Nara

Temari & Shikamaru N.

T

Romance/family

© Sheny Alviany, 2013

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Cerita ini hanya fiksi, mohon maaf apabila ada kesamaan nama tokoh, watak, alur, dll merupakan sebuah ketidak sengajaan. Hanya untuk profesionalitas dan hiburan semata. Dan juga berbagai Typo yang tidak disengaja.

Summary : Shikamaru dan Temari menikah atas dasar perjodohan. Yoshino tak menyukai Temari sebagai menantunya. Ia pun nekat tinggal bersama Shikamaru dan Temari. Bagaimanakah kisah kehidupan mereka?

Okelah, saya kembali minna^^ saya berusaha banget loh ya update kilat, soalnya bentar lagi mau ujian, jadi punya sedikit waktu buat ngetik, nanti kalo udah ujian saya pasti nge-post lebih banyak lagi ff deh:D yaudah deh ya, ini chapter 2 buat Nara. Saya persembahkan buat semua shippernya Shikatema. Dan buat yang nunggu;;)

Happy reading


Deg.

Hening. Perkataan Yoshino membuat ketiga makhluk di depannya terdiam kaku. Ino merasa tak enak. Shika perlahan melirik Temari dengan ekor matanya. Dan.. Temari, dia tak mampu hanya untuk sekedar menelan makanannya.

"err..itu..hanya bercanda bi." Ucap ino hati-hati.

Temari memundurkan kursinya dan membawa gelasnya yang masih kosong ke dapur. Shika menatap langkah istrinya itu. Dia tahu apa yang di rasakan Temari.

Temari kembali dari dapur tapi langsung masuk ke kamar.

"Baguslah kalau orang itu pergi" ucap Yoshino dan kembali menyuapkan nasinya.

Shikamaru memutar bola matanya kesal.

"ibu, bersikap seperti layaknya ibu lah kepada Temari. Dia sudah menjadi istriku, dan sekaligus anak ibu juga. Kasihan Temari, bu. Ayah pasti akan marah jika tahu ibu begini terhadapnya."

"hah? Kau memarahi ibumu sendiri demi wanita itu? Durhaka." Yoshino berkecak pinggang. Dia tak habis fikir dengan Shikamaru yang rela membentaknya demi Temari. Apa tadi dia bilang? Bersikap layaknya ibu? Bahkan Temari dan Shikamaru pun menikah hanya karena perjodohan.

"Bukan memarahi bu, ibu tidak mengerti perasaan temari!" Nada suara Shikamaru semakin tinggi.

"kau.."

"Sudahlah shika. mending kau susul istrimu saja. Biar aku yang disini" ucap Ino melerai. Shikamaru menghela nafas berat. Dia pun berdiri dan masuk ke kamarnya, menyusul temari.

'ceklek'

Kosong. Tak ada siapapun. Shikamaru benar-benar masuk dan mencari istrinya.

"Temari? Sedang apa kau disini?" Tanya Shikamaru saat mendapati istrinya bediri di balkon. Angin malam ini sangat dingin. Temari tidak memakai jaket.

Dia pun mendekati Temari. Temari perlahan berbalik dan mendapati suaminya. Dia tersenyum manis sekali, tapi shikamaru melihat bulu matanya yang basah. Temari seperti habis..menangis.

"kau kenapa?" Tanya Shikamaru sedikit khawatir

"hah? Tidak, hanya sedang gerah" ucap Temari masih tersenyum manis dan melihat bintang

"Angin malam tak bagus, temari. Masuklah"

"Baik, suamiku." Temari menunduk dan masuk ke dalam. Shikamaru sedikit senang karena perkataan Temari barusan. Dia pun menyusulnya masuk dan menutup pintu balkon.

"Shika, sepertinya lampu di kamar mandi mati. Kau harus memperbaikinya" ucap Temari saat akan ganti baju.

"Benarkah? Besok saja"

"Harus sekarang. Aku mau ganti baju." Rengek temari membuat Shikamaru gemas. Fikiran shikamaru berkelibat kemana-mana.

