Najis adalah ketika gurumu memberikan ulangan dan mengharapkan seisi kelas dapet nilai diatas KKM ketika dia sendiri tidak memberikan materi sedikitpun… Dan ya, saya ganti penname. Sapalah Meijin-san! Silahkan panggil saya.. Meijin. *gedubrak*

Hetalia: Axis Powers © Himaruya Hidekaz

Dan lain-lain © Their respective owner(s)

Death Is Weighing Upon Us © Meijin-san

Rate: T (joke parah, kata kasar, dan mild gore- bisa diganti ke M)

Warning: OOC, OC, joke menyinggung, kata kasar, gore (belum parah-parah amat sih), pemanggilan setan, typo, tidak sesuai EYD, garing, mood swing, jomblo dimana-mana, dan parodi yang parah,

Enjoy!

Alfred merasakan tubuhnya beku. Tidak bisa digerakkan. Kalaupun bisa, hal yang bisa dilakukan tubuhnya hanyalah berbalik badan dan berhadapan dengan si penghembus nafas itu.

Nafas itu.. begitu nyata. Menakutkan rasanya ketika kau sedang sendirian di rumah dan tahu-tahu saja ada rangkaian nafas berat terasa di tengkukmu. Siapa sih, yang bakal nggak takut?

Pasrah dengan nasib, Alfred membalikkan badannya dengan pelan.

Dan mendapati di belakangnya..

Tidak ada apa-apa.

CUT! SELAMAT, ANDA BARU SAJA KENA ACARA 'MARI TIPU ORANG BEGO' YANG DISELENGGARAKAN OLEH HETASIAR!

Alfred menarik nafas lega, mengutuki keparanoidannya, seraya menghiraukan narasi kece diatas. Pandangannya menyapu sekeliling ruangan. No, nothing is wrong. Well, hampir semuanya.

Apaan tuh, di belakang kursi komputernya?

Ada dua jejak kaki berlumpur di lantai di belakang kursi.

Serta sebuah pisau daging menggeletak dengan innocent di sampingnya.

Alfred mengeluarkan sebuah teriakan kebanci-bancian.

XXX

Sesuatu yang tidak beres sedang berlangsung di kota ini.

Dokter Vash Zwingli sadar akan hal itu.

Kemarin pagi, Arthur Kirkland, Lukas Bondevik, dan Vladimir Tepescu ditemukan dalam keadaan mengenaskan di sebuah gedung kosong, bersama dengan Gilbert Beilschmidt yang pingsan. Tadi malam, petugas Matthew Williams menemukan rekan sekaligus kembarannya Alfred F. Jones pingsan dengan mulut berbusa di depan komputer, dengan pisau daging dan jejak kaki berlumpur didekatnya. Sementara itu, Antonio Fernandez Carriedo, Ivan Braginsky, Yao Wang, dan Kiet Rattanakosin ditemukan di jalan dalam kondisi bermandikan darah dan tidak sadarkan diri.

Sekarang, rumah sakit kecil Dokter Vash sedang kebanjiran pasien yang nyaris semuanya berada dalam kondisi hidup-mati. Sedangkan bagi yang tidak berada di dalam kondisi tersebut, terancam akan terkena sakit jiwa atas pengalaman mereka, meskipun mereka berdua sudah dicurigai gila sejak dulu.

Ia dan adik angkatnya Lili Zwingli tentu kerepotan dengan segala pasien ini. Belum lagi ketakutan bahwa para pasiennya akan membayar seenak udel mereka seperti biasa- karena menganggap bahwa ia bekerja secara sukarela.

Lili, adik manisnya tersebut sedang sibuk di dapur, membuatkan makan siang untuk kakaknya yang sedang kewalahan menghadapi 'pasiennya'. Lili tidak tahu apa-apa tentang para pasien yang kondisinya mengenaskan karena kakaknya melarangnya untuk mendekati kamar-kamar mereka. Vash hanya mengizinkan Lili menjaga dan merawat sebisanya kedua orang gila yang tengah pingsan.

"Kak, ini makan siangnya." Lili masuk ke kamar kerja Vash dengan senampan makanan berharga sangat terjangkau di tangannya. Kakaknya itu matre dan pelit, meskipun yang bersangkutan enggan mengakuinya.

"Taruh saja disitu." kata Vash sambil masih meneliti sebuah laporan dengan cermat.

"Ada baiknya kakak istirahat sebentar. Tidak baik untuk memaksakan diri." tuntut Lili. Vash yang tidak kuasa membantah adiknya hanya menurut saja. Lili memperhatikan kakaknya makan selama beberapa saat, sebelum pandangannya tertuju pada kertas-kertas di meja.

"Kak.. bagaimana kondisi para pasien yang kakak tangani?" tanyanya.

