Jazalea and Oh Mari present

.

See You Again

.

Jeon Wonwoo

Kim Mingyu

Seventeen

.

(All cast are God's)

.

CHAPTER 1

-JUST WHY?-

.

"Sometimes you gotta accept the fact that certain things will never go back to how they used to be"

.

Suara lantunan lagu itu membahana di dalam ruangan yang di kedua sisi dindingnya dilapisi oleh cermin besar. Dari cermin itu terlihat tiga belas lelaki tengah bergerak mengikuti irama dari speaker besar di belakang ruangan. Wajah mereka terlihat lelah namun pancaran semangat begitu kentara dari kedua mata mereka. Tubuh mereka sudah basah karena peluh yang terus menetes tetapi hal itu tidak menghentikan mereka untuk tetap bergerak hingga lagu itu berakhir. Nafas mereka tersengal ketika gerakan terakhir baru saja mereka lakukan. Dada mereka terlihat naik turun seiring dengan nafas mereka yang terasa begitu berat.

Mereka masih menatap pada cermin sembari mempertahankan ekspresi garang mereka selama beberapa detik sebelum akhirnya mereka terjatuh di atas lantai kayu. Mereka mencoba meraup oksigen sebanyak yang mereka bisa dan mengatur nafas yang begitu berantakan. Beberapa di antara mereka bahkan menyempatkan diri untuk menutup mata mereka selama sejenak. Erangan lelah muncul dari celah-celah bibir mereka.

Entah sudah berapa lama mereka berada di dalam ruangan itu dan berlatih hingga mereka hampir tidak bisa merasakan kaki mereka sendiri. Mereka mencurahkan semua tenaga mereka untuk berlatih menjelang hari yang sudah di tunggu-tunggu oleh ketiga belas lelaki tersebut. Hari dimana mereka akan memulai perjalanan mereka yang lebih panjang lagi. Hari dimana lembaran baru akan dimulai untuk ketiga belas remaja yang kini kelelahan di studio latihan.

Hari dimana akhirnya mereka akan tampil di hadapan banyak orang sebagai satu tim. Hari dimana mereka akan merasakan cinta yang begitu luar biasa dari para penggemar. Hari ketika mereka dengan bangga bisa mengatakan "Saya adalah member Seventeen". Mereka sudah menunggu hari itu selama bertahun-tahun lamanya. Semua jerih payah dan usaha mereka akhirnya terbayar dengan debut mereka esok hari.

Usaha yang tidak mudah dan selalu menemui rintangan. Usaha yang membuat mereka merasa lelah dan kadang ingin menangis. Bahkan ada saat dimana mereka ingin berhenti karena sudah tak sanggup lagi. Namun, mimpi mereka membuat mereka tetap bertahan dan terus merangkak menghadapi rintangan-rintangan tersebut. Mereka sudah mengorbankan segalanya, waktu mereka untuk bermain, waktu mereka untuk beristirahat, mereka korban kan kebahagiaan mereka hanya untuk hari debut mereka.

Semua waktu tidur dan waktu bersenang-senang yang tergantikan untuk berlatih dan terus menaikkan kemampuan mereka dalam bernyanyi dan menari, setelah ini akhirnya terbayar sudah. Kini mereka bisa tersenyum dengan lega dan bangga walaupun kedepannya nanti, mereka tahu jalan yang mereka lalui akan semakin mendapat banyak rintangan yang harus mereka hadapi.

"Jam berapa sekarang?" suara parau itu terdengar mengisi studio yang hening. Beberapa member menoleh dan mendapati Seungcheol, leader mereka tengah bersandar pada tembok.

"Kurasa jam 4," jawab Jihoon.

"Sudah berapa lama kita berlatih?" tanya sang leader lagi.

"Mungkin kira-kira 15 jam? Entahlah, aku bahkan punya tenaga untuk menghitung waktu kita berlatih," jawab Hoshi dengan mata terpejam.

