Summary : Saat senyuman itu ternodai, saat suara tawa itu berubah menjadi luka, saat semua memori telah menjadi abu untuk selamanya, hanya rasa benci dan benci..yang ada di dalam dirinya.
A/N : arigatou untuk Hachipine Ia , bener desu, author juga merasa fanfic ini harus lanjut dan dituntaskan!*pose/ga/
Lagipula, Panda sudah memutuskan fanfic ini karena janji Panda di akun medsos .w. oya,yang kemarin ternyata salah milih genre, harusnya drama, bukan romance .w. Panda ganti yaa..
Douzo onegaishimasu! ^^
Vocaloid © Yamaha Corp.
Cross-Two of Us ― クロス 二人 で © Panda Dayo
Genre : Crime/Drama
Rated : T
Japanese Police Apartment
Tokyo, March 28
06.00 PM
"―Apa katamu?"
Rin menaikkan satu alisnya, memandang tidak suka pada orang di depannya. Setelah berdiskusi hampir satu jam, tak kunjung ada solusi untuk masalah yang mereka bahas.
"Aku bilang, kita tak mungkin menghentikan mafia. Mereka sudah menjalankan bisnis sejak beberapa tahun terakhir dan membantu Jepang mengatasi krisis keuangan."
Rin berdecak kesal. Namun, ia masih bisa menahan diri agar tidak melukai orang di depannya. Masalahnya, yang dihadapinya saat ini adalah Kepala Kepolisian Jepang. Salah langkah atau justru ia yang tersingkir dari permainan ini.
"Nee, aku mengerti. Tapi, mereka ingin menyebarkan pengaruhnya ke Ikebukuro. Bahkan ada orangku yang ikut bergabung dengan mereka, dan kau bilang, tidak bisa?" Rin melempar punggungnya ke sandaran sofa di belakangnya. Sialan.
"Maaf, Kazuya-san. Jepang membutuhkannya."
Rin menghela nafas kecewa. "Ya sudahlah. Pastikan aku tidak memotong lehermu nanti." Rin berdiri dan berjalan keluar.
"Sebelah sini, Rin-san." Gumi menunjuk sebuah arah. "Ah, arigatou, Nakagawa." Rin melangkah pergi. Yang benar saja, ia sudah datang kesini untuk bicara, dan tak ada hasil apapun yang dia dapat? Lucu sekali. Sayangnya, ia tak mungkin berbuat kasar pada Kepala Polisi itu.
Len terbangun. Ia melihat jam. Sudah jam tujuh rupanya. Jam makan malam para polisi disini masih sekitar satu jam lagi. Len memutuskan untuk bersiap. Ia pergi ke kamar mandi dan mulai melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia kemudian menyalakan shower dan membasahi tubuhnya sendiri. Ia memilih mengeramasi kepalanya lebih dulu. Kemudian baru menyabuni seluruh tubuhnya. Dibilasnya dengan air dari shower di atasnya. Ia mematikan shower dan mengambil handuk di dekat pintu kamar mandi untuk mengeringkan tubuhnya. Setelah itu, ia menyikat giginya di wastafel. Tak lupa ia berkumur. Len kemudian keluar dari kamar mandi dan memilih pakaian yang akan ia kenakan nanti.
Seusai berpakaian, Len masih cemas soal ibunya. Bukan apa-apa sih, hanya saja ia khawatir. Len memutuskan untuk mencari ibunya kembali dengan menyusuri lorong apartemen. Kalau masih tidak ketemu, ia akan mencari di lantai lain.
Suara sepatu hak tinggi Rin memenuhi lorong apartemen Kepolisian itu. Rin hendak melangkah menuju lift. Tapi, ia menabrak seseorang dari arah kiri yang terhalang oleh tembok.
"Ouch."
Rin hendak memaki orang itu, namun ia memilih diam begitu tahu siapa orang yang menabraknya. Pemuda dalam foto itu..anak Kagamine Lily..
"Ma-maaf." Len mengulurkan tangannya untuk membantu orang yang ia tabrak tadi berdiri. Siapa wanita itu? Astaga. Len menelan ludah. Wajahnya terasa makin panas ketika wanita itu meraih tangannya dan berdiri.
