Sebenarnya chap 1 ini sudah dipublish lama di AO3, tapi baru tak update di FFN karena beberapa hal, salah satunya yaitu sepinya reader yang baca fanfic ini di FFN. Tapi karena ada yang bilang ingin publish di sini, maka akhirnya tak publish di sini sekalian.

BTW, dimohon dengan sangat untuk meninggalkan review di sini agar semakin semangat ngelanjutin ceritanya. Ini sekalian persiapan mau sidang skripsi.


"Selamat siang para kadet!" seru seorang pria dengan masker berwarna hitam logam tersebut.

"Selamat siang, taichou!" seru anak-anak seisi ruang Class Zero yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari itu.

"Hari ini kita kedatangan dua anak baru di kelas ini. Sebenarnya mereka masih terdaftar sebagai siswa Suzaku Peristylium, tapi mereka masing-masing berasal dari kelas yang berbeda. Kuharap kalian mau menerima mereka dengan baik."

"Baik, taichou."

"Kadet Machina dan Kadet Rem, silahkan masuk dan memperkenalkan diri."

Kemudian masuklah kedua orang tersebut, sudah memakai jubah merah pertanda telah menjadi bagian dari Class Zero.

Yang satu laki-laki, memakai jubah berkerah yang lebih panjang dan hampir menutupi seluruh tubuhnya terutama pada bagian bahu, sekilas seperti jubah vampir,

Yang lainnya perempuan, memakai jubah yang standar seperti Class Zero lainnya, hanya sepanjang pahanya, namun penampilannya jauh lebih feminin karena pada bagian lengan baju terdapat kain putih yang berjumbai di dalamnya, bahkan pada bagian bawah roknya juga terdapat kain hitam berjumbai seperti renda yang semakin mempermanis penampilannya secara keseluruhan.

"Namaku Machina Kunagiri. Saya berasal dari Class Second. Salam kenal semuanya."

"Namaku Rem Tokimiya. Saya berasal dari Class Seventh. Senang bisa berjumpa dengan kalian."

"Senang bisa mengenal kalian. Class Zero terbuka bagi kalian." sahut Queen.

"Terima kasih. Aku tidak menyangka bahwa kami bisa menjadi bagian dari Class Zero bersama kalian. Suatu kehormatan bagi kami." Kata Machina sopan.

"Terima kasih kasih semuanya. Aku juga tidak menyangka kalau kami bisa berada di kelas legendaris Rubrum ini. Kami benar-benar sangat terhormat sekali." Ujar Rem senang.

"Kalau begitu mulai sekarang kalian berdua, Machina dan Rem sebagai murid Class Zero, akan mengikuti semua kegiatan Class Zero yang sudah terjadwal ini. Kuharap kristal memberkati kalian." kata Kurasame.

_epha_

Machina dan Rem mengungkapkan kekaguman mereka akan Class Zero. Mereka tak menyangka mereka akhirnya bisa menjadi bagian dari Class Zero, kelas legendaris Suzaku Peristylium di mana mereka bukan hanya bertarung memakai senjata saja, tetapi juga bertarung dengan menggunakan sihir. Sesuatu yang jarang mereka temui selama mereka masih di kelas regular mereka terdahulu. Mereka tidak tahu apa yang membuat mereka dipindah ke Class Zero, tapi jika melihat prestasi Class Zero yang sangat luar biasa itu, maka pasti pihak sekolah telah melihat kemampuan mereka lebih baik sehingga mereka dipindahkan ke Class Zero.

Mereka kemudian berbincang-bincang dengan beberapa dari murid Class Zero. Class Zero menerima dan memperlakukan mereka dengan ramah, seakan-akan mereka sudah menjadi bagian dari Class Zero sejak lama.

_epha_

Di Chrystarium...

