Maaf ya kalau updatenya lama ini chapter 2 Battle 100. Selamat membaca

"Nothing action, Nothing special" ^^

Author-Yoshino

Desclaimer-Masashi Kashimoto

Battle 100 ..

Chapter 2

Hambatan dan Larangan

Naruto membuka pintu rumahnya, "Tadai ma" Ucapnya sedikit keras.

"Okari" Balas ibu Naruto. Uzumaki Kushina sambil tersenyum. Terlihat ia sedang menghidangkan makanan di meja makan.

"Tou-san, belum pulang ya?" Tanya Naruto sambil duduk di kursi meja makan. Kemudian dia melepas rompi hijau yang ia kenakan.

"Tou-san belum pulang, dia sangat sibuk akhir-akhir ini."Jawab Ibu Naruto yang masih sibuk menyiapkan makanan.

Naruto hanya melihat ke bawah (Lantai). "Sokka? pantas saja ia jarang pulang, secara dia adalah pemimpin dewan keamanan di area utara ini, Sugoi na." Pikir Naruto melamun.

"Kenapa Naruto?" Tanya Ibu Naruto yang dari tadi memperhatikannya.

"Tidak ada apa-apa Oka-san." Balas Naruto singkat.

"Aku dengar, Senju Hashirama pemimpin Negara ini akan segera mengundurkan diri, dan ia akan mengadakan tournamen untuk menemukan calon penggantinya, apa itu benar?" Ucap Oka-san yang tengah selesai menyiapkan makanan dan duduk di sebelah Naruto.

"Jadi Oka-san sudah mendengarnya?" Tanya Naruto singkat. Dan Naruto langsung melanjutkan apa yang ingin dibicarakannya "Aku akan mengikuti tournament itu, ttebayou." Balas Naruto tersenyum.

"Apa kau bilang!? Ibu tidak mendengarnya, bisa kau ulangi lagi?" Jawab Oka-san dengan wajah yang sangat menakutkan.

"Aku akan mengikutinya, Oka san!. Apa kurang jelas." Teriak Naruto keras. Hal itu membuat ibunya semakin marah dan wajahnya semakin menakutkan.

"Sudah berani ya?, membentak ibu seperti itu. pokoknya tidak boleh ya tidak boleh jangan membantah!, ttebanne" Balas Ibu Naruto dengan berteriak lebih keras dari Naruto.

"Oka-san? Kenapa aku tidak boleh mengikutinya?" Tanya Naruto dengan suara yang halus dan pelan.

"Kau sudah tahu alasannya, jadi aku tidak akan memberitahumu." Jawab Ibu Naruto.

"Terserah ttebayou, aku akan tetap mengikutinya!" Teriak Naruto sambil berjalan meninggalkan Ibunya menuju kamarnya.

Ibu Naruto hanya melihat punggung Naruto yang berjalan meninggalkannya. "Naruto?" Batinnya.

Kemudian Naruto menjatuhkan dirinya ke tempat tidurnya dengan posisi tengkurap. Wajahnya menempel di bantalnya. "Kenapa Oka-san melarangku mengikutinya, aku kan kuat dan aku yakin bisa memenangkan tournament itu." Gumam Naruto.

Beberapa saat kemudian.. jam menunjukkan pukul 20:00

"Are? Aku ketiduran rupanya." Batin Naruto. Matanya masih setengah terbuka dengan air liurnya yang mengalir dari mulutnya. Kemudian ia duduk dan perlahan-lahan berdiri, ia membuka pintu kamarnya dari dalam dan keluar dari kamar tersebut.

"Tou-san sudah pulang ya?" Ucap Naruto sembari menggosok-gosok matanya dengan Naruto masih samar-samar, ia hanya melihat Ayahnya yang duduk disamping ibunya.

"Apa yang kau lakukan kepada ibumu, Naruto!?" Teriak Ayah Naruto, Namikaze Minato.

Kemudian mata Naruto kembali normal dan ia melihat Ibunya yang sedang menangis dihadapannya. "Kenapa Oka-san menangis?" Tanya Naruto terkejut.

"Ayah tidak tahu apa yang terjadi, saat ayah baru saja pulang, ayah melihat ibumu sudah menangis, Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Tou-san serius.

"Tenanglah Minato, aku tidak apa-apa." Ucap Kushina menyela pembicaraan mereka berdua.

