Chapter 1 : Puncak kebahagiaan Hyuuga Hinata
Gadis itu tidak bisa berhenti memerah jika mengingat saat-saat pemuda itu menolongnya, ketika masih di sekolah dasar.
I Realized
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
.
.
Untuk kesekian kalinya, seorang gadis bersurai indigo, menghela nafas sebal, sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sudahlah Tenten-chan, berhentilah menggodaku," kata gadis itu meminta pada seseorang disamping kanannya. Sesekali ia mencuri pandang pada pemuda bersurai kuning yang tertawa lepas pada teman-temannya.
"O-oh lihat! Matamu sedang mencuri pandang kepadanya," kata Tenten yang masih ingin menggoda Hinata. Tenten, gadis bercepol dua yang berada di samping kanan Hinata, memiliki mata yang tajam dalam memprediksi situasi dan kondisi sahabat kecilnya itu.
"Tenten-chan!" gadis bersurai indigo, yang bernama Hinata itu memberengut sebal.
"Baiklah-baiklah. Hinata, jangan marah begitu. Bukannya sekarang keinginanmu terkabul?"
"Entahlah Tenten-chan" kata Hinata lirih dengan tatapan sendu.
"Ada apa Hinata?" tanya Tenten heran. Pasalnya, Hinata sangat senang saat tau dirinya sekelas dengan bocah kuning itu. Bahkan wajahnya memerah padam saat pemuda itu menyapanya di depan kelas saat Tenten mengantarnya Hinata ke kelas Hinata.
"Entah kenapa aku merasa bahwa tatapan Na-naruto-kun selelu menuju pada Haruno-san," jawab Hinata murung. Gadis bersurai indigo itu menunduk sambil memainkan kedua telunjuknya di depan dada.
"Siapa itu Haruno-san?" tanya Tenten mengernyitkan dahi.
"D-dia teman yang duduk di se-sebelahku Tenten-chan. Dia sangat baik kepadaku. Tapi, entah kenapa a-aku punya firasat buruk te-tentang i-ini Tenten-chan," jawab Hinata lirih. Tenten terdiam, matanya bergerak kesana-kemari menyusuri kantin yang ramai itu.
"Ba-bagaimana i-ini Tenten-chan? A-aku takut h-hal itu terjadi," kata Hinata dengan tatapan memelas, iris lavendernya agak basah, menahan air mata yang sudah di pelupuk matanya. Tentu saja Tenten tau maksud kata 'hal itu' dari Hinata. Ia hanya menatap Hinata sedih. Sedetik kemudian ia tersenyum cerah.
"Tidak akan terjadi hal buruk Hinata. Saat ini yang harus kau lakukan adalah semangat! Fighting!" teriak Tenten bersemangat sambil meninju kepalan tangannya ke udara. Hinata menatapnya sambil tersenyum.
"Kau tidak berubah sama sekali, kakak ipar," ujar Hinata terkikik
"A-apa mak-maksudmu Hinata?" tanya Tenten terbata-bata dan menurunkan tangannya kembali dan menunduk. Sepertinya virus Hinata telah menyebar ke Tenten.
"Aa lihat wajahmu kakak ipar, wajahmu memerah!" ujar Hinata puas menggoda teman sejak kecilnya itu.
"A-aku …" kata Tenten masih terbata-bata, wajahnya semakin memerah tak karuan. Hinata tertawa kecil dan tersenyum.
'Ya, tidak akan terjadi hal buruk. Semua akan baik-baik saja," batin Hinata
.
.
.
Tetapi siapa yang tau akan hal di masa depan, kan?
.
.
.
Ya, Hinata sangat mengagumi Naruto dan mungkin menurut pendapat Hinata, ia sedang mengalami yang kebanyakan orang sebut 'jatuh cinta' atau 'fall in love'. Sosoknya yang ceria, hangat secerah mentari, memberikan warna pada hidupnya yang datar dan monoton. Setiap harinya ia selalu memandang pemuda itu dari jauh. Awalnya hanya rasa kagum yang ia dapatkan saat melihat pemuda bermarga Namikaze itu. Tetapi, semakin waktu berjalan ia menyadari bahwa ia merasakan yang namanya jatuh cinta dalam hidupnya. Dan mungkin agak posesif terhadap orang yang dicintainya. Saat ia melihat pemuda itu bersama wanita lain, ia ingin memberontak, protes, atau kesal terhadap bocah kuning itu. Tetapi, apa daya dia bukan siapa-siapa pemuda bersurai kuning itu.
