Chapter 2: Uchiha Sasuke

Sincerity of a Relationship

»«

.

.

.

»«

Summary: Ada bagian di hatiku yang memiliki kekosongan abadi. Bukan hanya karena kehendakku sendiri, tapi juga karena keserakahan manusia. Untungnya, hal itu tidak aku temukan dalam hatimu. Terima kasih. I don't want you to grow up./AU/SasuSaku

»«

.

.

.

»«

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Story © Uchiha Raikatuji

Rate: T+ (Ambil Aman)

Genre: Romance

Pairing: SasuSaku

Warning: Miss typo(s), GJ, AU, alur aneh, etc.

Words: 1.244

»«

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

Don't Like Don't Read!

.

.

.

»«

Tak banyak hal yang bisa kulakukan dengan Sasuke. Terutama karena tempat ini jauh dari kota dan keramaian. Di tempat ramai, tentu saja tidak sedikit orang yang kemudian mengincarku.

Belum lagi Sasuke tidak mengingat banyak tentang keluarganya.

"Apa ada kemajuan dengan ingatanmu?" tanyaku menatap Sasuke.

Pria yang kutanya hanya menggeleng pelan. "Bahkan wajah yang kuingat tidak begitu jelas."

Aku hanya mengangguk kecil. Memahaminya dengan baik.

"Aku pinjam perpustakaanmu." Sasuke bangkit dan berbalik.

Aku tersenyum.

"Rumahku, rumahmu juga, Sasuke-kun."

Sasuke menghilang dari pandanganku saat ia berjalan keluar. Rasanya rumah ini bahkan terlalu luas. Yang paling disukai Sasuke adalah pergi ke perpustakaanku yang berisi buku seadanya. Aku juga jarang mengeceknya. Aku tidak banyak tertarik.

Sesekali kulihat ia berolahraga atau berjalan-jalan ke dalam hutan. Aku terbiasa mengikutinya. Selain karena takut sesuatu terjadi padanya, aku juga tidak bisa terlalu jauh dari pria itu. Mungkin sudah menjadi garis takdirku. Who guess?

Di perpustakaan, Sasuke biasa membaca beberapa buku berat tentang ilmu pasti. Aku tak tahu sejak kapan buku-buku itu ada di sana. Seingatku tou-san dan kaa-san tidak begitu tertarik akan hal itu dulu. Mereka lebih suka mengamati psikologi manusia. Sama sepertiku.

Aku tahu jelas alasan yang membuat mereka akhirnya memutuskan untuk hidup terpencil seperti ini sejak dulu.

Bagiku, jauh dari mana-mana memang jauh lebih menyenangkan. Jauh dari keramaian. Tak akan banyak orang yang mungkin bisa menggangguku. Setidaknya untuk saat ini kemungkinan itu masih di bawah 1%.

Aku memutuskan untuk ke dapur dan membuatkannya kue kering dengan taburan keju di atasnya. Yah… aku tahu dngan jelas dia tidak suka makanan manis, jadi kubuatkan yang asin.

Dengan perlahan, kubuka pintu perpustakaan dan masuk memberikan piring berisi kue kering buatanku.

"Sasuke-kun, apa aku mengganggumu?" tanyaku pelan.

Dia menoleh. "Tidak, Sakura. Masuklah."

Aku masuk dan duduk di sampingnya. Dia membuka sebuah buku tebal tentang DNA. Aku tidak mengerti kenapa dia tertarik tentang hal itu.

"Aku membawakan kue untukmu." kataku pelan berusaha untuk tidak memecah konsentrasinya. Butuh konsentrasi tinggi untuk membaca buku ilmu-ilmu pasti, kan?

"Aa. Arigatou."

Kini dia bahkan tidak menolehkan wajahnya dari buku. Fokusnya cukup bagus. Dia mengambil sepotong dan memasukkannya ke mulut dalam satu suapan.

"Enak." puji Sasuke. Aku tersenyum dan bangkit dari kursiku.

Kini dia menoleh dengan tatapan heran. "Mau ke mana?"

Baru saja kukatakan fokusnya bagus.

