Fakta tidak bisa dilihat hanya dari satu sudut pandang.
Sebuah kejadian akan melibatkan pandangan dua orang atau lebih
Namun apa yang akan terjadi ketika keduanya menyembunyikan sesuatu?
.
.
.
Re-Start of Love
.
.
a NamJin Fanfiction
by
Black Lunalite
.
.
.
Warn!
NamJin, BL, ABO!AU, Fiction.
.
.
.
Part 2 of 3
Part 2: The Facts That Leave Behind
Ucapan Seokjin justru terasa seperti menghantam Namjoon, dia sama sekali tidak sadar kalau Seokjin bertambah kurus. Sejak mereka bertengkar beberapa minggu lalu, Namjoon memang tidak pernah melihat Seokjin makan karena dia tidak mau lagi makan bersama Namjoon. Namun yang lebih menghantam Namjoon adalah, 'Apakah Seokjin bahkan masih memakai cincin itu ketika hari kecelakaan?' karena dia ingat para perawat di mobil ambulans menemukan cincin itu dalam genggaman tangan Seokjin, bukan di jarinya.
Namjoon berdeham pelan, "Kita memang sedikit bertengkar beberapa hari sebelumnya." Namjoon melirik Seokjin kemudian tersenyum menenangkan, "Tapi jangan khawatir, itu bukan pertengkaran yang serius."
Seokjin mengangguk pelan, "Okay," bisiknya pelan kemudian menatap keluar jendela.
Namjoon mengemudikan mobilnya dengan sesekali melirik ke arah Seokjin, Seokjin terlihat santai, dia terlihat tidak memikirkan masalah itu lebih jauh karena setelahnya dia justru bertanya pada Namjoon mengenai beberapa toko dan juga restoran yang baru dia lihat di daerah mereka setelah kehilangan ingatannya.
Ketika mereka tiba di gedung penthouse mereka, Seokjin terlihat terkejut, dia menarik-narik Namjoon dengan bersemangat karena ingin segera melihat rumahnya. Ketika mereka masuk ke dalam, Seokjin segera berkeliling dengan semangat sampai akhirnya dia terhenti karena melihat seorang wanita asing di dalam rumahnya.
Namjoon berjalan di belakang Seokjin dan berhenti di sebelahnya kemudian merangkul pinggang Seokjin, "Sayang, ini Eleanor, dia adalah asisten rumah tangga kita, aku mempekerjakannya karena aku mau kau istirahat dengan maksimal dan tidak memikirkan urusan rumah."
Seokjin mengangguk paham, dia bisa mengenali wanita yang sudah agak tua itu sebagai Beta jika mencium dari aromanya. Seokjin tersenyum, "Hallo,"
Eleanor tersenyum pada Seokjin, "Selamat siang, Tuan Seokjin, selamat datang kembali di rumah. Anda mau minum sesuatu?"
Seokjin menggeleng pelan, kemudian dia menoleh ke arah Namjoon, "Kurasa aku mau melihat-lihat rumah ini, ini pertama kalinya aku melihatnya."
Namjoon mengangguk, dia memberikan tas berisi barang-barang Seokjin pada Eleanor, "Tolong bantu aku untuk membereskan ini. Terima kasih."
Eleanor menerima tas itu kemudian mengangguk pelan dan berjalan ke arah tangga di dalam rumah mereka. Seokjin memperhatikan arah kepergian Eleanor kemudian menatap Namjoon, "Kamar kita ada di atas?"
Namjoon mengangguk, dia merasa bersyukur karena dia langsung mempekerjakan Eleanor saat tahu Seokjin kehilangan ingatan dan memindahkan barang-barang Seokjin dari kamar tidur lain yang ada di rumah karena sejak Seokjin mengatakan dia ingin bercerai, Seokjin tidak pernah lagi tidur di kamar yang sama dengan Namjoon. Untungnya Eleanor bekerja sangat cepat dan hanya dalam waktu dua hari saja dia sudah selesai memindahkan semua barang-barang Seokjin kembali ke kamar utama.
"Kau mau melihat ruangan yang mana dulu?" ujar Namjoon.
Seokjin mengangkat bahunya, "Terserah kau saja."
Namjoon membimbing Seokjin untuk berjalan menyusuri ruang-ruang di kamar mereka, dia juga menemukan beberapa foto baru yang dipajang di beberapa sudut rumah dan menanyakan pada Namjoon kapan foto-foto tersebut di ambil dan Namjoon menjelaskan semuanya. Namjoon membawa Seokjin menuju sebuah ruangan dan di dalamnya hanya terisi komputer, meja besar di tengah ruangan, set sofa di pinggir ruangan, dan juga rak-rak buku berukuran besar.
"Ruangan apa ini?" tanya Seokjin seraya berjalan mengitari ruangan.
"Ruang kerjamu," ujar Namjoon. "Aku membuatkan satu ruang kerja khusus untukmu ketika kita pindah ke sini karena website yang kau kelola semakin terkenal." Namjoon tersenyum tipis, "Jika kau sedang bekerja, kau hampir tidak keluar dari ruangan ini."
Seokjin memperhatikan judul-judul buku yang tersusun di rak, sebagian besar adalah buku resep dan juga beberapa buku yang membahas soal bahan makanan, ada juga buku mengenai panduan dan nama-nama restoran terkenal di seluruh dunia. "Aku tidak tahu ternyata aku bekerja sekeras itu untuk websiteku belakangan ini."
Namjoon terdiam karena dia juga baru menyadari bahwa itu memang benar, ketika Seokjin memulai websitenya tiga tahun lalu saat mereka menikah, Seokjin memang mengerjakannya dengan sepenuh hati, namun belakangan ini dia menjadikan website itu sebagai alasan utama untuk menghindari Namjoon padahal Seokjin semakin jarang membuat artikel baru untuk websitenya dan ini membuat Namjoon bertanya-tanya apa yang Seokjin kerjakan sebenarnya.
"Apa aku masih membuat resepku sendiri?"
