The World Before her Eyes by Himawari96

I do not own of Naruto or Shingeki no Kyojin, nor the story

Saya telah meminta ijin untuk mempublikasikan serta menterjemahkan cerita ini dengan beberapa pengeditan didalamnya.

.

Dingin. Kepalaku terasa sakit. Aku merasa seperti berat badanku menjadi satu ton. Apakah aku sedang rebahan? Atau apakah aku sedang mengapung? Aku tidak bisa menceritakan keadaanku saat ini. Tapi… mungkin itu tidak penting. Mungkin aku sudah mati. Mati oleh tangan orang aneh yang menyebalkan itu. Sebuah tangan dingin menekan sesuatu yang basah di dahi lebarku. Seseorang sedang bersamaku!

Aku membuka mata dengan perlahan. Dan mencoba untuk melihat sekeliling. Aku sedang terkapar diatas tanah di sebuah hutan, dan kusadari hari sudah gelap. Aku menggertakkan gigi saat mencoba untuk bangun.

"Tenanglah, kau baru saja terjatuh." Pandanganku telah terbiasa dengan kegelapan dan aku bias melihat wajah seorang pria. Dia sudah tua, mungkin usianya sekitar empat puluhan tahun. Dia berkacamata dan memiliki rambut coklat gelap yang terkulai diatas bahunya.

"Terimakasih, aku baik-baik saja," Ucapku, walaupun kepalaku sakit seperti dipukul dengan palu dan rasa mual menerpaku. Aku merasa ngeri. Dia menahanku, mengabaikan aku yang protes.

"Kau terjatuh dari langit dengan ketinggian 12 kaki. Kau tidak baik-baik kau berlari kearah titan?"

Aku mengernyit bingung. Aku terjatuh? Apa yang sebenarnya terjadi? Dan… titan? Apa itu? Sebelum aku sempat berbicara mengeluarkan sebuah koper dan menggeledah isinya.

"Berbahaya berada diluar sini tanpa senjata. Bahkan, sebenarnya kau tidak diijinkan untuk berada disini. Hanya survei korps yang bisa ke luar dinding."

Apa yang dia bicarakan?

"Aku sungguh baik-baik saja, Tuan. Aku bias pulang ke rumah. Aku hanya mengalami kecelakaan ke-Tobi!" Aku terkesiap.

Segalanya datang membanjiriku, pertarungan, jurus asing, bedebah itu melakukan sesuatu!

"Tobi?" Tanya pria itu.

"Ya, dia adalah anggota Akatsuki. Dia sangat berbahaya. Dia menyerangku, tapi…" Aku melihat ke sekeliling hutan. Dia tak ada simanapun. Dan bahkan sekarang sudah malam.

"Berapa lama aku disini?" Tanyaku dengan buru-buru. Kenapa tidak dia bunuh saja aku. Aku pingsan dan dia memiliki kesempatan yang bagus.

"Empat jam. Kau beruntung karena kau tidak dimakan. Dan jangan mencemaskan Tobi, dia telah pergi. Kau seharusnya mencemaskan tentang para titan." Aku berkedip. Dimakan? Apa yang orang aneh ini katakana?

"Ap-apakah kau seorang kanibal?" Aku menggeliat dibawah sentuhannya. Dia mengatakan hal-hal asing dan tidak kumengerti, titan, dan dimakan…

"Tidak, tentu saja. Aku seorang dokter… hahaha. Aku bersumpah aku bukan titan!"

"Titan… apa maksudmu? Apa tidak tahu makhluk macam apayang kau sebut titan itu." Dia memandangku, sebuah focus yang aneh diantara kedua matanya. Apa aku salah bertanya seperti itu?

"Siapa namamu?" Dia bertanya dengan pelan.

"Sakura Haruno." Aku menjawab. Sesuatu terlihat salah disini.

"Hm, Sakura… darimana kau berasal?" Aku menelan ludah. Aku harap dia tidakmenekanku.

