Another Day With You

(Love Sick Sequel)

Genre : Romance, Family, Hurt, MPREG

Rating : T

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yejin, Shim Changmin, and other

WARNING !

Ff ini merupakan sequel yang terdiri 2 part, dengan cerita yang membosankan dan menipu. Kalau kalian tidak suka mengambil resiko tolong untuk jangan meneruskan, tapi kalau penasaran jangan salahkan authornya dengan marah di review karena itu berarti kalian tidak membaca warning ini ^_^

Author's note : untuk kata yang miring berarti itu masuk ke flashback ya, tapi kalau kalian baca lewat hp pasti tidak terlihat jadi harus lebih hati-hati.

Sequel of 'Love Sick' part 1

Sebuah Bus melaju dengan kecepatan sedang, membelah pegunungan di daerah selatan Busan. Tak banyak penumpang hari ini, hanya ada 5 penumpang yang duduk berjauhan. Dideretan bangku paling belakang, seorang pria bertudung duduk dengan tenang. Matanya terus terarah keluar jendela. Mata besarnya melihat banyak pohon dan rumput yang berjejer disepanjang jalan.

Pria berjaket rajutan itu menggenggam sebuah liontin ditangannya. Ia melihat liontin berbentuk bintang, lalu membukanya perlahan. Disana, didalam liontin itu terdapat potongan foto seseorang. Orang itu tersenyum tulus.

Pria tadi menggenggam kembali liontin itu lalu membawanya ke dada.

"Aku..akan membawa dia..untukmu" Bisiknya entah pada siapa. Ia kembali melihat kearah luar jendela, menatap tempat tujuannya yang mengecil dikejauhan. Ditempat itu ia akan menemui seseorang, orang yang sudah lama meninggalkannya.

.

.

.

15 tahun yang lalu...

Jaejoong mengantarkan Changmin sampai didepan mansion Yunho, ia terus menciumi wajah Changmin berulang kali, menyalurkan segala perasaan cinta pada anaknya itu. Jaejoong hanya ingin Changmin tahu kalau ia sangat mencintainya.

Mereka belum berpisah tapi Jaejoong sudah teramat merindukan anaknya itu. Ia terus menangis tanpa suara, kepalanya menggeleng berulang kali. Kenapa hidupnya harus seperti ini, menjadi yatim piatu diusia 10 tahun, menikah lalu diceraikan, dan sekarang satu-satunya harta yang ia miliki harus kembali ia relakan.

Jaejoong terus menangis, membuat Yunho menatap sendu kearahnya. Seandainya ia bertemu Jaejoong lebih cepat, maka ia tak akan memiliki cinta lain yang harus ia pertahankan.

Ia tidak mungkin meninggalkan Yejin. Wanita itu telah datang dengan susah payah, berusaha sembuh dari penyakit yang bisa membunuhnya. Ia hanya tidak bisa meninggalkan Yejin untuk bersama Jaejoong.

Kim Jaejoong, sahabatnya itu terlalu baik untuknya. Jaejoong bisa mendapatkan hidup yang lebih baik dan itu tak akan bisa jika dengannya. Yunho tak punya kekuatan untuk membuat Jaejoong bahagia. Ia hanya punya satu hati, yang tak bisa ia bagi pada dua jiwa.

"Berikan Changmin padaku, kau akan membuatnya bangun" Kata Yejin sambil mengambil tubuh Changmin dari pelukan Jaejoong. Jaejoong yang masih belum puas memeluk Changmin, hanya bisa pasrah melihat anaknya tak lagi berada dalam dekapannya.

"Sudah cukup, kau boleh pulang" Lanjut wanita itu, lalu menarik tangan Yunho agar mengikutinya masuk kedalam mansion.

Brakk..

"Hiks Changmin, aku mencintaimu.."

.

.

.

Ceklek..

"Ini adalah kamarmu, Minwo sshi" Kata seorang penjaga apartement kecil tempat pria bernama Minwo itu akan tinggal. Sebuah flat berukuran tak terlalu besar membuat Minwo tersenyum.

