"Ibuku bilang, warna dan bau memiliki pengaruh yang besar terhadap suasana hati seseorang. Akupun heran, apakah teori itu benar? Lalu warna apa yang membuatku bahagia? Bersemangat atau gugup? Dan bau apa yang membuatku pusing sesaat, atau menangis bahkan tertawa? Semua itu dipenuhi cinta yang membuatku lupa diri, atau keras kepala dengan sesuatu yang takbisa kubiarkan pergi. Jongin, sekarang aku tahu kau lah yang menjadi alasan untuk semua emosi ini."

Kyungsoo mematikan tape recordernya. Ia menatap kosong ke arah taman sambil tersenyum menunggu sang ibu yang akan menjemputnya. Beginilah hari hari Kyungsoo, pergi kuliah, menunggu ibu untuk menjemputnya, belajar, makan, berdoa, lalu tidur. Dan terkadang saat akhir pekan ia akan bekerja sambilan di sebuah taman hiburan.

"Kyungsoo!"

Merasa namanya dipanggil, Kyungsoo segera berdisi dan menyimpan tape recordernya di dalam tas yang ia bawa. Ia tersenyum sambil berjalan mendekati orang yang memanggilnya.

"Eomma!"

Sang ibu pun segera memeluk kyungsoo, sedangkan sang anak cemberut karena merasa diperlakukan seperti anak kecil. Mereka berdua pun tertawa bersama.


"Bittersweet"

Chapter 2 : Side A

Cast : KJI, DKS, Others.

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Rating : T

A/N :

Siapa yang tunggu tunngu chapter duaaa? Hehehe. Terimakasih yang udah like/follow/review di chap 1, jangan lupa do the same juga ya di chap duanya:") komentar kalian itu nyawa buat saya #Apa. Semoga suka dan sesuai dengan harapan kalian. Ohya yang perlu diperhatikan alur cerita disini lompat lompat ya, jadi harap maklum kalau kurang jelas. Happy reading :3


Siang ini suasana taman hiburan cukup ramai, mungkin karena hari ini akhir pekan? Ditambah lagi dengan penampilan dari salah satu band rock sedang berlangsung. Para pengunjung pun merasa terhibur, apa lagi lagu yang band itu bawakan adalah lagu anak anak yang dibuat sedikit ber-genre metal.

Namun suasana itu tak berlangsung lama, kekacauan mulai terjadi saat seekor ayam mendadak muncul dari atas panggung. Ayam itu keluar melompat dari dalam tas salah satu personil band rock itu. Kemudian sang ayam membabi buta dan membuat pengunjung ketakutan. Para personil band itupun kewalahan untuk mengejar ayam mereka. Sampai akhirnya ayam itu mendarat di tangan salah satu badut maskot taman hiburan. Suasana mendadak hening, semua orang melihat kearah maskot itu.

Hiccup!

Suara cegukan yang khas pun terdengar, membuat sang vokalis band bergenre metal itu melepas kacamatanya dan menatap lurus kearah sang badut.

"Kau Kyungsoo kan? Do Kyungsoo?" Tanya sang vokalis antusias.

Kyungsoo –sang badut yang bingung hanya memiringkan sedikit kepalanya.

"Ini aku, Jongin!" Sahut sang vokalis lagi.

Hiccup!

Saat anggota bandnya yang lain tengah mengurusi insiden ayam-yang-membabi-buta-di-siang-bolong, sang vokalis yang bernama Jongin itu tengah duduk disamping Kyungsoo.

"Maaf, ayam itu milik Tao. Ayam itu menetas dari telur yang ia beli beberapa tahun yang lalu." Jelas Jongin.

Kyungsoo hanya mengangguk paham sambil terus mendengarkan Jongin yang berbicara panjang lebar.

"Dulu ayam itu sangat imut, Tao tak tega membuangnya." Jelas Jongin lagi.

Dan Kyungsoo lagi lagi hanya mengangguk dan menatap jongin dengan polosnya, mata besarnya menyelidiki setiap lekuk dari wajah Jongin.

"Kau banyak berubah ya? Bahkan aku tak mengenalmu." Kata Kyungsoo pelan.

Jongin hanya menunjukan cengiran bodohnya sambil menatap Kyungsoo.

"Benarkah? Aku saja masih mengingat suara cegukan anehmu itu."

Jawab Jongin sambil tertawa renyah yang membuat Kyungsoo melipat kedua tangannya di dada sambil cemberut.

"Hey hey, jangan begitu. Kalau bukan karena cegukan anehmu aku tak akan pernah tau kau adalah orang yang duduk dibelakangku waktu sekolah dulu."

Kyungsoo tampak berfikir, memang ada benarnya sih. Mungkin cegukan anehnya ini sedikit membantu.

"Kau ingat saat pelajaran matematika dulu?" Tanya Jongin.

"Saat ada kecoa yang terbang?" Kyungsoo bertanya balik.

"Ya. Semua orang berteriak tapi kau cegukan."

