The Chambers of Rhetoric
[01]
Orang bilang, nasib itu seperti sebuah permadani, dipintal oleh jalinan benang. Satu dan yang lainnya terhubung dengan cara yang rumit dan sukar dijelaskan. Erat lagi panjang. Semuanya saling terkait, dari masa ke masa, generasi ke generasi, waktu ke waktu. Satu perubahan kecil bisa memengaruhi, bahkan cukup kuat untuk mengubah bentuk yang lain—entah apakah nanti akan bergerak ke arah yang positif, maupun sebaliknya.
Beberapa orang percaya, bahwa mereka dilahirkan untuk mengubah nasib. Maka dari itu, mereka pun melepas kuda-kuda, masuk ke dalam hutan, mencari tanah tempat di mana mereka bisa mengubahnya. Orang-orang yang terlalu pengecut mengunci diri mereka di dalam rumah.
Lenka, meskipun terlahir sebagai perempuan, bukanlah anak yang pengecut. Karena dia mewarisi darah ayahnya yang seorang ksatria, juga ibunya yang seorang penyembuh. Darah kedua orangtuanya mengalir di setiap serat-serat tubuh Lenka, membuatnya lahir sebagai seorang anak berbakat dengan harga diri tinggi dan berkemauan keras. Mirip sekali seperti ayah dan ibunya.
Lahir di tengah-tengah keluarga Engilram merupakan berkah bagi Lenka. Ayah yang baik, ibu yang penyayang, kakak yang perhatian, lalu seorang adik kembar yang melengkapi segalanya. Lenka merasa tak pernah merasa lebih sempurna dari ini. Mereka seperti sebuah lingkaran yang sempurna bentuknya.
Tapi, kemudian, semuanya rusak dalam satu malam.
Usia Lenka baru enam tahun ketika para gagak terbang melingkari langit kediamannya. Koakan mereka saling bersahutan, lalu ayah bersama para pengawal rumah bersama-sama mencabut pedang. Ibu dan Luna, si sulung keluarga Engilram, segera menyuruh Lenka, saudara kembarnya masuk ke sudut terdalam rumah, bersembunyi, sementara mereka berdua membantu para pria dari belakang, merapal mantra-mantra rumit untuk menciptakan pelindung.
Lenka tidak paham mengenai apa yang terjadi, karena ia masih terlalu kecil untuk mengerti. Ia hanya tahu satu hal: bahwa malam itu segel terlarang sudah dilepas—perihal apa itu segel terlarang, seperti apa wujudnya, bagaimana melepasnya, dan lain sebagainya … ia sama sekali tidak tahu.
Awalnya, dengan segala kepolosan yang melekat, Lenka mengira bahwa ia akan baik-baik saja. Begitu pula keluarganya yang lain. Tapi para gagak datang terlalu banyak. Dan gagak-gagak itu bukanlah gagak biasa. Lenka tahu karena salah satunya masuk dengan memecahkan kaca jendela.
Gagak yang masuk itu badannya menyerupai manusia; dari pundak hingga ke kaki. Bahkan dia juga punya dua tangan. Hanya saja di punggungnya ada sayap. Lebar dan hitam seperti langit malam. Kepalanya adalah kepala gagak. Paruhnya terbuka, menjeritkan koakan nyaring, sebelum terbang ke arah Lenka, mengambil saudara kembarnya untuk dibawa pergi.
Malam itu, Lenka kehilangan saudara kembarnya tersayang. Juga kedua orangtuanya. Kakak sulungnya juga. Mulai saat itu, ia pun hidup sebagai satu-satunya Engilram yang tersisa.
Sepuluh tahun berlalu, dan ia kini menemukan secercah harapan: bahwa mungkin adiknya masih ada.
Berbekal informasi kecil itu, maka Lenka pun mulai berkemas dan pergi memastikan. Berdua dengan sahabatnya, Mikuo, mereka memulai perjalanan.
Dan keduanya sudah semakin dekat.
