agar aku tidak menyerahkan keperawananku kepada sembaragan orang? Aku fikir aku harus praktek untuk mendapatkan pengalaman yang baik. Jadi aku menginginkanmu untuk menjadi yang pertama bagiku. Kau pasti sering melakukannya dengan Baekhyun, kan? Kau cukup baik untuk di sebut pria yang berpengalaman? Aku rasa iya, Baekhyun malu-malu saat aku menanyakan hal itu pagi ini. Karena itulah- Aduh!" Jongin mengganti kata-kata selanjutnya dengan keluhan kesakitan karena Chanyeol memukul kepalanya dengan buku tebal yang tadinya di bolak-balik olehnya untuk mencari materi pelajaran.

Chanyeol memandang Jongin dengan senyum dewasanya yang biasa. "Kau tidak seharusnya bercanda seperti itu dengan orang dewasa. Jangan lakukan lagi. That's a big No."

"Tapi aku serius."

"Jongin." Suara Kris yang memanggil-manggil namanya membuat Jongin menghentikan ucapannya. Ia memandangi pintu masuk ruangan yang biasa menjadi kelasnya saat Kris mengulangi panggilanya sekali lagi sebelum mendekat. Kris memeluknya seperti biasa.

"Kau akan belajar?" Kris menatap Jongin yang masih memeluknya. Yeoja itu menengadah dan mengagguk ringan. Kris menoleh kepada Chanyeol.

"Bolehkah aku meminjam adikku sebenar, Chanyeol?"

"Tidak akan lama, kan?"

"Lima belas menit saja."

Chanyeol mengangguk. Lalu menoleh kepada Jongin dengan tatapan serius. "Segera kemari setelah urusanmu dengan Kris selesai, Jong."

Jongin mencibir. "Aku tidak yakin, aku tidak biasa memakai jam, jadi mungkin saja akan lebih dari lima belas menit."

"Aku akan meminjamkan jam tanganku kalau begitu." Chanyeol melepas jam tangannya dan meraih tangan Jongin untuk memakaikan benda itu.

Jongin terkesima. Sentuhan Chanyeol benar-benar hangat dan membekas di tangannya.

"Jadi kau harus kembali tepat waktu. Besok tidak ada pelajaran, kan? Lebih seriuslah jika ingin lulus secepat mungkin. Atau kau ingin jadi anak-anak selamanya?"

Jongin berdecak. Ia di tolak oleh Chanyeol dan hal itu tidak bisa di pungkiri sudah sangat menyakitinya. Jongin meraih lengan Kris untuk di peluk, ia membuang wajahnya dari Chanyeol dengan perasaan kesal lalu pergi.

Chanyeol juga tidak bisa menyangka mengenai hal ini. Jongin mengajaknya untuk bercinta? Anak itu terlalu bebas berpacaran, dia sudah dirasuki keinginan-keinginan yang mustahil untuk Chanyeol lakukan.

Meskipun sebenarnya, anak seusianya di luar sana mungkin sudah kehilangan keperawanannya sejak lama. Jongin beruntung karena sangat banyak orang yang memperhatikannya. Ia tidak akan bisa melakukan hal itu kepada yeoja kecil yang selalu di kasihinya seperti adiknya sendiri.

.

.

~ To be Continued ~

.

.

Author Note:

Saya harap kalian semua bukan cuma sekedar membaca dan menikmati fanfic ini, saya harap kalian semua bisa mendapat pelajaran moral di sini tentang; Keperawanan itu cuma satu kali kita miliki, jaga dia sebaik-baiknya. Jangan berikan ke sembarang laki-laki. Pastikan suami kalian nantilah yang mendapatkannya. Karena Dia yang paling berhak mendapatkannya.

Special thanks to:

Nyun: Terimakasih lho sudah suka sama remake-nya. :D

geash: Dan ini lanjutannya. :D

Kai88kim: Iya, Jonginnya mau merasakan yg namanya bercinta. Soal Chanyeol, kamu tunggu kelanjutannya aja ya. :D Soal curhatan saya kemarin, jujur aja setiap hari rasa cinta saya buat mereka semakin menipis. Tapi saya masih merasa gak ikhlas kalo saya ninggalin fandom. Jadi dunia fangirling saya saay ini sedang mengambang, gak jelas.

dnrkaixo: Bisa jadi ChanKai, bisa jadi juga HunKai. :D Yg saya rasain setiap liat foto-foto, nonton video-video EXO atau dengar lagu-lagu EXO terasa gak sama lagi. Kadang saya ngerasa lelah sama EXO. Mulai dari member yg keluar, skandal Baekhyun dan Kai, belum lagi skandal-skandal lainnya, saya lelah. Tapi saya terlanjur terlalu cinta sama EXO. Dan soal KaiStal, saya angkat tangan lah. Saya -jujur- muak.

KaiNieris: Saya juga suka banget sama karya-karya Phoebe. :D Tenang aja, fanfic remake ini udah selesai saya kerjain sampai End, tinggal posting aja. :D

jumeeee: Kris & Jongin adalah saudara tirinya Baekhyun. :D

vivikim40: Kamu tunggu kelanjutannya aja ya. Kalo saya bilang-bilang disini nanti gak seru. .

onlysexkai: Tapi kalau karakter Jongin tetap laki-laki, rasanya gak mungkin sama jalan ceritanya. -_-

At last, annyeong~ :D

Wanna Review? Thanks before. :D

.

.

.