Aku tertawa kecil. Sikapnya terkadang memang lucu. Aku mungkin sering bertanya akan ke mana ia pergi, namun tidak selalu. Oh, ayolah, aku baru saja bangkit dari kursi.

"Melihat-lihat buku."

Dia kembali menekuni bukunya dengan pipi yang bersemburat merah tipis. Sasuke mungkin saja menyembunyikannya, tapi tidak padaku. Aku dengan mudah bisa mengetahui perubahan pada suhu tubuhnya sekecil apapun itu. bahkan dengan penerangan seadanya seperti di perpustakaan ini.

"Oh."

Sasuke mengambil dua buah kue dan kembali memasukkannya ke dalam mulut sekaligus seakan berusaha menutupi rasa malunya. Pria raven itu memang lucu. Aku suka sikapnya. Apa setiap pria sepertinya?

Aku meneliti beberapa buku novel. Nyaris semua yang membuatku tertarik sudah aku baca. Ada satu buku lagi. Buku tebal yang berat. Aku menarik buku yang kuperkirakan tebalnya lebih dari 1000 halaman itu.

Setelah dengan susah payah kuambil dari tempatnya, aku kembali ke meja dimana Sasuke duduk.

"Novel apa?"

Dalam sekali lihat, dia bahkan tahu kalau ini novel.

"Lost of Time. Aku belum tahu ceritanya. Tapi dari sinopsisnya menarik."

"Aku tidak suka membaca novel." Sasuke menyuarakan isi hatinya.

"Loh? Kenapa? Novel kan bisa membuat kita lebih mengerti berbagai macam pendapat. Mengerti isi pikiran manusia dan berbagai macam kebiasaan mereka." belaku berada di pihak novel.

"Terkadang novel dibuat atas dasar larinya seorang penulis dari kenyataan."

Aku menyimaknya. Ya, setelah dipikir-pikir, ia memang benar. Seorang penulis yang patah hati mungkin menuliskan sebuah kisah cinta manis hanya untuk menghibur dirinya sendiri dalam kubangan fatamorgana.

"Aku tidak suka itu." kata Sasuke tegas. "Aku benci orang yang lari dari kenyataan. Membohongi diri sendiri."

"Kau benar. Walau aku baru tahu akan hal itu, setelah kulihat lagi terkadang memang benar." kataku pelan. "Aku juga benci orang yang membohongi diri mereka sendiri. Tapi aku tidak benci novel."

Kedua manik kami bertemu. Ada sebuah pesona di sana. Di matanya.

"Aku juga banyak membenci manusia karena banyak dari mereka menyebalkan, serakah, dan tidak tulus." aku setengah menggeram. "Tapi aku tidak benci padamu. Kau teman pertamaku. Terus menemaniku hingga saat ini."

Sasuke terlihat tersenyum tipis.

Ah, aku suka senyumannya. Senyuman itu bisa membuatku terjaga semalaman. Sekali pun itu hanya sebuah senyuman.

"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanyaku saat dia tidak berhenti menatapku intens.

"Ah, tidak. Hanya saja…" dia mengalihkan wajahnya dariku.

"Hanya saja?" tanyaku. Menggodanya. Dia lucu sekali.

"Kau cantik."

Blush.

Wajahku sempurna memerah. Jantungku semakin menggila. Astaga. Aku turut menatap ke arah lain selain padanya.

"A-arigatou." balasku gugup.

Selain terakhir kali aku bertemu banyak pria-pria tampan dulu sekali, ini pertama kalinya ada yang memujiku cantik. Setelah sekian lama. Tentu saja aku gugup. Kami bahkan belum lama saling mengenal satu sama lain.

"Ah, sebaiknya aku ke dapur dan membawa kue lainnya, sepertinya sudah mau habis."

Aku segera berjalan keluar dan bersandar di pintu setelah menutupnya rapat. Berusaha menenangkan diriku sendiri. Degup jantungku tidak juga bisa mereda, tapi rasanya menyenangkan.

Setelah merasa lebih baik aku mulai berjalan menuju dapur.

"Eh, kukira kau sudah pergi." kata Sasuke tiba-tiba saja keluar. Wajahnya terlihat biasa saja seakan tidak pernah terjadi sesuatu karena memang tak ada yang terjadi.