"Ghamsahamnida, Ahjussi" Katanya seraya membungkukkan badan. Pria berusia lanjut itu menepuk punggung Minwo sambil tersenyum.

"Semoga kau betah berada didesa kecil ini" Kata pria itu sambil menghela nafas.

"Tentu, Ahjussi"

"Baiklah, aku akan meninggalkanmu. Jika kau butuh sesuatu, panggil saja aku dirumah" Kata pria pemilik apartemen itu. Minwo mengangguk paham.

Setelah pria tadi pergi, Minwo melangkah masuk kedalam flatnya, meletakkan koper yang ia bawa didepan sofa ruang tamu, lalu meninggalkannya untuk melihat sekitar ruangan.

Flat ini lebih kecil dari rumahnya di Seoul dan bahkan ruang tamunya hanya sebesar kamar pembantu. Ia melangkah lebih kedalam, melihat kamar tidurnya. Didalam ruangan itu hanya ada satu tempat tidur, meja hias dan sebuah lemari. Mengingat bahwa harga sewanya yang rendah, itu cukup menyadarkannya.

Ia tidak masalah dengan tempat yang akan ia tinggali. Uang yang ia punya tak banyak. Kepergiannya kedesa ini pun tanpa sepengetahuan ayahnya. Yang terpenting adalah, tujuannya akan tercapai.

Minwo berjalan kearah jendela kamar, membuka jendela itu lalu melihat kearah samping. Disana, tepat sejajar dengan jendela kamarnya, terdapat jendela flat lain yang akan mulai ia perhatikan sejak saat ini.

.

.

.

Sejak bangun setengah jam yang lalu, Changmin terus menangis dan meronta, ia tidak kenal dengan dua orang yang bersamanya saat ia bangun. Ia mencari Jaejoong tapi 'ayah'nya itu tidak ada. Yejin dan Yunho sudah menenangkan Changmin tapi tetap saja anak itu menangis sambil memanggil Jaejoong. Mereka menenangkan Changmin dengan berbagai cara lembut sampai Yejin kesal dan berteriak.

"DIAMLAH!" Seketika itu Changmin terdiam. Anak itu sudah berhenti menangis tapi tubuhnya masih bergetar. Yunho yang duduk disebelah istrinya, mengusap wajahnya dengan kasar.

"Kau membuat semuanya bertambah buruk, Yejin" Yunho mengambil alih Changmin dari gendongan Yejin.

Yunho membisikkan kata-kata yang membuat Changmin perlahan diam. Yunho memberikan ciuman sayang yang pertama kali pada pipi Changmin, menyalurkan perasaan hangat seorang ayah. Changmin sudah berhenti menangis dan kini sedang mendengarkan Yunho bicara.

"Changmin anak baik, tidak boleh menangis. Appa Jae sedang ada urusan dan tidak bisa mengajakmu, nanti kalau Changmin mau jadi anak baik, Appa Jae akan menjemputmu" Kata Yunho. Apa yang ia ucapkan tidaklah sesuai pada kenyataannya. Berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, Changmin tumbuh menjadi anak yang baik, memenuhi janji yang secara tak langsung ia ucapkan. Changmin selalu berdoa agar Tuhan mengabulkan doanya, membawa Jaejoong bersamanya, seperti dulu.

.

.

.

Brak..

Seorang pria berkulit putih memasuki flatnya dengan beberapa kantung yang berisi bahan masakan. Ia sedikit mengeluh ketika beberapa belanjaannya terjatuh karena tangannya kesulitan membawa semua itu.

"Hahh, capeknya" Ia mengusap peluh di dahi dan lehernya. Berbelanja merupakan kegiatan yang mengasikkan, tapi ketika kau kesulitan membawa kantung-kantung belanjaanmu seorang diri, itu yang membuatmu kesal.

Hari masih pagi dan itu cukup memberinya waktu untuk memasak. Ia selalu masak besar tiap minggunya karena akan ia bawa dan bagikan untuk penghuni panti disebuah gereja tak jauh dari flat sewaannya. Ia begitu senang saat melihat wajah bahagia anak-anak itu, melahap makanan buatannya.