"Jika gugup aku akan cegukan." Bela Kyungsoo.

Jongin dan Kyungsoo pun terkekeh, tapi mendadak kening Kyungsoo berkerut.

"Bukannya kimia?" Tanya Kyungsoo.

"Matematika." Jawab Jongin mantap.

Kyungsoo kembali mengangguk, mata bulatnya tak pernah lepas dari wajah Jongin.

"Baiklah, aku harus kembali bekerja." Kata Jongin sambil merebut selembar brosur yang Kyungsoo pegang.

Dengan sigap Jongin menulis nomor teleponnya disana, dan memberikannya kembali kepada Kyungsoo. Yang diberi hanya menerimanya dengan senang hati.

"Sampai jumpa Do Kyungsoo."

Kyungsoo mengangguk masih dengan tatapan polosnya yang meneliti seluruh tubuh Jongin.


Kyungsoo duduk termenung dikamarnya, sesekali ia tersenyum sambil menatap lurus keluar jendela. Pintu kamarnyapun terbuka, membuatnya menoleh menatap pintu yang ada di balik badan kecilnya. Ibunya dengan senyum hangat datang menghampiri Kyungsoo dan meletakkan beberapa obat yang harus Kyungsoo minum.

"Eomma." Kata Kyungsoo.

Ibunya hanya menaikkan satu alisnya, mengisyaratkan Kyungsoo untuk kembali bercerita. Kyungsoo meraih satu kapsul obatnya, dan menatapnya dengan tatapan polos. Bibir tebalnya ia tekuk,

"Eomma, apakah obat ini membuatku bodoh?" Kyungsoo kembali bercicit.

"Maksudmu?" Tanya Ibunya bingung.

"Aku merasa ingatanku makin payah." Jawab Kyungsoo sambil meletakkan kembali obatnya.

"Kenapa bisa begitu?"

"Hari ini aku bertemu dengan teman SMA ku. Tapi aku sama sekali tidak dapat mengingatnya."

"Perempuan atau laki laki?"

"Laki laki."

"Teman sekelasmu?" Ibunya pun menjadi semakin penasaran.

"Satu smester. Saat smester kedua ia membereskan mejanya dan pergi, mungkin aku pikir karena pekerjaan ayahnya. Jadi ia harus pindah sekolah."

"Kau menyukainya?"

Kyungsoo terdiam mendengar pertanyaan ibunya, matanya yang bulat menjadi semakin bulat.

"Kau menyukainya?" Ulang sang Ibu sambil sedikit menggoda anaknya.

"Tidak." Jawab Kyungsoo pelan.

"Itu wajar. Kau tak mengingatnya karena tak mengenalnya dengan baik."

Hiccup!

Cegukan itu kembali keluar dari mulut Kyungsoo. Dengan refleks Kyungsoo menutup mulutnya dan semburat merah muda muncul di pipi putihnya.

"A-aku mau mandi." Kata Kyungsoo terbata bata.

Kyungsoo meninggalkan Ibunya dan segera menuju kamar mandi. Ibunya hanya tersenyum lembut sambil memerhatikan anak semata wayangnya.


"Hey Do Kyungsoo! Kenapa kau tak meneleponku?" Jongin memukul kepala badut maskot taman bermain itu.

"Kau tahu, aku menunggumu untuk menelepon. Aku merindukan suaramu." Cicit Jongin lagis sambil terus memukul kepala sang maskot.

Jongin yang terus mengomel dan melakukan aktifitas mari-memukul-sang-maskot menjadi tontonan para pengunjung taman yang berjalan melewatinya. Aksinya itu tak berhenti sampai sebuah suara mengintrupsinya.

"Jongin!"

Saat Jongin menoleh, Kyungsoo lah yang berada di sana. Ia menjauhkan tangannya dari kepala badut yang berada disampingnya. Sedangkan Kyungsoo sedang menahan tawanya dengan susah payah. Ia menatap horror sang badut yang membuka kostum di kepalanya, ternyata seorang pria paruh baya. Pria itu menatap Jongin jengah, sedangkan yang di tatap hanya bisa melangkah pergi sambil menggaruk tengkuknya.

"Kenapa kau ada disini Jongin?"

Tanya Kyungsoo sambil menggendong tas ranselnya. Setelah jam kerjanya habis, Kyungsoo memutuskan untuk pulang bersama Jongin.

"Karena kau tidak meneleponku." Timpal Jongin.

Kyungsoo menautkan kedua alisnya sambil menatap Jongin bingung. Jongin mendesah pelan,

"Aku hanya ingin mendengar suaramu lagi."

Mendengar ucapan Jongin, Kyungsoo merona. Ia menutupi ronanya dengan menunduk malu. Jongin yang melihatnya hanya tersenyum.

"Band ku diusir karena ayam itu." Cicit Jongin lagi.

