Audience (Pitch That Ball to Me)
Maeshika
Pairing : Midorima X Takao
Summary : Di umurnya yang ke enam belas tahun, Kazunari belum juga menemui ujung pangkal dari jam biologinya. Artinya, dia masih belum bisa diklasifikasikan ke dalam kelas Alpha, atau kelas omega.—MidoTaka. Alpha/Omega Dynamic. Part one of Docile.
Warning : uuuh… nggak baik buat anak kecil. Udah itu aja. Terus sebelum baca, mungkin ada kalimat-kalimat yang bikin bingung. Coba tolong minta bantu mbah Gugel, di searching dulu apa itu arti dari Alpha/Omega/Beta Dynamic.
PENJELASAN :
Sepertinya yang udah diomongin sama YUCHOCHO di dunia ini ada empat ras—alpha, beta, omega sama orang biasa.
Kelas di semua sekolah di dunia dibagi jadi tiga setiap angkatannya—satu kelas biasa, satu kelas omega, sama satu kelas alpha+beta.
Bonding : making love. Setiap omega yang udah bonding sama alpha-nya udah off-limits buat alpha yang lain, alias udah nggak bisa disentuh.
Mating : having seks yang nggak terlalu dalam. Semua alpha sama omega bisa ngelakuin ini tanpa harus jadi pasangan, tapi benar-benar jarang.
.
.
.
.
.
.
.
Midorima bukanlah seseorang yang senang akan hal-hal kecil.
Dia seorang pria yang dijanjikan hal besar—kekayaan, harta, nilai, keberuntungan. Dia juga orang yang selalu melakukan segala hal yang dia bisa untuk mendapatkan hal yang dia inginkan. Dia seorang pekerja keras. Dia cinta kerja keras. Ketika dia bertemu dengan Takao, kesan pertamanya adalah bahwa Takao adalah orang yang berisik, dan menyebalkan, dan… yah, berisik. Midorima tidak merasa harus bekerja sama dengannya ataupun anggota basket yang lain. Dia bisa bekerja sendirian tanpa yang lain.
(kekalahan pertamanya berkata lain.)
Keserasian ritme basketnya dengan Takao membuat Midorima sedikit kaget. Hanya beberapa orang yang bisa menyesuaikan langkah dengannya, dan walaupun ada, hanya sedikit yang ingin berjalan dengannya (Aomine, Murasakibara, Kise, Kuroko, Akashi) dengan pace berbeda-beda. Tapi Takao… dia begitu santai, begitu tajam, begitu luas—dan Midorima mendapati dirinya memandang ke arah Takao ketika si cowok pendek tidak melihat.
Mula-mula hanya sebatas pandangan saja. Namun kemudian dia mencium bau Takao. Dia tidak mencium apa-apa.
Tapi Takao sekelas dengannya. Jadi paling tidak, dia seharusnya seorang alpha atau beta. Midorima sangat penasaran, tapi dia tidak akan merendahkan dirinya dengan bertanya hal bodoh seperti 'Takao, apa jam biologismu?' menanyakan apa warna celana dalammu hari ini akan lebih sopan dan baik daripada itu, dan Midorima dibesarkan dengan cara dan tatakrama yang pantas. Midorima sendiri, tentu saja seperti yang sudah diprediksi oleh banyak orang bahkan sebelum dia menginjak puber, adalah seorang alpha. Jika keinginan dominasinya yang tinggi tidak mengatakan apa-apa, maka Midorima tidak tahu lagi harus berkata apa.
Usut demi usut, Takao ternyata natureless—sesuatu yang tidak terlalu membuat Midorima terkejut. Dengan bau hampir sama dengan udara kosong itu, tentu saja Takao adalah natureless. Atau malah dia adalah seorang biasa? Midorima menganggap bahwa Takao mungkin akan senang menjadi seseorang yang biasa, dan dia benar. Takao bilang kalau menjadi orang biasa adalah anugerah. Bahwa menjadi orang biasa berarti dia menjadi penonton. Sesuatu yang bahkan Midorima tidak begitu mengerti sampai sekarang.
(Diluar dugaan, ternyata pemikiran Takao begitu kompleks.)