Ia sudah melakukan kegiatan itu lebih dari 10 tahun yang lalu, sejak ia datang ke desa itu dan sejak orang-orang disana menyambutnya dengan keramahan.

Ia orang asing ketika itu, memutuskan untuk berpindah dari tempat tinggal sebelumnya, dan ia tidak menyangka kalau kehidupannya berangsur membaik. Ditempat itu ia menemukan kebahagiaan.

.

.

.

Minwo sedang membereskan pakaiannya dari dalam koper, menatanya kedalam lemari. Saat sedang melakukannya, ponsel miliknya yang terletak diatas tempat tidur berdering. Ia segera mengambil benda itu dan menjawabnya.

"Yeoboseyo.."

'Changmin! Kenapa kau belum pulang?' Terdengar nada marah namun khawatir dari orang yang menelponnya.

"Ah, mianhae, Aboji. Aku lupa bilang padamu kalau aku harus mengikuti penelitian di sebuah desa"

'Penelitian apa? Kau pergi dengan siapa dan kemana?'

"Aish, kau mengkhawatirkanku seolah aku seorang gadis. Aku pergi sendiri dan besok Kyuhyun akan menyusul. Dan untuk tempatnya Aboji tak perlu tahu!" Katanya dengan nada kesal. Bisa gawat kalau ayahnya itu menyusul dan mengacaukan rencananya.

'Yak! Cepat pulang dan jangan buat Aboji lebih khawatir'

"Mianhae!" Changmin langsung menutup teleponnya setelah berkata dengan cepat. Ia lalu mematikan ponsel dan melepas baterainya. Ia tidak ingin diganggu, semua ini demi ayahnya.

.

.

.

Seminggu Changmin tinggal bersama Yunho dan selama itu pula Changmin hampir menangis tiap saat. Ia menginginkan Jaejoong hingga terkena demam. Yunho tidak tahu apa yang harus ia lakukan terhadap anak yang sedang sakit, dia seorang pria dan bahkan satu-satunya wanita disana hanya duduk santai diatas sofa sambil menonton televisi.

"Yejin ah, tolong bantu aku ambil handuk basah untuk mengkompres Changmin" Suruh Yunho pada Yejin yang bergeming. Wanita itu bahkan tak menoleh pada Yunho yang berdiri disamping sofa.

"Dia kan anakmu, jadi urus saja sendiri" Katanya dengan tenang. Yunho menggeleng, ia tak menyangka kalau Yejin berubah seperti itu. Yang ia tahu—sampai saat didepan Jaejoong waktu itu-Yejin adalah wanita yang baik, ramah dan ceria, tapi sejak saat itu ia berubah, atau mungkin memang itu sikap aslinya?

.

.

.

Demam Changmin sudah sembuh setelah 3 hari. Yunho memanggil dokter untuk memeriksa dan memberi obat untuk Changmin. Semua itu menjadi tugas khusus untuknya selain bekerja dikantor. Ia semakin kesal ketika Yejin sama sekali tidak membantu. Entah kenapa meski begitu Yunho tak bisa marah. Yejin seperti sudah memasung kedua kakinya untuk tetap menurut.

Yunho menatap wajah tidur Changmin yang baru berhenti menangis, melihat banyak kesedihan disana.

.

.

.

Pagi ini Changmin bangun lebih cepat, entah karena tempat baru atau karena ia terlalu bersemangat. Biasanya ia bangun ketika matahari sudah meninggi, terlebih setelah ia lulus sekolah dan mempunyai waktu tidur yang banyak. Yunho akan selalu membangunkannya tiap hari meski itu tidak membantu.

"Haa..jauh dari Seoul ternyata menyenangkan juga" Ia berkata seolah-olah sudah lama berada disana.

Ia berjalan kekamar mandi untuk menggosok giginya. Menatap wajahnya dicermin. Ia sedang memikirkan apa yang bisa ia lakukan hari ini, dan tepat setelah itu, ponsel miliknya diatas kasur berdering. Ia berlari kearah kamar dengan sikat gigi yang masih tersangkut di mulutnya.

