Disclaimer : Masashi Kishimoto

Main Cast : SasuSaku


::::DONT LIKE DONT RIDE::::

Chapter 2

Sebuah syomphony indah terdengar dari sebuah ruangan, suara piano itu berdenting sangat indah. Rupannya sang pianis sangat menghayati lagu yang sedang ia mainkan. Karena dengan memainkan symphony ini, dia bisa kembali mengingat seseorang yang telah pergi jauh dari hidupnya.

"Sudah berapa lama kau disini? Sebentar lagi giliranmu tampil teme," Ujar seseorang yang sedang berdiri diambang pintu, pria dengan tubuh tegap, tiga garis seperti kumis di wajahnya yang berkulit tan, kalian tahu bukan?

Sasuke terlihat menghentikan permainan pianonya, helaan nafas panjang terdengar berat dari mulut pria itu, sahabatnya itu datang di waktu yang tidak tepat.

"Aku tau bagaimana perasaanmu teme, tapi musisi sepertimu harus tetap provesional walau kau sedang dirundung masalah." Naruto mulai mendekati Sasuke, memang Naruto tahu bahwa sahabatnya ini sangat kehilangan Sakura, namun apa yang bisa diaperbuat?

"Terlalu terlarut dalam kesedihan itu tidak bagus teme, aku yakin Sakura-chan akan kembali padamu!" Lanjutnya sambil memberikan tepukan ringan di bahu Sasuke.

"Hn," Sasuke menutup pianonya lalu beranjak keluar dari ruangannya, meninggalkan Naruto sendirian.

"Haahhhh~~~ Kalau saja aku jahat, aku tidak akan sudi memproduseri bocah dingin itu! Teme, teme, dia itu tidak mudah melepaskan juga tidak mudah menyukai sesuatu." Racau Naruto kemudian mengikuti jejak Sasuke meninggalkan ruangan aktrisnya itu.

Sasuke memang masih kuliah begitu juga dengan Naruto. Namun kemampuannya dalam bermain musik yang terbilang sangat berbakat mengantarkannya pada dunia entertaiment. Naruto yang kebetulan seorang pemimpin sebuah label terkenal milik ayahnya, Minato, sengaja memproduseri Sasuke untuk mendongkrak kariernya, dan juga berharap Sasuke bisa melupakan sedikit tentang Sakura dengan kesibukannya manggung sana-sini. Dan beginilah Sasuke sekarang, dia seorang penyanyi hebat yang sangat di gandrungi semua orang. Bukan saja karena kepintarannya bermain musik, suara Sasuke juga terbilang sangat merdu di tambah wajahnya yang tampan sehingga sangat mudah baginya untuk membius para gadis.

Tapi Sasuke tetaplah Sasuke. Dia tidak pernah menerima satupun wanita yang datang menggodanya, karena didalam hati Sasuke yang paling dalam nama Sakura sudah terkunci, tak ada yang dapat membukanya dan menggantikan posisi Sakura di hati Sasuke kecuali takdir.

"Whaaaaaaa! SASUKE! DIA TAMPAN SEKALI!" Jerit histeris dari para fans Sasuke saat Sasuke memasuki panggung.

Sasuke mulai meraik mikrofon di depannya, bersiap-siap memulai pertunjukan dengan gitar yang melingkar di leher jenjangnya. Menatap tribun penonton dengan datar, dan berucap, "Untuk seseorang yang jauh disana, kumohon kembali. Karena aku sangat merindukanmu..." Kemudian Sasuke mulai membuka suaranya yang merdu. Memang ini bukan pertama kalinya Sasuke berucap seperti itu, di setiap penampilannya-pun Sasuke selalu mengucapkan kalimat itu. Dengan harapan, jika suatu saat Sakura mendengarnya, dia akan kembali padanya, mengisi hatinya yang sedang kosong sekarang, dan kembali membuatnya merasakan hidup yang benar-benar berarti.

.

.

.

.

.

.