"Buruk." katanya sekenanya.

"Buruk seperti apa?"

"Lebih baik bagian itu tidak kujelaskan. Kau bisa mimpi buruk nanti." Vash berhenti makan dan memandang kearah jendela. Awan badai bergulung-gulung mendekat.

"Kak?"

"Daripada itu, kelihatannya semua orang juga akan bermimpi buruk."

XXX

Merantau itu bukan hal baru baginya. Kedua orangtuanya dari kecil sudah menganjurkan kepadanya supaya ketika ia besar ia harus pergi dan mencari peruntungan di tanah asing. Kagak dikasih duit pula. Jadi alhasil si pemuda harus bertahan hidup dengan uang hasil jerih payah sendiri. Nggak, orang tuanya bukannya benci sama dia, mereka cuma mau anak mereka tumbuh menjadi seorang lelaki yang mandiri dan bertanggungjawab- meskipun tampaknya hasilnya kebalik.

Putra Bayu Dirgantara, suka ngutang, kagak pernah bayar utang, hidup buat hari ini- nggak peduli buat besok, malesnya minta ampun, tukang menunda pekerjaan, ngenes, cengengesan, jomblo, dll. Dia masih baru lulus dari universitas yang lumayan bernama, dan dari semua lapangan pekerjaan yang tersedia buatnya, yang mulai dari jabatan penting disebuah perusahaan ternama, PNS dengan banyak celah buat korupsi, sampe bos es doger, dan dari semua itu dia malah milih menjadi wakil ketua Persekutuan Jomblo Meringis. Semua orang yang melihatnya pasti bakal ngelus dada tanda prihatin.

Otaknya lumayan pinter, tapi sayangnya kemalasannya udah terlalu kuat. Mukanya lumayan memanjakan mata, tapi sifatnya yang ngenes dan sangat ke-masmaswarteg-an inilah yang membuat para cewek langsung balik kanan, bubar jalan. Untuk disimpulkan, sebenernya dia bisa- sangat bisa, Cuma memilih buat nggak bisa. Persis seperti negaranya.

Tapi karena dia nggak penting, mari kita sudahi saja deskripsi gaje diatas. *narator ditusuk bambu runcing*

Putra juga menyadari ada hal yang aneh di kota ini, persis seperti dokter Vash di klinik sebelah.

"Masa konter pulsa nggak ada yang buka?! Pulsa gue sekarat nih woi! Ogah gue kirim sms mama minta pulsa lagi!" teriaknya.

Putra menendang sebuah kaleng dengan frustasi.

"Wi-fi sebelah mati pula.. sinyal telepon nggak ada.. Gue bisa mati kalau nggak melihat perkembangan dunia!"

Putra sedang berada di taman, dengan hape blackberry-nya yang fungsi utamanya adalah untuk menyebar broadcast hantu.

"Apakah ini efek dari anak umur 13 tahun nyetir di jalan tol?" katanya sambil memegang kepalanya yang pening.

Sebuah pikiran terlintas untuk segera pergi ke klinik dokter Vash, tapi ia urugkan niat tersebut ketika sebuah SMS masuk ke hapenya. Dengan kecepatan gesit, ia segera membuka SMS tersebut dan melihat pengirimnya. 'Razak Mati Dilindes Tronton'. Well.

"Ngapain nih kampret SMS gue? Jangan bilang dia kangen…" katanya sambil membuka SMS itu dengan ogah-ogahan.

'Kiet diserang, masuk rumah sakit. Kondisi hidup-mati.'

Putra memandangi layar hapenya dengan tatapan shock. Sumpeh lo?

'Sumpeh lo?' sent.

'Kalau nggak percaya, cek aja di klinik Vash.' Nggak sampe semenit, jawaban udah nyampe. Putra menggeleng-gelengkan kepalanya dan segera berpacu ke klinik satu-satunya Hetaville, tidak menghiraukan langit malam yang dipenuhi awan badai.

XXX

Semua kejadian di dunia dimulai dari sesuatu. Dan dia sudah memutuskan siapa yang akan menjadi 'sesuatu yang memulai kejadian'. Pemuda itu tampak bagus, tapi bagaimanapun juga, dia tidak cocok. Dia lebih cocok sebagai pengisi tengah cerita daripada pemulai. Mungkin sang iblis akan memilih orang lain. Orang yang bisa membangkitkan amarah langit dan menghancurkan kedamaian. Ya, ada orang yang tepat untuk itu. Dan dia sudah memikirkan cara terbaik untuk memulai pesta kematian ini.

Dia memasuki sebuah pintu putih dan mendekati sesosok tubuh yang terbaring di tempat tidur. Seluruh tubuhnya dipenuhi perban dan selang-selang dipasang disana-sini. Mengenaskan.

