Disclaimer: Naruto is belong Masashi Kishimoto

Warning!: OOC, aneh, gaje, diksi payah, alur berantakan, EYD hancur,

terlalu banyak typo,abal, dan kekurangan yang lainnya

IF YOU DISLIKE, PLEASE CLICK BACK!

This story by Uesugi Dera Maori

.

.

"Lama tak berjumpa Kurenai-sensei"terdengar suara gadis dari belakang Kurenai dengan nada datar

"Ha? Kau siapa? Sedang apa kau disini?"tubuh Kurenai mendadak gemetar melihat sebuah pisau yang digenggam gadis tersebut "Ka-kau mau apa?"tubuh Kurenai semakin bergetar saat gadis itu mengacungkan pisaunya

JLEB

"Akh! Apa yang kau lakukan?! Siapa kau sebenarnya?"Kurenai semakin takut ketika melihat betisnya tertancap oleh pisau tersebut. Dengan susah payah pula Kurenai mencabut pisau tersebut tapi tetap saja tidak bisa

"Masih ingat aku sensei?"tanya gadis tersebut sambil membuka topengnya

"Sa-sakura?"Kurenai ragu-ragu untuk menjawabnya. Karena yang terlihat hanyalah siluet pink

"Ternyata kau masih ingat ya?"Sakura menyeringai melihat Kurenai semakin takut

"Kenapa kau melakukan ini Sakura? Siapa yang menyuruhmu?"tanya Kurenai yang mulai berani karena dihadapannya adalah murid yang paling dia benci sewaktu Sakura masih SMA

SRIING

"Akh!"Kurenai merintih saat perutnya ditusuk oleh pisau yang dipegang Sakura dan Sakura memutar-mutarkan pisau tersebut

"Sahabatmu sendiri yang memintakuuntuk membunuhmu! Apa kau juga masih ingat saat kau dengan sengaja mempermalukanku didepan umum? Aku akan menerima jika aku yang hanya dipermalukan! Tapi aku tak terima bila keluargaku terkena imbasnya!"seru Sakura sambil menjambak rambut Kurenai

"Akh! Kumohon hentikan! Aku minta maaf padamu, kumohon hentikan ini semua. Hiks... hiks..."Kurenai mulai menangis menyesali perbuatannya dulu karena telah mempermalukan Sakura hanya gara-gara cappuchino yang dibawa Sakura tumpah kepakaiannya

"Jangan keluarkan air mata buayamu Kurenai! Itu sangat menjijikan!"Sakura menghempaskan tubuh Kurenai ketembok dengan sangat keras "Saatnya permainan"Sakura tersenyum sinis pada Kurenai yang menyeret tubuhnya menjauh. Sakura tetap berjalan dengan tenang seolah-olah tidak ada yang terjadi

JLEB JLEB JLEB JLEB

"Akh! Hen-hentikan! Kumohon!"jerit Kurenai penuh pilu. Kurenai menjerit karena Sakura menancapkan kedua pisau tersebut pada telapak tangannya dan menancapkan kedua pedangnya pada paha Kurenai sehingga dia tidak bisa kemana-mana lagi

"Kau pernah menamparku, inilah balasannya"Sakura membuat sayatan panjang dipipi Kurenai dan sukses membuat Kurenai menjerit "Kau ini benar-benar berisik!"Sakura menyobek bibir atas dan bawah Kurenai "Tidak! Hentikan!"darah merembes dibibir Kurenai

"Tch! Berisik sekali!"gerutu Sakura lalu bangkit dari atas tubuh Kurenai dan mengambil sebuah cairan dan memaksa Kurenai untuk meminum cairan itu. Cairan panas itu melewati rongga mulut Kurenai dan dia menjerit-jerit sebelum akhirnya cairan itu sampai kepita suaranya. Mulut Kurenai terbuka lebar tanda menjerit, tapi tidak suarapun yang keluar dari mulut Kurenai

"Dengan begini, aku bebas berbuat sesukaku tanpa penyumbat telinga"seringai Sakura saat Kurenai membulatkan matanya karena pisau yang dipegang Sakura menancap dileher Kurenai lalu sedikit mengoyaknya. Mulut Kurenai terus terbuka dan berusaha mengeluarkan suaranya, namun dengan kejam pula Sakura memotong lidah Kurenai dan darah merembes dari mulut Kurenai. Kurenai mencoba bicara dengan cara menggerak-gerakkan mulutnya layaknya orang biasa