"Sebaiknya kita pulang. Kita harus beristirahat." Seungcheol beranjak dari duduknya dan meraih hoodie serta tas punggungnya. Kedua belas lelaki lainnya mengikuti sang leader dan berjalan kembali ke dorm mereka yang tidak jauh dari studio.

"Kau lelah?" tanya Wonwoo pada seorang lelaki yang berjalan di sampingnya dengan mata setengah terpejam.

"Sedikit," ucapnya pelan hampir serupa bisikan. Wonwoo tertawa kecil lalu meraih tas punggung laki-laki itu dan menyampirkan tas itu di punggungnya.

"Hyung, biar aku saja," ujar laki-laki yang ternyata adalah Mingyu itu.

"Diamlah. Aku sedang berbaik hati padamu," jawab Wonwoo. Laki-laki bertubuh tinggi itu tidak menjawab lagi dan kembali melanjutkan perjalanan yang terasa sangat panjang.

.

Tiga belas lelaki itu segera melemparkan diri mereka ke atas tempat tidur ketika mereka sampai di dorm. Tubuh mereka sudah kehilangan kekuatannya bahkan hanya untuk sekedar bangun dan membersihkan diri di kamar mandi. Tapi tidak dengan Mingyu, meski matanya sudah sangat berat dan tubuhnya sudah meronta untuk di istirahatkan, ia masih memaksa dirinya untuk bangun dan mandi.

Setelah tubuhnya kembali segar, ia melangkah ke kamarnya dan melihat Wonwoo dan Jun sudah tergeletak di ranjang mereka masing-masing. Mingyu menggelengkan kepalanya melihat Wonwoo yang telah tertidur lelap tanpa mengganti pakaiannya.

"Hyung." Mingyu menggerakkan lengan Wonwoo namun lelaki kurus itu sama sekali tidak bereaksi.

"Hyung, hyungggg, bangunlah. Kau harus mandi," ucap Mingyu lagi dan untungnya kini Wonwoo bereaksi. Laki-laki itu membalikkan tubuhnya dan menghindari sentuhan Mingyu yang mengganggu tidurnya. Laki-laki tinggi itu berdecak lalu menaiki tangga kecil di sisi tempat tidurnya dan dengan sekali gerakan ia menyingkirkan selimut yang membungkus tubuh Wonwoo.

"Wonwoo hyung bangun!"

"Mingyu jangan ganggu aku ish!"

"Kau harus mandi hyung."

"Aku akan mandi nanti ketika aku bangun," ucap Wonwoo sembari menarik kembali selimutnya namun dengan sigap Mingyu menyingkirkan selimut itu hingga Wonwoo tidak bisa meraihnya.

"Yah! Kim Mingyu!"

"Wonwoo, Mingyu kalian sangat berisik!" geram Jun.

"Maaf hyung, aku hanya ingin membangunkan sloth satu ini."

"Wonwoo cepat lakukan apa yang Mingyu mau. Aku ingin tidur."

"Nah dengarkan Jun-hyung, lakukan apa yang aku mau, hyung!" ucap Mingyu sembari tersenyum hingga menampilkan deretan giginya yang unik kepada Wonwoo.

"Diamlah." Wonwoo hendak melanjutkan tidurnya ketika tangan Mingyu meraih tubuhnya dan menggendong tubuh kecilnya dari tempat tidurnya yang nyaman.

"Yah! Kim Mingyu! Kubunuh kau!"

.

.

Flash kamera terus mengisi ruangan yang didominasi dengan warna coklat muda itu. Di depan kamera, tiga orang laki-laki tengah berpose menampilkan sisi maskulin mereka dengan pakaian serba hitam. Sebaliknya di belakang kamera, beberapa crew sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri. Beberapa di antaranya sibuk membenahi pakaian para member, beberapa menyapukan bedak di wajah tampan para member dan beberapa sibuk mengatur pencahayaan dan teknis pemotretan hari itu.