Pada awalnya, Midorima hanya merasa sebal. Rasa sebal berubah jadi rasa toleransi. Toleransi berubah menjadi penerimaan. Penerimaan menjadi rasa spesial. Rasa spesial, dalam kasus lain, mungkin akan berubah jadi cinta. Namun dalam kasus Midorima, Midorima menolak hal itu. (Karena, yang benar saja. Dia dan Takao? Pasangan yang tidak mungkin akan terjadi, ya kan?)
"Apa yang kau katakan, Midorima." Mata merah dan rambut merah itu membuat mata Midorima sakit. "Kau dan Takao sangat cocok. Kalian berdua kompatibel." Akashi mungkin adalah salah satu hakim paling baik dalam hidup Midorima, tapi Midorima tidak menyukai konklusi dari pemikiran Akashi selama sesi bermain shogi mereka kali ini. "Jangan bercanda," ucap Midorima. "Aku tidak mungkin bisa berpasangan dengan dia. Dia natureless, Akashi."
"Lalu?" Akashi menaikkan alisnya yang sempuran, dan sialan, Akashi memang selalu menang. Midorima tidak menjawab karena dia tahu dia kalah—dalam perdebatan, dan dalam permainan shogi.
"Apa yang kau takutkan, Midorima?" Tanya Akashi. Midorima mengerutkan dahi.
Tidak ada yang dia takutkan, sungguh.
"Kalau kau terus melakukan ini, dia akan pergi, lho?" Akashi berkata lembut. "Dia akan pergi dan tak akan kembali ke sisimu."
"….Kau tidak berubah, Akashi. Masih sadis seperti biasa."
"Terima kasih, Midorima."
Walaupun perdebatan panjang terjadi antara Midorima dan Akashi selalu berlanjut pada kemenangan Akashi, Midorima tetap tidak menginginkan terjadinya perubahan antara dia dan Takao. Sampai apda suatu malam, mimpinya yang biasanya kosong sekarang dihiasi oleh selimut bertebaran, kulit putih yang familiar, rambut hitam berantakan (yang terlihat sangat seksi), dan suara isakan kenikmatan dari pria yang juga familiar—Takao. Takao, dibawahnya, telanjang, dengan tubuh merah merona dan keringat merajalela dan—shit, Midorima langsung terbangung dengan tubuh berkeringat dan celana kesempitan. Malam itu tidak hanya berhenti sampai situ saja. Pernah ketika Midorima mengalami sebuah mimpi tertentu yang melibatkan penutup mata, vibrator dan cokelat cair serta partner basketnya tersebut, Midorima tidak dapat memandang Takao secara langsung selama seminggu.
Midorima tidak pandai dalam hal bicara, jadi dia melakukan apa yang tidak biasa dia lakukan—dia lari.
Frustasi seksual membuat Midorima menjadi lebih keras dari biasanya, dan pada akhirnya Takao memperhatikan skedul Midorima yang tadinya terus bersamanya sekarang menjadi tidak.
"Shin-chaaaan,"
("Shin—aaaah, chaaan. Nggh, la-gi!")
"Shin-chaaaaan, kau kenapa sih?"
("Shin-chan, kenapa berhenti? Lagi, masuk kedalam, la—hah!")
Midorima benar-benar harus berhenti menonton video gila kiriman Aomine itu! Wajah Takao terlihat menawan (lebih menawan) dan hal itu membuat dada Midorima sesak. Saat tangannya menyodorkan shiruko, Midorima menatap Takao, dan Midorima menangkap wajah seseorang yang terlihat sangat jatuh cinta.
(Bau Takao seperti bau udara kosong. Menyegarkan.)
"Kau harus berhenti melakukan ini, nodayo." Berhenti bermain dengan hatiku.
Midorima menatap ke jam tangannya dan ingat kalau dia harus bertemu dengan keluarganya ketika bau yang aneh menghantam penciumannya.
Bau manis permen karet dan madu. Bau familiar, bau omega.
Kazunari, suara geram terdengar dari belakang kepalanya, dan Midorima sadar kalau Takao ternyata bukanlah natureless atau orang biasa seperti yang sudah dia percaya kali ini, dan kenyataan bahwa Takao akan menjadi Omega yang penuh dan komplit membuat ludah di belakang lidah Midorima mengumpul, otot di rahangnya berkontraksi, memohon untuk bisa menggigit Takao, membuat Takao menjadi miliknya, miliknya, miliknya seorang.
