By my side NamiUzu Ocha
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : family / romance / fantasy
Pair : (always) SasuNaru ^,^
DON'T READ ! IF YOU DON'T LIKE, OKE ?!
~~(3,3)~~
"Terimakasih." Ucap sang tuan rumah seraya berjabatan tangan dengan sang lawan bicara.
"Tidak masalah, ini sudah jadi kewajiban saya dalam melayanin kesehatan keluarga Uciha. Nah Sasuke kau tak perlu hawatir ia hanya terkena demam, jadi ia hanya perlu istirahat." Ucap seorang dokter cantik tersebut.
"Oh ya, jangan lupa kau beli obat yang sudah ku tulis ya. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit sang dokter tersebut.
"Ya, hati-hati di jalan Sizune-san."
Dengan berakhirnya percakapan tersebut, berakhir pula pertemuan antara sang dokter dengan tuan rumah.
"Haaahh." Sasuke menghela napas panjang.
Ia tak habis pikir, kenapa ia mau repot-repot mengurusi orang yang kini ada di hadapannya.
"Sejak kau dengan seenaknya masuk ke dalam duniaku dan pikiranku dobe."
"Tidak. Apa yang sudah kau lakukan Sasuke, kau bodoh." Rutuk Sasuke.
Sejak kapan seorang Uchiha mau mengeluarkan kata mutiaranya ? Dan apa yang ia katakan pada Naruto itu sungguhan ?
Oh, jika itu hanya bercanda, lalu kenapa Sasuke mendadak sangat panik ketika ia melihat tubuh Naruto yang tiba-tiba saja limbung dan jatuh ketanah tak sadarkan diri itu ?
Kini ia tahu jawaban dari semua pertanyaan itu. Ia –Sasuke Uchiha SUDAH jatuh cinta pada seorang Naruto Uzumaki.
Good job !
Apa yang akan ia katakana pada orang tuanya nanti ? Jika seorang Uchiha jatuh hati pada pemuda ?
Ah, ia lupa, mereka –keluarga Uchiha tidak pernah menganggapnya ada kan. Jadi apa yang akan ia lakukan tidak masalah bukan, termaksud mengklaim pemuda yang kini tertidur dengan damai di kasurnya.
'You're mine dobe.' Batin Sasuke sambil tersenyum lembut.
~~(3,3)~~
"Sudah kau temukan my dear berada ?" Tanya seorang lelaki ber-pearching pada rekannya.
"Maaf, kami kehilangan jejaknya my lord." Ucap salah seorang anak buahnya.
"Hmm, jadi begitu. Baiklah kalian bisa pergi sekarang, terimakasih Deidara, Sasori."
"Ha'i."
Buusssh..!
"Pein, sudah ku bilang jangan panggil Naruto-ku dengan sebutan itu atau ku bunuh kau." Ancam seorang laki-laki dengan wajah sedikit berkeriput sambil memamerkan sharinggan-nya dari balik kursi singgasana Pein.
"Ow ow, jangan marah Itachi, kau lupa siapa pemimpinnya disini hm ?" Balas Pein sambil menyeringai.
"Aku tidak peduli ! Yang aku inginkan hanya dia. Pewaris kekuatan Kyuubi, aku harus menemukannya."
"Baiklah, baiklah terserah apa mau mu. Tapi bagaimana dengan adik mu ? Apa dia sudah tahu tentang kebenaran keluarga Uciha ?"
"Tidak, dia tidak tahu." Terang Itachi.
Hening sesaat…
"Haahh, kita harus menjaga kyuubi dari 'orang itu' ya." Keluh Pein yang merasa bahwa kerjaannya akan numpuk untuk kedepannya.
"Susah juga ya. Kita sebagai tameng mereka harus bisa menjaga mereka dari orang-orang tak tau diri itu. Jika saja Minato-sama tidak mati saat melindungi pewaris kyuubi, maka tugas kita tak akan sesulit ini." Keluh lagi Pein.
"Ya aku setuju dengan mu Pein. Tapi apa boleh buat ini sudah jadi tugas kita sebagai pelindung keluarga Namikaze dan Uchiha." Imbuh Itachi.
"Bukannya kau juga dari Uchiha ? Kenapa kau malah memilih melindungi keluargamu sendiri Itachi ?"
"Tidak, aku bukannya memilih melindungi keluargaku sendiri, melainkan keluarga Namikaze. Mereka para Namikaze lebih menganggapku ada dari pada keluargaku sendiri. Maka dari itu, aku akan melindungi my dear dengan cara apapun."
"Kenapa kau tidak pernah berhubungan baik dengan keluargamu itu Itachi, ckck apa yang akan di lakukan Fugaku-sama jika beliau mendengar perkataanmu barusan."
