Pelatih nan ababil datang! Poni super badai seorang Chiba Ryuunosuke dibahas di dalam fic ini!


Paskibra, by Iluya.

Ansatsu Kyoushitsu, by Matsui Yusei.

Pairing utama KarmaNagisa, tapi mungkin nyerempet pairing lain.

Saya hanya meminjam karakter-karakter Matsui-sensei.

Saya juga tidak mendapat keuntungan apapun dari fic ini.

Enjoy reading, minna!


"Oi Karma, ayok jailin aja, daripada bosen.", ucap Asano yang menghancurkan semangat Nagisa, Nakamura, dan Ryuunosuke. Karma menyeringai.

MAMPUS GUE, batin mereka bertiga serempak (?).

"Tapi gajadii~~~", ucap Karma girang sambil tertawa nista. Tiga junior yang sudah dag-dig-dug itu pun menghela napas lega.

Namun, kelegaan mereka berhenti ketika seorang Karma bertitah kepada Asano untuk menanyakan alasan ketiga junior ini masuk paskibra.

"Dimulai dari elu, yang rambut kuning sepunggung. Lu ngapain masuk paskibra?", tanya Asano kepada Nakamura. Yang ditanya hanya nyengir. "Gak tau, kak!", ceplos Nakamura enteng. Muncullah empat siku-siku di dahi Asano. "Jawab yang serius, woi!", teriak Asano. Nakamura angkat bahu.

'Gue aja dipaksa masuk sama emak gue, kak. Mana ngerti gue ngapa-ngapainnya lagi dah.', batin Nakamura pasrah.

Asano kemudian memasang muka (sok) keren, sambil menunjuk lapangan yang kelewat luas di belakang mereka menggunakan tangan kanan, dengan tangan sebelahnya yang berkacak pinggang. "Lari sana! Lima puteran ya!"

Nakamura menatap Asano sengit (?), merasa tidak terima. Namun apa daya, makin ditatap makin menjadi-jadi muka seniornya itu (?). Nakamura pun pasrah dan mulai berlari mengitari lapangan yang kelewat luas itu.


"Biarin aja itu makhluk kuning lari, sekarang, elu berdua, ngapain elu berdua masuk paskibra?", tanya Asano sambil menunjuk batang hidung Nagisa dan Ryuunosuke secara bergantian. Ryuunosuke hanya mengangkat bahunya dalam diam, sedangkan Nagisa...

"Ya suka-suka gue lah, mau masuk paskib kek, masuk basket kek, ato masuk tari balet juga selama gue mau gue bisa aja kali."

-'okesip, junior yang satu ini harus ditanganin secara eksklusif (?) sama si danton jadi-jadian.', batin Asano esmosi. Asano pun berteriak, "Oooi, Karmaaaaaaaaaaa- OHOKOKOK (?) WOI LU MASUKIN APAAN HAH, KE MULUT GUE?"

Setelah benda mencurigakan yang masuk ke mulut Asano dimuntahkan, Karma langsung tertawa nista. Asano pun membuka kelopak matanya jauh lebih lebar dari sebelumnya begitu melihat seekor belalang tergeletak di tanah.

-Yah, walaupun ada beberapa orang yang suka makan belalang, tapi Asano tidak sudi memakan hewan yang memiliki panjang sepanjang jari telunjuknya itu.-

Beberapa saat setelah Karma tertawa puas, ia bertanya kepada Asano, "Jadi, kenapa lu makan belalang- bukan, maksud gue, kenapa lu manggil-manggil gue? Ngefans? Mau minta foto? Minta tanda tangan? Atau mau 'tidur bareng'? Tarifnya mahal loh, sejam-"

Maehara -yang diekori Isogai-, yang kebetulan keluar dari tenda kesehatan dan melihat Asano yang bergerak akan meninju Karma, langsung melesat menyergap (?) Asano.

"WOI ASANO, JANGAN NGAMUK!" teriak Maehara sambil menahan Asano yang mencak-mencak. Dibantu oleh Isogai yang mengekor, tentunya.

-Tidak lupa, dari kejauhan, Nakamura yang sedang berlari segera membelokkan arahnya menuju ke lokasi kejadian, lalu ikut tertawa bersama Karma, disertai dengan Nagisa yang menahan tawanya.

"Asano, udah deh, kasian Maehara, pegel megangin kamu.", ucap Isogai lembut- wait, what?!