Semua berawal dari saat ia masih di bangku Sekolah Dasar Uzu, pemuda itu membelanya dihadapan seluruh teman-temannya yang membenci Hinata. Semua orang di kelas Hinata membenci Hinata karena provokasi dari Tayuya. Saat itu, Hinata duduk di pojokan kelas karena tidak mendapatkan tempat duduk. Sebenarnya masih ada tempat duduk yang bisa Hinata pakai, tapi Tayuya sudah membentaknya dan menyuruhnya duduk di lantai pojokan kelas. Alhasil, ia berada di pojokan kelas sambil memeluk tasnya. Ia masih dapat menahan tangis, saat ia diejek oleh Tayuya. Secara tiba-tiba, Sakon, anak buah Tayuya melempar tepung ke tubuhnya yang membuat seluruh tubuhnya menjadi putih lalu melemparkannya 5 telur yang membuat Hinata seperti adonan kue.
Flashback
"Bagus Sakon. Ambil tasnya buang ke tempat sampah!" perintah Tayuya pada Sakon.
"Ja-jangan Ta-Tayuya! Onegai!" pinta Hinata masih mempertahankan tasnya di pelukannya, saat Sakon berusaha merebut tas Hinata.
"Cih! Cepat Sakon!" ujar Tayuya
"Ja-jangan Tayuya! Itu hadiah dari Tou-san UNTUKKU!" teriak Hinata frustasi. Semua murid di kelas terperanjat saat mendapati Hinata teriak begitu keras, begitupula Tayuya yang selama ini belum pernah mendapati Hinata berteriak. Sedetik kemudian ia menyeringai kejam.
"Minggir Sakon biar kuatasi dia," kata Tayuya mengambil alih pekerjaan Sakon mengambil paksa tas Hinata. Hinata menatap tajam Tayuya.
"Cih!" Tayuya berdecih, ia langsung menginjak tangan Hinata, yang membuat pemiliknya berteriak kesakitan dan mengurangi pertahanan pada tasnya, dengan secepat kilat ia mengambil tas Hinata dan mau membuangnya di tempat sampah.
Grep
"APA YANG KAU LA… Naruto-kun?" Tayuya menatap Naruto heran saat melihat Naruto di depannya mengunci pergerakan tangannya.
"Lepaskan Tayuya."
"Cih! Tak sudi aku! Minggir kau Naruto-kun, biarpun kau adalah orang yang kusukai tapi aku akan tetap membuang ini!"
"Lepaskan Tayuya!"
"Tidak akan!" bentak Tayuya berusaha melapaskan tangannya dari Naruto.
"Kubilang LEPASKAN!" bentak Naruto menampar pipi Tayuya dan merebut tas Hinata. Naruto tak mempedulikan Tayuya yang memegang pipinya sambil menahan air matanya. Ia berjalan menuju Hinata yang menangis.
"Hinata-chan cepatlah pergi ke kamar mandi!" perintah Naruto. Hinata yang masih syok berusaha berdiri dengan kaki gemetar keluar kelas menuju ke kamar mandi. Naruto hanya menatap Hinata sambil tersenyum sampai Hinata sudah tidak terlihat oleh iris matanya. Naruto berdiri dan mendapati Tayuya menatap nyalang kepadanya. Hanya dua kata yang merubah tubuh Naruto menjadi babak belur.
"Hajar dia!" perintah Tayuya kepada lima anak buahnya. Detik berikutnya ia menghajar Naruto yang memeluk tas Hinata.
End of Flashback
Walaupun terlambat menolong Hinata saat itu. Naruto tetap Hinata anggap sebagai pahlawannya. Ia berpikir hal yang naif bahwa saat itu hingga sekarang Naruto menolongnya karena rasa cinta. Setiap memikirkan kejadian saat Naruto menolongnya ia selalu tersenyum senang dengan wajah memerah.
"Hinata-chan?" tanya seseorang menyadarkan Hinata dari sesi melamunnya itu.