"Kau bicara apa sih? Aku tidak tahu!"Sakura pura-pura berkata ketus "Tapi kau benar juga, kau kan bisu, jadi tidak bisa bicara deh. Hihihi..."Sakura cekikikan sendirian, dan tanpa ragu dia menembak dada kanan Kurenai menggunaan pistolnya. Air mata terus mengalir dari mata Kurenai. Matanya yang memang sudah merah tambah memerah karena terus mengeluarkan air mata

"Hah... aku sudah mulai bosan. Langsung saja deh"

DOR

Sakura menembak dada kiri Kurenai dan gerakan Kurenai pun terhenti. Sakura segera memasukkan senjata yang dia gunakan untuk membunuh kedalam tas nya dan mengambil sebuah kamera

CEKREK

Tubuh Kurenai yang sudah dalam keadaan mengenaskan pun telah difoto oleh gadis itu. Dia memakai topengnya kembali dan pergi dibawah sinar bulan

.

.

"Kau berhasil menjalankan misi itu?"tanya Pein sambil memainkan pulpennya

"Bukankah aku tidak pernah gagal dalam misi dari tiga tahun yang lalu?"ucap Sakura menantang

"Kau memang hebat sayang"ucap Pein datar sambil mengendus leher jenjang Sakura

"Hentikan Pein! Bagaimana nanti jika ada yang melihat?!"Sakura berkata ketus sambil mendorong kepala Pein menjauh

"Dimana foto itu?"tanya Pein. Sakura menyerahkan foto yang diminta Pein. Foto itu adalah dimana keadaan Kurenai yang terbunuh secara mengenaskan

"Kau benar-benar terampil"ucap Pein sambil mencium pipi Sakura

"Dasar!"gerutu Sakura "Berapa bayarannya?"tanyanya

"Lumayan besar. Akan kukirim kerekeningmu"balas Pein sambil tersenyum lembut

"Hn"balas Sakura sekenanya

"Aku tahu kau pasti lelah. Beristirahatlah disini"ucap Pein

"Ya, kau benar. Akhir-akhir ini kepalaku sering pusing. Mungkin karena kelelahan"ucap Sakura sambil memijat kepalanya

"Ya, mungkin aku akan memberimu waktu libur. Aku tahu kau harus bekerja di dua tempat lainnya, lalu harus menjaga adikmu dirumah sakit, lalu bekerja lagi. Kejadian itu berulang-ulang setiap harinya. Jadi aku akan memberimu waktu libur"ucap Pein datar

"Sungguh? Terimakasih Pein"ucap Sakura berojigi lalu menuju keruangannya

"Rasanya sulit sekali untuk berjauhan darimu"gumam Pein sendirian

"Kau mengucapkan sesuatu?"tanya Sakura yang berhenti lalu menoleh kearah Pein

"Ti-tidak. Pergilah, bukankah kau harus istirahat"ujar Pein gugup. Sakura hanya angkat bahu

.

.

"Ohayou Sasori-kun?"sapa Sakura pada adiknya yang baru bangun tidur

"Ah... ohayou mo nee-san"sapa Sasori sambil tersenyum "Sakura-nee, aku bosan disini terus. Kapan aku akan keluar dan bermain ceria lag bersama nee-san?"tanya Sasori. Tiba-tiba, ekspresi Sakura menjadi murung, Sasori yang menyadari hal itu langsung minta maaf "Ma-aafkan aku nee-san. Aku tidak bermaksud begitu"

"Tidak, ini bukan salahmu. Oh ya, nee-san harus pergi bekerja lagi. Sampai jumpa"ucap Sakura menyorotkan kepedihan

"Tuhan, kumohon berilah kemudahan kepada nee-san secepatnya supaya bisa membiayaiku dan bermain bersama lagi. Kalau itu memang tidak diperbolehkan, cabutlah nyawaku secepatnya, supaya nee-san tidak perlu bekerja keras lagi demi aku dan buatlah nee-san bahagia tanpaku"batin Sasori seraya berdoa

.

.

