Tengoku no Ki
( Tree of Heaven )
Naruto©Masashi Kishimoto
Tree of Heaven©SBS
Warning : Gaje, typo, lebay, nyinetron, OOC, dsb.
Don't Like Don't Read!
Fic ini terinspirasi dari drama Tree of Heaven, bukan Stairway to Heaven. Tapi keduanya sama2 bagian dari trilogi heaven. Ceritanya juga beda. Hanya saja sama2 berkisah tentang cinta adik-kakak gitu. Menurut qu Tree of Heaven angst-nya tingkat tinggi *?*. Inget z rasanya pengen nangsis bombay~#abaikan. Masalah Sasuke yang autis tenang saja, Sasuke bukan pengidap autisme persepsi (autisme asli) kok, jadi masih bisa keliatan cool, hehe. Kalau peran 'L' di Death note menurut saya belum masuk autis. Soalnya dia masih bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Terus dia tidak mengalami gangguan soal bagaimana cara mengungkapan ekspresi atau membaca ekspresi seseorang, *menurut saya loh*. Penjelasan tentang autis yang diderita Sasu ada note khusus dibawah. Kalau dijelasin lewat fic-nya susah, hehe. Pas ketemu harusnya Hina bilang Annyeong Haseyo (salam kenal) tapi malah jadi Saranghaeyo.
Special Thanks to:
Mamizu Mei, Deani Shiroonna Hyouichiffer (makasih , he. Eh iya, kalo Cinta=sarang.), Nano Nano (yap, Park Shin Hye), Azalea Ungu (maaf, ga kupas lebih dalam ttg autis, tp dikit2 lah, he), Uchihyuu Nagisa, keiKo-buu89, Botol Pasir, Kise, Crimson Fruit, harunaru chan muach (mudah2an skrg deskripnya lbh baik, he), Kaguya Hitsugaya, ryu Uchiha (kyaaaa msh ada yg inget saya –Ma Simba-).
Chapter 2
Sama seperti hari-hari sebelumnya, ruangan itu dipenuhi oleh orang-orang. Bedanya kali ini bukan pengunjung onsen yang memenuhi ruangan itu seperti biasanya. Tapi sang pemilik onsen beserta keluarganya dan juga calon keluarga baru mereka tentunya.
Menurut sang kepala keluarga, menutup onsen sehari tidak akan membuat kerugian besar untuk onsen-nya. Kalau memang hal itu dapat membuat tamu mereka lebih nyaman, kenapa tidak?
Tinggal di sebuah tempat pemandian air panas menjadikan mereka harus siap berbagi tempat bersama orang lain. Mungkin hanya kamar pribadi merekalah yang tidak bisa tersentuh para pengunjung onsen.
Meja berbentuk persegi dengan kaki yang tidak sampai satu meter itu sedang dikelilingi oleh 6 orang yang tampak begitu serius.
"Bagaimana kalau lusa saja?" Sang kepala keluarga memecah keheningan.
"Kau yakin Hiashi? Pernikahan itu butuh proses." Ujar wanita paruh baya yang duduk berhadapan dengannya.
Rambutnya yang berwarna kuning menjadikannya terlihat seperti wanita yang usianya belum mencapai kepala empat. Yah, setidaknya itu satu kelebihan yang didapatnya secara cuma-cuma.
"Tidak perlu ada perayaan, Tsunade. Cukup pergi ke kantor urusan pernikahan kota. Dan semuanya selesai." Ucapnya terlihat meyakinkan sang adik ipar.
"Baiklah, terserah kau saja." Tsunade terlihat menghela nafas sebelumnya.
Suasana hening kembali. Mikoto yang berada disamping kanan Hiashi terlihat mencoba menyapa Tsunade dengan senyuman. Yang tentu saja dibalas dengan senyuman pula. Walau pun sebenarnya Tsunade sangat enggan untuk membalasnya.
Hinata yang berada sendirian di salah satu bagian meja tersebut, mencoba mencuri pandang untuk melihat calon kakak tirinya yang berhadapan dengannya. Yah sama sepertinya, Sasuke pun mendapati dirinya duduk sendirian disalah satu bagian meja yang lain.