"K-Konoha, aku seorang ninja medis." Dia menerawang jauh.

"Jadi, kau tidak berasal dari dinding…" Dia terdiam selama beberapa saat dan aku menggeliat pada situasi yang sangat canggung.

"Hm… aku tidak yakin dimana Konoha, atau anggota Akatsuki. Tapi aku bisa menyembuhkanmu. Jadi, kau bisa mencari jalan menuju Dinding. Kau sebaiknya waspada, mereka sangat mencurigai orang luar."

Eh? Aku tidak ingin pergi ke dinding itu. Yang aku inginkan adalah kembali ke Konoha!

"Teman-temanku mungkin saat ini sedang mencariku. Jadi…" Aku berhenti berbicara saat dia menyodorkan sebuah jarum suntik. Didalamnya terdapat cairan berwarna putih kekuningan.

"Aku bisa menyembuhkan diriku sendiri. Jadi… terima kasih sudah melihatku, Tuan." Tanpa peringatan dia langsung menyuntikkan jarum itu pada lenganku. Aku terlalu terkejut untuk sekedar mbergerak menghindar. Jadi, aku hanya mampu terdiam. Mata hijauku melebar memandang jarum suntik yang telah kosons itu.

"Maafkan aku…" Dia menggeleng saat air mata menggenang di pelupuk matanya. "Aku harus melakukannya…"

Aku marah. Aku melompat keatas dan melemparkan jauh jarumm yang menancap di lenganku.

"Cairan macam apa yang ada didalam jarum itu?!" Aku berteriak. Ini salah, dan segalanya benar-benar salah. Aku mencengkram pundaknya dan mengguncangnya. Dia melihatku dengan mata yang bingung.

"Jangan biarkan mereka menang…" Dia menggenggam lenganku yang berada diatas bahunya dengan sayang. aku benar-benar bingung. Siapa pria ini?

"Kau mengingatkanku pada Eren." Dia melepasku dan aku mundur.

"Apa yang kau lakukan padaku?" Aku bertanya dengan tenang. Jika dia adalah musuh, bisa jadi yang dia berikan adalah racun.

"…aku mengubahmu." Dia bangkit dan membersihkan diri." Disanalah dindingnya. Berhati-hatilah dan tertaplah berada di lapangan terbuka. Kau tidak ingin pergi ke tangga sasaran titan. Mereka tidur saat malam hari. Jadi, bergeraklah cepat sebelum pagi dating."

Dia menyesuaikan kacamatanya dan jarinya menunjuk ke sebuah jalan kecil belukar. "Nona, aku ragu mereka akan membiarkanmu masuk ke desamu tanpa menjulukimu seorang pengkhianat."

Aku berkedip dalam kebingungan.

"Semoga perjalanmu aman, Nona." Dia berbalik lalu berjalan menjauh.

"Tunggu! Siapa kau sebenarnya?" Dia berhenti dan berbalik kearahku.

"Aku Dokter Yeager. Senang bertemu denganmu, Sakura." Setelah itu dia pergi.

"Tunggu!" Suaraku menggema di seluruh hutan. Aku berlari kearah dia pergi tapi setelah beberapa saat aku memilih untuk menyerah. Dia sudah pergi. Seolah-olah dia menghilang di udara.

Apakah aku berkhayal? Aku menggosok lenganku yang menyedihkan tempat dimana jarum tadi disuntikkan. Tidak, ini nyata. Orang aneh itu memasukkan sesuatu didalam tubuhku. Aku menggeleng. Aku sakit, dan dia mengatakan dia ingin mengobatiku. Dokter Yeager…

Mungkin ini hanya obat biasa. Aku menertawakan kekonyolanku. Tentu saja! Orang malang yang sedang berkhayal, tapi dia seorang dokter. Jika cairan tadi adalah racun pasti aku sudah akanmerasakan efeknya saat ini juga.