"Ne, Kyu"

"CHWAAAANGG~" Changmin hampir menjatuhkan ponselnya saat mendengar teriakan itu.

"Kau berisik sekali" Sedang Changmin bicara dengan kalem.

"Aku sudah berada dekat dengan flatmu. Jemput aku sekarang" Kyuhyun memang selalu begitu. Ia sudah bersahabat lama dengan Kyuhyun yang dulu pernah ditinggalkannya beberapa tahun.

.

.

.

Setelah beberapa hari Changmin sembuh, anak berusia 3 tahun itu selalu merengek minta bertemu dengan Jaejoong dan dengan terpaksa—meski harus meminta ijin pada Yejin terlebih dahulu- Yunho dan Changmin berada disini, perkebunan strawberry milik Choi Siwon.

"Ahjussi..." Changmin langsung meronta dari pelukan Yunho dan meminta Siwon untuk meraihnya. Changmin menangis lagi sambil bertanya.

"Appa Jae mana? Hiks" Changmin meminta jawaban dari matanya membuat Siwon menghela nafas.

"Mianhae.." Entah apa maksud ucapan Siwon, yang jelas Yunho pun ikut penasaran.

"-Jaejoong pindah sehari setelah kepergian kalian" Lanjutnya. Changmin cukup mengerti maksudnya dan ia menangis lebih dari tadi.

Siwon melihat Yunho dan Changmin dalam diam sambil mengucap maaf didalam hatinya. Ia tidak bisa mengatakan yang sejujurnya. Ia peduli pada Jaejoong dan cukup melihat pria itu menangis dihadapannya.

Jaejoong datang padanya sambil menangis, meminta maaf atas segalanya dan juga meminta Siwon untuk membantunya.

'Aku akan katakan kemana aku pergi, tapi aku mohon tolong rahasiakan itu dari siapapun'

Dan Siwon hanya menghela nafas. Apakah ia jahat?

.

.

.

Kyuhyun melambai dengan semangat kearah Changmin yang berjalan mendekat, tadi Changmin sempat tercengang melihat koper yang dibawa Kyuhyun. Sahabatnya itu memang niat pindah.

"Lalu apa kau sudah bertemu dengannya?" Tanya Kyuhyun saat mereka mulai berjalan.

Changmin menoleh, "Belum. Kau tahu Kyu, beranda flatnya berada tepat disamping beranda flatku. Mengetahui itu saja membuatku gemetar. Aku tak menyangka akan bertemu lagi dengannya" Jelas Changmin senang, bahkan Kyuhyun melihat senyum kebahgiaan diwajah sahabatnya itu.

"Penantianmu selama 15 tahun tidak sia-sia, Chingu" Kyuhyun menepuk bahu Changmin sambil tersenyum.

Changmin mengangguk, lalu berjalan sambil melihat kearah bangunan tempat tinggalnya.

.

.

.

Yunho dan Changmin pulang tanpa membawa Jaejoong. Membuat Yejin yang melihatnya tersenyum.

"Sudahlah, sebaiknya kalian lupakan saja pria itu" Katanya dengan nada senang. Yunho menatap sendu kearah Changmin yang terlelap digendongannya. Ia menyesal, telah membuat Changmin kehilangan orang yang dekat dengan hatinya. Kim Jaejoong.

.

.

.

Kyuhyun agak kesal dengan Changmin yang berulang kali menurunkan kembali tangannya yang ingin mengetuk pintu didepannya.

"Apa kau yakin, Kyu? Apa detektifmu itu tidak salah orang? Siapa tahu dia bukan ibuku" Changmin menoleh pada Kyuhyun dengan wajah tidak yakin. Sekali lagi Kyuhyun menghela nafasnya.

"Bukankah kau sendiri yang melihat fotonya? Bahkan kau langsung membandingkannya dengan foto didalam liontinmu itu" Jawab Kyuhyun dengan wajah jengah. Saat mereka sedang sibuk berdua, pintu didepan yang belum sempat diketuk itu terbuka, menampilkan sosok yang masih terlihat menawan diusianya yang menginjak akhir 30 tahun.