"Ah, a-ada apa Ha-Haruno-san?" tanya Hinata pada gadis bersurai merah jambu yang berada di depannya.
"Kau melamun ya?" bukannya menjawab gadis bersurai merah jambu dan bermarga Haruno itu malah bertanya balik.
"A-ah ma-maaf Haruno-san. Aku tidak tau kalo ka-kamu se-sedang bi-bicara de-denganku," kata Hinata menunduk.
"Tidak apa-apa Hinata-chan, aku barusan bertemu dengan Anko-sensei saat bel masuk. Katanya hari ini beliau tidak masuk, dan sebelum pergi, Anko-sensei menceritakan sebuah rahasia kepadaku," kata Sakura memelankan suaranya.
"Ra-rahasia a-apa Haruno-san?" tanya Hinata.
"Eng, Hinata, kenapa tidak kamu panggil aku Sakura-chan? Jangan terlalu formal begitu," kata Sakura merubah topik sebentar.
"Ba-baik Sa-Sakura-chan."
"Begitu lebih baik," kata Sakura tersenyum.
"Kita tunggu seseorang dulu, baru akan kuberi tau rahasianya," kata Sakura lagi sampil mengedipkan sebelah matanya.
"Oh ya panggil di Ino-chan ya. Kebetulan di kelasnya Kakashi-sensei juga ada urusan dinas dengan Anko-sensei, jadi aku panggil dia ke kelas ini. Tidak apa-apa kan Hinata?"
"A-ah, ti-tidak apa-apa Sakura-chan."
"JIDAAAT!" teriak seseorang sambil berlari menuju Sakura.
"Ya! Ino-pig jangan berteriak di kelasku!" protes Sakura
"Aku kangen kamu Sakura!" kata Ino memeluk Sakura.
"Bagaimana dengan liburan ke Oto?" tanya Sakura melepas rangkulan Ino
"Lumayan. Oh Sakura siapa ini?" kata gadis bersurai pirang itu menatap Hinata lekat-lekat.
"Ah, dia temanku, dan mungkin akan jadi sahabat kita," kata Sakura tersenyum. Hinata tersenyum senang melihat Sakura, akhirnya ia mendapatkan sahabat lagi.
"Yeah! Hinata, aku Ino. Yamanaka Ino. Panggil aku Ino-chan. Hinata kawaiii," kata Ino mencubit pipi Hinata gemas. Lalu memeluk Hinata erat.
"A-aku Hinata. Hyuuga Hinata. Yoroshiku Ino-chan," kata Hinata.
"Ne, Ino-pig kau membuatnya sulit bernafas," ujar Sakura santai.
"A-ah. Gomen Hinata… Hehe, habisnya aku senang sekali punya teman yang kawaii dan 'itu' nya besar… hehe," kata Ino nyengir sambil menunjuk dadanya. Wajah Hinata memerah, semerah tomat mendengarnya. Melihat itu Ino melanjutkan ucapannya.
"Habisnya, Sakura-chan memiliki dada yang rata walaupun ia manis," ujar Ino frontal. Tidak menyadari ada seseorang dengan aura hitam di belakangnya.
"Apa maksudmu Ino?!" tanya Sakura mendelik tajam pada Ino.
"Bu-bukan begitu Sakura-chan. Y-yah aku, akui milikmu berkembang. Walaupun sedikit, tidak seperti Hinata," kata Ino melihat Sakura dari atas ke bawah.
"Ino-pig!" geram Sakura.
"Gomen-gomen Sakura-chan. Jadi, untuk apa kamu memanggilku?" tanya Ino merubah topik pembicaraan. Sakura yang melihat itu, tidak jadi mengorbarkan bendera perperangan ke Ino. Ia hanya menghela nafas lelah.
"Anko-sensei memberitahukan hal yang rahasia kepadaku."
"Sensei yang galak itu? Emang ada apa?"
"Katanya, ada pertukaran pelajar ke Jerman selama satu bulan, mungkin akan ada beasiswa untuk bersekolah disana, bagaimana, kalian berminat?" tanya Sakura pada Ino dan Hinata. Hinata hanya terdiam, ia berminat sih. Tapi, jika sebulan disana. Ia tidak akan bertemu dengan Naruto-kun. Ia menggeleng kepada Sakura.