Kyungsoo mengangkat kepalanya dan tertawa. Itu hal terkonyol yang pernah ia dengar. Sejak bertemu dengan Jongin, kawan lamanya. Kyungsoo merasa hidupnya kembali berwarna. Gejolak yang telah lama menghilang pun kembali ia rasakan. Bibit perasaan dalam pot hatinya mulai kembali bertumbuh karena guyuran air dari hujan dari masa lalu.


Sesuai dengan janji Jongin beberapa hari yang lalu, Jongin mengajak Kyungsoo mengunjungi studio kecil –lebih tepatnya gudang yang Jongin sulap menjadi studio dan rumah keduanya. Jongin tengah mengenalkan Kyungsoo kepada seluruh anggota Bandnya. Kehadiran Kyungsoo pun disambut antusias oleh teman teman Jongin. Suasana sangat hangat, mereka saling bertukar cerita.

"Ah, sebentar lagi musim gugur kan?" Tanya Sehun.

Kelima orang yang ada di sana pun mengangguk menandakan pertanyaan Sehun benar.

"Aku sangat menanti musim gurur." Lanjut Sehun sambil meneguk alkoholnya.

"Memangnya kenapa?" Tanya Kris sambil mengerutkan dahinya.

"karena saat musim gugur tiba, tak lama lagi musim dingin tiba. Dan saat musim dingin tiba salju akan turun." Jawab Sehun sambil cengengesan.

Semua orang disana –terkecuali Kyungsoo melemparkan snack yang tengah mereka makan sambil tertawa. Sehun yang tak bisa diam terus bercicit sambil membalass lemparan teman temannya.

"Salju itu mengasyikan ya?"

Pertanyaan polos Kyungsoo mampu membuat semua orang disana diam. Dengan semangat Sehun membalas pertanyaan Kyungsoo,

"Tentu saja! jangan bilang kau tak pernah bermain salju?"

Kyungsoo menggelengkan kepalanya pelan, seumur hidupnya ia tak pernah bersentuhan dengan salju. Penyakit yang selalu menghantui langkahnya itu membuat ia tak seperti orang normal lainnya.

"Kalau begitu musim dingin kali ini kau harus bermain salju." Kata Sehun.

"Dan kau harus berlari di atasnya, bermain kejar kejaran sambil melempar bola salju." Sambung Tao.

Kyungsoo kembali diam, tangan kecilnya meremas ujung baju yang ia kenakan. Pandangannya sedikit sendu, tapi ia mencoba untuk tetap tersenyum.

"A-aku tidak pernah berlari. Bagaimana rasanya? Apakah sama seperti menaiki sepeda?" Tanya Kyungsoo.

"Aku tak boleh bergerak terlalu cepat, ibuku bilang berlari akan membunuhku." Sambung Kyungsoo.

Sehun, Kris dan Tao saling berpandangan, mereka saling menuduh untuk menjawab pertanyaan Kyungsoo. Karena suasana berubah drastis Jongin mencoba untuk mengembalikan kehangatan tadi.

"Berlari itu menyenangkan, tapi membuatmu lelah Do Kyungsoo. Kalau kau lelah kau akan cepat tua seperti Kris." Kata Jongin santai.

Kris yang merasa tersinggung langsung melemparkan bantal ke arah wajah Jongin. Gelak tawa pun kembali terdengar, Jongin bernafas lega saat Kyungsoo nya tak terlihat sedih lagi. Tangan Jongin yang merangkul bahu sempit Kyungsoo, mencoba memberinya kekuatan agar tetap tegar.


Kyungsoo berbaring di ranjang empuknya dan meraih tape recorder biru langit kesayangannya. Ia menekan tombol on dan mulai bercerita.

"Jongin, hari ini adalah hari Minggu. Aku merasa kembali ke dalam kelas, kau kembali hadir disini. Aku masih tak percaya kita kembali bertemu. Aku masih ingat saat kau mengajakku ke suatu tempat, dan aku menjawab 'okay. Mungkin lain waktu' aku menyesal setelahnya karena kau menghilang tanpa kabar. Ohya, kau ingat kebiasaan burukmu? Kau selalu kehilangan kunci sepedamu, lalu kau akan mengosongkan ransel yang kau bawa demi kunci itu."

Kyungsoo menekan tombol off lalu meletakkan benda itu di meja nakasnya. Ia menggulingkan badannya ke kanan kan kiri sambil tersenyum seperti orang ididot. Hatinya bagaikan padang rumput di musim semi, dipenuhi oleh berbagai macam bunga yang harum. Ia menarik selimut sebatas dada dan memejamkan mata bulatnya. Kyungsoo tersenyum dalam tidur nyenyaknya.


Kyungsoo duduk di bangku taman sambil menggambar di buku hariannya. Matahari bersinar cerah hari ini membuat taman kota ramai dikunjungi orang orang yang sekedar ingin bersantai.

Kring kring

Suara bel khas sepeda terdengar nyaring di telinga Kyungsoo. Ia menatap orang yang menaiki sepeda dan berhenti didepannya. Orang itu mengeluarkan kotak kacamata dan memberikannya kepada Kyungsoo.

