5,288words without A/N
.
.
.
Último Ano du Melodioso
Naruto © Masashi Kishimoto
mysticahime™
© 2010
.
.
.
-Don't Like Don't Read-
-Needs No Flames Here-
.
.
.
Season 1 : Primo
Chapter 2
Tiga orang remaja tengah berjalan beriringan menyusuri koridor yang dipadati anak-anak. Seorang gadis dan dua orang pemuda. Si gadis berambut bubble gum, mendekap buku tebal di dadanya. Salah seorang dari pemuda itu berambut kuncir seperti nanas, menyilangkan tangannya di belakang kepala. Sedangkan yang seorang lagi yang bertubuh besar tampak asyik merogoh-rogoh kantong plastik yang berada di tangan kirinya, wajahnya tampak kecewa.
"Yahhh... habis..." Chouji membalikkan kantong plastik yang merupakan bungkusan dari keripik singkong yang sedang dinikmatinya, mengguncang-guncangnya dengan harapan masih ada beberapa keping keripik yang tersisa, namun, nihil. Kantong itu telah kosong melompong, akibat dari kerakusannya beberapa puluh menit yang lalu. Hanya ada serpihan-serpihan kecil yang nyaris menyerupai bubuk jatuh ke lantai diiringi tatapan kecewa Chouji.
"Heiiii... jangan makan terus! Seharusnya kau memberiku semangat. Dua jam pelajaran lagi aku akan menghadapi audisi tahap dua iblis kembar itu!" gerutu gadis berambut pink itu, menggembungkan kedua pipinya diiringi desisan "Mendokusei" pelan dari pemuda berambut nanas yang berjalan mengapit gadis itu.
"Habisnya aku lapar..." jawab Chouji polos, mengerucutkan bibirnya sehingga wajah chubby-nya tampak seperti bayi.
"Kau ini..." Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya, rambut soft pink-nya yang digerai bebas melambai-lambai, bahkan sedikit menampar wajah Shikamaru tanpa disadari—membuat pemuda yang malas itu bersungut-sungut kesal. "... baru saja makan siang tiga porsi yakiniki satu jam yang lalu. Sekarang sudah kelaparan lagi... Ckck, aku tidak habis pikir..."
"Laki-laki itu makan lebih banyak, Sakura-chan!" Chouji membela dirinya sendiri, tidak mau disalahkan. "Coba saja kau tanyakan pada pasangan audisimu, si... si siapa ya?" Pemuda berambut coklat itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Uchiha Sasuke," potong Shikamaru cepat. "Si jenius dari kelas A."
Di Konoha High, kelas-kelas dibagi berdasarkan tingkat 'kelebihan' mereka. Berprestasi, kaya, dan rupawan; itulah stereotype para siswa yang berada di kelas A—kelas unggulan, sedangkan anak-anak yang biasa saja duduk di kelas B, C, dan seterusnya. Nara Shikamaru adalah pemuda yang juga jenius, namun ia menolak dengan tegas ketika diletakkan di jajaran siswa kelas A. Waktu itu Shikamaru bilang, "Che, aku bukan tipe orang yang akan belajar. Mendokusei...", dan setelah bernegosiasi dengan guru-guru, maka Shikamaru pun didudukkan di kelas B—sekelas dengan Sakura dan Chouji.
Dan Uchiha Sasuke adalah salah satu siswa di kelas A. Jenius, pandai bermain basket, kaya, dan rupawan. Hampir semua orang di Konoha High mengenal pemuda itu—terkecuali Sakura. Entah apa yang dilakukan gadis itu hingga ia ketinggalan info mengenai murid super yang adalah keturunan garis keluarga Uchiha—yang termasuk golongan darah biru. Setelah berkenalan dengan pemuda itu Jumat lalu, ia langsung mencari info tentang seorang Uchiha Sasuke yang menjadi pasangan audisinya itu.
"Benar, Sasuke—Oh!" Tiba-tiba gadis itu menepuk keningnya, seolah baru mengingat sesuatu yang penting. "Astaga, aku belum memberi tahu Sasuke mengenai lagu yang akan dipakai untuk audisi! Hmmm, teman-teman, aku duluan yaa..." Sakura melambaikan tangannya pada Chouji dan Shikamaru.
"Oke. Semangat ya, Sakura-chan! Semoga berhasil! Maaf kali ini tidak bisa menontonmu! Kami ada latihan karate!" Chouji balas melambai pada Sakura—yang dibalas gadis itu dengan anggukan pertanda mengerti. Kemudian gadis itu menghilang di antara kerumunan siswa-siswi Konoha High yang memadati lorong antar kelas.
"'Kami'?" Shikamaru mengangkat sebelah alisnya pada Chouji. "Aku kan tidak latihan karate..."
Yang tentu saja tidak dipedulikan oleh pemuda berbadan besar yang segera berlari menuju minimarket di sebelah kafetaria itu.
.
.
.
Menerobos kerumunan murid-murid yang berjejalan di koridor saat waktu pergantian pelajaran memang bukan pekerjaan mudah. Banyak sekali murid-murid Konoha High yang masih bercokol di depan loker masing-masing, bersenda gurau dan cekakak-cekikik bergosip ria dengan teman-temannya. Masuk ke kelas selanjutnya selambat mungkin memang menjadi tujuan nomor satu para siswa pada umumnya. Tujuan nomor duanya adalah jelalatan meliriki pujaan hati yang kebetulan lewat atau juga berdiri di sekitar sana.
Sakura bersungut-sungut saat mencoba menerobos kerumunan padat itu. Kenapa sih, mereka semua tidak langsung masuk kelas dan duduk manis menunggu bel dibunyikan? pikirnya sebal. Kalau seperti ini kan, orang-orang yang sedang dalam keadaan gawat darurat bisa terhambat!
