Addicted
Temari & Shikamaru N.
T
Romance/family
© Sheny Alviany, 2013
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Cerita ini hanya fiksi, mohon maaf apabila ada kesamaan nama tokoh, watak, alur, dll merupakan sebuah ketidak sengajaan. Hanya untuk profesionalitas dan hiburan semata. Dan juga berbagai Typo yang tidak disengaja.
Summary : Ketika cinta tumbuh di rumah sakit. Dokter dan pasien yang saling jatuh cinta. Bagaimana kisah dari dua sejoli itu?ShikaTema FF! RnR! NEWBIE C: #BadSummary
Kembali dengan saya, sheny alviany dan ff nya yang sedikit aneh(?) maaf ya updatenya lama tapi saya gak ingkar janji dong, saya update nih hehe :D ff ini gak bakal discontinued ko.
sebelum mulai, ijinkan saya balas review dulu ya :)
Ulfi says : kasusnya ini kasus artis berinisial R, tapi ceritanya murni karangan saya._.v
NAT : iya ini sudah update ko :D
Sabaku TemaChan : Arigatou :) ini sudah update ko, haha iya tuh itu nya saya kurang teliti mulu:( maaf yaa~
Happy reading
Kriingg..Kriingg
Benda berwarna putih itu bordering keras. Si empunya tak mengangkatnya dan malah membenamkan tubuhnya di selimut. Sehingga pada deringan ke sekian, dia bangkit dengan mata yang terpejam.
"moshi-moshi?" suaranya sedikit parau.
"kau pasti kelelahan. Kau lembur? Aku di depan rumahmu." Temari langsung membuka matanya. Dengan cepat ia lari ke arah balkon dan membuka pintunya. Dilihatnya pria berambut merah yang tersenyum samba melambaikan tangannya. Temari tersenyum tipis. Temari mengisaratkan sasori untuk masuk.
"Kenapa pagi sekali?" Tanya Temari sambil mengucek matanya.
"Aku ingin membawamu ke suatu tempat." Jawab sasori sambil mengulum senyum.
"tapi, aku ada jadwal terapi dengan shikamaru."
"selalu saja dia." Ucap sasori.
"ayolah sayang, jangan begini. Kau tahu kan aku di berik kepercayaan oleh keluarganya? Sebentar lagi juga dia akan pulang."
"Yasudah, lusa kau bisa kan?"
"Iya, terima kasih ya" Temari lega dengan pengertian sasori. Dia pun memeluk kekasihnya itu.
Shikamaru telah bangun dari tadi. Seperti biasa, dia akan melakukan terapi untuk yang ke sekian kalinya. Dan akhir-akhir ini, dia merasa menikmati terapi tersebut. Lebih tepatnya menikmati kebersamaan besama sang dokter.
"Lama sekali orang itu datang" gumamnya.
Waktupun berlalu. Setelah serkian lama ia menunggu, seseorang yang di nantinya pun tiba.
"Maaf aku telat, tadi aku ada urusan." Ucap Temari lembut.
"Tidak masalah" jawab shikamaru, nada nya terdengar malas tapi sebenarnya hatinya berkata lain. Dia merasa senang dengan kedatangan pujaan hatinya ini.
"hari ini kau akan terapi di luar." Ucap temari membuat alis shikamaru berkerut menandakan kebingungan. Temari melihatnya.
"Aku akan membawamu ke suatu tempat. Dan tempat itu juga kurasa bisa menjadi tempat terapi mu. Bagaimana, kau keberatan?"
"Boleh." Shikamaru hamper melompat kegirangan. Pasalnya, sang gadis mengajaknya terapi di luar. Okelah, shikamaru anggap itu sebagai kencan.
"kalau begitu aku akan ke ruangan ku dulu, bersiaplah." Temari keluar ruangan.
'apa maksud dia mengajakku keluar ya?' batin shikamaru. Dengan cepat diapun masuk ke kamar mandi dan bersiap.