"Ayo kita pergi." Ajak orang itu yang tak lain adalah Jongin.

Kyungsoo mengenakan kaca mata yang Jongin beri dan menunjukkan jam yang melingkar manis di pergelangan tangannya.

"Kau terlambat lima menit tiga puluh detik. Lihat!" Titah Kyungsoo.

"Tenang," kata Jongin santai.

Dengan wajah tanpa dosanya Jongin memutar jarum jam tangan milik Kyungsoo. Ia memundurkan waktunya lima menit yang lalu.

"Nah beres kan? Ayo naik." Ajak Jongin lagi.

Kyungsoo tersenyum dan segera duduk di kursi penumpang, dengan hati yang berdebar tangan kecilnya menggenggam pinggang Jongin. Aroma tubuh Jongin yang seperti musim semi membuat Kyungsoo merasa hangat.

Jongin mengajak Kyungsoo mengelilingi taman kota. Setelah sore menjelang ia mengajak Kyungsoo untuk beristirahat di bangku pinggiran danau, mereka berbincang cukup serius disana.


Hujan turun membasahi bumi, membuat dua insan yang sedang menyusuri jalan pulang terjebak di dalam halte bus.

"Aku ingat saat dulu kau mengambil semua buku dari sekolah." Suara Kyungsoo memecah keheningan.

"Iyakah? Aku tak mengingatnya." Sahut Jongin.

Kyungsoo tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke tetesan air hujan.

"Ingatan itu seperti air hujan yang jatuh di tanganku. Sukar merebutnya, tapi cepat hilang dan pergi. Sebenarnya kamu sedikit berbeda dari yang aku ingat." Kata Kyungsoo sambil menggenggam air hujan –walaupun itu sia sia.

Tangan besar Jongin bergerak untuk menggenggam tangan kecil kyungsoo yang sedang mengepal.

"Lalu, bagaimana kau mengingatku?" Tanya Jongin.

Kyungsoo kembali tersenyum untuk yang kesekian kalinya. Ia merogoh tasnya dan mengambil spidol dari dalam sana. Dengan perlahan ia menarik tangan Jongin dan menggambarkan sesuatu di punggung tangan Jongin. Setelah selesai ia memasukan kembali spidol itu kedalam tasnya.

"Tintanya akan bersinar di kegelapan. Pulanglah dan matikan lampu, kau akan tau." Kyungso menjelaskan.

Jongin tertawa kecil dan berusaha menyembunyikan tangannya dibalik jaket, ia penasaran dengan yang Kyungsoo tulis. Tapi di detik selanjutnya, sebuah alunan lagu yang sangat ia kenal terdengar.

"Do Kyungsoo, kau ingat lagu ini?" Tanya Jongin bersemangat.

"Ah iya! Ini lagu kesukaan guru seni kita. Ia selalu menari saat mendengar lagu ini dan kita akan mengikutinya di belakang dia." Jawab Kyungsoo tak kalah semangat.

Mereka berdua pun larut dalam alunan musik. Tubuh mereka bergerak mengikuti tempo lagu. Candaan dan tawa pun terus mengalir dari bibir keduanya. Sampai langkah kyungsoo terhenti dan matanya membulat.

"Eomma!"

Satu kata yang keluar dari bibir Kyungsoo membuat kai berhenti menari dan membalikkan badanya. Sedangkan Ibu Kyungsoo berjalan mendekati Jongin.

"Jadi kau Kim Jongin?" Tanya Ibu Kyungsoo.

"Ya, begitulah." Jawab Jongin.

"Kau mahasiswa? Tunjukkan kartu pengenalmu." Kata Ibu Kyungsoo lagi.

"Eomma!" Kyungsoo berusaha menghentikan ibunya.

Tapi kai tersenyum dan mencoba menenangkan Kyungsoo.

"Aku berhenti kuliah." Jawab Jongin tenang.

"KTP? Mana KTP mu?"

"Aku tak membawanya."

Ibu Kyungsoo mulai menatap Jongin dengan Jengah, sedangkan yang ditatap masih menunjukkan sisi ketenangannya.

"Apa kau akan mengajak anakku pergi lagi?"

"Ya. Aku akan membawanya ke studio menari milik temanku."

Mata Kyungsoo membulat mendengar penuturan Jongin. Sedangkan sang ibu langsung menarik Kyungsoo.

"Jangan menemui anakku lagi."

Ucapan terakhir itu membuat Kyungsoo tersentakk, ibunya menarik paksa tubuh kecilnya untuk menjauh dari Jongin. Kyungsoo melirik kebelakang, tapi ibunya menutupi wajahnya agar tak melihat Jongin. Sedangkan pihak yang ditinggalkan hanya tersenyum simpul. Jongin masih mencoba melihat gambar di punggung tangannnya di dalam jaket yang ia kenakan. Sebuah gambar laki laki yang membawa gitarpun bersinar di tangannya, Jongin tersenyum dan menaikki sepedanya untuk pulang.