Mikuo dan Lenka menatap kota yang berdiri di hadapannya. Memerhatikan bagaimana gerbang besar yang terbuat dari kayu nan kokoh itu terbentuk sebagai tanda perbatasan. Beberapa penduduk dan pedagang dari luar dengan kereta kuda ataupun gerobak bawaan mereka keluar-masuk. Sesekali, para penjaga gerbang—pria-pria bertubuh tegap dengan seragam warna merah berlambang sayap emas di dada (simbol kota itu)— memeriksa barang bawaan mereka yang ingin masuk.
Tanpa sadar, Lenka meluluskan gumaman. Lebih kelihatan takjub, ketimbang heran atau terkejut.
Dia tinggal di desa kecil dan belum pernah datang ke kota sebelumnya. Antusiasmenya meletup-letup, kendati tidak ada rona merah menjalari pipi. Antusiasmenya meletup-letup, kendati tak ada keinginan untuk menjelajahi kota asing di hadapannya.
Gadis itu menggenggam bagian dada dari chaperon warna marun miliknya. Antusiasmenya meletup-letup untuk satu hal, dan Lenka berusaha agar luapan rasa bersemangatnya itu tidak membuatnya meledak.
Lenka sendiri tahu, tidak seharusnya ia merasa bahagia seperti ini. Ia telah lancang membaca surat milik pamannya, lalu pergi dari rumah tanpa ijin. Bayangkan, semarah apa Al, pamannya, nanti? Ditambah lagi, ia juga turut serta menyeret Mikuo, temannya, ke dalam masalah ini. Lenka mungkin harus mempersiapkan diri menerima hukuman berat dari Al saat pulang nanti.
Tapi, oh, biarkan saja. Itu, 'kan, urusan nanti.
Genggaman Lenka pada chaperon semakin mengerat kala jarak mereka dengan kota tujuan semakin dekat. Duduk di atas kereta pengangkut sayuran begini memang tidak terasa nyaman. Ia harus rela terguncang-guncang tiap kali roda kereta, yang terbuat dari kayu, menggilas bebatuan ataupun melewati jalanan yang tak rata. Beberapa barang bisa saja jatuh dengan mudah, jika kau tidak menaruhnya dengan betul. Peringatan ini juga berlaku untuk Lenka.
Ia menyimpan sesuatu di balik chaperon-nya. Sesuatu yang rapuh, tapi juga sangat penting. Sebuah surat—milik Al, tapi dengan lancang ia buka, baca, dan bawa.
Kesalahan yang ia perbuat sangat besar, Lenka tahu. Tapi untuk kali ini saja, ia ingin mengabaikan semuanya. Karena, di dalam surat itu, ada kejelasan yang ia butuhkan: tentang dia, keluarganya, juga tentang seseorang yang sudah lama tidak ia temui.
Maka dari itu, ia terus-menerus memegangi chaperon. Memastikan jika surat itu baik-baik saja. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika kehilangan benda tersebut.
"Paman," Mikuo menoleh pada seorang pria setengah baya yang sibuk mengendalikan kuda; pria dengan kereta yang mengangkut kentang hasil kebun; pria baik hati yang bersedia memberi mereka tumpangan. "Apakah yang di depan itu Uth?"
Telunjuk Mikuo menuding pada kota yang sudah di depan mata. Semakin jarak mereka terkikis, pemuda itu bisa dengan jelas melihat atap-atap bangunan yang ada di sana. Mereka ada banyak sekali. Ia tidak punya bayangan tentang seberapa ramainya kota itu.
"Ya, ya. Itu Uth," jawab pria itu riang. Dia terlihat seperti orang yang senang tersenyum sejauh ini, Mikuo perhatikan. "Kalian belum pernah ke sana?"
Baik Mikuo maupun Lenka memberi gelengan. Hal ini membuat pria tersebut mengernyit.
"Seharusnya kalian datang bersama orangtua kalian jika ini kali pertama ke sini," kata pria itu. Ia menoleh sejenak pada mereka berdua, menampakkan wajah yang dipenuhi keriput serta mata abu-abu yang sudah terlihat sedikit sayu. "Memang, kudengar sekarang banyak anak-anak mandiri. Mereka suka pergi menjelajah sendiri, lalu ribut mengenai jati diri. Tapi, bagaimana pun, Uth adalah kota yang besar. Bagaimana kalau kalian tersesat?"