(Midorima juga sadar kalau ternyata Akashi selalu menang)
Midorima kabur, lagi.
Ketika malam menjelang, Midorima tidak bisa melakukan apapun selain memikirkan Takao dan baunya yang benar-benar mengundang siapapun untuk menyentuhnya, menjilat tubuhnya, memakan semua yang ada pada dirinya dan kemudian mengambil semuanya. Memikirkan hal itu saja membuat mata Midorima buta, buta akan cemburu dan perasaan marah. Rasionalitas, untungnya, datang sesaat sebelum Midorima tidur. Lalu kenapa jika Takao adalah seorang Omega? Tidak semua omega akan selalu berpasangan dengan alpha yang paling dekat dengannya. Mungkin Midorima tidak akan berpasangan dengan Takao. Semuanya baik-baik saja. Persahabatan mereka tidak akan berubah.
(Midorima mengabaikan erangan tidak sabar dalam tubuhnya—erangan binatang yang selalu bersama-sama dengannya.)
Midorima ternyata benar—Takao adalah seorang Omega. Dan kenyataan bahwa mata anak-anak di kelasnya terbuka lebar dan mereka sepertinya ingin menyentuh Takao sebisa mungkin membuat Midorima hampir ingin membunuh sesuatu (seseorang, atau dua orang—berapa banyak orang yang menyentuh bokong Takao lagi tadi? Pokoknya banyak.)
"Lepaskan." Takao terdengar sebal ketika lagi-lagi tangan-tangan jahil menyentuhnya. "Takao." Midorima memanggil Takao, dan tiba-tiba mata Takao terlihat berterima kasih. Tunggu, apakah ini salah mata Midorima, atau memang ada kilauan di mata Takao? Apa bulu mata Takao semakin panjang? Ke-Kenapa bibir Takao semakin penuh dan merah? Kenapa dia terlihat semakin cantik? Midorima ingin memenuhi dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh, tapi tetap saja biologi datang pertama ke kepalanya—kenyataan bahwa perubahan morfologi akan terjadi ketika seorang omega sudah siap untuk bonding. Morfologi disini ternyata adalah perubahan bentuk wajah dan tekstur kulit. Takao bisa menjadi seorang wanita yang cantik, jika dia mau.
Kemana perginya bau udara kosong? Sekarang bau itu tergantikan oleh bau yang membuat jantungnya berdetak kencang dan darah mengalir lebih cepat. Menggoda.
"Shin-chan!" bahkan suaranya terdengar semakin merdu?! "Aaah, aku benar-benar senang kau memanggilku. Mereka menyebalkan sekali." Biasanya, gestur Takao yang sedang mencak-mencak dan marah terlihat menakutkan (bukan berarti Midorima takut atau apa) dan sedikit berantakan. Tapi sekarang gesturnya terlihat… manis? Menawan? Halus? Apa yang Midorima pikirkan? "Kenapa dengan mereka? Hanya karena mereka tahu aku omega… karena itulah aku benci jika tidak jadi penonton." Matanya yang jika tersenyum akan berubah menjadi bulan sabit terlihat menawan, "Tapi syukurlah kau tidak berubah, Shin-chan! Aku senang kau tetap jadi seorang bajingan seperti dulu!" Takao segera kabur, takut ditaboki mungkin.
Mungkin di waktu lain, Midorima akan marah jika Takao mengatainya seperti itu. Tapi sekarang, melihat Takao berlari dengan bokong bergerak seperti memanggilnya…
Midorima menampar dirinya sendiri.
Tidak boleh. Takao tidak menyukai orang-orang seperti itu—orang orang yang hanya ingin menyentuhnya hanya karena tahu dia adalah Omega.
Lagipula, Midorima sama sekali tidak tertarik dengan Takao.
(Akashi selalu menang dan Midorima adalah seorang pengecut.)
.
.
.
.
.
.
"Dia keluar dari klub basket?"
Midorima melebarkan matanya ketika obrolan teman seangkatannya yang bukan tim inti berbicara. "Katanya begitu. Dia kan omega, tidak mungkin dia berada disini." Midorima mengerutkan dahi. Takao… dia benar-benar keluar? Apa yang dia pikirkan, mau-maunya di paksa oleh Nakatani-san? "Yaah, kau tahu kan kalau sebagian besar kita disini itu alpha. Jika dia masih mau disini, itu sama saja dengan bunuh diri." Ucap yang lainnya. Midorima mengancingkan jaket shuutoku nya.