Gadis itu sedikit mendesak maju kerumunan yang diyakininya sebagai kerumunan Karin-senpai, gerombolan anak-anak cheers yang populer dan mengandalkan tebalnya dompet serta kecemerlangan wajah dan lekuk tubuh—walaupun ada juga sebagian kecil di antara mereka yang mengandalkan isi otak, yeah, sebagian kecil—dan langsung mendapatkan cibiran sinis dari anak-anak kelas dua. Bahkan, Sakura pun mendapatkan tatapan menantang dari sang ratu panggung itu.
"Yang sopan sedikit yaaaaa sama kakak kelas," desis gadis berambut merah itu saat Sakura berhasil lewat, membuat telinga Sakura terasa panas.
Menerobos kerumunan adalah nightmare, tetapi mencari seorang Uchiha Sasuke adalah hell. Sudah mendapatkan bendera perang berkibar dari saingannya di audisi tahap dua nanti, Sakura pun kesulitan menemukan pemuda yang membangkitkan semangatnya saat audisi tahap satu kemarin. Memang, mencari pangeran sekolah—sebutan Sasuke yang dibuat oleh para penggemarnya—memang susah-susah gampang. Dan hal yang tersulit dari mencari Sasuke adalah menembus barikade penggemarnya di tepi lapangan basket. Saat itu, pemuda berambut raven itu tengah bertanding 1 on 1 melawan seorang anak kelas dua—pemuda berambut coklat panjang sepunggung.
Pekikan yang menyatakan dukungan dan tatapan memuja—setengah dari gerombolan fangirls Sasuke dan setengah lagi dari gerombolan fangirls pemuda berambut coklat itu—bergemuruh di sekitar Sakura, membuat gadis itu menutup telinganya rapat-rapat untuk mencegah dirinya dari ketulian mendadak. Pekikan itu baru mereda setelah pertandingan 1 on 1 itu selesai—dimenangkan oleh Sasuke dengan kemenangan tipis, tiga poin akibat three-point-shoot-nya di detik-detik terakhir. Anak kelas dua itu cukup hebat. Kalau tidak salah, pemuda itu adalah wakil kapten tim basket di Konoha High. Ya, basket adalah hal kedua yang paling fenomenal di Konoha High setelah pagelaran musikal.
Susah payah, Sakura menerobos barikade itu—kebanyakan tidak mau memberikan jalan—dan setelah memakan waktu sekian menit, akhirnya gadis berambut cherry itu berhasil menuju tempat Sasuke duduk di tepi lapangan—lagi-lagi dikelilingi oleh para pemujanya.
"Siapa, tuh?" Seorang gadis berambut oranye menggumam sinis.
"Buat apa ia mendekati Sasuke-kun?"
"Jelek begitu! Pasti Sasuke tidak akan naksir dia!"
Telinga Sakura sampai panas saat mendengar kasak-kusuk para penggemar Sasuke yang mendapati dirinya tengah berdiri dalam radius kurang dari dua meter dari pemuda itu. Kalau saja ia tidak ingat 'misi'nya untuk memberitahu Sasuke mengenai rancangannya untuk audisi tahap dua nanti siang, pasti gadis berambut sebahu itu sudah mencak-mencak tidak keruan pada fangirls Uchiha Sasuke yang sok cantik itu.
"Hei," sapa Sakura saat beberapa fangirls Sasuke mulai menyingkir dari sekeliling pemuda itu.
Sasuke mengangkat wajahnya yang bersimbah keringat. Kelihatan sekali bahwa ia cukup capek setelah melawan anak kelas dua berambut coklat panjang itu. Kakak kelas mereka itu adalah salah satu atlet andalan sekolah, bahkan merupakan salah satu kandidat terkuat untuk mendapatkan gelar MVP di kota tempat mereka tinggal.
"Hn," balasnya singkat sembari mengelap wajahnya yang mengilat basah dengan selembar handuk berwarna putih. Sakura diam dan mengamati pemuda itu selama beberapa saat, menunggu pemuda itu selesai mengeringkan dirinya. Setelah Sasuke meletakkan handuknya ke dalam tas sport biru tua miliknya, barulah Sakura mengeluarkan suara.
"Kuharap kau tidak lupa mengenai audisi tahap dua yang akan diselenggarakan nanti siang." Sakura mencoba tersenyum, namun kegugupan akan audisi nanti siang masih terlukis jelas di wajahnya.
Sasuke duduk dengan kedua tangan di antara lututnya. "Tidak, aku tidak lupa."
"Syukurlah!" Gadis itu bertepuk tangan diiringi desisan marah bercampur iri dari para fangirls Sasuke yang masih tersisa di tribun atas lapangan. "By the way, aku mau memberitahumu mengenai lagu yang akan kita pakai di audisi nanti."
Dan mata onyx Sasuke langsung membulat. "Lagu? Maksudmu... kita harus menyanyi?"
"Tentu saja," jawab Sakura cepat. "Drama musikal adalah kombinasi dari alur cerita, musik, nyanyian, dan tarian. Dan aku mencalonkan diri menjadi pemeran utama—yang berarti kau juga mencalonkan diri menjadi pemeran utama. Seorang pemeran utama dalam drama musikal harus menguasai keempat elemen itu."
"Tahu begitu, aku tidak mengiyakan ajakanmu kemarin," gerutu Sasuke yang membuat Sakura langsung melotot.
"Hei, Sasuke-kuuuunn~ kau kan sudah berjanji untuk mengikuti audisi ini sampai kita tersisih." Sakura menggembungkan pipinya.
"Kalau begitu—"
"Jangan bilang bahwa kau akan sengaja membuat kita berdua tersisih nanti siang," sambar Sakura cepat. "Kalau seandainya kau melakukan itu, aku jamin aku akan membencimu seumur hidupku!"
"Terserah." Sasuke mengangkat bahu. "Kau bukan siapa-siapaku. Hn, jadi kita akan menyanyikan lagu apa?"
