Ganti Nama! Kalau ditanya kenapa sih ganti nama? alasanya karena saya ngerasa gak enak nyebutinya. Selain itu, kayaknya cerita ini kedepanya gak terlalu fokus sama tantangan yang diberikan Ino. Makanya daripada gak relevan sama ceritanya, mending ganti nama aja hehe. Tapi mana tau sih kedepanya bakal gimana soalnya masih bingung-bingung juga buat nyari jalan ke arah endingnya.
erimakasih untuk yang sudah review dan memfollow/ngefavorite cerita ini. Terutama :/em/strongemstrongzielviena96/strong/emstrong,Ae Hatake,emStellar/em,Sunyoshino ,Saikari Ara Nafiel ,Inuzukarei15, Galura no Baka Lucky22 , Rinzu15 the 4th Espada , CherryFoxy13em, dan yang lainya. Mungkin ada perubahan suasana dari chap sebelumnya. So, Selamat membaca.. jangan lupa buat review
.
.
Naruto © Masashi Kisimoto
Pairing : NaruSaku & SasuIno
Warning : OOC, AU, Typoos, e.t.c.
~~~~~~~~~~oOo~~~~~~~~~~
Entah sudah berapa lama aku berada dalam posisi ini. Punggungku menempel pada seseorang di belakangku. Lengan kananku dicengkram, sedangkan ada sebuah tangan lain yang memegang pinggangku. Entah sudah berapa lama aku menatap mata biru sapphire itu. Aku tidak tahu tepatnya. Tapi aku yakin waktu saat ini pasti tengah berhenti.
"Kau baik-baik saja?" suara maskulin itu menyadarkanku akan posisi kami.
Refleks, aku mendorongnya. Pria itu sedikit terdorong ke belakang dan otomatis peganganya padaku terlepas. Dan tentu saja, karena tindakanku itu, malah aku yang terjatuh.
"Ouch" aku mengelus bokongku.
"Perlu bantuan?" ucapnya seraya mengulurkan tangan. Ia tersenyum.
Deg
"Ti'tidak" Aku berdiri lalu menepuk-nepuk rok ku yang kotor terkena debu.
"Kau yakin baik-baik saja?" tanyanya
"I'iya.. aku baik-baik saja." Jawabku tanpa berani melihatnya.
Aku terus menerus menepuk rok. Padahal aku yakin debu yang menempel tadi sudah hilang, aku melakukan hal tersebut demi menghindari tatapnya.
"Tadi kau hampir terserempet motor. Walaupun lampu pejalan kaki masih hijau, kalau sudah berbunyi artinya kau harus hati-hati. Kendaraan di sekitar sini banyak yang tidak patuh aturan. Ini" Pria itu menyodorkan tas padaku.
"Arigatou.."
"Iie.. Oh ya, kenalkan namaku Naruto Uzumaki"
"Sakura. Aku Sakura Haruno.."
"Hmm.. Sakura ya? eh, Kau yakin baik-baik saja? kau terlihat pucat"
"Ya aku tidak apa-apa, sungguh"
"Syukurlah. Nee, Sakura-chan aku pergi dulu. Semoga kita bisa berjumpa lagi. Dah!"
Pria itu-Naruto- melambaikan tangan padaku. Ia berlari menyebrangi trotoar lalu menghilang di salah satu tikungan.
Deg Deg Deg
Ada apa ini? Kenapa jatungku berdebar seperti ini?Oh tidak! TIDAK MUNGKIN AKU TERTARIK PADANYA KAN?!
"Sakura... Ayo cepat turun! Kau tidak ingin terlambat buk..a..Astaga! ada apa dengan wajahmu itu Sakura-Chan?"
Kaa-San menatapku terkejut. Aku tahu apa yang dimaksud kaa-san. Wajahku saat ini pasti sudah seperti boneka panda yang biasa menjadi teman tidurku. Mataku bengkak , dan air mukaku.. oh.. entahlah aku harus mendeskripsikanya bagaimana.
