"Kerjaanmu itu bikin laporaaan saja. Ayolah pergi bersama kami, lihatlah dunia luar!" seru Antonio, setengah membujuk setengah mengejek.
Arthur menjaga kesabarannya. Teman-teman sekamarnya, setelah tidur siang yang menyenangkan bersama, sepakat untuk pergi membeli makan bersama. Bukan membeli makan di kantin asrama, yang tentunya tidak perlu repot untuk Antonio membujuknya, tetapi di sebuah pasar dekat kampus. Di pasar itu tersedia tak hanya barang-barang kebutuhan tetapi juga kios-kios dan restoran makanan. Dengan usaha itu mungkin mereka akan bertemu dengan mahasiswi, lalu berkenalan lalu mungkin menjadi berpacaran seperti apa yang diharapkan Antonio agar terjadi pada Arthur. Tentunya rencana ini ditolak mentah-mentah oleh Arthur. Dia berdalih untuk mengerjakan laporan, yang juga adalah tugas Antonio. Dia juga punya keyakinan kuat Antonio akan mengajak teman-temannya yang sangat berisik itu.
Dia tetap pada pendiriannya. Antonio berseru kecewa. Livio menatap Arthur dengan sedih, kalau Arthur tidak ikut maka dia juga tidak mau ikut. Dia juga tak suka dengan teman-teman Antonio yang berisik.
Terimakasih karena Arthur, rencana keempat sekawan itu batal. Antonio benar-benar kesal.
Arthur tidak memperhatikan kekelasan teman Spanyol nya itu, dia lebih menaruh perhatiannya pada Livio. "Kalau kau sangat ingin makan, aku antarkan kau, hanya bila kau makan di kantin asrama."
Livio menatapnya, mempertimbangkan tawarannya. Sebelum dia dapat menjawab, ponsel Arthur berbunyi.
"Ketua angkatan sebelum kita ingin menemui kita, dan ini penting. Lekas ke sekretariat sekarang juga!" Arthur mendengar suara Ludwig dengan saksama sebelum menjawab "Baiklah" dengan nada yang sama seriusnya.
"Ada pertemuan mendadak. Kau jadi tidak Livio? Aku bisa mengantarmu sekalian!"
Livio cepat menggeleng. "Tidak apa-apa Arthur. Kau sebaiknya cepat ke pertemuan itu!"
Arthur menatap Livio sebentar. Bocah itu terlihat lebih muda walaupun mereka seumuran*, rambut dan matanya memiliki warna yang sama dengannya. Sejak awal mereka tinggal bersama di asrama dan sekamar, mereka cepat sekali merasa nyaman dengan kehadiran masing-masing. Walaupun mereka berbeda jurusan, mereka selalu belajar bersama. Livio akan bertanya banyak hal kepada Arthur dan Arthur bersedia menjawab. Kalau mereka berjalan di area kampus bersama, orang akan menganggap mereka kakak-beradik. Mereka tidak keberatan dengan hal ini. Arthur tidak keberatan, dia bahkan merasa seperti seorang kakak. Karena itu dia akan cepat merasa khawatir kalau ada sesuatu hal yang membuat Livio sedih atau ada yang menyakitinya.
"Antonio, sebelum kau bergabung dengan teman-teman anehmu, antar dia makan," seru Arthur dan ini perintah yang menandakan dia tidak ingin dibantah.
(********)
Ini adalah waktu setelah senja. Jalanan dipenuhi oleh para mahasiswa yang keluar dari asramanya untuk pergi membeli makanan. Mereka pergi bergerombol, ada yang bersama teman-teman sekamar, sejurusan, seasrama, sekelompok kelas. Ada juga yang berdua, bersama sahabat dan... bersama pacar. Wajah-wajah mereka terlihat lapar. Ada yang ingin lekas membeli makan karena tugas yang menanti, ada yang memang ingin menghabiskan waktu, menikmati makanan dan berbincang-bincang. Lalu di kategori manakah Arthur? Dia telah sampai pada jalan umum di mana mahasiswa dan mahasiswi sudah bercampur. Dia hanya bergeming pada keramaian tersebut, berjalan dengan cepat. Untuk kategori, dia adalah mereka yang ingin bertemu dengan organisasi atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang mereka ikuti dan ingin cepat menyelesaikan urusan tersebut.