Ace mengunjungi Chrystarium sebagai tempatnya mengisi waktu luang ketimbang bersama teman-temannya, terutama yang pria, yang sedang mengajaknya makan di kantin atau main kartu. Ia melihat Machina sedang berdiri di depan rak buku, sepertinya ia sedang ingin mencari buku untuk dibaca. Ace kemudian menghampirinya.

"Machina, sedang mencari sesuatu?" tanya Ace.

"Oh, yeah...begitulah."

Ace kemudian membaca keterangan yang tertera di depan rak buku yang kini sedang diamati oleh Machina.

"Laporan Capital Liberation Campaign? Apa yang sedang ingin kau ketahui?" tanya Ace penasaran sekaligus menyelidik.

"Ah, yah, kau tahu...hanya beberapa hal."

"Aku mengerti."

"jadi, uh... aku pikir bahkan Class Zero tidak punya akses untuk laporan misi rahasia, huh?" tanya Machina balik menyelidik.

"Hanya para kepala divisi saja yang punya wewenang untuk membaca laporan-laporan misi yang terkelompok itu." jelas Ace.

Seketika hening pun menyelimuti keduanya. Entah perasaan apa ini, tetapi Ace merasa seperti ia pernah dekat dengan Machina sebelumnya. Bahkan sangat dekat. Tapi, sejak kapan ia mengenalnya? Ia belum pernah bertemu Machina selama ini.

"Emm...ngomong-ngomong...apa yang membuatmu ingin mengetahuinya?" tanya Ace sedikit berhati-hati.

"Err...aku hanya sedikit penasaran, ya, kau tahu. Aku hanya ingin tahu siapa saja yang ikut terlibat dalam misi rahasia itu. Tapi itu tidak terlalu penting sih. Hanya penasaran saja." jawab Machina lebih berhati-hati namun sedikit gelagapan, sedikit bohong karena sesungguhnya ia ingin mencari tahu penyebab kematian kakaknya. Tapi ia tak mungkin menceritakannya pada orang lain yang baru ia kenal meskipun ia sekarang sekelas dengannya.

Seketika Machina sedikit tersentak saat selesai berbicara. Rasa-rasanya ia pernah mengenal Ace sebelumnya, bahkan merasa pernah dekat sekali dengannya. Tapi ia tak tahu kapan ia mengenal Ace? Padahal ia baru bertemu dengan Ace beserta Seven dan Jack saat mereka menyelamatkannya dan Rem dari serangan Milites yang dipimpin oleh wanita bertopeng bernama Qunmi True itu.

"Oh, hai semuanya! Apa yang sedang kalian bicarakan?" interupsi Deuce tiba-tiba seketika memecah keheningan dua pemuda beda ukuran tubuh dan warna rambut itu.

"Ah, tidak apa-apa kok, hanya obrolan biasa saja. Ya udah kalau begitu aku- ugh!" saat Machina akan berlalu, tiba-tiba kepalanya terasa pusing entah kenapa.

"Machina, kau tidak apa-apa?" tanya Ace reflek kuatir.

"Aku tidak apa-apa kok. Hanya sedikit migrain. Tidak apa teman-teman, jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik sa- Akh! Kepalaku sakit sekali!" keluh Machina sekali meskipun ia berusaha berbohong tentang keadaannya.

"Machina! Jangan membohongi keadaanmu seperti itu. Wajahmu sudah pucat begitu."

"Machina-san, biar kami bawa kau ke klinik kesehatan untuk diperiksa."

"Tidak usah, aku tidak...AKH!" kepala Machina mengalami sakit yang sangat hebat hingga hampir terjatuh dan menabrak rak buku tersebut.

"MACHINA!" Ace berusaha menahan tubuh Machina agar tidak sampai terjatuh di lantai.

"Machina-san. Apa perlu kupanggil Rem-san untuk membawamu juga?" tanya Deuce.

"Aku...aku...tidak bisa melihat... Di mana kalian?" kata Machina lemas. Penglihatannya kabur.