"Kau semalam tidak tidur Sakura?" tanya Kaa-San.
Aku mengangguk
"Memangnya kenapa kau tidak tidur? Apa ada yang dipirkan?" Kali ini, Otou-san yang bertanya
"emm.. tidak ada. Hanya tidak bisa tidur saja. nee, Aku berangkat dulu ya!"
"Heeii! kau tidak sarapan?"
"Nanti saja aku beli di kantin! Aku sudah terlambat! Aku berangkaat!"
~oOo~
Aku teringat pertanyaan Kaa-san tadi. Apakah ada sesuatu yang kupikrkan? Ada! tentu saja ada! Dan tebak hal apa yang kupirkan itu? Bingo! Aku terus berpikir tentang pertemuanku dengan pemuda bernama Naruto Uzumaki. Pemuda dengan rambut pirang dan mata shapire-nya.
Seharian kemarin aku terus memikirkan pertemuan kami. Dia, Naruto Uzumaki sang penyelamatku. Naruto Uzumaki, yang aku yakin 100% bahwa tabiatnya pasti baik. Dan wajahnya yang rupawan itu...
tunggu! tunggu! astaga aku memikirkanya lagi!
Aku menepuk nepuk pipiku. Berharap akan tersadar dari khayalan konyol yang tak henti-hentinya membuat jantungku berdebar.
"Sakura! Hei! Jidaaaat!"
Teriakan Ino membuatku sadar akan dunia nyata sekarang. Aku menatap Ino dengan sedikit kesal. Ya siapa yang tidak kesal jika dia teriak tepat di samping kupingmu?
"Daritadi kau dipanggil sensei Tsunade , bodoh!"
glek
Aku langsung mengalihkan fokusku pada sensei ter-killer se-antereo KHS di depanku ini. Aku meneguk ludah. Sensei Tsunade dengan tangan terlipat memandangiku sinis.
Oke, aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Jadi, ketika sensei Tsunade menunjuk arah pintu kelas, itu berarti aku harus membawa buku, dan dengan tulus harus melangkahkan kaki keluar kelas.
Aku memandang Ino yang hanya bisa memberikanku tatapan prihatin.
"Huft.."
Pagi yang sial..
~oOo~
"Jadi.. bisa kau ceritakan padaku apa yang terjadi sampai-sampai kau berani melamun di pelajaran Tsunade-sensei?"
Aku memandangi Ino dengan meringis
Kebiasaan buruk Ino no 3, ia selalu penasaran dengan urusan orang lain. Jadi aku pun tidak heran jika para siswa memberinya cap miss gosip
"Tidak ada tuh"
"Bohong! Aku kenal betul kau tidak mungkin berani melamun dipelajaran tsunade-sensei! jadi katakan apa yang membuatmu melamun seperti tadi Jidaat!"
"Sudah kubilang tidak ada!"
"Awas saja ya, aku pasti akan mencaritahunya sendiri. fufufu"
Ino berlagak menjadi orang yang menyebalkan sekarang.
"Hei.. katanya hari ini ada pertandingan basket ya?" tanyaku mengalihkan pembicaraan
"Iya. Hari ini tim basket kita akan bertanding. Aku harus hadir menjadi cheers. Sekalian mendukung Sasuke-kun~" Ino menangkupkan kedua pipinya
Dasar.
"Kau mau menonton?" tanya Ino
Aku mengangguk sebagai jawaban. toh, hari ini aku sedang tidak ada kerjaan.
"Yeeaa! Tumben sekali kau mau menonton pertandingan basket?"
"Aku hanya ingin melihat bagaimana melangsanya dirimu saat Sasuke dikerumuni fans fanatiknya" Kataku sambil nyengir. Ino langsung saja melempariku dengan brokolinya. Dan sialnya, brokoli itu tepat mengenai rambutku.
