Under The Sky [Ch. 2]

AU, Adventure, Family,

Rated T

Warn : Typos, OOC, No Pair

Boboiboy dkk punya animonsta. Yang punya cerita saya, sedikit terinspirasi dari anime Akatsuki no Yona, tapi keseluruhan cerita sangat banyak berbeda, tapi bukan berarti gak ada yang sama, ada sedikit lah.

Thanks buat Boboiboy dan Akatsuki no Yona

Just for Fun!

.

.

Gempa mendekati wanita bersurai blonde yang tengah menghisap cerutu di bawah pohon. Wanita itu, Mirajane meliriknya dan melepaskan cerutu dari bibirnya.

"Duduklah, ada apa?" tanya Mirajane padanya.

Gempa menggeleng, "Anu, Bibi.."

"Duduk, tidak sopan berdiri di hadapan orang tua yang sedang duduk." Sela Mirajane cepat.

Gempa pun menurut, "Tua kok seneng.." celanya dan mendapat jitakan kecil di kepala.

Cerutu di letakkan di atas asbak, "Ada apa?" tanya Mirajane lagi.

"…Bibi.. tolong izinkan aku untuk pergi mencari saudara-saudara ku!" ucap Gempa.

"Lalu?"

Gempa mengerjap, "Lalu?" ia bertanya balik.

"Apa yang kau lakukan setelah itu?" tanya Mirajane, mengambil lagi cerutunya.

"…Mmm… tinggal bersama mereka? Uhm… tidak-tidak, aku belum memutuskannya." Jawab Gempa.

"Lalu, dalam perjalanan nanti apa yang akan kau lakukan?" tanya Mirajane, lalu menghisap kembali cerutunya.

"Tentu saja, mencari saudaraku bukan?" tanya Gempa balik, terpaan asap langsung menyapa hidungnya, membuatnya terbatuk.

"Apa kau bisa menjaga dirimu?" tanya Mirajane.

Gempa mengangguk kecil.

"Jika ada yang menyerangmu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Mirajane lagi.

"Erm… Serang balik?" tanya Gempa.

"Makan?"

"Aku bisa beli!"

"Pakai uang siapa?"

"Eheheh…"

"Jika ada masalah padamu, apa yang akan kau lakukan?"

"Masalah? Hmm… aku akan memecahkannya."

"…"

"Bibi tak usah khawatir! Aku sudah 17 tahun! Aku sudah dewasa, aku bisa mengatur diriku sendiri!" seru Gempa.

Hembusan asap kembali menerpa wajah Gempa. Gempa terbatuk lagi, "Bibi!"

Mirajane berdiri setelah sebelumnya mematikan cerutunya, "Ikuti aku," ucapnya kemudian.

Mereka masuk kerumah dan berjalan menuju Ochobot yang sedang menjahit. Lalu Mirajane menarik Ochobot untuk berdiri, dan anak itu hanya menurut sambil bingung.

"Gempa," Mirajane memanggil Gempa, "Kalau kau ingin ku izinkan pergi, bawalah Ochobot bersamamu." Ucapnya kemudian.

Gempa terperanjat, "Eh? Aku tidak mau! Aku tidak ingin menempatkan Ochobot dalam bahaya!" teriaknya.

Telunjuk Mirajane menunjuk kearah Gempa, "Justru itu aku menyuruh kau untuk membawa Ochobot. Kau ini selalu dalam bahaya! Mengurus diri sendiri saja tidak bisa!" serunya yang langsung menohok hati Gempa.

Ochobot mengerjap, bingung.

"Jika kau membawa Ochobot, akan ada yang memperhatikan hidupmu yang kadang tidak kawuran itu. Ia bisa mencegahmu untuk tidak melakukan hal-hal bodoh, lalu…."

"Baik! Baiklah!" Ocehan Mirajane adalah hal yang paling tidak ingin di dengar Gempa.

"Ehh.. Gempa ingin pergi kemana?" tanya Ochobot masih bingung.

"Aku ingin mencari saudara-saudaraku." Jawab Gempa.

"Saudaramu?" tanya Ochobot antusias, "Aku ingin melihatnya!" serunya kemudian.

