-Red Rose Location Bab II: About The Past.

Seoul, South of Korea. December, 05th – 2001

"Demi Tuhan, Sakura. Kau yang menginginkan tempat ini dan sekarang kau minta kembali ke Jepang?!"

Seorang pemuda berambut merah masih berdiri dengan posisi kedua tangan yang terlipat di dada bidangnya. Ia menatap sengit pada sosok gadis—ralat wanita—yang saat ini duduk di tepi kasur dengan wajah bosan menahan amarah. Pasalnya, saat ini ia masih beradu pendapat dengan kekasih tercinta yang masih menatapnya dengan sengit.

"Aku akui kalau aku memang ingin pergi ke tempat ini, apa salah kalau aku merindukan tanah airku sendiri?" tanyanya sembari membanting majalah yang baru selesai ia baca.

Pemuda itu mendengus, "Kita akan tinggal disini." Lanjutnya tanpa memperdulikan tatapan mendelik dari kekasihnya.

"Oh ayolah, Gaara-kun! Kita akan tinggal disini setelah kita menikah nanti. Jangan hancurkan moodku yang sedang bagus," jawabnya tak kalah ketus.

Pemuda bernama Gaara itu mendekati kekasihnya, ia tatap tubuh polos milik kekasihnya yang saat ini tertutup dengan selimut tebal mencapai dadanya. Ia menghela nafas berat dan duduk di sebelah tubuh kekasih yang semalam sempat bercinta dengannya.

"Kau tahu kalau kita kesini untuk survey tempat, kita kesini dengan keluargaku. Bukan berdua, bersikaplah dewasa." Katanya dengan suara yang sengaja dipelankan, ia tahu kalau kekasihnya—Sakura tengah mendengus kesal karena keputusannya.

"Terserah. Kalau kau tidak mau mengantarku pulang ke Jepang, aku akan pulang sendiri." Jawabnya sembari meninggalkan Gaara dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia bahkan membanting pintu itu demi menyalurkan rasa marah yang sedari tadi mengusik hatinya.

Kedua iris emerald Sakura memanas, ia tatap perutnya yang masih datar. Rasa mual mulai menyerangnya lagi, kebiasaan pagi. Ia segera berjalan menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya tanpa suara, sengaja agar kekasihnya tidak mendengar apa-apa. Rasa pusing di kepalanya mulai menjalar lagi, sudut bibirnya terangkat—merasa bahagia.

'Nanti akan kaa-san beri tahu kehadiranmu pada tou-san. Tapi nanti, kalau kita sudah tiba di Jepang.' Ucap Sakura dalam hati sembari mengusap-usap perutnya yang masih sangat datar. Usianya baru berjalan satu minggu, tidak ada yang tahu tentang ini kecuali Sakura. Karena Sakura memang menyiapkan kejutan ini untuk kekasihnya.

Ia rebahkan dirinya di bathtup dan menikmati air hangat yang disediakan oleh hotel. Ia pejamkan matanya sebentar dan menghela nafas, ia tahu kalau tujuannya kemari dengan keluarga besar Gaara adalah untuk survey tempat. Sudah tiga hari ia menetap disini, sungguh ia sangat merindukan Jepang. Sebentar lagi, ia dan Gaara akan menikah. Menikah? Bibirnya tersenyum lagi, membayangkan keluarga kecil mereka yang diselimuti dengan kebahagiaan dan kehangatan.

Dirinya juga tengah hamil. Tidak ada yang tahu tentang itu, tadinya ia berniat akan memberitahukan Gaara disini. Tapi, niat itu batal karena ternyata mereka tidak pergi berdua saja. Ia memutuskan untuk memberi tahu Gaara saat kepulangan mereka di Jepang. Memang tidak masuk akal, tapi sejak ia mengandung, mood dan keinginannya jadi berubah kapan saja, dimana saja.

"Jangan melamun saat mandi,"

Sakura membuka matanya dan langsung menoleh cepat-cepat pada asal sumber suara, belum sempat memanggil nama pemuda yang seenaknya mengganggu acara mandinya, pemuda itu sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan ciuman yang tiba-tiba.

"Ne, Gaara-kun…ugh…" ia menangkup kedua rahang kokoh pemuda itu dan menikmati ciuman yang diberikan kekasihnya. Lembut, basah, dan terasa begitu nikmat saat ia merasakan lidah pemuda itu menyapu bibir bawahnya.