"Nona, tuan mencari anda?" Ujar seorang pelayan kemada nonanya yang sedang duduk santai di belakang rumah sambil menyesap tehnya.

Gadis itu berbalik, memberikan cangkir teh yang tadi ia pegang kepada pelayan itu. "Terimakasih sudah memberi tahu, Iruka" Ucapnya lalu berlalu melewati pelayan yang bernama Iruka itu.

"Ehhh, nona tak apa? Biar saya bantu" Tawar Iruka yang langsung berjalan menuju gadis yang sedang menuruni tangga.

"Terimakasih Iruka" Gadis itu tersenyum manis, bahkan sangat manis untuk membius para pria.

"A-ah.. Ini sudah tugasku nona" Sahut Iruka sambil menggaruk kepalanya yang tidak datar, lalu menuntun gadis itu menuruni tangga. Yah, memang nonanya itu harus mendapat perhatian lebih.

"Nona sudah datang tuan" Ujar Iruka mempersilahkan gadis itu masuk, menghadap pria yang kini duduk di ruangan kerjanya dengan senyuman yang tak pernah hilang jika gadis itu ada. "Saya permisi" Tambahnya yang langsung keluar dari ruang kerja tuannya.

"Ada apa kau memanggilku? Apa ada lagu baru lagi?" Tanya gadis itu mendekati kursi pria di depannya.

Pria itu lalu menariknya mendekat, mungkin akan lama jika menunggu sang gadis ini berjalan sendiri. "Bukan lagu baru, tapi instrumen baru. Lagu yang kau buat kemarin sangat bagus, dan kini aku harus mencari instrumen yang tepat karena ada sebuah artis terkenal di Jepang yang akan membelinya. Memang sih, aku sudah mengirimkan instrumen yang kau buat, tapi bagiku itu kurang pas jadi aku berencana mengubahnya. Permasalahan lagu itu akan di ubah menjadi bahasa Jepang tidak terlalu pentingkan Cherry? Yang penting lagu itu terjual dengan harga yang fantastik" Jawab pria itu sambil mengacak-ngacak rambut gadis yang ia panggil dengan nama Cherry tersebut.

Gadis itu tersenyum senang, "Tentu saja tidak apa-apa. Jadi siapa yang membeli laguku? Padahal aku hanya asal saja hihihi" Ucapnya dengan tawa kecil yang terdengar sangat lucu.

"Dia adalah artis yang sangat popular di Jepang saat ini, dan bulan depan rencananya dia akan konser disini. Sangat menakjubkan bukan? Lagu buatan dari seorang gadis amatiran yang sebelumnya tidak pernah membuat satu lagupun mendadak menjadi penulis lagu hebat, padahal baru satu lagu yang ia tulis, tapi langsung saja terjual dengan harga tinggi. Huuuhhh... Tidak seperti aku yang harus berjuang dulu.." Sahut pria itu, lalu memberikan sebuah check pada gada gadis cherrynya itu.

"Hahaha, kau sangat pintar memuji. Seharusnya kau bersyukur sudah menjadi penulis hebat sekarang, karyaku juga terjual dengat harga yang mahal juga karena namamu yang sudah melejit tinggi di dunia. Dan benarkah akrtis hebat itu akan konser di LA? Bisakah aku melihatnya?" Kini gadis itu berlalu menjauhi pria itu menuju kotak biola yang ada di atas meja.

"Bisakah kau buat satu irama musik dari biola itu?" Tanya sang sang pria lembut.

Gadis itu menghentikan langkahnya mendekati biola itu, "Ahaha, kau tahukan? Aku tidak bisa bermain biola, aku hanya penikmat musik. Apa kau lupa" Jawab sang gadis tak kalah lembutnya.

"Hahaha, maaf aku lupa" Ucap sang pria tersenyum kikuk.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, bukannya kita akan pergi melihat teather?" Ujar sang gadis sambil memiringkan kepalanya kesamping. Membuat wajah gadis itu makin terlihat lucu.

