Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi.

Kids!Shintarou, Kids!Tetsuya, slight!child!AkaKuro, soon-to-be-a-parent!AoKi (atau mau jadi parent beneran? :v). OOC and typos, maybe?


Ngeeeengg~

Mobil-mobilan hitam metalik melaju di atas permukaan meja kayu. Roda-roda menggelinding teratur, bendera kecil berkibar di atap belakang, dan celotehan dari bibir mungil bocah yang memainkannya mengisi keheningan yang semula ada.

"Ngeeeeng~"

"Berisik, nodayo."

Bocah yang lain tengah membaca buku sains sambil duduk rapi di atas sofa, mendelik kesal pada adiknya yang sedang bermain. "Diam. Nii-chan mau belajar."

"Ngeeeng~ breees~ ciiiit."

Kini Tetsuya si pemilik mobil-mobilan menirukan suara decit rem. Sama sekali tidak mirip.

"Tetsuya."

"Nii-chan, mau ikut main?" Tetsuya mengedip-ngedipkan sepasang bola biru muda yang melebar, memperlihatkannya pada Shintarou, sang aniki.

"Berisik, tau."

Tetsuya memajukan bibirnya sedikit meski wajahnya masih agak datar.

"Nii-chan—"

"Main di luar sana."

Shintarou kembali memaku fokus pada buku sains dasar miliknya. Papa Ryouta membelikannya kemarin untuk referensi belajar Shintarou yang baru memasuki sekolah dasar kelas satu. Karena dia mau anak-anaknya bisa secerdas dirinya—Ryouta kegeeran.

Sekedar informasi bahwa Shintarou dan Tetsuya memanggil Ryouta dengan sebutan 'Papa' bukan 'Mama'. Karena kata Shintarou, dia tidak ingin punya mama laki-laki. Seorang mama itu seharusnya cantik, anggun, lembut—yang jelas tidak seperti Ryouta. Saat Shintarou mengatakan itu, Ryouta hanya pundung sejenak.

"Umm," Tetsuya kembali ke ekspresi semula. Dia beringsut berdiri dan menyeret mobil-mobilannya yang diikat pada seutas jalianan karet gelang, dan membawanya meninggalkan apartemen.

Tetsuya menuruni lift apartemen sendirian. Tinggi badannya cukup untuk menekan tombol lantai dasar, dan dirinya sudah mempelajari banyak hal, baik dari Ryouta, Daiki, ataupun Shintarou.

Pertama, cara memakai lift. Karena Ryouta baru pulang ke apartemen paling cepat pukul empat, dan Daiki sering ikut serta mengekori Ryouta pulang kalau sempat. Mereka tidak tahu kalau-kalau Shintarou dan Tetsuya butuh sesuatu, dan mengizinkan mereka bepergian keluar asal ditemani tetangga apartemen sebelah, Paman Kagami. Sayangnya Tetsuya lebih senang jalan-jalan sendiri. Lagipula Kagami juga seumuran Ryouta dan Daiki, jadi sering pulang sore. Shintarou dan Tetsuya sering mengatakan, "Kami bisa jaga diri sendiri" yang dibalas tangisan khawatir si papa berambut kuning.

Kedua, tentang lingkungan sekitar. Apartemen Ryouta memang bisa dibilang berada di kawasan elit, karena harganya juga fantastis. Pekerjaan Ryouta sebagai model tentu banyak membantu. Di sekitar apartemen ada konbini, taman, sekolah dasar, fitness center, dan banyak lagi fasilitas lain yang bisa digunakan, terutama bagi orang dewasa. Oh, kolam renang juga dekat. Tetsuya sudah hafal jalan ke tempat-tempat itu meski baru tepat seminggu tinggal di lingkungan itu bersama keluarga barunya.