"Hati-hati." Rin berjalan memasuki lift dan hendak menekan tombol lantai yang ia tuju. Sebelum Rin menekannya, pemuda itu memperkenalkan dirinya.
"Na-namaku Kagamine Len. Maaf merepotkan. Bi-bisakah kita..turun bersama saja? " Len memerah. Wanita di hadapannya benar-benar menarik dan menawan. Ia ingin tahu lebih banyak tentang wanita itu. Begini-begini, dia juga laki-laki, ingin merasakan yang namanya cinta. Indahnya masa muda...
"Um, bolehkah aku tahu namamu?"
Rin hampir tak berkedip saat melihat pemuda bernama Len di depannya. Benarkah pemuda itu seorang polisi? Tapi, kenapa gaya bicaranya culun banget? Mukanya merah lagi. Sakit ya? Rin mulai ragu.
"A-anoo.." Len mengingatkan. Rin hanya mengangguk. Tapi, tangannya keburu menekan tombol lantai dasar. Len terbelalak.
"Tu―Tunggu!"
Terlambat. Wanita itu yang menang. Len hanya menghela nafas kecewa.
"Aku ingin tahu namanya.."
"Len. Kau tidak makan? Kaasan membawakan makananmu." Lily masuk ke ruangan Len. Len sedang duduk di tepi ranjangnya. Dan Lily duduk di sebelah Len. Lily meletakkan makanan Len di atas meja. Menunggu Len mengambilnya. Setelah sepuluh menit, tak ada reaksi dari anak laki-lakinya. Lily pun mengamati Len dengan seksama.
"Ara, Len. Kau loyo sekali. Ada apa?" Lily menyadari ada yang tidak beres dengan anak laki-lakinya. Len tidak menyentuh makanannya sama sekali. Lily berfikir lagi. Wajah Len sangat aneh sedari tadi. Wajah tampannya jadi menjijikkan. Aduh, bagaimana menjelaskannya, ya? Pokoknya wajahnya bereskpresi tidak jelas dan itu membuat Lily ingin muntah.
"Len? Kau sakit?"
Len masih melamun, memikirkan wanita yang ia temui tadi.
"Len?" Lily mulai kesal karena diabaikan.
"A-ah.." Len sepertinya baru tersadar. Ia tampak bingung.
"Ada apa denganmu hari ini?" Lily penasaran. Len menggeleng cepat dengan wajahnya yang bersemu merah. Lily mengangguk. Anak laki-lakinya memang mudah dibaca.
"―Siapa?" To the point, Lily menatapnya.
"K-Kaasan! Jangan buat aku gugup!" Ternyata, Len berusaha menenangkan hatinya yang berdegup kencang.
"Kau sudah berumur dua puluh empat. Tak ada salahnya jika kau tertarik dengan wanita. Lain kali, kenalkan dia pada Kaasan, ya?" Lily tersenyum.
"Ka-Kaasan.." Len mengangguk.
"Jangan lupa makan. Besok kita berangkat bersama ke Ikebukuro. Kau harus mulai bekerja besok, Len." Lily berdiri dan berjalan keluar dari sana. Len tidak menyangka ibunya cepat mengerti. Apa semudah itukah dirinya ditebak?
Ikebukuro, Yakuza HQ
March 28
06.45 PM
Rin kembali dengan diam ke kediamannya. Sungguh menyakitkan, hanya penolakan yang ia dapat tadi. Percuma. Ia harus melakukan sesuatu. Jika tidak, mafia akan mulai mengambil alih, kemudian menggantikan posisi Yakuza. Jika itu terjadi, Yakuza akan tersingkir, dan banyak orangnya yang akan kehilangan pekerjaannya. Rin tidak mau seperti itu. Untuk itu, dia melakukan langkah terakhir dengan berbincang dengan Kepala Kepolisian Jepang, Hiyama Kiyoteru. Sial. Apa yang harus dia lakukan selanjutnya? Minta bantuan menteri? Jelas tidak akan dikabulkan, karena mafia telah membantu perekonomian Jepang serta menyelamatkan Jepang dari krisis ekonomi beberapa tahun lalu. Apalagi Kaisar. Bisa saja itu akan membuat posisi Yakuza semakin terpojok. Arrghh! Rin tidak tahu harus melakukan apa!