Mirajane membuka lemari, dan mengambil sebuah kotak besar dan membuka kotak itu, lalu mengambil sebuah gulungan kertas. Ia lalu berjalan kearah Gempa dan Ochobot sambil membuka gulungan itu dan menunjukkannya di depan kedua orang itu, sebuah peta.

"Gempa, lihat beberapa daerah yang sudah ku tandai ini?" tanya Mirajane sambil menunjukkan beberapa daerah yang di silangi.

Gempa mengangguk, memperhatikan peta itu dengan seksama.

"Ini adalah beberapa daerah yang kuperkirakan di mana kakak atau adik mu berada," ucap Mirajane, Gempa mengangguk, "tapi aku membuat ini sudah lima tahun yang lalu, jadi mungkin ada perpidahan lokasi." Sambung Mirajane, Gempa melongo.

Mirajane menunjuk sebuah daerah, "Ini adalah lokasimu sekarang," ucap Mirajane, lalu ia menggeser jarinya ke daerah lain, "Ini lokasi terdekat tujuanmu, hanya saja jaraknya kira-kira enam puluh kilo." Rahang bawah Gempa jatuh.

Mirajane tertawa melihatnya, "Kau mau berpikir ulang untuk membatalkan niatmu?" tanyanya.

Gempa menggeleng kuat, "Aku ingin mencari kakak adikku!" serunya.

Mirajane mengangguk, lalu menggulung kertas itu dan memberikannya pada Gempa.

"Dah, sana. Siap-siap." Ucapnya, Gempa mengerjap.

"Aku beneran di izinkan?" tanya Gempa.

"Pergilah, sebelum aku berubah pikiran, bocah." Jawab Mirajane.

Gempa tersenyum lebar, dan mengambil kantung dan mengisinya dengan beberapa benda.

"Kau juga, Ochobot." Ucap Mirajane.

Ochobot menatap wanita itu, "Apa tidak apa-apa?" tanyanya.

Mirajane mentapnya dengan pandangan bertanya.

"Bibi tidak apa sendiri?" tanya Ochobot.

Mirajane tersenyum manis, "Kau khawatir padaku?" Ochobot mengangguk kecil.

"Tenang saja, aku bukan Gempa," Ochobot tertawa mendengarnya, "dan… bibi titip jaga Gempa ya? Kau juga, jaga dirimu." Ochobot mengangguk.

.

.

.

"Bibi, siapa saja nama teman bibi yang merawat mereka?" tanya Gempa sambil mengikat tali sepatunya.

"Hmm… siapa ya… ah ya, ada Kiyoshi, Anna, Roderick, dan… Li.. li… Xiao!" jawab Mirajane.

Gempa mengangguk, "Baiklah, terimakasih bibi." Ucapnya dan berdiri.

Mirajane tersenyum, "Hei, bocah-bocah. Ingat, untuk berkunjung kemari jika pencarianmu sudah selesai."

Gempa mengangguk, lalu memeluk wanita yang telah mengasuhnya itu, "Terimakasih Bibi Mira." Ucapnya.

Mirajane tertawa, dan menepuk punggung Gempa. Ochobot pun ikutan memeluk Mirajane.

"Aih, kalian ini kenapa?"

Gempa merengut, "Bibi ikutan saja lah…" merajuk.

Jitakan mendarat di kepala Gempa, "Kau ini.."

"Aku bercanda," Gempa tertawa.

Keduanya melepaskan pelukan mereka, "Kami pergi dulu, Bibi! Sampai jumpa..!"

"Selamat jalan…!"

.

.

=CoffeyMilk=

.

.

Gempa tersenyum lebar, kini mereka tengah melintasi sebuah hutan, senyumnya semakin lebar saat melihat sungai yang jaraknya beberapa meter di sampingnya.

"Ochobot!"

Ochobot menoleh, "Bagaimana kalau kita istirahat dulu?" tanya Gempa, "Aku melihat sungai." Lanjutnya sambil menunjukkan sungai yang dilihatnya tadi.

Ochobot melihat apa yang ditunjuk Gempa, "Huh? Oh, oke." Jawabnya.