"Mencari siapa ya?" Suara itu membuat Changmin menoleh. Ia terdiam ditempat, tak mampu bergerak seolah-olah persendiannya membeku.

Wajah itu, suara itu, Changmin masih mengingatnya meski samar. Ia mungkin lupa jika Yunho tak memberikan rekaman video kelulusan mereka yang ditonton Changmin selama beberapa tahun.

Jaejoong menatap bingung kearah dua orang didepannya, terlebih pada pria yang lebih tinggi darinya.

"Kau..."

"Aku Kyuhyun" Sebelum Jaejoong melanjutkan, Kyuhyun mengambil tangan Jaejoong yang menggantung disisi tubuhnya.

"Hah?" Jaejoong seperti mengenal nama itu tapi dia lupa. Ia tersenyum, lalu mengulurkan tangannya kearah Changmin.

Changmin menatap tangan yang terulur didepannya, menunggu untuk disambut olehnya. Ada perasaan yang timbul dari hatinya. Ia sungguh merindukan tangan itu.

"Kim Minwo imnida" Katanya memperkenalkan diri.

Orang didepannya tersenyum ramah sama seperti pada Kyuhyun. Changmin tak pernah menyangka kalau detik ini datang juga, detik dimana ia bertemu lagi dengan ibu kandungnya. Kim Jaejoong.

"Aku sudah menemukannya..sesuai janjiku, aku akan membawanya untuk bertemu denganmu" Changmin pun tersenyum samar.

.

.

.

"Oh, jadi kalian mahasiswa yang sedang melakukan penelitian?" Tanya Jaejoong, memastikan kalau cerita yang ia dengar benar. Kyuhyun mengangguk dengan semangat. Sejak tadi pria itu yang banyak bicara, sedang Changmin hanya terdiam. Ia menatap Jaejoong lama dan Jaejoong agak risih dengan itu. Ia tidak tahu kenapa tetangganya itu terus melihat padanya, dan dari mata Changmin terlihat berbagai macam perasaan dan Jaejoong tak bisa menebak itu.

Kyuhyun menyenggol tangan Changmin agar temannya itu tidak diam saja, "Sebenarnya hanya Minwo saja yang tinggal di flat sebelah. Aku cuma menumpang saja, hehe" Tambah Kyuhyun sambil tertawa.

"Wah, pasti berat ya tinggal sendiri tanpa orang tua?" Tanya Jaejoong tak lupa tersenyum.

"Yah, begitulah" Kyuhyun mulai jenuh dengan obrolannya dengan Jaejoong, bahkan kehadiran Changmin seperti mahluk tak kasat mata. Sebenarnya siapa disini yang perlu?

"Ahjussi" Tanpa diduga Changmin memanggil Jaejoong, membuat dua orang lain didalam ruangan itu menoleh padanya.

Jaejoong sudah melihat kearah Changmin, tapi anak itu masih tak bicara. Changmin hanya membuka lalu menutup mulutnya dan tak ada satu katapun yang terucap. Kyuhyun menjerit dalam hati, ia sungguh kesal.

"Ada apa, Minwo sshi?" Tanya Jaejoong bingung. Changmin menggeleng. Ingin rasanya ia berteriak kalau akulah Kim Changmin.

"Minwo memang begitu, Ahjussi. Dia suka bertingkah aneh sejak ibunya pergi" Kata Kyuhyun kesal. Changmin langsung memukul tangannya.

"Ibumu meninggal?" Tanya Jaejoong. Changmin kembali melihat Jaejoong lalu menggeleng pelan.

"Tidak, tapi ibuku meninggalkanku bersama ayah" Kata Changmin.

Jaejoong memundurkan tubuhnya hingga menyentuh sandaran sofa. Lalu Changmin melanjutkan, "Dan ibuku pergi begitu saja, meski aku mencarinya selama ini. Aku jadi tidak tahu apa ibu masih mengingatku" Changmin menatap mata Jaejoong lama. Ada emosi tak kasat mata yang terlihat disana. Changmin sempat marah ketika Jaejoong meninggalkannya dulu. Berfikir kalau tak perlu mengingat sang 'ayah' dan menerima Yunho juga Yejin sebagai orang tuanya.