"Rin-sama? Bagaimana hasilnya?"
Rin terhenti ketika Kaito ada di hadapannya. Rin hanya diam. Ia melewati Kaito begitu saja.
"Gagal ya?"
Rin berhenti kembali.
"Kiyoteru menolakku."
"Lalu, apa yang kau rencanakan selanjutnya?" Tanya Kaito.
Rin tersenyum kecil. Ia sudah tak peduli pada harga dirinya lagi. Kaito merasakan ada aura berbeda dari wanita itu.
"Mendekati mafia."
.
.
.
.
Ikebukuro
March 29
08.30 AM
"Jadi, aku dimana? Kaasan mau pergi?"
"Di Ikebukuro lah. Baik-baik ya!"
Len melambai pasrah pada ibunya di stasiun. Ibunya kembali menaiki kereta, menuju Shinjuku. Len ditinggal ibunya sendiri. Ibunya harus mengurus beberapa tempat di Shinjuku hari ini terkait kasus pencurian. Len tidak tahu harus apa sendirian di Ikebukuro. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, meski ia mengenakan seragam kepolisian Jepang sekarang.
"Doushiyou?"
Len berjalan keluar dari stasiun. Ia mengamati sekitar. Len hanya menghela nafas pasrah. Ia mulai berjalan ke sekitar stasiun Ikebukuro. Melakukan patroli atau apalah. Ia melihat beberapa yang mengenakan seragam sepertinya melakukan hal itu. Len mengamati kota Ikebukuro yang baru dilihatnya secara langsung. Biasanya ia hanya melihat dari televisi. Ia sangat suka dengan keberadaan Yakuza, karena menurutnya keren. Bukan berarti ia ingin jadi Yakuza. Ia menjadi polisi, karena kedua orang tuanya juga polisi. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya, huh?
Rin sedang berkeliling kota bersama Kaito. Memastikan kota Ikebukuro masih bersih dari mafia. Rin sesekali melihat lembaran kertas yang dipegangnya, laporan terbaru tentang apa-apa saja yang terjadi di wilayah kekuasaannya. Mulai dari Fukuoka hingga Aomori. Ikebukuro, terutama.
"Mafia sudah bergerak di mana?" Tanya Rin.
"Sejauh ini mereka masih bergerak di daerah utara dan selatan." Jawab Kaito.
"Mau memakai teori domino untuk kita, huh? Mereka ingin mencoba teori usang itu?"
"Tapi, kurasa itu akan memerlukan sedikit waktu."
Rin mengangguk setuju.
Len mengambil sebuah kaleng minuman yang keluar dari vending machine. Kopi kalengan. Len langsung membuka dan meneguknya hingga habis. Ia menghela lega setelahnya.
"Kopi kaleng memang yang terenak." Len berjalan beberapa langkah menuju tempat sampah untuk membuang wadah aluminium itu. Tak sengaja matanya melihat wanita kemarin tengah berjalan dengan seorang pria.
Kenapa rasanya sakit,ya?
Len mengamati mereka. Mereka mengenakan Yukata yang seragam, berwarna putih. Apa jangan-jangan, mereka sedang omiai? Tapi, apa iya di tengah kota?
Len mendengar suara keributan di seberang jalan. Rupanya ada perkelahian. Len berinisiatif menuju kesana. Namun, jalanan masih padat. Apa yang harus dia lakukan sebagai polisi ? Bisa saja ia langsung menghabisi mereka, tapi..ia polisi sekarang. Ada batasan untuk sekedar melumpuhkan orang.
Di tengah kebingungannya, Len melihat wanita itu seperti terbang. Ia melompat bertumpu pada kendaraan roda empat yang lewat, dan sampai di seberang jalan. Wanita itu segera menghajar para pembuat rusuh itu. Ketika lampu merah, dan lampu tanda pejalan kaki berwarna hijau, Len melihat perkelahian telah usai.
Wanita itu berjalan dengan anggun dan..keren..
Angin musim semi meniup wajah tampannya. Wanita di seberang kembali berjalan dengan pria biru yang bersamanya tadi.
Ini kebetulan, atau takdir?