Temari dan Shikamaru melangkah keluar ruang rawat inap. Beberapa suster yang lewat memberikan sapaan hormat terhadapnya. Temari tersenyum lembut.
"Kita mau kemana?" Tanya shikamaru setelah selesai memasang sabuk pengamannya. Dia menatap temari yang sedang mengulum senyum.
"lihat saja nanti." Jawab Temari singkat. Mau tak mau Shikamaru diam.
Perjalanan ke tempat yang masih di rahasiakan Temari membutuhkan waktu sedikit lama. Shikamaru sampai tertidur pulas membuat Temari tersenyum kecil. Tak lama kemudian, mobilnya memasuki sebuah gerbang besar.
"Maaf, mungkin tempat ini menjadi tempat terapi yang membosankan untukmu. Tapi aku punya alas an membawamu kesini" Ucap Temari sedikit menunduk. Shikamaru masih diam memperhatikan anak-anak yang kurang beruntung di depan sana.
"kau tahu? Mereka tak seberuntung kita. mereka tak bisa melihat dan mendengar. Tapi mereka berjuang hidup. Memanfaatkannya dengan baik." Shikamaru masih menjadi pendengar yang baik.
"Dan sekarang, kau harus lihat ke bawah. Kau masih muda, kau tampan dan mapan. Tapi kau menghancurkan hidupmu. Kau tahu? Ayahmu sangat kecewa melihat ini. Kau kurang bersyukur atas apa yang tuhan berikan padamu."
"harusnya kau menyadari itu dari dulu, sehingga kau tak akan terjebak di rumah sakit dan bertemu dokter yang cerewet seperti aku."
Shikamaru masih terdiam.
"Dulu, aku punya seorang adik laki-laki. Dia meninggal karena narkoba. Mungkin kalau dia masih hidup, dia sebaya denganmu. Aku sangat terpukul atas kematiannya. Oleh karena itu, aku tak ingin kau seperti dia, aku tak ingin ada orang yang meninggal seperti adikku. Hidupnya…tak sebahagia yang dia inginkan." Temari menahan tangisnya yang akan pecah mengingat adik bungsunya, Gaara yang meninggal sekitar 5 tahun lalu karena narkoba.
"kau…" Ucapan Temari terhenti diudara saat ia mendengar isakan. Dia menoleh ke kanan dan mendapati Shikamaru sedang menunduk sambil bercucuran airmata. Tangannya terangkat untuk mengusap punggung pria itu.
Dengan reflex, shikamaru pun memeluk temari. Membuat sang dokter terbelalak kaget atas sikap pasiennya itu. Dia pun perlahan membalas pelukan Shikamaru.
Pria bermata hazel dan bersurai merah itu menatap tajam pria berambut pirang di kucir di hadapannya. Untuk kesekian kalinya. Bagaimana tidak? Deidara—pria berambur pirang di kucir—itu melapor pada Sasori bahwa sang calon tunangan sedang berada dip anti asuhan bersama seorang pria dan mereka berpelukan. Membuat seorang sasori mengernyitkan alisnya.
Sasori tak habis pikir pada Temari. Wanitanya itu tadi bilang dia ada jadwal terapi bersama pasiennya, tapi apa nyatanya? Dia pergi bersama pria asing dan mereka berpelukan.
"aku percaya padamu, deidara. Kembali ke ruanganmu!" suruh sasori sambil memijit dahinya yang nyut-nyutan. Pening memikirkan ini itu.
"Baik, tuan." Ucap deidara, pria itu pun menunduk sopan dan meinggalkan sasori sendiri.
Hening.
Sasori masih focus pada pemikirannya. Apa mungkin Temari selingkuh? Atau yang Deidara lihat bukan Temari? Yang punya rambut blonde kan bukan hanya temari. Ah iya! Sasori lupa menanyakan cirri-ciri fisik orang yang berpelukan dengan Temari.
Dia membulatkan tekad. Setelah pulang dari kantor, dia akan pulang ke rumah Temari.
"Temari! Kau membuatku terus memikirkanmu!" gumamnya.
