Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rate : T
Genre : Romance, Drama
Pairing : Ichigo x Hitsugaya
Spoiler Warning : Alternate Universe (AU), Out Of Character (OOC), maleXmale, Shounen-ai, Don't like Don't read!
Summary : Hitsugaya salah satu mahasiswa baru di sebuah fakultas. Di kampusnya akan di adakan malam inagurasi. Tapi sepertinya Hitsugaya tidak terlalu berminat dengan acara yang disediakan khusus untuk para mahasiswa baru itu. Di acara itu dia dia bertemu dengan cowok nggak jelas. Hingga ada seorang cowok yang menolongnya…
.
.
Malam Inagurasi
.
Chapter 2
.
.
Hitsugaya menarik napas diam-diam. Jarak wajah cowok yang dia duduki sangat dekat. Tangannya cowok itu membekap mulutnya agar tidak berteriak. Ditepuknya agak sedikit keras punggung tangan cowok itu. Cowok itu menoleh. Dilepaskannya tangannya dari mulut Hitsugaya. Tapi gantinya… lengan cowok itu mampir di lehernya. Hitsugaya sedikit kaget. Tapi segera di redamnya. Bau parfum cowok itu tercium. Sepertinya bau parfum yang mahal dan limited edition.
"Kenapa anak SD bisa berkeliaran disini," bisik cowok itu pelan. Urat nadi marah Hitsugaya timbul.
"AKU BUKAN AN… Hmmpph!" cowok itu langsung membekap kembali mulut Hitsugaya. Kedua mata emerald Hitsugaya memandang marah ke cowok itu.
"Ngomongnya pelan-pelan saja," ujar cowok itu. Dilonggarkan tangan yang membekap mulut cowok mungil itu.
"Aku bukan anak SD! Aku mahasiswa!" desis Hitsugaya tajam. Pikir dong! Masa anak SD main di tempat nggak jelas ini, gumamnya.
Kedua alis cowok itu terangkat. Lumayan kaget. Ternyata cowok mungil ini sudah mahasiswa toh.
"Semester berapa?"
"Semester satu. Angkatan baru," nada suara Hitsugaya sudah terdengar biasa.
"Oh… namamu?"
"Hitsugaya Toushiro," ditatapnya Ichigo, "Kamu juga angkatan baru?"
Cowok itu menggeleng pelan. Senyum tipis muncul dibibirnya, "Aku sudah angkatan lama."
"Oh…"
"Ck! Kemana cowok rambut putih itu?" suara seseorang menghentikan obrolan itu. Ternyata itu suara cowok nggak jelas tadi. Hitsugaya sedikit panik.
"Sssh… tenanglah. Kalau kamu begitu bentar malah ketahuan, Toushiro," cowok itu berusaha menenangkan Hitsugaya. Hitsugaya mengangguk paham.
Tidak lama kemudian cowok nggak jelas itu berjalan pergi dari situ. Hitsugaya menarik napas lega.
"Sepertinya dia sudah pergi…"
Hitsugaya mendongakkan kepalanya pelan-pelan, "Ya, sepertinya beg—"
Cup!
Hee? Suara apa itu?
Kedua mata Hitsugaya terbelalak lebar. Bibirnya tidak sengaja mampir di bibir cowok itu. Ditarik bibirnya ke arah belakang. Shit! Dasar bibir sialan. Bisa-bisanya mampir dibibir orang, maki Hitsugaya dalam hati.
Cowok itu menatap Hitsugaya. Sedikit kaget dengan ciuman dadakan itu. Sudut bibirnya terangkat.
"Aku nggak nyangka kalo kamu agresif," ujar cowok itu lirih.
Hitsugaya blushing, "Itu kecelakaan. Aku nggak sengaja."
Kedua alis cowok itu terangkat tinggi. "Bagaimana rasanya?" tanya cowok itu ringan. Hitsugaya terperangah.
"Hah?"
"Bagaimana rasa ciuman itu?" cowok itu mengulang pertanyaannya lagi.