Hinata merasa beruntung karena poninya yang tebal sedikit membantu dalam rutinitasnya mencuri pandang. Tapi tidak selamanya keberuntungan berpihak. Sama seperti sekarang ketika Hinata mencoba kembali mencuri pandang, dia mendapati ternyata objek curi pandang-nya sedang menatap datar kearahnya.
Blush
Rona merah langsung menjalar keseluruh wajahnya, Hinata gelagapan dan pada akhirnya dia hanya bisa menundukkan wajahnya menahan malu.
"Emh, sepertinya kita belum berkenalan dengan calon keluarga kita sepenuhnya." Ucap Tsunade tiba-tiba sambil mengarahkan pandangannya kepada Sasuke.
Hinata segera mengangkat kepalanya yang sebelum menunduk.
"Iya Bu." Ucap Karin membenarkan.
Ah, ada sedikit pandangan sinis yang dia berikan kepada Sasuke.
Sedangkan Sasuke hanya menatap gelas teh yang ada dihadapannya.
"Ah, maaf kalau begitu. Dia putraku, namanya Sasuke." Jelas Mikoto disertai senyum lembutnya. "Sasuke sapa Bibi Tsunade." Tambah Mikoto sambil berusaha menyentuh pundak Sasuke yang berada di sebelah kanannya.
"…" Mikoto berhasil menyentuh pundak Sasuke, tapi tidak ada satu kata pun yang terlontar dari mulutnya.
Semuanya terdiam menatap kejadian itu. Termasuk Hinata. Karena tidak mendapat respon dari Sasuke, Mikoto melepaskan sentuhannya pada Sasuke. Dan tersenyum kemudian, berusaha mencairkan suasana yang sempat canggung.
Hinata masih menatap Sasuke yang masih betah pada kegiatan sebelumnya.
'aneh.' Pikir Hinata.
"Emh, i-ini kamar Nii-san." Ucap Hinata gugup. Tidak seperti saat pertama kali bertemu, sekarang dia berbicara dengan Bahasa Jepang, dan tentu saja tanpa melihat note-nya lagi. Sebelum mengantar Sasuke menuju kamar barunya Hinata sempat mengeluh kepada tousannya, tentu saja karena tousannya tidak memberitahukan kalau calon keluarga baru mereka itu memang orang Jepang asli yang hanya tinggal sementara di Korea.
Sedangkan Hiashi hanya menjawab dengan jawaban yang malah membuat Hinata semakin memberenggut. 'Kau tidak menanyakan lebih jelas.' Ucapnya saat itu datar.
Sasuke masih berdiam diri diambang pintu. Hinata bingung harus bersikap bagaimana. Suasananya terlalu canggung. 'Apa dia tidak suka ya?' pikir Hinata.
Memang kamar tersebut hanya ruangan berukuran 2x3 m yang hanya terdapat ranjang kecil, lemari dan sebuah meja juga kursi untuk belajar.
"Kamarku di s-sebelah sana." Tunjuk Hinata ke arah ujung lorong, "A-aku sekamar dengan Karin."
Tepat setelah Hinata mengatakan hal itu, Sasuke beranjak memasuki kamar barunya dan langsung menutup pintu kamar.
Hinata hanya menghela nafas melihat kejadian tersebut.
Ruangan itu terlihat lebih besar dari kamar yang diperuntukan Sasuke sebelumnya. Ada dua lemari, satu meja belajar, dan tentu saja ada 2 tempat tidur kecil yang dipisahkan oleh susunan laci yang tepat berada di dekat jendela.
Hinata terlihat sedang merebahkan dirinya disalah satu tempat tidur disebelah kanan jendela.
Krieet
Hinata mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Matanya sedikit membulat dan dia pun segera merubah posisinya menjadi duduk dengan kaki yang dia jatuhkan dari tempat tidur.
"Bibi.." Ucapnya pelan.
Mikoto mulai melangkahkan kakinya menghampiri Hinata.
"Santai saja, Hinata." Mikoto mencoba mencairkan suasana setelah duduk disamping kanan Hinata.