BRUUKKK

"Aw... maafkan aku tuan"ucap Sakura seraya membersihkan celana dibokongnya yang kotor terkena debu tanpa melihat siapa orang yang ditabraknya

"Sakura?"tanya suara baritone tersebut

"Ah... Pein"balas Sakura tersenyum kecil

"Kau habis dari rumah sakit ya?"tanya Pein berbasa-basi

"Ya... setelah menjaga adikku, aku juga harus pergi bekerja lagi"balas Sakura

"Biarkan aku me..."ucapan Pein terpotong saat ada pemuda berambut pantat ayam memotong pembicaraannya "Lho Sakura? Sedang apa kau disini? Dan... siapa dia?"

"Ahaha... Sasuke-kun! Ehm... dia Pein Yahiko. Dan Pein, dia Sasuke Uchiha"ucap Sakura yang memang berdiri diantara mereka. Pein menyodorkan tangannya guna menjabat tangan tersebut, dan dibalas juga dengan Sasuke. Tapi mata mereka seperti menunjukan kalau mereka adalah rival yang baru saling bertemu

"Kau ingin bekerja kan?"tanya Sasuke dan Pein bersamaan. Dua pemuda itu saling mendelik tajam

"Um... ya"jawab Sakura merasa aneh

"Biarkan aku mengantarmu"ucap duo pemuda tampan tersebut lagi-lagi secara bersamaan. Dan lagi-lagi saling melempar delikan tajam

"Um... sebaiknya aku berangkat sendiri saja"jawab Sakura ragu

"Kenapa?"tanya duo pemuda itu lagi bersamaan. Kini mata mereka sudah saling menyipit tak suka. Onyx bertemu ungu

"Aku tahu kalian ini sibuk. Jadi aku berangkat sendiri saja. Jaaa"ucap Sakura lalu berlalu pergi meninggalkan Sasuke dan Pein yang mematung disana. Mereka saling lirik lalu pergi kearah yang berlawanan

.

.

"Mereka terlihat aneh"gumam Sakura sendirian saat sudah menaiki bus dan sebelum bus itu jalan, dia terus memperhatikan dua pemuda yang dekat dengannya

"Neki koe masuka..."dering handphone milik Sakura membuat dirinya kembali dari lamunannya

"A-ada apa tuan Jiraiya?"jawab Sakura

"Hei! Kau bekerja tidak? Kau sudah terlambat!"jawab Jiraiya yang berada diseberang telepon tersebut

"Maafkan aku tuan Jiraiya. Disini sedang macet"jawab Sakura berbohong. Sebenarnya keadaannya tidaklah macet, hanya untuk mencari alasan logis terhadap majikannya. Dan untungnya juga keadaan bis ini masih sepi. Jadi tidak memungkinkan semua orang akan menatapnya aneh

"Ya sudah! Pelanggan disini banyak sekali. Aku sampai kewalahan menanggapinya"keluh Jiraiya

"Baiklah tuan. Sebentar lagi juga sampai"jawab Sakura sambil terkekeh kecil "PIIP..."lalu memutuskan sambungan teleponnya dan melihat melamun sambil memandang kearah luar jendela

.

.

"Sakura?"panggil Pein pada Sakura yang sedang membaca buku dipojok ruangan tersebut

"Ya?"sahut Sakura tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku tersebut

"Kau mendapatkan tugas baru"jawab Pein sambil terus memandangi Sakura

"Baik. Aku terima"jawab Sakura lalu bangkit dari posisi duduknya

"Sebelumnya aku ingin bertanya. Apa hubunganmu dengan Sasuke?"tanya Pein

"Dia..."Sakura menggantung kalimatnya. Dia seperti ragu untuk mengungkapkannya. Pein sudah menjadi sosok pelindung baginya. Namun, disisi lain dia mencintai sahabatnya. Sedangkan disisi lain, dia merasa nyaman didekat Pein "Apa yang harus aku lakukan?"

..

TBC

..

Yosh! Dera udh update lagi cerita ini. Disini akan dimulainya kisah cinta segitiga antara mereka. Tunggu aja di chap depan

Sebelumnya cerita ini pasti membosankan. MAU DILANJUT, APA DIHAPUS?

Dera tunggu jawabannya di R.E.V.I.E.W..K.A.L.I.A.N

Thanks to:

1. hanazono yuri : ni udh lanjut

2. TikaChanpm : udh lanjut nih. Ah... biasa aja adegan pembunuhannya

3. undhott : ini udh

Ok guys! Thanks for reviews kalian ...