Namjoon tersentak kembali saat Seokjin bertanya padanya, dia berdeham pelan kemudian menuding ke arah salah satu rak, "Rak paling atas, buku resepmu sudah semakin banyak dan kau mengumpulkan semuanya di sana."
Seokjin mendongak ke arah yang dituding Namjoon dan dia melihat deretan buku aneka warna dan juga kamera polaroid di sana, Seokjin menoleh ke arah Namjoon. "Kamera siapa itu?"
"Oh, itu hadiah dariku untukmu, kurasa akan lebih bagus jika menyimpan resep dan menempelkan foto hasil masakanmu di buku, makanya aku membelikanmu kamera itu." ujar Namjoon kemudian dia berjalan menghampiri rak dan mengambil kamera itu.
Seokjin mengikuti dan berdiri di sebelah Namjoon dengan punggung bersandar ke rak. Namjoon memeriksa kamera itu sebentar, "Aku tidak tahu sudah berapa foto yang kau ambil dengan kamera ini karena kau memang jarang sekali menunjukkan buku resepmu padaku."
Seokjin memperhatikan Namjoon yang kembali meletakkan kamera itu di rak, "Kau memang Alpha terbaik untukku, Joon." Seokjin tersenyum pada Namjoon.
Namjoon tertawa pelan seraya meletakkan kamera itu, "Ahaha, ini hanya kamera biasa, sayang." ujar Namjoon kemudian setelah selesai meletakkan kamera itu kembali, dia menunduk dan tertegun saat melihat wajah Seokjin yang berada tepat di hadapannya.
Seokjin tersenyum, "Aku memang melupakan banyak hal, tapi aku tahu satu hal." Seokjin meraih wajah Namjoon dengan tangan kanannya yang tidak digips, "Aku tidak akan melupakan perasaanku padamu, Alpha." bisik Seokjin kemudian dia menarik wajah Namjoon untuk lebih menunduk dan menciumnya.
Namjoon meraih tubuh Seokjin dalam pelukannya namun tetap berhati-hati agar tidak menempel terlalu erat dan nantinya akan melukai tangan Seokjin. Seokjin membuka mulutnya kemudian mengerang pelan dan itu benar-benar membuat sisi Alpha Namjoon melompat keluar, Namjoon menggeram pelan dan memukul rak di atas kepala Seokjin untuk mengendalikan diri sementara Seokjin memeluk leher Namjoon semakin erat dan berusaha mendapatkan lebih banyak sentuhan.
Namjoon berusaha mengendalikan dirinya agar tidak mencium Seokjin terlalu keras karena dia khawatir dia akan kehilangan kontrol dan justru memaksakan dirinya yang memang merindukan Seokjin pada Omeganya itu. Seokjin merengek pelan dalam ciuman mereka karena merasa Namjoon tidak menciumnya secara serius dan itu membuat Namjoon harus meremas rak buku di atas kepala Seokjin agar tidak benar-benar meremukkan Seokjin dalam pelukannya.
Jika saja bisa, Namjoon ingin sekali mengatakan betapa dia merindukan Seokjin dalam pelukannya namun dia tidak bisa. Namjoon mengeratkan pelukannya namun sayangnya dia justru menekan tangan Seokjin yang cedera dan membuat Seokjin refleks melepaskan ciuman mereka untuk mengaduh pelan. Namjoon mendadak panik, dia memperhatikan Seokjin meringis pelan dengan khawatir, "Seokjin, maaf, aku tidak sengaja."
Seokjin menggeleng pelan, "Tidak apa-apa," bisiknya.
Namjoon menghembuskan napas lega, dia mengusap kepala Seokjin dengan lembut, "Kau harus istirahat, aku akan mengantarmu ke kamar."
Seokjin mengangguk pelan dan membiarkan Namjoon membawanya ke kamar, setelah memastikan Seokjin berbaring dengan nyaman di tempat tidur, Namjoon berjalan keluar dan menuruni tangga, dia melihat Eleanor yang sedang berada di dapur.
Namjoon tersenyum tipis menyapa Eleanor sementara wanita itu mengangguk pelan, lalu dia terlihat seperti mengingat sesuatu dan memanggil Namjoon dengan nada agak ragu.
"Ada apa?" tanya Namjoon.
"Saya ingin membicarakan sesuatu."
Namjoon mengangguk pelan dan mengajak Eleanor untuk duduk di ruang depan rumah mereka, tempat paling jauh dari tangga yang menuju kamar utama tempat Seokjin berada. Namjoon duduk di salah satu sofa sementara Eleanor pergi mengambil sesuatu yang dia bilang ingin dibicarakan. Namjoon menunggu beberapa menit sampai kemudian Eleanor kembali dengan membawa beberapa amplop surat.
Wanita itu meletakkan amplop-amplop itu di meja, Namjoon meraih salah satunya dengan bingung dan membaca bagian depan amplop, dan Namjoon merasa jantungnya berhenti berdetak ketika membaca tulisan yang tertera di amplop.
Eleanor berdeham pelan, "Saya menemukan surat-surat ini di kamar yang saya bereskan, surat-surat ini disimpan di dasar laci sehingga jika saya tidak mengeluarkan seluruh isi laci, saya pasti tidak akan menemukan surat-surat ini." Eleanor menatap Namjoon, "Anda pastinya sudah bisa menduga apa maksud dari surat ini, semua surat ini ditujukan pada anda, dan semuanya berasal dari satu orang, psikiater Tuan Seokjin."
Namjoon masih terpaku dengan tatapan kosong, tangannya yang memegang amplop terasa bergetar karena rasa terkejut yang luar biasa. Dia dan Seokjin hidup bersama selama sekian tahun, dia adalah Alpha Seokjin, tapi dia bahkan tidak tahu jika Omeganya berada dalam kondisi yang serius hingga membutuhkan bantuan seorang psikiater? Kemudian jika melihat dari banyaknya surat yang ditujukan untuk Namjoon, Namjoon bisa menduga bahwa kondisi Seokjin pastinya sangat serius sehingga dokter Seokjin merasa dia harus menemui Namjoon secepatnya.