Asano yang masih memiliki nafsu ingin menendang Karma ke empang sekaliii saja (?) memberontak. Namun, ada seorang wanita seksi yang berjalan cepat mendekati mereka yang ada di sana. Sedetik setelah wanita seksi itu mendaratkan sepatu hak kanannya di tanah, ia langsung menjewer para senior sambil berteriak,

"HEH KALIAN INI SENIOR-SENIOR NGGAK BENER. ITU JUNIORNYA KEMANA AJA? KOK CUMA TIGA ORANG? TERUS KALIAN KACANGIN PULA? KATANYA SENIOR? TUGAS YANG BENER! TERUTAMA KAMU, DANTON!"

Asano yang sedang mencak-mencak tiba-tiba lemas dan merosot dari pegangannya Maehara. Maehara tersenyum kecut saat wanita itu tiba-tiba menjewer kupingnya keras-keras. Isogai sampai pingsan (?), bahkan Karma hanya bisa mengaduh saat telinganya dijewer. Iya, mengaduh, dan tidak membalas.

Nakamura, Nagisa, dan Ryuunosuke yang merasa asing dengan wanita ini mundur selangkah. Dua langkah, tiga langkah. Kemudian Nagisa pun angkat bicara, "Maaf sebelumnya, elu tuh siapa?" Sungguh sewot sekali dikau, Nagisa.

Wanita seksi itu langsung menatap Nagisa tajam. Ia melangkahkan kakinya mendekati Nagisa. Sambil membungkukkan badannya, membiarkan dadanya yang kelewat besar itu menggantung, ia menyentuh dagu Nagisa dengan telunjuk lentiknya, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Nagisa. "Hei nak, setelah pelantikan ini kau kosong?", tanya wanita itu menggoda iman.

Spontan, Nagisa merinding disko. Dikarenakan Nagisa adalah orang yang jijik terhadap jablay dan sejenisnya, Nagisa langsung mengambil langkah seribu dan masuk ke tenda kesehatan sambil berteriak sekencang-kencangnya, "ADA JABLAAAAAAAAAYYYYYYYYYYYYYY"


Setelah setengah hari menginap di tenda kesehatan, para junior berkumpul di lapangan yang kelewat luas dengan diawasi oleh senior-senior mereka yang ababil.

Karma berjalan ke depan barisan para juniornya lalu berdehem sedikit. Sebagai danton, dialah yang bersuka rela (baca : dipaksa pelatih) memimpin setiap sesi kegiatan. Karma pun memulai pidato singkat(?)nya yang tidak damai.

"Baiklah, sore hari ini kalian akan dibimbing langsung oleh pelatih kita yang seksi namun rese-nya kebangeta-AAAAAN SAKITTTTTTT BU SAKITTT-"

Dari posisi Nagisa, terlihatlah sesosok singa mesum (?) yang menerkam Karma. Padahal dari sudut pandang karakter lain (selain kedua pemeran utama sesi ini), juga... sama, sih... (*plak*)

Wanita jablay (menurut Nagisa) itu mengusir Karma dari hadapan para junior. Karma hanya mendecih dan berdiri di tepi barisan laki-laki, suatu kebetulan ia berdiri di sebelah Nagisa. Baiklah kita lewat saja dulu.

"Dasar si Karma. Ah iya, aku berdiri di hadapan kalian ini sebagai pelatih. Hormati aku.", ucap si wanita jablay (yang masih menurut Nagisa) sambil berkacak pinggang dan tersenyum bangga. "Aku Irina Jelavic, tapi panggil aku Ibu Vic! Aku tahu, aku tahu. Cantik-cantik begini, aku memang pelatih paskibra.", lanjutnya narsis. Para junior hanya memasang muka cengo mereka, sedangkan para senior sedang berusaha menahan tawa mereka.

"Yah, aku masih muda kok. Masih jauh dari kepala tiga. Jadi kalau ada yang mau berkencan denganku -terutama kau, anak laki-laki manis biru muda, kalian bisa langsung menghubungiku.", SYAH~ wanita jablay- maksudnya, Ibu Vic mengibaskan rambut badainya. Karma tertawa geli- namun segera ia tahan, mengingat seberapa sakitnya jeweran maut dari pelatihnya itu.

"Baiklah, senior yang laki-laki, sana ke pendopo siapin a*ua, disusun ya.", perintah sang pelatih dengan anggunnya- mungkin di mata Nagisa bukannya anggun, tapi justru menjijikkan. Para senior laki-laki pun pergi ke pendopo yang entah bagaimana caranya ada di tepi lapangan yang kelewat luas itu. Sementara itu, Ibu Vic memerintah para senior perempuan untuk pergi bersih diri.

Setelah semua senior pergi, Ibu Vic mengambil Iph*ne 6-nya dan menelepon seseorang.