Ekspresi wajah Sakura yang tadi hampir mengerut karena marah kembali berubah, menunjukkan garis-garis antusiasme dan keceriaan. "Kau pernah mendengar lagu Taylor Swift? Nah, kita akan memakai salah satu dari lagu-lagunya."
Tangan Sasuke meraih bola basketnya dan mulai memantul-mantulkannya ke lantai lapangan. "Itu saja? Kita cuma disuruh menyanyi berdua di hadapan iblis kembar itu?"
"Tentu saja tidak." Sakura menggeleng mantap, membuat rambut soft pink-nya melambai-lambai seirama dengan gerakan kepalanya. Ditatapnya kedua mata onyx Sasuke dalam-dalam dengan kedua mata emerald-nya. "Apa kau bisa berdansa waltz?"
.
.
.
Aula yang merupakan tempat diselenggarakannya audisi drama musikal SMF tahap dua itu dipadati oleh sejumlah besar siswa-siswi Konoha High yang mendukung temannya yang akan mengikuti seleksi tahap dua itu. Sebagian besar dari mereka adalah fangirls Uchiha Sasuke yang berbondong-bondong datang setelah mendengar rumor bahwa pangeran pujaan hati mereka akan mengikuti audisi itu. Cewek-cewek itu datang untuk melihat aksi dari pemuda tampan pujaan hati mereka, sekaligus untuk menghujat siapapun gadis yang berhasil berpasangan dengan Sasuke.
"Ia belum datang, ya?" Salah seorang gadis berambut coklat sepunggung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan aula.
"Kurasa sudah," jawab temannya yang berambut agak oranye. "Tadi Sasuke-sama sudah meninggalkan lapangan basket. Matanya menyipit ke arah bangku-bangku di deretan depan aula. "Ah, itu dia!"
Sasuke duduk bersama Sakura di deretan depan—tepatnya di barisan ketiga dari depan, di sebelah kanan. Para peserta audisi memang diwajibkan untuk duduk di deretan pertama, kedua, dan ketiga agar tidak bercampur dengan penonton audisi. Sakura sendiri memilih barisan paling belakang yang diperintahkan karena gadis itu masih sedikit trauma dengan audisi sebelumnya, sehingga ia berusaha menempatkan diri sejauh mungkin dari dua juri iblis itu. Ditambah lagi, kali ini dua sahabatnya, Shikamaru dan Chouji, tidak bisa menemaninya mengikuti audisi. Diam-diam Sakura merasa bersyukur karena masih ada Sasuke di sisinya. Walaupun baru mengenal Sasuke selama beberapa hari, entah mengapa Sakura merasa nyaman berada di sebelahnya.
Sasuke sendiri sedikit risih berada di dalam aula itu. Ini adalah kali pertama ia duduk di barisan para peserta audisi drama musikal. Sebelum-sebelumnya, ia selalu duduk di deretan penonton, menonton pertunjukan musiman di mana ia lebih sering tidur daripada menyaksikan pertunjukan itu. Ditambah lagi kali ini ada segerombolan fangirls-nya yang menguntit dari kursi penonton. Padahal Sasuke sudah berharap-harap agar mereka tidak bisa menemukannya di antara ratusan siswa Konoha High yang menjejali aula.
Terdengar suara pintu terbuka—disusul oleh langkah-langkah yang membawa horor tersendiri di kalangan para peserta—melenyapkan suara gegap gempita dari para siswa. Sakura menelan ludah dan memasang wajah tegang saat ia menangkap sosok Hatake Kakashi dan Shizune yang berjalan dengan langkah-langkah mantap menuju ke kursi penjurian mereka lewat ekor matanya. Rasanya seperti menunggu eksekusi kematian saja.
Kedua juri itu telah duduk dengan nyaman di atas kursi yang telah disediakan—juri iblis kembar Hatake-sensei dan Shizune-sensei. Shizune membuka map yang berada di hadapannya dan mulai membacakan nama-nama yang akan diaudisi, memerintahkan yang namanya disebut untuk naik ke atas panggung.
"Tenten dan Hyuuga Neji."
Pasangan berambut coklat yang tadi duduk di depan Sakura dan Sasuke menuju panggung dan berdiri di atasnya. Mereka adalah murid kelas dua yang pernah kebagian peran dalam pagelaran seni musim semi kemarin—dan Neji adalah pemuda berambut coklat sepunggung yang dilawan Sasuke saat bermain basket tadi. Karena mereka sukses membantu pementasan drama musikal—walaupun hanya sebagai pasangan pemeran pembantu—mereka berdua digosipkan berpacaran oleh para murid kelas dua.
"Bisakah kalian mempertunjukkan dansa waltz?" tanya Kakashi dengan nada datar. "Dan kuharap kalian mau menyanyi juga sambil berdansa."
Ekspresi tegang muncul di wajah kedua peserta itu, bahkan Sakura sangat yakin bahwa ia melihat Tenten berkali-kali menelan ludah dengan gugup. Ya, siapa sih yang tidak gugup bila harus diaudisi oleh pasangan iblis kembar itu? Yeah, walaupun begitu, setiap pagelaran musikal di Konoha High, masih saja ada siswa-siswi yang mencalonkan diri untuk di'eksekusi' oleh keduanya.
Neji dan Tenten kini berdiri di atas panggung, berhadapan. Wajah keduanya sangat tegang, dan keduanya menunggu perintah dari salah satu juri untuk segera memulai. Bulir-bulir keringat mulai menghiasi kulit wajah dan leher mereka yang telanjang.
Kakashi menatap mereka dengan serius. Tatapannya tajam dan seolah akan menguliti mereka hidup-hidup. "Ehm, silakan dimulai."
Neji dan Tenten saling pandang. Mereka mengangguk. Samar-samar terdengar intro musik yang semakin keras, kemudian mereka berdua saling mengaitkan lengan, mulai berdansa.
