Disclaimer : Aoyama Gosho


Selasa, 18 Maret 2014

2.07 PM

Biksu Nobu menatap lelaki yang sedang berbaring di atas tatami nya dengan hampa. Tadi pagi, anaknya menemukan lelaki itu tergeletak pingsan di area pemakaman. Dan sekitar setengah jam lalu, laki-laki itu tersadar. Kabar buruknya, ia amnesia,alias lupa ingatan.

Seorang gadis berambut merah kecokelatan berjalan menghampiri biksu Nobu dengan khawatir. Dengan ragu, ia menepuk pundak ayahnya. "Ayah." Katanya dengan suara lembut.

Biksu Nobu menoleh dan menatapnya dengan lembut. "Haru."

"Ayah baik-baik saja?" Haru menatap ayahnya dengan cemas.

Biksu Nobu tersenyum melihat perhatian tulus dari anak semata wayangnya. "Ayah tidak apa-apa. Untung saja, tadi pagi kamu menemukan dia."

Haru mengangguk sambil ikut memandangi lelaki yang sedang terbaring lemah di kamar tamu. Melihat kebisuan Haru, Biksu Nobu mengajaknya berbicara. "Harusnya kamu ke sekolah saja. Ayah bisa atasi ini kok. Lagipula, disini kan banyak orang." Biksu Nobu menunjuk biksu muda lainnya menggunakan dagunya.

Haru tertawa kecil, lalu menggeleng. "Mana bisa aku meninggalkan ayah dengan mereka. Ayah kan tahu sendiri, mereka ceroboh."

Biksu Nobu mengusap-usap dagunya perlahan. "Hmm, benar juga. Tapi, kita apakan dia ya? Kasihan dia tidak bisa mengingat 1 hal pun. Apa sebaiknya kita antar ke kantor polisi? Siapa tahu, mereka bisa membantu." Biksu Nobu memandang Haru, meminta pendapatnya.

Seketika, tubuh Haru menegang. Dengan cepat, ia menolak usulan ayahnya. "Jangan!" nada suaranya naik1 oktaf. Bisku Nobu menatap anaknya ini dengan heran, meminta penjelasan logis atas penolakannya. Dengan salah tingkah, Haru menyelipkan rambut coklat kemerahannya ke telinganya. "Umm, maksudku, kasihan dia kalau di bawa ke kantor polisi sekarang. Dia pasti masih shock."

Biksu Nobu mengangguk-angguk. Melihat ayahnya sedikit mengerti, Haru merasa lebih lega. Sambil tersenyum, ia pamit kepada ayahnya. "Ya sudah,aku mau menyapu halaman depan dulu ya." Tanpa menunggu jawaban, ia pergi.

Biksu Nobu menatap kepergian anaknya dengan perasaan campur aduk. Sekali lagi, ia melihat lelaki itu yang kali itu berbaring menghadap arah berlawanan, sehingga hanya terihat punggungnya yang meringkuk. Biksu Nobu memutar kepalanya lalu mulai melangkah ke ruang depan.

Angin musim kembali berhembus, membelai lembut setiap benda di ruangan tersebut. Angin musim semi menggelitik perasaan Biksu Nobu, mengundang rasa keingin tahuan untuk menoleh ke halaman depannya.

Disana, Haru sedang asyik menyapu sambil tersenyum. Tidak biasanya ada orang yang menyapu sambil tersnyum. Tapi Haru adalah anaknya, dan ia tahu persis sikap dan tingkah laku Haru.

Bisku Nobu mendesah dalam hati. Ia melanjutkan perjalanannya menuju bangunan utama kuil miliknya. Lagi-lagi, angin musim semi kembali membelai dirinya,tetapi kali ini, ia tidak ingin menoleh. Dalam hati ia membatin, jangan lagi.

4.47 PM

Lelaki itu terbangun dengan keadaan mengerikan. Kepalanya terasa sangat sakit bagaikan terhantam palu, tulangnya terasa seperti patah semua, dan yang paling parah, tenggorokannya terasa sangat kering, sehingga untuk berbicara saja sepertinya mustahil.