Keduanya lalu berjalan menuju sungai berada, Gempa sangat senang melihat air sungai yang mengalir dan terlihat jernih itu, ia langsung mencuci wajahnya dan meminum air itu.

"Haaahh…! Segarnya!" serunya.

Ochobot pun melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Gempa, lalu mengisi kantung minumnya dengan air sampai penuh.

"Lebih baik kau juga segera mengisi kantung minum mu Gempa," ucap Ochobot.

Gempa melepaskan jaket yang ia pakai sambil menatap Ochobot, "Heh? Buat apa?" tanyanya.

"Tentu saja, kita kembali perjalanan lagi." jawab Ochobot.

Gempa terdiam beberapa detik sambil menatap Ochobot, lalu mendengus, "Heh."

Ochobot menatapnya bingung.

"Tidak usah terlalu terburu, Ochobot," ucap Gempa, lalu menunjukkan ikan yang berenang-renang di sungai, "mau ikan bakar?" saran Gempa.

Ochobot termangu, "Baiklah."

"Oke! Aku akan menangkap ikan, kau cari kayu bakar!" ucap Gempa.

"Ok." Ochobot segera pergi.

Gempa melempar jaketnya begitu saja ke atas tasnya yang berada di rerumputan. Ia pun menggulung lengan baju dan celananya, lalu masuk kedalam sungai.

"Wuuhhh… dingin!" serunya.

Gempa menjilat bibirnya saat melihat beberapa ikan yang berada dalam jangkauannya. Ia lalu mengambil ancang-ancang untuk menangkap salah satu ikan yang berada di sekitar kakinya.

"Yosh! Aku akan mendapatkannya!"

Splash!

Gempa mulai menangkap satu, namun ikan yang akan di tangkapnya segera berenang dengan cepat. Lagi, ikan itu pun melarikan diri. Berikutnya, ikan-ikan mulai menjauh darinya.

Gempa merutukkan giginya, "Sial, mereka gesit." Umpatnya.

Gempa mulai lagi, kali ini ia dapat satu dan segera melemparnya keatas rumput. Ia pun mengambil ancang-ancang lagi untuk menangkap ikan, lalu segera memasukkan tangannya, berusaha mengambil ikan yang ia targetkan.

Ikan itu berenang menghindari, dan Gempa mencoba mengejarnya, dan kakinya pun menginjak bebatuan licin yang ada dalam air dan kepleset.

Byuurr!

Gempa mengumpat, bajunya basah semua. Ia pun segera berdiri, dan mendapati ada ikan yang terperangkap dalam bajunya. Ia tersenyum senang, mengambil ikan itu dan segera melemparnya kearah rumput. Namun, ia kaget saat melihat Ochobot yang duduk menanti dan di sampingnya ada setumpuk ranting pohon.

"Huah! Sejak kapan kau ada di situ?" tanya Gempa.

"Sejak sebelum kau mencoba mengejar ikan." Jawab Ochobot sambil menatap Gempa dengan wajah datar.

Gempa merona hebat, "Kau melihatnya?!" tanyanya.

"Iyalah." Jawab Ochobot sambil mengatur ranting dan menyalakan api.

Gempa berdeham, dan keluar dari sungai. Ia melepas baju dan celana yang ia pakai lalu memerasnya sampai airnya hilang.

"Ochobot, kau bawa tali?" tanyanya pada pemuda yang lebih muda.

Ochobot segera mengambil tali dari tasnya dan memeberikannya pada Gempa, lalu melanjutkan aktivitasnya, membakar ikan.

Selesai menjemur bajunya yang basah, dan hanya memakai selembar boxer, ia duduk di dekat Ochobot.

"Bagaimana ini? Kau malah membasahi bajumu." Ucap Ochobot.

Gempa nyengir, "Hehe sori. Yah, kita bisa bersantai dikit.." balasnya.

Ochobot mencibir, lalu keduanya terdiam.

"Dingin ya." Ucap Gempa.

"Karena kau tidak memakai baju." Balas Ochobot.

"Mau gimana lagi? aku gak mau makai baju yang satunya untuk sekarang, terlalu merepotkan untuk mengeluarkannya." Ucap Gempa.

Ochobot mengangguk dan mengambil ikan bakar yang sudah jadi pada Gempa.