"Gezz! Ino! kau merusak rambutku!"
"Salah sendiri berani mengejekku!"
Aku tak lagi menggubris perkataan Ino. aku melangkah keluar kelas, menuju toilet untuk membersihkan sisa sisa brokoli.
aku berhenti saat mataku melihat pria tinggi berambut emo yang sangat kukenal.
Sasuke..
Sasuke bersandar di loker sambil menelpon. satu tanganya dimasukan ke dalam saku celana. Tapi ada yang tak biasa darinya.
Apa ya? Ah! tidak ada wanita-wanita genit yang menempel di kanan kiri Sasuke!
Aku kembali melangkah menuju toilet yang memang letaknya bersebelahan dengan tempat loker siswa, melewati Sasuke yang masih terfokus dengan obrolanya.
"Baik. Aku sudah mengaturnya. Hn. Jangan terlambat."
Masih dengan handphone yang bertengger, Sasuke melirikku yang melewatinya. Tapi hanya melirik saja. Tidak menyapa sekalipun. Mau bagaimana lagi, aku memang tidak dekat dengan Sasuke. Walaupun aku sahabat pacarnya, tapi tetap saja sikapnya itu dingin.
Sress..
"Ck! Ino menyebalkan!"
Aku membasuh air ke bagian rambut yang terkena brokoli. Masih bau. Tapi lebih baik dari pada tadi.
"Huft..."
Aku melihat pantulan diriku di cermin. Sekali lagi, pikiranku melayang pada sosok pemuda bermarga Uzumaki. Warna rambutnya yang pirang, warna matanya, dan badanya yang gagah, dan juga suaranya yang maskulin itu..
Deg deg deg deg
Tunggu! Kenapa jantungku selalu berdetak jika membayangkanya?! Apa jangan-jangan...
Tidak! Tidak!
Pok-pok!
Aku menepuk nepuk pipiku.
Sadarlah Sakura..!
Aku membasuh wajah. Sekali lagi, menatap pantulan diriku di cermin.
Kau harus bertahan pada prinsipmu!
"Yosh!"
Aku melangkah keluar toilet berniat kembali ke kelas.
Namun, kembali langkahku terhenti tatkala melihat Sasuke yang bersandar di loker siswa sambil menyilangkan tangan. menyadari akan kehadiranku, ia lantas menurunkan tanganya dan menatapku tajam.
"Haruno. aku perlu bicara denganmu"
Glek! Firasatku tidak enak
~oOo~
"err.. jadi apa yang mau kau bicarakan, Sasuke-kun?"
Aku menatap Sasuke yang bersandar pada sebuah pohon dibelakangnya, dengan kedua tangan yang masukkan ke dalam saku celana dan tak lupa dengan tatapanya yang seperti sedang mengintrogasi penjahat.
Aku sangat gugup.
Untuk pertama kalinya Sasuke mengajakku bicara tanpa Ino! apakah aku telah melakukan kesalahan? Tidak mungkin! aku kan hampir tidak pernah berurusan denganya!
Aku kembali meliriknya. Kali ini matanya tidak lagi menatapku. Melainkan menatap ke arah rerumputan di bawahnya. Aku lantas saja mengikuti pandanganya.
"Ino"
Aku mendongak mendengar Sasuke menyebutkan nama Ino
"eh?"
"Apa yang terjadi pada Ino?"
Aku menatapnya bingung.
"apa maksudmu, Sasuke-kun?"
"Ada apa denganya? kenapa sikapnya berubah akhir-akhir ini?"
Aku semakin bingung.
Setahuku tidak ada yang aneh dari Ino. Ia tetap cerewet seperti biasa, tetap menyebalkan, dan tetap memuja-muja lelaki dingin di hadapanku sekarang. Jadi apa maksudnya dengan sikap Ino yang berubah?