Meski tubuh mereka kelelahan tetapi setiap member Seventeen berusaha memberikan peforma terbaik mereka di depan kamera. Bahkan Jihoon yang hampir tidak tidur karena mengecek ulang lagu buatannya tampak begitu profesional berpose di depan kamera. Sebaliknya, Wonwoo yang masih menunggu gilirannya untuk di panggil kini tengah menyandarkan kepalanya pada bahu Mingyu sambil memejamkan mata.

"Hai! Kami tengah melakukan photoshoot di sini!" suara Soonyoung yang cukup keras membuat Mingyu menolehkan kepalanya dan melihat laki-laki bermata sipit itu tengah memegang kamera yang di arahkan ke wajahnya dan Seokmin.

"Oh lihatlah! Waahh, Seungcheol-hyung memang benar-benar mengagumkan!" Kini laki-laki itu mengarahkan kameranya ke arah Seungcheol, Jihoon dan Chan yang tengah berpose untuk kamera.

"Jihoon-hyung tampak menggemaskan." Tambah Seokmin yang segera mendapat death glare dari laki-laki bertubuh kecil di depan sana.

"Aku hanya bercanda, hyung!" balas Seokmin dengan aegyonya yang selalu membuat siapa saja yang melihatnya luluh.

"Baiklah-baiklah, mari kita lihat para member lainnya. Member-deul dimana kalian?" Soonyoung mengarahkan kamera itu kembali ke wajahnya dan berjalan ke arah Jisoo yang tengah membenahi pakaiannya.

"Oh Hongg! Yo Hongg!" sapa Soonyoung yang kini mengarahkan kameranya pada pemuda asal LA tersebut.

"Apa yang kau lakukan hyung?" tanya Seokmin

"My clothes are too long so they make it shorter," jawab Jisoo dengan aksen Americanya.

"Oh! Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan hyung."

"Baiklah kita tinggalkan saja Shua-hyung~" ucap Soonyoung yang membuat ia dan Seokmin terkikik kecil. Pemuda sipit tersebut kemudian memutar tubuhnya dan berjalan ke arah Mingyu dan Wonwoo.

"Gyu-ie! Won-ie!" ucap Soonyoung dengan keras sampai membuat Wonwoo terbangun dari tidurnya.

"Ada apa ini?" tanya Wonwoo kesal.

"Wonwoo-hyung, apa semalam kau tidak tidur?" tanya Seokmin.

"Dia tidur," sergah Mingyu yang membuat Wonwoo meliriknya malas. "Ia tidur dengan sangat nyenyak. Bahkan kau tahu? Wonu-hyung mengorok hingga aku tidak bisa tidur," imbuh Mingyu. Dengan cepat, Wonwoo menghadiahi Mingyu dengan pukulan di kepalanya.

"Siapa yang mengorok?" balas Wonwoo tak terima.

Soonyoung dan Seokmin yang melihat kedua orang itu hanya bisa tertawa. Memang pertengkaran dua orang beda sifat itu kadang sangat konyol dan menggelikan. Walau begitu, mereka sulit dipisahkan satu sama lain. Bahkan bisa dibilang mereka sepaket, ada Mingyu harus ada Wonwoo, dan begitu sebaliknya.

"Wonwoo-ya~ Apa kau tahu jika kalian berdua sangat cocok?" goda Soonyoung yang tidak tahan dengan kelakuan teman segrupnya itu.

"Kami? Oh tentu saja! Iya kan, hyung?" jawab Mingyu sembari meraih tangan Wonwoo dan menyelipkan jari-jarinya di sana.

"Tentu saja." Wonwoo tertawa dan menunjukkan tangannya yang menggenggam tangan Mingyu erat.

"Baiklah Wonwoo, lanjutkan tidurmu. Ayo kita melihat member lainnya," ucap Soonyoung sembari beralih ke mangsa berikutnya.