"Apakah kamu masih ingat? Kamu menggunakan tape recorder setiap waktu. Kau menggunakannya untuk lagumu, merekam suara gitar di dalamnya. Lalu kau mendengarkannya secara berulang – ulang untuk mencari kesalahan. Pernah sekali saat kau mendengarkannya saat pelajaran, guru mengambilnya. Saat aku mengumpulkan tugas ke ruang guru aku melihat recorder itu dan mengambilnya. Aku ingin mengembalikan itu kepadamu, tapi kamu pindah sekolah."

Kyungsoo mendengarkan suaranya sendiri sambil tersenyum senyum mengingat kejadian itu. sedangkan sang Ibu yang melihatnya dari balik pintu hanya bisa menghela nafas berat.


Kyungsoo menatap kosong keluar jendela rumahnya. Setelah pagi tadi ia beradu mulut dengan ibunya, ia tak diizinkan untuk keluar dari rumahnya. Air mukanya begitu sedih, ia sangat ingin bertemu dengan Jongin.

Kling Kling

Suara dari lonceng menyadarkan lamunanya. Kyungsoo menatap keluar jendela dan mendapati sebuah keranjang putih menggantung dari atas atapnya. Ia keluar menuju balkon dan menghampiri keranjang itu. isinya setangkai bunga mawar dan secarik kertas bertuliskan ; Aku ada di atas atap – Jongin.

Kyungsoo tersenyum bahagia dan mengambil isi dari keranjang itu. Ia segera berlari kedalam kamarnya mencari sesuatu, setelah mendapatkanya ia kembali menghampiri keranjang yang menggantung manis di hadapannya. Ia menaruh sebuah botol minuman bersoda dan tape recordernya disana. Dengan bersemangat Kyungsoo menggoyang goyangkan talinya agar Jongin menarik keranjang itu ke atas.

"Bersenang senanglah disana."

Kai tersenyum mendengar suara Kyungsoo, lalu ia menurunkan lagi tape recorder itu. Kyungsoo menerimanya kembali dengan senang hati.

"Kenapa ibumu tidak menyukaiku, heh?"

"Entahlah. Mungkin karena kau membicarakan tentang menari. Ibuku melarangku untuk menari."

"Aturan macam apa itu?"

Dan teruslah mereka seperti itu, bercakap menggunakan alat perekam kesayangan Kyungsoo. Sampai pada akhirnya Kyungsoo meminta Jongin untuk bernyanyi.

Mikael boda neon naege nunbusin jonjae
Gamhi nuga neoreul geoyeokhae naega yongseoreul an hae
Eden geu gose bareul deurin taechoui geu cheoreom maeil

Neo hanaman hyanghamyeo maeumeuro mideumyeo

Aju jageun geoshirado neol himdeulge haji motage
Hangsang jikigo shipeo I'm eternally love

"Kyungsoo!"

Kyungsoo yang kaget reflek membalikkan badannya, menatap Ibunya yang tengah berdiri di ambang pintu kamar dengan tatapan yang sulit di artikan. Ibunya menatap ke arahnya dan kearah keranjang yang ada di luar bergantian.

"Ajak dia turun."

"A-apa?"

Kyungsoo terkejut dengan ucapan Ibunya,

"Dia bisa tinggal untuk makan malam." Kata ibunya lagi sambil pergi meninggalkan kamar Kyungsoo.

Kyungsoo diam, ia tersenyum sambil memegang dadanya. Gemuruh itu kembali terasa membuat debaran jantungnya memompa dua kali lipat.

Setelah mengajak Jongin turun, mereka bertiga –Kyungsoo, Jongin dan Ibu Kyungsoo- makan malam bersama. Sesekali mereka bercanda gurau, tapi masih diselingi dengan beberapa pertanyaan serius dari Ibu Kyungsoo tentang latar belakang Jongin.


Sekarang disinilah Kyungsoo, ditengah kerumunan orang yang sedang melomppat lompat mengikuti alunan lagu rock yang terdengar begitu memekikan telinga. Kyungsoo yang notabene adalah seorang yang pendiam dan tak menyukai tempat ramai tersenyum. Alasannya tak lain karena Jongin, lelaki itu sedang bernyanyi dengan semangatnya di atas panggung. Teriakan dari fans yang bergemuruh membuat penampilan panggung Jongin dan band rocknya yang bernama insanity makin seru.

Please don't go go go jebal tteonagajima
Hanbeonmanirado nal dorabwajullae
Please don't go go go seulpheun insaneun sirheo
neol saranghanikka dasi dorawa

Step by step one two three dipdi daridu
Gingin sigandeuri neoreul jiwogagetjiman
Step by step one two three Dipdi daridu
Nan haru haruga gotongilgeoya

Kyungsoo sedikit menggoyang goyangkan tubuhnya mengikuti alunan musik. Hatinya berjerit saat Jongin melemparkan kedipan menggodanya ke arahnya. Sekarang Kyungsoo tau, hal yang membuat ia kuat diluar zona nyamannya adalah Jongin. Jongin yang membuatnya seperti ini, karena Jongin adalah kekasihnya. Bad boy itu adalah kekasih seorang Do Kyungsoo.