"Tapi sayang sekali ya dia tak lagi disini. Padahal dia terlihat imut juga lho, kalau dilihat-lihat. Aku ingin—"
Krrrk.
"Sssssh!"
Tiba-tiba keadaan jadi diam. Hm? Kenapa mereka tiba-tiba diam? Midorima memandang ke arah tangannya yang menyentuh pegangan lokernya… pegangannya putus. Kenapa ini? Nakatani-san benar-benar… apa dia tidak mengecek ulang kualitas loker-loker disini? Midorima akan datang padanya untuk komplain. Beberapa saat kemudian, saat latihan, Miyaji mendatanginya. "Oi, Midorima. Aku tahu kau marah atau apa, tapi bisakah kau tidak memaksa semua anggota tim string satu sampai tiga seperti ini? Kau mau menyuruh mereka untuk meninggal atau apa? Mereka semua tidak mempunyai tenaga monster seperti kau, tahu?"
"Aku tidak marah." Suara Midorima terdengar asing bahkan untuk telinganya sendiri. "Aku dengar apa yang terjadi di ruang loker. Dan asal kau tahu, loker itu loker baru." Miyaji menepuk bahu Midorima. "Ingat, Takao tidak ada disini untuk menjadi tali kekangmu."
("Shin-chan.")
"Dia bukan tali kekangku," protes Midorima. Tapi sepertinya tidak didengar.
Midorima meneguk oshiruko-nya dan berjalan menuju rumahnya ketika aktivitas klub selesai. Semenjak Takao pindah kelas, mereka jadi jarang sekali bertemu. Mereka tetap e-mail bareng, tapinya. Gedung omega dan alpha-beta memang dipisah, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti mating di sekolah atau sesuatu. Midorima tidak pernah berfikir kalau dia akan ingin having sex di sekolah.
("Shin-chan… ngh…")
Tapi sepertinya itu hal yang mustahil.
Midorima tidak habis pikir. Apakah semua alpha seperti ini? Pikiran dan tubuhnya dilahap habis oleh hormon testosteron dan jam biologis? Apakah mereka semuanya seperti ini, memikirkan seks dan seks? Kemana perginya rasionalitas? Midorima tidak suka ketika kepalanya tidak berlaku seperti sebuah kepala seharusnya. Dia seharusnya tenang dan tidak menyukai Takao. Dia harus tenang dan tidak menyukai Takao. Pikirkan sesuatu yang jelek tentang Takao dan semuanya akan baik-baik saja. Pikirkan Takao yang sedang makan. Pikirkan Takao yang sedang bersin. Pikirkan Takao yang mengiler. Pikirkan Takao yang sedang bermain basket dan baunya sangat mengundang Midorima dan ini tidak akan pernah berhasil. Midorima memandang Takao, tiga meter didepannya, bermain basket sendirian.
Takao tengah mendribel bola dengan gerakan yang elegan (sudah pasti, Takao adalah partnernya. Midorima tidak akan menerima partner yang gagal.), rambut hitam tanpa gemintang yang lengket di pipinya karena keringat, nafas eratik, dan tentu saja bau mengundang bubblegum dan madu panas. Midorima harusnya marah sekarang, karena Takao benar-benar tidak mengerti betapa mengundangnya bau miliknya, dan kalau saja Alpha yang lewat bukanlah Midorima, Takao bisa habis dimakan oleh alpha itu.
Namun yang ada dikepalanya sekarang adalah kenyataan bahwa Takao. Kelihatan. Cantik.
Tidak pernah. Midorima tidak pernah berpikir kalau Takao begitu cantik sebelumnya.
"Shin-chan?"
Midorima mengerutkan dahi. Dia tidak suka dengan hal yang Takao lakukan pada hatinya. Pada tubuhnya. Dia tidak suka.
"Shin-chan, waaaah! Lama tak berjumpa!" Takao tertawa lebar, mendekati Midorima. Mencoba mengabaikan detak jantungnya yang meliar, Midorima berusaha untuk meresponnya dengan 'hmph' arogan seperti yang sering dia lakukan, tapi sekarang tenggorokannya kering, sehingga dia malah menggeram seperti binatang. Takao agak sedikit terkejut namun tetap mendekati Midorima. "Rasanya sudah lama sekali ya? Kau baru pulang? Latihan ya?" mata Takao sedikit memandang ke kejauhan, dan Midorima tahu Takao sedang mengulang lagi masa-masa ketika dia bermain basket dengan tim Shuutoku.