"Yasudah ganti baju saja" ucapnya sambil mengulum senyum

"Di kamar mandi." Temari memberikan tatapan memohon

"Disini saja temari"

"Disini ada kau, bodoh-_-"

"Kita kan suami-istri."

Skakmat. Temari blushing.

"argh! Mesum!" temari melempar Shikamaru dengan bantal.

"hey sakit!" shikamaru pun membalas perlakuan istrinya dan perang bantal pun dimulai.


Temari mengerjapkan matanya. Diliriknya jam weker yang berada di sebelahnya. Sudah jam 8 pagi, dan untungnya sekarang hari minggu dia bisa sedikit bersantai.

Dia pun melepaskan lengan yang melingkar di pinggangnya. Temari terkikik geli saat melihat wajah polos Shikamaru tidur. Dia pun memperhatikan wajah suaminya itu. Dia tampan fikir nya.

"polos sekali wajahnya" ucap Temari sambil menahan senyum dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya.

"Ibu pasti marah kalau aku baru bangun jam segini."

Temari memakai jaketnya dan keluar kamar.

"Aduduh menantuku yang cantik ini, meskipun sekarang hari libur, tapi kau sebagai seorang istri yang baik harus tetap bangun pagi! Kau ini, dasar pemalas!" Temari hanya menunduk.

"Lihat Ino! Dia sudah bangun dari jam 6 pagi dan membersihkan rumah. Tidak sepertimu"

"Maaf bu, semalam aku tidak bisa tidur jadi bangun kesiangan.." Temari berkata lirih

"Selalu saja begitu. Kan sudah ku bilang, berhenti jadi model dan jadilah ibu rumah tangga yang baik."

"ehh ada apa ini?" Tiba-tiba Shikamaru keluar dari kamar.

"Ini nih, istrimu. Dia selalu saja bangun kesiangan di hari minggu. Dan alasannya adalah dia tak bisa tidur. Apa apaan itu?!"

"Sudahlah bu, lagian juga Temari tak bisa tidur semalaman karena aku.." Yoshino langsung terbelalak hebat. Shikamaru yang menyebabkan Temari tak bisa tidur semalaman? Apa mereka semalam melakukannya? Tidak! Dia harus membuat Temari tak hamil. Dia tak sudi punya cucu dari gadis itu.

"Bibi, ada apa ini? Aku mendengar suaramu dari kamar mandi" Ino membuat Yoshino mengakhiri lamunannya.

"Tidak. Ino, kau antar bibi berbelanja saja. Biarkan rumah Shikamaru dan Temari yang membereskan." Ucap Yoshino dan berlalu ke kamarnya. Temari, Shikamaru dan Ino hanya saling pandang.

"Aku pulang kalian harus sudah menyelesaikannya. Ingat itu" Telunjuk Yoshino mengangkat tinggi untuk member peringatan. Shikamaru hanya menguap malas dan Temari mengangguk mengerti.

"Ayo Shika, nanti ibu marah."

"Iya iya, mendokusei"

"Kau selalu mengeluhkan itu. Tak ada kata lain?"

"Iya istriku yang cantik, tunggu sebentar" Temari terdiam, apa dia bilang? Istriku yang cantik? Temari menunduk merasakan pipinya yang panas.

Sekembalinya Shikamaru, terlihat meja ruang tamu sudah beres dan bersih. Dia menyunggingkan senyum tipis. Temari sudah berubah sekarang.

"jangan hanya melihat saja, ayo bantu aku. Ini sangat berat" keluh Temari sambil membawa sebuah kardus besar yang mungkin akan dia letakan di gudang.

"Sini biar aku saja." Shikamaru dengan cepat mengambil kardus itu dan membawanya menuju gudang.

Setelah beberapa kardus selesai mereka angkut, sekarang tinggal mencuci bed cover di kamar mereka. Dikarenakan bed cover nya sangat besar dan tebal, temari merasa lelah mencuci nya sendiri. Tiba-tiba Shikamaru menghampiri dan membantunya mencuci.

Temari tersenyum manis saat Shikamaru menawarkan diri.

"kau tak ada jadwal pemotretan hari ini?" Tanya Shikamaru basa-basi. Temari menggeleng.

