Be a Good
2
Tokyo Ghoul-
Keep Bleeding
Madame Big - Tokyo Ghoul
Shonen, gore, fiksi penggemar, psychology, fiksi remaja, tokyo ghoul.
.
.
.
Sebuah bangunan seperti benteng pertahanan tua yang telah di tinggalkan berdiri nampak kokoh tak tergilas waktu. Langit gelap dengan awan hitam pekat seakan terus memayunginya. Cahaya mataharipun seakan membutuhkan waktu lebih lama untuk jatuh menerangi bangunan.
Wanita tua bertubuh besar dengan wajah tebal dan perhiasan di setiap bagian tubuhnya berjalan melenggok anggun. Bibirnya merah mengkilap dengan aroma parfum yang amat menyengat membuat siapapun sedikit terganggu dengan baunya.
Ia membawa empat orang anak manusia yang di rantai pergelangan tangannya, maksudnya empat peliharaan baru baginya. Langkah gemulai dengan lenggok yang di anggapnya elok sedikit berlebihan. Betis kecil yang menopang badan besarnya nampak tidak seimbang dengan heels tingginya. Mengerakan jemarinya dengan hati-hati menutup slide ponselnya. Ia baru saja memamerkan pada rekan yang memiliki ketertarikan yang sama dengannya. Madame A atau Meiko Abe seorang ghoul yang memiliki ketertarikan yang sama, mereka semua bertemu di sebuah meja makan besar yang makanannya bertarung dan meregang nyawa menyiapkan diri sendiri untuk di nikmati.
Empat domba gembala yang di giring oleh serigala memasuki sarang mereka. Tanpa curiga dan ragu, telah jatuh pada sesuatu yang akan mengubah keseluruhan hidup mereka selama-lamanya.
Lorong-lorong dengan bata hitam tua dan aroma anyir tak sedikitpun mengganggunya, anak lelaki delapan tahun yang penuh rasa penasaran. Bola mata besar manisnya sesekali seakan mengilatkan cahaya merah kerap kali bertemu cairan merah kental yang mulai membusuk yang tanpa sengaja di injaknya. Jeruji tinggi dengan besi-besinya yang kuat, ia bisa menyelinap masuk dalam sel gelap yang hanya di sinari cahaya obor remang.
"Beruang! Wah dia mati! Kasihan sekali-" Rei menggenggam jeruji sel dingin yang ia lintasi. Seekor beruang yang sudah di kuliti dan cakar yang telah di potong habis.
Kulitnya tergantung rapi di samping tubuh besar yang tak lagi nampak bulu itu. Mulut beruang itu hancur dan gigi-giginya hilang. Mengerikan sekaligus menakjubkan.
Mendengar ocehan Rei, Madame Big nampak sedikit kesal ia mendekati Rei yang masih terkagum-kagum memuja pada apa yang di lihatnya.
"Dia mati karena dia lemah!" Komentar Madame Big sambil menarik kerah kaus Rei yang sedikit usang dan kotor. Mereka melanjutkan perjalanan menuju ruangan yang layak untuk mereka.
"Siapa yang bisa membunuh raksasa itu?"
"Jangan berisik! Lalu mulai sekarang panggil aku Mama, dan jangan banyak bicara atau Raksasa yang membunuh beruang lemah itu juga akan mengulitimu!" suara lengkingan wanita gemuk dengan lipatan lemak yang terlihat jelas di lehernya membuat tiga anak lainnya menjadi begitu ketakutan.
Tapi Rei menyunggingkan senyumannya, deretan gigi dan tatap antusias yang ia miliki sangat luar biasa. "Aku ingin melihatnya-" jawab Rei dengan suara pelannya, ia berusaha bersikap lebih sopan sekarang. Ia sepertinya akan menyukai wanita yang akan memberikannya mainan baru ini. Seperti apa yang akan ia mainkan dan seperti aoa cara mainnya?
Madame Big hanya tersenyum, ia hanya memikirkan anak kecil ini akan lekas mati jika langsung bermain dengan raksasa yang bisa membunuh beruang sebesar itu. Ah, tapi bagi Madame Big memelihara domba itu ya memang untuk melihat mereka mati pelan-pelan lalu di makan. Lucu dan itu sebuah hiburan untuk beberapa makhluk yang mungkin mulai bosan mengunyah daging manusia. Manusia, yang di bunuh manusia lainnya itu sangat lucu dan menyenangkan, mungkin rasanya akan memberikan sensasi luar biasa di lidah para ghoul yang begitu menilai tinggi dan menganggap agung cita rasa khas daging manusia. Restoran dengan bahan dasar daging manusia, pasti sangat enak.