CTAR!

Petir menyambar dengan dramatis.

"Bangun."

Sosok yang tengah tertidur tiba-tiba saja membuka matanya dengan kaget. Tidak ada yang bisa ia lihat, tentu saja. Ruangan gelap gulita karena dokter Vash tidak mau susah-susah nyalain lampu di kamar orang pingsan. Mahal. Ditambah lagi diluar sedang ada badai.

Setelah beberapa saat, mata pemuda itu mulai beradaptasi dengan kegelapan. Samar-samar ia mengenali bentuk tempat tidur, tirai, meja, dan siluet seseorang. Ia bingung sekali. Ini dimana? Siapa itu?

Dari bau obat dan tempat tidur keras ini, sepertinya ini di rumah sakit. Dan dari kegelapan dan kekerasan tempat tidur ini, sudah jelas ini kliniknya dokter Vash. Kalau begitu, siapa orang yang ada disisi tempat tidurnya ini? Vash? Nggak mungkin, ngapain si pelit itu disini? Di tengah kegelapan? Cuma memandangi? Kalau Lili, itu makin nggak mungkin. Siluet ini jelas cowok. Dia memikirkan semua kenalannya, tapi nggak ada yang mirip dengan siluet ini. Rentetan pertanyaan di benaknya terputus ketika siluet tersebut terkekeh.

"Apa kau mau melihat satu-satunya pembunuhmu?"

Petir menyambar.

Meskipun hanya sedetik, sang pemuda mengenali wajah siluet itu.

"K-kau!"

XXX

"SPADA!" tangan Putra terus menerus mengetuk pintu klinik dengan gemes, "SPADASPADASPADASPADA!"

DOR!

"BERISIK, TOKAI!" Vash teriak dari jendela kamarnya yang berada di lantai atas. Senapan kesayangannya sudah membunyikan tembakkan peringatan. Vash terlihat sangat garang meskipun piamanya berwarna pink dan penuh oleh renda-renda.

"IZINKAN GUE MASUK! GUE MAU NENGOK KIET!" jerit Putra sambil terus menerus mengetuk (baca: menyiksa) pintu rumah-merangkap-kliniknya Vash.

"Ogah! Klinik udah tutup, balik aja besok!" Vash menguap sambil berjalan menjauhi jendela.

"DOKTER SIAL-"

"MINGGIR!" sebuah dayung dengan sukses menjebol pintu kayu tersebut.

"PINTU GUEEEEE!" jerit Vash dengan dramatis.

"An!" Putra lega ketika melihat sosok penghancur pintu tersebut, Nguyen Thi An, seorang cewek asal Vietnam.

"Ah, Putra juga disini ya." kata An.

"Iya. Gue mau nengok Kiet. Lo juga?"

An mengangguk, "Gue dapet SMS dari Razak."

"Gue juga." kata Putra sambil memperlihatkan SMS tersebut.

"Isinya sama dan diterimanya sama. Dia pasti kirim SMS kita barengan."

"Gue setuju." Putra menaruh tangannya di dagu sambil mengangguk-angguk.

Er, saudara-saudara, tidakkah kalian sadar bahwa topik tersebut sangat tidak penting?

"PINTU GUEEEEEE!"

Diem, dokter sialan.

"Lo ngomong apa?" Vash nge-load senapannya.

Nggak ngomong apa-apa kok, bang.

"Lo ngomong sama siapa?" tanya Putra dari lantai bawah.

"Ama narator!" balas Vash.

"Kita punya narator?" An kebingungan.

"Punya lah!" balas Vash sambil membidik.

Saudara-saudara, tolong berhenti menghancurkan fourth wall. SEKARANG.

DOR!

Ouch.

DOR! DOR! DOR!

(Mohon maaf, narator sedang terluka parah,oleh karena itu saya, manifestasi pikiran abnormalnya akan mengambil alih mulai sekarang. Saya mohon maaf atas racauan diatas, narator hanya sedang bosen. Toong santet dia bagi siapapun yang berminat.)

XXX

"Lewat sini." dengus Vash sambil menunjukkan jalan kepada kedua tamunya. Kedua tamunya menuruti instruksinya tanpa banyak bacot, sadar akan betapa dongkolnya hati Vash. Bahkan Putra yang biasanya ngocolpun nggak berani mengomentari piama 'cute'-nya Vash.

Mereka berjalan melewati lorong bercat putih yang memiliki banyak pintu cokelat di tiap sisi. Vash berhenti di depan pintu bernomor 14 dan mengeluarkan kunci emas dari kantong piamanya dan memasukkannya ke lubang kunci dan memutarnya. Kedua tamu di belakangnya memperhatikan gerak-geriknya.

