Disclaimer: Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki and Yusuke Murata.


Higanbana

Entah itu air kehidupan atau racun yang mematikan

Degupan jantung ini tetap nyata

Wahai irama yang ada untuk membuatku mabuk kepayang


Sena berjalan dengan susah payah, meniti sebuah jalan setapak tak terawat yang pernah ia lalui musim gugur tiga tahun lalu. Matahari sudah lama menghilang ke peraduannya, dan kabut tebal mulai turun. Sekarang cahaya pembimbing Sena hanya berasal dari sebuah senter berukuran sedang di tangannya. Benar-benar suasana penuh nostalgia, eh?

Napas Sena memburu, kepalanya pusing, dan peluh telah membanjiri pelipis. Ia merasa begitu lemas, seolah kakinya sudah tak sanggup membawa ia pergi lebih jauh lagi. Bahkan terkadang pemandangan pohon-pohon dengan dedaunan berwarna kekuningan di sekeliling jalan setapak itu menjadi kabur di matanya.

Namun Sena tidak menyerah. Dia terus memaksa kakinya untuk melangkah di sepanjang jalan yang kini tertutup oleh helaian daun-daun Momiji berwarna kecokelatan. Sedikit lagi, tinggal sedikit lagi, begitu ia terus menyemangati diri sendiri.

Mungkin ide untuk kabur dari rumah sakit dan pergi ke Kyoto diam-diam seperti ini memang bukan ide bagus. Tapi Sena harus pergi. Ia harus pergi ke sana sekali lagi.

Sena ingin bertemu dengan Suzuna sekali lagi. Untuk terakhir kalinya.

Cukup lama berjalan menempuh medan yang—entah kenapa—terasa jauh lebih berat dibandingkan dengan tiga tahun lalu, Sena akhirnya sampai di depan sebuah undakan batu berlumut yang ia kenal. Undakan batu itu masih terlihat sama seperti dulu; kusam, terdapat retakan-retakan kecil di sana-sini, dan berlumut, tentu. Di puncak undakan batu tersebut masih berdiri tegak seperti dulu, sebuah torii dengan cat merah yang sudah memudar.

Perasaan rindu dan lega menyergap Sena. Dan seulas senyum lemah pun mengembang di bibirnya. Akhirnya ia berhasil sampai kemari!

Perlahan, Sena melangkah ke atas tangga batu itu. Dengan hati-hati ia mendaki satu demi satu anak tangga berlumut, mendekati torii di depan si kuil tua—tempat tujuannya. Setelah melewati torii tersebut, Sena kembali disambut pemandangan tak asing lain,― hamparan Higanbana dan ilalang yang memenuhi halaman kuil.

Sembari menutup mata perlahan-lahan, Sena menghirup udara malam pegunungan yang dingin dan berkabut. Segera saja wangi khas pegunungan menyeruak memenuhi rongga hidung dan paru-parunya… Ah... wangi ini mengingatkan Sena pada—

"Lama tidak bertemu ya, Sena," sebuah suara tiba-tiba menyapa Sena, membuyarkan lamunan pemuda itu.

Sena berbalik, dan sama seperti tiga tahun lalu, ia mendapati sosok Suzuna berdiri tak jauh darinya.

Aneh, sungguh aneh. Tak ada satupun yang berubah dari Suzuna—rambut berwarna birunya masih berpotongan pendek; kimono, obi, dan geta yang ia kenakan pun masih sama seperti dulu. Dan ia juga masih tetap… mempesona. Kulit putih itu masih tetap kelihatan bercahaya di tengah-tengah lautan kabut, dan sepasang mata jernih tersebut masih tetap menyejukkan. Daya tarik yang aneh masih saja terpancar dari sosok gadis misterius ini.

Suzuna masih tetap bagaikan mutiara yang berpendar di tengah kegelapan palung laut terdalam—begitu cantk dan tampak magis. Benar-benar personifikasi sebuah khayalan, tak lekang ditelan waktu.

Kalau begitu… apa mungkin dugaan Sena tiga tahun lalu bahwa Suzuna adalah hantu itu benar? Entahlah… Mungkin benar, mungkin juga tidak.

Saat ini jujur saja Sena tidak terlalu perduli apakah gadis ini hantu atau bukan. Saat ini yang penting bagi Sena hanyalah Suzuna yang ada di hadapannya, tersenyum dan menyapa ia… Akhirnya, akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan sosok yang sudah lama ia rindukan—sosok yang mencuri hatinya tiga tahun lalu.

"Suzuna…" Sena bisa merasakan suaranya bergetar.

Suzuna berjalan menghampiri Sena dengan sebuah senyum ceria mengembang di bibir merah jambunya. Lengan yukata Suzuna sedikit berkibar ketika ia berjalan, semakin menguatkan kesan magis pada diri gadis itu.

"Yaa~ Jadi, apa yang membawamu kembali kemari? Apa kau kangen padaku?" tanya Suzuna main-main.