"Tidak ada tempat lain? Aku sudah sering ke Jerman, untuk mengunjungi Dei-nii. Bukankah sekolah ini bermutu? Tidak ada tempat lain? Inggris misalnya?" tanya Ino menaikkan sebelah alisnya.
"Kau ini sombong sekali, dasar orang kaya. Ke Inggris sih ada, tapi baru rencana. Aku juga tidak tau Ino. Aku sedang ingin ke Jerman. Kenapa kamu tidak berminat Hinata?" tanya Sakura mengalihkan perhatiannya pada Hinata.
"A-ano. Aku tidak tau, Tou-san akan memperbolehkanku a-atau ti-tidak Sakura-chan," jawab Hinata berbohong.
"Bujuklah saja Hinata. Lumayan lho, bisa dapat beasiswa. Bagaimana?" desak Sakura.
"A-akan aku usahakan Sakura. Ta-tapi… aku tidak tau juga."
"Cepat dibujuk ya Hinata, tiga bulan lagi pendaftaran ditutup."
"Ha-hai'. Ka-kamu berniat ikut Sakura-chan?" tanya Hinata.
"Iya sih, tapi aku ingin kalian ikut. Setidaknya ada sahabatku yang akan menemaniku ke Jerman." Kata Sakura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Huh," Ino mendengus, Sakura dan Hinata menatap Ino heran. "Kau ini merepotkan orang lain saja, kenapa harus mengajak orang lain untuk ikut bersamamu. Toh belum juga kan, kamu lolos seleksi. Seleksinya sulit lho," kata Ino dengan ucapan yang menusuk sambil melihat kuku-kukunya yang habis dikuteks.
"Ih dasar, lama-lama kamu seperti Shikamaru saja. Lebih baik berusaha mendapatkan beasiswa daripada mengejar cowok tampanmu itu," kata Sakura membalas ucapan Ino, tidak tau bahwa ucapannya agak mengena di hati Hinata. Hinata merenungi ucapan Sakura
'Ucapan Sakura-chan ada benarnya. Tapi, aku kan hanya ingin selalu bersama Naruto-kun selamanya, aku tidak tau apa yang akan terjadi, jika aku harus berpisah dengannya,' batin Hinata melamun. Ia tidak menyadari bahwa Sakura dan Ino masih asik berdebat tentang laki-laki. Tatapan Hinata berubah sendu, kala melihat Naruto-kun yang asik berbincang dengan temannya sambil sesekali menatap Sakura yang masih asik berdebat dengan Ino.
'Apa aku menyerah saja ya? Ini sudah enam tahun sejak aku mengaguminya dari jauh. Saat aku ingin mendekatinya, kenapa Naruto-kun terasa semakin jauh ya?' batin Hinata sedih.
'Tidak, aku tidak boleh menyerah begitu saja! Aku harus tetap semangat mengejar Naruto-kun! Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan oran lain. Ganbatte Hinata!' Hinata menyemangati dirinya sendiri dan bertekad mengejar Naruto yang menurutnya semakin jauh. Tatapannya yang awalnya sendu merubah iris lavendernya berkilat senang dan berbinar-binar. Ia mengepalkan tangannya dan mendongak tidak menunduk lagi. Ia menatap Sakura dan Ino bergantian.
"Sakura-chan, Ino-chan," panggil Hinata dengan mata yang cerah.
"Ada apa Hinata?" tanya Ino mengeluarkan suaranya sambil menatap Hinata, karena sudah mernomalkan nafasnya yang sejak tadi berdebat dengan Sakura. Sedangkan, Sakura menatap Hinata sambil menormalkan nafasnya.
" Aku tidak akan mendaftar pada pertukaran pelajar itu," kata Hinata penuh keyakinan.
"Kenapa Hinata-chan?" tanya Sakura sedih.
"Mungkin ia tidak mau pergi denganmu, jidat," kata Ino menyeringai jahil.
"Ino-pig!" geram Sakura, menatap nyalang pada Ino, Ino hanya menggubrisnya tidak peduli dengan tatapan dan geraman Sakura. Ia hanya menatap meremehkan pada Sakura.
