Deathnote, sudah pasti bukan milik saya...

.

.


Menanti.
Tiada lain yang bisa kulakukan selain hal ini.
Bukan sekarang saja, tapi seterusnya...
Sampai hari itu tiba.
Dan aku,
Tidak bisa melihat lagi.
Selamanya...


Chapter I : The Greatest Detective in The World

Puluhan gedung pencakar langit yang berada dipusat kota Kyoto bertengger dengan kokohnya disaat badai salju menerjang. Jalanan yang umumnya dihiasi oleh kendaraan beroda empat, kini telah berubah menjadi hamparan salju luas tak berujung. Sunyi dan dingin...
Begitulah suasana kota Kyoto saat ini.

Menjelang malam. Badai yang melanda semakin menunjukkan taringnya seolah-olah badai tersebut, tercipta untuk menenggelamkan kota metropolitan itu. Menenggelamkannya dalam lautan salju bersuhu ekstrim dan membekukan semua yang ditimbunnya.

Dapat dipastikan seluruh fasilitas yang ada telah lumpuh. Termasuk diantaranya listrik dan jaringan internet. Kyoto, saat ini hanya tinggal masalah waktu saja.

Disalah satu gedung bagian barat, terlihat sesosok pemuda berambut keacak-acakan dengan pakaian dinginnya berdiri menghadap jendela. Bayang-bayangnya bagaikan setan yang selalu berubah bentuk. Seperti tidak memiliki bentuk asli pada wujudnya. Cahaya putih kemerahan menyinari seluruh ruangan, tempat pria tersebut berada. Ia tidak melakukan apa-apa selain... berdiri.

"Dingin." Bisik sang pemuda ketika telapak tangannya menyentuh kaca jendela tersebut. Dia menulis satu huruf Old English disana.

L.

Itulah yang ditulisnya. Dia menatap huruf tersebut cukup lama sampai bunyi "cklek" mengalihkan perhatian sang pemuda.

"Belum tidur, Ryuzaki...?" Sapa pria paruh baya sambil menenteng sebuah cangkir lilin ditangan kirinya. Dia Quilish Wammy, atau lebih akrab dipanggil Watari.

Pria yang dikenal dengan nama Ryuzaki itu menjawab. "Saya belum mengantuk."

"Apa perlu sesuatu, Ryuzaki?" Tawar Watari dengan sopan.

"Tidak. Ngomong-ngomong soal dia... apa ada informasi?"

Untuk sejenak Watari
terdiam. Bingung. Itulah ekspresi dari raut wajahnya yang kini tidak muda lagi. Sambil memperhatikan
nyala api dicangkir, ia menjawab
"Belum, sampai saat ini namanya belum muncul dipermukaan"

"...Begitu?"

"Sebaiknya jangan tidur terlalu larut, Ryuzaki." Setelah menasehati anak asuhnya, ia berpamit keluar. Bunyi "Blam" menggema dengan pelan dan pria itu kembali memandang huruf L dijendela.

'Beyond... Dimana kamu sekarang?'


Mimpi buruk Kyoto berakhir dengan terbitnya sang fajar dari ufuk timur. Badai telah berhenti sejak pukul 05.00 pagi tadi, dan kini... sudah waktunya bagi warga Kyoto untuk bangkit.

Disana-sini terlihat banyak sekali manusia bahu-membahu dalam membersihkan sisa badai semalam.
Beberapa rumah rusak parah dan sebagian lainnya tertimbun oleh gunungan salju. Hari itu, lebih dari 50 jiwa melayang akibat terjangan badai sedang 300 orang lainnya dinyatakan hilang.

Sekitar pukul 15.00 sore hari, sudah tercatat lebih dari 65 orang ditemukan dalam keadaan membeku. Diperkirakan jumlah tersebut terus meningkat dengan semakin terjangkaunya daerah pelosok.

Dua jam kemudian. Listrik maupun koneksi internet mulai beroperasi. Disusul fasilitas lainnya, hingga pukul 18.00 petang, sudah hampir semua fasilitas berfungsi seperti sediakala.

Para warga telah kembali kerumahnya masing-masing. Tepat pukul 18.45, seluruh aktivitas berhenti bersamaan dengan terbenamnya matahari, Kyoto tertidur dalam pelukan salju.


30 menit sebelumnya...

Kilau keemasan sang mentari terlukis dengan jelas dibawah bayang-bayang malam. Ryuzaki mengamati fenomena tersebut dalam diam. Cahaya kuning keemasan itu telah menelusuri setiap inchi ruangannya. Dilantai, tergeletak 2 komputer jinjing dengan desktop berhuruf L pada salah satunya. Tepat ditengah-tengah laptop, berdiri sebuah mikrofon dengan tombol kecil berukiran L dibadannya.

Ryuzaki berjalan mendekati kedua laptop tersebut. Sambil berjongkok, diketiknya dengan cepat "Surat kabar Jepang" pada kolom pencarian.

Ribuan situs terpajang berurutan. "Daily " Itulah yang dipilihnya dari sekian ribu situs yang terpampang disana.

Ryuzaki mengecek setiap berita yang tertera pada situs tersebut. Baik kasus pembunuhan, perampokan hingga kasus mutilasi tidak luput dari penglihatannya. Namun dari sekian banyak kasus yang ditemukan, tidak satu pun ia menaruh minat untuk diselidiki.

Setelah sekian lama mencari, akhirnya menemukan sebuah kasus yang unik.

"Curse Sacred Rope?" Itulah nama untuk kasus tersebut. Ia membaca dengan seksama. Imajinasinya berkembang setiap kata demi kata yang terbaca.

"Aneh sekaligus menarik." Ucap Ryuzaki seolah-olah untuk dirinya sendiri. Sesudah membaca habis berita itu, ia baru menyadari bahwa huruf W dalam Old English telah terpajang di satu laptop lagi.

Diraihnya sebuah mikrofon yang sembari mengganggur itu, dan ia bertanya "Ada apa, Watari?"

"Ada permintaan dari kepolisian Tokyo…" Jawab Watari diseberang sana dengan suara disamarkan.

"Lanjutkan."

"Ini mengenai kasus yang berhubungan dengan legenda sekitar… nama kasus ini-"

"Saya ambil kasus ini." Timpal Ryuzaki sebelum Watari menyelesaikan kata-katanya itu. Watari poun kaget. Kemudian ia kembali bertanya "…Kau sudah tahu?"

"Ya." Ujar Ryuzaki singkat sambil tersenyum.

Semakin lama nyala keemasan terus meredup hingga tak secercah pun terlihat lagi. Kegelapan kembali menjelang didunia ini.


Sudah seperti apakah dunia ini? Aku ingin tahu...

.

.

To Be Continued...


.
.

mohon maaf jika sedikit membosankan...

nanti saya akan memperbaruinya lagi.

.

Mind to Review?