Jongin melompat dari panggung dan mendatangi Kyungsoo,

"Keluarlah duluan jika disini terlalu bising, aku segera berkemas." Kata Jongin sedikit berteriak.

Kyungsoo hanya mengangguk lalu mencari celah keluar dari kerumunan orang di sekitarnya. Sesampainya di luar gedung pertunjukan ia segera menggunakan jaketnya dan bersandar di tembok bangunan itu. Tangan kecilnya masuk ke dalam tas yang ia pegang lalu mengeluarkan sebotol minuman berasa jeruk. Kyungsoo tersenyum kecil melihat sticker kuning yang ia tempelkan di botol itu. Sticker berbentuk bulat yang tengah tersenyum itu melambangkan perasaan Kyungsoo untuk Jongin. Ia sangat berterimakasih untuk hari ini.

Satu jam telah berlalu, Kyungsoo masih tersenyum. Dua jam, Kyungsoo mulai resah. Tiga jam, kyungsoo kesal. Ia memutuskan untuk pulang kerumah sendiri, kesabarannya telah habis. Jongin bilang ia akan segera berkemas, tapi kenapa ia lama sekali?


Kyungsoo yang tengah asyik memakan bekalnya merasa terganggu saat Jongin mendatanginya. Jongin terus mengoceh dan membuat lelucon yang sama sekali tak lucu. Kyungsoo yang kesal pun berdiri dan hendak pergi. Tapi tangan besar Jongin menahannya.

"I'm sorry, Do Kyungsoo." Ucap Jongin sambil menatap lurus ke arah mata bulat Kyungsoo.

"Kemarin aku bertemu teman lamaku, dan kami minum minum. Tapi pada akhirnya kami berkelahi." Lanjut Jongin sambil menunjuk tanda lebam di pipinya.

Kyungsoo hanya mengendus kesal yang menarik tangannya yang digenggam oleh Jongin,

"Jika kamu ingin minta maaf jangan memberi alasan. Jika kamu ingin memberi alasan, buat alasan yang lebih baik." Kata Kyungsoo sambil berjalan meninggalkan Jongin.

Jongin memandangi punggung sempit Kyungsoo yang pergi menjauh sambil menggaruk tengkuknya. Ia memikirkan cara untuk meminta maaf kepada Kyungsoo.

Beberapa jam setelah itu, Kyungsoo keluar dari dalam kelasnya. Ia berjalan menyusuri koridor, indra pendengarannya menangkap suara yang tak asing. Ia mengubah arahnya menjadi ke arah taman belakang universitasnya. Dan benar saja, disana sudah berdiri Jongin lengkap dengan anggota bandnya dan berbagai macam alat musik. Saat Kyungsoo sampai disana Jongin mulai menyanyikan sebuah lagu.

Eonjena seupgwancheoreom tujeong burigo

Eonjena yaksok siganen neujeosseotji

Yeppeun du nune hayateon du bore
Heureudeon nunmuldo iksukhaejyeoman ga

Eojedo neowa deiteuin jul moreugo
Oh hayeomeobsi gidarideon neoneun
Neomu neujeun naege hwareul naeneun daesin
Kiseureul han geoya

Yesterday ajikdo seonmyeonghan ni ipsure
Just today ijeya kkaedarasseo jeongsini beonjjeok deun geoya
Uh uh yeah yeah uh uh uh uh saranghae tonight
Oneul bameun kkok dallyeogalge neol angoseo sarangeul soksagil geoya

Tepat sesudah lagunya berhenti, sebuah kain besar membentang dari atap universitasnya. Kain itu bertuliskan "DO KYUNGSOO I'M SORRY. FORGIVE ME?" Kyungsoo yang merasa terharu menutup mulutnya yang menganga. Hatinya kembali bergejolak, ribuan kupu kupu yang terperangkap dalam perutnya pun memaksa untuk keluar. Setitik air bening mengalir dari matanya, dengan perlahan Kyungsoo melangkahkan kakinya dan berjalan ke arah Jongin. Badan kecilnya yang rapuh jatuh kedalam pelukan hangat Jongin. Kerumunan orang yang berada disituput bertepuk tangan menyaksikan adegan romantis itu.


"Jongin, ini pertama kalinya aku membolos."

Kyungsoo sangat tidak tenang, ia terus melihat ke sekeliling, takutnya sang ibu akan mengetahui ia membolos kuliah.

"Jika ibuku tahu, aku tidak tahu konsekuensi apa yang akan dia berikan." Sambung Kyungsoo dengan gusar.

Jongin menepuk kepala kyungsoo pelan, dan mengacak acak rambutnya.

"Jangan khawatir, aku janji semua kecemasanmu tidak akan terjadi. Sekarang ayo naik!"

"Ne?"

Kyungsoo menatap Jongin yang setengah bejongkok didepannya. Ia tak mengerti dengan maksud Jongin.