"kau sendiri?"

"Hari ini aku libur, untungnya ada Neji yang menggantikanku. Bagaimana kalau kita..pergi nonton?" Shikamaru berkata sedikit ragu. Temari terdiam sebentar dan memandang intens shikamaru.

"Kau kemasukan? Kenapa tumben sekali mengajakku kencan akhir-akhir ini?" temari berkata dengan polosnya, membuat Shikamaru blushing dan membuang muka.

"Tapi tidak apa-apa, aku tak akan menolak" lanjut temari berbinar. Shikamaru tersenyum penuh kemenangan.

"pokonya setelah nonton kau harus mengantarkanku belanja, haya sedikit. Cukup beberapa potong baju." Shikamaru mulai merasakan firasat buruk.

"mukamu kenapa Shika? kau tidak mau?"

"Iya iya, bawel" Temari memberikan death glare pada suaminya itu.

"Sudah, jangan memandangku dengan pandangan seperti itu, kau terlihat seperti akan menerkamku, tahu." Shikamaru mulai takut dengan pandangan yang di berikan istrinya. Temari tak sedikitpun melunturkan tatapan mengerikan itu, membuat telujuk Shikamaru melayang dan menaruh setitik busa di hidungnya.

"haha kau lucu kalau begitu." Ucap Shikamaru. Temari pun mengambil sebongkah busa dan menempelkannya di kepala Shikamaru. Tawa pun meledak dari Temari.

Dan terjadilah perang busa disertai tawa nyaring mereka.


"kenapa bibi banyak membeli nanas?" Tanya ino bingung.

"hah? Err itu bibi hanya sedang ingin memakan buah-buahan yang asam, ya mungkin nanas cocok, jadi bibi beli saja" Yoshino terlihat kelabakan.

"Tapi bi, jeruk juga terlihat segar. Apa bibi mau beli?"

"iya beli saja, kau mau apa lagi?"

"tidak usah banyak-banyak bi, lusa aku akan pulang ke amerika. Sepertinya Sai sudah menungguku." Ino berkata sambil mengulum senyum, membayangkan kekasihnya yang berada di amerika itu.

"hah? Pulang? Untuk apa? Jangan. Sebaiknya kau disini saja."

"bi, aku tak enak dengan shikamaru dan Temari. Kurasa mereka jadi tak bebas dengan adanya aku."

"Siapa bilang? Mereka pasti sangat senang kau ada disana. Apalagi aku."

"tapikan aku punya usaha yang tak bisa di tinggalkan di amerika bi.." lirih ino. Yoshino pun hanya menghela nafas.

"Yasudah, tapi jangan lupa kau selalu menghubungiku disini."

"Iya bi, jangan khawatir."

"yasudah, ayo kita bayar"


Shikamaru membuka laci meja riasnya, membawa sebuah kotak berwarna biru dongker dan membuka isinya. Dia tersenyum tipis saat melihat sebuah jam tangan berwarna silver pemberian istrinya dulu, saat ulang tahunnya tahun lalu. Dia pun mengenakkannya.

Untuk ke sekian kalinya dia melihat kea rah pintu kamar mandi, dari tadi Temari belum juga membuka pintu itu. Katanya dia lagi ganti baju, tapi shikamaru fikir waktu yang di gunakan Temari untuk ganti baju sangat lama.

Shikamaru pun mendekati pintu dan menempelkan telinganya di pintu kamar mandi.

"Temari. Kenapa lama sekali? Apa yang sednag kau lakukan?"

Tak ada jawaban.

"Temari? Kau tidak apa-apa kan?"

Tak ada jawaban.

"Sekali lagi kau tak menjawab, aku terpaksa akan mendobrak pintu ini."

"iya tunggu sebentar! Bajuku ada sedikit masalah." Suara Temari terdengar putus asa.

"Biar aku bantu. Buka pintunya."

Temari terdiam, tidak mungkin dia meminta bantuan Shikamaru. Dressnya mempunyai resleting di belakang sehingga kalau Shikamaru membantunya otomatis dia akan melihat punggung temari. Temari cepat-cepat menggeleng.