"Wah, disini bulannya terlihat lebih jelas yah." Ucap Mikoto sambil menolehkan kepalanya kearah jendela yang berada disamping kiri Hinata.
Hinata mengangguk, "Ya, a-aku sering melihatnya disini."
Mikoto menegakkan kembali posisinya. Memandang ke depan.
"Dulu, Sasuke tidak seperti itu." Ucap Mikoto lirih. Hinata melihat ada banyak kesedihan dalam sorot matanya.
"12 tahun lalu, dia sangat manis. Dia sama seperti anak-anak lainnya. Bermain kemudian pulang dan akan berbagi cerita tentang teman-temannya."
Hinata masih mendengarkan dengan pandangan yang tidak pernah pergi dari tatapan lirih Mikoto. 12 tahun lalu, tahun yang sama ketika dia kehilangan ibunya.
"Tetapi semuanya berubah ketika tousannya meninggal. Dia menjadi pendiam dan susah untuk diajak bicara. Dia sangat menyayangi tousannya. Ketika dia bingung menentukan mainan mana yang harus dia beli. Dia akan langsung menghampiri tousannya, dan setelah mendapat jawaban atas kebingungannya dia akan pergi dengan senyum yang mengembang di bibirnya."
Hinata mulai mengerti.
"Tapi hal yang paling ditakutkan baginya terjadi. Seminggu setelah tousannya meninggal, giliran Itachi yang pergi meninggalkannya. Teman bermainnya, sahabatnya. Dia menangis seharian, dan ketika besoknya tiba. Aku tidak pernah melihat dia tersenyum lagi, sampai sekarang."
"P-pasti menyakitkan," Ucap Hinata pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Ya, terlalu menyakitkan bagi seorang anak yang baru berusia 7 tahun. Sekarang dia menjadi seolah takut jika dia harus mulai menyayangi seseorang lagi. Cemas dan khawatir jika suatu saat harus kehilangan lagi."
Mikoto mengalihkan pandangannya ke arah Hinata yang sedang tertunduk.
"A-aku pikir nii-san tidak m-menyukaiku."
Mikoto membelai kepala Hinata, "Tapi, kau akan membuat dia menyukaimu kan?"
Hinata mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Mikoto yang sedang memandangnya.
"Hn." Sebuah anggukan menyertai gumaman tersebut.
-Hinata's POV-
Pernikahan sudah dilaksanakan 2 hari yang lalu, dan sekarang tousan akan pergi honeymoon dengan kaasan.
"Ingat, besok kau masuk sekolah. Liburan musim dingin sudah selesai." Tousan mengingatkanku.
Sekarang semuanya sedang berkumpul di depan onsen. Ada sebuah taksi yang sedang menunggu disana.
"Sasuke juga besok mulai sekolah bersamamu."
"Iya, tousan." Aku mengangguk.
"Tousan menyayangimu." Aku langsung menghambur kepelukannya. "Aku juga."
Entah mengapa rasanya menyakitkan. Padahal harusnya hari ini aku turut senang karena pernikahan Tousan.
Kaasan menghampiriku. Dia memelukku erat.
"Dari dulu, aku ingin sekali mempunyai anak perempuan." Dia tersenyum padaku.
Setelah itu dia mulai menghampiri Sasuke-nii. Sama seperti yang kaasan lakukan padaku, aku melihat dia memeluk nii-san dengan erat.
"Jaga dirimu." Pesannya kepada nii-san. Sedangkan nii-san hanya menunduk tidak mengatakan apapun.
"Titip ana-anak, Tsunade." Ucap Tousan menoleh kearah bibi Tsunade.
"Iya." Bibi menanggapi singkat.
"Kami pergi."
Aku melihat kepergian tousan dan kaasan sampai mereka menghilang termakan jarak yang semakin menjauh.
Bibi Tsunade dan Karin sudah masuk ke dalam. Tapi ketika aku mengalihkan pandangan ke sebelah kananku, aku melihat Sasuke-nii masih memandang ke arah perginya tousan dan kaasan.
"Di luar d-dingin, ayo masuk nii-san." Ajakku.