Pada sebuah persimpangan, dia disapa oleh seseorang, agak keras sehingga dia harus berhenti. Menengok ke arah suara tersebut, dia melihat Ratna berjalan menuju ke arahnya dari jalan lain. Di tangan gadis Asia tersebut terdapat sebuah kantung plastik yang Arthur yakin adalah makanan yang dia beli di kantin di ujung jalan tersebut.
"Kau di-sms juga? Apa yang dipikirkan kakak angkatan ya, menyuruh kita berkumpul mendadak seperti ini,"
Arthur mendengarkan Ratna yang setelah sampai padanya langsung berceloteh. Gadis Indonesia itu memang berisik, seperti pacarnya, tetapi dia lebih pintar sehingga Arthur dapat mentolerir.
"Aku ditelepon Ludwig... sepertinya memang penting," kata Arthur, kembali berjalan.
"Hei, tidak usah terburu-buru. Salahkan mereka karena mendadak. Aku jadinya belum makan," Ratna mengeluh sambil menyusul Arthur. Cowok Inggris itu tidak merespon karena itu dia kembali berkata, "Menurutmu ada apa ya? Kalau Ludwig sampai memanggilmu, sepertinya dia benar-benar ingin memastikan kau dapat hadir."
"Sepertinya..."
"Ohh apakah karena pemilihan ketua! Jangan-jangan mereka sudah memutuskan! Dan jangan-jangan kau yang terpilih!"
Arthur menggelengkan kepalanya, tidak setuju oleh pendapat sesama anggota Klub Debat Internasional itu. Baru minggu lalu dia ditunjuk sebagai ketua angkatan dalam Organisasi Lintas Mahasiswa Internasional. Dia juga adalah ketua Perkumpulan Mahasiswa Inggris, dan ketua bagi lorong di asramanya. Tak hanya itu, dia dalam daftar kandidat ketua angkatan bagi BEM*. Dia tak tahu apa yang harus ia perbuat bila ia mendapat tambahan dua jabatan ketua angkatan.
"Jangan rendah diri begitu! Ketika orang melihatmu, mereka tahu ada wajah leadership padamu!"
Arthur kembali menggeleng tidak setuju. Kepemimpinan memangnya bisa dilihat dari wajah? Orang-orang hanya suka memberinya banyak beban dan tanggungjawab.
Sepanjang perjalanan, Ratna terus berceloteh, tak peduli dengan respon Arthur yang hanya dengan anggukan dan gelengan.
(**********)
"Kalian terlambat."
Arthur tahu itu. Sejak dia melihat Ratna menghampirinya, dia tahu dia akan terlambat. Sampai 20 menit pula.
"Kalian yang tidak membiarkan kami makan terlebih dahulu! Kami lapar tahu!" seru Ratna, membantah kakak angkatan tanpa rasa takut.
Arthur diam. Dia hanya berharap urusan itu cepat selesai, dan juga, tidak ingin menjadi ketua angkatan untuk klub tersebut.
(***********)
"Sayang sekali, kau menyerahkan jabatan itu pada Ludwig."
"Dia lebih pantas," jawab Arthur singkat.
"Ya sudahlah," Ratna menghela nafas lalu tersenyum, "Oh ya, kau ingin langsung kembali ke asrama atau?"
"Aku ingin membeli makan dulu."
"Kalau begitu aku duluan!" Ratna melambaikan tangannya sebelum bergabung bersama teman-teman mahasiswinya.