.
.
.
Jahitan Pertama
Sebuah sel yang cukup luas untuk di isi dua orang anak berusia delapan tahun itu nampak mengerikan. Dinding dingin dengan aroma yang sangat aneh dan membuat mual. Dua sel yang bersebrangan, empat anak yang di bawa Madame Big itu di tempatkan pada dua sel yang berbeda.
"Hei! Kau! Nona dan Tuan! Aku ingin, dari dua penjara ini hanya menyisakan satu orang yang hidup besok!" suara berat wanita itu sedikit tertawa sambil menggerakan kipas tangannya dengan berayun gemulai. Tidak ada siapapun di sana kecuali anak-anak di dalam dua sel yang berbeda. Mereka saling melihat satu sama lain dengan bingung apa yang harus mereka lakukan. Lagi-lagi kecuali Rei yang hanya tersenyum memandang seorang anak laki-laki yang di tempatkan satu sel dengannya. Anak lelaki itu ketakutan mendapati tatapan Rei yang seakan sudah siap membunuhnya.
"Tunggu! Mama kenapa harus ada yang mati-" seorang anak perempuan begitu ketakutan, suaranya bergetar bingung ragu akan pertanyaannya. Madame big hanya tersenyum, sungging bibirnya yang mengejek dengan deretan giginya yang terlihat sedikit silau seakan berlapis dengan emas.
"Jika aku mendapati lebih dari dua orang yang hidup! Kalian semua akan mati di makan raksasa peliharaanku. Jadi! Sampai jumpa besok pagi, jadilah anak baik ya!" Wanita tambun dengan paha dan lengan besarnya melambai melenggak meninggalkan mereka berempat dalam sel gelap lembab yang sunyi itu.
Tiga anak itu berteriak sejadi-jadinya meminta pertolongan, terlalu lamban menyadari mereka telah masuk ke mulut serigala yang siap menunggu rasa lapar untuk mengoyak daging mereka.
"tolong!"
"Ku mohon! Siapapun!"
"Tolong kami-" Suara melengking yang sambil memukul-mukul jeruji sel yang lebih kecil dan rapat. Getaran dan rajukan dari mereka memenuhi ruangan setelah kepergian Madame Big, mereka mencari-cari adakah pintu keluar dari penjara itu. Menangis dan terus berteriak memohon pertolongan.
Membaca doa-doa yang ayah mereka ajarkan, padahal ayah yang mereka percayai itu juga bagian atau malah rekan dari Madame Big. Mencoba mendobrak Jeruji besi itu tanpa hasil. Suaranya lengkingan, isakan dan lirih yang masih mengharapkan pertolongan. Siapapun, tidak peduli Tuhan atau Iblis mereka hanya tak ingin mati di kunyah raksasa mengerikan itu.
"Kyaaaaa-" Hingga suara teriakan lebih kencang membuat sel yang lainnya terhenti mengeluarkan suara. 'Apa yang terjadi?'
Wajah anak lelaki menghantam jeruji dan berlumuran darah di seluruh wajahnya. "Kalian berisik!" Suzuya menarik rambut anak laki-laki yang ia banting keras ke lantai, dengan luka di seluruh wajahnya Rei memperlakukannya dengan begitu kasar. Ia bahkan tak memiliki senjata.
Membantingnya dan membenturkan kepalanya ke lantai hingga ia tak bisa melakukan perlawanan. Dua anak di sel yang lainnya jadi lebih ketakutan dan berteriak lebih kencang dari sebelumnya. Histeria pada ruangan lembab kotor dan menjijikan itu.
Tanpa Rei sadari, lumuran darah di telapak kaki mulai mengotori pakaiannya. "Hentikan- to.. tolong-" setengah sadar dengan wajah penuh memar dan berdarah serta kepalanya yang sudah berulang kali Rei hantamkan ke lantai membuat darahnya mengalir menghiasi lantai hingga keluar dari batas jeruji yang memenjarakan mereka.
"Kamu, mati sekarang saja! Kamu gak mau di makan sama Tuan Raksasa itu kan?" Suzuya menarik dagu anak seusianya yang bertelungkup di lantai dengan darah segar dari kepalanya. Anak itu tak cukup sadar untuk menjawab apa yang Rei katakan. Dalam setengah sadarnya itu ia bisa melihat wajah dua anak yang berada di sel sebrangnya.