Tersenyum lalu aku berbalik. Dia ninja medis yang baik, bosan, dan mencoba untuk memata-matai diriku. Aku terus berjalan. Aku baru sadar kalau hutan ini jauh lebih luas dari kelihatannya saat aku berjalan di siang hari.

"Malam hari membuatmu ketakutan, Sakura." Ucapku pelan. Mungkin aku mencemaskan Tsunade-sama. Aku harus kembali ke Konoha secepatnya. Aku beruntung ninja medis itu menemukanku. Aku berhenti. Dia tidak memakai hitai ate. Angin bertiup dengan tenang. Untuk pertama kalinya aku berhenti beberapa saat untuk melihat keadaan sekitar. Pohon-pohon berbeda. Aku berjongkok di tanah dan mengambil beberapa daun-daun kering untuk meremasnya dan menempelkan pada hidungku. Ini bukan seperti bau hutan konoha yang kukenal. Aku bangkit berdiri dan berputar-putar. Tidak… aku berada di tempat lain.

"Kuso!" Aku memukul pohon terdekat. Tobi si gila yang menyebalkan itu mengirimku ke tempat lain. Itu kenapa dia mengucapkan selamat tinggal, sial!

Aku berada di hutan lain yang mungkin berada jauh dari Konoha. Mungkinkah aku berada di dekat kebun teh? Udara disini sedikit lembab… mungkin ini tanah di Desa Hujan bukan kebun teh. Aku tersenyum. dinding… Desa Hujan memiliki dinding raksasa,dan mungkin maksud pria tua tadi Konoha akan berpikir aku seorang pengkhianat jika aku tidak kembali secepatnya. Setelah semua itu, akan terasa mencurigakan jika kau pergi tanpa mengatakan apapun pada desa yang berbeda.

"Benar, Naruto emngatakan dia ada misi di Desa Hujan bersama Sai." Aku berteriak senang. Aku selamat!

Yang harus kulakukan adalah mengikuti jalanan kecil ini. Khukhu… keberuntunganku telah kembali! Aku bersiul riang. 'Mereka tidur di malam hari. Jadi, cepatlah.'

Aku mengernyit. Pria tua itu, apa maksudnya? Aku mengeluh. Bahkan sekarang aku terlalu takut untuk sekedar istirahat. Aku mendengus. Pria tua seram itu mencoba untuk menakutiku. Tapi yang dia katakan memang benar, aku harus cepat.s ekarang aku berada di wilayah musuh, dan aku tersesat. Tapi tidak lama, semoga saja. Aku berjalan kira-kira selama satu jam. Pohon-pohon disini terlihat tinggi dan tua. Udara dengan bau tumbuh-tumbuhan terassa sangat kuat. Kupikir-pikir banyak binatang buas di sekitar sini. Dimanapun aku melihat, ada rusa, kelinci atau bahkan srigala. Terlalu banyak kehidupan liar untuk menjadi normal. Aku menghela napas dan menggosok mataku yang mengantuk. Hutan ini mugkin tidak dikunjungi banyak orang. Kakiku tiba-tiba tertarik menuju sebuah lereng lembab. Aku tersenyum seperti orang bodoh. Aku berakhir dengan mengikuti misi bersama Naruto, betapa mengejutkan ketika dia akn muncul dan menemuklanku sedang duduk manis di sebuah kedai ramen di desa hujan.

Desa sudah didepan sana. Aku mengumpulkan chakra di kedua kakiku dan melesat. Angin menerpa wajahku saat aku berlari melewati hutan dengan kecepatan tinggi. Pohon-pohon terlihat buram. Heh, aku bergerak lebih cepat, Tsunade-sama akan bangga padaku. Aku berhenti ketika aku dihadapkan pada sebuah area terbuka. Ini ujung hutan. Bahkan dengan bantuan cahaya bulan, aku dapat melihat tempat gelap yang sedikit lebih jauh dari sini. Mungkin sebuah desa. Aku mengamati dengan hati-hati tanah di belakangku. Kenapa… kenapa segalanya sangat kosong? Sesuatu jelas salah. Mati. Semuanya. Tanaman seluas satu mil di depan sana, tanpa tanda jalan, atau yang lainnya. Aku belum pernah ke Desa Hujan, tapi seharusnya tidak sesepi ini.