Cross-Two of Us ― クロス 二人 で
Rin hanya tiduran ketika ia tiba di kediamannya. Setelah refreshing sejenak dengan berkeliling kota, masih banyak tugas yang harus ia selesaikan. Tentang rencana sebelumnya, ia tidak yakin. Jika ia mendekati mafia, prosentasenya hanya 30 : 70. Tentu saja yang 70% adalah kekalahan telak.
Apa ini keputusan yang tepat?
Ikebukuro,
March 29
07.00 PM
Len gugup kala dilihat oleh sekumpulan orang berwajah sangar. Jujur saja, Len takut. Apa salahnya? Ia hanya berkeliling kota dan mendapatkan tatapan tajam dari sekitarnya. Rasanya Len ingin bunuh diri sekarang juga.
Len menaiki jembatan penyeberangan untuk menghindari semua tatapan mematikan itu. Ia kemudian melihat lalu lintas dari atas sana. Hahh. Disini mengerikan. Ia harap ia bisa pindah tugas ke kota lain.
Len melihat segerombolan orang berwajah sangar menuju ke sebuah gang kecil. Sepertinya dua kelompok, mereka datang dari arah berlainan. Apa ini perkelahian lagi? Tolonglah, apapun itu―Len hanya bisa berharap mereka berhenti sendiri.
Len turun dari jembatan penyeberangan untuk mengamati apa yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Benar saja. Mereka berkelahi. Len sebenarnya tidak suka ikut campur urusan orang, tapi mau bagaimana lagi? Posisinya saat ini adalah sebagai penjaga keteraturan dalam masyarakat sesuai undang-undang.
"Berhentilah berkelahi." Len menatap mereka. Yang berkelahi di sudut gang balik menatap Len tajam.
"Apa perlumu, anak muda?"
"Kau cari gara-gara ya?!"
"Jangan mengganggu!"
Len hanya menyeringai ketika beberapa orang maju ke arahnya. Len menghindari setiap serangan mereka, kemudian memukul keras tengkuk mereka agar pingsan. Orang-orang yang tersisa menatap Len marah dan kesal.
"Kau polisi baru? Jangan macam-macam dengan kami!"
Len melihat seorang -sepertinya-remaja laki-laki yang mengenakan gakuran diantara mereka. Hei, tadi ia tak melihatnya. Karena pemuda itu tidak tinggi, eh? Bukan mengejek. Tapi itu faktanya. Wajahnya tampak ketakutan. Len berfikir cepat. Apa pemuda itu sedang dibully?
"Aku juga tidak mau ikut campur. Tapi, kalian melibatkan anak sekolah. Pengecut." Len menatap mengejek ke arah mereka.
"Bocah sialan!"
Mereka semua menyerang Len bersamaan. Len memutar tubuhnya ke depan serta memutarkan kakinya untuk mengenai wajah yang datang kepadanya. Ia mengenai tiga orang sekaligus. Ketika yang lain datang, Len menggunakan siku serta tinjuannya untuk menghadapi mereka. Sial. Ada yang datang dari belakang, licik.
Tapi, itu bukan masalah bagi seorang Kagamine Len.
Pemuda yang mengenakan gakuran tampak gemetar ketakutan melihat adegan perkelahian di hadapannya. Ia menelan ludah, dan badannya bergetar ketakutan.
Len melewati orang-orang yang sudah tumbang bagaikan mayat, menghampiri pemuda yang mengenakan gakuran tadi.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Len. Pemuda itu mengangguk.
"Siapa namamu?" Len memandanginya.
"Utatane Piko." Pemuda itu tampak sedikit malu.
"Ayo, kuantar kau ke kantor polisi. Kami akan menghubungi keluargamu. Oya, namaku Kagamine Len. Yoroshiku." Len tersenyum dan menggandeng tangannya. Piko hanya menurut. Ia belum pernah melihat polisi muda di sekitar kota. Biasanya hanyalah oyaji yang ada disana―yang bahkan tidak pernah menolongnya. Piko merasa lega karena sudah ditolong. Biasanya ia sering dan selalu diperas kelompok yang berbeda, mereka akan berebut untuk mendapatkan lembar-lembar yen dari dompet Piko―mengingat dia anak orang kaya.