Barulah ia sadar kenapa ia bisa jadi begini di tangan Rei, tapi mengapa sangat terlambat? Namun itu semua sudah tak berarti, akhirnya ia bahkan tak memberi perlawanan sedikitpun. 'Contoh anak lelaki yang buruk.'
"Karena kamu pernurut, aku gak akan menyiksamu lebih dari ini. Cepatlah mati, lalu sampaikan salamku pada Tuhan." hanya itu, suara samar yang tak bisa ia lihat dengan jelas wajah anak yang mengucapkannya. Bagaimana ia bisa sekejam ini, jemari jenjang pucat itu memegang leher teman satu selnya dengan tenang. Wajah yang menahan kesenangan itu.
Seringai dari deret gigi kecil-kecil nya yang manis dengan bolamata bulat besar yang penuh kebahagiaan. "Mati-"
Satu gerakan ringan dari telapak tangan Rei. Tanpa beban dan amat mudah lalu ia tersenyum, ia sudah mematahkan leher anak laki-laki itu dengan cepat. Dengan tangannya sendiri, tanpa pikir panjang.
"Ha.. Ha.. Hahahaha hahahha. Kok mudah banget-" Rei terkekeh, ia memandang mayat anak laki-laki yang baru saja di bunuhnya. Ia pikir membunuh seseorang itu sangatlah amat sulit. Dua anak di sebrang selnya kini tak bersuara. Mereka memandang penuh heran dan ketakutan, ekpresi yang tak bisa mereka mengerti. Rei terbahak menahan rasa geli di hatinya.
Mengapa membunuh manusia bahkan lebih mudah dari pada harus merapal kitab suci yang ayah angkatnya berikan. Tatapan dari dua pasang mata nanar yang terbelalak ketakutan.
Lembab lengket dan aroma segar darah yang mulai menusuk. Rei baru menyadari darah yang membasahi lantai dan telapak kakinya semakin lama jadi lebih lengket dan menggelikan.
Wajah tak bernyawa itu menghadap tepat pada wajah Rei. Mayat dengan tatapan mata ketakutan yang masih terbuka dan mulut menganganya. Seakan meminta pertolongan, atau seakan menggapai Rei untuk ikut kekematian bersamanya.
Sesak, pusing, berkunang-kunang, seperti di palu di bagian kepala belakangnya. Rei mundur cepat menghindari darah yang mulai mengalir menjangkau lebih luas. Ia benar-benar telah membunuh manusia.
Dadanya panas, isi perutnya seakan mendidih bergemuruh. Rei memojokan dirinya, memuntahkan apa yang mendesak dari perutnya berkali-kali.
Mual, dan ruangan yang seakan berputar di penglihatannya. Ia mengeluarkan penyebab mual dan sakit di kepalanya. Anak delapan tahun itu, kini telah menandai dirinya sendiri dengan membunuh seseorang yang bahkan tak memberi perlawanan.
Membunuh seseorang, mengapa sangat menyenangkan sekaligus memuakan?
Rei hanya tersenyum dalam tidurnya dengan nyaman di dipan yang tak di aliri darah dari mayat yang tergeletak seperti tertidur dengan mata terbuka di sampingnya. Menatap ketakutan ke arah Rei yang tersenyum tidur menatapi mayat yang menatapnya tanpa lelah itu. Mayat tidak merasa lelah lagi kan?
"Oyasuminasai-"
.
.
.
Jahitan Kedua
Suara gemeratak rantai yang bergesekan ke tanah membangunkan siapapun dengan bisingnya. Ruangan remang yang lilinnya seakan tak permah padam itu masih sama seperti saat Rei memejamkan mata. Kecuali satu hal. Gadis yang berada di sebrang selnya, telah berhasil mencekik mati anak yang tidur dalam selnya. Ah, tidur bersama orang mati pengalam baru baginya.
'Ah sayang sekali, aku melewatkan pertunjukan bagus itu.' gerutu Rei begitu kesal dengan kesempatan yang di lewatinya.
...
Rantai anjing yang kaitan di borgol, Madam Big mengenakan itu di lengan Rei dan menyeretnya hingga berjalan terseok-seok dengan kasar. Belum ada duapuluh empat jam ia bersama wanita tambun ini. Ia selalu sumringah melihat wanita yang sedikit bingung dengan anak manusia yang di dapatkannya ini.