Bibir Sena semakin gemetar. Tubuhnya terasa lemas. Ia begitu lelah.

Perlahan, Sena meletakkan kepalanya yang terasa berat di atas pundak Suzuna. Lalu merengkuh sepasang tangan halus si gadis dalam genggamannya.

"Aku… lelah…" ucap Sena. Dan sebuah isakan kecil pun segera menyusul kata-katanya. "Aku lelah dengan hidup ini, Suzuna…."

Suzuna menyandarkan kepalanya ke atas kepala Sena dan berbisik di telinga pemuda malang yang tengah terisak itu. "Ada apa, Sena? Apa yang terjadi padamu?"

"A-aku… hidupku diperkirakan hanya tinggal tiga sampai empat minggu lagi…" Sena berusaha menjelaskan di antara isakannya.

Sena terdiam sebentar, berharap Suzuna akan mengatakan sesuatu. Menanggapi kepahitan yang baru saja ia tuturkan. Namun nyatanya Suzuna hanya terdiam. Maka Sena pun meneruskan,

"Aku benar-benar tidak habis pikir... kenapa harus aku... yang mengalami semua ini? Setelah kebahagiaan hidupku direbut... oleh leukimia ini, apa aku juga... masih harus mati dengan penuh penderitaan karenanya?! Tu-tubuhku ini sudah rusak, Suzuna! Aku... tidak bisa lagi bermain Amefuto... yang sangat kusukai.... Tidak bisa latihan... bersama teman-teman lagi... A...aku—"

"Shhh..." Suzuna berbisik lagi, berusaha menenangkan Sena. "Apa sebegitu menderitanya, Sena?"

Sena hanya mengangguk kecil.

Suzuna menghela napas, lalu ia tersenyum. "Ya~ Sena, seandainya aku punya cara untuk menghapuskan semua penderitaanmu, bagaimana?"

Isakan Sena terhenti. "A... apa maksudmu?" tanya Sena sambil mengangkat wajahnya, memandang langsung ke dalam sepasang bola mata biru pucat Suzuna.

"Ikutlah denganku, Sena." ucap Suzuna. "Dengan begitu, aku bisa menghapuskan semua penderitaanmu. Kau tidak akan sakit lagi. Dan... kita bisa bersama untuk selamanya. Kau akan menjadi satu denganku, tidak akan terpisahkan lagi..."

Sena tertegun mendengar tawaran Suzuna. Dia bisa menghapuskan semua penderitaannya? Dan... mereka berdua bisa bersama untuk selamanya.... Selamanya....

Kalau dipikir dengan akal sehat, tawaran Suzuna tentu terdengar begitu mustahil. Tapi Sena yang bagaikan tersihir oleh pesona sepasang bola mata sejernih permata milik Suzuna, tidak bisa menolak tawaran gadis misterius ini. Tanpa bisa melawan hasrat dan kerinduan dalam hati akan sosok yang tampak begitu murni di hadapannya, Sena mengangguk. "Aku akan ikut denganmu."

Suzuna tersenyum lagi. Senyum itu... senyum yang sama yang telah membuat Sena mabuk kepayang...

Jantung Sena berdegup semakin cepat. Kedua tangan halus Suzuna perlahan merengkuh tubuhnya yang lelah ke dalam sebuah pelukan.

"Ayo kita pergi, Sena." ucap Suzuna pelan.

Angin malam yang dingin menusuk tiba-tiba saja menderu di sekeliling mereka, membawa tirai-tirai kabut menari dan berputar bersama irama yang semakin menggila. Terus dan terus... Wangi sang malam terasa begitu tajam, seolah memeluk Sena, menggenggam kelima indera pemuda ini.

Kelopak Higanbana berwarna merah menyala berguguran dan berputar di sekeliling mereka berdua, mengingatkan Sena pada sebuah upacara pernikahan yang pernah ia lihat dulu—upacara pernikahan dalam siraman kelopak mawar merah.

Dan perasaan bahagia yang sulit digambarkan pun mulai merayapi Sena. Ia merasa begitu ringan, seolah ia memiliki sepasang sayap yang membawanya terbang begitu tinggi... Lebih tinggi lagi... Lebih tinggi lagi... Meninggalkan semua kesedihan dan penderitaan.

Inikah puncak kebahagiaan itu?

Detik berikutnya, bersamaan dengan meredanya sang angin, dua sosok di tengah halaman kuil itu pun lenyap.

'Menghapuskan semua penderitaan...'

FIN


Note: tentang Momiji juga nggak saya jelasin karena kayaknya sudah jadi pengetahuan umum. ^^

Yaaa~~ Selesai juga fic SenaSuzu pertama saya. Hehehe...Semoga untuk seterusnya saya bisa meningkatkan kualitas tulisan saya yang rasa-rasanya belum ada apa-apanya ini. (Amin!)

Review would be very appreciated~