KONNICHIWA MINNA!
Akhirnya Ricchan bisa update chap 2. Terimakasih buat yang udah review, follow, apalagi fav. Ricchan senang banget...! bagi Ricchan review, follow dan fav benar-benar memacu semangat Ricchan buat lanjutin fic fic Ricchan. Hehehe :D
no bacot lah...
'SEASON'
Kuroko No Basuke bukan milik Ricchan,
kalau Ricchan yang buat ntar ujung-ujungnya jadi
cerita fangirl gaje XD
tapi fic 'SEASON' murni milik Ricchan
dan hanya dibuat demi kesenangan semata
[genre : romance, school life, family]
[pair : Kise R. X OC X Akashi S.]
[Setting : SMA Teiko tahun pertama]
Mata beriris merahnya mengerjap beberapa kali. Angin menerbangkan lembut surai hitamnya. Begitu pula dengan tirai putih yang menggantung di jendela. Seseorang duduk disana. Seseorang dengan rambut hitam panjang dan mata merah yang sama, wajah yang sama. Namun ekspresi berbeda. Semua orang akan langsung menemukan raut ceria, hangat, dan cerah darinya. Bebenar-benar sesuai dengan namanya.
"Yuki, kenapa kau menangis?" Yuki langsung mengusap pipinya sendiri. Entah sejak kapan air mata sudah mengalir disana.
"Jangan menangis, Yuki" gumamnya tersenyum, mencoba ikut menghapus jejak air mata itu dengan tangannya.
"Yuki!"
.
.
.
"Yuki!" sebuah suara berhasil membawa gadis bersurai hitam itu dari alam bawah sadarnya. Air mata menggenang di pelupuk matanya, beberapa telah jatuh membuat aliran di pipi putihnya yang kini terlihat lebih pucat.
"Shuu-nii" suara Yuki terdengar gemetar.
"Jangan menangis lagi Yuki! Semuanya baik-baik saja disini!" bisik Shuuzo memperkecil jarak diantara mereka. Membiarkan adik kecil yang sudah lama tak ia temui ini bersandar di dadanya.
"Shuu-nii aku.."
Shuuzo meletakkan telunjuknya di mulut Yuki, memberi isyarat agar ia berhenti biacara. Yuki mengerti. Ia hanya melanjutkan tangisnya. Sampai sebuah tangan yang lebih besar merangkul mereka berdua.
"Ayah" gumam Yuki.
"Maaf Ayah baru pulang sekarang. Tapi Ayah akan cuti beberapa hari untuk menemani Yuki dan Shuuzo" ujar Nijimura Kai. Kedua anak dalam pelukannya sama-sama mengangguk.
.
.
.
Yuki menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya yang disilang dan diletakkan di atas meja. Ia datang kepagian. Belum ada seorang pun anggota kelas yang lainnya datang.
Srak..! Terdengar suara pintu terbuka. Yuki hendak mengangkat kepalanya, melihat siapa yang datang. Namun mengingat matanya yang masih merah, ia mengurungkan niatnya. Padahal Ayah dan Shuuzo sudah memberitahunya untuk tak usah bersekolah hari ini, namun Yuki malah bersiteguh. Berdiam diri di rumah hanya akan membuatnya semakin larut dengan ingatan itu.
Seseorang menarik kursi di sebelahnya, meletakkan tas di samping meja dan duduk. Tepat di sebelah Yuki. Dari posisinya ia bisa menebak siapa yang datang. Aura intimidasi juga terasa mengental di udara.
"Aku tahu kau tak tidur" ujarnya. Yuki tahu pemuda bersurai merah itu tengah berbicara dengannya, tak ada orang lain disini bukan?
Yuki tak bergeming. Tetap dengan posisinya, sama sekali tak memberi respon pada Sang Emperor. Sebuah sweater kini menutupi wajahnya. Aroma khas laki-laki, mungkin mint langsung menyergap indra penciuman Yuki. Akashi Seijuuro melepas sweaternya dan menyembunyikan kepala sang gadis.
"Kau tak bisa menutupi mata sembabmu hanya dengan menidurkan kepalamu di meja" lanjut Akashi.
Dada Yuki kembali berdegub kencang. Kenapa pemuda ini bisa tahu bahwa matanya sembab? Memang ada rumor yang mengatakan bahwa Akashi Seijuuro itu mutlak dan selalu benar, namun ia tak menyangka Akashi bisa tahu sejauh ini.
"Ohayo-ssu!" sapa Kise memasuki kelas, ribut seperti biasa. Beberapa fansnya terlihat mengikuti di belakang. Beberapa langsung berteriak histeris saat Kise melambaikan tangan pada mereka.
"Mata ne, minna!" lambai Kise pada para fansnya.
Lelaki sehangat matahari itu berjalan mendekati tempat duduknya. Terlihat cukup bingung dengan Akashi yang berdiri di samping Yuki, apalagi sebuah sweater yang Kise yakini milik Akashi kini menutupi bahu sampai kepala Yuki.