"Sepupu saya bekerja di rumah sakit dan saya tahu bahwa tiap perawatan kesehatan yang melibatkan seorang Omega, harus membutuhkan izin dan perhatian penuh dari Alphanya. Terlebih lagi jika masalah itu terkait kondisi mental dan kesehatan psikis dari seorang Omega, saya menduga psikiater yang menangani Tuan Seokjin pastinya ingin menemui Alphanya karena memang tidak seharusnya seorang Omega pergi mencari bantuan terkait kesehatannya sendiri tanpa Alphanya, kecuali jika Alphanya memang sudah tidak ada di dunia ini." jelas Eleanor hati-hati karena dia bisa melihat Namjoon sangat shock.
Namjoon membuka amplop yang ada di tangannya dengan hati-hati dan hatinya terasa hancur saat membaca kalimat-kalimat yang tertulis di kertas itu, dalam surat itu tertera secara tersirat kondisi Seokjin sebagai stress berat dan membutuhkan bantuan dari Alphanya, dokter yang menangani Seokjin juga meminta agar Namjoon datang bersama Seokjin untuk konsultasi berikutnya karena dia membutuhkan pandangan Namjoon terkait kondisi Seokjin.
Tangan Namjoon terangkat untuk meremas rambutnya sendiri, dia sama sekali tidak tahu Seokjin dalam kondisi stress berat, Namjoon memeriksa amplop-amplop lainnya dan menyadari bahwa surat itu pertama kali ditujukan padanya enam bulan lalu. Seokjin menyembunyikan kondisi psikisnya selama enam bulan dari Namjoon, dan Namjoon bahkan sama sekali tidak menyadari itu.
Pandangan Namjoon mengabur karena airmatanya sendiri, dia merasa benar-benar gagal sebagai Alpha karena dia bahkan tidak memahami kondisi Omeganya sendiri. Namjoon bahkan tidak tahu jika Seokjin sedang sakit dan ini benar-benar menghancurkan Namjoon. Dia mengusap matanya kemudian berdiri, "Aku titip Seokjin, aku harus pergi sebentar." ujarnya kemudian dia melesat keluar dari rumah, meninggalkan Eleanor yang masih duduk di sofa dan menghela napas pelan.
.
.
.
Namjoon memacu kendaraannya menuju rumah sakit yang tertera di amplop, dia harus menemui psikiater Seokjin secepatnya dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Seokjin. Namjoon menghubungi psikiater Seokjin saat dia baru akan mengemudi ke sana dan untungnya psikiater Seokjin bersedia ditemui secepatnya.
Namjoon sama sekali tidak mempedulikan apapun, dia memacu kendaraannya secepat yang dia bisa menuju rumah sakit dan setelahnya melesat menuju ruangan dokter yang menangani Seokjin, dia menunggu hingga pasien yang berada di dalam ruangan keluar dan setelahnya salah satu perawat mengizinkan Namjoon masuk ke dalam untuk bertemu dengan dokter itu.
Ketika Namjoon membuka pintu, dia langsung disambut seorang pria Beta dengan rambut berwarna coklat muda dan mata biru yang duduk di balik meja. Pria itu tersenyum dan berdiri seraya mengulurkan tangannya pada Namjoon, "Hallo, aku Edward, anda pasti Namjoon?"
Namjoon mengangguk dan menyambut jabat tangan dokter itu, Edward mempersilahkan Namjoon untuk duduk dan setelahnya dia meraih map di atas meja dan membukanya. Namjoon duduk diam di kursinya dan menarik napas dalam sebelum bertanya satu hal yang sangat ingin dia tanyakan, "Sejak kapan Seokjin dalam perawatan anda?"
Edward mengangkat kepalanya untuk menatap Namjoon, "Pasien Seokjin Kim pertama kali datang ke sini kurang lebih tujuh bulan lalu dengan diagnosa stress, dia melewati beberapa sesi konsultasi sampai kemudian aku merasa dia membutuhkan bantuan Alphanya untuk sembuh, tapi sayangnya, anda tidak pernah datang."
Namjoon menjilat bibirnya, "Ya, dia tidak pernah memberitahuku soal kondisinya."
Edward tersenyum tenang, "Nah, kurasa untuk yang satu ini aku tidak berhak mengatakan apapun lebih jauh, bukan?" dia kembali memeriksa berkas di mejanya, "Seokjin mengalami stress berat karena dia dalam kondisi fertilitas yang kurang baik."
"Maaf, apa?"
Edward tersenyum maklum saat Namjoon terlihat benar-benar clueless, setelah cukup lama menangani Seokjin, dia bisa menduga bahwa pasiennya yang satu itu menyembunyikan semuanya dari Alphanya. Bahkan Seokjin selalu tidak mau menjawab dalam sesi konsultasi ketika Edward mulai menyinggung soal pendapat Namjoon terkait kondisinya.
"Seokjin melakukan pemeriksaan ke bagian ginekologi rumah sakit ini kurang lebih dua bulan sebelum dia dirujuk ke bagian psikiatri untuk mengatasi tekanan pada psikisnya." Edward menjalin tangannya di atas meja dan menatap Namjoon serius, "Alasan kenapa Seokjin dirujuk ke bagian psikiatri adalah karena dia meminta pada bagian ginekologi untuk melakukan steril pada dirinya, Seokjin.. tidak ingin memiliki bayi. Namun keputusan ini bertentangan dengan keinginan alamiah tiap Omega untuk memiliki anak dan ini memberikan gejolak batin yang sangat serius untuk Seokjin, setelah menjalani dua sesi konsultasi bersamaku, aku menyimpulkan Seokjin dalam kondisi mudah histeris, gangguan tidur, dan juga gangguan makan, berat badannya turun cukup banyak dari rekam medisnya yang terakhir di rumah sakit ini."
Namjoon memucat, dia bisa merasakan tangannya berubah menjadi dingin dengan keringat dingin yang membasahi tangan dan juga wajahnya. "Lalu?" bisik Namjoon serak.