"Aku tidak peduli."
"Huh, dasar Uchiha keras kepala."
"Hn."
~~(3,3)~~
"Hiks hiks kaa-chan, tou-chan, nee-chan tolong Naru."
"Kenapa menangis bocah ?!"
"Hiks hiks… Kenapa ? Apa salahku ? siapa kau ?"
" Siapa aku ? hmm, aku adalah kau! Dan kau adalah aku, kita ini satu."
"TIDAK !"
"Percuma saja kau menolaknya, itu sudah jadi kenyataan sekarang."
"A a aku tidak pecaya…"
"Dan kau tak akan percaya jika yang membunuh 'mereka' adalah kau. HAHAHA !"
"TIDAK ! Bukan aku yang membunuh tapi KAU !"
"Khu khu khu, tetap saja, aku adalah kau dan kau adalah aku."
"Tidak, tidak, TIDAK !"
Plaakk
"Ugh." Perih.
"Naru, kau tidak apa-apa ?"
Terdengar suara cemas Sasuke, menggantikan suara teriakan dan tangisan yang sebelumnya memenuhi kamar tersebut.
Dengan perlahan, Naruto membuka matanya, dan di dapatinya ia berada di sebuah kamar. Nafasnya memburu, keringat dingin membasahi tubuhnya yang bergetar hebat.
"Suke…"
Suara serak Naruto memecah keheningan yang sempat melanda kamar tersebut.
"Ssstt, tenangkan dirimu dobe. Kau sedang sakit." Ujar Sasuke menanagkan Naruto yang terlihat sangat ketakutan.
"Aku takut Suke." Rintih Nartuto memeluk dirinya sendiri. Tubuhnya bergetar menahan rasa takut yang sudah memenuhi dirinya sejak tadi.
Dengan perlahan, Sasuke memeluk tubuh yang lebih kecil darinya itu. Mencoba menenangkan sang lawan yang entah kenapa tiba-tiba saja berteriak histeris hingga terdengar sampai ke ruangan pribadi Sasuke yang saat itu ia sedang mengurusi berkas-berkas.
Sasuke langsung berlari menuju kamarnya, dimana Naruto tertidur. Dan alangkah terkejutnya Sasuke ketika ia sampai, ia melihat Naruto sedang meraung-raung sambil terus berteriak berkata 'tidak' dengan tubuh yang terus berontak tiap kali Sasuke menyentuhnya untuk menenangkan.
Bahkan Iruka ikut berlari menuju kamar Naruto, yang saat itu Iruka sedang berada di dapur, tempat yang terbilang agak jauh dari kamar Naruto.
Dan dengan terpaksa Sasuke harus menampar Naruto dari mimpi buruknya.
"Tidurlah." Ujar Sasuke sambil mengusap lembut kepala Naruto.
Dan dengan perlahan tubuh Naruto yang bergetar menjadi lebih tenang, dan tergantikan dengan dengkuran halus.
Sasuke meletakkan kembali tubuh Naruto dengan perlahan dan menyelimutinya hingga ke dada Naruto.
~~(3,3)~~
"Tuan."
"Hn, ada apa Kakashi ?"
"Maaf, tuan muda melarikan diri."
"Apa ?! Ck, anak itu selalu saja merepotkan. Kakashi segera cari anak itu, jangan sampai ia jatuh ketangan Orochimaru."
"Ha'i."
Wuuusss
"Jiraya."
"Apa tindakan kita sudah keterlaluan… Tsunade ?"
"Sejujurnya, tindakan kita sudah sangat keterlaluan. Mengekan Naruto dan menghapus ingatannya akan orangtuanya, itu sangat keterlaluan."
"Tapi, jika kita tidak menghapus ingatannya aku takut ia akan sangat kecewa terhadap dirinya."
"Aku tahu itu Jiraya."
"Tuan, nyonya, tuan muda berada di kediaman Uchiha."
"Bagus kita kesana sekarang Kakashi."
"Baik.
~~(3,3)~~
"Tadaima otouto."
"Okaeri Tuan Itachi."
"Loh ? Dimana Sasu-chan Iruka ?" Tanya Itachi kepada sang buttler.
"Tidak biasanya dia tidak menyambutku pulang." Imbuh lagi Itachi.
"Tuan muda Sasuke sudah tidur, Tuan." Jawab sang buttler.
"Hah ?" Itachi membeo tak percaya.
"Maafkan saya Tuan karna-"
Draap Draap Draap !
"My lovely Sasuuuu ~~"
Itachi berlari riang menuju kamar adik tercintanya. Tak di sadarinya tingkah lakunya sama sekali tidak berkepri-Uchiha-an.