"Hei, sudah sadar?" kata sebuah suara berat tapi bersahabat dari arah pintu. Reflek, lelaki itu menoleh. Di depan pintu, berdiri 2 orang lelaki muda yang mengenakan pakaian seperti di kuil. Atau tempat ini beneran kuil? Batin lelaki itu.

Lelaki itu berusaha berbicara tetapi segera di tahan oleh 1 dari 2 orang biksu muda tersebut. "Hei, jangan dipaksa. Ini." Ia menyodorkan gelas kaca yang penuh dengan air. Dengan hati-hati, lelaki itu menerimanya. Tanpa pikir panjang, ia meneguknya hingga habis. Rasanya sangat nikmat. Tenggorokannya sudah tidak kering lagi, sekarang ia bisa bicara dengan lancar.

"Terima kasih." Ia berterima kasih dengan sungguh-sungguh sambil menyeka bibirnya degan punggung tangan.

Kedua biksu muda tersebut mengangguk dengan mantap. Biksu yang satu, lebih tinggi dan lebih sering tersenyum. Sejak masuk tadi, senyum lebar di wajahya tidak pernah hilang. Yang satu lagi, lebih pendek dan pendiam. Tetapi, ia tidak terlihat sombong. Kesan pertama yang dapat di lihat dari biksu muda ini adalah, elegan.

"Nah, mari kita berkenalan dulu." Bisku yang sering tersenyum memulai percakapan. "Namaku, Mitsuo. Arti dari namaku adalah anak yang berseri-seri. Orang tuaku berharap aku bisa senang dalam kondisi apapun. Aku sudah berada di kuil ini hampir 2 tahun. Salam kenal!" senyum di wajahnya mengembang lebih lebar. Pantas saja, arti namanya saja berseri-seri.

"Salam kenal, Mitsuo...emm..kun?" lelaki itu bimbang.

"Terserahmu saja mau di tambahkan 'kun' atau tidak. Disini, kita bebas memanggil nama orang sesuai keinginan kita sendiri." Mitsuo kembali menjelaskan. Lelaki itu hanya mengangguk-angguk saja.

Biksu yang satu lagi berdeham di samping Mitsuo, dengan cara yang elegan. Mata Mitsuo dan lelaki itu langsung tertuju pada biksu yang ini. "Gantian perkenalannya. Namaku Masashi. Arti namaku adalah elegan. Jadi, jangan heran kalau aku tidak seceria Mitsuo. Aku berada disini sama seperti Mitsuo, hampir 2 tahun. Salam kenal." Kali ini Masashi tersenyum. Lelaki itu agak heran, apa kedua orang tua biksu ini peramal? Kenapa nama yang mereka berikan sama persis dengan sikap mereka di kemudian hari?

Melihat lelaki itu sedang melamun, Mitsuo mengibaskan tangannya di depan lelaki itu. "Hei jangan bengong. Ini, ganti pakaianmu. Pakaianmu sangat kotor dan ada beberapa yang sobek. Kami akan mencucinya." Mitsuo menyerahkan sebuah kaos merah dan celana pendek cokelat. Lelaki itu membentangkan baju tersebut, dan menurut perkiraannya, baju ini akan pas di tubuhnya.

Lelaki itu menatap Mitsuo dan Masashi penuh arti. Masashi hanya menatapnya dengan bingung, sedangkan Mitsuo langsung mengerti arti tatapannya. Dengan santai, ia menarik Masashi keluar dari ruangan itu. Lelaki itu tersenyum, ternyata Mitsuo peka juga.

Dengan perlahan, lelaki itu berdiri dan melepas jaketnya. Sesaat, lelaki itu menatap jaket hijaunya. Ia mencoba mengingat dimana ia membeli jaketnya, siapa tahu bisa membantu proses kembalinya ingatannya. Baru saja ia mencoba, kepalanya langsung terasa sakit. Dengan cepat, ia bertopang pada dinding agar ia tidak terjatuh. Ia menarik nafas perlahan, lalu mengeluarkannya dengan pelan pula. Setelah merasa cukup tenang, ia mencoba berdiri. Mulai detik tadi, ia bersumpah tidak akan memaksakan otaknya untuk mengingat sesuatu.