"Tenang, Sakura. Kau belum berada di desa."

Aku mengumpulkan chakra dan berlari dengan kecepatan penuh. udara basah yang keras. Di sudut mataku aku bias melihat sesuatu. Sebuah bayangan besar, berbentuk manusia. Sedang terbaring di jalan. Atau apakah ini sebuah gunung? Aku tidak bias mengatakannya. Aku terusberlari. Napasku memburu. Ini jauh dari tempat dimana aku tadi terbaring. Pria tua tadi seharusnya memperingatkanku akan jarak ini. Aku semakin dekat dengan desa.

"Tempat apa ini…" Ini bukan sebuah desa. Jantungku berdebar cepat setelah berlari. Udara dingin membuat rambut merah mudaku berkibar lembut, membelai wajahku seperti gelombang. Ini bukan desa. Aku berjalan dengan pelan-pelan. Langkahku semakin terasa untuk menyerah. Aku melongo dengan pemandangan di belakangku. Ini dinding. Dinding raksasa setinggi lima puluh kaki. Dinding ini melingkar. Mungkin melingkupi sebuah kota didalamnya, atau beberapa desa luas dan besar. Aku semakin dekat dan menggapainya mencoba merasakan teksturnya dengan tanganku yang masih memakai sarung tangan. Aku mencondongkan bahuku. Ini berbau tumbuh-tumbuhan dan besi. Aku berjalan mengelilingi dinding dan menemukan sebuah gerbang besar. Gerbang itu terbuka!

Aku baru saja akan menapaki kayu merah ketika mendengar sebuah suara.' Waspadalah, mereka mencurigai orang luar.'

Dokter itu, apa dia berasal dari dalam dinding ini? Desa macam apa ini? Sepertinya tempat ini tidak aman.

Bagaimana aku tahu aku tidak sedang berada di wilayah musuh? Tsunade-sama tidak akan percaya jika aku menceritakan tentang tempat ini. Ini tidak seperti ekbanyakan desa yang pernah kudengar. Bagaimana jika ini adalah beberapa desa rahasia atau dasar? Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.

Aku memompa chakra di kakaiku dan berlari menuju dinding. Beruntung ini malam hari jadi akan sulit untuk melihat wujudku. Tapi baju merah dan rambut merah mudaku terlalu jelas. Aku harus berhati-hati. Aku melompat sampai mencapai ujung nya dengan permukaan yang datar. Beberapa perlengkapan tampak di sekitar, dan beberapa meriam. Dinding ini dibangun untuk melindungi sesuatu. Mengernyit aku merayap seperti seekor laba-laba kearah lain dan melirik kebawah. Ada banyak rumah dan sebuah jalan besar serta danau luas yang mengalir di depan sana. Tidak terlihat satu orang pun dan ini sangat sepi. Aku menguji dengan beristirahat di permukaan dinding. Sebuah medali tergeletak diatas tanah. Aku masih mengamati dengan hati-hati.

Ini bukan desa kebanyakan yang kuketahui. Tapi aku membutuhkan tempat untuk aku bias menyelinap masuk, aku bias menyewa satu kamar. Yang harus kulakukan adalah melepas hitai ate milikku. Aku sudah bersiap untuk meluncur kebawah ketika sebuah tangan menekan kepalaku dan menjambak rambutku.

"Uh!" Ujung pedang menekan leherku.

"Pergi dan aku akan membunuhmu." Aku bergetar.

"A-aku tidak sedang mencari masalah." Aku berucap lembut, dengan penuh kesakitan. Menyadari bahwa ujung pedang masih menekan kulitku.