"Ke-kenapa ibumu pergi, Minwo?"

"Entahlah, mungkin dia tidak menyayangiku. Mungkin aku beban untuknya" Changmin terus berkata dengan pandangan yang tertuju pada Jaejoong.

Jaejoong terdiam, "Jika itu kau, apa kau akan rela meninggalkan anakmu seperti itu?" Pertanyaan Changmin langsung menohoknya, ia mengalihkan pandangannya kearah lain.

"A-aku.." Entah kenapa tatapan Changmin yang tajam itu begitu menusuknya. Ia menjadi gugup dan tak tahu harus berkata apa. Seharusnya ia bersikap biasa saja karena orang yang bertanya itu tak tahu masa lalunya.

"Jawab aku, apa kau tega meninggalkan anakmu seperti itu?" Changmin terus mendesak Jaejoong dengan pertanyaan yang membuatnya gelisah. Melihat Jaejoong yang tampak tak nyaman membuat Kyuhyun menjadi iba. Ia lalu menarik tangan Changmin agar sahabatnya itu tak terlalu memaksa.

"Chwang, hentikan" Bisik Kyuhyun. Changmin masih melihat pada Jaejoong.

"Mian, Ahjussi. Temanku ini sedang banyak masalah jadi lebih baik kami pergi" Kata Kyuhyun seraya berdiri dan menarik Changmin agar mengikutinya.

Mereka berdua melangkah pergi tapi saat tiba didepan pintu, gerakan tangan Kyuhyun yang hampir menyentuh knop pintu terhenti saat suara Jaejoong terdengar dibelakang mereka.

"Kalau aku, aku pasti mempunyai alasan melakukannya dan aku akan meninggalkannya agar mendapat kebahagiaan" Kata Jaejoong yang masih duduk di sofa tanpa menoleh kearah dua orang yang sedang melihat padanya.

Kyuhyun melihat ekspresi Changmin ketika mendengar itu. Mata sahabatnya itu sedikit memerah.

"Dan tanpa sadar kau telah menyakitinya" Sambung Changmin lalu membuka pintu dan pergi dari tempat itu.

Setelah kepergian Changmin dan Kyuhyun, Jaejoong menoleh kearah dua orang tadi berdiri. Ekspresinya begitu sedih. Seandainya mereka tahu tentang masa lalunya dan bagaimana ia bertahan selama ini, apakah mereka akan berkata kalau ia begitu menyedihkan?

.

.

.

Changmin tumbuh dengan begitu baik tiap harinya, melupakan semua yang terjadi dimasa kecilnya. Ia tidak ingin terus menangisi seseorang yang bahkan tak menginginkannya.

Suatu hari ketika ia pulang membawa piagam penghargaan dari sekolah hasil usahanya memenangkan lomba, Changmin yang saat itu berusia 10 tahun, mendengar kedua orang tuanya bertengkar. Ia tidak berniat ikut campur, tapi rasa penasaran membuat ia bergerak mendekat kearah pintu kamar Yunho dan Yejin.

"Kenapa Yunho? Ini sudah 10 tahun berlalu tapi kenapa kau tidak bisa membuang pria itu dari hidupmu? Dan apa ini? Jadi selama ini kau selalu menyimpan foto Jaejoong tanpa sepengetahuanku? Jawab aku?" Suara Yejin terdengar sangat jelas oleh Changmin.

"Kalau iya kenapa?" Yunho menjawab dengan pertanyaan, tapi suaranya terkesan datar.

"Aku sudah mengatakan berulang kali agar melupakannya"

"Aku tidak bisa"

"Apa?" Yunho melihat Yejin yang kesal. Setelah sekian lama Yunho tahu apa yang ia inginkan. Tiap melihat Changmin ia selalu merasa bersalah. Ia selalu mengingat Jaejoong diwajah Changmin dan itu membuatnya tak bisa melupakan mantan istrinya itu.

"Aku sudah menyakitinya, Yejin. Aku sudah menjadi egois karena selalu mementingkan diri sendiri dan membuatnya terluka"

"Mwo?" Yejin semakin kesal dengan ucapan Yunho itu, sedangkan Yunho masih tenang sejak tadi.