Ah, sungguh kekhawatiran yang menghangatkan hati.
Pria itu memang orang yang sangat baik. Baik Lenka maupun Mikuo lega bertemu dengannya. Maksudnya, hei, sudah sehari sejak mereka pergi dari rumah. Menyusuri hutan dan bukit untuk sampai ke Uth. Dan mereka harus rela bermalam di hutan. Tersesat, akibat tak tahu jalan.
Bertemu secara kebetulan dengan paman baik hati yang sedang mengantar stok kentang ke kota yang juga menjadi tujuan mereka rasanya seperti menerima anugerah.
"Tak perlu khawatir, Paman." Lenka menyunggingkan senyum ramah. "Kami hanya ingin menemui seseorang di sana."
"Seseorang?"
"Ya. Seseorang."
Tap, tap, tap. Bunyi langkah kuda di tanah mengisi suasana. Pria itu menaikkan alis. Penasaran berkilat di kedua bola mata abu-abunya. Lenka melanjutkan:
"…Dan kami tahu, ke mana harus pergi."
Rei tidak pernah mengerti dengan jalan pikiran majikannya.
"Rei, kau harus siapkan teh lagi."
"Anda sedang ingin minum teh saja hari ini, Nona Lily?"
"Bukan untukku, Rei."
"Jadi?"
"Kita akan kedatangan tamu nanti."
Sebuah kerutan lantas menghias dahi Rei sebelum ia sempat menoleh pada Lily, majikannya selama bertahun-tahun. Wanita itu tengah duduk di kursi di tengah-tengah ruang makan penginapan yang sedang sepi pengunjung, menatap ke luar jendela dengan pandangan yang sulit terdefinisi. Tangannya kurus, memegang cangkir keramik berisi teh yang telah menghangat.
Rei, masih berdiri tegak di sudut ruangan, menatapnya dengan bingung. "Maaf?"
"Kita akan kedatangan tamu hari ini. Jadi, sebaiknya kau siapkan teh lagi," ulang Lily. Dia balas menatap Rei dengan aneh. "Kau tidak mendengarkanku?"
"Tidak, maaf. Saya hanya…." Rei terdiam sebentar. Mencari kosa kata yang tepat untuk digunakan. "…Yah, entahlah. Saya bahkan tidak yakin. Bagaimana cara kalian semua menyebut ini? 'Sedikit terkejut'?"
Sebenarnya, Rei cukup yakin sedikit terkejut sama sekali tidak mewakili apa yang ingin ia maksudkan. Bagaimana tidak? Sudah berulang kali, Rei mendapati Lily menyuruhnya melakukan sesuatu yang bahkan tidak ia ketahui alasannya. Tiba-tiba saja mengatakan akan ada tamu lalu menyuruhnya menyiapkan beberapa cangkir teh, seperti yang terjadi hari ini, adalah salah satu di antaranya. Orang akan berpikir, itu hal biasa. Menurut Rei, itu ajaib—oh, bukan, tapi aneh.
Kalau dipikir-pikir, dari mana Lily tahu akan ada tamu yang datang?
Lily bukan tipe orang yang mau ke luar dari kediamannya jika dirasa tidak memiliki satu pun keperluan atau ketika ia merasa harus menengok penginapannya. Di dalam rumah pun, ia hanya menghabiskan waktu dengan duduk di ruang keluarga. Menikmati teh sambil sesekali bicara pada Rei. Di waktu-waktu tertentu, ia melihat majikannya menatap langit di balik jendela. Pandangannya fokus, seperti sedang berusaha memecahkan sebuah teka-teki sulit.
Delapanbelas tahun, dan pandangan Rei terhadap majikannya tak pernah berubah: Lily adalah sosok enigmatis. Teka-teki tak terpecahkan.
Lily menaikkan alis. Tertarik. "Kau terkejut?"
"Ya," jawab Rei kemudian. "Anda tahu, mendengar Anda tiba-tiba saja menyuruhku melakukan sesuatu seolah-olah Anda telah tahu terlebih dulu apa yang akan terjadi, itu selalu membuatku kaget."