"Aah…" Sakura mendesah pelan saat dirasa kekasihnya menekan kepalanya kuat-kuat. Mulutnya terbuka memberikan akses masuk bagi lidah Gaara yang sedari tadi hanya menjilati bibir kekasihnya dengan penuh nafsu. Bibir lembab nan kenyal milik kekasihnya memang menggiurkan bagi Gaara, rasa cherry yang begitu manis saat menyentuhnya, adalah sensasi tersendiri bagi pemuda Sabaku ini.

Masih dalam tahap kulum-mengulum, Sakura menjambak pelan rambut Gaara. Rasa nikmat mulai membakarnya, air liur tak mampu lagi terhisap sehingga keluar dari sela-sela bibir mereka. Sakura melenguh, sedangkan Gaara menahan dan menjilati saliva kekasihnya yang sempat menetes membahasi tangannya.

.

.

.

Sakura Haruno menggeram sebal karena tatapan meremehkan kekasihnya tak kunjung hilang. Bercinta di dalam air bukanlah hal yang mudah baginya, tenaga Gaara terlalu kuat untuknya. Cipratan air yang diciptakan Gaara membuatnya tak berkutik, sama sekali tak berkutik untuk membalas segala gerakan kekasihnya. Saat ini, ia tengah menyeret kopernya dengan malas menuju ke dalam pesawat.

"Kau kalah lagi." ucap Gaara sembari duduk di samping kekasihnya. Menyeringai.

"Diamlah, berisik." Jawabnya sarkatis sembari mentap keluar jendela.

'Kenapa firasatku sangat tidak enak, ne? Ada apa dengan pesawat ini?' Sakura harus was-was, firasatnya mengatakan ada yang tidak beres disini. Tapi apa? Kenapa? Ia usap perutnya dalam diam, matanya masih memandang jendela pesawat.

"Kau kenapa?" tanya Gaara tiba-tiba dan menarik tangan yang dipakainya untuk mengusap perut tadi.

"Ah?" Sakura terperanjat, "Tidak, ku rasa aku hanya takut." Lanjutnya sembari menggenggam erat tangan kekasihnya.

"Kau merasa tidak baik dengan perutmu?" tanya Gaara lagi, kali ini wajah pemuda itu melembut—khawatir.

Sakura menggeleng, "Aku merasakan firasat aneh," katanya sembari menyenderkan kepalanya di bahu pemuda itu.

"Hh—" Gaara menghele nafas, "Kau yang meminta pulang, lalu kau ingin membatalkannya lagi?"

"Tidak, mungkin aku hanya ketakutan." Katanya meyakinkan diri.

"Semua akan baik-baik saja," jawab Gaara sembari mengusap tangan wanitanya.

.

.

.

Arakafsya Uchiha Mempersembahkan:

"Red Rose Location"

Genre: Romance/Drama

Characters: Gaara & Sakura H.

Rate: Semi M

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

.

.

Summary:

Kalau kau tidak mau menarik uluran tanganku, tak apa. Aku sadar betul siapa aku, kau pasti tak pernah tahu rasanya menjadi diriku. Kalau kau tidak mau menyambut pelukanku, tak apa. Aku tahu tak pernah ada namaku di dalam hidupmu. Tapi, jangan salahkan aku kalau aku sudah pergi walaupun kau meminta uluran tanganku sekali lagi. Karena ini lah kejamnya dunia hiburan.

.

.

.

Sabaku Corp. November, 13th – 2002

Akibat dari mimpi buruk semalam, Haruno Sakura jadi tidak bersemangat untuk memulai kerja samanya dengan Sabaku Corp. hari ini. Mimpi tentang masa lalunya dengan pemimpin perusahaan ini. Langkah kakinya semakin dekat menuju ruang rapat, tempat dimana ia akan bertemu dengan mantan kekasihnya. mantan terindah dalam hidupnya.

"Sakura-san," langkahnya tiba-tiba terhenti dan ia menolehkan kepalanya saat melihat seorang gadis yang lebih muda darinya, berjalan mendekatinya. Iris emerald itu menangkap sosok gadis berambut cokelat pendek, dengan sorot onyx bulat yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Matsuri?" gadis itu mengangkat kepalanya angkuh, menatap Sakura yang baru saja menyebut namanya.