Lelaki itu melanjutkan kegiatan mengganti pakaiannya yang sempat terhenti tadi. Ia memasukkan kepalanya pada lobang kepala di kaos merah tersebut. Lalu, ia memasukkan kedua tangannya. Setelah masuk semua, ia menarik ujung bajunya agar benar-benar masuk. Tak disangka, kaos merah tersebut sangat pas di badannya, seperti sudah dirancang khusus untuknya.

Setelah selesai mengganti kaos dan celana, ia keluar untuk menemui Mitsuo dan Masashi. Ia menggeser pintu geser jerami tersebut dengan perlahan. Dari depan, Mitsuo dan Masashi langsung berdiri dari duduknya untuk menghampiri lelaki asing ini.

Tiba-tiba, Mitsuo dan Masashi berhenti beberapa langkah dari lelaki berkaos merah ini. Mata keduanya menatap lelaki ini lekat-lekat. Mereka seperti meneliti barang antik, tidak ingin melewatkan sedikit pun celah dari objek di depan mereka.

Merasa di perhatikan selekat itu, lelaki berkaos merah ini langsung memutar badan agak ke samping. "Ada apa?" tanyanya dengan curiga.

Mitsuo dan Masashi bagaikan tersadar dari lamunannya. Mereka berdua memperlihatkan kegugupannya dengan jelas. Masashi segera menutupi kegugupannya dengan berdeham dengan elegan, sedangkan, Mitsuo hanya mengusap-usap kepala plontosnya. "Ah, tidak apa-apa. Kami hanya kaget baju itu sangat pas di badanmu."

Lelaki itu melirik badannya sendiri. Memang, bajunya sangat pas, tetapi tidak sampai membuat kedua biksu ini kaget seperti tadi kan?

Masih asik memperhatikan badannya sendiri, pundak lelaki itu di tepuk oleh Mitsuo. "Hei, maaf tadi kami tidak sopan. Tetapi, kita harus segera bertemu dengan Biksu Nobu. Ia ingin berbicara denganmu."

Alis lelaki itu mengkerut. "Biksu Nobu?"

Masashi mengangguk, dengan elegan tentunya. "Iya. Beliau adalah kepala biksu disini. Keluarganya lah penerus kuil ini. Kau ingat biksu yang berbicara denganmu saat kau pertama kali sadar."

Pikiran lelaki itu melayang kembali pada saat ia pertama kali sadar. Di pikirannya, muncul seorang biksu tua mengenakan jubah hitam. Merasa sudah ingat, ia mengangguk kepada Masashi dengan mantap. "Dia lah Biksu Nobu." Sambung Masashi sambil memimpin perjalanan.

Mereka melewati lorong yang khas dengan arsitektur Jepang kuno. Di sisi kanan, terdapat kaca yang memperlihatkan pemandangan halaman depan. Di halaman tersebut, tumbuh dengan kokoh pohon sakura. Mulut lelaki itu membulat menyaksikan keindahan pohon tersebut.

Mitsuo menangkap bayangan lelaki ini tersenyum melalui ekor matanya. "Bagus kan? Pada waktu sekaranglah bunga sakura sedang mekar sepenuhnya."

Lelaki itu menatap Mitsuo penuh tanya. "Maaf, sekarang tanggal berapa, ya?"

"Selasa, 18 Maret 2014." Jawab sebuah suara berat yang familer di telinga lelaki itu. Reflek, ia menoleh mencari asal suara. Di depannya, duduk biksu Nobu dengan tenang.

Lelaki itu bingung, apakah ia harus membungkuk? Atau memberi salam?

Menangkap kebingungan lelaki asing ini, biksu Nobu tertawa. "Santai saja, ayo duduk di depan saya." Katanya dengan ramah. Biksu Nobu menoleh kepada Mitsuo dan Masashi. "Mitsuo, Masashi, terima kasih ya. Kalian boleh pergi." Mitsuo dan Masashi membungkuk singkat lalu berjalan meninggalkan ruangan yang kelihatannya seperti ruang tamu.

"Nah, pemuda," Ia memulai pembicaraan. "bagaimana keadaanmu?"

