A.N

Hi, Yagami here. I'm sorry I didn't update all of my pics recently. I've got plenty of task and that drive me crazy.

Also, thanks for all those reviews that I get. Wow, I didn't recognise there are so many Indonesian around this section.

Since this is the pics that I write only to maintain my update in this section, I'm going to announced that this story will end soon. Another note, I'm going to translate this into English, so all of you can read it without any problem.

To all of Indonesian or anyone who can understand Bahasa, please read it all.

Thanks, and please enjoy this story as I do ^^


One Last Breath 02

Sudah seminggu Nico bekerja pada keluarga Nishikino. Awalnya, dia terlihat tidak menyukai pekerjaan yang diberikan kepadanya. Semuanya terlihat remeh, bahkan dirinya merasa tidak dianggap di dalam lingkungan tersebut, terutama oleh tuannya, Nishikino Maki. Tetapi, sekarang dirinya melihat hal yang lain, tuannya adalah orang yang amat sangat jujur, setelah percakapan dengan Maki tiga hari yang lalu, Nico merasa tuannya tersebut sudah lebih bisa terbuka dengannya.

"Maki-chan, apakah tuan merasa lebih baik hari ini?" Nico bertanya pada tuannya tersebut. Mereka sudah sepakat bahwa tidak ada embel-embel –san dalam memanggil namanya.

Maki menolehkan wajahnya sedikit, kemudian menelengkannya kembali ke arah jendela. "Aku merasa lebih baik hari ini. Mungkin, pada akhirnya aku bisa merasakan dunia luar hari ini." Maki bergumam perlahan.

"Apa tuan ingin pergi keluar? Aku bisa menemani bila tuan menginginkannya." Nico bertanya kembali.

"Mungkin, tapi sebelum itu, bisakah kamu menghentikan perkataan formalmu itu padaku? Aku tidak menyukai panggilan tuan tersebut. Lebih baik kamu bersikap seperti teman saja di sebelahku." Maki berkata pelan.

"Tapi- bukankah itu tidak sopan? Aku bekerja di rumah ini untuk melayanimu, tapi aku tidak boleh memanggilmu tuan?" Nico bertanya lagi. Apa hari ini aku melakukan kesalahan? Kesepakatan kita hanya tanpa embel-embel –san, kan?

"Aku tidak menyukainya. Kamu dibayar oleh ibuku untuk menjadi temanku, kan? Kalau begitu, bersikaplah selayaknya teman padaku." Maki kembali berkata, kali ini nada suaranya meninggi, pertanda dia sedang tidak mood untuk berdebat.

"T—Tapi, apa tidak bisa berubah sama sekali? Apa aku betul-betul tidak diperbolehkan memanggilmu tuan?" Nico bertanya kembali, memastikan. Namun, dia dapat merasakan pipinya panas oleh rasa malu yang luar biasa. Maki betul-betul membuat kepalanya terasa berputar.

"Ya, dan lagi, kamu harus memanggil namaku dengan bangga. Kamu bekerja pada keluarga Nishikino, tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan dari hal itu, kan?" Kali ini, Maki mengalihkan wajahnya dan memandang gadis di depannya. Dia memberikan senyum lemah, namun terasa sangat menenangkan.

Nico tidak dapat lagi menahan rasa malu yang melanda wajahnya. Dia memalingkan wajahnya. "B—Baiklah, kalau itu memang maumu, aku tidak keberatan sama sekali." Nico berkata terbata-bata.

Maki tersenyum lembut. Dia mengambil notes yang ada di sebelahnya dan mulai menulis sesuatu. "Setelah ini, aku akan bersiap-siap." Maki bergumam perlahan. Nico menyadari hal itu dan mulai mempersiapkan kursi roda untuk tuannya. Sudah lama Maki menderita semacam penyakit, mungkin itulah yang menyebabkannya terus berbaring di kasur tanpa bisa melakukan apapun.

Maki keluar dari toilet dengan penampilan yang sudah siap. Nico mendorong kursi roda ke arahnya dan mendudukkan tuannya tersebut di atasnya. "Apa kamu sudah siap, Maki-chan?" Nico bertanya lembut.