"Tentunya pihak rumah sakit menolak permintaan steril dari Seokjin karena kami melihat keputusan itu memberikan stress dan tekanan yang berlebih pada Seokjin. Setelah dia dirujuk ke bagian psikiatri dan menjadi pasienku, aku melakukan banyak sesi konsultasi dan memutuskan untuk memberikan obat penenang dengan dosis paling rendah untuknya, karena aku tidak bisa memberikan sembarang obat pada Omega tanpa persetujuan Alphanya." Edward tersenyum sendu, "Tapi sayangnya kondisi Seokjin yang dalam tekanan membuat kondisi fertilitas dirinya menurun drastis."
Namjoon gemetar di kursinya, mendengar separah apa kondisi Seokjin selama ini benar-benar membuat Namjoon ingin melompat dari atas gedung dan menghancurkan kepalanya. Dia benar-benar tidak menyangka Seokjin berhasil menyembunyikan ini dengan begitu sempurna darinya.
"Efek dari kondisi ini adalah heat Seokjin yang tidak lagi teratur setiap bulannya, Seokjin hampir tidak pernah mendapat heat dalam enam bulan sejak dia diperiksa oleh rumah sakit kami." Edward melirik Namjoon hati-hati, "Kuasumsikan anda tidak menyadari itu, Tuan Namjoon?"
Namjoon menggigit bibirnya kuat-kuat dan mengangguk, dia baru menyadari betapa sibuk dirinya hingga tidak lagi memperhatikan siklus heat Seokjin yang biasanya selalu ada di tiap bulannya. Sejak satu tahun terakhir ini, Namjoon semakin terkenal dan dia benar-benar mencurahkan seluruh perhatiannya untuk pekerjaannya, Namjoon melupakan Seokjinnya, Namjoon melupakan Omeganya yang jelas membutuhkan perhatian dan cinta darinya.
Edward menghela napas pelan, "Anda terlihat terguncang, apa anda yakin ingin meneruskan pembahasan ini?"
Namjoon menarik napas dalam dan mengangguk, "Aku.. baik-baik saja."
Edward mengangguk paham, "Seokjin menceritakan alasan di balik kondisinya dalam salah satu konsultasi kami dan dia mengatakan bahwa setahun lalu Seokjin menginginkan seorang anak karena dia kesepian selama anda pergi bekerja, namun anda tidak memperhatikan keinginan itu dan kemudian waktu berlalu, Seokjin melihat anda semakin sibuk dan merasa memiliki anak bukanlah waktu yang tepat karena anda benar-benar sibuk dan tidak memiliki waktu untuknya." Edward melirik Namjoon untuk memperhatikan reaksinya karena jika Namjoon terlalu terguncang, itu jelas tidak bagus. "Seokjin tahu dia tidak boleh mengandung, dia terlalu takut akan mengganggu waktu kerja anda dan ketakutan itu memberikan tekanan serta ilusi bahwa anda mungkin akan meninggalkannya jika Seokjin mengandung. Oleh karena itu akhirnya Seokjin memutuskan untuk datang ke rumah sakit dan benar-benar memutus kemungkinannya untuk mengandung."
Namjoon kehabisan kata-kata, dia memang sibuk, tapi dia tidak tahu kesibukannya ternyata menimbulkan efek yang begitu besar pada Seokjin. Seokjin selalu menyambut Namjoon dengan senyumannya dan Namjoon tidak tahu bahwa di balik semua senyuman itu, Seokjin benar-benar hancur dan sangat membutuhkan pertolongan.
"Saya sangat berterima kasih anda bersedia datang untuk menemui saya, saya asumsikan Seokjin sudah membuka dirinya pada anda. Anda bisa datang bersama Seokjin untuk sesi konsultasinya dua hari lagi."
Namjoon menggeleng pelan, "Seokjin tidak akan datang."
Edward mengerutkan dahinya, "Ada masalah?"
Namjoon menarik napas dalam, "Seokjin mengalami kecelakaan, dia dirawat di rumah sakit lain selama dua minggu dan baru kembali hari ini, karena kecelakaan itu dia kehilangan sebagian ingatannya, menurut dokter dia melupakan satu setengah tahun hidupnya belakangan ini."
Edward tertegun, kemudian dia menatap Namjoon dalam-dalam, "Seharusnya saya tidak diperkenankan untuk menyarankan ini, tapi dengan kondisi Seokjin yang kehilangan ingatannya, itu berarti dia melupakan semua tekanan yang dihadapinya, saya tahu sebaiknya saya tidak ikut campur dalam hubungan kalian, namun saran saya adalah, anda harus membuat Seokjin yakin bahwa anda menyayanginya dan jika kemungkinan ingatan Seokjin kembali, mari berharap dia tidak akan terlalu terguncang."
Namjoon mengangguk pelan, "Aku tahu, aku akan berusaha semaksimal mungkin."
.
.
.
Seokjin duduk diam di hadapan Namjoon yang sedang mengganti perban di kepalanya, gips di tangan Seokjin memang belum boleh dilepas, tapi perban yang ada di kepalanya harus diganti setiap hari setelah dia mandi dan biasanya Namjoon akan mengganti perbannya sebelum dia berangkat kerja dan sebelum Seokjin tidur.
Seokjin memiringkan kepalanya seraya menatap Alphanya yang mengganti perbannya dengan raut wajah begitu serius, Seokjin memperhatikan tiap detail wajah Namjoon dan menemukan lingkaran hitam di bawah mata Namjoon dan juga bibirnya yang agak pucat. "Namjoon, kau baik-baik saja?"
"Ya, aku baik. Kenapa?"
Seokjin mengulurkan tangannya dan menyentuh bagian bawah mata Namjoon, "Ada lingkaran hitam di bawah matamu, kau juga agak pucat. Ada apa?"