"Machina! Segitu parahkah sakitmu sampai kau jadi begini?" tanya Ace benar-benar tidak tahan melihat kondisi Machina yang justru makin memburuk akibat sakit kepalanya yang muncul tiba-tiba. Ace berusaha menggenggam tangan Machina untuk meyakinkan Machina bahwa ia dan Deuce masih di situ.

"Aku...aku..." belum selesai berbicara Machina pingsan seketika.

"Oh tidak. Machina-san benar-benar tak sadarkan diri sekarang. Kita harus bagaimana?" tanya Deuce panik.

"Kita bawa saja dia dulu ke klinik. Setelah itu baru kita beritahu Rem tentang kondisi Machina." tukas Ace. Namun Deuce sama sekali tidak menyahut.

"Deuce! Apa kau mendengarku? Deuce!"

"Kepalaku pusing..."

"Apa?!" seketika Ace langsung menoleh ke arah Deuce yang sedang memegang kepalanya.

"Deuce? Kau tidak apa-apa kan? Apakah penyakit pusing Machina menularimu?" tanya Ace mulai panik kembali.

"Aku tidak tahu, Ace-san... Tapi, ugh...kepalaku benar-benar pusing sekali." seketika Deuce pingsan dan terjatuh di lantai.

"DEUCE!" Oh tidak! Kali ini Ace benar-benar sendirian bersama dua orang pingsan di depannya. Anehnya, banyak orang di Chrystarium tapi tak ada satupun yang memperhatikan insiden mereka. Apa yang sedang mereka pikirkan? Dramakah kami? Pikirnya.

"Siapapun bisa tolong aku bantu bawa kedua temanku ke klinik? Aku tidak bisa membawa keduanya sendiri." tetap saja tak ada yang menggubrisnya. Apalagi ada dua orang lain sedang melewati mereka tanpa menoleh sedikitpun seakan mereka ini adalah hantu yang tak terlihat.

"Hei, apa kalian benar-benar sudah tu- ugh!" tiba-tiba kepalanya mengalami sakit yang luar biasa.

Tunggu! Apa jangan-jangan dia sudah mulai ketularan Deuce dan Machina yang mengalami pusing mendadak hingga pingsan? Apa yang sebenarnya yang terjadi padanya dan mereka? Pikirnya.

Ace mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya. Anehnya tidak ada satupun yang datang hanya untuk menghampiri mereka.

Matanya sekarang mulai kabur akibat kepalanya yang semakin pusing.

Seketika dirinya mulai ambruk menyusuli kedua temannya dan semuanya menjadi gelap.

_epha_

Gelap yang menyelimuti penglihatannya perlahan mulai memudar seiring ia membuka matanya. Kepalanya masih terasa pening, namun sudah mulai berkurang dari sebelumnya.

Namun sekarang gambaran dalam penglihatannya mulai berubah latar. Bukan di chrystarium lagi, tetapi di kelas.

Tunggu! Sejak kapan ia sudah berada di kelas? Siapa yang memindahkan mereka?

Ia teringat akan Machina dan Deuce yang pingsan. Seketika ia mencari mereka dan mendapati Machina berada di samping kanannya dalam keadaan tertidur di kursi dan kepalanya tersandar di kursi. Jarak mereka hanya sejauh satu kursi tetapi mereka satu bangku meja.

Menyusul Ace, Machina juga terbangun dari 'tidurnya' dalam keadaan pening.

"Machina? Kau tidak apa-apa kan?!" tanya Ace hati-hati.

"Ugh, entahlah. Kepalaku masih pening. Tunggu! Kenapa...kenapa kita ada di kelas? Kupikir aku dibawa ke klinik." tanya Machina mendadak bingung.

"Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja aku sudah ada di kelas ini."

"Apa? Bagaimana bisa kau tidak tahu kalau kau memindahkanku ke kelas ini? Bukankah kau dan Deuce ada bersamaku saat itu?"