"Tidak usah. Aku bisa"

"tapi kalau terus seperti ini, kau akan semakin lama."

Benar juga. Dengan ragu, iapun membuka pintu kamar mandi dan menatap Shikamaru malu.

"berbalik" ucap Shikamaru. Tapi temari tetap terdiam.

"kenapa? Ayo berbalik."

"tapi kau harus menutup matamu."

"kalau aku menutup matamu, aku tak bisa melihat resletingnya."

"kau bisa merabanya, shika." ting. Temari merasa menyesal mengatakan itu.

"Meraba ya.. bol—"

"tidak boleh meraba. Yasudah, cepat sletingkan." Temari berbalik dan menunduk.

Shikamaru tersenyum penuh kemenangan. Dilihatnya punggung temari yang putih mulus, dan juga..pengait bra nya yang berwana hitam. Shikamaru segera menggelengkan kepalanya, menendang jauh fikiran kotornya.

"selesai, ayo pergi"

Temari berbalik dengan matanya sedikit menyipit dan pipi merah merona. Membuat Shikamaru mengulum senyumnya.

"lama sekali, padahal kan sekedar menyeletingkan saja." Bibir temari mengerucut sebal.

"yasudah ayo kita pergi." Shikamaru segera menarik tangan temari dan menggenggamnya erat membuat Temari tersenyum tipis dan menggenggam tangan shikamaru.

Mobil shikamaru melaju cepat menuju salah satu pusat pembelanjaan di Jepang.

"pokonya aku ingin nonton film romantis." Rengek temari.

"Action lebih bagus, lebih menantang" shikamaru tak mau kalah.

"tidak, banyak darah dan perkelahian. Menjijikan."

"romantic itu terlalu monoton."

"yasudah, bagaimana kalau kita menontonnya sendiri-sendiri?"

"tidak! Yasudah kita nonton film yang kau pilih." Shikamaru memutar bola matanya malas. Dia mengalah demi istrinya. Shikamaru tersenyum saat melihat kepalan tangan Temari yang menunjukan tanda kemenangan.

"kau tunggu di sini saja, aku mau beli popcorn dan cola. Ingat jangan kemana-mana." Titah Shikamaru, temari hanya mengangguk dan duduk manis di kursi tunggu.

Shikamaru bergegas meninggalkan Temari.

Temari yang mulai bosan menunggu shikamaru pun hanya mengutak-atik handphonenya. Memasang headset di telinga kirinya dan mengangguk-ngangguk kecil menikmati alunan music.

"Temari?"

Temari menoleh kepada siapa yang memanggilnya. Alisnya mengerut mengingat-ngingat siapa pemuda yang berada di hadapannya. Pemuda berambut hitam pekat yang di ikat rendah. Dia merasa kenal dengan pemuda itu, tapi siapa..

"ini aku, itachi. Kau masih ingat?"

"oh iya, itachi-senpai. Haha apa kabar?" Temari merona seketika. Itachi adalah seniornya dulu yang errr pernah ia sukai.

Itachi lantas duduk di samping temari.

"Aku baik, kau sendiri? Aku sering melihatmu di majalah. Selamat, impianmu terkabul" goda itachi, temari hanya tersenyum malu. Jujur, itachi masih berada di peringkat 1 di hati Temari. Temari masih menympan rasa kepada itachi, walaupun hanya secuil.

"aku baik. senpai bisa saja." Ucap temari malu

"mau nonton film apa?" Tanya itachi basa basi.

"biasa, gadis menyukai film romantic, senpai hehe"

"ohh, sendirian?" Tanya itachi. Temari sedikit bingung mau jawab apa, bilang dengan suami? dia bahkan tidak ingin banyak orang yang tahu tentang statusnya, bilang dengan teman? Istri durhaka. Bilang sendiri? Dia takut—

"Ayo, film nya sudah mau mulai." Ucapan seseorang membuat Temari dan Itachi menoleh. Itu shikamaru! Temari sedikit membelalakan matanya.

Temari melihat paras Shikamaru yang menyiratkan pertanyaan 'siapa dia?'

"ini seniorku sewaktu SMA" ucap temari dengan senyuym tipis.