Ya, dia ngacangin para junior begitu saja. Otomatis, Nagisa kesal. Ia mengambil sebuah batu kecil yang seukuran dengan jari jempolnya lalu melemparnya ke arah Ibu Vic.

Sialnya, meleset. Sungguh, Nagisa ingin mencak-mencak di tempat.

Sudah-sudah Nagisa, tenang, ada orang yang duduk di sebelahmu yang dapat membantumu *acung jempol*.

Ryuunosuke mengambil sebuah batu yang bentuknya mirip dengan batunya Nagisa, hanya saja ukurannya sedikit lebih kecil. Ia membidik (?) dan kemudian melempar batu itu- "WOAH, SUKSES KENA TUH, IPH*NE 6-NYA! PECAH WOI PECAH! HAHAHAH!"

"Nakamura, gak usah teriak-teriak juga dong, biasa aja kali.", ucap Kayano yang duduk di sebelah Nakamura, yang disebelahnya lagi terdapat sesosok pelempar batu jitu (?). Nakamura hanya cengengesan. Sementara Nakamura asik cengengesan, di sebelah Kayano sudah berdiri seorang Irina Jelavic yang mukanya merah padam- wah, kelihatannya marah, tuh.

"Chiba Ryuunosuke...", geram Ibu Vic yang kemudian menarik kerah baju seorang Ryuunosuke. "Kau akan mendapat hukuman, kau tahu.", lanjutnya galak. Mata Ryuunosuke memancarkan sinar (?) ketakutan- oh iya, nggak keliatan, secara, poninya badai begitu.

Sebagai teman yang (tidak) baik, Nagisa yang duduk di sebelah Ryuunosuke tampak menahan tawanya yang kelihatannya akan meledak sesaat lagi. Hal itu membuat laki-laki yang poninya super badai ini memunculkan empat buah sudut siku-siku di dahinya- maaf lupa, gak keliatan.

'ah sudahlah, Ryuunosuke leleus mak, leleus.', batin Ryuunosuke nista. Ia pun menghela napas sambil memejamkan matanya- gak keliatan. Ngapain dijabarin ya kalau gitu, menuh-menuhin aja. Mata doang kok dipanjang-panjangin urusannya. Authornya sih, pake manjang-manjangin, ya gak, readers? Ya kan? Kan? Authornya ribet nih ah.

-Sudahlah, kita abaikan aja masalah barusan. Lanjut aja.-

Saat Ryuunosuke membuka matanya, entah bagaimana caranya ia sudah berada di hadapan barisan para teman seperjuangannya. Sungguh super sekali seorang Irina Jelavic. Ketularan Koro-sensei mungkin? Entahlah. Hanya Ibu Vic, Koro-sensei, dan tuhan yang tahu.


Tu Bi Kontinyu...


Spoiler next chapter!

.

"Hmm, apa ya, hukuman yang cocok untuk makhluk unyu sepertimu...", gumam Ibu Vic nista.

Plis deh bu, Ryuunosuke unyu darimananya coba? Yah, poninya unyu sih.

...

...

...

"Gausah ketawa!", teriak si danton berambut merah ngejreng. Nagisa yang cekikikan langsung menutup mulutnya dan menggeram kesal. Si danton berambut merah ngejreng itu berjalan mendekati Nagisa dan berhenti sejenak. Ia membungkukkan badannya dan menatap wajah Nagisa dari dekat.

...

...

...

"NAGISAAA, TEMENIN GUE KE TOILET!", seru Nakamura. Nagisa menggeram kesal. Ia balas berteriak kepada Nakamura,

"GUE COWOK WOI. KIRA-KIRA KEK KALO NGAJAK-NGAJAKIN ORANG!"


AAAA- AMPUNI SAYA YANG NGGAK ADPET-APDET-

SAYA KHILAAFFFF-

Tapi pokoknya! Makasih banyak loh ya buat yang udah baca chapter sebelumnya!

Makasih yang lebih lebih lagi buat yang nyempetin buat ngereview!

.

Ngomongin soal fic ini...

Kenapa nama chapter dua ini 'Badai Madness'? Yaa, karena saya merasa udah ngetik banyak sekali kata-kata 'badai', jadi ya gitu. /plak

Ohiya, mudah-mudahan bulan Agustus sudah apdet chapter tiga!

Do'ain aja!

.

Satu lagi!

Saya minta maaf buat yang udah baca chapter ini-

Apalagi yang udah greget-gregetnya liat spoiler chapter berikutnya- saya rasa ada kesalah pahaman di antara kita- /gak

Jadi buat spoiler chapter selanjutnya sudah saya edit!

(Maafkan saya yang pehape sangat ini-)

.

Segini dulu buat di chapter ini,

mind to review?

makasih udah mampir~