Archangel Alpha-Project : Gabriel's Reservoir Chronicle

Chapter 2

.

.

.

.

.

Pertemuan itu sangat mengejutkan.

Kalau dipikirkan terus-menerus, sebenarnya tidak ada yang spesial mengenai pertemuan antara Sakura dan pemuda berambut hitam itu. Tapi sampai sekarang, Sakura masih dihantui oleh perasaan euforia yang aneh. Kakinya gemetaran saking senangnya, walaupun faktanya dia tak l ingat pernah melihat cowok itu sebelumnya.

Lagian, rasanya cuma Sakura yang kegirangan sendiri. Laki-laki itu bahkan tidak mempedulikannya setelah memberi buku itu padanya. Dia cuma berbalik tanpa mengucapkan apa-apa, dan pergi begitu saja.

Dan ketika Sakura sampai di bangkunya, dia mendapat kejutan lainnya. Ternyata dia satu kelas dengan cowok itu. Meja mereka bersampingan pula!

Takdirkah?

Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menepis pemikiran itu.

Takdir. Yang benar saja.

.

.

.

.

.

"Hei, Shion." Sakura memanggil nama sahabatnya itu. Sekarang sudah saatnya istirahat dan mereka berdua sedang duduk disalah satu meja kantin. Shion mrmesan banyak sekali makanan, sedangkan Sakura hanya membeli sebuah roti dan sekotak susu berperisa stroberi. Sakura bukannya sedang dalam diet, tapi... Ah, entahlah. Dia hanya tak nafsu makan belakangan ini.

"Hm." Shion menyahut sambil mengunyah mi-nya. Suara kunyahannya tidak membuat Sakura tambah selera, malahan dia ingin muntah mendengarnya.

"Kunyah makananmu dengan mulut tertutup." Sakura mendesis. "Kau ini wanita atau apa?"

"Aku lapar." sahut Shion setelah menelan makanannya.

"Kau memang selalu lapar, Shion."

"Jangan menceramahiku." Shion mencibir. "Tadi kau mau bilang apa?"

"Err..." Sakura mengedarkan pandangannya, takut orang yang ingin dia bicarakan muncul tiba-tiba. "Kau ingat murid kelas kita yang rambutnya hitam? Yang duduk dipaling pojok dekat jendela?"

"Oh, maksudmu anak aneh itu." Shion memutar bola matanya. "Memangnya kenapa?"

"Aku cuma penasaran. Rasanya aku pernah melihatnya disuatu tempat..." Sakura mendesis ketika tiba-tiba dia dihantam oleh sakit kepala yang begitu kuat. Tangannya mencengkram kepalanya dengan kuat.

"Anak itu jarang bersosialisasi." Balas Shion datar. "Dia sejenis kutu buku, mungkin. Karena kau, tahu? Nilainya selalu bagus dan dia selalu pergi ke perpustakaan tiap istirahat." Shion mengalihkan atensinya kearah Sakura. "Hm? Kau kenapa?"

"Aku tak apa." balas Sakura sambil tersenyum kecut. "Aku harus ke UKS dulu. Kepalaku sakit sekali."

.

.

.

.

.

Sakura tak benar-benar merasa lebih baik setelah memakan aspirin dari UKS. Kepalanya masih sakit dan merasa kalau pandangannya berkunang-kunang. Apa ini? Dia tak pernah merasakan sakit kepala yang sebegitu parah seperti ini sebelumnya.

Sakura akhirnya berjalan sambil menggunakan dinding untuk memapahnya. Sial, dia bahkan tak bisa mempertahankam keseimbangannya. Kalau terus begini, dia bisa pinsan jadinya!

"Kau tidak apa-apa?"

Sakura menengadah keatas. Ternyata laki-laki yang ditemuinya di perpustakaan tadi.

"Aku baik-baik saja." balas Sakura cepat. Sebenarnya dia bisa meminta bantuan pada orang ini, tapi jauh didalam lubuk hatinya, dia tidak ingin merepotkannya.