Namjoon terdiam, dia tidak bisa tidur semalam dan menghabiskan waktunya untuk menatap Seokjin dan membisikkan permintaan maaf pada Seokjin yang tertidur di sebelahnya. Namjoon tidak bisa membayangkan jika Seokjin pergi setelah perceraian mereka dengan kondisi terluka begitu parah karena Namjoon. Namjoon mungkin akan membunuh dirinya sendiri di depan Seokjin untuk menebus rasa bersalah itu.
Tangan Namjoon menangkap tangan Seokjin yang masih mengelus bagian bawah matanya dan menurunkannya, "Aku baik-baik saja, hanya lelah."
Dahi Seokjin berkerut, "Apa pemutaran perdana filmnya begitu membosankan sampai kau selelah itu?" tanyanya polos karena dia hanya tahu Alphanya pergi untuk menghadiri pemutaran perdana film kemarin dan setelah itu langsung pulang ke rumah.
Namjoon tersenyum, Seokjinnya yang lucu kembali dan Namjoon merasa sangat bodoh karena dia mengorbankan waktunya untuk pekerjaannya daripada untuk Seokjin. Untungnya nasib masih berpihak padanya dan memberikan kesempatan kedua pada Namjoon untuk memperbaiki dirinya, entah apa yang akan terjadi ke depannya, tapi Namjoon sudah merasa bersyukur dia bisa memperbaiki dirinya dan menebus sedikit kesalahannya pada Seokjin.
Jika memang nantinya Seokjin akan meninggalkannya, Namjoon tidak keberatan. Namjoon tidak mau menambah penderitaan yang lebih panjang pada Seokjin. Kebahagiaan Seokjin adalah yang utama, Namjoon tidak peduli apa yang akan terjadi padanya jika Seokjin pergi, tapi selama Seokjin merasa bahagia, maka Namjoon tidak akan keberatan.
"Seokjin,"
"Ya?"
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Namjoon tersenyum, "Kau tahu itu, kan?"
Seokjin tersenyum lebar, "Tentu saja aku tahu. Aku juga mencintaimu kok." Seokjin tertawa pelan, kemudian dia kembali menatap Namjoon. "Oh, aku baru sadar, kenapa kau tidak memanggilku 'Jinseok' lagi? Kau kan selalu memanggilku dengan nama panggilan itu."
Namjoon terdiam, dia tidak lagi memanggil Seokjin dengan 'Jinseok' sejak lama, Namjoon bahkan lupa kapan terakhir kalinya dia menghabiskan waktunya untuk mengobrol hal-hal remeh seperti ini dengan Seokjin.
"Joon?" panggil Seokjin karena lagi-lagi dia melihat Namjoon melamun.
Namjoon menggeleng pelan kemudian bergerak maju untuk mengecup dahi Seokjin, "Baiklah, Jinseok." Namjoon menjauhkan wajahnya, "Aku harus pergi bekerja, jika kau butuh sesuatu, bilang pada Eleanor. Aku juga sudah memintanya untuk menyiapkan obatmu setelah makan nanti, jangan lupa meminum obatmu."
Seokjin mengangguk patuh.
Namjoon tersenyum, tangannya bergerak mengusap kepala Seokjin. "Aku pergi dulu, sampai ketemu malam nanti, Jinseok. I love you." Namjoon memberikan kecupan singkat di pipi Seokjin kemudian berdiri, dia memanggil Eleanor untuk membereskan peralatan yang digunakannya untuk mengganti perban Seokjin. Seokjin memperhatikan Namjoon yang berbalik sekali lagi untuk tersenyum pada Seokjin kemudian keluar dari rumah mereka.
Seokjin menghela napas pelan, dia tidak tahu apa yang salah, tapi Seokjin merasa ada yang hilang dan salah dari hubungan mereka. Namjoon memang bersikap baik padanya, Namjoon tetap menjadi Namjoonnya yang biasa, namun entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal dalam hati Seokjin dan ini benar-benar membuatnya bingung.
Seokjin yakin ada sesuatu yang terjadi dalam hubungan mereka dalam ingatan yang Seokjin lupakan.
Akan tetapi Seokjin tidak bisa mengingatnya.
Dia tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka selama satu setengah tahun yang dia lupakan. Namun Seokjin jelas melihat bahwa Namjoon tidak ingin membahas ini, selain itu sikap Taehyung yang begitu ketus pada Namjoon juga membuat Seokjin bertanya-tanya.
Seokjin tahu sejak awal Taehyung memang sangat protektif padanya, namun sejak Seokjin menikah dengan Namjoon, Taehyung terlihat mulai bisa menerima Namjoon. Dia memang pindah ke New York dan memusatkan pekerjaannya sebagai photographer di sini agar selalu berada dekat dengan Seokjin, tapi seingat Seokjin, hubungan Taehyung dan Namjoon tidak seburuk itu hingga Taehyung terlihat seperti dia ingin menghajar Namjoon di detik mata mereka bertatapan.
Helaan napas pelan kembali keluar dari sela bibir Seokjin, dia ingin tahu apa yang dia lupakan, tapi ada juga bagian dari dirinya yang takut dengan ingatan yang dia lupakan.
Bagaimana jika itu adalah sesuatu yang buruk?
Seokjin menggeleng pelan untuk menghilangkan ketakutan itu, dokternya memperingatkan agar Seokjin tidak terlalu banyak memikirkan hal-hal yang akan membebani pikirannya, beban pikiran terlalu banyak hanya akan memperlambat proses penyembuhan Seokjin dan Seokjin benar-benar tidak mau itu terjadi.
Eleanor membuatkan sarapan untuk Seokjin seperti biasa dan juga menyiapkan obat untuk Seokjin. Kecakapan dan kesigapan Eleanor benar-benar patut diberikan pujian karena Seokjin bahkan hampir tidak melakukan apapun di dalam rumah karena semuanya sudah dilakukan oleh Eleanor.
Seokjin melangkah masuk menuju ruang kerjanya, dia benar-benar bosan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan maka Seokjin memutuskan untuk memeriksa sejauh apa websitenya berkembang dan sejauh apa resep yang telah dia buat. Seokjin menyalakan laptop di mejanya dan tertegun saat melihat password yang harus dimasukkan.