(Takao kangen dengan tim. Apakah dia kangen denganku juga, ya? Midorima menampar dirinya sekeras mungkin karena berfikir yang tidak tidak.)
"Kau benar-benar sudah keluar. Dari basket."
Itu bukan pertanyaan. Suara dribel bola mengangkasa, dan hanya itu saja yang terdengar.
Takao tidak menjawab dan akhirnya melakukan three point dengan sempurna. Abilitasnya tidak terlihat menurun. Takao sepertinya tetap bermain basket walaupun tidak bersama tim lagi. "Pelatih bilang aku harus mencari pasanganku." Ucapnya, dan perkataannya terlepas seperti dia melepas api yang membakar lidahnya, asam yang menelan bulat-bulat lidahnya. "Dia bilang kalau aku bonding, maka alpha sialan di tim kita tidak akan mencoba menyentuhku. Tapi… tapi aku tidak mau hal itu terjadi."
Midorima diam. (bau Takao bercampur dengan angin malam membuat tubuhnya merileks. Atau menegang. Tergantung dari konteks mana kau melihatnya.)
"Aku tidak suka, Shin-chan. Rasanya seperti dikubur, menjadi pemain." Takao menunduk. "Seseorang berkata padaku kalau… semua ini, semua hal ini… adalah manifestasi dari nafsu. Dia bilang kebutuhan dasar kita—memiliki keturunan—bukan didasari atas cinta, tapi nafsu. Kalau kulihat, yang dia katakan selama ini benar, Shin-chan. Aku ini bodoh, tapi aku bisa tahu mana yang baik dan benar. Aku tidak akan melakukan hal yang bodoh, Shin-chan." Takao berbalik, dan tersenyum. Senyum palsu yang diberikan lelehan cokelat dan perih. Midorima merasa ngilu di ulu dadanya, dan Takao melanjutkan kata-katanya. "Apa yang lebih buruk dibandingkan dipisahkan dari hal yang paling kau sukai?"
Air mata mengalir ketika Takao mengatakan hal itu, dan Midorima, walaupun dia bukanlah orang paling peka sedunia, sadar, kalau Takao baru saja mengutarakan semua yang ada dalam hatinya. Takao suka tersenyum, dan semua orang pikir hal yang dia katakanlah apa yang dia pikirkan. Takao tidak akan menangis didepan orang banyak. Tapi Midorima tahu kalau Takao tidak seperti itu. Dan kenyataan bahwa Takao berada didepannya, menangis, mengutarakan hatinya pada Midorima membuat Midorima sadar bahwa, ah, orang ini adalah orang tersayang untukku.
Bukan karena dia omega, atau karena alam ingin mereka bersama. Bukan karena mereka bergerak secara sinkron, bukan karena Akashi selalu menang, atau karena Takao terlihat super hari ini. Tapi karena kenyataan bahwa Takao percaya padanya. Kenyataan bahwa mereka saling percaya.
Di detik selanjutnya, Midorima mengelus rambut Takao dengan pelan dan canggung.
"Aku akan membantumu." Ucap Midorima. Takao masih terisak.
(Malam itu, Midorima datang ke rumah Takao. Kedua orang tua Takao kaget, namun juga senang, ketika tahu anak lelaki tertua mereka akhirnya menemukan pasangan sehidup sematinya. Midorima tidak secara spesifik meminta Takao, namun dia mengindikasikannya.)
(Takao has been promised to Midorima, for eternity.)
.
.
.
.
.
.
.
Takao menolak untuk menjadi pasangan Midorima, pada awalnya.
Dia pikir Midorima hanya mempermainkannya saja, dan Takao tidak percaya pada fakta pasangan sehidup semati. Entah siapa yang mencekoki Takao dengan hal-hal gila macam cinta tiga tahun atau apalah itu, tapi Midorima yakin dia tidak akan senang bertemu dengan orang itu. Kembali ke topik, setelah tujuh kali berkencan bareng… mereka secara ofisial adalah pasangan.
Yang belum bonding.