"A'aku tidak mengerti Sasuke. Apa yang berubah dari Ino? Aku rasa tidak ada yang berubah darinya"
Sasuke menyipitkan matanya.
"Kau yakin?"
"I'iya... me'memangnya kau punya masalah apa dengan Ino, Sasuke-kun?"
Sasuke berdecak "Bukan urusanmu"
Ups. Aku lupa kalau pangeran es satu ini sangat tidak suka jika ada yang mencampuri urusan pribadinya.
Sasuke berjalan melewatiku tanpa berkata apa-apa. Setelah yakin ia sudah pergi, aku baru bisa bernapas lega.
"Ya ampun menegangkan sekali.."
Tunggu..
Tadi bukankah Sasuke mananyakan keadaan Ino?
"ASTAGA! SASUKE MENANYAKAN KEADAAN INO!"
Sudah bertahun tahun mereka pacaran dan aku baru mendengar Sasuke menanyakan keadaan Ino! Ya ampun aku harus memberitahu Ino!
~ooOoo~
Aku berlari secepat mungkin menuju kelas. Ino harus tahu kalau Sasuke menanyakan keadaanya!
Tidak ada yang protes karena aku berlarian di sepanjang koridor. Suasana sekolah memang sudah sepi saat ini. Jam pulang memang sudah sejak sejam yang lalu berbunyi.
Kelasku sudah terlihat! Kelas 3-2. Aku menggeser pintu untuk mencari sosok Ino.
"Ino! in..o.."
aku terpaku pada pandangan di hadapanku.
Ino menundukkan kepalanya. Bahunya terlihat naik turun. Bento yang tadi dimakanya kini tak tersentuh sama sekali. Bahkan tidak berkurang sedikitpun saat aku meninggalkanya ke toilet.
"Ino.." aku memegang pundaknya
"Aku tidak bisa Sakura! a..aku.. aku.."
Aku mengambil kursi lalu duduk di sebelahnya.
" Hei pig. ini seperti bukan dirimu yang biasanya." Ino semakin terisak.
Pasti karena Sasuke
"Kau tahu? aku terkadang kesal melihatmu yang terus saja memperjuangkan pangeran es itu. Bahkan aku berharap agar kau melepaskanya saja."
"Hisk..Hisk.."
"Tapi.. kau tahu pig? Semua pikiran itu berubah saat Sasuke menemuiku tadi." Ino mendongak menatapku heran. Bingung kenapa Sasuke harus menemuiku. Dengan terkekeh geli, aku memikirkan kembali kejadian beberapa saat yang lalu.
"Kau tahu kenapa Sasuke menemuiku bukan menemuimu?"Ino menggeleng
"Dia cemas Ino."
"Apa?"
"Dia cemas kepadamu. Dia menanyakan padaku apa yang terjadi denganmu sampai sikapmu berbeda denganya. hihi. Setelah dipikir-pikir lucu juga ya pangeran es itu sekhawatir itu?"
"Be'benarkah dia mengkhawatirkanku Sakura?" aku mengangguk
"Ti'tidak mungkin! Kau jangan membohongiku Sakura! Tidak mungkin ia mengkhawatirkanku!"
"Hei.. apa kau pikir aku berbohong sekarang? sudahkubilang kan aku sebenarnya ingin kau berpisah denganya! tapi melihatnya tadi aku jadi berpikir kalau Sasuke sebenarnya sayang padamu, Ino. Itu semua terpancar jelas dari tatapanya."
"Sakura..." Ino menatapku ! aku memukulnya dengan bento-ku
"Sudah, sana temui pangeranmu! Jangan sampai kau kehilangan moment langkanya!"
Ino menghapus air matanya. Ia memelukku erat.
"Aduh! hei Pig! lepaskan! Aku masih normal!"
"Terimakasih Sakura. Kau memang sahabat terbaikku!"
Aku terharu mendengarnya. Buru-buru, aku menghapus air yang berlinang di mataku.