"Apa… maksudmu?" tanya Hitsugaya pelan.
Cowok itu tersenyum menyeringai. Bibirnya mendekat ke telinga Hitsugaya. Hitsugaya bersikap waspada. Kalau-kalau nih cowok sama saja dengan cowok nggak jelas tadi.
"Bercanda. Nggak usah dipikirkan pertanyaan ku yang tadi," bisiknya pelan.
Hitsugaya diam-diam menarik napas lega. Kiraian mau apa.
"Mau ku antar pulang?" tanya cowok itu. Diangkatnya jaket yang menutup kepalanya dan Hitsugaya. Hitsugaya menggeleng cepat.
"Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri kok."
"Ini sudah jam dua pagi," ujar cowok itu kalem. Hitsugaya terperangah. Diliriknya jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Benar, euy!
"Kendaraan sudah jarang lewat. Mau ku antar?" tawar cowok itu lagi. Hitsugaya memandang ragu.
"Aku tidak maksa. Hanya menawarkan…," ditatapnya Hitsugaya yang masih terlihat ragu, "Ya sudah, bye." Ditinggalkannya Hitsugaya yang masih terduduk diam di sofa.
.
.
.
Hitsugaya memandangi ponselnya sambil mengumpat kesal. Bisa-bisanya nih HP kehabisan baterei. Sudah satu jam dia duduk di halte. Menunggu bus yang lewat. Tidak ada tanda-tanda kemunculan bus. Yang lewat hanya kendaraan pribadi. Mau jalan kaki sampai rumah? Boleh saja tapi harus menempuh jarak 9 km. Tadi waktu ke acara itu saja makan waktu satu jam lebih. Saking jauh dan macet di jalan.
Cowok mungil itu menghembuskan napas kuat-kuat. Diliriknya jam tangan. Jam tiga lewat lima menit. Suasana disitu tambah sunyi. Lampu jalan yang remang-remang. Semakin membuat suasana tambah menyeramkan.
"Sendirian, dek?" suara seseorang membuat Hitsugaya tersentak kaget. Ditolehkan kepalanya ke asal suara. Seorang pria berumur sekitaran empat puluh. Bibirnya tersenyum tipis. Sepertinya orang baik. Terlihat dari raut mukanya.
"Ya begitulah…" ujar Hitsugaya, "Paman juga?"
Paman itu tersenyum tipis. Kepalanya mengangguk.
"Kenapa sendirian di tempat begini?"
"Lagi menunggu bus."
Kedua alis paman itu mengerut, "Sudah tidak ada bus yang lewat kalau sudah jam begini, dek."
Hitsugaya sedikit kaget. Tapi dia sudah tahu kalau nggak ada bus yang lewat.
Udara malam berhembus sejuk. Obrolan kedua orang itu semakin tambah nyambung. Hingga seseorang menghampiri Hitsugaya dari arah belakang.
"Toushiro… apa yang kamu lakukan disini?"
Hitsugaya terkesiap. Dibalikkan tubuhnya. Cowok yang menolongnya tadi di tempat inagurasi. Berdiri tidak jauh dari tempat duduknya.
"Hei, apa yang kamu lakukan disini?" tanya cowok itu lagi.
"Aku menunggu bus. Benarkan, Paman?" dibalikkan wajahnya ke tempat duduk paman tadi. Tapi yang bersangkutan sudah tidak ada disitu.
"Paman siapa? Dari tadi kulihat kamu sendirian duduk disini," kedua alisnya mengerut heran.
"Tapi tadi ada paman yang menemaniku disini kok," Hitsugaya berdiri dari tempat duduknya.
"Umurnya sekitar empat puluh?" Hitsugaya mengangguk. Tahu darimana. Katanya tadi nggak lihat.
"Dia sudah mati. Kecelakaannya di depan halte ini," ujar cowok itu enteng.
Deg! Jantung Hitsugaya berdetak. Jadi yang tadi itu arwahnya?
"Ku dengar katanya kalau ada kendaraan yang lewat disini jam tiga pagi. Akan kecelakaan dan mati ditempat. Dari tadi kamu disini apa ada kendaraan yang lewat?"