Hal ini membawa masalah baru pada Midorima. Takao sudah ikut kegiatan tim, namun tidak seberat dulu, karena walaupun alpha di tim shuutoku merasa segan mendekati Takao, Takao masih belum mendapatkan bau permanen, bau yang mengatakan bahwa dia milik seseorang. Dan bonding… harus melewati tahap yang paling Takao benci—seks.
Yang mana merupakan hal yang gawat. Akhir-akhir ini, tangannya tidak bisa berhenti menyentuh Takao. Hal ini adalah indikasi bahwa dia sudah tidak dapat menahan gejolak dan hormon alpha yang dilepas setiap sebulan sekali. Setiap akhir minggu, orang tuanya tidak ada dirumah berikut adik perempuannya. Jadi Takao selalu bebas untuk datang ke rumah.
"Shin-chan," gerutu Takao ketika sekali lagi tangan Midorima menelusup ke balik sweaternya, mengelus pinggangnya. "Aku tidak bisa konsentrasi belajar kalau kau begini terus."
Midorima hanya menggelamkan hidungnya ke leher Takao. "Takao," gumam Midorima, dan Midorima merasa bahwa Takao sedikit bergidik. Midorima merasa puas dan sedikit jahil, jadi dia mencium leher Takao dan menghirup bau Takao. "Sh-Shin-chan, berhenti." Sedikit tremor di nada bicara Takao dan Midorima segera berhenti melakukan hal tersebut. Takao ketakutan. Apa yang kulakukan!? Pikir Midorima. "Maaf, Takao." Ujar Midorima rendah. "Aku…"
"Tidak apa-apa." Takao menghela nafas. "Hanya saja… jangan lakukan itu lagi, kumohon? Itu membuatku sedikit merasa aneh."
Midorima hanya memandang Takao dan melihat tulisan tangannya yang seperti cakar ayam. "Jawabannya bukan koaservat, tapi sop purba." Ucap Midorima menunjuk jawaban Takao. "Hah? Oh iya, kau benar. Makasih, Ace-sama!" Takao tersenyum lebar dan mengambil CT untuk mengkoreksi jawabannya dengan bahagia. Midorima berguling kebelakang Takao, matanya menatap ke arah atap. Dia tidak tahu kenapa dia bisa sekuat ini menghadapi Takao dan baunya yang seduktif. Mungkin kalau ada penghargaan alpha paling sabar sedunia, Midorima akan jadi juara satunya. untuk seminggu dua minggu, keinginan itu masih bisa dibendung, tapi memang dasar mereka didesain untuk melakukan hal itu, apalagi yang Midorima bisa pikirkan?
"Shin-chan, jangan…"
Ternyata tanpa sadar, tangan Midorima sudah berada di dalam baju Takao, dan lebih parahnya hampir menyentuh dada Takao. "Takao, aku—" Midorima tertahan ketika melihat telinga Takao yang merahnya minta ampun. Midorima menggigit bibir.
Manis.
Ah, sudah tidak kuat…
"Takao, dengarkan aku." Midorima menggenggam tangan Takao, dan Takao terlihat begitu cantik, Midorima sudah tidak tahan lagi. "Aku mengatakan ini karena—karena aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Kau akan berada dalam masalah besar kalau aku tak mengatakannya."
"Aku ingin kita melakukan seks."
Hening.
Takao terlihat kaget.
"Bukan mating," Midorima merasa pipinya merah sekali sekarang, "Tapi bonding. Karena kau tidak suka mating, kan? Aku ingin kita melakukan apa yang kau inginkan. Aku akan senang sekali jika kau mau melakukannya—" sial, kenapa tenggorokan Midorima terasa tercekat? "—tapi aku akan menunggu selama apapun s-sampai kau.. siap."
Hening.
"Shin-chan," Takao menghela nafas.
"Bukan berarti—aku bukannya ingin memaksamu atau apa, oke? Aku hanya tidak ingin orang-orang memandangmu seperti kau tidak punya pasangan. Aku pasanganmu, ingat? Dan… dan aku hanya—"
"Shin-chan," Takao nyengir. "Hm… heat cycle ku mulai seminggu lagi."
Midorima butuh waktu beberapa detik untuk mengases informasi itu, dan wajah mereka berdua terlihat sangat merah di akhir menit.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Great thanks to :
ShinChunjin, Guest, yuchocho, and wyda!