"Tentu saja! memangnya siapa lagi sahabat yang kau punya selain aku, bodoh."
Ino melepaskan pelukanya. "Kau benar. Nee, Sakura.."
"Sudahlah! cepat susul Sasuke-kun mu itu!"
"Hai! "
Ino tergesa-gesa memasukkan bento dan bukunya. Ia lantas mengeluarkan handphhone dan menghubungi kontak dengan nama 'Sasuke-kun'. Belum satu detik setelah tersambung, suara bass yang sudah sangat dikenal menyahut dari seberang sana.
"Moshi-moshi Sasuke-kun, kau dimana? Di ruang basket? tunggu disana! aku akan kesana sekarang! Baik.. sampai nanti Sasuke-kun."
"Oh iya Sakura!" Ino berbalik saat sampai di pintu kelas."Apa?"
"Jangan lupa pertandingan basket sore ini. Kau tetap hadir kan?"
"Iya. Aku akan hadir"
"Oke, sampai nanti Jidat lebar!"
"Ap-hei! Kau berani-beraninya memanggilku jidat setelah aku membantumu! hei- jangan lari kau Pig!"
~oOo~
Ino berdiri si sebah pintu dengan tulisan 'Klub Basket'. Hatinya berdegup kencang. Tanganya menggenggam ponsel yang tadi digunakan untuk menghubungi kekasihnya. Hatinya gugup bukan main. Ia tak tahu harus berkata apa nanti saat berhadapan dengan Sasuke. Apa yang harus dikatakanya? apa ia harus meminta maaf? atau ia harus mengatakan kalau ia menyesal karena hampir menyerah? ataukah dia harus marah dan meluapkan kekesalanya? Ino semakin bingung.
Huft.. Ino menghembuskan napas demi mengurangi keteganganya. Berulang kali ia melakukan hal yang sama.
"Sedang apa kau berdiri disini?" tiba-tiba saja sebuah suara menginterupsinya dari belakang. Refleks, handphone yang didekapnya terlepas begitu saja dan menimbulkan bunyi pecahan.
Ino berbalik dan menemukan sosok familiar di hadapanya. "Sa'sasuke kun?"
Sasuke tidak menyahut keterkejutan Ino. Ia berjongkok dan mengambil ponsel Ino yang retak karena terjatuh tadi.
"a'ah.. Sasuke-kun.. aku.." Ino tak bisa berkata apapun. Lidahnya kaku. Ia hanya memandang lantai sementara Sasuke mengotak atik handphone Ino. Hasilnya, handphone Ino tidak menyala. Ia berdecak.
Sasuke berdiri "Ponselmu tidak bisa digunakan lagi"
Ino tersadar. Lalu ia menatap ponsel berwarna pink dengan gantungan hallo kitty yang dulu dibelinya saat berkencan dengan Sasuke.
"Ah.. sepertinya aku harus ke tukang reparasi nanti."
Ino hendak mengambil handphonenya. Namun, saat tanganya hampir mencapai benda pink itu, Sasuke tiba-tiba menggenggam tangan Ino dan melemparkan handphone Ino ke tempat sampah di hadapanya.
"Sasuke-kun?!"
"Buang saja. Aku belikan yang baru"
"Ta'tapi.. itu kan bukan kesalahamu Sasuke-kun! sudah biar aku betulkan saja nanti."
Ino berbalik untuk mengambil handphoneya yang dengan nistanya di lemparkan ke tong sampah oleh Sasuke. Namun, lagi-lagi cengkraman Sasuke menghentikan langkah Ino.
"Sasuke-kun?"
Grep! Sasuke memeluk Ino erat. Sikap Sasuke yang aneh ini membuatnya blushing seketika.
"Sasuke?"
"Jangan bertingkah konyol lagi seperti kemarin. Jangan mengabaikanku lagi. Jangan menghidariku. Jangan bersedih lagi. Dan.. Jangan Menyerah terhadapku."