Dia menoleh. Tanpa mengatakan apapun dia mendahuluiku masuk ke dalam rumah. Ya tentu saja, onsen ini seperti rumah bagiku. Aku sempat menoleh kembali ke arah perginya tousan dan kaasan sebelum akhirnya mengikuti jejak Sasuke-nii memasuki onsen.
-End of Hinata's POV-
Gadis itu terlihat sedang merapikan rambut indigonya yang mencapai punggung. Terlihat dari pakaiannya, dia sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolahnya.
"Selesai." Ucapnya mantap sambil menegakkan badannya dihadapan cermin yang tidak terlalu besar yang ada di salah satu sudut di kamarnya.
Hinata mulai beranjak meninggalkan kamarnya. Tepat ketika dia berada di depan pintu kamar Sasuke dia berhenti. Dengan sedikit ragu dia mulai memanggil nii-sannya itu.
"N-nii-san? Kau ada didalam?" Ucapnya dengan berusaha lebih mendekati pintu.
Tidak ada jawaban. Tapi dia tidak berani membuka pintu kamar tersebut.
Dia terlihat menyerah dan mulai melangkah pergi meninggalkan salah satu lorong yang berada di onsen tersebut.
"Bibi, aku berangkat." Pamit Hinata setengah berteriak. Tidak ada jawaban dari Tsuande, dan itu cukup membuat Hinata yakin untuk segera mengayuh sepedanya.
Hinata mengayuh sepedanya dengan cepat. Dia ingin segera menyusul Sasuke yang ternyata sudah berangkat sebelumnya. Hinata merasa sangsi, memangnya nii-sannya itu tau jalan menuju sekolahnya?
Dari kejauhan Hinata melihat seorang pemuda yang sedang berjalan, dia terlihat memakai seragam sekolah sepertinya. 'Aaa, itu dia' pikirnya.
Ckiiiittt
Sepeda Hinata berhenti tepat disebelah Sasuke. Hal itu pun membuat Sasuke menghentikan langkahnya dan sedikit menolehkan kepala kearah Hinata.
"Nii-san, a-ayo berangkat bersama." Ajak Hinata
Sasuke memperhatikan Hinata dari dari atas sampai bawah. Hinata merasa sedikit risih dengan pandangan Sasuke yang seperti itu.
Entah apa yang Sasuke pikirkan. Tidak sampai satu menit dia berpikir, Hinata merasa bahwa sekarang beban yang sepedanya terima menjadi lebih berat.
Glek
Hinata menelan ludah. 'Aku kira dia yang akan mengalah untuk mengayuh sepeda.' Pikir Hinata setelah mendapati Sasuke memilih tempat dibelakangnya untuk diduduki.
'Ok. Semangat Hinata!' Ujarnya dalam hati.
Hinata's POV
1, 2, 3,
Dalam hitungan ketiga aku mulai mengayuh sepeda. Aduh, berat.. ah, sepedaku sedikit oleng.
"Aaa.." Ucapku sambil menghembuskan nafas lega setelah sepedaku kembali berjalan normal.
Sekarang aku menghadapi turunan yang bisa dibilang lumayan curam. Bekas Salju yang dibersihkan membuat jalan lebih licin dari biasanya. Aku berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Kalau hanya aku sendiri yang menunggangi sepeda ini sih tidak apa, tapi sekarang ada nyawa orang lain selain aku disini. Apa terlalu berlebihan?
"Mulai." Aku mulai mengayuh sepeda, dan tepat saat sepedaku mulai berjalan aku mendengar seseorang berteriak memanggil namaku.
"HINATA!"
Ah siapa sih yang memanggilku? aku berbalik menoleh. "K-karin?" ucapku terbata. Dia mengayuh sepedanya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Sepertinya dia berniat untuk menyusulku.
"Liat kedepan bodoh." Teriak karin.
Aku lupa, ini masih turunan.
BRUK!
Ah, karena terlalu gugup sepedaku jadi oleng dan jatuh.
uh, aku jatuh tersungkur. Tapi rasanya sepeda itu tidak menimpaku sama sekali. Aku menoleh kearah kiriku, mataku terbelalak.