Ketiga, tetangga-tetangga. Ada Paman Kagami yang polos dan bodoh (kata Shintarou) tapi baik hati dan punya alis sakti bercabang dua. Ada Paman Hyuuga dan Paman Kiyoshi yang bekerja di apartemen itu. Ada juga Takao Kazunari, teman sekelas Shintarou yang tinggal di lantai dua, berbeda tiga lantai dengan apartemen mereka. Hmm, ada juga Izuki-nii, mahasiswa kelas awal yang sering mencari inspirasi di taman untuk membuat lelucon-lelucon aneh.

Yang keempat, tentu saja masalah pekerjaan rumah. Kedua kakak beradik beda ciri fisik itu sudah bisa memanggang roti, memanaskan makanan dengan microwave, menyapu seperlunya, atau memakai beberapa perkakas dapur.

"Hai, anak manis."

Terakhir adalah petuah berbunyi 'jangan sembarangan bicara pada orang asing'. Ini adalah ajaran Shintarou yang selalu diingatnya—diingat saja, sih.

Tetsuya mendongak.

Anak laki-laki yang sedikit lebih tinggi darinya, kini menatapnya dengan senyum mencurigakan. Tetsuya mengangguk, sebagai balasan.

"Hai, nii-chan."

Tetsuya baru sadar kakinya sudah menapak di tanah berumput taman yang ditujunya. Dan sekarang, anak itu mengajaknya bicara tiba-tiba.

"Sendirian saja?"

Tetsuya mengangguk lagi. Ia sedikit takut dengan penampilan fisik si anak laki-laki, sebenarnya. Surai merah sewarna nyala api berkobar dan bola mata yang warnanya beda-beda. Warnanya seperti tomat kesukaan Shintarou dan pisang kesukaan Tetsuya.

"Mau main denganku?"

Lagi, Tetsuya mengangguk. Dia mengikuti anak tadi yang sedang duduk di salah satu bangku taman dan duduk agak jauh darinya.

"Hmm. Namamu siapa."

"Aomine Tetsuya."

"Aku Akashi Seijuurou. Salam kenal," Seijuurou si api menyala kini mengulurkan tangan.

Tetsuya juga pernah diajari Papa Daiki agar jangan memberi informasi—apalagi menyangkut pribadi—kalau tidak ditanya. Tetsuya mulai berpikir si Seijuurou ini tidak diajari oleh orang tuanya.

"Baiklah, Seijuurou-kun," Tetsuya juga diajari sopan santun. Karena itu, dia membungkukkan punggung sedikit dan membalas uluran tangan. "Seijuurou-kun juga sedang sendiri?"

"Ya, mereka semua takut padaku," Seijuurou menyeringai, menunjuk bak pasir yang biasa dipenuhi anak-anak penghuni kompleks kini kosong tanpa bocah-bocah. Hanya ada semut, lalat, nyamuk, kumbang, cacing, dan sebagainya yang melintasi area. "Tetsuya kenapa sendiri?"

"Nii-chan sedang belajar," Tetsuya menggaruk pipi, lalu menunjukkan mobil-mobilan miliknya. "Seijuurou-kun, mau main bersama?"

"Pasti, Tetsuya," Seijuurou merapatkan diri pada Tetsuya dan ikut mengusap bodi mobil-mobilannya.

Dua bocah yang umurnya tampak tak jauh berbeda itu kini mulai menyuarakan 'ngeng-ngeng' kecil. Kadang tertawa bersama dan saling memukul-mukul pundak sambil menahan tawa khas anak laki-laki.

Setidaknya, Tetsuya sudah punya teman baru.


"Ummf—Seijuurou-kun."

"Tadi eskrimnya belepotan, Tetsuya," Seijuurou menjauhkan wajahnya setelah menjilat sisa-sisa es krim vanilla di sekitar bibir Tetsuya.

Err... bocah modus?

"Terima kasih," Tetsuya mengusap sisi bibirnya dengan ibu jari. "Sekarang sudah bersih, kan?"