"Mungkin saja begitu, tapi aku tidak mengetahuinya dengan pasti." Dia menggoda. Aku menggertakkan gigi. Si bodoh ini ingin membunuhku. Aku melihat kearahnya. Seorang pria berambut pirang, sangat tampan dan mungkin usianya masih di awal tigapuluhan tahun.

"Bagaimana kau bias berada disini?" dia bertanya. Suaranya rendah dan bahkan dipenuhi percaya diri. "Aku memanggil burung dan terbang kesini." Ucapku sarkastik. "Lepaskan aku. Aku tidak sedang mencari masalah. Aku hanya ninja medis yang tersesat."

Dia mengernyit. Mata birunya dingin dan tidak dapat dibaca. Ups, mungkin itu respon yang buruk.

"Ah, seorang pria mengatakan padaku untuk datang kesini! Dokter Yeager!" Matanya melebar dan di amnegeratkan cengkramannya.

"Ah!" Aku merintih kesakitan.

"Aku tidak mengenali wajahmu, darima kau berasal?" Aku menyelipkan tanganku kedalam kantong. pria ini akan merasakan kunai di lehernya jika tidak melepaskanku.

"Konoha. aku tersesat." Aku mencengkram kunai. Dia terus memandangku. aku menyeringai. "Kau mengacaukan ninja yang salah."

Dia menaikkan alis. Matanya berbinar dengan... geli? apa yang orang bodoh ini tertawakan? aku merapalkan jurus dan mundur dan berdiri beberapa langkah dariku.

"Rasakan ini!" Aku melemparkan kunai tapi dia dengan mudah menangkisnya dengan menggunakan pedangnya.

sekarang aku berdiridengan jarak yang bagus jauh darinya, aku mendapat pandangan bagus di tubuhnya. Dia memakai alat asing di sisi pinggulnya yang lain, dan sebuah kawat terhubung untuk mngendalikan pedangnya. Kami-sama dia seksi! aku menggeleng dengan kasar. tidak tidak Sakura! bukan saatnya untuk itu! Aku mendorongnya dan melompat tinggi ke udara untuk mendaratkan tendangan. dia mengayunkan pedangnya tapi aku mencengkramnya di tengah udara dan berputar. dia terkejut. Walaupun aku telah melukai diriku sendiri, setidaknya aku bisa mematahkan pedangnya. Aku tidak ingin membunuh orang lain, tapi tidak ada kepercayaan diantara kami.

aku menggapai dengan tanganku yang berdarah dan melempar jauh dari gerbang.

"Apa yang salah? kunoichi ini terlalu kuat untukmu? Aku tidak tahu siapa kau tapi kemampuanmu..." Dia nampak masih terkejut. Aku tersenyum lebar.

Dia menekan tombol diatas gagang pedang yang telah patah lalu pedang itu terjatuh diatas tanah dengan berdenting. sesaat kemudian dia menekan gagang kosong sebuah kotak yang menyerupai sebuah alatdan mendorong pedang lainnya. aku memperhatikannya dengan tertarik.

"Benda apa itu?" JUrus ini sedikit lemah, tapi terlihat aneh. mungkin alat-alat itu akan melakukan sesuatu yang besar. Kalau begitu, aku harus menghancurkannya!

"Siapa kau?" Dia bertanya dengan lembut. Matanya keras dan menuduh. aku menjilat bibirku.

"SEorang gadis, bodoh. Kau akan menyesal telah menghadapiku!" Aku memompa banyak chakra dengan warna hijau di kepalan tanganku.

"Shannarooo!" Aku mendorongnya. Matanya melebar dan dua kawat tiba-tiba muncul dari alat itu. "Apa?!"

Dia tiba-tiba berada di sisiku, di tengah udara. Bagaimanapun kawat-kawat itu melindunginya disana. Aku merasakan sebuah pukulan di belakang leherku dan duniaku menggelap.

TBC

Levi baru akan muncul di chap 3 nanti yak ^^

Review?