Sebuah senyum muncul di wajah Lily. Hati-hati, ia menaruh kembali cangkir berisi teh yang tinggal setengah ke atas meja. Bunyi temu ujung cangkir dengan permukaan piring kecil menimbulkan bunyi denting.
"Kau sudah ada di sini lebih dari delapan tahun, Rei. Dan dengan semua yang pernah terjadi, bukankah aneh kalau kau masih belum terbiasa?"
Rei kembali menaikkan kedua bahunya ringan. "Sepertinya saya tidak akan pernah terbiasa dengan yang satu itu."
"Sayang sekali."
Pemuda itu mengabaikan nada apologetik Lily. "Bagaimana Anda melakukannya? Maksudku, saya tahu Anda … yah, itu." Rei memilih kata itu sebagai pengganti penyihir. Istilah penyihir tabu di hadapan para awam. Tidak selayaknya disebutkan. Mereka sudah musnah, begitu berita yang beredar di kalangan manusia. "Tapi, tidak semua bisa melakukannya seperti Anda. Jadi, bagaimana?"
Lily terdiam sejenak. Menatap pemuda berambut jelaga itu dari balik bulu matanya yang lentik. Sebuah jeda yang sengaja Lily ciptakan membuat penasaran Rei makin naik ke ubun-ubun.
Sebuah momen berlalu, dan bibir berlapis gincu merah merekah indah.
"Dengan firasat."
A-ha. Kejutan!
Harusnya Rei tahu Lily akan menjawab seperti itu. Selalu saja penuh rahasia.
Lily hanya menanggapi dengan tawa ringan ketika menangkap basah Rei tengah mendengus kesal. Tidak merasa marah. Buat apa? Lagi pula Lily tidak pernah menuntut setiap pelayan di rumahnya atau pegawai di penginapannya untuk bersikap kelewat sopan. Untuk beberapa alasan, ia lebih senang menganggap mereka sebagai rekan. Asalkan mereka tidak membantah kata-kata Lily—terutama dalam beberapa hal—, maka Lily tak akan terlalu ambil pusing.
Tawa Lily mereda ketika Rei membungkuk sopan, permisi dari tempat itu. Begitu Rei berlalu, wanita itu kembali menatap ke luar jendela. Mencermati awan yang melayang di langit. Mencari-cari sesuatu.
Seaneh apa pun perintah Lily, sebagaimana pun ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Lily, wanita itu adalah majikan Rei—baik secara konotasi maupun denotasi. Lily yang membawanya ke tempat ini. Mengubahnya sampai seperti sekarang. Karena alasan itulah, Rei sangat menghormatinya.
Bagi Rei, adalah sebuah keharusan untuk menjalankan perintahnya.
Dengan langkah tenang dan teratur, Rei menyusuri koridor menuju dapur. Memberitahu Yuu Si Tukang Masak untuk menyiapkan hidangan dalam porsi besar malam ini.
"Apa ada tamu?" tanya Yuu.
Rei mengedikkan bahu dan menjawab dengan sesuatu yang terdengar seperti, siapa yang tahu.
Benar. Siapa yang tahu isi kepala Lily?
.
.
.
tbc
mau pelan-pelan aja dan per-chapter juga pendek-pendek. semoga nggak keberatan orz. dan yea, protagonis di sini memang sangat klise (I mean, that tragic past hohohoho), I know, just bear with it. /
balasan review (karena ini mc dan saya takut spamming inbox, balesnya di sini aja, ya)
Nekuro Yamikawa: rencanya emang mau ada adegan pertarungan, karena emang puncak konfliknya adalah 'pertarungan' ala RPG #HEH tapi berhubung ini kali pertama saya garap cerita begini, jadi mohon nggak expects yang macem-macem hehe. :"""D anyway, lama nggak keliatan. /o/
Hikaru V3: siip. updated, ya. ;)
kindovvf: thanks, Nggi. aku usaha keras banget buat ngasih foreshadow~ (nggak pinter foreshadow-ing huhuhu). makasih udah mampir :D
kritik dan saran yang membangun amat sangat dinanti,
sign,
datlostpanda