"Ada titipan dari Gaara-sama," gadis itu memberikan amplop berwarna cokelat padanya, "Harusnya anda tahu kalau Gaara-sama begitu terpuruk atas masa lalunya dengan anda, untuk apa anda menawarkan kerja sama pada kami? Ingin melihat dan tertawa melihat keadaan Gaara-sama?"

Sakura menarik nafasnya berat, "Aku tidak punya niat apapun pada Gaara, aku memang ingin menolong Sabaku Corp. aku tahu aku tidak punya hak berbuat demikian, aku tahu keberadaanku sangat tidak diinginkan Gaara…" Sakura menelan ludahnya dengan susah payah. Ia menggeleng menatap Matsuri, menahan sebisa mungkin agar liquid bening itu tidak jatuh melewati pipinya.

"Demi Tuhan, aku hanya ingin menebus—"

"Apa yang ingin kau tebus?!" sela Matsuri sembari melipat tangannya di depan dada. Wajah angkuhnya mulai terlihat lagi.

"Matsuri, aku—"

"Kehilangan sosok ibu yang sudah membesarkanmu, mengangkat derajat dan kedudukanmu di hadapan orang-orang. Meninggikan namamu dan membuat dunia mengakui keberadaanmu! Kau pikir kau bisa tegar kalau hal itu terjadi padamu?!" Sakura merasa tertohok mendengar kata-kata Matsuri barusan.

"Kau yang sejak awal memang kehilangan orang tuamu tidak akan pernah tahu apa-apa tentang Gaara-sama. Hentikan semua sandiwaramu sebagai manusia yang berpura-pura untuk—"

"Hentikan, Matsuri!" sebuah suara menginteruspi kegiatan keduanya. Mereka berdua menoleh pada pintu ruang rapat yang terbuka, onyx besar Matsuri bertemu pandang dengan onyx tajam milik seorang pemuda yang ia ketahui adalah teman dekat Sakura.

Diam. Mereka semua diam sampai saat pemuda berambut raven itu menghampiri mereka. Matsuri akui kalau pemuda ini tampan, tatapan matanya juga tegas. Tampannya tak kalah jauh dengan pemuda yang sedari tadi menjadi bahan perbincangan mereka. Hanya saja keduanya memiliki perbedaan masing-masing.

"Hentikan omong kosongmu itu. Kau tidak berhak menuding Sakura sebagai tersangka utama atas meninggalnya Nyonya Sabaku." Ucap pemuda itu.

"Ayo masuk," lanjutnya lagi sembari menarik tangan Sakura menuju ruang rapat dan segera meninggalkan Matsuri sendirian.

"Sasuke, tunggu." Sakura menundukkan kepalanya menatap lantai marmer yang kini telah basah karena air matanya. Ia melepaskan genggaman tangan Sasuke dan menghapus air matanya.

"Aku ke toilet sebentar," lanjutnya lagi dan segera pergi meninggalkan Sasuke yang memandangnya sendu.

Dengan langkah terburu-buru, Sakura segera menuju ke toilet. Sesampainya disana, ia tatap kaca besar yang memperlihatkan wajah cantinya. Ia usap wajahnya perlahan-lahan, menghapus riasan wajah yang sudah luntur karena air matanya sendiri. Nafasnya terasa sesak mengingat semua kata-kata Matsuri.

"Gaara…" ah ya—dia ingat. Matsuri memberikan titipan padanya, langsung saja ia buka amplop itu dengan hati-hati. Berusaha agar tidak merusak apa yang ada di dalamnya.

"Surat?" iris emeraldnya menatap bingung pada selembar kertas berukuran sedang yang di dalamnya terdapat sebuah tulisan. Bahkan ia masih ingat, tulisan pemuda itu sampai sekarangpun belum berubah. Masih sama.

Sakura,

Saat kau baca surat ini, aku tidak ada di tempatmu berada. Di kantor, aku tidak hadir dalam acara rapat kita. Maaf. Rapat akan dipimpin oleh Matsuri—sekertarisku sendiri. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu, temui aku sepulang rapat. Ingat, kau hanya boleh datang sendiri. Karena ini adalah masalah yang belum sempat kita selesaikan.