"Sebenarnya apa yang terjadi, Kushina?" Tanya Minato lagi.

"Naruto ingin mengikutinya, mengikuti tournament yang berbahaya itu." Jawab Kushina singkat.

"Battle 100 kah?" Ucap Minato, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Naruto. "Apa itu benar Naruto?" Tanya Tou-san serius.

"I-iya Tou-san, itu benar aku ingin mengikutinya." Balas Naruto tergagap, dia tidak berani melihat ke arah ayahnya.

Suasana di rumah itu pun menjadi dingin, suara jangkrik dan angin malam menemani suasana itu. "Kenapa kau ingin mengikutinya?" Tanya Tou-san serius. Tatapannya sangat asing bagi Naruto. "Kenapa tatapan Tou-san seperti itu, sangat menakutkan bahkan lebih menakutkan dari pada Oka-san." Pikir Naruto yang melihat tatapan Ayahnya.

"Karena aku yakin, aku akan memenangkannya dan mewujudkan impianku untuk menjadi pemimpin Negara besar ini." Ucap Naruto yang terbawa suasana, dari ekspresinya ia sangat serius dengan apa yang ia katakan baru saja.

"Sokka?, lebih baik kau tidak perlu susah payah mengikutinya, karena aku akan mengikutinya. Sudah tugas ayah untuk mengikuti Battle 100. Ayah adalah kandidat yang dipilih secara langsung oleh raja Hashirama, sebagai pemimpin dewan keamanan di area utara ini. Ayah wajib mengikutinya, jadi kau tidak perlu mengikutinya. Ya?" Ungkap Tou-san tersenyum sambil memegangi kepala anaknya, Naruto.

"Pikirkanlah perasaan ibu, dia sangat mencemaskanmu, Naruto?" Tambah Tou-san.

"Ibu mengkhawatirkanku?, jadi begitu ya, aku adalah anak tunggal. Jadi ibu tidak ingin aku terlibat dengan sesuatu yang membahayakanku." Pikir Naruto. "Tapi…

Aku akan tetap mengikutinya!" Teriak Naruto sambil berlari keluar rumah.

"Naruto?" Teriak Oka-san sambil berdiri dari tempat duduknya.

"Tenang saja, dia akan segera kembali." Ucap Minato tersenyum kepada istrinya.

"Seperti biasanya kau sangat tenang dan seakan-akan kau tahu semuanya." Jawab Kushina membalas senyuman suaminya tapi air matany tetap menetes dari kedua matanya.

Di taman

Jam menunjukkan pukul 20:57, Terlihat Naruto yang sedang duduk termenung sendirian di taman. Angin malam meniup rambut kuningnya yang halus, rambutnya seperti terbawa angin yang menerpanya. Dia melihat ke bawah dan hanya memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. "Apa yang harus aku lakukan?, aku ingin mengikuti Battle 100, tapi aku juga tidak mau membuat ibu khawatir, berpikirlah… Naruto setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, ini hanyalah hambatan dan larangan, aku harus meminta maaf kepada ibu dan meyakinkannya." Pikir Naruto wajahnya terlihat percaya diri.

Tiba-tiba seseorang datang mendekatinya. "Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?" Ucap Kakashi sensei yang sambil melemparkan minuman kaleng yang ia bawa.

"Arigatou." Ucap Naruto sambil membuka dan meminumnya. "Ahh, ini sangat menyegarkan."

"Apa ada masalah, Naruto?" Tanya Kakashi sensei.

"Tidak ada apa-apa Kakashi sensei." Jawab Naruto singkat. Lalu tiba-tiba saja Kakashi sensei menebak masalah yang sedang dihadapi Naruto. "Apakah ini berhubungan dengan Battle 100?" Tanya Kakashi sensei lagi.

"Iya" Jawab Naruto dengan mood yang sangat jelek. Dalam artian ia sedang tidak bersemangat.

"Aku tahu perasaanmu Naruto, kadang kala kita harus menuruti perintah seseorang dan kadang kala kita juga boleh membantah perintah tersebut, selama itu tidak menyakiti perasaannya. Dan kau sangat beruntung bisa diperhatikan dan dikhawatirkan sampai seperti itu, benarkan Naruto?" Ucap Kakashi sensei tersenyum, senyumannya tidak terlihat jelas karena tertutup penutup wajah, tapi Naruto mengetahuinya karena Kakashi sensei memejamkan mata kanannya.