"Yah… aku tadi mengecek beberapa hiasan di sekitar sini. Kupikir sudah mulai usang." jawabku asal.

Sasuke ikut megedarkan pandangannya. Menatapi hiasan yang ada di koridor ini. Guci, lukisan, ukiran-ukiran di dinding, pola keramik, dan pintu besar di belakang kami. "Ah, tidak juga. Design -nya memang agak lama, berbeda dari model modern, tapi tetap terlihat bagus."

"Begitukah?" tanyaku berusaha memastikan. Sasuke mengangguk. "Baguslah kalau begitu."

Kami berjalan bersisian.

"Aku akan mandi dulu. Sudah sore." ucap Sasuke mengingatkanku akan sesuatu.

"Ah, iya. Makan malam. Mau sesuatu selain tomat?" tanyaku penasaran.

"Tidak." tolaknya tegas.

Ah… pantas saja kedua irisnya bisa semenawan itu. Sejernih dan sememesona itu. Dia rajin sekali merawatnya dengan mengonsumsi tomat, makanan dengan kandungan vitamin A di dalamnya.

"Baiklah, aku akan menyiapkannya." kataku. "Oh iya, kau tinggal di sini, kan, malam ini?"

"Ya. Aku pakai kamar atas." jelas Sasuke. Aku mengangguk.

Kami berpisah saat ia mengambil tangga ke atas untuk pergi ke kamar mandi.

Apa yang bisa mengubah ini? Kita sudah sejauh ini. No way to go back now. Aku sangat bersyukur aku bisa bertemu Uchiha Sasuke. Seorang pria yang akan menjadi the one and only. Hanya dia yang bisa membuatku seperti ini.

Kuharap bumi takkan berhenti berputar. Aku masih ingin menikmati waktu bersamanya.

»«

.

.

.

»«

Gadis berambut merah jambu itu berjinjit. Melangkah perlahan ke kamar Sasuke. Membuka pintunya tanpa bersuara. Perlahan terdengar tarikan napas Sasuke yang terdengar halus dan pelan.

Sakura tersenyum menatap wajah damai Sasuke itu. Wajah yang seakan tanpa beban.

Ingin rasanya setiap malam agadis itu melakukan ini. Sakura mendekatkan wajahnya dan memberi kecupan cepat di kening Sasuke.

"Oyasumi." bisiknya pelan, takut-takut akan membangunkan Sasuke.

Inilah yang sering dia lakukan saat Sasuke memutuskan menginap. Menatap wajah itu dan melakukan beberapa skinship ringan. Sakura kembali pergi dan menutup pintu perlahan.

Sebuah senyuman tidak hilang hingga ia sampai di kamarnya.

Sedangkan Sasuke di kamarnya terlihat bersembunyi di dalam selimut. Menutup nyaris seluruh wajahnya yang memerah. Ia menyerah. Ia membuka kelopak matanya. Napasnya memburu seakan baru saja selesai mengitari halaman rumah ini yang kelewat luas. Jatungnya berpacu. Ada sebuah getaran aneh yang ia rasakan menerima prilaku gadis manis yang ia kenal beberapa tahun terakhir.

"Ada apa denganku?"

Dia meremas ravennya. Berusaha menggali informasi di otaknya yang tiba-tiba saja terasa kosong. Mencari jawaban atas apa yang dirasakannya.

»«

.

.

.

»«

To Be Continued

»«

.

.

.

»«

Author's Note:

Hey. I'm back. Get back with me again! Rasanya di akhir minggu aku punya waktu banyak untuk menulis kalau mood-ku bagus. Tinggal di hari biasanya aku koreksi. Biasanya sampai bener-bener bersih dari typo aku harus cek sampai berkali-kali. XD

Sebenernya ini fic udah jadi 2 minggu lalu, hanya saja aku bingung mau update gimana.-.

Ok, review?

Menerima review dalam bentuk apapun (flame, pujian, kritik, saran, request kelanjutan (pasti dipertimbangkan selama masih nyambung dengan alurku), dll) ^^