Maki menganggukkan kepalanya. Dia sepertinya tidak tertarik berbicara banyak. Nico hanya tersenyum lembut dan membawa Maki ke taman di depan rumahnya.

"Apa disini sudah nyaman, Maki-chan?" Nico bertanya kembali.

"Iya, disini sudah cukup, Nico-chan. Terimakasih banyak." Maki tersenyum kembali. Nico menyadari bahwa Maki sekarang lebih banyak tersenyum kepadanya. Meskipun dia terlihat anggun dan pendiam, namun senyumnya sangat menghangatkan. Nico tidak dapat menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini selain perasaan bahwa perutnya merasakan hal yang aneh, dan ini hanya terjadi jika dirinya pergi bersama Maki.

"Nico-chan, apa menurutmu rumah ini indah?" Maki bertanya secara tiba-tiba. Nico agak kaget mendengar pernyataan mendadak tersebut. Namun, dia hanya tersenyum dan menjawab.

"Menurutku, tempat ini sangat indah, Maki-chan. Rumah ini besar sekali, bahkan sampai sekarang pun aku tidak bisa mengingat semua ruangannya." Nico tertawa perlahan.

"Hahaha, kalau kamu berpikir begitu, mungkin aku pun akan mulai memikirkan hal yang sama," Maki tertawa perlahan, kemudian wajahnya kembali serius. "Tetapi, apa yang aku rasakan di rumah ini adalah kesendirian. Aku tidak merasakan apapun di rumah seluas ini selain rasa dingin yang menusuk hatiku." Seketika itu juga, senyum di wajah Nico berubah. Baru kali ini Maki mengatakan sesuatu tentang rumahnya.

"Mengapa kamu berpikir demikian, Maki-chan?" Nico bertanya.

"Karena aku berpikir bahwa rumah itu tidak bisa menyediakan kehangatan yang aku inginkan. Kalau kamu perhatikan, tatapan semua orang dalam rumah itu terlalu dingin, karena itu aku tidak terlalu menyukai siapapun yang datang ke kamarku." Maki menceritakan sedikit tentang kondisi rumahnya. Nico menyimaknya dengan seksama, baru kali ini tuannya itu berbicara panjang lebar seperti itu, dan itu hanya kepadanya seorang.

"Berarti, aku termasuk orang yang kamu maksud, Maki-chan?" Nico bertanya dengan hati-hati.

Maki menelengkan wajahnya. Dia menarik alisnya kebingungan. "Sebenarnya, baru kali ini aku merasakan sesuatu yang tidak seharusnya kurasakan. Aku bisa tersenyum dengan normal, berbicara dengan normal, dan melakukan hal-hal normal lainnya. Dan itu hanya terjadi ketika engkau datang, Nico-chan." Maki tersenyum menjawab pertanyaan dari gadis di depannya. Kali ini, peryatannya tersebut sudah cukup membuat wajah Nico berubah merah. Dadanya serasa akan meledak oleh perkataan Maki barusan.

Apa dia betul-betul serius ketika mengatakan hal tersebut? Nico bertanya pada dirinya sendiri. "Lalu, apa artinya diriku untukmu, Maki-chan?"

Kali ini, Maki tidak bisa menjawab pertanyaan dari Nico. Mukanya terlihat merah padam. "M—Mungkin aku merasakan sesuatu yang berhubungan dengan pertemanan. Ya, hahaha mungkin hanya teman saja. Sekarang, lebih baik kita kembali ke dalam, Nico-chan. Kepalaku mulai pening." Maki mengalihkan pembicaraan dan langsung memerintahkan Nico untuk membawanya kembali ke dalam.

Nico tercengan melihat tingkah tuannya. Tidak dia sangka tuannya bisa terlihat salah tingkah seperti itu. "Baiklah, Maki-chan." Nico membalas dengan senyum lebar di mulutnya. Baginya, mungkin sekarang hubungan mereka akan berlanjut dengan lebih mengesankan lagi.