Sweetdrob besar menggantung di kepala Iruka, lantaran ia heran dengan sikap tuannya yang satu ini jika sudah menyangkut adiknya pasti bertingkah ketidak Uchiha-an yang mampu mencoreng nama baik Uchiha.
"Haaahh." Iruka hanya bisa menghela napas dengan kebiasaan tuannya yang satu itu.
Dan akhirnya ia putuskan untuk melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda.
"Tuan, di depan ada tamu, katanya beliau ingin bertemu dengan Tuan Itachi."
Belum sempat membalikkan tubuhnya, Iruka sudah mendengar laporan salah seorang pelayan yang ada di kediaman Uchiha tersebut.
Memang di kediaman Uchiha Iruka adalah seorang buttler, jadi segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuannya harus bisa di sampaikan dulu ke hadapannya, karna memang itulah tugasnya, menjaga sang Tuan.
"Siapa mereka Rin ?" Tanya sang buttler.
"Ini kami… Iruka."
Belum sempat sang pelayan itu menjawab, seseorang sudah memotong pertanyaan Iruka.
"Kau…"
.
.
"My lovely Sa…. Su…"
Itachi menghentikan langkahnya ketika sampai di kamar, tempat dimana sang adik tercintanya tertidur. Namun langkahnya memang harus benar-benar berhenti karna pemandangan yang ia lihat.
Itachi melangkahkan kakinya dengan tenang, menghampiri satu-satunya kasur yang ada di ruangan itu. Di perhatikannya kedua pemuda yang sedang tidur di kasur tersebut.
Rambut pirang.
Kulit tan.
Tiga goresan di masing-masing pipinya.
'Jangan-jangan…' Batin Itachi tak percaya dengan yang ia lihat.
"Tuan di depan ada tamu, mereka ingin bertemu dengan anda." Ucap Iruka yang entah sejak kapan sudah ada di depan pintu kamar Sasuke.
'Sudah ku duga…' Batin Itchi.
"Hn, ada dimana mereka sekarang ?" Tanya Itachi.
"Di ruang keluarga, Tuan."
"Siapkan hidangan untuk tamu kita, Iruka."
"Baik."
"Tak ku sangka, yang selama ini dicari malah datang dengan sendirinya. Khu khu khu, hari keberuntunganku." Ucap Itachi pada dirinya sendiri, dan dengan perlahan melangkah pergi menuju tamunya berada.
~~(3,3)~~
Naruto membuka matanya perlahan, mengerjap-ngerjap kan matanya agar terbiasa dengan sinar yang tiba-tiba saja memaksa masuk ke retinanya. Setelah terbiasa, barulah ia sadari bahwa ia sedang berada di ruangan yang asing.
"Ugh," Baru saja Naruto mencoba untuk duduk, namun tiba-tiba saja rasa pusing dan pening menyerang kepalanya, dan refleks tangan tan itu mencengkram kepalanya.
"Tenanglah dulu dobe, kau baru saja bangun." Terdengar suara Sasuke dari arah pintu kamar tersebut.
"Teme ? Sedang apa kau disini ? Dan dimana ini ?" Tanya Naruto dengan beruntun, menghiraukan sakit kepalanya.
"Huh, kau ini baru saja bangun sudah cerewet. Memangnya salah jika aku datang ke kamarku sendiri ?" Tanya balik Sasuke sambil melangkah mendekati Naruto.
"Ka ka kamarmu teme ?"
"Hn."
Hening. Tak ada yang bicara, bahkan Naruto tak menyadari kalau Sasuke sudah ada di hadapannya.
"Bagaimana keadaanmu ?" Tanya Sasuke yang langsung menyadarkan Naruto.
"Baik kok te –UUWAA !" Teriak Naruto karna dengan tiba-tiba Sasuke sudah menyatukan keningnya dengan kening Naruto.
"Lumayan, setidaknya panasnya turun." Ujar Sasuke tenang.
"Kau mau membunuhku huh ?" Bentak Naruto karna ia sungguh tidak menyangka dengan apa yang di laukakn sahabatnya ini.
Kini jantungnya berdetak tak karuan.
"Hn."
"Huh, dasar Sasuke-Teme. Tidak bisakah sehari saja kau jauh dari kata 'Hn' mu itu ?" Tanya Naruto kesal.
Ia sungguh heran kenapa Sasuke sangat betah dengan kata irit itu. Dasar Uchiha, batin Naruto.
Sasuke hanya bisa tersenyum menahan tawa yang sedari tadi melihat ekspresi Naruto yang –menurutnya- imut itu.