Tangisan itu sudah tenang. Temari tak lagi mendengar isakan seorang Nara Shikamaru lagi setelah kurang lebih 1 menit lalu. Dia pun mencoba melepaskan pelukan shikamaru.
"Tetaplah seperti ini," Shikamaru berkata parau membuat Temari menghentikan aktifitasnya dan kembali mengusap lembut punggung tegap Shikamaru.
"Ini…membuatku nyaman," lanjutnya. Temari terhenti seketika dan tersenyum manis.
"Aku tak keberatan bila ini membuat pasienku nyaman" ucapnya lembut. Shikamaru diam.
Hening untuk beberapa saat. Mereka terlihat sangat menikmati posisi mereka saat ini. Hingga sebuah bola terlempar ke arah mereka.
'pluk!' dan reflex, shikamaru dan temari melepaskan pelukan mereka.
"Maaf nee-san, nii-san, aku tak sengaja. Silahkan lanjutkan bermesraannya" ucap seorang bocah laki-laki sambil mengambil bola yang terlempar tadi. Temari dan Shikamaru terlihat salah tingkah. Anak-anak yang sedang bermain bola pun terundang untuk menggoda pasangan itu.
"oi! Konohamaru! Jangan menggoda orang sedang berpacaran! Cepat bawa bolanya!" teriak bocah cantik berkucir dua tinggi.
"err..sebaiknya kita kembali, ini sudah sore" alih Temari, shikamaru mengangguk lalu mengikuti temari kea rah mobil.
"Nee-san, Nii-san terima kasih atas kunjungannya ke sini. Sering-sering ya, dan bawakan kami permen! Hehe" ucap seorang bocah laki-laki. TEmari hanya tersenyum
"Iya, tenang saja."
"Nek, terimakasih ya telah mengijinkanku berkunjung ke sini. Aku akan sering kesini" ucap Temari lembut. Nenek Chiyo hanya mengangguk dan mengucapkan salam perpisahan. Semua anak berebut bersalaman dengan Temari dan Shikamaru.
Dan akhirnya mereka pun kembali pulang ke rumah sakit.
"Kenapa kau bisa tahu tempat itu? Dan kau..sepertinya mengenal orang tua itu" ucap Shikamaru setelah mereka keluar dari gerbang panti asuhan.
"Nenek Chiyo adalah pasienku, aku menemukannya tersesat di depan rumahku, dia terlihat seperti yang kebingungan. Akupun memutuskan untuk merawatnya. Dan setelah dia siuman, dia bilang dia ingin pulang. Untunglah dia masih ingat jalan ke rumahnya, jadi aku antarkan saja. Dan ternyata rumahnya adalah sebuah panti asuhan kecil."
Shikamaru diam mendengar cerita temari. Entah kenapa Shikamaru piker mendengar, melihat, dekat, bersama dan apapun bersama temari menjadi lebih menyenangkan dan membuatnya nyaman.
"Dia mendirikan panti asuhan karena dia sangat sayang kepada anak kecil. Dulu, cucunya menghilang. Entah meninggal atau mungkin di culik, dan itu yang membuat nenek chiyo amat sangat menjaga dan menyayangi anak kecil." Lanjut Temari
"Kasihan sekali" gumam Shikamaru
"Nah, makanya kau harus bersyukur." Temari memulai ceramahnya membuat Shikamaru menatapnya bosan
"Aku doktermu. Aku harus bertanggung jawab atasmu saat ini. Kau harus mendengarkanku, pemalas" ucap temari. Shikamaru siap-siap memasang headsetnya tapi Temari dengan cekatan mengambilnya dan memulai ceramah dan motivasi super membosankan bagi shikamaru.
Hingga mereka telah sampai di rumah sakit.
"Sudah selesai bicaranya, dok?" Tanya Shikamaru malas.
"Seharusnya belum, tapi aku ini dokter yang pengertian. Aku harus menyuruhmu istirahat, bukan mendengarkan dokter cerewet seperti aku. Ayo masuk" jawab Temari.