"Sasuke..."
"Jawab saja"
Ino menyandarkan kepalanya di dada bidang Sasuke. Ino mencengkram kemeja Sasuke. Air mata mengalir membasahinya. Jujur.. ia sangat senang Sasuke mengatakan hal tadi. Tapi, disisi lain Ino sangat takut jika sikap Sasuke jahat kembali terhadapnya. Ia sangat takut..
"Sasuke.."
"Hm?"
"Berjanjilah padaku untuk tidak mempermainkanku lagi."
Sasuke melepaskan pelukanya seraya memandang wajah sembab Ino
"Aku sama sekali tidak mempermainkamu, Ino. Aku berada di dekat wanita-wanita itu bukan karena aku menyukainya. Percayalah,hanya kau satu-satunya wanita yang aku cintai."
Ino terpaku. Aquamarinenya menatap dalam onix kekasihnya. Oh Tuhan.. untuk pertama kalinya Sasuke berkata seperti itu.
Cup..
Kejadianya begitu cepat. Ino, tanpa aba-aba mengecup bibir Sasuke. Sasuke mulanya terpaku. Lalu, berikutnya justru Ino-lah yang dibuat terpaku saat kedua tangan kekar Sasuke menangkup pipi Ino dan menempelkan bibirnya di atas bibir kekasihnya.
Ino.. tersenyum bahagia.
~oOo~
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif silahkan tinggalkan pesan setelah..." Klik. Lagi-lagi suara voice mail yang menyahut nomor ponsel Ino.
Huft.. Dasar Ino Pig! kalau sudah bersama Sasuke sulit sekali dihubunginya!
16.50
Aku menatap jam di pergelangan tanganku. 10 menit lagi pertandingan basket akan dimulai. Mungkin lebih baik aku ke lapangan sekarang. Aku yakin Ino pasti sedang bersiap-siap untuk menjadi cheers team basket.
Sial. Kalau ujung-ujungya aku ditinggali sendiri, lebih baik aku langsung pulang saja tadi!
"Sakura-san!"
Seorang wanita berambut lavender berlari menghampiriku. "Hinata? Ada apa?"
"Apa kau akan menonton pertandingan basket Sakura?"
"Err..memang, aku berniat begitu.. tap-"
"Wah! Syukurlah~ akhirnya aku menemukan teman untuk nonton bersama!"
"eh? kau memangnya ingin nonton, Hinata? tumben sekali.. biasanya kau tidak berminat dengan kegiatan klub sekolah dan langsung pulang atau pergi les"
Hinata tersenyum malu-malu. Pipinya merona merah. "err.. se'sebenarnya.. ada se'seorang yang aku sukai dari klub basket, Sakura-san"
"Na'Naniii?!"
"Sssttt! Tolong pelankan suaramu, Sakura-san!"
"ah, go-gomen.. aku terkejut mendengarmu menyukai seseorang. Aku kira kau orang yang cuek. gomennasai, Hinata."
Hinata menggeleng "tidak apa-apa Sakura-san. Aku mengerti."
Jujur, aku penasaran seperti apa lelaki yang disukai Hinata. Apa jangan-jangan Sasuke? ah! tidak mungkin Hinata menyukai seorang pria yang memiliki kekasih! atau mungkin Kiba-kun? aku pernah mendengar kalau Kiba menyukai Hinata. Wah! Apa mungkin Hinata sudah menerima Kiba?!
"Ne..Hinata..Kalau aku boleh tahu, siapa orang yang kau sukai, Hinata?"
Hinata semakin merona. Ya ampun.. Hinata imut sekali. Aku jadi penasaran siapa lelaki beruntung yang disukainya, ya?
"a'aku akan tunjukan padamu Sakura-san. ta'tapi sebaiknya kita ke lapangan sekarang. Karena pertandingan akan segera dimulai."
"Ah! benar! ayo kita kenasa Hinata!"