"There's a calm surrender
To the rush of day
When the heat of a rolling wind
Can't be turned away..."
Tenten menyanyikan bait pertama dengan suara soprano. Ia memindahkan lengan kanannya ke punggung Neji, sementara Neji melingkarkan lengan kirinya ke pinggang Tenten.
Mereka berdua berputar—lebih tepatnya Tenten yang berputar di bawah lengan Neji.
Neji membuka mulutnya untuk menyanyikan bait kedua.
"An enchanted moment,
And it sees me through
It's enough for this restless warrior
Just to be with you..."
Suara bass-nya kemudian bergabung dengan suara sopran Tenten. Mereka menari mengitari panggung, seolah-olah hanyut dalam dunia mereka sendiri.
"And can you feel the love tonight?
It is where we are
It' enough for this wide-eyed wanderer
That we got this far...
And can you feel the love tonight,
How it's laid to rest?
It's enough to make kings and vagabonds
Believe the very best..."
Di bangku penonton, Sakura merasa seolah ikut ke dalam dunia Neji-Tenten. Kedua kakak kelas itu tampak menari dengan penuh penghayatan. Di atas panggung, tidak terlihat sama sekali bahwa mereka gugup, terlebih lagi mereka bukanlah orang-orang yang biasa mendapatkan peran utama di atas panggung. Tenten adalah salah satu anggota KHS—Konoha High Security, yaitu bagian kedisplinan di Konoha High. Neji adalah seorang karateka yang cukup handal di klub karate sekolah, juga seorang wakil kapten tim basket Konoha High. Namun, di atas panggung, mereka adalah orang yang berbeda. Mereka seolah-olah memerankan Simba dan Nala dari film Lion King dalam wujud manusia. Mereka berdua terlihat seolah-olah sedang jatuh cinta sungguhan...
Sakura begitu terhanyut dalam penampilan kedua senpai-nya sehingga nyaris tak menyadari bahwa keduanya telah berhenti menari dan berdiri di sisi depan panggung, mendapatkan sejumlah kritikan dari Hatake-sensei dan Shizune-sensei. Hal itu membuat Sakura bingung. Apa sih yang kurang dari penampilan seniornya itu? Menurutnya, pasangan Neji-Tenten memiliki chemistry yang kuat dan belum tentu dimiliki pasangan yang lain—termasuk dirinya dan Sasuke.
Alunan musik telah berhenti lama semenjak mereka berdua selesai menari. Hening langsung menyerbu seisi ruangan. Kedua peserta audisi itu berdiri dengan sikap gugup di depan panggung. Mata tourmaline Tenten tak henti-hentinya mengedip—seandainya setiap kedipan dapat menghasilkan angin, maka aula itu sudah habis diterpa badai topan saking seringnya Tenten mengedip. Di sisi Tenten, Neji tampak tegang. Berkali-kali pemuda berambut coklat tua panjang itu menelan ludahnya pertanda gugup. Sangat bukan Neji.
Juri berambut perak—Hatake Kakashi—memutar-mutar pena biru gelap yang tampak mewah di tangan kirinya—ia kidal. Bibir tipisnya membentuk senyuman tipis—pertanda bahwa ia akan segera melontarkan komentar sadis mautnya.
"Lagu yang kalian bawakan adalah lagu soundtrack dari film Lion King, bukan?" tanyanya sebagai awal pembantaian. "Lagu yang bagus, aku suka lagu itu."
Senyum kecil penuh harapan mulai mengembang di wajah Tenten. Frekuensi kedipannya berkurang drastis. Neji yang berdiri di sebelahnya tampak lebih rileks. Kedua tinjunya yang semula mengepal mulai melemas.
"Tapi—" Tatapan mata Kakashi berubah menajam. "—apakah kalian berdua itu singa? Bukankah lagu itu dinyanyikan saat Simba dan Nala bercengkrama di padang rumput? Kalian itu bodoh, ya, menyamakan diri dengan singa?"
Mata coklat Tenten segera dipenuhi air mata. Bibir Neji terkatup membentuk garis yang kaku.
"Kalian pandai memilih lagu yang memiliki nuansa romansa yang kuat, namun, pikirkanlah siapa-siapa yang memainkan adegan di mana lagu itu berlangsung atau—minimal bagi lagu-lagu yang bukan merupakan soundtrack—apa cerita di balik lagu tersebut."
Tangan kiri Kakashi segera mengibas-ibas—mengusir keduanya dari atas panggung. Tenten segera menghambur ke balik panggung. Air mata tampak mengalir menuruni pipinya yang mulus. Jauh di belakangnya, Neji melangkah dengan langkah-langkah tanpa semangat, menjauhi panggung yang masih disorot terangnya spotlight.
"Next! Karin dan Juugo!" Suara Shizune yang lantang memanggil pasangan selanjutnya yang akan diaudisi.
Gadis berambut merah mengilat selembut sutera itu melangkah menuju panggung dengan langkah-langkah anggun yang penuh percaya diri. Setiap ayunan kakinya seperti gaya berjalan para peragawati yang berseliweran di panggung peragaan busana. Di belakangnya, Juugo melangkah dengan gaya angkuh yang sama dengan pasangannya. Keduanya mulai memijakkan kaki ke anak tangga-anak tangga di sisi panggung, mulai menembus barikade koloid lampu sorot.
Shizune menatap murid favoritnya itu dengan sebelah alis terangkat. "Ehm, sudah siap, Karin dan Juugo?"
Gadis cantik dengan mata scarlet itu mengangguk mantap. Ia memposisikan dirinya sedikit membelakangi penonton—blocking yang tidak terlalu kentara—sementara Juugo sedikit-banyak menghadap penonton. Keduanya bertatapan, dan alunan lagu pun terdengar.
"My love,
There's only you in my life
The only thing that's right..."