Shikamaru menghela napas. Dia membuka sabuk pengamannya dan mengikuti temari memasuki rumah sakit.
"Nah, istirahatlah" ucap Temari sambil tersenyum lembut dan hanya mendapat jawab 'hn' dari Shikamaru.
"Besok kita tak ada jadwal terapi, mungkin lusa. Jadi kau besok bebas. Ingat jangan telat meminum obatmu." Ucap temari penuh perhatian.
"Iya, mendokusei" jawab Shikamaru yang kini telah berselimut.
"haha, yasudah. Sampai jumpa" Temari menutup pintu.
Hening. Kini temari telah pulang. Shikamaru merasa sangat kesepian. Baru saja dia merasakan kehangatan seorang temari.
Sasori membuka jas nya. Menjatuhkan tubuhnya di sofa. Rasanya sangat lelah menghadapi hari ini. Berbagai kejadian terjadi tanpa di duga. Mulai dari konsumen yang komplen, penurunan omset, ban mobilnya kemps, hingga wanitanya selingkuh—walau belum jelas. Sasori mencap hari ini adalah hari tersial sepanjang hidupnya.
Dia menghela napas untuk ke sekian kalinya, masih memikirkan kalimat apa yang bagus untuk menanyakan kejadian yang di duganya sebagai 'perselingkuhan' pada temari. Apa mungkin 'kau berselingkuh?' itu bisa membuat dirinya di putuskan. Temari cewek galak, egonya sangat besar, walaupun sering bersikap manis kepadanya, tapi siapa orang yang tak punya nafsu di dunia ini? Atau mungkin.. 'siapa pria yang jalan denganmu tadi?' Sasori bahkan tyak melihat batang hidung temari tadi. Atau 'kau berpelukan dengan siapa tadi?' Temari pasti mengira sasori penguntit dan posesif.
Atau—
'ceklek'
"haha iya iya, jangan besok aku kembalikan. Kau ini, dasar pemalas" ucap seseorang yang baru saja membuka pintu rumah temari. Dan itu adalah si empunya. Membuat sasori duduk tegap dan memandang temari hangat.
Temari terlihat terkejut atas kehadiran temari. Dia pun menutup telponnya dan mendekati sasori.
"kau kesini?" Tanya temari dengan senyum lebar. Membuat sasori semakin mencintainya. Manis sekali, pikirnya.
"Iya, kenapa? Tak boleh?" sasori memeluk Temari saat gadis itu duduk di sampingnya. Sasori sempat mecium aroma lain dari wanitanya itu. Aroma…pria.
"Ini kan sebentar lagi jadi rumahmu." Ucap Temari melepaskan pelukan sasori. Sasori tersenyum.
"Kemana saja tadi? Aku datang ke rumah sakit dan matsuri bilang kau sedang pergi" Sasori berbohong. Temari memutar atanya ke sebelah kiri. Seperti mencari alasan. Apa benar temari selingkuh?
"Tadi aku dari panti asuhan." Jawabnya. Oke, sasori sedikit percaya. Temari memang sering ke panti asuhan yang temari piker adalah tempat orang specialnya. Entah siapa dia tak tahu.
"Lain kali kau harus mengajakku kalau ke panti asuhan. Aku belum sama sekali kesana." Sasori menggenggam tangan temari. Temari mengangguk antusias.
"Iya, sayang. Aku mandi dulu ya, kau sudah makan malam belum?"
"Belum, aku menunggumu pulang." Ucap sasori manis.
"Sasori~ kau tak usah begitu. Lain kali kau makan lebih dulu, nanti kalau kau sakit kan bisa merepotkan" jawab temari
"Asal kau yang merawatku, sakit seumur hiduppun aku rela" sasori menggombal. Membuat temari blushing.
"Kau ini, yasudah aku mandi dulu. Aku akan memasakkan sesuatu yang special untukmu, tunggu ya!" Sasori mengangguk setelah mendengar penawaran special dari calon tunangannya itu.