"La-lalu bagaimana denganku? Aku sudah berkorban banyak padamu, bahkan aku menyuruh Aboji memberimu perusahaan agar kau senang dan tak akan meninggalkanku"

"Itu yang membuatku sadar kalau kau sengaja membuatku terikat dan aku tidak mau terus begini" Kata Yunho yang langsung berbalik untuk keluar dari dalam kamar, tapi tangan Yejin menahannya.

"Aku mohon, Yunho. Apa kebaikanku pada Changmin tak membuatmu mempertimbangkannya?" Yejin menatap sedih kearah Yunho.

Selama beberapa tahun terakhir Yejin memang mulai berubah, tapi Yunho tak tahu apa begitu juga jika dia tak ada. Cukup untuknya mengetahui kalau Yejin tak sebaik yang ia kira. Jika seandainya ia lebih cepat, maka ia tidak akan mengabiskan waktu 10 tahun dengan wanita itu.

"Aku mencintaimu, Yun..hiks" Yejin memeluk Yunho sambil menangis.

Changmin masih mendengarkan dari depan kamar. Ia sudah cukup besar untuk tahu bahwa masalah orang tuanya bukan hanya tentang dirinya.

Ia yang masih belum tahu kenyataan yang sebenarnya hanya berfikir kalau orang yang harus ia sayangi hanya Yejin dan Yunho.

.

.

.

Brak..

Changmin membanting pintu flatnya, membuat Kyuhyun yang sudah masuk kaget. Changmin lalu menjambak rambutnya dan berjalan kearah sofa.

"ARRGHH!" Changmin tak bisa mengendalikan emosinya tadi dan ia hampir saja berteriak didepan Jaejoong.

"Kau hampir menghancurkan rencanamu sendiri, Changmin. Jangan terburu-buru begitu" Kyuhyun menasehati, duduk disebelah Changmin sambil memeluknya. Changmin terisak pelan dipelukan Kyuhyun membuat pria manis itu ikut bersedih. Ia sudah bersama Changmin selama 15 tahun dan ia tahu kalau hanya tentang sang ibu yang membuat Changmin menangis. Sebagai sahabat tak ada yang bisa ia lakukan selain mendukung dan berdoa yang terbaik.

"Hiks, kenapa Kyu? Kenapa ia tidak mengenalku? Hiks, aku merindukannya" Changmin yang tegas, yang terlihat tegar, menangis tersedu didekapan Kyuhyun yang memeluknya erat.

"Aku tahu, Chwang, kau harus yakin kalau semua ini tak akan sia-sia, percaya padaku" Kata Kyuhyun dengan lembut, dan Changmin semakin mengeratkan pelukan yang membuatnya sedikit tenang.

.

.

.

Jaejoong melanjutkan acara memasak yang tertunda karena pukul 4 ia harus sudah membawa makanan itu kepanti dan sekarang sudah pukul 10. Tapi sebelum itu ia membereskan bekas minuman dua tamunya tadi, dan tanpa sengaja ia menemukan sebuah liontin dilantai dekat sofa, lalu mengambilnya.

"Apa ini milik Kyuhyun atau Minwo?" Gumamnya sambil melihat kearah pintu.

.

.

.

Tiga tahun kemudian, Changmin yang sudah lulus dari sekolah tingkat pertama, pulang agak siang hari itu, lalu melihat Yejin yang sedang kesusahan berjalan sambil memegangi perutnya.

"Umma, kenapa?" Changmin langsung menghampiri Yejin untuk membantunya.

"Lepaskan!" Tapi Yejin malah mendorong Changmin hingga terjatuh. Ia menatap tajam kearah Changmin yang masih terduduk dilantai.

"Kau tahu kalau aku sangat membencimu, eoh? Kau sama seperti ibumu yang mengacaukan segalanya" Kata Yejin dengan pandangan benci pada Changmin.

"Kenapa kau membenci appa juga kalau kau membenci Ummaku? Apa salah mereka?" Changmin bangun dari duduknya, dan balas menatap Yejin.