"Hyung, kau masih mengantuk?" tanya Mingyu begitu Soonyoung dan Seokmin sudah jauh dari posisi mereka.

"Sedikit," jawab Wonwoo.

"Tidurlah lagi kalau begitu," ujar Mingyu sembari menepuk bahunya mengisyaratkan Wonwoo untuk kembali bersandar dan tidur di sana.

"Leherku sakit setelah tidur di bahumu," jawab Wonwoo sambil memegang lehernya yang memang terasa kaku.

"Baiklah kalau begitu tidurlah di sini," Kali ini pemuda bermarga Kim itu menepuk pahanya. Wonwoo menaikkan kedua alisnya.

"Kenapa?" tanya Mingyu.

"Aku tidur di pahamu?"

"Kau bilang lehermu sakit jika tidur di bahuku?"

"Baiklah, jangan salahkan aku jika kau pegal nanti!" Wonwoo menghembuskan nafasnya lalu merebahkan kepalanya di atas paha Mingyu lalu memejamkan kedua matanya.

"Apa lehermu masih sakit?"

"Tidak juga, pahamu besar jadi empuk hehehe."

"Haish, pergi saja sana!" Mingyu mendengus pura-pura kesal yang kemudian dihadiahi sebuah pout oleh sang hyung hingga ia tidak berkutik.

"Makanya, jangan menghina paha indahku ya! Sudah, tidurlah hyung. Aku akan membangunkanmu jika sudah giliranmu."

"Hmm, awas sampai lupa, Gyu!"

Mingyu menatap wajah Wonwoo lalu tersenyum.

Kau memang benar-benar seperti sloth, hyung.

.

Mingyu merasa begitu lelah. Entah sudah berapa lama ia menunggu photoshoot ini untuk berakhir. Gilirannya sudah selesai dari tadi dan itu berarti kini dia bisa setidaknya bersantai sedikit. Kedua matanya terasa berat dan tiba-tiba dia merasa begitu mengantuk. Dia benar-benar bosan. Satu-satunya orang yang biasanya bercengkrama dengannya kini tengah tertidur diatas pahanya dan seperti nya dia benar-benar pulas.

Mingyu tidak tega harus membangunkan Wonwoo hanya untuk meminta hyung tersayangnya untuk menemaninya agar dia tidak bosan. Dia juga tidak mungkin pergi ke arah Soonyoung atau Seokmin untuk menghilangkan rasa bosannya. Mingyu akhirnya memutuskan untuk ikut memejamkan matanya sembari menunggu gilirannya.

"Jeon Wonwoo-ssi."

Suara itu mengagetkan Mingyu yang baru saja hendak pergi ke alam mimpi. Ia membuka matanya lalu mengguncang bahu laki-laki yang tertidur di pangkuannya pelan.

"Hyung, bangunlah." Wonwoo menggeliatkan badannya pelan.

"Hyung, bangunlah. Sekarang giliranmu," ucap Mingyu. Wonwoo menguap kecil sebelum membuka matanya perlahan.

"Giliranku?" tanyanya sembari menegakkan tubuhnya. Mingyu mengangguk.

"Baiklah. Aku duluan. Terima kasih Mingyu-ya." Laki-laki itu berjalan meninggalkan Mingyu yang masih duduk di ujung ruangan.

Mingyu melihat laki-laki itu sudah berdiri di depan kamera sekarang dan siap untuk berpose. Mingyu bertanya-tanya siapa yang mungkin melakukan photoshoot dengan sahabatnya itu, tetapi tak ada siapapun yang menemani Wonwoo di depan kamera. Laki-laki itu berpose sendirian. Mingyu mengerutkan keningnya. Apa Wonwoo mendapatkan solo photoshoot?

"Yah, yah, keren juga si Jeon itu." Tiba-tiba, Seungcheol datang dan merangkul Mingyu dan membuat Mingyu semakin bingung.