Temari beranjak menuju kamarnya. Sasori melirik handphone temari yang tergeletak di atas meja. Dengan ragu ia pun meraih benda itu. Inilah saatnya, tadi dia melihat temari sedang menelpon dan menyebutkan 'dasar pemalas' kepada lawan bicara di telponnya itu. Pemalas, mengingatkan ia pada pasien temari yang akhir-akhir ini mengurangi jatahnya bertemu temari.
Dan bingo! Penelpon tadi adalah si nanas menyebalkan itu. Sasori merutuk dalam hati. Sasori punya bad feeling terhadap shikamaru. Sasori mengkhawatirkan temari. Dia takut temari di rebut oleh shikamaru.
Jam 7 pagi. Tak seperti biasanya pria berkucir itu bangun sepagi ini. Ini di karenakan akan tibanya dokter kesayangannya mengembalikan kalung keluarganya yang ketinggalan di mobil si dokter kemarin. Dan ini bisa jadi kesempatan untuknya.
Shikamaru membulatkan tekad. Dia yakin kalau dia benar jatuh hati pada dokter itu. Walaupun si dokter lebih tua darinya. Temari janji akan mengembalikannya jam 7 pagi. Karena setelah itu temari ada janji dengan seorang designer yang shikamaru tak peduli siapa dan untuk apa. Yang penting shikamaru bertemu temari walaupun hanya 1 menit.
'ceklek'
Pintu terbuka dan masuklah makhluk tuhan paling indah. Sasori.
Shikamaru mengernyitkan dahinya. Kenapa pria ini yang datang? Dia mengharapkan temari yang datang, bukan calon tunangannya yang menyebalkan ini. Shikamaru menatapnya malas.
"Kau bangun pagi ternyata, nice guy" ucap sasori sambil mendekati shikamaru.
"Ada apa kemari sasori-san?" demi kami-sama. Shikamaru tak benar-benar ikhlas mengucapka embel-embel san pada sasori. Kalian tahu? Bagi shikamaru ikhlas itu susah.
"sopan sekali. aku hanya mengembalikan barangmu yang ketinggalan di mobil tunanganku" ucap sasori. Shikamaru meralat ucapan sasori dalam hati. 'calon tunangan! Aku tahu itu!' batin shikamaru.
"kenapa kau yang mengembalikan?" Tanya shikamaru sambil memandangnya tajam.
"Temari berada di mobil, dia bilang dia terlalu malas untuk masuk ke rumah sakit. Kami harus buru-buru ke butik untuk fitting baju pertunangan kami." Ucapan sasori bak pisau yang menusuk dadanya. Terasa sakit. Berlebihan memang, tapi itu yang di katakana calon tunanagan sebenarnya temari. Dia hanya mampu mematung.
"oh, selamat kalau begitu" ucap Shikamaru sambil merebut kalung yang di pegang sasori dari tadi. Sasori tersenyum penuh kemenangan.
Sebenarnya sasori tak sepenuhnya berbohong. Dia hanya bohong soal temari terlalu malas untuk masuk rumah sakit. Sebenarnya temari menunggu di mobil atas permintaan sasori sendiri. Karena ia tak mau shikamaru melihat temari.
Sasori membalikkan badannya dan keluar ruang rawat inap shikamaru.
Shikamaru sendiri masih diam membisu di dalam, membayangkan temari akan semi sah menjadi milik pria lain. Itu sangat membuatnya terpukul.
"kuharap dokter temari datang kesini untuk memberitahuku kebenarannya." Ucap Shikamaru lirih.
Tak lama kemudian, pintu kembali dibuka.
'ceklek'
Waktu terasa berjalan sangat cepat saat seseornag di sana membuka sang pintu. Hati shikamaru dag dig dug tak terkira. Semoga harapannya menjadi kenyataan.
"Tadaima.."
TBC
akhirnya chap 2 selesai. Kritik dan Saran saya harapkan, terima kasih untuk yang sudah baca :)