'Sejak kapan aku memakai password untuk barang-barangku?' batin Seokjin. Dia dan Namjoon sepakat untuk tidak menyimpan rahasia dan biasanya dia dan Namjoon bahkan tidak sungkan mengangkat panggilan telepon dari orang lain dari ponsel satu sama lain.
Seokjin tidak pernah memasang password di perangkat elektronik apapun miliknya lantas kenapa laptopnya dilindungi password? Seokjin membuka laci-laci meja karena mungkin saja dia menulis passwordnya di suatu tempat. Namun karena satu tangan Seokjin digips, pergerakannya pun menjadi sangat terbatas karena Seokjin harus berhati-hati agar tidak mengenai tangannya yang masih cedera.
Tangan Seokjin merogoh hingga jauh ke dalam, dia terbiasa menyimpan catatan penting di bagian yang tidak terlihat sekilas dan Seokjin berharap dia bisa menemukan catatan harian atau apapun lainnya yang kemungkinan menyimpan password laptopnya.
Namun ketika Seokjin merogoh ke bagian dalam salah satu laci, tangannya justru menemukan kemasan plastik. Dahi Seokjin berkerut dan dia menarik benda yang dipegangnya itu, ketika akhirnya dia berhasil mengeluarkannya, Seokjin melihat tiga bungkus plastic clip berisi obat dengan namanya tertera di label tiap kemasan plastik tersebut.
"Aku sedang sakit? Tapi kenapa obatnya disimpan di tempat seperti ini?"
Seokjin memeriksa obat-obat itu namun tidak ada satupun yang dia kenali, itu bukan pil kontrasepsi yang dia konsumsi ataupun vitamin seperti yang biasa dia minum. Pil kontrasepsi dan vitamin Seokjin selalu disimpan dalam kabinet dapur dan Eleanor memang memberikannya itu pagi tadi setelah sarapan bersama dengan obat untuk penyembuhannya.
Jika ini bukan vitamin ataupun obat-obatan umum yang biasa dia konsumsi, maka obat apa ini?
Seokjin menegakkan tubuhnya dan matanya tidak sengaja tertuju pada layar laptopnya yang masih menayangkan kolom password. Seokjin tidak bisa mencari obat apa ini di internet karena laptopnya terkunci, dia bisa mencarinya di ponsel tapi Seokjin tidak melihat ponselnya dimanapun sejak dia tersadar.
Seokjin tidak tahu apakah ponselnya rusak atau memang Namjoon yang menyimpannya, tapi Seokjin yakin Namjoon pasti tahu apa yang terjadi pada ponselnya. Seokjin berjalan keluar dari ruang kerjanya setelah sebelumnya mengembalikan obat-obatan yang dia temukan kembali ke tempat asalnya, Seokjin memanggil Eleanor dan tak lama kemudian wanita itu muncul dengan raut agak khawatir.
"Ada masalah, Tuan?"
Seokjin menggeleng, "Kau punya nomor ponsel Namjoon, kan? Aku ingin meneleponnya."
Eleanor mengerutkan dahinya, "Ada sesuatu yang salah, Tuan?"
Seokjin tersenyum, "Aku ingin menanyakan dimana ponselku." Seokjin agak bingung karena Eleanor terkesan 'takut' ketika dia akan menghubungi Namjoon namun Seokjin menganggap Eleanor takut Seokjin akan melaporkan hal-hal tertentu seperti kelalaian atau masalah kinerja Eleanor.
"Jangan khawatir, Eleanor. Kerjamu bagus sekali dan aku tidak akan melaporkan hal yang tidak-tidak terkait dirimu pada Namjoon." Seokjin tertawa kecil, "Aku hanya menginginkan ponselku karena aku ingin menghubungi adikku. Aku belum menjelaskan kalau sekarang aku sudah kembali di rumah dan kondisiku semakin membaik."
Eleanor terlihat lega, "Baiklah, Tuan Seokjin." Eleanor berjalan menuju ruang tengah dan mengambil wireless phone dari sana kemudian memeriksa nomor ponsel Namjoon di ponselnya sendiri lalu menyambungkannya, setelah memastikan hubungan itu tersambung, dia memberikan pesawat telepon pada Seokjin.
Seokjin mengucapkan terima kasih kemudian dia menunggu sampai Namjoon menjawab teleponnya, Seokjin tidak tahu apakah Namjoon sedang memegang ponselnya atau tidak, tapi biasanya jika Seokjin menelepon dan Namjoon sedang sibuk, manajer Namjoon akan menjawab teleponnya. Manajer Namjoon adalah seseorang yang sudah bersama Namjoon sejak dia baru debut sebagai model hingga sekarang saat Namjoon sudah pindah ke New York.
"Hallo?"
Itu bukan suara Namjoon namun Seokjin mengenali suara itu sebagai suara manajer Namjoon. "Yoongi?"
"Seokjin? Kau sudah sembuh?"
Seokjin tersenyum, "Aku sudah membaik, aku akan check up minggu depan. Ah, dimana Namjoon?"
"Namjoon sedang melakukan pemotretan, dia menitipkan ponselnya padaku seperti biasa dan menitip pesan untuk mengangkat telepon hanya dari rumah dan juga Eleanor, dia asisten rumah tangga kalian, kan?"
"Ah, iya itu benar. Hmm, sebenarnya aku ingin bicara dengan Namjoon."
"Ada masalah?"
"Ya, aku ingin menanyakan dimana ponselku. Aku tidak pernah melihat benda itu, aku membutuhkannya." Seokjin mengulum bibirnya, "Tapi karena Namjoon sedang bekerja, bisa aku menitip pesan untuk menanyakan soal ponselku padanya, Yoongi?"
"Ah ya, tentu saja."
"Baiklah, tolong katakan padanya untuk meneleponku nanti ya."