Melihat wajah dongsaeng tiangnya yang terlihat bingung, Seungcheol kembali membuka suara, "Kau tahu? Ia sangat digilai para fans sekarang, jadi Jeon satu itu diberi kesempatan untuk berfoto sendiri. Wanita memang lemah dengan pria bersuara rendah hahaha!" ujar Seungcheol sambil menepuk bahu Mingyu sebelum ia kembali pergi mengambil minum.

Perkataan sang leader mau tak mau membuat otak Mingyu berjalan. Setahu Mingyu, orang yang akan mendapatkan solo photoshoot adalah visual grup dan visual Seventeen adalah dia, Kim Mingyu bukan Jeon Wonwoo. Tapi kenapa Wonwoo yang mendapat solo photoshoot? Apa setelah ini dia juga akan mendapat solo photoshoot? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala seorang Kim Mingyu.

Bukan kah aku yang berhak atas solo photoshoot? Kenapa harus Wonwoo hyung yang mendapatkannya? Bukankah aku visual di grup ini?

Dan untuk pertama kalinya Mingyu merasa marah kepada Wonwoo.

.

.

Ketiga belas laki-laki itu baru saja menapakkan kaki mereka di dorm setelah hampir 14 jam bekerja hanya untuk photoshoot hari ini. Mereka benar-benar kelelahan dan yang mereka inginkan saat ini hanyalah tidur. Ya, mereka sangat membutuhkan istirahat yang cukup setelah hampir 3 bulan mereka hanya bisa tidur selama 2 atau 3 jam sehari. Setelah debut setidaknya mereka bisa beristirahat sedikit di sela-sela kesibukkan mereka. Wonwoo merebahkan dirinya di atas tempat tidur Mingyu. Well, dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk naik ke tempat tidurnya yang ada di atas tempat tidur Mingyu dan ia tahu Mingyu tidak akan keberatan jika ia tidur di tempat tidur laki-laki itu.

Mingyu yang baru saja masuk kamar setelah membersihkan diri melihat Wonwoo yang sudah terlelap di tempat tidurnya. Dia tersenyum tipis lalu sebuah kalimat terngiang di kepalanya membuat senyuman itu pudar seketika. Ia berjalan keluar kamar lalu masuk ke kamar milik Jeonghan dan Seungcheol. Ia menghampiri Jeonghan lalu merebahkan dirinya di samping tubuh Jeonghan.

"Yah Mingyu ya~ Ada apa?" ujar Jeonghan terkejut dengan suaranya terdengar parau dan matanya hanya setengah terbuka.

"Hyung, boleh aku tidur di sini?"

"Kau punya tempat tidurmu sendiri kan?"

"Wonwoo hyung tidur di tempatku."

"Bangun kan dia dan tidurlah di tempat mu sendiri, Gyu~"

"Aku tidak ingin membangunkannya. Dia terlihat sangat lelah."

"Kalau begitu tidurlah di kasur Wonwoo."

"Hyung, aku mohon. Boleh kan aku tidur di sini?"

"Ah ya sudahlah. Tidurlah. Selamat malam."

"Hmm."

.

Kenapa kau merebut apa yang seharusnya menjadi milikku, Wonwoo hyung?

.

.

"Bangun semuanya! Waktunya berlatih!" Teriakan sang leader membahana di dalam dorm yang sepi itu. Beberapa member yang tidur di ruang tengah terkejut lalu membuka mata mereka lebar-lebar.

"Yah! Seungcheol-hyung, kau mengganggu tidurku," oceh Seokmin yang kini duduk dengan mata masih terpejam.

"Hyung, ini masih pagi," sahut Seungkwan yang masih bergelung di bawah selimut tebalnya.

"Sebentar lagi, hyung. Aku masih lelah," gumam Vernon di bawah selimutnya.