"Bukan Ino-chan, bukan karena hal itu."
"E-eh?" Ino dan Sakura langsung menoleh pada Hinata lagi, menghentikan perang dingin diantara mereka.
"Tidak ada alasan khusus Sakura-chan. Aku akan tetap bertahan disini, di Jepang, di Konoha. Gomen ne Sakura-chan. Aku sudah memutuskan untuk berkuliah di Universitas Tokyo. Aku sudah bertekad bersekolah disana. Dan keputusanku sudah bulat," kata Hinata yakin memandangi Ino dan Sakura.
"Yaah, kalau begitu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Maaf telah mendesakmu Hinata," kata Sakura sedih dan menghela nafas.
'Aku ingin bersekolah di Universitas Tokyo karena Naruto-kun akan bersekolah disana. Yosh! Hinata, ganbatte masuk Universitas Tokyo!' batin Hinata menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Hinata, aku merasa ada yang aneh padamu," kata Ino dengan tatapan curiga, hal itu membuat Hinata was-was takut Ino menyadari apa yang ada di pikirannya. Ia hanya mendongak menatap Ino bingung, takut berbicara sepatah kata pun.
"Apa yang aneh Ino-pig?" tanya Sakura malas, ia memperhatikan Ino yang menjulurkan wajahnya yang mendekati Hinata hingga berjarak sekitar 15 cm. Ino menatap Hinata dalam-dalam, yang membuat Hinata meneguk ludah.
"A-ano," mata Hinata bergerak kesana kemari, berusa menghindari tatapan Ino.
"Aku baru menyadarinya barusan," kata Ino mendramatisir. Detak jantung Hinata sudah menggila, ia panik. Tentu saja, karena ucapan Ino yang seakan menyudutkannya.
"A-apa? Me-menyadari a-apa?" tanya Hinata gugup.
Deg
Deg
Deg
Deg
Deg
Deg
"Kenapa kamu jadi tidak gagap saat bicara tadi?" tanya Ino dengan alis terangkat, hal itu sukses membuat Sakura sweatdrop. Hinata akhirnya menghela nafas lega.
'Ternyata hanya itu. Yokatta, tidak ada yang tau tentang perasaanku,' batin Hinata lega. Sakura kembali bertanya yang aneh-aneh pada Ino, Ino hanya mengangkat bahu tak peduli. Sesekali ia melirik Hinata yang menunduk dan menghela nafas.
'Apa hanya perasaanku saja, bahwa sejak tadi Hinata mencuri-curi pandang pada seseorang bersurai kuning? Haaah lupakan saja, mungkin aku hanya slah lihat' batin Ino dan memfokuskan perhatiannya pada Sakura, sesekali membalas ucapan Sakura.
Sepertinya dewi fortuna sedang berpihak pada Hinata, walaupun Ino sempat memergoki ia sedang mencuri-curi pandang dengan pemuda bersurai kuning yang kelihatan dengan jelas. Tetapi, akhirnya ia terselamatkan juga. Tetapi, sampai kapan dewi fortuna akan menyelamatkannya dari Ino yang memiliki pemikiran dan spekulasi yang tepat? Sepertinya Hinata harus berusaha waspada terhadap Ino. Karena tidak selalu dewi fortuna berpihak kepadanya, tidak selalu.
.
.
.
'Aku bisa terlambat!' batin Hinata sambil berlari menuju ke kelasnya.
"Hinata-chan! Cepatlah! Tinggal 10 menit lagi bel berbunyi!" teriak gadis bercepol dua melambaikan tangannya di ujung koridor. Melihat sahabat sejak sekolah menengah pertama itu, Hinata semakin meningkatkan kecepatan larinya. Sampai akhirnya ia sudah di hadapan gadis itu.
"Hosh… hosh… Ten-Tenten-chan… Hosh… Dih-dimanah Sakura-chan danh Ino-chan?… hosh…" kata Hinata terengah-, ia sedikit membungkuk memegang lututnya. Ia sangat kelelahan harus berlari 200 m dari halte bus terdekat menuju kelasnya.