Seokjin memutus sambungan telepon itu kemudian dia terdiam, apakah ini hanya prasangkanya saja atau Yoongi terdengar berbeda? Seokjin tahu Yoongi memang tidak suka bicara banyak dan biasanya dia hanya akan diam dan bekerja, tapi baru kali ini Seokjin merasa dia mendengar getaran ragu dalam suara Yoongi yang biasanya datar dan tegas.
Apakah ada sesuatu yang terjadi?
Seokjin menarik napas dalam, dia semakin yakin ada banyak hal yang terjadi dan dia lupakan. Namun Seokjin tidak bisa bertanya pada Namjoon, Namjoon selalu mengatakan agar Seokjin tidak memikirkan apa yang dia lupakan karena itu akan menghambat penyembuhan Seokjin, Eleanor jelas bukan seseorang yang tepat untuk ditanyai masalah ini karena dia bahkan baru mulai bekerja bersama mereka, Seokjin tidak tahu apakah dia memiliki teman dekat yang dia lupakan karena kecelakaan ini, kemungkinan terakhir untuk bertanya hanya pada Taehyung namun dia butuh ponselnya untuk itu.
Seokjin menghela napas, dia harap semuanya baik-baik saja dalam kehidupannya belakangan ini.
.
.
.
Namjoon berjalan menghampiri Yoongi setelah sesi pemotretannya selesai dan saat ini para crew sedang mempersiapkan set baru untuk foto selanjutnya. Yoongi memberikannya sebotol air dan Namjoon meneguknya perlahan.
"Tadi Seokjin menelepon."
Gerakan Namjoon meneguk airnya langsung terhenti. "Lalu?"
"Dia menanyakan ponselnya. Apa kau sudah memperbaiki ponselnya?"
Namjoon mengangguk, "Ponselnya sudah selesai diperbaiki sejak sehari sebelum dia terbangun." Namjoon terdiam sebentar, "Aku menyimpannya."
Yoongi menghela napas pelan, sebagai sesama Alpha, bisa dibilang dia sedikit banyak mengerti masalah Namjoon, tapi Yoongi belum memiliki Omega makanya dia tidak berani memberi saran terlalu banyak pada Namjoon. Namun dia tahu Namjoon merasa sangat tertekan karena kenyataan baru yang dia terima soal kondisi psikis Seokjin yang selama ini disembunyikan darinya.
"Apa yang kau temukan di ponselnya?" tanya Yoongi hati-hati.
"Email dari dokternya, Seokjin sering menceritakan kondisinya melalui email. Kurasa ini salah satu metode untuk mengatasi emosi Seokjin yang tidak stabil saat dia sendirian. Kurasa email itu juga banyak di laptop Seokjin, laptopnya dikunci jadi aku bahkan tidak bisa memeriksanya." Namjoon tersenyum miris, "Aku menemukan email yang berisi cerita Seokjin soal ketakutannya padaku, Seokjin bilang aku baru pulang dari salah satu pekerjaan besarku dan Seokjin sangat takut dia mengangguku."
Namjoon tersenyum miris, "Omegaku takut dia akan menganggu waktu istirahatku, dan bodohnya aku tidak sadar dia ketakutan akan itu, ketika pulang, aku memang merasa lelah dan hanya ingin tidur, tapi aku bersumpah demi apapun yang kumiliki, aku tidak pernah marah jika Seokjin mengajakku untuk mengobrol, aku pikir dia mungkin sibuk dengan pekerjaannya dan dia juga lelah maka aku tidak mengajaknya bicara agar dia bisa beristirahat."
"Kalian benar-benar mengalami masalah miskomunikasi yang parah."
Namjoon tersenyum sedih, "Benar, dulu aku merasa sangat percaya diri kalau aku mengenal Seokjin luar dalam, namun sekarang, aku bahkan ragu apakah Seokjin masih menganggapku sebagai Alphanya atau tidak."
"Namjoon.."
"Kurasa aku memang gagal sebagai Alphanya, tapi aku bersumpah aku tetap mencintai Seokjin, bahkan di antara semua yang sudah terjadi, dan aku mulai berpikiran untuk membiarkannya pergi, aku tetap yakin aku akan terus mencintainya walaupun dia pergi." Namjoon menggeleng pelan, "Tidak akan ada yang bisa menggantikan Seokjin."
Yoongi melangkah maju dan menepuk bahu Namjoon, "Tenang saja, aku yakin kau dan Seokjin akan baik-baik saja." Yoongi menghela napas, dia tahu selama ini Namjoon memang dikenal sebagai seseorang yang sangat berdedikasi pada pekerjaannya, namun Yoongi juga tahu di semua kesibukan itu Namjoon tidak pernah tidak memikirkan Seokjin, dia selalu memikirkan Seokjin, Yoongi adalah saksi ketika Namjoon mengeluh soal pekerjaannya yang banyak dan membuatnya tidak bisa bertemu Seokjin.
Tangan Yoongi masih aktif menepuk-nepuk bahu Namjoon kemudian dia tertegun saat melihat seseorang yang berjalan melintasi ruangan untuk menghampiri fotografer karena sesi fotonya akan dimulai. "Apa kau sudah berbicara dengan Jungkook mengenai hari itu?"
Namjoon mengangkat kepalanya dan melihat Jungkook yang sedang berdiri di depan kamera dan bersiap-siap. "Aku sudah mengatakan padanya untuk melupakan itu, dia sedang heat dan aku mengerti dia pasti merasa tidak nyaman, lagipula kami tidak sampai melakukan itu, aku hanya membantunya dengan tanganku."
Yoongi menghela napas pelan, "Saat itu benar-benar kacau, dia adalah satu-satunya Omega dalam ruangan dan dia mengalami heat, dan saat itu hanya kau Alpha yang sudah memiliki Omega dan tidak terganggu dengan aroma Omega lain saat heat. Tapi sayangnya rumor yang tersebar justru kau dan dia yang kemungkinan berkencan padahal kau sudah memiliki Omega."