Suara bariton Juugo menyapu gendang telinga audiens dengan komposisi yang enak didengar. Karin dan Juugo saling menautkan lengan, mulai bergerak berputar-putar teratur dengan langkah-langkah dansa waltz.
"My first love.
You're every breathe that I take
You're every step I make..."
Karin berputar di bawah lengan Juugo dengan indah. Sebelah lengannya ditangkap oleh Juugo, dan Karin menjatuhkan tubuhnya ke belakang yang segera ditahan Juugo oleh kedua lengannya.
"And I..." Juugo melirik Karin.
"I-I-I-I-I..." Karin mengiringi Juugo sebagai backsound.
"I want to share..." Keduanya bertatapan dengan tatapan yang menggambarkan seolah-olah mereka sedang dilimpahi perasaan cinta.
"All my love with you
No one else will do..."
Langkah-langkah teratur itu terus berlangsung selama beberapa saat. Lampu sorot mengikuti setiap gerakan mereka.
"And your eyes
Your eyes, your eyes
They tell me how much you care
Ooh yes, you will always be
My endless love..."
Area panggung adalah teritorial mereka berdua—Karin dan Juugo. Dunia gemerlapan yang hanya dipijak mereka berdua. Sakura menunduk setelah sesaat mengamati penampilan para seniornya. Terlebih lagi setelah ia tidak mendengar suatu kritikan pedas apapun terhadap kedua senpai-nya itu. Tentu saja, Karin dan Juugo adalah pasangan dengan chemistry paking kuat yang selalu dijadikan pairing utama dalam setiap kali pagelaran musikal. Yeah, keduanya memang berbakat—saling mendukung. Cantik dan tampan yang selaras dan enak dilihat. Rasanya Sakura semakin minder. Akibatnya, ia sama sekali tidak memerhatikan pasangan-pasangan yang lain. Sakura semakin tenggelam ke dalam dunianya sendiri.
Hal ini tentu saja membuat Sasuke merasa kesal. Bagaimana tidak? Gadis ini telah membuatnya melewatkan latihan sore nanti karena audisi bodoh ini akan memakan waktu sampai sore, terlebih lagi bila diadakan audisi ulang seperti beberapa hari yang lalu, namun kini justru gadis ini yang berusaha menghancurkan peluang mereka untuk lolos.
"Hei," tegur Sasuke, membuat gadis berambut sugarplum yang duduk di kursi sebelahnya dengan wajah menunduk mendongak dan menatap kedua mata Sasuke.
"Ah." Sakura tersentak. "Ada apa, Sasuke-kun?"
Kali ini Sasuke benar-benar naik pitam.
"Apakah kau serius ingin mengikuti audisi tahap dua SMF ini?" tanya Sasuke dengan nada dingin.
Gadis itu kembali sedikit menunduk. "Yeah, tentu saja aku ingin ikut dan merebut peran utama, namun..." Jari telunjuk tangan kanannya mengacung ke depan—menunjuk dua insan yang tengah bercengkrama dengan dansa di tengah-tengah panggung. "... lihatlah mereka. Apakah kau pikir mereka semua itu bodoh dan bisa dikalahkan dengan mudah? Mereka sangat berbakat!"
Pria berambut raven itu memutar kedua bola matanya dengan sikap bosan. "Kau selalu pesimis setiap kali demam panggung, hn? Apakah kau sadar bahwa setelah ini adalah giliran kita?"
Kedua emerald itu membelalak lebar. "Ap-apa maksudmu? Setelah pasangan ini, kita yang akan berada di atas panggung itu?"
"Hn." Sasuke melipat kedua lengannya di depan dada.
Sakura langsung panik.
"Ba-bagaimana ini?" pekiknya histeris. "Bagaimana bila aku lupa lirik lagu yang harus dinyanyikan? Bagaimana bila langkah-langkah dansaku salah? Bagaimana bila aku terpeleset dan kemudian jatuh mengenaskan di tengah-tengah panggung?"
Ingin sekali rasanya Sasuke membenamkan kepala Sakura ke seember air dingin agar gadis berambut sebahu itu sedikit tenang—berkepala dingin. Terkadang, rasa panik Sakura hanyalah sekedar khayalan belaka.
"Kau punya teks lagunya?" Sasuke mengalihkan perhatian gadis berambut merah jambu itu.
"Eh, apa?" Sakura membelalakkan matanya, seolah-olah Sasuke bertanya mengenai suatu hal yang menyerempet SMF adalah suatu mukjizat. Memang, hari ini Sasuke tidak terlalu banyak bicara—terutama mengenai SMF.
Dengan kesal Sasuke memutar kedua bola matanya. "Aku tidak mau mengulang pertanyaanku."
Sakura langsung cemberut. Sebelah tangannya segera meraih map di pangkuannya, kemudian membongkar-bongkar susunan yang berada di dalam kulit mika merah tua itu—mencari sesuatu. "Ah, ini!" Ia mengangsurkan selembar kertas HVS putih dengan ratusan cetakan huruf di atasnya. "Kau menyanyikan bagian ini."
Pemuda berambut raven di sebelahnya mengangkat sebelah alis. Sepertinya sedikit lega karena berhasil mengalihkan perhatian gadis di sebelahnya. Kedua mata onyx-nya segera menelusuri barisan-barisan pendek berisi lirik lagu tersebut.
Sementara itu, Sakura yang sudah berhasil mengendalikan dirinya kembali menatap panggung, kali ini menyaksikan seorang gadis mungil menari bersama seorang pemuda berambut crimson. Keduanya nampak canggung. Ah, Sakura menelengkan kepalanya dengan sikap bosan. Pasti iblis kembar itu akan segera mengeksekusi mereka berdua.
Dan dugaan pemilik emerald kembar itu tepat.