Tapi, polisi yang ada di depannya ini, berbeda. Hanya firasatnya saja atau mungkin benar?
Detik itu, Piko mulai mengagumi seorang polisi bernama Kagamine Len. Dan kini―Piko menetapkan polisi sebagai cita-cita barunya.
Len merasa senang bisa menolong seseorang hari ini. Bukankah ini pertanda baik? Baru pertama bekerja, dan ia mendapat objek korban―oke ini ambigu. Pokoknya ia senang karena bisa menolong orang hari ini.
Len merasakan getaran di sakunya. Len segera memasukkan tangannya dan mengambil benda yang menjadi sumber getaran. Len melihat nama ibunya tertera di layar ponselnya. Len segera mengangkatnya.
"Moshi-moshi. Ada apa, Kaasan?"
"Len! Kau mau oleh-oleh apa dari Shinjuku?" Suara ibunya terdengar begitu childish di telinganya. Astaga. Ia bukan anak kecil lagi, tapi, sebagai anak yang baik―
"Terserah Kaasan."
―ia tidak boleh menyakiti hati ibunya, kan?
[ "Baiklah! Tunggu saja! Eh? Hiyama-san? Ha'i! Wakarimashita!" ]
Ibunya berbicara dengan seorang lagi selain dirinya rupanya. Mungkin teman seprofesinya. Len hendak mengakhiri panggilan―tidak mau mengganggu―namun diurungkan niatnya begitu mendengar suara tembakan. Ibunya bodoh atau apa? Menelfon saat menjalankan tugas. Tak lama setelah itu, terdengar bunyi panjang. Panggilan terputus dari ibunya.
Len merebahkan dirinya, menatap langit yang mulai berwarna gelap.
Ikebukuro, somewhere street
07.20 PM
Ah, Gumi merasa beruntung. Ia sedang berada di Ikebukuro. Kabarnya, makanan di Ikebukuro enak-enak. Dan ia sedang lapar saat ini setelah menyelesaikan tugasnya. Ia pergi ke sebuah restoran untuk makan malam. Ia memesan makanan, dan menunggunya. Sambil menunggu, ia sibuk mendengarkan lagu dari mp3 playernya. Sebuah lagu yang menenangkan hatinya. Tak lama kemudian, sepiring spaghetti diantar ke mejanya. Gumi mematikan mp3 playernya.
Gumi sedang mengunyah makanannya ketika mendapat panggilan di telfonnya. Gumi akan menyimpan amarahnya nanti. Ia tersedak begitu melihat nama di layar ponselnya. Cepat-cepat ia telan makanannya dan mengangkatnya.
"Nakagawa disini."
Lily menunggu kereta yang akan menuju Ikebukuro. Ia harus menjemput anak laki-lakinya nanti. Kiyoteru, hanya tertawa kecil melihat betapa gelisahnya janda di sampingnya kini.
"Lily, kau tidak perlu secemas itu." Kiyoteru tersenyum.
"A-aku gugup! Kuharap Len akan suka oleh-olehku!" Lily gemetaran.
"Jangan terlalu dipikirkan, Lily." Kiyoteru melihat ke arah rel. Kereta sudah datang rupanya. Kecepatan kereta membuat rambut mereka tertiup ke sembarang arah. Kiyoteru menatap inspektur wanita itu. Kiyoteru suka bagaimana cara wanita itu tersenyum, ia suka cara wanita itu tertawa, ia suka bagaimana cara wanita itu mengungkapkan isi hatinya.
"Ayo, aku akan mengantarmu."
―Hiyama Kiyoteru, jatuh cinta pada Kagamine Lily.
Ikebukuro, somewhere street
March 29
07.45 PM
Piko tersenyum sepanjang perjalanan. Ah, hari ini terasa begitu indah. Bintang-bintang di langit malam seolah menyinari hatinya. Piko bertekad dalam hati, saat ia lulus dari sekolah menengah atasnya..ia akan berusaha masuk ke Akademi Kepolisian.
"Utatane-san. Ayo pulang."
Sebuah suara memanggilnya. Piko menoleh sedikit ke arah kanan, didapatinya seorang gadis menatapnya tajam.
"Nakagawa-san? Kau lama sekali."
Tsuzuku