"Haha..ku beritahu kau satu hal, orang yang kau panggil Appa, dialah orang yang sudah melahirkanmu" Jawab Yejin tanpa rasa bersalah, padahal ia sudah berjanji pada Yunho akan menyembunyikan identitas Jaejoong.

"Ma-maksudmu?"

"Ya, Kim Jaejoong itu adalah ibumu"

.

.

.

Prank..

Tiba-tiba gelas yang Jaejoong pegang terjatuh tak sengaja. Jaejoong menghela nafas dan memunguti pecahan gelas itu hingga serpihannya melukai telunjuknya.

"Aww"

'Kau kenapa, Jae?' Tanya Yunho dengan wajah panik. Ia menyentuh lutut Jaejoong yang berdarah karena terjatuh dari atas pohon.

'Ah, sakit, Yun'

'Haha, makanya kau jangan nakal. Lihat akibatnya' Yunho mengusap rambut Jaejoong lalu mengangkat tubuh sahabatnya itu untuk ia obati didalam rumah.

Jaejoong tersenyum, entah kenapa kenangan bersama Yunho dulu teringat lagi. Ia harus mengakui kalau selama 15 tahun ini ia tidak pernah melupakan Yunho beserta kenangan mereka, karena hanya itu satu-satunya yang ia punya.

Ah,

Jaejoong mengambil liontin yang tadi ia temukan, membolak baliknya untuk melihat ukiran yang terdapat pada benda berwarna kuning itu.

Ditempat Changmin, pria itu begitu berisik ketika mencari liontin miliknya yang hilang dan ia baru menyadarinya kalau benda itu tidak ada.

"Kau sedang mencari apa?" Tanya Kyuhyun yang baru selesai mandi. Handuk masih tersampir dibahu kanannya. Changmin tak melihat kearah Kyuhyun dan tetap mencari liontin miliknya, bahkan kamar sekarang sudah porak poranda.

"Liontinku..hilang" Changmin nyaris tak percaya jika benda itu tak ditemukan dimanapun. Itu adalah satu-satunya benda sebagai pengingat tentang ibu kandungnya.

"Liontin yang didalamnya ada foto Jae Ahjussi?"

"Iya, bantu aku mencarinya, Kyu" Tanpa di pinta dua kali Kyuhyun langsung membantu Changmin.

Cukup lama keduanya mencari diseluruh flat tapi tidak menemukan liontin itu, hingga mereka putus asa dan merebahkan diri diatas tempat tidur.

"Dimana liontinku, Kyu?"

.

.

.

Beberapa bulan kemudian, Yejin masuk kerumah sakit akibat infeksi rahim yang cukup parah. Sejak operasi pengangkatan tumor 13 tahun yang lalu, ia tak merasakan gejala sakit dan menganggap kalau penyakitnya sudah sembuh, tapi sejak beberapa bulan belakangan ia merasakan nyeri yang sangat diperutnya hingga mengalami beberapa kali pendarahan.

Hingga akhirnya penyakit itu berhenti bersama dengan perginya wanita itu. Changmin menatap wajah wanita yang entah kenapa tidak pernah menyukainya, padahal ia sudah menganggap Yejin seperti ibunya sendiri. Hingga akhir hidupnya pun, dengan airmata yang mengalir, Yejin tidak pernah mengucap kata maaf pada Yunho maupun Changmin, tapi Changmin tahu jika ibu tirinya itu begitu menyesali kesalahannya.

.

.

.

Jaejoong agak kesulitan untuk membuka liontin itu. Ia ingin memastikan liontin itu milik siapa dengan melihat foto yang ada didalamnya.

Dan dengan usahanya, ia berhasil membuka liontin itu sambil tersenyum.

.

.

T

B

C

.

.

Part 1 selesai~

makasih buat banyak review yang minta ff ini ada sequelnya ^_^ maaf kalau ceritanya tambah aneh. Untuk part 2 menyusul ya.

Di part ini penuh Minjae dan Changkyu moment, dan untuk part berikutnya Yunho bakal nongol XD

Oke, bersedia review? ^_^