'Peliharaan kesayangan'
Kilatan tombak dan mata pisau beradu di sebuah lantai pertempuran. Langkah-langkah kecil anak-anak yang berlari cepat memutari area pembantaian itu. Jika tidak berhati-hati mereka bisa terpeleset dan terbunuh oleh senjata mereka sendiri.
Seorang pria dengan topeng dan berpakaian sangat formal berdiri di atas podium yang letaknya lebih tinggi dari kursi penonton. Arena perburuan manusia yang sangat menegangkan.
"Ya! Dia peliharaan baruku lihatlah, dia sangat maniskan!" Teriak Madame Big memenuhi podium. Sorai dan sahutan teriakan yang memengangkan, gerakan lincah Rei menghindari anak perempuan yang yang mencoba menusuknya dengan tombak panjang yang mematikan.
"Ya bunuh! Cepat, tusuk perutnya!" suara teriakan penuh semangat semangat dari Madame Big. Peliharaannya yang sedang di adu di lantai dansa berdarah sambil menggenggam senjata itu.
Rei terus menghindar dengan cekatan, lama-kelamaan anak perempuan itu semakin cepat mengimbangi gerakan Rei yang masih ingin bermain kejar-kejaran ini lebih lama.
Hingga kesalahan kecil Rei membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan. Membuat ujung tombaknya, runcing dan memanjang menembus epidermis dan seisi perutnya.
"Ya! Keluarkan isi perutnya-"
Sedikit ngilu sakit dalam keadaan kaget. Rei menyadari anak perempuan di hadapannya tersenyum.
Senang?
'Apa dia menertawai kekalahanku?'
'Atau karena aku terpeleset'
'Dia tertawa? Pasti karena ia pikir telah menang dariku. Tolol sekali.'
Walau anak perempuan yang menusuknya itu hanya tersenyum membiarkan darah mengucur dari perut Rei. Seringai dari wajah anak perempuan itu, 'dia menikmatinya' pikir Rei menangkap ekpresi sumringah gadis yang menembuskan besi menyebabkan sakit di dalam perutnya.
Dengan gerak begitu cepat, sambil tersenyum seperti biasanya. Rei menarik rambut anak itu dengan keras dan-
Kilatan mata pisau yang di genggamnya dengan cepat memisahkan kepala dari badannya. Rei memotong leher anak perempuan itu hanya dengan sekali tebas oleh pisau besar di tangannya.
Madame Big dan para penonton lainnya hanya tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah dan refleks Rei yang sangat cepat dan tanggap begitu cekatan.
"Hei! Congkel matanya lemparkan padaku. Darling!" Madame Big seperti ingin menunjukan bahwa Rei adalah anak baik yang menuruti segala oermintaan mamanya. Anak lelaki delapan tahun itu tersenyum, ia melepaskan tombak yang mengoyak perutnya dengan sedikit kesakitan. Sebenarnya itu sangat sakit tapi ia menahannya. Ia mencongkel keluar kedua bolamata dengan manik biru jernih indah yang kini ada di genggaman tangannya.
"Mama!" Rei tersenyum bahagia, ia melempar satu bolamata itu pada gelas Mamanya yang duduk tenang di kursi penonton. Para pengunjung lainnya tertawa sambil memberi tepuk tangan salut pada Madam Big yang memiliki peliharaan semenyenangkan ini. Siapa yang tak iri?
"Sebenarnya aku lebih suka ternakku perempuan." gumamnya, Madam Big mengambil bolamata dengan sedikit darah di sana dengan jemarinya. Ia menjilat sedikit lendir dari bola kenyal yang agak keras di bagian pupilnya.
Memasukan seutuhnya dalam mulutnya yang bergelambir bibir tebal. 'Ahp-'
Lalu mengunyahnya, sensai segar bolamata manusia yang membasahi lidah jatuh ke tenggerokon dan bermuara di perutnya.
"Mama terlihat begitu senang."
...
"Namamu sekarang! Juuzo gadis kecil mama. Kemarilah!"
Dengan nyaring lantang wanita dengan wajah arogan dan berpenampilan nyentrik dengan kacamata aneh sebagai topengnya. Seakan melempar senyum penuh sayang pada peliharaan manis kesayangannya ini. Anak laki-laki yang memeluk kepala anak seusianya baru saja di bunuhnya dan berhasil merebut bolamatanya tersenyum sumringah. Menatap para penonton yang ia bayangkan suatu saat bisa ia potong-potong untuk permainannya.
ToBeCon~
Zen San :)
Terimakasih telah membuang waktumu membaca tulisan sampahku.