"Kau tidak baik-baik saja." ucapnya sambil memegang kedua bahu Sakura, menopangnya agar tak jatuh. "Wajahmu pucat. Kau tidak makan tadi pagi?"

"Aku makan roti tadi pagi. Lalu setelahnya aku tidak makan apa-apa karena aku tak nafsu makan."

Cowok itu kemudian memapah Sakura ke bangku terdekat yang diletakkan disepanjang koridor itu.

Sakura duduk diatas bangku panjang itu sambil tetap mencengkram kepalanya. "Kepalamu sakit?"

"Iya. Aku tak pernah merasakan sakit kepala seperti ini. Kepalaku rasanya ingin meledak." jawab Sakura. Lucu sekali, semua kalimat itu meluncur keluar dari mulut Sakura tanpa ia sadari. Kenapa ia jujur sekali pada cowok ini?

"Tariklah nafasmu dalam-dalam. Lalu tahan. Lakukan itu beberapa kali." katanya sambil beranjak kesebuah vending machine yang terletak tak jauh dari mereka.

Dia kemudian kembali pada Sakura dan menyodorkan sebuah minuman soda padanya.

"Apa ini?" tanya Sakura.

"Untuk meringankan sakit kepalamu." jawab cowok itu. "Kalau sakit kepalamu kambuh lagi, kau sebaiknya meminum minuman yang mengandung kafein tinggi. Soda, contohnya. Kalau tidak, minuman Mr. Pepper bisa membantumu."

Sakura menerima soda itu dengan keheranan. "Terima... Kasih."

"Hm." Laki-laki itu bergumam, lalu membalikkan badannya untuk pergi.

"Kenapa kau peduli sekali padaku?" tanya Sakura.

Cowok itu berhenti berjalan. Dia menolehkan kepalanya pada Sakura. Dia tersenyum kecil, namun dapat membuat Sakura terpana. "Kau akan tahu sendiri."

"Hei! Namamu siapa?" Sakura bangkit dari tempat duduknya. "Namaku Haruno Sakura! Kalau kau dalam masalah, aku pasti akan membantumu!"

Cowok itu terhenyak, nampak terkejut dengan perkataan Sakura. Dia tertawa kecil. "Naruto. Namaku Uzumaki Naruto."

.

.

.

.

.

Time Skip Pulang sekolah...

Ternyata apa yang dikatakan Naruto memang benar. Sakit kepalanya mereda dan dia merasa lebih baik dari sebelumnya.

"Aku harus membantunya lain kali." gumam Sakura pada dirinya sendiri.

"Hm? Membantu siapa?" Shion yang berjalan disamping Sakura merasa heran.

"Oh, tadi, ada orang yang membantuku, jadi..."

"Oh." Shion merespon datar. Dia tampak tak tertarik dengan apa yang dibicarakan oleh Sakura. Namun tiba-tiba matanya membulat ketika dia mrngalihkan pandangannya kedepan. Dia berhenti berjalan.

"Shion?"

"Ah, er..." Shion tampak takut, dia kakinya gemetaran dan tangannya dikepal.

"Shion?"

"Aku lupa sesuatu. Kau pulang saja duluan." ucap Shion cepat lalu segera berlari kearah berlawanan.

"Eh? Shion! Kau mau kemana?!" Sakura meneriaki Shion, tapi sahabatnya itu sudah berlari cukup jauh sehingga Sakura tak lagi melihat punggungnya. "Aneh." gumam Sakura. "Biasanya dia paling suka lewat sini."

Sakura kemudian melanjutkan langkahnya seorang diri. Mendadak saja jalan yang dilaluinya ini terasa sepi. Tak ada orang lain yang melintas kecuali dirinya. Toko-toko yang biasa buka sekarang juga mendadak tutup.

Apa cuma perasaannya saja?

"Ah, Chiyo-baasan." Sakura tersenyum ketika melihat roh seorang nenek pendek muncul didepannya. "Kenapa nenek ada disini?"