"Akashicchi, Yuki kenapa?" tanya Kise penasaran. Meletakkan tasnya dan mendekati Yuki dan Akashi.
"Hanya ketiduran" balas Akashi cepat.
"Aku ke ruangan osis dulu. Jangan ganggu dia Ryouta!" perintah Akashi sebelum meninggalkan ruangan kelas.
Kise menarik bangkunya mendekat. Lagi-lagi Yuki merasakan tangan besar yang hangat dikepalanya. Tangan itu mulai membelai kepala yang dilampisi sweater itu. Rona merah menjalar di pipi Yuki, beruntung tak ada yang bisa menyadarinya. Dadanya kembali berdegub kencang. Aroma mint dan belaian lembut ini benar-benar memabukkannya sekarang. Ah, rasa kantuk mulai menyerang gadis itu. Nyaman. Perlahan kedua iris merahnya benar-benar tertutup.
.
.
.
Bau obat-obatan. Aroma itu langsung menyergap Yuki. Saat benar-benar sadar dengan kondisinya, ia langsung bisa menebak dimana ia sekarang. UKS. Padahal rasanya tadi pagi ia hanya tidur-tiduran di kelas. Eh, tadi pagi? Jam berapa sekarang?
11.45
"Kau sudah bangun, Yuki?" tanya pemilik surai emas, Kise Ryouta berada di sampingmu. Di sampingnya lagi seorang bersurai sama denganmu berdiri berkacak pinggang.
"Shuu-nii, Kise-kun"
"Apa kau sudah bisa bangun? Ingin kuantar pulang?" tanya Shuuzo bertubi-tubi. Yuki menggeleng kecil.
"Aku tak apa. Aku ingin masuk kelas saja!" pinta Yuki.
"Tapi sebentar lagi istirahat makan siang loh! Bagaimana kalau kita ke kantin saja?" usul Kise. Yuki mengangguk. Kakak Nijimura hanya bisa memenuhi kehendak adiknya.
Kantin masih cukup sepi. Tentu saja, bel pelajaran belum berbunyi. Namun sebuah meja di pojok kantin sudah diduduki Aomine dan Momoi. Momoi langsung melambai seketika melihat kalian bertiga.
"Yuki sudah baikan?" tanya Momoi yang duduk di samping Yuki. Yuki mengangguk.
"Nijimura-senpai terlihat panik saat mendengar kau di UKS. Aku bisa melihat Nijimura-senpai berlari dari kelasku" timpal Momoi. Shuzoo hanya menunduk malu-malu.
"Lalu kenapa Kise juga disini?" tanya Aomine menatap penuh selidik.
"A-aku hanya mengantar Yuki. Da-dan saat aku melihatnya tidur, a-aku ja-jadi" jawab Kise terbata-bata.
"Kau tak melakukan apa pun pada adikku kan?" tanya Shuuzo kini menatap Kise, aura hitam menyeruak dari balik tubuhnya.
"Aku hanya menemani Yuki di UKS karena sensei yang berjaga sedang cuti Senpai!" Kise membela diri.
Satu per satu anggota tim basket mulai datang ke kantin dan duduk bersama. Bel sudah berbunyi. Kantin semakin ramai. Kise dan Aomine kembali adu mulut, apalagi Haizaki juga ikut memanas-manasi. Keadaan kembali cukup tenang saat Akashi bergabung dengan mereka. Gunting merah keramat itu sepertinya cukup efektif.
"Oh ya, aku penasaran-ssu!" ujar Kise sedikit berteriak, mengagetkan.
"Ada apa-nanodayo? Tidak sopan berteriak saat makan seperti itu!" timpal Midorima.
"Kise-kun memang berisik seperti biasa" tambah Kuroko.
"Aku penasaran-ssu! Saat aku menemani Yuki di UKS, Yuki sempat mengigau saat tidur. 'Haru! Haru!' seperti itu. Aku jadi penasaran-ssu" ujar Kise.
Seluruh mata yang ada disana langsung menuju Nijimura bersaudara. Mata Yuki membesar, terkejut. Sama halnya dengan Shuuzo yang langsung tersedak minumannya. Shuuzo langsung menatap lekat ke arah Yuki, namun Yuki hanya menunduk. Dari semua pembicaraan yang ada di dunia ini, pembicaraan ini adalah yang paling sensiitf bagi Nijimura bersaudara, mungkin bagi keluarga Nijimura.
"Nee, Yuki-chan. Siapa itu Haru?" tanya Momoi terlihat penasaran. Begitu pula dengan seluruh yang duduk di meja itu.
"Haru...dia..."
.
.
.
To be Continued
Hohoho! Ricchan emang usil suka bikin tiap chap gantung. Hehehe :D
Saa,,
Review? Fav? Follow? Semuanya aja :D #plak
See you next time desu!