Pintu terbuka dengan suara mendecit pelan. Vash memasuki pintu sambil menggerutu, kedua tamunya mengintip dari balik pundaknya. Tangan Vash mencari-cari saklar lampu dan akhirnya- ketemu juga. Ia segera menekannya.

"Kiet!" An menyibak gorden yang memisahkan pintu dan tempat tidur, Putra berdiri di belakangnya.

Di atas tempat tidur dimana Kiet seharusnya berbaring, tidak ada apa-apa. Seprai mencuat kemana-mana, bantal di lantai, serta selimut mencapai lantai. Selang-selang sudah tercabut dan banyak barang berhamburan di lantai. Jendela besar di kamar tersebut terbuka, membiarkan hawa dingin badai menguasai ruangan tersebut. Gorden jendela tersebut berkibar-kibar terkena angin.

Putra berlari menghampiri jendela tersebut dan menengok ke bawah. Di bawah, terlihat sesosok tubuh yang berbaring di tanah dengan lautan darah dan organ di sekelilingnya. Kacamata retak tergeletak di sampingnya.

Kiet.

XXX

Itu dia. Maaf kalau kadar humor atau horrornya jadi berkurang, dan lebih banyak dramanya, yah saya pengen fokus ama perasaan para kontestan dulu sih. Atau kalau penulisan saya nggak bener. Saya janji mulai chapter depan akan lebih banyak horror dan pembunuhan deh! :D *anak gila*

Sekarang saatnya balas review!

Guardian of Mineral-san: Ehhh? Anda baca juga?! Uhh.. Inilah apa yang saya sebut dengan *tsah* rollercoaster genre! *jengjengjeng* *ditimpuk* Hahaha.. sabar saja mbak, karma can be a bitch ._. saya juga pernah mengalaminyaaaaaaaaaa! Iyah, sudah saya apdet :* Meskipun tidak terlalu asap sih.. *garuk-garuk pala* Salam sleketep dan terima aksih banyak atas reviewnyaaa!

LalaNur Aprilia-san: Emang ._. saya dapet inspirasi dari makhluk itu, atau mungkin makhluk dari salah satu cerita yang pernah saya baca.. Emang syerem! Saya aja waktu liat makhluk itu udah merinding sekujur tubuh.. Hehe, terima kasih! Saya sudah apdet! Terima kasih banyak atas reviewnya ya!

BTT INDONESIA-san: Ternyata kalian bertiga berteman… Berkat ini saya sadar bahwa dunia ini sempit dan segalanya bisa saja terjadi.. *tsahh* Hahahaha.. Kenapa? Review bareng aja, ajakkin yang lainnya! Biar saya bisa jantungan ngeliat ternyata yang ono dan yang ini temenan ama kalian! Ohohohoho! *dihajar* Begitu ya.. tenang saja Luciano-san, saya mengerti perasaan anda! *nyumpel tisu ke mata* Ah, saya juga seneng kok bisa bikin fic dengan genre bertolak belakang kayak gini! Wehehehehe! Benarkah? Mungkin saya harus pasang pembunuhan karakter utama sebagai spice di cerita ini.. ufufufu! Sebenernya buku itu berhubungan dengan sesuatu.. (alias cara menjadi petani jambu dalam pot teladan) itu adalah semacam topi dengan pinggir yang lebar dari Meksiko atau Filipina, saya dapet itu dari nonton Spongebob episode Beruang Laut.. awalnya monsternya mau mirip ama Beruang Laut tapi niat (nggak terlalu) mulia itu saya urungkan.. Babai! Terima kasih yang sebanyak-banyaknya buat kalian semua! (PS: Saya nggak janji yaaaa!)

mixim-san: YA! *pasang muka jahat* Yay! Fic dengan genre bertolak belakang, dengan selingan drama… *tiba-tiba merasa depresi* terima kasih banyak, mixim-san!

siapakekelah-san: XD bus*t, saya juga baru nyadar! Apa saya ganti ya, nama gamenya? Terima kasih! Eaps! Terima kasih banyak atas reviewnya :3

Unknownwers-san: Hehehe! Nggak apa-apa kok, saya ngerti.. saya sendiri juga sibuk (sibuk tidur) Untunglah ^^ Terima kasih! Rasanya nggak ada yang mati deh di chapter pertama.. atau ada? Saya lupa ._.v (yang satu lagi itu Vlad, fanname untuk Romania si vampir Hetalia ituuuu!) Itu karena ia udah sering makan junkfood dimana saja! Iyah, kasian saya sama Matt.. kalau saya punya saudara kayak gitu udah saya hajar kali! *ente kan udah punya satu kampret yang 100 kali lebih parah dari Alfie, nyet!* Sip, sudah saya apdet! Terima kasih banyak atas reviewnya, Unknownwers-san!

Itu aja dulu, sampai jumpa!