Roh Chiyo menggeleng-geleng kuat, dia mendorong-dorong Sakura agar menjauh dari jalan. "Kenapa, baa-san?" tanya Sakura kebingungan.

'Pergilah, Sakura.'

Sakura terhenyak ketika mendengar suara seorang perempuan tua. "Suara ini... Chiyo-baasan?"

Ya, ini suaraku, Sakura. Kumohon pergilah dari sini. Pergilah ke tempat yang ramai!

"Eh? Kenapa?"

Karena, ada setan jahat disini yang akan memangsa jiwamu!

.

.

.

.

.

Celaka! Sakura tak bisa keluar dari sini! Ada sebuah barrier energi yang melingkupi daerah ini sehingga siapapun yang memasukinya tidak akan bisa keluar.

Nenek Chiyo sudah menggunakan semua kekuatannya untuk memperingatkan Sakura, dan sekarang dia sudah menghilang.

Sakura sekarang sendirian.

Tidak lama sebelumnya, ketika nenek Chiyo sudah menghilang, dia melihat sosok setan itu dengan jelas.

Bentuknya seperti sebuah gel hitam lengket yang keluar dari saluran pembuangan. Dia begitu besar dan memiliki wajah yang begitu menyeramkan hingga kaki Sakura gemetaran.

"Butuh... Makan..."

Jangan bercanda! Jadi Sakura ini sejenis makanan ringan didepan monster itu?

Sakura tidak ingin hidupnya berakhir sebagai cemilan monster!

"Sial, aku harus sembunyi!" Sakura mengumpat, dia kemudian berlari memasuki sebuah toko didekatnya. Untungnya, jendela toko itu tak terkunci dan tidak dipasangi teralis, sehingga dia bisa memasukinya.

Belum sempat bernafas, Sakura kembali dikagetkan oleh sebuah tangan gel hitam yang kini mencakar habis setengah toko itu.

Sakura kemudian berlari menuju pintu belakang, menendang pintu itu hingga patah kemudian berlari menyelamatkan dirinya.

Sakura menolehkan kepalanya kebelakang. Astaga! Makhluk itu bahkan memakan satu toko itu! Badannya juga tambah besar!

"Ah!" Sakura terlalu fokus pada monster itu sampai dia tidak melihat jalan didrpannya. Alhasil cewek itu tersandung sebuah batu dan terjerembab ditanah.

"Butuh... Makan..."

Monster itu semakin mendekat kearahnya, Sakura hanya bisa menangisi kesialannya sambil merangkak mundur. Kakinya terkilir dan terasa begitu sakit ketika digerakkan.

Apa inikah akhir hidupnya?

Monster itu akhirnya melompat kearahnya sambil meraung keras. Sakura hanya memejamkan matanya kuat-kuat, menunggu rasa sakit yang akan menghujamnya.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak lari?"

Sakura membuka matanya ketika dia mendengar suara Naruto didekatnya. "Naru..." Cewek itu terhenyak ketika dia melihat sosok bungkuk Naruto, kini berdiri dengan tegak di depan nya. "A-Awas! Ada monster-"

"Aku tahu."

"Eh?"

"Ini adalah tugasku untuk melenyapkan makhluk seperti dia." Naruto menunjuk kearah monster yang kini melompat kearahnya dengan kecepatan super lambat.

"Apa..."

Naruto menjentikkan jarinya dan kemudian monster itu kembali bergerak kearah mereka dengan kecepatan normal.

Naruto kemudian meletakkan tangannya didepan dadanya, seberkas cahaya keemasan berpendar dari tangannya. "Dengan ini aku memanggilmu, pedang Foxtrail yang terkutuk. Jawablah panggilanku sekarang!" Lalu secara ajaib sebuah pedang perak panjang muncul ditangannya. Naruto menghentakkan kakinya ketanah dan sebuah pentagram keemasan muncul dengan huruf-huruf kuno yang menyala-nyala, pentagram itu mulai berputar dan semakin lebar hingga mencapai ujung jalan sana.

"Bersiaplah menghadapi ajalmu, iblis."

.

.

.

.

.

TBC