Saat sampai dilapangan, aku melihat team cheerleader baru saja selesai mempersembahkan pertunjukan mereka. Pada kesempatan itu, aku melihat Ino di antara team cheers. Ia memisahkan diri dari yang lainya lalu berlari keluar lapangan dan menuju bangku pemain- lebih tepatnya bangku Sasuke- Ino mengepalkan tanganya. Sepertinya ia sedang menyemangati Sasuke. Dan apa yang terjadi selanjutnya justru membuatku syok!
Tebak apa yang terjadi?
Sasuke tersenyum pada Ino dan mengelus puncak kepala Ino! Astaga! Demi apapun untuk pertama kalinya aku melihat Sasuke tersenyum! Seluruh penonton mendadak senyap. Aku bisa pastikan mereka juga pasti syok atas perilaku Sasuke yang abnormal itu.
"Priittttt!"
Peluit tanda pertandingan dimulai. Seluruh penonton yang tadinya sunyi menjadi riuh kembali. Aku masih syok atas perubahan sikap Sasuke pada Ino. Namun, sebuah tepukan menyadarkanku dari lamunan.
"Sakura-san! Lihat! itu pria yang aku sukai!"
Sekarang fokusku teralih sepenuhnya. Demi mengetahui siapa lelaki beruntung yang disukai Hinata, aku mengabaikan Ino yang wajahnya merah padam di bangku pemain.
"Yang mana Hinata?"
"Itu! yang nomor 10!"
"Nomor 10?"
Nomor punggung 10.. Mataku mencari –cari pemain yang bernomor punggung 10.
Ah! Ketemu!
Aku tidak perlu bertanya lebih jauh. Dari warna rambutnya yang mencolok saja aku tahu siapa orangnya. Dia adalah...
"Ternyata kau menyukai Sabaku Gaara, Hinata?"
"Apa maksudmu Sakura-san?" Hinata melongo menatapku.
"Lho? kau menyukai pria bernomor punggung 10 kan? bukanya itu nomor Garaa?"
Aku menunjuk bangku pemain di bawah tribun yang sedang diduduki oleh Gaara. Hinata melihat ke arah yang ku maksud. Ia melihat nomor 10 yang tercetak lebar di seragam klub berwarna hitam itu.
Hinata tertawa geli. "aah..kau sepertinya salah paham Sakura-san."
"Eh?"
"Yang aku maksud bukan nomor 10 dari sekolah kita. Tapi no 10 dari sekolah lawan. Itu! Lihat! Dia sedang membawa bola!"
Tatapanku terarah pada nomor punggung 10 dari team lawan. Ia gesit. Tanganya dengan lihat mendrible bola menuju ring. Tapi langkahnya terhenti karena Sasuke berada tepat di depanya. Aku tidak bisa melihat wajahnya yang memunggungi posisi kami. Setelah sekian detik hanya terdiam, akhirnya Sasuke menyerang duluan. Ia mencoba merebut bola. Nomor 10 itu sudah mengantisipasinya. Ia berbalik, dan...
Deg!
"Kau lihat wajahnya, Sakura? Itu dia lelaki yang aku sukai!"
Dia..
"Aku bertemu denganya sebulan yang lalu. Di'dia cukup terkenal di sekolahnya."
Dia..
"Oh ya, Namanya adalah.."
Uzumaki Naruto..
To Be Continued
.
.
Huft.. akhirnya chapter 2 bisa selesai.. Butuh perjuangan banget buat nyelesain chapter 2 karena saya termasuk oranng yang moody-an kalo soal nulis. Mohon maaf buat para readers yang lama nantiin chapter ini. Maaf juga karena menurut saya suasananya kurang ngebangun. Dan pada chapter ini juga lebih banyak difokusin ke SasuIno. Tapi pairing intinya itu tetep NaruSaku. So, sabar ya yang nantiin NaruSakuTerakhir, jangan lupa REVIEW :)