"Terima kasih Kakashi sensei, aku akan pulang sekarang, ja ne!" Ucap Naruto sambil berlari pulang ke rumahnya. Kakashi sensei hanya melambaikan tangannya dan tersenyum.

"Yosh, aku yakin sekarang aku bisa meyakinkan Oka-san." Batin Naruto penuh keyakinan.

"Tadai ma." Ucap Naruto yang berjalan masuk ke rumahnya.

"Bodoh!, kenapa kau pulang!" Teriak Ibu Naruto yang berlari sambil membawa panci yang terlihat ingin dipukulkan ke kepala Naruto. Melihat itu Naruto sangat panic dan ketakutan "Jadi Oka-san masih marah ya?" Pikirnya termenung sesaat pandangannya hanya tertuju ke bawah dan tidak berani melihat ibunya.

"Bodoh!" Spontan Naruto terkejut, ia tidak dipukul melainkan dipeluk dengan sangat eratnya oleh Oka-san. Pelukan yang sangat hangat

"Kenapa kau lari dari ibu, apa salah ibu?" Ucap Oka-san singkat.

"Gomen, Oka-san, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu, yang aku inginkan hanya mengikuti Battle 100." Balas Naruto dengan jujur.

"Battle 100 terus, yang ada dipikiranmu!" Ucap Oka-san sedikit terpancing. Kemudian Naruto melepas pelukan ibunya.

"Hmm, sebelumnya aku minta maaf, tadi aku berlari meninggalkan ibu begitu saja, aku tau aku salah. Dan aku ingin mengucapkan terima kasih karena ibu telah memperhatikanku dan mencemaskanku, itu membuatku sangat senang.

Tapi….

aku yang sekarang bukanlah anak kecil lagi yang setiap saat harus bergantung kepada Ibu dan Ayah, aku sudah dewasa dan aku sudah bisa melindungi diriku sendiri, maka dari itu Oka-san Percayalah!"

"Naruto?"

Kemudian Ibu Naruto tersenyum mendengar perkataan dari anak tunggalnya tersebut. "Naruto? Kau seperti Ayahmu, yang bisanya hanya membantah Ibu, tapi ya sudahlah, aku akan mengizinkannya, tapi dengan syarat…" Ucap Oka-san pembicaraanya terputus beberapa saat.

"Syaratnya apa!" Jawab Naruto penasaran.

"Kau harus pulang dengan keadaan baik-baik saja, Wakata?"

"Wakata!" Ucap Naruto tersenyum puas. Akhirnya ia mendapatkan izin dari ibunya. Ayah Naruto yang dari tadi berdiri dibalik dinding sambil mendengarkan pembicaraan mereka hanya tersenyum. "Kau memang mirip denganku, Naruto."

Keesokan harinya.

Naruto terlihat tiduran santai di tengah rumput tepatnya berada di bawah pohon. Di tempat latihan seperti biasanya, "Yosh!, Battle 100 tinggal 1 minggu lagi, aku harus berlatih lebih giat lagi untuk meningkatkan kemampuanku. Aku sangat menantikannya, berpetualang, menghadapi musuh-musuh yang tangguh, dan pada akhirnya menang." Pikir Naruto dengan mata bercahaya.

Kemudian terlihat Sakura dari sudut lain yang melihat Naruto dan berjalan mendekatinya. "Naruto? Aku dengar kau akan mengikuti Battle 100?" Tanya Sakura singkat.

"Iya, itu benar ttebayou, memang ada apa Sakura-chan?" Jawab Naruto kemudian ia berbalik bertanya kepada Sakura.

"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya."

"Ano ne Sakura-chan" Wajah Naruto tiba-tiba memerah, seperti ia akan mengucapkan sesuatu kepada Sakura.

"Hm?"

"Jika aku memenangkan Battle 100 ini, M-mmau K-kkah Kau m-mmenikah d-denga-nku?"

Spontan wajah Sakura langsung memerah dengan sendirinya.

"Ha!" Teriak Sakura terkejut.

Pernyataan yang mengejutkan diucapkan oleh Naruto. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Tunggu kelanjutannya!

To be continue..

Chapter 2 END

Tolong Review ya, aku sangat butuh saran & kritik nih

jaa ne!