Seijuurou mengangguk, dan melanjutkan meresap rasa-rasa coklat dalam es krim cone miliknya.

"Tetsuya, sudah mau malam."

"Ya," Tetsuya ikut memakan es krim miliknya sendiri, menggoyang-goyangkan kaki kecilnya dari puncak mainan peluncuran spiral. "Seijuurou-kun, setelah ini kita pulang, ya. Tetsuya takut dimarahin Papa."

Seijuurou mengangguk.

Malam mulai menjelang, matahari menghilang di balik penampakan gedung-gedung pencakar langit. Kanvas biru cerah berubah menjadi jingga, menimbulkan kesan semburat merah-jingga di wajah Seijuurou dan Tetsuya. Dari ketinggian dua meter milik luncuran spiral, sudah cukup bagi mereka untuk menikmati senja.

"Hmm, sudah selesai kan. Ayo pulang."

Tetsuya bergumam 'un' pelan dan mengikuti langkah-langkah Seijuurou yang menarik pergelangan tangannya dengan lembut. Wah, wajah Tetsuya memerah.

Kata Papa Ryouta, kalau wajah Tetsuya terasa panas dan dadanya terasa sesak mendadak ketika sedang bersama seseorang, berarti Tetsuya menyayangi orang itu. Seperti merah-merah di wajah Papa Ryouta saat diganggu Papa Daiki.

Tetsuya tertawa pelan sambil menunduk. Seijuurou kemudian menoleh ke belakang.

"Kenapa tertawa. Tetsuya tinggal dimana," tanyanya selagi menaikkan sebelah alis.

"Tidak. Apartemen yang disana itu," Tetsuya kembali mengontrol ekspresi, dan menunjuk apartemen berlantai delapan yang jaraknya sudah lumayan dekat. "Seijuurou-kun, sampai disini saja."

"Tetsuya bisa pulang sendiri, kan?" Seijuurou memiringkan kepalanya, menatap sepasang manik biru cerah.

"Bisa kok, Seijuurou-kun," Tetsuya mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih sudah mau jadi teman Tetsuya."

"Hm? Sama-sama," Seijuurou mendekat dan melekatkan bibirnya pada pipi pucat Tetsuya sebentar. "Papa dan Mama selalu melakukan ini kalau di rumah. Katanya sih, ini tanda sayang. Sampai jumpa, Tetsuya."

Tetsuya hampir kejang-kejang kalau saja dia tidak bisa kontrol ekspresi. Shintarou selalu bilang agar jangan melunturkan wajah keren pemberian Tuhan dengan berekspresi konyol. Tetsuya meraba pipinya sendiri yang terasa diolesi

Seijuurou menjalan menjauh, seakan menuju matahari terbenam. Tetsuya mengusap-usap pipinya dan lalu berjalan pulang.


Klik.

Pintu apartmen mengayun terbuka perlahan.

"Tadaima."

"Tetsuyacchi!"

"Tetsu!"

"Tetsuya!"

Tetsuya mengedip-ngedip menatap ketiga makhluk bergender sama yang memelototinya dengan bola mata hampir mencuat. Si bocah biru muda itu memeluk mobil-mobilan yang sudah mulai terkelupas akibat 'permainan kasar' Seijuurou—main mobil mobilan—sambil menatap ketiga orang tersebut dengan mata bertanya-tanya.

"Tetsuyacchi anakku kemana saja, ssu," Ryouta mulai banjir, melompat dan Tetsuya lalu menggosok-gosokkan pucuk hidung ke pipi pucat anak bungsunya.

Daiki sedikit geli untuk mengatakan 'anakku' tapi akhirnya dia ikut memeluk Tetsuya. "Tetsu, lain kali jangan pergi sendirian."

"Tetsuya maafkan nii-chan, nodayo," Shintarou tidak mendekat. Malah menaikkan kacamata bergagang hitam kelabu—kacamata minus tiga baru dari Ryouta—dan memalingkan wajah yang telah memerah.