Arthur langsung berjalan pulang, tidak peduli dengan beberapa panggilan, termasuk dari kakak kelas. Dia ingin segera membeli makan lalu ke asrama untuk menyelesaikan laporan yang harus dikumpulkan besok.
Dia juga tidak menyadari bagaimana saat ia berpapasan dengan Ratna dengan teman-temannya, bahwa mereka sedang membicarakannya dengan berbisik-bisik.
(*********)
Arthur mengunjungi minimarket dan segera mengambil roti tawar untuk sarapan, lalu membayar. Itu yang ingin direncanakannya, sebelum seseorang memperlambat gerakannya. Orang itu juga ingin membeli roti tawar, tangan mereka hampir bersentuhan sewaktu ingin mengambil roti tawar yang sama.
"Ahh maaf, kau ambil saja yang ini," Orang tersebut suaranya seperti air sungai yang mengalir, nyaring tetapi menyejukkan.
Arthur tentunya mendongak untuk melihat siapa pemilik suara tersebut yang memperlambatnya. Seorang gadis, seorang mahasiswi, yang sepertinya seumuran dengannya, berada di hadapannya. Di wajahnya yang putih berseri terdapat senyuman. Dia lantas membalasnya dengan senyuman kecil.
"Tidak apa-apa, kau ambillah yang ini," jawab Arthur sebelum mengambil roti tawar yang lain di atas rak tersebut. Sebelum dia berbalik untuk langsung menuju kasir, dari pandangannya mendapatkan sepasang mata hijau yang indah. Dia tidak menyempatkan untuk memandangi dan merasakan betapa indahnya mata tersebut.
Dalam waktu beberapa menit Arthur telah selesai bertransaksi, lalu kembali melanjutkan perjalanannnya menuju asrama.
(**********)
"Aku seharusnya tidak ikut. Aku seharusnya tidak ikut," gumaman Arthur dapat didengar oleh Antonio, lantas dia tersenyum. Jadwal kuliah dan praktek mereka yang Senin-Sabtu akhirnya berakhir. Pagi di hari minggu itu Antonio dapat menjalankan rencana saat dia tidak sengaja tertidur di kasur milik Arthur.
Dia, Arthur, Aiko, Livio, Mei, Kiku, Rose dan dua orang lainnya yang dia yakin menyukai Arthur. Mereka bersebelas mengawali kegiatan yang dicanangkannya dengan bersepeda. Dengan cepat dia mendahului Arthur dan bersepeda di sebelah Mei. Arthur juga didahului oleh mereka semua sehingga dia bersepeda paling akhir, dan sepertinya hal itu disengaja. Jelas sekali Arthur tidak menginginkan keberadaannya di situ. Apabila dia melakukan sesuatu, seperti keluar dari rombongan, Antonio tak akan memaafkannya.
"Jadi Arthur, aku dengar kau jadi ketua BEM angkatan kita," Antonio rupanya tak harus berlama-lama khawatir karena dua gadis selain Aiko, Mei dan Rose dengan cepat menyejajarkan laju sepeda mereka dengan Arthur.
Arthur hanya menatap gadis yang bertanya padanya dengan sekilas kemudian kembali melihat arah jalan sepeda. "Begitulah."
"Selamat ya!" kali ini datang dari gadis yang lain. Ya, mereka bersepeda di kanan dan kiri nya. Gadis di kanannya yang pertama kali berkata, tampak keturunan China seperti Mei. Gadis di kirinya berbeda jauh sekali, rambutnya seperti warna krim kecoklatan dan matanya biru.
"Terimakasih,"
"Aku Wang Chun Yan, tapi panggil aku Chun Yan, aku dan Mei adalah sepupu!" seru gadis China di sebelahnya. Belum sempat dia merespon perkenalan dari gadis itu, gadis di sebelahnya yang lain dengan cepat berseru.
"Aku Amelia! Dari Amerika dan departemen Gizi!"