"Mereka ada di dalam, seperti biasa, mereka sedang berdebat," kata Tenten mengarahkan jempolnya pada kedua gadis yang berada di dalam kelas, sedangkan Hinata dan Tenten masih berada di pintu masuk kelas. Setelah nafas Hinata mulai teratur, ia memasuki kelas dan berjalan menuju kedua sahabatnya. Ia terdiam sejenak dan menoleh menatap Tenten, gadis bercepol dua.
"Ten-Tenten-chan, mau masuk?" tawar Hinata pada Tenten.
"Baiklah Hinata, tapi aku hanya sebentar disini," ujar Tenten mengikuti Hinata yang berjalan menuju kedua sahabat mereka. Ya, Hinata, Tenten, Sakura, dan Ino sudah membentuk sebuah ikatan persahabatan yang sudah terjalin selama dua bulan lamanya. Walaupun kelas Tenten dan Ino terpisah dengan Sakura dan Hinata, tidak menjadi penghalang bagi hubungan persahabatan mereka. Sifat mereka yang unik, membuat persahabatan mereka menjadi lebih erat. Ino dan Tenten berada di kelas yang sama yaitu XI-4 dan Sakura dan Hinata berada di kelas XI-2. Setidaknya jarak kelas mereka tedak terlalu jauh yang memudahkan aksse mereka untuk bertemu saat istirahat.
"O-ohayou gozaimasu, Ino-chan, Sakura-chan," sapa Hinata sambil tersenyum pada mereka berdua.
"Ah, ohayou Hinata. Tumben sekali kamu terlamabat masuk kelas. Duduklah," balas Sakura sambil mempersilahkan Hinata duduk di tempat yang semula ia duduki. Sakura berdiri dan duduk di bangkunya, lalu menyeret kursinya agar duduk lebih dekat dengan Hinata.
"Eh? Hinata-chan. Ohayou," sapa Ino menatap Hinata.
"Kali ini, topik apa yang kalian bahas?" tanya Tenten malas.
"Seperti biasa, bukan hal yang penting," kata Ino acuh samabil memainkan kuku-kuku panjangnya. Tenten hanya menggelengkan kepalanya.
"Hinata, tumben sekali kamu terlambat. Ada masalah apa?" tanya Sakura memiringkan sedikit kepalanya.
"Bu-bukan apa-apa Sakura-chan. Ha-hanya saja Neji-nii terlambat bangun, ia berkata siswa kelas 3 tahun ini tidak wajib masuk, karena sudah ujian kelulusan. Alhasil, aku menaiki angkutan umum, karena Neji-nii tidur lagi," jelas Hinata mengerucutkan bibirnya.
"Dasar, Neji itu memang harus diberi pelajaran. Kau yang mau jadi istrinya harus bersiap menghadapinya, Tenten-nee," kata Ino melirik Tenten dengan nada jahil. Yang sukses membuat wajah Tenten memerah. Tenten yang lebih tua dua bulan daripada Ino, membuat Ino memanggilnya dengan menggunakan embel-embel nee-san, karena Ino suka menjahili Tenten dengan menggunakan nee-san, walaupun Tenten tidak menyuruhnya.
"A-apa maksudmu, ha?! Pacaran saja belum, dasar Ino," umpat Tenten dengan wajah memerah.
Tidak terasa sudah satu menit menjelang bel berbunyi. Tenten dan Ino harus kembali ke kelasnya lagi. Hinata hanya tersenyum sampai melihat mereka berdua sudah menghilang dari jangkauan penglihatannya. Hinata sesekali mencuri-curi pandang pada Naruto, yang sepertinya sudah berangkat sejak dari tadi. Hinata yang masih memperhatikan dan mencuri-curi pandang pada Naruto, tidak menyadari bahwa pemuda bersurai kuning itu, menoleh dan menatapnya.
Hinata yang baru sadar dari lamunannya menatap iris Naruto dalam-dalam, Naruto pun juga membalas tatapannya. Lavender dan sappire bertemu saling menatap, dari jarak 2 meter. Hinata tersenyum gugup, yang malah dibalas Naruto dengan senyum hangat yang sehangat matahari. Hinata yang gugup langsung memalingkan wajahnya ke jendela dengan wajahnya yang memerah sambil sesekali mengipas-ngipasi wajahnya yang memerah.