Maki menuliskan beberapa hal dalam buku catatannya. Dia memegang dadanya dengan lemah.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku?" Maki bertanya pada dirinya sendiri. Dia sudah memikirkan segala kemungkinan yang terjadi, bahkan mengkalkulasinya. Dia tidak mungkin merasakan sesuatu terhadap gadis bernama Yazawa Nico.

"Aku tidak boleh merasakan hal ini. Ini hal terlarang yang bisa merusak hubungan kita sebagai teman." Mai kembali bergumam. Tapi, dia tidak memungkiri bahwa dadanya terasa sesak. Ada rasa yang baru yang dirasakan oleh dadanya tersebut.

"Untuk saat ini, apa lebih baik aku tidak meladeninya sebagaimana mestinya? Aku tidak menginginkan rasa ini. Dia akan menderita bila aku mencintainya."

Di lain pihak, Nico kembali berbicara kepada adiknya, Kokoro.

"Kokoro, kakak mengalami hal yang luar biasa hari ini." Nico berkata lembut.

"Apa itu, kak? Apa itu berhubungan dengan apa yang kakak katakana kepadaku kemarin?" Kokoro bertanya pada kakaknya.

"Iya, ini berhubungan. Malahan, kakak merasakan hal yang tidak seharusnya kakak rasakan. Kakak merasakan dada kakak sesak, berdebar tak karuan." Nico memegang dadanya. Apa ini yang namanya jatuh cinta? Nico bertanya paa dirinya sendiri.

"Apa hal yang kakak rasakan itu adalah sesuatu yang buruk?" Kokoro kembali bertanya.

Nico memalingkan wajahnya dan menghadap adiknya. "Kakak sendiri masih bingung apakah perasaan ini adalah sesuatu yang buruk atau tidak." Nico bergumam perlahan.

"Kalau begitu, kenapa tidak kakak teruskan perasaan ini? Kakak mungkin akan menemukan jawabannya nanti." Kokoro tersenyum pada kakaknya. Nico menyadari bahwa adiknya mungkin berkata benar. Dia tidak memerlukan nalar untuk bisa mencintai seseorang. Hatinya lah yang nanti akan banyak berkata. Nico tersenyum pada adiknya.

"Kamu memang adik yang sangat mengagumkan, Kokoro. Kakak bangga padamu." Nico memeluk adiknya lembut, perasaan yang tidak tergoyahkan lagi kini dirasakan oleh Nico.

Aku mencintaimu, Maki-chan.

Nico datang pagi sekali keesokan harinya. Dia merakan bahagia yang amat sangat, dimana dia akan memberikan perhatiannya pada tuannya tersebut. Nico mengetuk kamar Maki perlahan.

"Maki-chan, apa aku boleh masuk?" Nico mengetuk perlahan, kemudian menyadari bahwa pintunya tidak ditutup dengan benar. Ketika pintu terbuka perlahan, Nico berpikir bahwa Maki lupa menutup pintu kamarnya.

"Maki-chan, aku melihat kamu tidak menutup pintu kamarmu, jadi aku masuk untuk-." Kata-katanya terputus ketika dia mendapati tidak ada siapapun di dalam kamar Maki. Nico tidak merasakan ada tanda-tanda kehidupan disana.

"M—Maki-chan? Apa kamu ada disini?" Nico berkata parau, berharap dia dapat menemukan tuannya tersebut. Tapi, Maki tidak ada dimanapun. Dia menghilang tanpa jejak, bahkan seluruh penghuni rumah tidak mengetahui dimana Maki berada. Nico meneteskan air matanya, disaat dia sudah bisa mengetahui apa yang terjadi pada dirinya, Maki menghilang tepat di depan matanya.

"Dimana kamu sebenarnya, Maki-chan?" Nico berkata parau.


Well, this story is end here, for now. Thanks for reading it guys. Also, please give me some reviews. It helps me a lot, really T_T.

Also, for the mean time, I'm going to continue my other pics, To The One I Love and A Reason to Live. I'm going to make the last chapter for my other pics, My Wish. So, if you guys have time, please visit my other story.

Regards, see you on the next chapter guys ^^