Hitsugaya mengangguk pelan, "Hanya satu tadi. Sebelum jam tiga," suaranya pelan. Jadi memang benar ya? Bulu kuduknya berdiri.
"Ayo. Ku antar pulang," ajak cowok itu, "Ku pikir kamu sudah pulang. Nggak tahunya masih duduk disini."
Hitsugaya menatap cowok di depannya itu. Jadi, dia mengkhawatirkanku?
Cowok itu mengulurkan tangan kirinya. Hitsugaya menyambut uluran tangan itu. Tangannya hangat, gumam Hitsugaya dalam hati. Semburat merah muncul di kedua pipinya. Untung tempat itu lumayan gelap.
.
.
.
Ruangan kuliah itu hanya terlihat beberapa mahasiswa. Hampir enam puluh persen tidak ada yang masuk. Hitsugaya bisa melihat wajah-wajah mengantuk dan teler akibat minuman keras yang diminum mereka. Hanya saja dia nggak habis pikir dengan Matsumoto. Diliriknya Matsumoto yang sedang ngerumpi dengan teman ceweknya. Wajahnya terlihat segar bugar. Ajaib tuh anak. Minum sampai tiga botol. Tapi tetap happy-happy saja. Sebenarnya yang masuk kuliah hanya tiga puluh persen. Sisanya pada datang terlambat.
Pikiran Hitsugaya menerawang. Waktu diantar cowok itu. dia sampai dirumah jam stengah lima lewat. Dia sangat berterima kasih. Kalau cowok itu nggak mengantarnya. Mungkin dia bakal di halte itu ditemani arwah. Jika mengingat itu. Hitsugaya bergidik. Tolol banget. Bisa-bisanya percaya kalau orang itu masih hidup. Untung waktu itu nggak lihat kakinya. Mungkin bakal pingsan ditempat kalau lihat kaki orang itu nggak ada.
Hitsugaya menepuk jidatnya. "Ck! Bego. Aku lupa nanya nama tuh cowok lagi," makinya pelan.
.
.
.
Hitsugaya menyapu pandangannya di ruangan yang dimasukinya itu. Setelah mata kuliah tadi. Dia harus pindah ke ruangan kuliah lain. Bikin ribet saja. Tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah aturan di kampusnya. Beberapa mahasiswa dari kelas lain duduk di ruangan itu. Hitsugaya duduk di bangku pertengahan paling ujung. Tempat duduk di ruangan ini sama seperti di bioskop. Beda dengan kelasnya yang biasa. Satu meja dosen lumayan besar terletak di depan ruangan. Hitsugaya melirik jam tangannya. Sudah lewat dari jam sebenarnya. Tapi dosen yang akan memberi kuliah belum muncul batang hidungnya.
Mahasiswi cewek yang duduk biasa di paling depan berbisik-bisik. Seorang mahasiswa masuk dari pintu dan berdiri di samping meja dosen. Diletakkannya buku yang lumayan tebal itu di meja. Dan pandangannya menyapu ruangan yang sudah terisi para mahasiswa itu.
"Ohayou…" sapanya sedikit tegas. Terlihat anggukan hormat. Dan balasan dari seluruh mahasiswa di ruangan itu. Hitsugaya tertegun. Itukan cowok yang di acara inagurasi. Kenapa…?
Penampilan cowok itu sedikit berbeda. Kacamata berwarna putih membingkai matanya. Terlihat cool!
"Kenalkan. Namaku Kurosaki Ichigo. Dosen yang akan memberi kalian kuliah hari ini," ujar cowok itu.
Cewek-cewek di ruangan itu serentak menarik napas. Diberi kuliah oleh cowok cakep begini. Mau seharian juga nggak keberatan. Cewek-cewek itu langsung sibuk merapikan penampilan mereka.
Hitsugaya ternganga. Kenapa cowok itu nggak bilang kemarin kalau dia dosen?
.
.
.
To be continued…