"Sebaiknya kalian menari di perempatan jalan saja," celetuk Kakashi sarkastis setelah iringan lagu berhenti. Suasana aula langsung berubah menjadi senyap. Kedua sosok di atas panggung langsung membeku. Kilauan air mata tampak menggenang di pelupuk mata Matsuri, gadis mungil itu. "Siapa tahu ada yang mau melemparkan koin seratus yen untuk tarian sampah seperti itu!"
Lain lagi dengan sang pemuda berambut merah. Wajah stoic-nya tampak menentang walaupun terlihat tenang. Shizune mengangkat alisnya.
"Ada yang ingin kau katakan, Sabaku-san?" tanyanya dengan nada datar dan dingin. Nada pertanda bahwa keputusannya dan Kakashi tidak bisa diganggu gugat.
Bibir pemuda Sabaku itu terkatup rapat, seolah-olah ingin memaki dengan kata-kata kasar. Namun, tanpa banyak bicara, pemuda itu menggandeng lengan Matsuri dan menarik gadis yang terisak itu turun dari panggung.
Sakura menelan ludah. Kalau tidak salah, setelah ini adalah giliran—
"Next!" Terdengar suara lantang Shizune kembali memecah atmosfir beku di dalam aula—seolah-olah kejadian tadi tak pernah terjadi. "Haruno Sakura dan Uchiha Sasuke!"
Sang Uchiha muda bisa merasakan tubuh gadis di sebelahnya menegang. Gugup. Wajar saja, tadi di depan matanya, belasan pasangan peserta audisi dicela dengan berbagai macam perbendaharaan kata sindiran. Ia juga gugup akan hal itu. Ditambah lagi dengan riuhnya suasana aula ketika Shizune-sensei menyebutkan nama lengkapnya. Gadis-gadis merepotkan itu pasti sedang berusaha mengabadikan setiap gerakannya di panggung nanti.
Sesuatu yang hangat menyentuh kulit lengannya. Tidak hangat, sesuatu tersebut agak dingin. Sasuke menoleh, dan iris obsidiannya menemukan iris zamrud Sakura yang berpendar.
"Ayo," katanya seraya menarik sedikit lengan Sasuke. Gadis itu sudah setengah berdiri. Wajahnya datar dan tak berekspresi.
"Apa kau yakin?" tanya Sasuke sembari menaikkan sebelah alisnya dengan tidak yakin. Beberapa menit yang lalu, gadis pink itu tampak ketakutan dan gugup. Kini, wajahnya tampak siap menghadapi apapun.
"Ya. Seratus persen." Sakura berdiri, dan mulai mendekati lorong antar barisan penonton.
Mau tak matu, Sasuke mengikuti langkah-langkah mantap gadis itu ke arah panggung. Namun, sejak ia masuk ke dalam area pandang audiens, gegap gempitalah seisi aula ketika menemukan si pangeran es berjalan menuju panggung.
"Kyaaaaa...! Sasuke-kun...!" Telinganya yang sensitif menangkap jeritan histeris salah seorang gadis yang mungkin adalah salah satu anggota fansclub tak resminya. Sasuke tidak buta dan tuli. Ia tahu betapa banyak gadis-gadis yang mengidolakannya, bahkan sampai membentuk forum-forum eksklusif yang dikhususkan untuk memuja dirinya.
"Sasu-chan ada di atas panggung!" Suara lain menyahut, membuat Sasuke merinding. Sasu-chan? Euh, menjijikan!
Perjalanan menuju panggung terasa begitu lama bagi Sasuke dengan adanya histeria dari kerumunan penggemarnya. Mendadak rasanya ia ingin melarikan diri ke lapangan basket saja. Jujur, Sasuke sama sekali tidak menyukai gadis-gadis yang sangat cerewet dan terlalu memujanya. Seorang Uchiha Sasuke juga manusia, kan? Ia bukan dewa maupun titisan malaikat.
Sakura menatap Sasuke. Dari tadi tingkah pemuda itu agak aneh—terutama semenjak mereka berdua berjalan ke panggung. Apa mungkin Sasuke baru pertama kali menginjakkan kaki di panggung seperti ini? Gadis bermata hijau itu mengedarkan pandangannya ke spasi di sekitarnya. Ah, panggung ini memang sangat besar. Luas dan penuh dengan jiwa teater. Mengingat bahwa ia akan mengikuti audisi untuk SMF sesaat lagi, ia bertambah semangat.
Ia berjingkat. Membisikkan sesuatu ke telinga pemuda itu
Sasuke menoleh kepadanya.
Sementara itu, kedua juri merasa sedikit bingung karena pasangan peserta audisi yang kini berdiri di atas pentas tidak bergeming sama sekali. Tidak tampak bahwa mereka berdua akan segera memulai performance mereka. Alih-alih segera menari, mereka berdua malah saling berbisik satu sama lain—atau bisa dibilang, gadis berambut sugarplum itulah yang terus mendominasi percakapan tanpa volume itu. Akhirnya Kakashi memutuskan untuk menegur mereka.
"Apa kalian hanya mau numpang eksis di atas sana?" tanyanya ketus. "Maaf, kami mencari peran utama, bukan mencari peran figuran manekin seperti itu!"
Tidak ada jawaban. Guru muda berambut perak dengan style menentang arah gaya tarik bumi itu mendelik kesal. Baru kali ini ada peserta yang berani melawannya.
"Ka—"
Kata-kata itu terhenti saat kedua matanya yang berlainan warna melihat perubahan yang terjadi di panggung. Sesuatu yang membuatnya terpaku. Hal yang sama juga terjadi pada Shizune.
Pink dan hitam. Melangkah bersama di panggung. Harmonis. Seirama. Walaupun tanpa iringan lagu, tetapi tetap tampak memukau.
Ada sesuatu yang terjadi di sini. Sesuatu yang berbeda dari biasanya.
Intro lagu pun mengalun memenuhi seisi ruangan.
.
.
.