"Siap nona! Aku sudah siapkan limosin hitam di depan, kali ini aku yang akan menyetir, aku ingin kita pergi berdua" Pria itu mendekati gadis cherrynya, menuntun sang gadis keluar dari ruangannya.

"Kau selalu romantis, apa kau tidak salah memilih gadis c-"

" Kau ingat perkataanku?" Cekat pria itu cepat, "Tidak baik mengungkit hal yang telah terjadi, membeda-bedakan manusia adalah hal yang buruk bukan? Siapa saja patut dicintai" Lanjutnya dengan sangat lembut.

"Yes sir, im understand" Sahut gadis itu mengangguk pelan.

.

.

.

.

.

.

"Ini diluar kesepakatan kita!" Bentak seorang Sasuke menggebrak meja Naruto dengan sangat keras.

"Tapi aku butuh satu lagu lagi untuk menerbitkan album terbarumu!" Balas Naruto dengan nada suara yang sedikit meninggi, sikap Sasuke yang sangat egois terkadang membuatnya sangat kesal.

"Tapi kesepakatannya hanya aku yang menciptakan lagu sendiri! Bukan orang lain yang membuatnya!"

"Tapi kapan kau akan membuat lagu baru?! Jadwal manggungmu sangat padat, belum lagi rencana konser ketigamu ke Los Angeles tiga bulan lagi, kau perlu latihan extra. Apakah masih ada waktu lagi untukmu membuat sepucuk lagu?! Hah! Adakah Uchiha?!"

Sasuke membuang wajahnya kesamping. Karena Naruto benar, ia tidak akan punya waktu untuk membuat lagu diantara tawaran manggung dan undangan acara talk show yang tidak berhenti-berhentinya datang.

"Kau tidak dapat menjawabkan Sasuke?! Karena kau itu terlalu egois. Menerima lagu orang itu bukan hal memalukan, bahkan ini ciptaan dari musisi terkenal, ratingmu akan naik drastis!" Tegas Naruto yang terlihat ngotot.

"Cih, aku tidak peduli siapa yang membuat lagu itu!" Ketus Sasuke kemudian keluar dari ruang kerja Naruto sambil menggebrak pintunya kasar.

Memang Sasuke tidak suka dengan lagu yang tidak ia buat sendiri. Karena tak ada penghayatan yang akan dia dapat, dan Sasuke tidak menyukai itu. Semua lagu yang ia buat selalu berlatar belakang masalalunya, selalu terikat pada rasa bersalahnya, karena itulah Sasuke selalu menghayati semua lagu yang ia ciptakan sendiri.

Sebuah alunan musik terdengar sangat indah dari dalam ruang rekaman, sebuah symphony yang terdengar tak asing di telinganya. Segera saja Sasuke berlari kearah suara itu berasal. Mungkinkah itu dia, mungkinkah itu...

"Sakura!?" Seru Sasuke membuka pintu itu dengan kasar. Dan lagi-lagi ia harus menelan hal pahit, yang di lihatnya di sana hanyalah alat pemutar musik yang sedang berjalan, tanpa ada sosok Sakura yang ia harapkan.

"Hoi Sasuke? Tumben sekali kau berkunjung kesini di luar jam kerjamu" Tegur Chouji yang bekerja sebagai editing untuk setiap musik yang masuk sebelum benar-benar di publikasikan.

"Tidak, siapa yang membuat symphony itu?" Tanya Sasuke cepat.

"Kau tidak tau? Ini lagu barumu, apa Naruto tidak cerita. Ini buatan musisi dari LA, dan lagu ini sangat bagus" Jawab Chouji sambil meminum kopinya.

"Bisa aku dengarkan?" Pinta Sasuke.

"Kau pemilik lagu ini, tentu saja boleh. Lagi pula aku sedang memeriksa symphony ini sebelum aku gabungkan dengan lagunya. Cepat duduk" Jawab Chouji mempersilakan Sasuke untuk duduk bersamanya.

