'Dasar gadis keras kepala', fikirnya. Naruto kembali duduk dan tidak memperhatikan Sakura. Sepanjang pelajaran Sakura memaksakan dirinya untuk bertahan. Tidak peduli ocehan Ino yang terus mengajaknya untuk ke UKS. Hari ini Sakura kebagian jadwal piket, dengan sisa tenaga Sakura bangkit sebelum kesadaranya hilang. Dan benar sajah Sakura pingsan karena demam. Sakura membuka matanya perlahan, dan dilihat sahabatnya menungguinya disanah
"astaga Sakura. Kau gadis keras kepala yang pernah aku kenal yah? Akhirnya kau tumbang jugakan sekarang"
"siapa yang membawaku kemari Ino?"
"Naruto yang membawamu kemari"
Sakura bangkit hendak mencari dimana sosok Naruto yang telah menggendongnya ke UKS, tapi Ino malah mencegahnya.
"percumah kau mencarinya Sakura, dia sudah pulang. Lebih baik kau istirahat sajah disini. Paman dan bibi akan menjemputmu"
"tapi Ino aku ingin melihat Naruto"
Ino menghela nafas panjang. Bahkan dirinya yang telah setia menunggui Sakura diabaikan karena Naruto
.
.
Naruto membaringkan tubuhnya gusar. Ada sekelebat ingatan yang datang mengganggunya, membuatnya pusing dan ingin membenturkan kepalanya ketembok saking pusingnya. Gadis berambut pink itu sukses membuat Naruto tidak bisa istirahat dengan tenang. Ayahnya Minato sengaja menyingkirkan hal yang mengingatkan putranya kepada Sakura. Mengingat kondisi Naruto yang masih belum stabil usai kecelakaan dan kondisi Naruto yang merasa pusing tiap kali mengingat memorynya yang hilang.
Karena kondisi itulah. Gaara,Sasuke,Shikamaru,Sai dan teman dekat Naruto lainya enggan membicarakan Sakura di depan Naruto. Akhirnya tepat saat jam menunjukan tengah malam Naruto bisa memejamkan matanya. Naruto tersungkur ditengah jalan sesaat sinar menyilaukan itu datang dan terdengar teriakan yang keras
"NARUTO!"
Suara gadis itu melengking tajam, tepat beberapa detik saat mobil itu menghantam tubuh Naruto.
"sial!"
Naruto terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Mimpi sialan itu membuat Naruto merasa muak dan ketakutan. Tapi gadis yang ada dimimpinya itu terasa familiar bagi Naruto. Ah entahlah, Naruto tak ingin mengingatnya karena membuat kepalanya pusing.
"kau terlihat buruk pagi ini Naruto"
Ayahnya sudah duduk dimeja makan, sedangkan Kushina ibunya mematikan kompor gas dan meletakan makanan yang sudah tersaji panas dimeja makan
"aku mimpi buruk lagi semalam"
Jawabnya dengan raut wajah ditekuk
"kau lupa meminum obatmu lagi huh?"
Kushina menatap tajam kearah anaknya
"ah ibu, obat itu tidak banyak membantuku. Sudah ya aku barangkat dulu ayah ibu"
Naruto sedikit bergidik ngeri melihat sorot mata ibunya yang tentu sajah bila berlama-lama disitu akan berubah menjadi tatapan "membunuh". Naruto melangkahkan kaki, santai memasuki kelasnya. Dilihat bangku Sakura kosong. Apa hari ini gadis itu tidak berangkat? Tapi tunggu dulu. Sejak kapan Naruto memikirkan Sakura?. Tapi benar sajah ternyata hari ini Sakura tidak berangkat.
"Ino dimana Sakura?"
"eh.. itu"
Ino memalingkan wajahnya, bingung harus menjawab apa. Apakah ingatan Naruto kembali? Tapi Ino tidak ingin gegabag dan mengatakan hal yang sembarangan. Terlebih Naruto kehilangan ingatanya.
"Ino?"