"Itachi Uchiha."

"Shikamaru nara."

"yasudah, kalian mau nonton kan? Sepertinya aku harus pergi. Selamat menikmati, ya" Itachi pamitan dan di jawab dengan senyuman hangat Temari.

Temari dan Shikamaru pun masuk ke dalam bioskop dan mencari tempat duduk mereka.

"lama sekali" keluh shikamaru.

"Sabar sedikit." Peringat temari, shikamaru hanya mampu diam dan memandang malas sekitar.

"oh iya, aku seperti mengenal pria tadi. Uchiha" ucap Shikamaru.

"kau mengenalnya dari mana? Jangan sok tau!" cibir temari

"serius. Seperti nama keluarga Obito-san." Jawab Shikamaru.

"ish kau ini! Yang bernama keluarga nara bukan kau saja." Temari mengerucutkan bibirnya.

"kau juga kan, Nara Temari?" goda Shikamaru. Temari menoleh ke kanan untuk menyembunyikan semburat merahnya.

'Shika~' batinnya.

"sudah ah, filmnya mau mulai" Temari mengambil cola yang berada di tangan shikamaru dan meminumnya.

Shikamaru tersenyum tipis saat melihat temari yang sedikit salah tingkah.


Film pun selesai di putar, membuat seluruh penonton berdecak kagum atas acting si pemeran. Filmnya begitu menyentuh dan romantic. Membuat temari terus saja begumam 'romantisnyaa~' dan sekaligus membuat Shikamaru memutar bola mata, bosan.

"kau mau kemana lagi?" Tanya shikamaru. Temari terlihat berfikir.

"bagaimana kalau kita makan?" usul temari langsung di setujui oleh Shikamaru. Mereka pun keluar mall dan melaju ke restorant pavorite mereka.

Akimichi's restaurant adalah restoran pavorite mereka. Dikarenakan masakannya yang enak dan juga pemiliknya yang notabene sahabat karib Shikamaru, Chouji.

"kau mau makan apa?" Tanya shikamaru sambil membulak-balik menu, mencari makanan yang ia rasa enak.

"steak sapi, jus tomat, dan salad. Kau?"

"sama kan saja, tanpa salad."

"baik. Silahkan menunggu tuan." Ucap seorang pelayan dan berlalu.

Beberapa menit menunggu, pesanan mereka pun datang. Temari dan Shikamaru terlihat menikmati makan siang mereka. Sesekali Temari tertawa melihat cara makan Shikamaru yang seperti orang tidak makan berhari-hari. Bahkan saus pun sedikit menempel di sudut bibirnya, membuat temari berdecak.

"ckck, kau ini. Ibu pasti mengajarkanmu makan dengan baik kan?" canda temari diiringin senyum jahil. Sambil mengusap saus itu dengan tissue.

"kau tahu? Dari pagi aku belum makan. Jadi, harap maklum " jawab Shikamaru. Temari terkekeh.

"Setidaknya kau punya malu karena ini bukan di rumah, tuan." Ucap temari.

"iya, istriku. Sesuai printah—secara tidak langsung—mu aku akan makan dengan perlahan." Shikamaru sengaja memelankan potongannya pada steak. Membuat Temari menatapnya aneh.

"Bukan begitu juga." Temari sweatdrop.

Mereka pun kembali melanjutkan makan mereka.

"Temari?"

Sebuah seuara mengagetkan Temari. Mereka berdua menoleh dan mendapati seseorang yang Temari kenal.

Dia…

To Be Continued

Hallo minna^^ saya comeback, membawakan kelanjutan dari ff Nara.

Maaf banget deh ya kalo ceritanya di chapter ini gak seru, sumpah gak focus banget T-T. Dan maaf atas keterlambatan kedatangannya ini ff T-T maaf~ tapi saya janji di chapter selanjutnya saya akan semakin mematangkan cerita ini. Bocoran nih ya, mulai chapter depan, konfliknya bakal bejibun. (Bejibun begimana thor?)

Penasaran? Nantikan kelanjutannya^^

Kalau berkenan, silahkan berikan saya kritik dan sarannya, terimakasih J