Chouji mulai memutar ulang symphony itu. Ini symphony yang sama, symphony yang Sakura buat untuk hari ulang tahunnya dan dia hina sedemikian rupa.

"Selamat ulang tahun! Apa kau suka dengan symphony buatanku Sasuke-kun?"

"Apa kau sebut itu sebuah irama? Bahkan itu tidak pantas di sebut sebagai nada"

"Maaf kalau belum bagus hihihi.. Tapi aku membuat ini khusus untuk ulang tahunmu"

"Apa peduliku"

"Pedulimu karena aku yang telah membuatnya"

"Cih, bahkan musik sampah seperti itu tidak pantas di dengar oleg gelandangan sekalipun!"

"Baiklah, aku akan buktikan symphony ini bisa mendunia"

"Cih, tidak berguna"

"Sasuke? Apa ada yang salah dengan musik ini?" Tanya Chouji mengibas-ngibaskan tangannya didepan Sasuke yang sedari tadi diam dengan tatapan kosong.

"Tidak," Jawab Sasuke terkesiap, membuyarkan lamunan tentang masalalunya. "Hanya saja lagu ini sangat indah" Lanjutnya.

"Wah, wah, wah, jarang sekali kau memuji karya orang lain. Sudah ku bilang lagu ini baguskan?" Ujar Chouji sambil memberikan Sasuke segelas kopi hangat. "Minum ini, kelihatannya kau mengantuk"

"Terimakasih, tapi aku harus pergi sekarang" Tolak Sasuke yang langsung bangkit dari duduknya. "Dua jam lagi ada acara yang harus aku datangi, jadi aku pergi dulu" Tambah Sasuke membungkukan badan lalu keluar dari ruang rekaman itu.

Sasuke berlari menuju mobilnya, memacu mobil ferary merahnya iru dengan sangat cepat menuju sesuatu tempat. Symphony itu membuat rasa kerinduannya pada Sakura semakin membuncah, dan hanya satu tempat yang memberikan kenangan baginya, tempat dimana namanya dan Sakura terukir.

"SAKURA!" Teriak Sasuke sekencang mungkin, melepaskan sesuatu yang mengganjal di hatinya, hanya ini yang dapat Sasuke lakukan untuk membuatnya sedikit lebih tenang.

"Dimana, dimana kau berada? Aku sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu..." Gumam Sasuke, menyentuh lembut ukiran namanya dengan nama gadis yang sangat ia cintai, ukiran yang sekarang sudah terlihat memudar.

Sasuke melihat sekelilingnya, ada satu siluet sosok gadis bersurai pink yang tertangkap oleh matanya. Mungkinkah? Mungkinkah itu Sakura?

"Sakura?" Panggil Sasuke pelan, perlahan mendekati sosok gadis berambut pink itu.

"Sasuke-kun? Sudah lama aku menunggumu disini" Sahut gadis itu tersenyum lembut.

Dengan cepat Sasuke mempercepat langkahnya, senyum gembira sudah terlukis di wajah pucat nan datarnya itu.

"Sudah lama aku-" Suara Sasuke tercekat, melihar sosok itu menghilang bersama angin yang berhembus, "Menunggumu.."

Apakah ini yang dinamakan gila? Sebuah kegilaan yang tercipta karena rasa rindu di hatinya, apakah Sasuke sudah benar-benar tidak waras.

DREEEETTTTT!

Ponsel dalam saku Sasuke terasa bergetar. Ia membuka ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Ada pesan suara dari Naruto.

"Hei teme, dimana kau? Pihat televisi sudah menanyakanmu. Segera kesini atau akan ku bunuh kau!"

Sasuke menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ingin sekali ia menghajar wajah pria berambut kuning jingkrak itu. Tapi Sasuke selalu mengakui suatu hal hebat tentang Naruto, semua kesibukan yang selama ini sahabatnya berikan terbukti berhasil menekan rasa sedihnya, walaupun hanya beberapa. Dan kesabaran Naruto dalam menghadapi keegisannya, menangani skandalnya yang luar biasa rumit. Ocehan Naruto yang selalu berkicau untuk Sasuke memang selalu membuatnya jengkel, namun itulah cara Naruto untuk menolong Sasuke.