"N-niisan?" Aku segera menghampiri nii-san karena melihat sepedaku menindihnya.
"K-kau baik-baik saja?" Tanyaku setelah menyingkirkan sepeda itu.
Nii-san hanya menatapku dalam posisinya yang setengah terlentang. "M-maaf," ucapku menundukkan kepala karena tidak tahan melihat tatapan tajamnya.
"Hinata?" Karin menghentikan sepedanya tepat disamping sepedaku yang tergeletak.
"Haha, bodoh." Ucapnya sinis. Dia melirik nii-san sebelum pergi pada akhirnya.
Aku merasa Sasuke-nii bergerak. Aku melihatnya mulai berdiri untuk kemudian meninggalkanku yang masih terduduk lemas.
-End of Hinata's POV-
Sesampainya disekolah Hinata segera memarkirkan sepedanya. Dia terlihat sedikit menyeret kakinya untuk bisa berjalan.
"Hei, kau kenapa Hinata?" Tanya Sakura ketika berpapasan dengan Hinata di depan loker.
"J-jatuh." Jawab Hinata menyenderkan punggung didepan loker miliknya.
"Dari?" Tanya setelah selesai mengambil buku dari dalam lokernya.
"S-sepeda."
"Kau ini, kalau begitu ayo obati luka lecetmu itu." Ucap Sakura sambil melirik kearah lutut kanan Hinata yang terluka.
Hinata meresponnya dengan sebuah anggukan.
Krieet
Pintu kelas bergeser. Sontak semua penghuni kelas itu langsung terdiam. Mereka mendapati seorang guru yang masih terlihat muda dengan garis melintang dari sebelah kanan hidungnya sampai hampir mencapai pertengahan pipi sebeleh kirinya.
"Ohayou anak-anak!" Sapa orang yang diketahui bernama Iruka tersebut.
"Ohayo Sensei!" Sapa para penghuni kelas dengan kompak.
"Hari ini kita kedatangan murid baru. Jadi sensei mohon kalian bersikap sopan terhadapnya. Mengerti?"
"Ya sensei!"
"Silahkan masuk."
Para siswi dikelas tersebut dengan kompak menahan nafas. Tidak terkecuali Hinata. Bedanya, Hinata menahan nafas karena merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan nii-sannya itu dihadapan orang banyak. Yang diketahuinya bahkan dihadapannya yang hanya sendiri pun dia sangat pelit bicara.
Sedangkan siswi yang lain menahan nafas karena tentu saja mereka merasa kagum dan terpesona akan makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini.
"Dia murid pindahan dari Korea. Oke silahkan perkenalkan dirimu." Iruka mempersilahkan.
Hinata makin menahan nafas.
"Sasuke." Ucapnya datar.
Hening.
"Ah, namanya Hyuuga Sasuke." Iruka menambahkan.
Sontak semua penghuni kelas menolehkan kepalanya ke arah Hinata. Sedangkan Hinata hanya bisa menunduk.
"Hinata," bisik Sakura yang duduk tepat disamping kanannya.
Hinata menoleh, dengan tatapan centilnya dia berkata, "Nii-sanmu tampan."
Hinata mengernyitkan dahinya.
"Baiklah, silahkan duduk di…" Iruka terlihat berpikir.
"Meja dibelakangku kosong sensei." Tawar Sakura.
"Ya, disana saja."
Sasuke mulai berjalan dengan banyaknya tatapan yang seolah-olah mengantarnya ke tempat duduk. Sesampainya dimeja tersebut, Sasuke segera memposisikan dirinya duduk dikursi.
Sakura berbalik kebelakang setelah mendapati Sasuke sudah duduk dengan nyaman. "Hi, namaku Haruno Sakura." Sakura memperkenalkan dirinya dengan tangan yang terulur.
Tidak ada respon dari Sasuke. Dia hanya menatap datar gadis pinky dihadapannya itu.
Sakura menarik kembali uluran tangannya itu. Dia malah tersenyum mendapati Sasuke yang menurutnya keren dengan sikapnya tersebut.
Hinata? Hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku temannya tersebut.