Hinata tidak menyadari bahwa Sakura memandang Hinata dan Naruto dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ohayou minna!" sapa seorang sensei berambut merah bata dengan mata hazelnya yang bersinar terang.
"Ohayou sensei," sapa para siswa dan siswi, suara siswi lah yang paling bersemangat, karena sensei yang mengajari seni itu tampan di kalangan para guru menut kebanyakan siswi disana.
"Tahun kedua ajaran ini, sensei akan membahas tentang seni musik, melanjutkan teori minggu lalu dan praktek sebelumnya. Disini sensei akan membentuk kalian menjadi 17 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari dua orang,"
Para siswa-siswi ada yang antusias, ada yang acuh dan tidak peduli, dan ada juga yang mengeluh. Sayangnya Hinata masih teringat kejadian tadi, ia tidak terlalu mempedulikan perkatakan ucapan sensei muda itu.
"Ehem! Tenang semua, saya sudah memperediksi hal ini. Jadi, silahkan ambil undiannya, jangan berebut, dua orang-dua orang," kata guru yang agak rempong dan ribet itu. Siswa-siswi mulai mengambil undian mereka, tersisa Hinata dan Sakura yang belum mengambil.
"Hyuuga-san, Haruno-san. Cepatlah mengambil undian kalian," desak sensei itu.
"Ayo Hinata," ajak Sakura. Mendengar namanya dipanggil oleh dua orang membuatnya tersadar dari lamunannya. Dan membuat mereka berdua menjadi sorotan sementara olah para siswa-siswi, yang membuat Hinata agak risih, ia agak menundukkan kepalanya dan berjalan menuju meja guru bersama Sakura.
Di meja guru sudah terdapat kardus kecil dengan gulungan kertas yang berisi nomor absen para siswa. Sakura mengambil terlebih dahulu, barulah Hinata yang mengambil gulungan itu. Mereka berdua kembali ke tempat duduk mereka lagi, menunggu intruksi selanjutnya dari sensei itu.
"Buka sekarang!" perintah sensei itu. Hinata dan para murid segera membuka gulungan tersebut.
'28? Absen 28? Siapa itu?' batin Hinata sambil berpikir-pikir.
"Hinata, kamu sekelompok dengan siapa?" tanya Sakura menghampiri Hinata.
'Bukankah itu?' batin Sakura menutup mulutnya. Melihat Sakura yang menutup mulutnya, Hinata menatap Sakura heran, ia penasaran. Saking terfokusnya ia, dengan Sakura, ia tidak menyadari bahwa seseorang berjalan menuju ke arah mereka dengan senyum lebar.
"Hinata," suara khas pemuda itu membuat Hinata menoleh dengan wajah memerah.
"A-ada a-apa?" tanya Hinata gugup.
"Kita sekelompok!" kata pemuda itu bersemangat dengan senyum lebar.
TBC
Chapter 2 = Kehancuran Seorang Hyuuga Hinata.
A/N
Halo minna-san… saya sangat senang hari ini, akhirnya tugas saya sudah kelaaar… terima kasih pada minna-san yang sudah membaca ini. Konfliknya mulai muncul chapter selanjutnya, chapter ini masih pengenalan dulu…
Gomen, kalo chapter kemarin isinya sedikit sekali. Karena kemarin masih prolog, dan menurut saya, prolog itu tidak harus panjang-panjang.
Untuk Rer-san, saya masih newbie jadi saya tidak tau bahwa fanfiction punya kitab yang memberitahu mana yang haram dan yang mana yang halal, saya minta maaf jika telah membuat kesal anda sekalian, karena kemarin itu memang prolog dan menurut saya prolog itu tidak harus 3 k words. Saya sudah mencantumkan kata prolog. Atau font yang saya tulis kekecilan ya? Terima kasih sebesar-besarnya Rer-san, saya menjadi lebih tau mengenai dunia ffn.
Mungkin saya harus membesarkan font lain kali. Tanpa disuruh dan diancam pun saya sudah berniat membuat chapter selanjutnya berisi 3 k. terima kasih untuk para readers yang sudah membaca, mereview, mem follow, dan lain-lain, fict saya yang masih banyak kekurangan. Terima kasih yang sebesar-besarnya pada anda sekalian. Semoga chap ini tidak membuat anda kecewa…