Arthur berpikir, dari mana Antonio mendapatkan kedua gadis itu. Dia tidak dapat merespon mereka satu-satu karena mereka terus berceloteh dan bersahut-sahutan. Akhirnya sepanjang perjalanan dia memutuskan untuk diam dan setengah mendengarkan.
(********)
"Jadi bagaimana, Arthur? Kedua gadis itu manis bukan?" tanya Antonio. Kegiatan bersepeda itu sekaligus bermain sepakbola secara kecil-kecilan akhirnya selesai. Dia, Arthur dan Livio baru saja mengembalikan sepeda milik kampus, sekarang mereka bersama-sama kembali ke asrama.
"Kau mengenal mereka dari mana?" tanya Arthur tanpa melihat mahasiswa Spanyol itu.
"Aku mengenal Amelia sejak daftar ulang. Dia ketua klub fotografi asrama lho! Lalu Chun Yan adalah sepupu Mei. Mei yang mengajaknya. Tetapi tidak sia-sia kan aku mengajak mereka? Jadi? Siapa yang membuatmu tertarik?"
"Tidak ada,"
"Eh?"
Arthur tiba-tiba berhenti, Antonio lantas berhenti dan bertanya-tanya.
"Jangan buat kegiatan macam itu! Sebenarnya apa tujuanmu? Mencarikan aku pacar? Peduli sekali kau! Mulai sekarang, urusi saja dirimu sendiri!" Arthur berkata dengan penuh emosi, matanya yang hijau terkunci pada Antonio penuh keseriusan. Dia menekan kalimatnya yang terakhir. Setelah merasa cukup jelas dan cukup serius, dia memutar tubuhnya lalu berjalan meninggalkan Antonio, juga meninggalkan Livio.
Keduanya menatap Arthur dengan penuh keterkejutan dan kebingungan di wajah mereka. Antonio begitu terguncang karena dia tidak mengharapkan jawaban seperti itu dari temannya. Dia ingin Arthur senang, tetapi mengapa dia menjadi sangat marah? Apa salahnya? Dia dengannya adalah teman, teman sejak lama, tentunya dia harus peduli, tetapi kenapa Arthur malah berkata seperti tidak ingin diganggu? Mengapa tujuan baiknya direspon dengan penolakan?
Livio menatap kepergian Arthur, juga melihat bagaimana perubahan raut wajah Antonio. Arthur tentunya sangat serius sampai melupakan kehadirannya. Antonio tentunya diliputi oleh beribu pertanyaan. Dia juga tidak mengerti. Dia menikmati kegiatan hari itu. Rose bersamanya, dan itu cukup membuatnya senang. Antonio juga, menikmati waktunya dengan Aiko. Jadi bagaimana dengan Arthur? Sesuatu menyentak Livio, dia akhirnya mengerti. Dengan cepat dia mengambil langkah menyusul Arthur.
[**********]
Preview chapter selanjutnya:
Perang dingin! Istilah yang tepat untuk menamai situasi Arthur dan Antonio selanjutnya. Arthur merasa Antonio tidak berhak mengurusi percintaannya, sementara Antonio merasa kepeduliannya itu tidak salah sebagai seorang teman. Livio, sebagai teman sekamar mereka berdua, dia merasakan dampak yang besar dari perang dingin ini! Kedua sahabat yang memang tak pernah mempunyai pemikiran yang sama ini harus diakurkan kembali!
[**********]
AN:
Maaf banget updatenya terlalu lama. Maklum, belum liburan. Besok saya ada praktikum (ya, praktikum hari sabtu), tetapi entah kenapa saya sangat ingin melanjutkan fanfic ini. Semoga chapter kali ini memuaskan kalian!
* saya mengusahakan hampir semua nation seumuran. Mungkin hanya beberapa pengecualian seperti Scotland dan saudara-saudara dari Arthur.
*BEM. Ya, Badan Eksekutif Mahasiswa! OSIS-nya mahasiswa!