"Oh, terimakasih." Ucap Gempa.

Ochobot mengangguk dan mengambil bagiannya. Keduanya lalu makan dalam diam.

"Entar, kita makan apa?" celetuk Gempa.

Ochobot menghentikan aktivitasnya, "Tergantung bahan yang ada sih," jawabnya.

Gempa menggerutu, "Tapi kalau kau lapar, aku ada buah. Kau bisa memakannya nanti." lanjut Ochobot.

Mata Gempa memicing, "Sebetulnya apa sih yang ada tas mu?" tanyanya.

Ochobot memasang pose berpikir, "Hm.. baju, alat masak, beberapa bahan makanan, bumbu masak, pisau, gunting, tali, senter, korek api, buku dan lain-lain lah," jawabnya.

"Bawaanmu banyak banget, tapi tasnya kecil. Ada ruangan rahasianya ya?" celetuk Gempa.

"Enak aja, kau sendiri bawa apa?" tanya Ochobot.

"Baju tentu saja, terus peta, kompas, teropong, pisau lipat, pedang pendek, apa lagi yaa… lupa." Jawab Gempa.

Setelah ikan mereka habis, Gempa segera mengambil jaketnya dan memakainya, lalu mengeluarkan peta dari tas. Ia membuka peta itu di hadapan Ochobot.

"Kira-kira dimana kita?" tanya Gempa.

Ochobot menatap peta itu, "Entahlah."

"Sudah berapa jauh kita berjalan?" tanya Gempa lagi.

"Hmm… mungkin… dua belas kilo?" jawab Ochobot sedikit bertanya.

Gempa menelusuri peta dari arah dia pergi hingga menemukan sungai, "Ini sungainya," ucap Gempa, Ochobot kembali menatap peta.

"Daerah yang kita tuju masih cukup kauh," ucap Gempa sambil menunjuk daerah yang akan mereka tuju, "sedangkan kita nanti harus melewati sebuah desa kecil, hutan,…" lanjutnya sambil menunjukkan beberapa tempat, "Bukit, hutan lagi, lalu sampai di daerah ini."

"Jadi kalau sehari kita hanya mendapan belasan kilo… mungkin kita akan sampai ke daerah itu tiga atau empat hari." Ochobot berucap sambil berhitung dengan tangannya.

Gempa menatapnya, "Yaa… itu sih kalau gak ada masalah." Sahutnya.

Ochobot mengangguk, "Jadi gimana? Mau lanjutin jalan lagi?" tanyanya.

"Bisa sih," jawab Gempa, "tapi.. masalahnya…." Ia lalu melihat bajunya yang masih di jemur.

"Kalau begitu tunggu sejam aja lagi." sahut Ochobot.

"Oke… kalo masih belum kering akan tetap aku pakai saja, nanti juga kering…" ucap Gempa.

.

.

.

Gempa dan Ochobot terus melanjutkan perjalanan mereka, dan beberapa kali mereka berhenti untuk istirahat. Terkadang mereka mengalami jalan buntu lalu mengambil jalan memutar, dan akhirnya mereka sampai di sebuah desa.

Gempa dan Ochobot terkejut saat melihat keadaan desa yang mereka kunjungi sunyi. Tak ada tanda-tanda kehidupan di tempat itu, terlihat orang pun tidak. Keduanya berjalan dengan sedikit was-was sambil melihat kanan-kiri mereka.

"Hey, Gempa… kemana semua orang yang berada di sini?" bisik Ochobot sambil menyikut pinggang Gempa.

"Mana aku tahu," balas Gempa berbisik.

"Mereka tidak bersembunyi untuk menakuti lalu menangkap kita kan?" tanya Ochobot, masih berbisik.

"Hentikan imajinasi langitmu, Ochobot. Itu tidak mungkin." jawabGempa berbisik.

"Tapi ku baca di novel begitu." Ucap Ochobot.

"Iya, itu namanya imajinasi saja. Itu hanya fiksi, tolonglah." Balas Gempa.

"Tapi… apa yang terjadi dengan desa ini?" tanya Ochobot.

"Ntahlah…"

Keduanya menelusuri jalan utama desa itu, sesekali Gempa menngintip salah satu rumah yang ada di tempat itu, tapi kosong tak ada isinya.