"Deuce dan aku juga mengalami pusing dan pingsan sama seperti yang kau rasakan. Aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Sepertinya kami tertular dirimu. Tapi nggak tahu bagaimana cara penularannya, ceritanya terlalu panjang."

"Aneh, kok bisa ya? Padahal aku sama sekali tidak memakan sesuatu atau melakukan hal yang terlalu berat. Dan tiba-tiba kepalaku mendadak sakit sekali dan kau bilang sakitku menulari kalian, padahal aku sama sekali tidak mengalami gejala demam. Oh iya, di mana Deuce?" seketika ia mendengar suara erangan perempuan di samping kanannya dan menoleh ke arahnya.

"Rem? Kau di sini?" tanya Machina bingung.

"Apa? Machina? Kok aku ada di sini? Tadi setahuku aku sedang berbincang-bincang dengan Seven dan Cater di balkon. Dan tiba-tiba kepalaku mendadak pusing dan setelah itu aku sudah tidak ingat lagi apa yang sedang terjadi dan tiba-tiba aku sudah berada di sini. Ah, kepalaku masih terasa pusing..."

"Ka-kau juga mengalami hal yang sama sepertiku? Tadi aku juga begitu. Malah seingatku aku sedang ada di chrystarium bersama Ace dan Deuce saat itu."

"Deuce? Dia ada di sini." Tunjuk Rem ke samping kanannya. Deuce dan Cater kini sedang mengerang dalam 'tidur' mereka.

"Deuce?!" seru Ace.

"Ace-san? Tunggu. Aku di mana ini? Kok bisa kita ada di sini?"

"Ugh... Hah, Deuce?! Kok kamu ada di sini? Kok sekarang aku sudah ada di kelas? Seven di mana?"

Ace mulai memperhatikan semua anak Class Zero, sekali lagi semua anak, juga dalam keadaan yang sama seperti dirinya dan beberapa sebelumnya. Satu per satu, mereka mulai terbangun dari 'tidur' mereka dan mendapati diri mereka sudah berada di tempat lain dengan sendirinya. Masing-masing mereka menunjukkan kebingungan mereka sendiri.

"Lho, kok kita ada di sini? Bukannya kita sedang membicarakan tentang COMM yah?" tanya Cinque.

"Aku juga tidak tahu. Apa jangan-jangan ada masalah terhadap sistem COMM nya?"

"Eight! Bagaimana bisa aku ada di sini saat kepalaku mengalami pusing? Apa jangan-jangan kau sengaja memberikanku sesuatu di dalam makanannya yah? Ngaku! Kau pasti ingin mencoba berbuat sesuatu padaku ya?" seru Nine berteriak di seberang.

"Enak saja kau menuduhku kayak aku orang jahat aja. Aku juga berpikir kau yang mencoba meracuniku sebelum akhirnya kita pusing bersamaan. Dan sekarang aku tidak tahu bagaimana bisa kita kembali ke kelas?" seru Eight tidak kalah kerasnya dari seberang.

"Aduh, kepalaku pusing sekali... Eh! Kok kita ada di kelas sih? Bukannya di taman pas main kartu ya?"

"Aku tidak tahu, Jack. Aku saat itu juga pusing saat asyik membaca. Ugh! Apakah ini mimpi?"

"Argh! Kepalaku benar-benar pusing tadi..." keluh Sice.

"Rasanya memang benar-benar terasa seperti mimpi, tapi terasa nyata." komentar King dalam posisi melipat tangannya.

DEG! Terasa seperti mimpi? Tapi terasa seperti nyata?

"Apa jangan-jangan kita memang sedang bermimpi ya secara berjamaah?" tanya Jack.

"Sangat tidak masuk akal jika kita ini sedang bermimpi sedangkan aku dan Cinque berada di tempat yang sama, begitu juga dengan kalian di tempat masing-masing."