Tanyanya sekali lagi. Ino mengumpulkan keberanianya, dengan hati-hati ia mengatakan
"eh.. Sakura ehem dia dirawat di RS karena demam Naruto. Tapi.. tapi kau tidak usah khawatir kondisinya sekarang jauh lebih baik. Dalam waktu cepat Sakura juga akan pulang ko"
Ino nyengir dengan ekspresi wajah canggungnya. Takut kalau Naruto merasa pusing bila menyangkut hal yang mengenai Sakura. Tapi kekhawatiran itu berubah tidak menunjukan sesuatu yang berarti. Naruto tetap pada ekspresi datarnya
"oh ya? Kalau begitu dimana dia dirawat?"
"ruang anggrek kamar 5C RS konoha"
Naruto langsung meluncur ke RS tempat dimana dulu dia dirawat. Entah hal apa yang merasuki Naruto sehingga dia datang ke RS dengan sebuket lily putih. Naruto melihat sekilas diambang pintu, gadis itu tengah terbaring lemas diranjang dengan selang infusnya.
Wajah itu.. astaga Sakura meskipun sedang terbaring lemas tampak manis seperti malaikat. Ino benar, kondisi Sakura jauh lebih baik. Wajahnya tidak sepucat saat dia pingsan dikelas. Naruto hanya mematung disanah. 'Apa yang sedang kau lakukan Naruto?' Batinya berbicara. Kenapa melihatnya terbaring lemas tak berdaya seperti itu hatinya serasa diremas? Apa karena Sakura memberikan payungnya dan menerobos hujan rela kehujanan untuk dirinya? Tidak! Bukan persaan ini bukan persaan seperti itu. Tapi peraan ini begitu familiar, begitu hangat menyentuh relung hati Naruto. Naruto memegang kepalanya, dia merasa pusing. Dilihatnya Sakura sesaat sebelum dia beranjak pergi, Naruto meletakan sebuket bunga lily didepan pintu takut kalau Sakura terusik dari tidurnya.
"Naruto"
Naruto menoleh. Gadis itu mengigau menyebut namanya. Tapi karena rasa pusing yang menghantam kepalanya itu Naruto memutuskan untuk pulang.
.
.
"bagaimana keadaanmu Sakura?"
"sudah jauh lebih baik bu"
"oh ya, tadi di depan pintu ada bunga lily. Entah dari siapa tak ada kartu namanya"
Sakura mengernyit. Apa Ino yang memberikanya bunga? Tapi kenapa tidak langsung masuk ke ruangan sajah.
"forehead bagaimana keadaanmu?"
Tiba-tiba Ino sudah muncul memasuki ruangan dan menutup pintu
"itu bunga dari siapa bibi?"
"entahlah, ada yang meletakanya didepan pintu, aku fikir ini darimu Ino"
Ino berfikir sejenak. Meskipun ia agak ragu tapi dapat dipastikan bunga itu dari siapa
"aku rasa aku tau bunga itu dari siapa"
"siapa Ino?"
"eh.. Naruto"
Sakura sempurna membulatkan mata zamrudnya, dan berbinar
"Na..ruto? benarkah?"
Sakura menelan ludahnya ragu.
"iya, tadi disekolah dia menanyakan ruangan tempatmu dirawat"
"tapi kenapa, dia tidak masuk?"
"mungkin dia takut mengganggu istirahatmu"
Sakura menunduk kecewa. Secercah harapan itu muncul. Naruto tadi menjenguknya?
.
.
Naruto tengah disidang diruang tamu. Kushina terlihat menyeramkan, sementara Minato bergidik ngeri melihat aura devil dari istrinya itu
"Na-ru-tooo! Ibu bilang apa? Kau harus rajin minum obatmu! Anak ini!"
Naruto menunduk sempurna sebagai terdakwa
"eh ibu. Maaf, tapikan obat itu rasanya pahit bu.. tapi kalau dengan ramen ichiraku aku.."
TUUK!. Kushina menjitak kepala anaknya, sementara Minato menyeringai
"sayang, jangan kasar pada Naruto diakan baru sembuh dari kece-.."
Belum sempat Minato melanjutkan kata-katanya Kushina sudah melihat tajam kearah suaminya. Minato hanya diam, takut kalau jadi sasaran amukan Kushina
"sudah ibu peringatkan yah! Jangan sampai telat minum obat! Lihat akibatnya kepalamu jadi pusing lagi. Ibu juga jadi ikut pusing Naruto!"