.

.

.

.

.

.

Hari ini adalah hari terakhir Sasuke berlatih, mengingat besok adalah jadwalnya untuk manggung di salah satu acara music award dimana Sasuke terpilih menjadi kategori penyanyi terpopular.

"Siapkan suaramu Sasuke! Ini lagu baru yang kemarin kita sepakati, kau bersiap! Ketika jepretan lampu merah di matikan, mulai dari nada pertama oke!" Perintah salah satu promotor mempersiapkan latihan Sasuke.

Sasuke mulai menarik nafas panjang, merenggangkan jarinya untuk memainkan symphony yang diberikannya nama 'litle princes', symphony yang ia dapat dari musisi terkenal LA. Untuk sekian kalinya Sasuke menelurusuri tribun penonton, walaupun ini sedang latihan, tetap saja fans setianya selalu datang.

Melody awal telah Sasuke mainkan, suaranya terdengar lebih merdu dari biasanya. Suara Sasuke yang biasanya terdengar berat kini melembut, ia bernyanyi dengan penuh kelembutan karena symphony ini telah mengingatkannya pada Sakura. Seperti teather kecil, Sasuke melihat didalam pejaman matanya, sosok Sakura yang tengah tersenyum lembut, tertawa riang, polos, dan lucu ketika ia terlihat kesal. Kemudian sosok itu berubah, ekspresi Sakura tiba-tiba berubah, kini ia sedang menangis, sorot matanya terlihat begitu kecewa, sakit, sangat rapuh. Kemudian Sasuke membuka matanya, jarinya berhenti memainkan piano dihadapannya, suaranyapun tercekat tak dapat keluar.

"Ada apa denganmu Sasuke?" Tanya sang promotor heran, karena penyanyinya tiba-tiba berhenti di tengah lagu yang hampir selesai.

Sasuke hanya menggeleng, "Aku lelah" Jawabnya datar.

"Baiklah, kita istirahat!" Perintah promotor itu membubarkan semua crew dan penonton yang ada, sedangkan Sasuke masih diam di tempat tak bergerak.

Pandangannya kembali menyapu tribun penonton, hanya ada beberapa orang yang masih tinggal. Tapi tunggu! Sasuke melihat seorang gadis dengan kain merah muda yang menyelimuti kepalanya, dan warna kain itu, sama dengan rambut gadis itu. Apakah ini ilusi lagi? Sasuke menggelengkan kepalanya beberapa kali, dan sosok gadis itupun masih ada. Gadis itu tengah membaca secarik kertas di tangannya. Dengan perlahan Sasuke menuruni manggung, mendekat kearah gadis berambut pink tersebut dan berencana menegurnya, memastikan bahwa gadis itu benar-benar Sakura, Sakura yang selama ini dia cari.

"Permisi nona?" Tegur Sasuke menepuk pundak gadis dihadapannya.

"Ya?"

Mata Sasuke langsung membulat tak percaya melihat siapa gadis yang ada di depannya ini. Dia, dia gadis yang selama ini Sasuke cari, Sasuke rindukan, dan gadis yang mungkin tak dapat Sasuke jumpai lagi. Sekarang gadis itu ada dihadapannya dengan senyum manisnya, walaupun senyum itu segera hilang saat gadis itu membuang mukanya.

"Sakura..." Ucap Sasuke pelan dengan bulir air mata yang tertahan di pelupuk matanya.

Sakura tidak menjawab, ia hanya memalingkan wajahnya. Sakura tidak berharap bertemu Sasuke lagi, ia tidak siap melihat Sasuke lagi, bahkan ia tidak ingin bertemu Sasuke lagi.