"Umm? Semuanya, ada apa?" Tetsuya masih mengedip-ngedip polos. Matanya menatap sekeliling, melihat tas sekolah dan beberapa perabotan tergeletak berantakan. Sepertinya tadi Ryouta panik saat Shintarou bilang tidak tahu Tetsuya pergi kemana.

"Papa mencari Tetsuya kemana-mana, nodayo," jawab Shintarou.

"Hum? Tetsuya tadi main sama Seijuurou-kun. Seijuurou-kun baik sama Tetsuya jadi Tetsuya tidak kenapa-napa."

"Yokattaaaaaa, ssu," Ryouta kini menusuk-nusukkan jari berkuku pendek ke pipi Tetsuya dengan geram. "Tetsuyacchi jangan pergi lama-lama, ssu, apalagi sampai malam. Hueeee—"

"Sudah, Ryouta," potong Daiki, membekap mulut berisik sang kekasih. "Tetsu, Seijuurou siapa?"

"Hum, namanya Akashun Seijuurou kalau tidak salah. Warna rambutnya mirip apel. Umm, hijau, ya? Terus matanya belang-belang. Dia tampan sekali," Tetsuya mengangguk-angguk (agak) semangat dengan wajah teflon andalannya.

"Sstt, siaga satu," Daiki berbisik pada Ryouta. "Apel itu merah, Tetsuya. Tetsuya suka dengannya?"

"Sukaaaa sekali, dia teman pertama Tetsuya," Tetsuya merentangkan kedua lengan lebar-lebar membentuk suatu lingkaran besar. "Papa, mau bertemu dengannya?"

Daiki menggangguk cepat.

"Kapan-kapan ikut Tetsuya ke taman. Seijuurou-kun bilang Tetsuya harus berjanji datang kesana suatu hari nanti. Katanya, Seijuurou-kun mau mengajak ken... ken... kencing, ya? Ungg..." Tetsuya mulai garuk-garuk pipi, kebingungan.

Daiki dan Ryouta hanya melongo.

"Ken... cing? Ken... cung? ...can? Benar. Kencan."

Shintarou ikut melongo.

"Seijuurou itu pasti om-om pedofil, nodayo! Tetsuya jangan mendekat!"

"Seijuurou-kun masih kecil kok, sama seperti Tetsuya," Tetsuya menunjuk dirinya sendiri. Tepatnya, kaos abu-abu lusuh bertabur pasir di bak taman. "Emm, Papa Ryouta… Tetsuya lapar."

"Nee, Tetsuyacchi duduk, ya, Papa mau masak sesuatu," hilang air matanya, Ryouta kembali ke mode kedip-kedip genit. "Mooou, semuanya, duduk yang rapi!"

Ketiga calon penikmat masakan Ryouta mengangguk patuh dan duduk mengelilingi meja makan kecil khusus empat orang.

Tetsuya mengayun-ayunkan kaki ke depan dan belakang selagi duduk, memperhatikan Ryouta yang sedang memasak. "Ne, Papa. Seijuurou-kun besok boleh ikut makan disini, kan?"


Knock, knock.

Hari itu, Ryouta dan Daiki pulang sekolah lebih cepat karena latihan basket Kaijou ditiadakan dan Daiki membolos. Karena itulah, mereka berdua kini sedang duduk santai di sofa, menghadap televisi. Ryouta memangku Shintarou, dan Daiki memangku Tetsuya. Calon-calon keluarga bahagia.

Acara demo masak diselingi iklan-iklan home shopping terlihat sangat menarik atensi Kise Ryouta—calon ayah rumah tangga yang baik dan penyayang. Sementara Daiki menguap berkali-kali. Selain faktor kelelahan, aroma vanilla dari rambut Tetsuya membuatnya semakin terbius—Shintarou langsung berteriak.

("Rambut Tetsu wangi sekali, hm... jadi mengantuk." "Papa pedofil!")