Naruto menunduk sempurna
"mulai besok ibu tidak akan memberimu uang jajan!"
"A-APA?!"
Kushina kembali menatap Naruto dengan tatapan membunuhnya
"ba..ik ibu aku mengerti"
"ini juga demi kebaikanmu! Dokter Tsunade-sama sudah memperingatkanmu untuk rajin minum obat agar kau cepat sembuh!"
"i..ia bu aku mengerti"
"dan kau Minato!"
Kali ini Kushina menatap tajam kearah suaminya
"jangan memanjakan Naruto dengan memberikanya uang mengerti?!"
Kushina mengancam. Minato hanya mengangguk menelan ludahnya ke tenggorokan. Saat Kushina menuju dapur, Naruto dan Minato sama-sama menghela nafas lega..
.
.
Sakura sudah tidak sabar berangkat sekolah. Tapi dokter menyarankanya agar Sakura beristirahat dulu dirumah. Tapi bukan Haruno Sakura namanya kalau ia tidak keras kepala. Karena itu ibunya overprotektif terhadapa Sakura. Sakura merasa bosan, ia lelah menunggu detik, menit, jam dan waktu yang seakan bergerak sangat lambat. Sakura ingin sekali melihat Naruto. Orang yang selama ini selalu melindungi dan menjaga sakura. Ino berbaik hati meminjamkan buku pelajaran. Sakura harus extra belajar mengejar ketertinggalanya yang selama empat hari berada di RS. Maka ketika hari itu tiba Sakura bangun pagi-pagi menuju dapur. Ia ingin membuatkan bekal untuk Naruto. Dengan semangat ia mencoba memasak bento. Sakura tersenyum geli ia susun bentonya dengan simbol love. 'Oh apa yang ada difikiranmu sakura?' Ia menggelengkan kepala kemudian menata ulang bentonya membentuk wajah Naruto. Lengkap dengan tiga garis diwajah rubahnya. Semoga Naruto menyukai bentonya. Semoga...
.
.
Naruto melangkah memasuki gerbang. Dari kejauhan ia melihat Sakura dan tanpa sadar wajahnya tersenyum. Ah kenapa aku ini? Naruto meneruskan langkahnya dan kembali mengacuhkan sakura
Sakura tersenyum simpul. Semoga sajah Naruto bisa mengingatnya suatu saat nanti
.
Ino menyambut hangat kedatangan Sakura, dan beberapa temanya menanyakan kabar Sakura setelah dirawat di RS. Sedangkan Naruto duduk ditempatnya sambil mendengarkan musik dari earphonenya. Sakura tersenyum dan mendekati Naruto
"Naruto-kun, ini aku bawakan bekal untukmu"
Naruto melepaskan earphonenya.
"aku tidak lapar, Sakura.. bisakah kau berhenti menggangguku? Aku tak tau apakah kita dulu berteman baik atau tidak aku tak peduli. Tapi tolong yah aku peringatkan, jangan usik hidupku"
Naruto bangkit dari tempat duduknya, sedangkan Sakura membeku disanah. Hatinya.. begitu sakit mendengar kata-kata dari Naruto. Tidak, kau tidak boleh menangis Sakura. Batinya menguatkan diri sendiri. Sakurapun memasukan bekal yang ia buat kedalam tas Naruto. Siapa tau Naruto akan memakanyakan?. Dari kejauhan Naruto melihat Sakura hampir meneteskan air matanya. Hatinya seakan bisa merasakan apa yang Sakura rasakan.
.
.
Saat bel istirahat Naruto membuka tasnya. Ada bekal dari Sakura, karena ibunya tidak memberi uang jajan Naruto menahan laparnya. Ia tergoda mencicipi bento dari Sakura
"masa bodo"
Naruto lapar dan ia menyantap bento dari Sakura seperti orang yang kelaparan. Ino melihatnya diluar jendela, Sakura pasti senang bekal yang ia bawakan dilahap habis oleh Naruto
"Sakura, Naruto menghabiskan bekal yang kau bawa tuh"
"benarkah pig? Ah, syukurlah"
Setidaknya usahanya tidak sia-sia.
.
.
.
TBC