"Kemana saja kau? Aku selama ini mencarimu, aku sangat merindukanmu Sakura, sangat amat merindukanmu" Dengan tangan yang sedikit bergetar, Sasuke mencoba menyentuh bahu Sakura lagi, Sasuke sangat senang akhirnya ia bisa bertemu dengan gadis yang selama ini dia cari.

"..."

"Tatap aku Sakura? Aku tau selama ini aku ini salah, maafkan aku yang telah menyakitimu terlalu dalam."

"..."

"Sakura, kumohon, maafkan aku. Sekarang aku sudah sadar betapa berartinya dirimu bagi hidupku. Tak seharusnya aku menyia-nyiakan cinta tulusmu, maafkan aku Sakura"

Sakura sama sekali tak menggubris perkataan Sasuke, hatinya terlalu sakit untuk menatap pria itu lagi. Bahkan ia tak dapat menahan air mata yang memberontak keluar dari mata emerlardnya.

"Sudah dua tahun aku mencarimu kemana-mana, dan akhirnya aku dapat bertemu denganmu. Masih ingatkah ukiran nama kita yang kau buat? Ukiran itu masih abadi di sana. Aku selalu kesana ketika aku mengingatmu, mengingat hal bodoh yang pernah aku lakukan padamu"

"..."

"Ingatkah kau akan symphony yang sering kita mainkan?"

"..."

"Hinata benar, lebih baik bersama orang yang mencintai kita dari pada bersama orang yang kita cintai, karena orang yang kita cintai lebih sering menyakiti kita dibanding orang yang mencintai kita" Ujar Sasuke yang sekarang duduk si samping Sakura.

"Itu memang benar," Sakura mulai membuka suaranya. "Lebih baik aku bersama orang yang mencintaiku dari pada bersama orang yang kita cintai, karena...orang yang aku-" Sakura menjeda kalimatnya, merusaha agar suara isakannya tak terdengar oleh Sasuke. "Karena, orang yang aku cintai selama ini selalu menyakitiku, selalu membuat luka dalam yang tak terobati. Kau Sasuke, kau selalu menyakitiku!" Timpalnya dengan suara getir.

Bisa Sasuke lihat Sakura tengah menahan isakan tangisnya, dari nada suara Sakura yang bergetar, Sasuke tahu bahwa gadis itu tengah menangis.

"Sakura..."

"Aku sudah berjanji bukan, aku sudah berjanji tak akan mengharapkanmu, aku akan melupakanmu Sasuke. Disaat aku sudah berhasil, kenapa kau datang lagi?!" Seru Sakura menatap wajah Sasuke, menatap wajah Sasuke yang terlihat begitu terpukul. Begitu juga dengan Sasuke yang menatap wajah Sakura yang dipenuhi oleh luka, luka yang ia ukir sendiri pada gadis itu.

"Tapi sekarang aku mencintaimu! Dan kenapa disaat aku sadar kau malah menghilang? Meninggalkanku sendiri, tanpa ada kabar atau informasi yang jelas?" Balas Sasuke meninggikan suaranya, menatap bulir air mata yang keluar dari mata Sakura dengan getir.

"Apa kau masih mencintaiku walaupun aku begini," Sakura membuka selembar kain yang sedari tadi menutupi badannya. Memperlihatkan tangan kirinya yang di balut oleh rangka besi, sedangkan di kaki sebelah kanannya di baluti oleh sebuah gips. "Apakah kau masih mencintaiku walau aku ini sudah cacat, apa kau serius masih mencintaiku?" Tegas Sakura dengan nada melemah, mengeluarkan isakan yang selama ini dia tahan.

Ada emosi yang menyelimuti hati Sasuke, melihat kondisi Sakura yang seperti ini membuat hatinya bertambah sakit karena tidak bisa menjaga Sakura dengan baik. "Siapa yang melakukan ini semua?" Tanya Sasuke setengah memangksa, namun Sakura hanya diam. "Siapa yang melakukannya Sakura?" Ulangnya lagi.