Tetsuya menyeruput susu vanilla kotak dengan bibir maju-maju dan mata membola selebar bawang bombay. Matanya mengikuti pergerakan tangan chef di televisi yang sedang memasak sejenis panekuk menggunakan perkakas-perkakas bermerk yang barusan diiklankan.

Sementara itu, setelah meneriaki Daiki pedofil, Shintarou masih kalem dan menaikkan gagang kacamata dengan anggun sekaligus angkuh bak anggota kerajaan di parade jamuan malam.

Knock, knock.

"Telur! Telur berkualitas tinggi! Simpan di mesin pendingin luar biasa ini untuk mendapat kualitas terbaik. Jangan lupa dipesan, ya, sebelum kehabisan. Lalu untuk mengocok, ibu-ibu sekalian bisa menggunakan—"

Dikira cuma ibu-ibu yang nonton? Ryouta merengut mendadak.

"Aku jantan, ssu."

Ketiga makhluk di dekatnya tidak menggubris ataupun menoleh—malah mengabaikan.

Knock, knock.

Saat itulah mereka baru sadar, ada yang mengetuk pintu berkali-kali. Daiki melirik jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore, dan menyuruh Shintarou membuka pintu.

"Baik, nodayo. B-bukannya aku mau menuruti Papa," telinga Shintarou memerah tanpa alasan yang konkrit. Aroma masakan matang merasuki indra penciuman ketika dia berjalan melewati dapur, menandakan makan malam spesial buatan Ryouta yang tadi ditinggalkan, kini sudah matang. Demi menyambut teman baru Tetsuya, katanya.

Knock, kn—

"Berisik, nodayo!"

Shintarou menarik gagang pintu dengan segera, tidak sabaran.

Jreng, jreng~

Fitur tubuh bocah setinggi hidung Shintarou mulai menampakkan diri. Rambut merah menyala, dan mata belang-belang. Wajah angkuh dan dagu terangkat.

Belagu.

Shintarou mendengus dalam hati. Inikah si Seijuurou yang diceritakan Tetsuya? Tidak se-wow seperti yang dibayangkannya.

Mukanya ngajak berantem, nodayo. Cih, dasar pendek.

Wajah putih Seijuurou terangkat lagi untuk menatap sepasang jade berbingkai hitam, sorot matanya benar-benar tajam.

.

.

.

"Halo. Aku datang kesini untuk makan malam sekaligus melamar Tetsuya."

tbc -


A/N:

Doumo~

saya kembali dengan fic ini karena ada ide nemplok. sejujurnya saya awalnya tidak berniat membuat fic ini jadi multichap, melainkan oneshot. jadi agak susah menyesuaikan background yang sudah ada dengan plot yang idenya baru dapet dari langit. kalau ada perbedaan-perbedaan kentara di dua chapter ini, men go m(_ _)m

summary juga sedikit dirubah karena fokus ceritanya sudah berbeda. mungkin fic ini gak akan update teratur, tapi sesuai mood dan kondisi(?). tapi pasti saya usaha lanjutin, terutama pas dapet ilham /nak

chapter dua ini sudah memunculkan Sei jadi temen Tetsuya. umur dan spesifikasinya nanti di chapter depan(?). Shintarou dan Kazunari juga mungkin bakal ada hint ; w ; . soft shounen-ai untuk umur 10 ke bawah /salah. anggaplah semua bocah-bocah ini masih polos.

Terimakasih sebesar-besarnya untuk azurradeva, BlueBubbleBoom, ShizukiArista, Guest, shiro yuki, kiichi27, kurohime, Kurotori Rei, Kagamine Micha, VandQ, dan readertachi. chapter kedua ini ada karena kalian /tsah. best regardsssssss - ojigi -

fic ini memang masih terlalu gaje dan banyak kekurangan(?). untuk itu, review dan feedback selalu ditunggu :v

review? hope to see you next chap! mata atodeeee