Hari ini sudah 3 hari berlalu sejak perginya Hiashi dan Mikoto untuk honeymoon, tapi mereka tidak menghubungi Hinata sama sekali. Hinata sempat berpikir mungkin mereka memang butuh waktu menikmati saat-saat bersama berdua saja.
Dan semenjak bertemu pertama kali sampai sekarang sikap Sasuke belum berubah sedikit pun. Semenjak kejadian jatuh dari sepeda tempo hari, Sasuke lebih memilih untuk berjalan kaki saat pergi maupun pulang sekolah. Hinata berpikir mungkin saat tousannya pulang nanti dia akan memberikan saran untuk membelikan Sasuke sepeda.
Di Sekolah sepertinya Sasuke mulai mempunyai beberapa pengemar dan sepertinya hari demi hari penggemarnya pun akan semakin bertambah. Sama seperti Sakura mereka pun berpikir bahwa sikap diamnya Sasuke itu menambah kesan 'cool' yang tidak dimiliki siswa lain. Tapi bagi Hinata, sikap diamnya itu hal yang sedikit membuatnya merasa itu adalah hal yang salah.
Awalnya Sakura merasa heran kenapa Sasuke yang notaben-nya adalah seorang kakak yang umurnya 2 tahun diatas Hinata harus berada di tingkat yang sama dengan Hinata. Harusnya kan tingkatnya lebih tinggi, dan dengan sedikit gugup Hinata menjawab bahwa Sasuke sering berpindah-pindah yang membuatnya ketinggalan beberapa mata pelajaran dan harus mengulangnya di Sekolah barunya. Dan Sakura sangat percaya dan tidak pernah bertanya lagi tentang hal itu.
Tentu saja Hinata tidak mau Sakura dan teman-teman sekolahnya tau kalau Sasuke sempat menghentikan sekolahnya saat saat masih di Junior High School karena beberapa gangguan dalam masalah interaksi sosial yang dialaminya.
Kriiing kriiing
Sebuah telepon kabel yang tersimpan rapi di meja ruang peristirahatan para tamu onsen berbunyi.
Kriiing
Sang penghuni tidak membiarkan telepon berbunyi lebih lagi.
"Hallo?" Sapa Tsunade
Selama beberapa saat tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Tsunade membelalakkan matanya setelah mendengar penjelasan sang penelepon di seberang sana.
"M-mereka m-meninggal?" Ucap Tsunade terkejut.
-Tsuzuku-
Sedikit penjelasan tentang autis yang diderita Sasu:
Sebenarnya aku jg dikit bingung dgn jenis autis yang diderita tokoh Yoon Suh di Tree of Heaven (Sasuke disini), soalnya kalau dilihat dari penyebab autisnya termasuk autisme reaktif. Autisme ini disebabkan trauma pada masa kecil yang pada akhirnya menimbulkan suatu kecemasan. Tapi kalau dilihat dari tingkah lakunya, tokoh Yoon Suh/Sasuke disini itu lebih seperti pengidap Sindrom Asperger (merupakan salah satu gejala autis jg sih). Penderita sindrom ini tidak mengalami penurunan, bahkan IQ-nya relatif tinggi yah minimal rata-rata deh. Penderita sindrom ini juga sulit memahami ekspresi wajah orang lain, mereka tidak memahami ironi ataupun sarkasme. Akhirnya hal itu membuat para penderita sindrom ini sulit untuk bersosialisai dengan orang lain. Tapi biasanya mereka itu lebih unggul dalam hal hitung-hitungan seperti matematika, bahkan pemprograman komputer. Nah mereka juga lebih bisa untuk menulis dari pada berbicara, misalkan Sasuke disini lebih pinter lukis dari pada ngomong. Terus biasanya mereka itu sangat detail dalam sebuah hal yang mereka tekuni, sampai-sampai mereka bisa menemukan hal-hal kecil yang sering kali orang lain lewatkan. (bisa baca di mbah wiki kalau pengen tau lebih banyak,he)
Jadi begitulah autisnya Sasuke, autisme reaktif yang perilakunya lebih ke sindrom asperger.
Gomen penjelasannya kepanjangan, hehe
OK, see you^^
Mind to review?