"Jauh lebih baik. Terima kasih banyak. Dan terima kasih juga untuk pinjaman bajunya." Lelaki itu menunjuk kaosnya. Biksu Nobu mengikuti tunjukkannya, dan, tiba-tiba ia memperhatikan lelaki itu sepereti cara Mitsuo dan Masashi tadi.

Lelaki itu kembali merasa risih. "Maaf, Biksu, ada apa ya?"

Bisku Nobu mengalihkan pandangan sambil tersenyum kecil. "Ah, tidak apa-apa. Baguslah, baju nya sangat pas di badanmu." Biksu Nobu menyeruput tehnya dengan pelan.

"Jadi," nada bicaranya mulai serius "anda masih belum bisa mengingat kejadiannya?"

Lelaki itu meneguk liurnya dengan gugup. "Maaf, tapi belum. Tadi saya berusaha mengingat, tetapi kepala saya langsung sakit."

Biksu Nobu tersenyum bijak. "Tidak apa. Selama kamu masih belum bisa mengingat, kamu boleh tinggal disini dulu. Kebetulan, kuil ini adalah milik saya, dan disini juga banyak kamar kosong. Anda bisa menempati kamar yang tadi."

Lelaki itu menatap Biksu Nobu tidak percaya. Benarkah yang dikatakannya tadi? "Benarkah biksu?" lelaki ini antusias. Ia beruntung bisa tinggal disini sementara, jika tidak, akan tinggal dimana ia? Nama saja tidak ingat.

"Tentu saja. Dan jika anda berminat, saya akan mengajarkan beberapa ajaran agama disini. Mungkin anda penasaran dengan kegiatan para biksu disini. Itu jika anda tertarik, lho." Nada bicara biksu Nobu menjadi santai.

"Tentu biksu! Saya akan belajar sebisa mungkin! Terima kasih, biksu! Terima kasih!" laki-laki ini beberapa kali menundukkan kepalanya.

"Sama-sama. Maaf, tapi saya harus pergi sekarang. Akan saya panggil Mitsuo dan Masashi untu mengantarmu berkeliling."

"A-ah tidak usah repot-repot biksu. Tapi, kalau boleh, saya ingin ke sana." Lelaki itu menunjuk pohon sakura yang berdiri kokoh disana.

"Oh, ingin ke pohon sakura? Silahkan, anda bisa membuka pintu kaca disana. Sementara anda ke sana, Mitsuo dan Masashi akan menunggu disini. Baiklah, saya duluan." Biksu Nobu meninggalkan ruangan dengan tenang. Lelaki itu menundukkan kepala hingga biksu Nobu sudah sepenuhnya keluar dari ruangan.

Dengan semangat, ia berjalan menuju pintu kaca dan membukanya perlahan. Angin musim semi dengan lembut membelai wajahnya. Ia menutup pintu kaca di belakangnya dengan perlahan.

Lagi-lagi, angin berhembus, seperti mengajaknya untuk berjalan mendekat ke pohon sakura itu. Tetapi, ia mengurungkan niatnya. Ia duduk di pinggir pintu kaca tersebut, memandang pohon sakura dari jauh.

Lelaki itu mengedarkan pandangannya. Halaman ini cukup luas. Beberapa langkah dari pohon sakura, terdapat kolam ikan kecil. Dari tempatnya, ia bisa mendengar suara gemericik air yang menenangkan. Taman ini dipagari oleh bambu yang disusun rapi setinggi 2 meter. Di pinggir pagar, di tanami beberapa macam bunga yang indah. Tetapi, tentu saja tidak akan mengalahkan keindahan bunga sakura.

"Haru1" ia bergumam sendiri.

"Yaa?" Sebuah suara lembut menanggappi gumamannya. Kaget mendapat tanggapan, kepalanya langsung berputar mencari arah suara. Beberapa langkah dari dirinya, berdiri seorang anak perempuan sedang memegang sapu. Rambut cokelat kemerahannya terlihat berantakan karena tertiup angin.

"Kamu memanggilku?" kali ini ia mengerutkan keningnya.

"Hah? Tidak kok." Lelaki itu balas menatapnya dengan heran.

Perempuan itu berjalan menghhampirinya. "Tadi kamu menyebut haru kan?"

"Iya. Haru, musim semi." Lelaki ini makin heran.