"Aku bilang ayo naik." Ulang Jongin sambil menunjuk punggungnya.

Kyungsoo menggigit bibirnya dan berjalan mendekati Jongin. Dengan sedikit ragu ia menaiki punggung milik Jongin.

"Kau bilang ingin berlari kan? Kau bisa meminjam kaki ku."

Kata Jongin sambil memegang kaki Kyungsoo dan berdiri. Tanpa basa basi Jongin melangkahkan kakinya dengan cepat. Kyungsoo berteriak kegirangan sambil tertawa lepas. Mendengar orang terkasihnya tertawa Jongin pun ikut tertawa.

"Beginilah rasanya berlari, banyak guncangan, terpaan angin dan berkeringat." Jelas Jongin.

Kyungsoo mengangkat tangannya sambil berteriak,

"Terimakasih Jongin!"

Sejak hari itu, Jongin selalu mengajak Kyungsoo untuk "berlari" Jongin ingin memberikan semua yang Kyungsoo inginkan di dunia ini. Ia ingin Kyungsoo merasakan kebahagiaan yang tak akan pernah Kyungsoo lupakan.

"No. 17! Padang rumput!" Teriak Kyungsoo.

"No. 21! Daerah pertokoan!" lagi lagi Kyungsoo berteriak.

"No. 25! Lapangan sekolah!" Tak pernah bosan Kyungsoo berteriak.

Kurang lebih seperti itulah setiap kali mereka berlari. Kyungsoo selalu meneriakkan tempat yang ingin ia kunjungi dan berlari lari disana. Setiap hari Jongin dengan setia menggendong Kyungsoo sambil berlari di tempat impiannya. Setelah hampir dua puluh tahun barulah keinginan itu terwujud. List yang Kyungsoo buat di buku hariannya pun telah hampir ia tandai, tinggal satu tempat lagi.

"Terakhir. Nomor 40, pantai!" Kyungoo berteriak dengan semangat.

Setelah cukup lama berlari di pantai, Jonginpun mengajak Kyungsoo untuk beristirahat. Nafas Jongin terengah engah, tapi ia masih sanggup untuk tersenyum ke arah Kyungsoo. Kyungsoo yang teringat oleh sesuatu segera mengeluarkan tape recordernya. Ia menyuruh Jongin untuk mendengarkan salah satu rekaman yang ia buat dua tahun yang lalu.

"Jongin, hari ini ulang tahunku yang ke-18. Aku memiliki sebuah permohonan rahasia, aku ingin kamu muncul di hari ulang tahunku. Aku tahu permohonan ini sangat aneh, tapi aku tak penah berhenti berdoa untuk kehadiranmu."

Jongin menatap lurus ke arah Kyungsoo yang sedang tersenyum getir.

"Aku tak menyangka keinginanku ini akan terwujud. Aku dapat bertemu denganmu lagi." Cicit Kyungsoo lagi.

Jongin hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya.

"Apa kau merekam suaramu sepanjang tahun?" Tanya Jongin.

Kyungsoo mengangguk dan menatap jongin.

"Iya, apakah itu terdengar aneh?"

Jongin kembali menolehkan kepalanya, yang pertama ia lihat adalah tatapan polos dari sepasang mata bulat milik Kyungsoo.

"Tentu saja itu aneh." Kata Jongin sambil mengacak surai hitam milik Kyungsoo.

Kyungsoo hanya merengut dan bersidekap, ia merasa diejek oleh Jongin.

"Adakah lagi harapan yang kau ingi wujudkan, Do Kyungsoo?"

Pertanyaan Jongin mampu membuat Kyungsoo berhenti merengut. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan kartu ucapan yang bergambar seorang penari.

"Menari?" Tanya Jongin sambil meraih kartu itu.

"Aku menemukan itu tergeletak di jalan, jadi aku ambil dan berharap bisa menjadi seorang penari. Tapi," Kyungsoo menggantungkan kalimatnya.

Jongin yang sedang memperhatikan kartu yang ia pegang mengalihkan pandangannya ke arah Kyungsoo.

"Saat ibuku bilang aku tak boleh kelelahan, aku mengubur impian itu. Sejak aku lulus SMA aku berhenti dari latihan tariku." Lanjut Kyungsoo dengan miris.

Jongin merasa iba dengan Kyungsoo, ia tak pernah menyangka jika Kyungsoo memiliki keinginan yang begitu besar untuk menari. Tak ingin lama lama melihat Kyungsoonya bersedih, Jongin menarik badan Kyungsoo kedalam pelukannya dan mengecup puncak kepala Kyungsoo dengan sayang. Tangan besarnya mengusap-usap lengan Kyungsoo mencoba memberi kekuatan untuk orang terkasihnya. Sedangkan Kyungsoo yang merasa nyaman memejamkan matanya sambil menrapatkan lagi badan kecilnya ke arah Jongin.