Hubungi aku di Line, Gaara. Kau akan temukan nomorku disitu. Terima kasih,

Hatinya terasa mencelos membaca surat itu. Setidaknya, Gaara masih mau bertukar pendapat dengannya mengenai masalah itu. Tapi, sebagian hatinya lagi malah merasa penasaran tentang pertanyaan apa yang akan Gaara lontarkan padanya. Jantungnya jadi berdetak lebih cepat. Buru-buru ia poleskan riasan wajahnya lagi dan langsung melesat keluar, tidak lupa dengan senyum yang sempat ia gunakan saat berpapasan dengan Sasuke. Meyakinkan pemuda itu kalau dirinya sudah merasa jauh lebih baik.

==oOo==

Ichiraku Café. November, 13th – 2002

Sabaku Gaara baru saja mendudukkan dirinya di ruang delapan, lantai dua. Café Ichiraku memang luas, terdiri dari dua lantai dan setiap mejanya diberi sekat-sekat pembatas ruangan. Gedung dua lantai ini menyediakan wi-fi untuk pengunjungnya. Tempat makan yang menyediakan menu istimewa ramen ini adalah surganya para remaja. Tempat makan indoor dan full AC, di lantai bawah sudut ruangan terdapat tembok minimalis tempat air mengalir menuju kolam ikan, tempat duduk sofa dan tempat makan tertutup.

"Mau pesan apa, Tuan?" Gaara menolehkan kepalanya pada maid yang baru saja tiba di tempatnya. Ia lirik sebentar menu makanan yang tersedia, lalu mulai menerima secarik kertas dan pulpen yang diberikan maid itu.

Setelah menulis menu makanan yang dipesan, pemuda itu langsung memberikannya pada maid yang masih menunggunya tadi. Ia menghela nafas lagi, "Oh ya, aku lupa. Tambahkan buah cherry dan strawberry di salad buahnya, ice creamnya rasa strawberry dan ramennya jangan pedas." Ucapnya lagi.

Hah—bahkan ia masih ingat makanan favorite Sakura. Salad buah, dan ramen yang tidak pedas. Ia tersenyum dan menggeleng, membiarkan maid itu pergi membawa secarik kertas yang berisikan makanan pesanannya. Ia tentu tahu segala macam hal tentang Sakura, kebiasaan gadis itu kalau kedinginan, kepanasan, melamun, berbohong, jujur, dan segalanya.

"Gaara, lama menunggu?"

Deg!

Sesaat merasa kaget dan jantungnya begitu cepat berpacu. Lama tidak mendengar dan bertegur sapa, apa lagi berbicara empat mata pada perempuan yang kini berdiri di hadapannya sedikit membuatnya kikuk. Ia lirik Sakura yang masih mengenakan blazer dan high heels merahnya, ia bahkan tahu kalau wanita musim semi ini belum menginjak apartemennya.

"Hn, duduklah. Aku sudah pesankan makanan untukmu," ucapnya sembari menyuruh Sakura masuk dan duduk di depannya.

Hening. Suasana kembali hening. Iris jade tosca itu masih menatap lembut emerald Sakura. Mata yang sudah lama tidak ia tatap, tubuh wanita itu juga sedikit kurus dari yang dulu. Ia menghela nafas, menetralkan keadaan jantung yang sedang ia tutupi.

"Sakura," pemuda itu bersuara. Membuat Sakura mau tak mau harus mendongakkan kepalanya.

"Ku rasa tidak ada gunanya aku basa-basi menanyakan kabarmu, langsung saja—" pemuda itu menyandarkan punggungnya pada penyanggah sofa, "—tentang yang kau katakan kemarin malam, apa maksudmu kalau kau juga kehilangan…anak kita?"

Tes. Air mata kembali membasahi pipi ranumnya, "Seperti apa yang kau dengar, memang apa yang ingin kau tahu?" Sakura mulai terisak.

"Semuanya." Jawab Gaara singkat.

"Untuk apa? Ku rasa ini bukan hal penting untukmu," Sakura menghela nafas lagi, "Aku tahu kau menyalahkanku atas kecelakaan pesawat yang terjadi waktu itu, kalau saja…hiks…kalau saja aku tidak memaksamu pulang, hiks…kau tidak akan kehilangan ibumu bukan?!"

Beruntunglah Sakura karena sekat-sekat ruangan itu kedap suara, "Kalau kau memang benar-benar ingin tahu—"

"Maaf mengganggu sebentar, Tuan dan Nyonya. Ini pesanan anda," Sakura buru-buru menghapus air matanya saat maid datang membawakan pesanan mereka. Ia lirik Gaara yang buru-buru mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, lalu menyuruh maid itu untuk menutup pintu ruangan mereka.