"Ayo Cherry, kita kembali"

Sasuke langsung menoleh kebelakang setelah mendengar ada yang berbicara di belakangnya. Pria dengan postur tinggi tegap, kulit pucat, berambut hitam, mata onyx, dan wajah yang mirip. Melihat pria itu Sasuke merasa sedang bercermin.

"Siapa kau?" Tanya Sasuke pada pria yang baru datang tadi.

"Sai!" Pekik Sakura menatap nanar pria bernama Sai itu, sorot matanya memohon agar Sai cepat membawanya pergi dari sini.

Dengan cepat Sai menghampiri Sakura, menarik kursi rodanya keluar dan segera menjauh dari Sasuke.

"Tunggu!" Seru Sasuke menahan bahu Sai. "Memangnya kau siapa? Berani membawa Sakura begitu saja!"

"Aku kekasihnya, dan aku ingin membawanya kembali" Jawab Sai dengan wajah datar.

"Kekasih? Berarti kau tau siapa yang membuat Sakura seperti itu?" Tanya Sasuke lagi.

"I-iitu, yang membuat Sakura seperti ini adalah ..."

"Sudahlah Sai, jangan meladeni dia lagi. Aku ingin pulang, aku tidak mau berada di sini lagi" Ucap Sakura yang sebenarnya bermaksud mencegah Sai mengatakan yang sebenarnya terjadi.

"Baiklah"

"Aku bilang tunggu!" Cegah Sasuke yang kembali menahan bahu Sai, "Kau belum menjawab pertanyaanku!" Lanjutnya.

Sai melirik kearah Sakura yang terlihat menggeleng, namun ia tak boleh berbohong, bahwa yang telah membuat Sakura seperti ini adalah...

"Aku, aku yang membuatnya seperti ini," Jawab Sai sambil memejamkan matanya. "Aku yang menabrak Sakura hingga seperti ini, kaki dan tangannya lumpuh, entah untuk jangka waktu berapa lama.." Lanjut Sai mengakui kesalahannya.

BUAKH!

Langsung saja Sasuke menghajar tubuh Sai hingga membentur dinding, berlari kearahnya lalu memukulinya berulang-ulang.

"Kau! Benaraninya kau menyakiri Sakuraku!"

BUGH!

"Ini,"

BUGH!

"Semua,"

BUGH!

"PANTAS UNTUKMU!"

BUGH!

Sasuke menendang tubuh Sai hingga tubuh itu tersungkur lalu berdiri diatasnya.

"Sadarkahkau berapa berartinya sepasang tangan untuk seorang pemain musik?! Dan sekarang akan aku patahkan kedua tanganmu agar kau tidak dapat bermain musik lagi!"

"Cukup!" Pekik Sakura yang sudah tidak tahan dengan semua ini. "Yang menyakitiku selama ini adalah kau Sasuke! Kau yang selalu menyakitiku, bukannya Sai!"

Sasuke tertegun, diam mematung. Sakura benar, yang selama ini menyakiti Sakura adalah dirinya sendiri, bukan orang lain.

"Sai yang menolongku dari keterpurukan ini. Bahkan aku bersyukur bertemu dengan Sai walau aku harus kehilangan sepasang tangan dan kakiku, Sai membawa kehidupan dan kebahagian baru bagiku, sedangkankau hanya memberikan rasa sakit!" Timpal Sakura dengan emosi yang meluap-luap. "Sudahlah, ayo Sai kira pergi dari sini."

Sasuke masih mematung ditempatnya, bahkan ia tidak bisa mencegah sosok Sakura yang semakin menjauh dari tatapan matanya. Kenyataan yang membuktikan bahwa ialah yang telah menyakiti Sakura kembali membuat hatinya hancur. Namun hal itu tidak sedikitpun menghancurkan rasa cintanya pada Sakura, ia ingin tetap memperjuangkan cintanya. Walau dengan cara apapun.

"Kita lihat saja nanti!"


Chapter 2 selesai, berarti tinggal satu chapter lagi.

Maaf yah kalau jurang bagus, jujur, idenya kecampur sama pelajaran. sekalilagi maaf:(