"Sepertinya penduduk desa ini sudah pindah atau bagaimana…" ucap Gempa.

"Gempa, lihat." Sahut Ochobot.

Gempa menoleh dan terjingkat saat melihat apa yang di temukan Ochobot, tulang belulang manusia berserakan di sebuah jalan buntu. Keduanya lalu saling menatap.

"Apa kau satu pikiran denganku, Ochobot?" tanya Gempa masih berbisik.

Ochobot mengangguk cepat.

"LARIIIIIIII…..!"

.

.

Gempa meminum kuah supnya dengan rakus, lalu menghela napas.

"Ada apa dengan desa itu? Bibi Mira tidak pernah memberitahukannya pada kita." Ucap Gempa.

"Tenang saja, mungkin Bibi Mira kita belum saatnya peduli dengan hal itu, di lihat dari sisa tulang mereka sepertinya sudah begitu bertahun-tahun," ucap Ochobot lalu mengahabiskan sisa supnya, "Kemungkinan besar penduduk pergi untuk menyelamatkan diri dan tak pernah kembali ke desa itu lagi…"

Gempa meminum kuah supnya lagi hingga habis, dan menunduk. "Sungguh kasihan…" lirihnya.

Ochobot membersihkan alat-alat makannya dan menaruhnya di tas.

"Ayo jalan lagi!" seru Ochobot.

Gempa mengangguk. Dan mengikuti langkah Ochobot.

"Setelah kita menuruni bukit ini, kita akan melewati hutan, dan kita bakalan sampai di tempat tujuan!" seru Ochobot senang.

Tak ada jawaban, Ochobot menoleh, mendapati Gempa mematung sambil menatap langit, wajahnya terlihat sedih. Melihat hal itu, raut wajah Ochobot juga berubah sedih.

"Hei, Gempa, Kau tahulah, untuk sekarang yang lalu biarkan berlalu, kita punya masalah sendiri saat ini—" ucap Ochobot.

"—Aku kebelet BAB, aku harus membuangnya dimana?" sela Gempa cepat.

"—WHAT." Ochobot menatapnya dengan mata melebar dan bibir mengatup kemudian.

"Cepetan Ochobot! Perutku sakit!" keluh Gempa.

Ochobot celingukan, mencari tempat, "Itu di balik semak-semak!"

"Oke, tunggu ya!"

.

.

.

Keduanya kini memasuki hutan, sesekali menatap sekelilingnya dan berjalan pelan karena tanah yang licin. Beberapa jam telah berlalu, dan mereka sudah setengah hutan mereka lewati.

"Gempa, apakah di dekat sini tidak ada sungai?" tanya Ochobot.

Gempa celingukan, "Tidak, kenapa?"

"Aku ingin sekali mandi, sudah tiga hari gak mandi nih, rasanya gak enak banget." Jawab Ochobot.

"Elah, baru tiga hari, aku bahkan pernah seminggu gak mandi." Sahut Gempa.

"Ya, aku kan bukan kau, Gempa." Balas Ochobot kesal.

"Tolooong…!"

"Sabar dikitlah, kalau sudah sampai kota, kita cari penginapan dan kau bisa mandi disana— kau dengar teriakan?" tanya Gempa.

Keduanya berhenti berjalan. Ochobot mengangguk.

"Tolooong…!"

Gempa dan Ochobot saling pandang, "Dimana?" bisik Gempa.

Keduanya menatap sekeliling mereka.

"Di atas…! Di ataass!"

Gempa dan Ochobot perlahan menengadahkan kepala mereka, dan mendapati seorang pemuda tambun yang terjerat di sebuah jaring dan tergantung di pohon.

"Huh?!"

.

.

TuBerCulosis/bukan

Jangan timpuk saya, pelis. Akhirnya sedikit humor garing kriuk-kriuk, wokeh.

Sori juga kalo Boboiboy yang lain belum muncul, chapter tiga baru muncul.

Makasih banyak buat yang bacaa~ jangan lupa review yua~ makasih juga yang kemarin udah review~

Pertanyaan, koment, kritik, diterima~

Adios!