"Minumlah," ucap Gaara sembari menyerahkan segelas lemon tea pada Sakura, kedua tangan rapuhnya menerima gelas tersbut. Ia minum secara perlahan-lahan agar tidak tersedak, sekaligus mencoba mendinginkan kepala dan hatinya.

"Sudah merasa baikan?" tanya pemuda itu dengan wajah datarnya, Sakura mengangguk. "Lanjutkan," ucapnya lagi.

"Hari terakhir kita di Seoul, aku sengaja memintamu untuk pulang ke Jepang…" Sakura memejamkan matanya, tidak peduli tatapan dingin Gaara yang menghujani dirinya, "Aku ingin memberimu kejutan, memberitahukan tentang kehamilanku."

Shit. Iris jade itu terbelalak. Bagaimana mungkin ia sendiri tidak tahu kalau kekasihnya hamil waktu itu, "Kenapa kau tidak memberitahukan hal itu saat kita di Korea?" dadanya diisi dengan rasa sesak.

"Tadinya aku memang berniat memberitahukannya pada saat kita di Korea, tapi aku urungkan niat itu saat aku tahu kita tidak pergi berdua. Aku tidak mau membahas kehamilanku di depan keluargamu, status kita belum menikah." Jawabnya sembari membuka mata.

"Aku menyesal memaksamu pulang waktu itu. Aku membuat ibumu meninggal, dan aku juga kehilangan anakku." Lanjutnya sembari meyeka air matanya yang hendak turun. Ia lihat pemuda itu menghela nafas berat, memejamkan matanya—entah apa yang ia pikirkan.

"Sejujurnya, tentang kecelakaan itu…aku sudah memaafkanmu, hanya saja aku belum siap untuk bertemu denganmu kembali. Tapi, karena ucapanmu semalam mengganjal di hati, aku tidak bisa tinggal diam."

"Kau tidak perlu merasa bagaimanapun setelah kau mendengar hal ini," Sakura menggeleng, "Aku yang lebih bersalah karena membuat ibumu pergi meninggalkanmu. Aku tidak pernah memintamu untuk bertanggung jawab atas hilangnya anakku, aku—"

"Sakura, tenanglah. Dengarkan aku dulu," sela Gaara sembari tangan kanan Sakura yang mengepal. Pemuda itu mencoba mendinginkan kepala Sakura dan juga dirinya, sebisa mungkin tidak kalut terbawa emosi.

"Aku tahu aku memang kekanakkan, menyalahkanmu atas kecelakaan murni tersebut. Waktu itu aku hanya terpuruk, aku tidak—"

"Tidak bisa menerima kalau ibu yang selama ini meninggikan dirimu pergi begitu saja, begitu?" pemuda itu diam. Kata-kata Sakura menusuknya secara perlahan, bodoh memang kalau dipikir-pikir. Emosi sesaat memang bisa menghancurkan segalanya, bukan begitu Sabaku?

"Sudah. Hentikan, makanlah. Aku tahu kau belum makan, nanti ramennya dingin." Ucap Gaara dengan pelan.

"Maafkan aku…" pemuda itu hanya menghela nafas mendengar penuturan maaf dari mantan kekasihnya.

"Lupakan saja," jawabnya sembari tersenyum dan mulai bersiap menyantap ramennya.

"Makanlah, Sakura. Aku akan mengantarmu pulang nanti,"

Meskipun nafasnya sesenggukan, terisak dengan rasa sesak di dadanya yang tak kunjung hilang, Sakura tetap bersikap senormal mungkin di hadapan Gaara—mantan kekasihnya. Sebisa mungkin menghindari pertengkaran yang merusak suasana, meskipun dalam hati sendiri ia merasa hangat karena setidaknya Gaara masih mau mendengar penjelasannya. Meski, rasa bersalah masih menggerogoti hatinya.

-Tbc-

Author Area:

Hey, I'm back. Ada yang kenal saya? Bisanya saya suka collab sama Ara di SasuSaku. Sempet baca fict ini beberapa hari yang lalu dan tertarik pas Charanya berubah GaaSaku. Wow, haha. Saya harus mempelajari fict ini berhari-hari ==" *lebay abis* karena emang saya ga ngerti sama jalan ceritanya. Nunggu Lemon ya? Chapter tiga ada lemonnya~ so, makasih banget bagi para reviewers yang minta keep. Arigatou Minna :)

Mind to review again? Thanks.