Hari ini ulang tahun Kyungsoo yang ke-20. Hampir dua jam ia duduk di sini menunggu kehadiran Jongin. Ia mulai bosan, sudah beberapa kali pelayan mendatangi mejanya menanyakan pesanan. Tapi Kyungsoo selalu menggelengkan kepalanya, ia mengatakan masih menunggu seseorang.

Sudah kesekian kali Kyungsoo menatap layar ponselnya, namun tak ada satupun kabar dari Jongin. Ia mulai kesal, ia tak tahan. Dengan penuh kekecewaan Kyungsoo berdiri dan beranjak dari restoran itu. Ia berjalan menuju halte bus dan menunggu bus yang mengantarkannya ketujuan. Selang beberapa menit, bus itu datang. Kyungsoo pun segera menaiki bus itu.

Kyungsoo memilih duduk di deretan bangku paling belakang, ia menghembuskan nafasnya dengan berat. Hari istimewa yang seharusnya dirayakan dengan istimewa berakhir dengan kacau. Pandangan kosong Kyungsoo beralih menatap kerumunan orang yang ada di pinggir jalan. Mata bulatnya menjadi semakin bulat saat melihat objek yang berada di tengah kerumunan itu. Dia Jongin, orang yang Kyungsoo tunggu tunggu malam ini. Jongin tengah bersusah payah menenangkan seorang pria paruh baya yang mengamuk sambil terus berteriak "Aboji, hentikan" kurang lebih itu yang Kyungsoo bisa dengar. Kue ulang tahun dan bunga pun tergeletak manis di jalan raya dekat kerumunan itu. Kyungsoo yakin seharusnya kue dan bunga itu ada di mejanya malam ini.


"Do Kyungsoo."

Jongin yang tengah tertunduk menegakkan badannya saat Kyungsoo yang hendak pergi ke unversitasnya lewat dihadapannya. Langkah Kyungsoo pun terhenti, ia tersenyum ke arah Jongin.

"Aku minta maaf semalam, sesuatu yang buruk terjadi." Kata Jongin lagi.

Kyungsoo hanya mengangguk sambil terus tersenyum.

"Kita harus berpisah."

Kyungsoo sedikit tersentak mendengar perkataan Jongin, namun ia kembali tersenyum. Sebuah senyuman getir.

"Aku merasa hal buruk terjadi padaku hari ini." Kata kyungsoo.

Jongin hanya diam, ia mengadahkan kepalanya. Menatap langit biru yang begitu cerah.

"Sisi lain dari hidupku sangat berantakan." Jongin kembali bersuara.

"Aku tahu."

"Ku akui, ada masalah yang kusembunyikan darimu."

"Bisakah kau beritahu aku sekarang?"

"Terlalu banyak, tak bisa kujelaskan sekarang. Tapi kau akan memahaminya nanti."

"Kau tak seperti Jongin. Jongin tak pernah berbicara seperti itu."

Kata kata terakhir dari Kyungsoo menutup percakapan mereka yang begitu kelu di pagi yang terlalu indah ini. Sinar matahari yang begitu cerah seakan mengejek mereka yang sedang gusar. Setelah Kyungsoo menghilang dari pandangannya, Jongin memutuskan untuk menuntun sepedanya dan pergi dari tempat itu.


Jongin terdiam di gudang atau yang Jongin sebut adalah rumah keduanya. Ia duduk termenung diatas panggung mini yang ada diruangan itu sambil menatap lurus kearah tirai yang baru terpasang satu minggu yang lalu. Kunci sepeda kesayangannya masih ia genggam degan kencang seakan ada orang yang akan mengambilnya. Jongin menghela nafas panjang. Tanpa diduga, seorang wanita paruh baya masuk kedalam studionya dengan penuh amarah. Ia menatap Jongin dengan sulit diartikan.

"Mulai sekarang kontrak kita selesai!"

Wanita itu membanting tumpukan uang kertas keatas meja di ruang tengah gudang itu. Jongin menatap uang itu degan remeh dan bangkit dari duduknya.


Side A End Here


A/N:

Haluu ~ gimana? Gimana? Review dong ~

Ohya disini kenapa setiap adegan itu pendek banget dan tiba tiba ganti latar? Jawabanya ada di chapter selanjutnya :3 jadi disini memang sengaja dibuat bingung..hehehehe. (fyi, ff ini di publish tanpa di edit \o/)

Rencananya saya mau buat ff ini hanya empat atau tiga chapter saja, tapi menurut readers gimana? Satu chapternya enak panjang kaya gini atau dibagi dua? Saran juseyo ~ :3

Pokonya terimakasih banget yang udah dukung aku dengan reviewnya, saya terharu banget. Cobalah hargai kara orang lain dengan meninggalkan jejak :") [dan kalo ada pertanyaan tanya aja okay? Pasti saya jawab ehehehe]

Pokonya terimakasih banyak! Lav lav ~ 3

Songlist:

1. EXO's "Angel (into your world)"

2. CN BLUE's "Intuition"

3. B1A4's "Yesterday"