Kedua mata itu berpandangan dengan sorot mata nanar—seolah mereka ingin terus bersama. Seolah mereka tak ingin dipisahkan. Seolah mereka adalah sebuah kesatuan yang terajut dengan sempurna dan akan dipisahkan oleh lengan-lengan tak kasat mata.
Emerald dan onyx.
Hijau terang dan hitam pekat.
Sorot nanar yang semakin lama semakin bersinar.
Mereka berdua semakin menjauh, kedua tangannya semakin menggapai-gapai. Kemudian kembali mendekat, seperti ditarik oleh magnet yang kutubnya saling tarik-menarik.
"We were both young when I first saw you
I close my eyes and the flashback starts
I'm standing there on a balcony in summer air..."
Sakura dan Sasuke berjalan saling mengitari. Dua pasang mata itu saling menatap dengan tatapan yang tak bisa ditebak.
"See the lights, see the party, the ball gowns
See you make your way through the crowd
And say hello, little did I know..."
Sakura berhenti bergerak dan memunggungi Sasuke—sedikit menatap Sasuke dari sudut matanya.
"That you were Romeo
You were throwing pebbles
And my daddy said stay away from Juliet
And I was crying on the staircase
Begging you please don't go..."
Mereka berdua mulai berdansa mengelilingi atas panggung. Lengan kanan Sasuke dan lengan kiri Sakura bertautan. Lengan kiri Sasuke berada di pinggang Sasuke, dan lengan kanan Sakura melingkar di atas lengan kiri Sasuke—ujung jemarinya menyentuh pundak Sasuke.
"And I said..."
Sakura berputas di bawah lengan Sasuke, kemudian melepaskan diri dan mundur beberapa langkah ke belakang. Tangan kanannya terulur.
"Romeo, take me somewhere we can be alone
I'll be waiting, all that's left to do is run
You'll be the prince and I'll be the princess
It's a love story baby just say
Yes..."
Sakura kembali menghampiri Sasuke. Kini lengan mereka saling bergandengan. Keduanya berjalan mengelilingi panggung, sesekali ujung jari kaki mereka berjingkat.
"So I sneak out to the garden to see you
We keep quiet 'cause we're dead if they knew
So close your eyes, let's keep this down for a little while
Oh, oh,..."
Mereka berdua kembali berdansa. Lengan bertaut, saling melingkar. Tubuh merapat. Wajah hanya terpisah spasi beberapa sentimeter.
"'Cause you were Romeo,
I was a scarlet letter
And my daddy said stay away from Juliet
But you were everything to me
I was begging you please don't go..."
Mata Sakura menatap Sasuke dengan pandangan memohon, seolah-olah Sakura meminta agar Sasuke tidak meninggalkanya. Namun, Sasuke mundur dan sedikit menjauh.
"And I said..."
Sasuke semakin menjauh dari posisi Sakura. Sakura kini seorang diri di tengah panggung. Center of attention.
"Romeo, take me somewhere we can be alone
I'll be waiting, all that's left to do is run
You'll be the prince and I'll be the princess
It's a love story baby, just say yes..."
Sakura menunduk, kakinya masih bergerak-gerak sesuai melodi lagu yang menjadi latar belakang nyanyiannya.
"Romeo, save me, they try to tell me how to feel
This love is difficult, but it's real
Don't be afraid, we'll make it out of this mess
It's a love story, baby, just say yes..."
"Oh, oh..."
"I got tired of waiting
Wondering if you were ever coming around
My faith in you was fading
When I met you on the outskirts of town..."
Sakura menengadah dengan tatapan putus asa, kemudian matanya menangkap sosok Sasuke yang tengah berjalan ke arahnya. Ia segera berlari ke arah pemuda berambut hitam itu.
"And I said..."
Mereka berdua kembali berada dalam posisi dansa. Lengan saling bertaut dan melingkar. Tubuh merapat. Kaki mengayun, melangkah dengan anggun sesuai musik.
"Romeo save me, I've been feeling so alone
I keep waiting for you but you never come
Is this in my head, I don't know what to think
He knelt to the ground and pulled out a ring
And said..."
Langkah-langkah dansa keduanya semakin cepat. Mata mereka saling menatap, bibir mereka saling tersenyum. Sakura berputar dan berputar. Ia berputar-putar hingga sepasang lengan Sasuke menghentikan gesturnya.
Dan Sasuke pun menyanyi.
"Marry me, Juliet, you'll never have to be alone
I love you and that's all I really know
I talked to your dad, go pick out a white dress
It's a love story, baby, just say yes..."
Pemuda itu berlutut dan menggenggam tangan Sakura. Tidak mau melepaskannya seolah Sakura adalah sesuatu yang berharga.
"Oh, oh, oh, oh..."
Mereka berdua berdiri, kemudian melangkah mendekati panggung.
Membungkuk.
"'Cause we were both young when I first saw you..."
Serentak suara tepukan tangan menggemuruh di dalam aula. Sakura dan Sasuke menegakkan tubuh dengan wajah berkilau bercucuran keringat. Mata emerald Sakura tampak berbinar-binar bahagia. Pemuda di sebelahnya melirik gadis itu. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
Tidak banyak yang diucapkan oleh Kakashi. Pria tukang mencela itu kali ini hanya menemukan sedikit kosakata di kamus yang tercantum di otaknya.
"Tidak terlalu buruk," komentarnya singkat.
Shizune-sensei pun hanya bisa mengangguk. Sepertinya wanita berambut hitam mengilat itu terlalu speechless melihat audisi barusan.
.
.
.
Koridor disesaki puluhan—bahkan ratusan—siswa-siswi Konoha High yang baru saja mengikuti bagaimana jalannya audisi Summer Music Festival tahun ini. Beberapa dari mereka tampak puas menonton penyeleksian elit itu, beberapa lagi tampak heboh menghibur rekan-rekan mereka yang tampak pucat setelah menerima kritikan dan cercaan pedas nan sinis dari kedua penguji tersebut.