"Apa ? Apa ada yang lucu huh ?" Tanya lagi Naruto dengan ketus. Ia sungguh kesal terhadap manusia yang ada di hadapannya kini.
"Hn, mukamu lucu jika kau marah dobe. Aku sampai gemaaa~s sekali, ingin rasanya mencubitmu seperti ini. Khu khu khu." Ujar Sasuke sambil mencubit kedua pipi Naruto.
"A a akit.. a shu keeh.. he pas.." Ujar Naruto tak jelas.
"Hn ? Apa katamu aku tak dengar ?" Ledek Sasuke yang sangat puas melihat ekspresi melas dari sang sahabat.
Plak, karna kesal Naruto akirnya menepis tangan Sasuke dari pipinyanya.
"Ugh, sakit tau ! Dasar teme pantat ayam." Rengek Naruto sambil mengembungkan pipinya, yang justru semakin imut dan membuat pertahanan iman Sasuke untuk tidak mencubit pipinya itu runtuh.
Dan sekali lagi Naruto harus mengerang kesakitan karna pasti nanti pippinya jadi tambah tembem dari sebelumnya.
.
.
"Ohayou Otouto, Naru-chan." Sapa Itachi kepada dua pemuda yang baru saja memasuki ruang makan.
"Ohayou." Balas Sasuke kalem.
"Ohayou Ita –ITACHI-SAN ?!" Naruto berkedip dua kali untuk memastikan penglihatannya.
"Se sedang apa kau disin ?" Tanya Naruto sambil tergagap.
'Ugh pasti sebentar lagi aku akan di seret ke rumah.' Batin Naruto miris.
"Loh ? Memangnya tidak boleh jika aku makan di rumah sendiri ?" Tanya Itachi.
Hening.
Satu detik…
Dua detik…
Tiga de –
"RUMAH ?!"
"Dobe kau berisik, tidak bisa kah kau tenang sedikit." Sasuke yang sejak tadi diam kini angkat bicara.
"Apa kah Naru-sama belum tahu kalau aku ini anikinya Sasuke ?"
"Naru-sama ?" Beo Sasuke setelah mendengar Itachi –kakaknya- memanggil sahabatnya dengan embel-embel 'sama' (tuan).
"Sasu-chan bukankah sudah ku cerikan semuanya padamu semalam ? Kenapa kau jadi bingung sekarang ?" Tanya Itachi kepada sang adik, setelah melihat respon sang adik yang sepertinya masih belum menerima keadaan sekitarnya.
"Hn." Balas Sasuke kalem (lagi).
"Tu tunggu dulu, apa-apaan ini sebenarnya ?" Setelah cukup tenang dari rasa terkejutnya akhirnya Nauto bertanya kepada kakak ber-adik yang ada di depannya.
"Baiklah, tapi setidaknya duduklah dulu Naru-sama." Ucap Itachi tenang sambil menggiring Naruto kemeja makan dan mempersilahkan tuannya kini duduk.
Setelah Naruto duduk barulah Itachi menceritakan apa yang belum di ketahui Sasuke maupun Naruto.
"Ehem, begini, bukankah sudah ku bilang padamu Sasuke tentang keluarga kita semalam ?" Tanya Itachi pada Sasuke. Dan dibalas dengan anggukan kepala Sasuke.
"Bagus, dan untukmu Naru-sama…"
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu." Potong Naruto karna di memag sangat tidak suka jika harus di panggil secara formal.
"Baiklah Naru-chan…" Lirik Itachi ke arah Tuannya yang kini malah mengembungkan pipinya karna di panggil 'chan'.
'Memangnya aku ini perempuan ?' Batin Naruto kesal.
"Hehehe, gomen, Naru-chan habisnya kau itu manis sih." Ucap Itachi tanpa sadar mengatakan bahwa tuannya manis dan langsung dapat tatapan deathglere dari sang adik.
Dan untungnya Naruto tak menyadari itu.
"Oke, sekarang serius." Ucap lagi Itachi dengan muka serius.
Melihat itu Sasuke langsung kembali ke poker face-nya dan Naruto menampakkan mimik horror.
'Ga gawat.' Batin Naruto merinding melihat tatapan serius Itachi.
"Kenapa anda melarikan diri saat latihan Naru-SAMA ?" Tanya Itachi penuh penekanan di setiap katanya.
'Latihan ?'
~~TBC~~
yuup cap 2 sudah publish, ku harap kalian semua suka ya :D
oh iya jangan lupa REVIEW ! karna saran dan kritik senpai akan sangat membantu ku dan memberiku semangat baru #plaak
REVIEW REVIEW REVIEW REVIEW REVIEW REVIEW REVIEW REVIEW REVIEW REVIEW REVIEW REVIEW REVIEW