Mulut perempuan di dekatnya membulat. Lalu dengan cepat berganti menjadi sebuah senyum manis. "Ooh pantas. Haru itu namaku."

Lelaki itu terlihat sedikit kaget. "Ooh, nama mu Haru?" ia kaget dengan pertanyaannya sendiri. Baru saja perempuan ini memberi tahunya, buat apa di tanya lagi?

"Yap, lebih tepatnya Haruka. Tapi, lebih sering di panggil Haru."

Lelaki itu mengangguk-angguk, bingung mau menjawab apa. "Boleh aku duduk di sampingmu?" sambung Haru.

Dengan sedikit gugup, lelaki itu menggeser duduknya, mempersilahkan Haru duduk di sampingnya. "Terima kasih." Kata Haru dengan manis.

"Sama-sama. Emm, maaf , jika boleh tanya, kamu siapa ya?"

Haru memiringkan kepalanya sedikit. "Sudah bertemu Biksu Nobu kan? Dia ayahku. Yap,aku anaknya." Lelaki ini kembali mengangguk-angguk.

Hening lagi. Angin menyebabkan daun pohon sakura di depan mereka bergerak lembut. Menghasilkan suara gemerisik yang menenangkan.

"Musim semi musim yang indah." Lelaki itu mencoba membuka percakapannya.

Haru mengangguk. "Makanya orang tuaku menamaiku Haruka yang berarti musim semi. Tapi, menurutku semua musim itu indah. Natsu2 dengan festval-festivalnya, Aki3 dengan warna daun-daunnya yang cokelat dan Fuyu4 dengan saljunya." Haru menatap langit dengan pandangan menerawang.

"Selain musim semi, kamu paling suka musim apa?" lelaki itu penasaran dengan jawaban Haru.

"Musim gugur. Cuaca di musim gugur sejuk, tidak panas tapi tidak dingin juga. Selain itu, musim gugur juga disebut musim panen. Tapi, yang paling aku suka adalah warna daunnya. Warna daun pada musim ini beragam. Ada yang hijau, kuning, oranye dan cokelat. Warna beragam ini bagaikan hidup. Walaupun dalam berbagai kondisi, hidup tetaplah indah." senyum di bibir Haru semakin mengembang.

"Aki musim yang bagus sepertinya." Lelaki itu bergumam. "Aki.. aki.." ia meneruskan gumamannya.

Tiba-tiba, Haru menoleh. "Hei, kamu masih belum mengingat namamu kan?"

Lelaki itu mengangguk. "Aku belum bisa mengingat apapun." Ia mendesah.

"Bagaimana kalau untuk sementara nama mu Aki saja? Artinya musim gugur." Haru berbinar-binar.

Lelaki itu tampak menimbang-nimbang. Apa harus ia membuat nama baru?

"Seperti yang aku bilang tadi, hidup itu seperti daun di musim gugur. Beragam tapi masih indah. Mungkin sekarang kamu mengalami hal yang berat, tetapi hal itu tak akan berlangsung lama kan?" Haru menjelaskan panjang lebar.

Lelaki itu masih bimbang. Benar juga yang dikatakan Haru. Hidupnya ini seperti daun di musim gugur, bermacam-macam kondisi tapi masih indah. Dan kondisi ini pasti tidak akan berlangsung lama.

Setelah berpikir lama, ia akhirnya memutuskan. Dihirupnya udara musim semi dengan perlahan, menikmati aroma sakura yang menyatu dengan udara.

"Baiklah, Haru. Mulai sekarang, panggil aku Aki."

To Be Continued~

1 Musim semi dalam bahasa Jepang

2 Musim panas dalam bahasa Jepang

3 Musim gugur dalam bahasa Jepang

4 Musim dingin dalam bahasa Jepang


Haloooooo~

Akhirnya update chapter . maunya sih seminggu sekali, tapi kayanya gabisa. jadi 2 minggu sekali.. heheh

gimana? suka gak?

tolong review ya^^ masukan sangat diterima disini

terimakasih yang udah review! sangat menyenangkan hati saya :') #lebaydeh

okelah, makasih ya udah baca! arigatou! ilysm

-nisnis-