Sesosok gadis berambut cotton candy tampak berjalan bersisian dengan seorang pemuda dengan model rambut raven berwarna hitam legam. Di belakang mereka, tampak segerombolan anak perempuan yang terus-menerus menyerukan nama si pemuda dengan tingkah laku berlebihan yang membuat si pemuda gerah.
"Sasu-kuuuunnn...!"
"Kyaaaaaa...! Sasuke terlihat keren saat menyanyi...!"
"Aishiteru yo, Sasu-chaaann~"
Dan lain-lain sebagainya.
Sakura melirik pemuda berkulit putih yang berjalan di sisinya. Sudut-sudut bibirnya terangkat ke atas dan membentuk senyuman manis yang membuat wajahnya yang lelah tampak berseri.
"Hei, Sasuke-kun," panggilnya, mengusik Sasuke yang sudah badmood berat.
"Hn?" Pemuda bermata onyx itu menoleh dan menatap gadis yang lebih pendek sekian sentimeter darinya itu. Sebelah alisnya terangkat, menduga-duga apa yang akan dikatakan Sakura padanya.
"Terima kasih karena telah memabntuku, dan—eh..." Sakura tampak ragu sejenak. Gadis itu terdiam dan menimbang-nimbang. "... sebagai ucapan terima kasih, aku ingin mentraktirmu makan malam. Yeah, itu kalau kau tidak keberatan sih..."
Pemuda lawan bicaranya menengadah, menatap langit yang mulai beranjak dari terang ke gelap. Matahari sudah berada jauh dari atas kepala. Yeah, sebentar lagi memang waktu makan malam, dan ia memang sudah kelaparan semenjak tadi menunggui enam pasangan terakhir.
"Hn." Ia berjalan mendahului Sakura, menuju pintu sekolah yang hanya terbuka sebelah.
Sakura mengernyitkan kening dengan heran.
"Hei, Sasuke-kun, tungguuuu! Kau belum bilang mau atau tidak!" Gadis itu menggunakan kemampuannya berlari sprint—senjata andalannya di kala terlambat masuk sekolah—dan, huuuupp~ ia mencapai posisi Sasuke berjalan.
"Hei!" Tangan putih gadis itu menepuk pundak si empunya rambut raven hitam yang kini berhenti melangkah. "Kubilang, mau atau tidak?"
Pemuda itu berbalik. Seringai kecil terpampang di wajah orientalnya yang tampan. "Hn."
"Apa artinya itu?" tanya Sakura dengan nada kesal.
"Iya."
Gadis bermata hijau itu menggembungkan pipinya. "Dasar!"
.
.
.
PENGUMUMAN
"SUMMER MUSIC FESTIVAL"
Drama Musical:
Beauty and The Beast
Belle — Haruno Sakura
Beast — Juugo
Prince — Uchiha Sasuke
Lumierre — Deidara
Mrs. Potts — Karin
Masih ada kesempatan untuk siapa saja yang ingin mengambil peran pembantu dalam drama ini
Tertanda,
H. Kakashi
Shizune
.
.
.
~To Be Continued~
.
.
.
Can You Feel The Love Tonight © Elton John
Endless Love © Diana Ross
Love Story © Taylor Swift
Sangat tidak menyangka mendapat banyak respon positif ^^
A/N: MAAFKAN DAKU KARENA TERLAMBAT UPDATE! DX *dijitak readers & reviewers*
Ahh, sekolah sangat merepotkan. Berkali-kali aku dilarang megang laptop, padahal ide udah ada DX dan ternyata penyerialisasinya malah jadi abal begini *pundung* Gomen buat yang udah nungguin update-an fic ini~ =3= di sini, scene friendship SakuShikaChou sedikit sekali, cuma di bagian awal saja~
Ah, curcol dong! Aku lagi bete sama seorang 'newbie' di FNI. Oke, dia newbie, aku newbie yang udah mulai keriputan. Dia salah, aku kasih concrit. Dia kayaknya ga terima, langsung unfave aku dooonnggg~ HELLOOOOOOO~ biasa aja kali, say. Kalo emang salah ya terima concrit dooong~ Gue masih baik, tau ga sih, sebenernya gue udah gatel pengen nge-flame lu! *injek-injek*
Oke, emosi, maaf. =_=
Miroir 3 bahkan bilang saya kekanak-kanakan dan emosional. Tidak masalah, pada kenyataannya memang begitu.
Hei, aku minta tolong kalian semua:
1. kalau aku punya salah, langsung kasih tahu ya. Mau lewat review atau PM terserah. Mau sms juga oke, aku bisa kasih nomerku. No offense. Kalau salah, aku pasti terima
2. tolong vote polling di profil-ku! Aku lagi bingung mau gimana lagi dengan kelanjutan akun ini DX
Huff, A/N yang sangat kacau ._.
Special thanks to:
Chousamori Aozora / Sharon Himawari / Green YupiCandy Chan (aku inget ^^) / Bluepink Kyou-ku / Akasuna no Ran (fbku Aoi Saiga & Ai Saiga Xue ya~ kalo mau add, tolong kirim optional message ^^) / Kuroneko Hime-un / Key is my name / 4ntk4-ch4n / beby-chan / Haruchi Nigiyama / Winterblossom Concrit Team / Haruno Nanako / Kaori a.k.a Yama (Eh, suka HSM juga? *TOS*) / aya-na rifa'i / Youichi akaba D / popoChi-moChi / Peaphro / Aurellia Uchiha / 7color / Berry / Me / Nay Akanaru / Reygi Uchiha / Rievectha Herbst / Hikari Meiko EunJo / Miku nyaan
.Penghargaan terbesar bagi saya adalah bila para readers sekalian mau memberikan review berupa concrit ^^.
mysticahime™