"Ayolah. Kita akan tampil lagi besok dan kita harus menampilkan yang terbaik." Lagi-lagi Seungcheol mengutarakan kalimat andalannya. Membuat siapa saja di dorm merasa bosan dengan kata-kata Seungcheol.

Jihoon baru saja akan melawan ketika suara pintu terbuka menginterupsi kata-katanya. Dari balik pintu itu terlihat Wonwoo yang masih dengan wajah mengantuk keluar dengan langkah gontai.

"Apa kalian melihat Mingyu?" ucapnya di sela-sela kegiatan menguapnya.

"Dia ada di kamarku," jawab Seungcheol. "Ada apa memangnya?"

"Tidak apa hyung. Semalam aku tertidur di kasurnya."

"Bukannya seperti biasa kalian tidur satu kasur? Mengapa dia tidur sekasur dengan Jeonghan semalam?" Kata-kata Seungcheol berhasil membuat Wonwoo terbangun total.

"Dia tidur dengan Jeonghan hyung?"

Seungcheol menganggukan kepalanya, "Kenapa Wonwoo-ya?".

"Ah tidak. Kukira dia dimana. Baiklah kalau begitu." Wonwoo kembali melangkah ke kamarnya.

"Yah! Wonwoo-ya! Kita harus berlatih!"

.

Wonwoo merasa bingung. Apa dia melakukan kesalahan? Apa dia mengatakan sesuatu yang salah pada Mingyu? Ia menggelengkan kepalanya. Setahunya dia tidak mengatakan hal yang salah pada Mingyu dan dia juga tidak menyinggung laki-laki itu. Kemarin Mingyu baik-baik saja, tetapi memang setelah photoshoot berakhir Mingyu mulai bertingkah aneh. Dia mengacuhkan Wonwoo dan tidak seperti biasanya Mingyu seperti itu.

Mingyu selalu mengikuti Wonwoo kemanapun Wonwoo pergi dan dia tidak pernah mengacuhkan Wonwoo begitu saja kecuali Wonwoo telah mencuri snacknya. Tapi seingatnya, Wonwoo tidak mencuri snack Mingyu kemarin. Apa dia sudah melakukan sesuatu yang salah? Kenapa Mingyu menjauh darinya?

"Wonwoo, kau baik-baik saja?" suara itu membuyarkan lamunan Wonwoo.

"Ah, aku baik-baik saja Jun. Ada apa?"

"Tidak. Kau terlihat pucat dan bingung."

"Ah, aku baik-baik saja. Mungkin hanya sedikit lelah."

"Baiklah. Ayo kutemani jalan," ucap Jun lalu melangkah sejajar dengan Wonwoo.

"Tumben kau tidak bersama Mingyu?" ucapan Jun membuat Wonwoo menengadahkan kepalanya. Ia memandang Jun sejenak lalu mengalihkan perhatiannya pada lelaki yang kini tengah bercanda bahagia dengan Jeonghan. Wonwoo tidak dapat menjawab karena pertanyaan itu juga yang kini ada di benaknya. Tumben Mingyu tidak merangkulnya dan berjalan bersama? Kenapa Mingyu malah meninggalkannya sendirian? Kenapa kini laki-laki tinggi itu malah berjalan bersama Jeonghan?

"Wonwoo-ya?"

"Ah iya. Kenapa?"

"Kita sudah sampai. Ayo masuk." Ajak Jun sambil merangkul bahu laki-laki itu.

"Ah iya." Mereka melangkah memasuki gedung itu. Di belakang mereka seorang laki-laki menggertakkan giginya. Entah kenapa ada sesuatu yang mengganggu ketika dia melihat sahabatnya bersama orang lain. Tetapi Wonwoo tak menyadarinya. Satu hal yang ada di pikirannya saat ini adalah,

Mingyu-ya~ ada apa denganmu sekarang?

.

.

Authors' Note

Ditunggu reviewnya, thankies :D