Namjoon tersenyum tipis, "Karena memang pada dasarnya jarang sekali ada Alpha yang benar-benar bisa menahan diri dari Omega yang sedang heat, tidak peduli apakah dia sudah memiliki Omega atau tidak."
Yoongi mendecih, "Jadi maksudmu kau ingin mengatakan kalau kau adalah Alpha dengan derajat tinggi yang masuk dalam golongan langka itu?"
Namjoon tertawa keras, "Padahal aku bermaksud untuk mengatakan bahwa aku sudah terlalu mencintai Seokjin hingga aku tidak akan tergoda pada heat Omega lain."
Yoongi mendecih lagi kemudian dia mengalihkan pandangannya menatap Jungkook yang sedang berpose di depan kamera. Jungkook Jeon adalah Omega yang berasal dari Korea Selatan dan dia adalah seorang model, hari itu dia dan Namjoon sedang melakukan pemotretan bersama ketika tiba-tiba saja dia mengalami heat.
Seisi ruangan panik, para Beta yang kebanyakan wanita berusaha menutupi Jungkook namun para Alpha yang berada di ruangan jelas akan lepas kendali jika mencium aroma Omega yang sedang heat dan para Beta jelas bukan tandingan Alpha, terlebih lagi mereka wanita. Kala itu, Namjoon adalah satu-satunya Alpha yang tidak terpengaruh aroma heat Jungkook sehingga dia membawa Jungkook ke dalam toilet dan mengunci pintunya rapat-rapat dari dalam.
Yoongi tidak bisa banyak membantu saat itu karena dia sendiri adalah Alpha tanpa Omega yang jelas akan terpengaruh heat Jungkook. Oleh karena itu dia membiarkan Namjoon membawa Jungkook untuk bersembunyi di toilet dengan para Beta yang membantu menutup pintu toilet dari luar. Namjoon dan Jungkook berada di sana selama beberapa jam sampai akhirnya Namjoon keluar dengan Jungkook yang tidak sadarkan diri dalam gendongannya.
Namjoon menyerahkan Jungkook kembali ke manajernya yang seorang Beta dan mengatakan bahwa dia sudah membantu Jungkook untuk mengatasi serangan heatnya tadi dan itu membuatnya tidak sadarkan diri. Namjoon meminta manajer Jungkook untuk membawa Omega itu pulang dan memastikan rumah Jungkook aman dari Alpha sampai heatnya selesai.
Namun sayangnya tindakan itu justru membuahkan sebuah kesalah pahaman besar, Namjoon keluar dari toilet dengan kondisi sedikit berantakan dan aroma Jungkook yang membungkus tubuhnya, kemudian Jungkook sendiri sampai kehilangan kesadaran. Semua orang menduga Namjoon meniduri Jungkook dan ada kemungkinan mereka berdua diam-diam berkencan karena Namjoon dan Jungkook memang terlihat dekat sejak awal. Padahal sesungguhnya Namjoon mendekati Jungkook karena dia merasa kasihan pada Omega yang lebih muda darinya itu, bekerja dalam dunia entertainment jelas sangat berat untuk seorang Omega muda seperti Jungkook.
Rumor meluas hingga diberitakan oleh media dan publik sendiri menganggap tidak mungkin seorang Alpha membantu seorang Omega yang sedang heat tanpa melakukan hal lebih. Biarpun leher Jungkook bersih tanpa gigitan klaim Namjoon, semua orang menduga Namjoon dan Jungkook sudah melakukan seks saat Jungkook heat kala itu.
Berita itu sendiri terdengar hingga ke telinga Seokjin dan Seokjin histeris. Namjoon menganggap kemurkaan Seokjin kala itu adalah karena dia sendiri sudah sangat jarang tidur dengan Seokjin karena pekerjaannya dan Seokjin yang terlihat pendiam hingga Namjoon tidak berani menghampirinya. Namjoon mencoba menjelaskan namun kemarahan Seokjin sudah begitu nyata hingga akhirnya Seokjin mengatakan bahwa dia akan berpisah dengan Namjoon.
Kalimat perpisahan itu menimbulkan reaksi kemarahan dari Namjoon yang berujung dengan Namjoon mengamuk pada Seokjin. Seokjin mengalami luka di pelipisnya karena Namjoon mendorongnya hingga membentur meja di rumah mereka, hal itu membuat Seokjin semakin hancur dan Namjoon merasa menyesal. Namjoon mencoba untuk minta maaf pada Seokjin namun Seokjin pergi dari rumah mereka dan menginap di rumah Taehyung.
Namjoon gagal mengatakan permintaan maafnya karena Taehyung sangat marah dan dia bahkan menghajar Namjoon atas perbuatannya pada Seokjin. Taehyung mendesak agar Namjoon segera menceraikan Seokjin, mereka mengurus perceraian mereka ke pengadilan namun pengadilan tidak segera mengabulkan gugatan itu karena pasangan Alpha dan Omega yang telah mating tidak seharusnya berpisah.
Seokjin dan Namjoon melewati masa mediasi bersama pihak pengadilan namun Seokjin tidak mengubah keputusannya. Seokjin tetap mempertahankan keinginannya ingin berpisah dari Namjoon hingga mediasi terakhir, dan ketika Seokjin ingin kembali mengajukan perceraiannya ke pengadilan, dia mengalami kecelakaan itu.
Ketika Namjoon tahu Seokjin hilang ingatan, hal pertama yang ingin dilakukan Namjoon adalah memperbaiki kesalahannya dan menjelaskan bahwa dia dan Jungkook tidak terlibat hubungan apapun. Namun dengan kenyataan baru yang dia terima, Namjoon rasa bukan itu satu-satunya hal yang harus dia perbaiki.
Hubungan mereka sudah terlalu rapuh dan bisa hancur kapan saja.
Namjoon tahu itu, dan dia tidak yakin dia bisa memperbaikinya sendiri.
To Be Continued
.
.
.
Masih tersisa satu part lagi hehehe
Nah, dah ketauan kan kenapa mereka mau cerai. Hahaha
Sampai ketemu di part terakhir!