Jika memang demikian, berarti seharusnya perkenalan Machina dan Rem sebagai anak baru Class Zero juga merupakan mimpi dan seharusnya mereka juga tidak ada di dalam Class Zero mengingat kejadian saat perkenalan anak baru hingga pertemuan Machina di Chrystarium hanya dalam waktu satu hari, mungkin dalam rentang waktu beberapa jam saja.

Jika memang benar begitu, berarti...

"Seseorang pasti telah membius kita semua Class Zero."

HEEEE?! Seketika keheningan mulai terpecah.

"Bagaimana caranya kita dibius jika kita saat itu masing-masing kita berada di tempat terpisah dan saat itu kita tidak sedang memakan apapun, Machina?" tanya Trey

"Mungkin cuma aku dan Nine saja yang sedang makan siang dan kami mencurigai kalau bisa jadi tukang masak kantin itu yang memasukkan sesuatu dalam makanan kami." sela Eight.

"Aku juga tidak tahu. Aku hanya menduga-duga saja. Lagipula, mengingat negara kita ini berkemampuan utama sihir, tidak mustahil bagi seseorang menggunakannya untuk ilmu hitam dan mencelakai kita. Tapi aku tidak bisa menuduh siapa yang melakukan ini semua kalau tidak ada bukti." jelas Machina.

"Bisa jadi apa yang dikatakan Machina memang benar. Sakit kepala kita ini benar-benar sangat tidak wajar seakan-akan ada seseorang yang mengendalikan itu semua. Tapi yang paling mengherankan adalah tidak ada satupun orang-orang yang datang menolong atau hanya sekedar menghampiri kita sama sekali." kata Ace

"Kau benar, Ace. Tadi aku juga begitu. Saat aku kelabakan menangani Rem dan Cater yang pingsan bersamaan, tidak ada satupun yang datang menolong kami seakan-akan kami ini seperti hantu. Mereka benar-benar cuek" cerita Seven.

"Apalagi saat melihat wajah datar mereka itu lho, nyebelin banget melihatnya. Kayak robot jadinya." komentar Sice dengan nada kesal.

"Aku dan Ace-san tadi juga mengalami begitu. Tadi kami sempat memanggil orang-orang di Chrystarium untuk membantu membawa Machina-san ke klinik, tapi tidak ada yang menggubris kami." cerita Deuce.

"Benarkah? Kau tidak apa-apa kan, Machina?" tanya Rem kuatir sembari memegang tangan Machina.

"Aku tidak apa-apa, kok. Toh buktinya nggak cuma aku saja yang mengalami pusing. Kau pun juga bahkan yang lainnya." ujar Machina menenangkan Rem yang sepertinya juga mempunyai kecenderungan untuk mengkhawatirkannya selain dirinya terhadap Rem.

"Aneh ya kalau begitu. Apa jangan-jangan beberapa dari mereka adalah dalang di balik semua ini yah? Mengingat beberapa dari orang-orang Peristylium tidak menyukai kita." sangka Eight.

"Jangan berprasangka buruk dulu, Eight. Belum tentu juga mereka seperti itu. Toh, masih banyak yang baik sama kita dan menerima kita." kata Seven.

"Tapi ngomong-ngomong soal orang-orang lain, anak Class First bernama Aki Minahara itu, dia sangat ramah pada kita dan dia juga menjadi guide tour Peristylium bagi kita." kata Queen.

"Iya, benar. Memangnya kenapa?" tanya Seven.

"Nah, pas terakhir kami bertemu dengannya, saat kami menyapanya tiba-tiba dia mengacuhkan kami seperti dia tidak mengenal kami." tambah Cinque.

"Benarkah seperti itu?" tanya Deuce tak percaya atas cerita Cinque.

"Hm...memang sulit dipercaya, tapi kenyataannya begitu. Mereka seakan-akan tidak seperti para siswa yang kita ketahui dan kita kenal selama ini. Perilaku mereka lebih terlihat seperti...err...seperti..." kata-kata Queen terjeda untuk mencari kata-kata yang pas untuk menggambarkan situasi tersebut.

"Robot. Mereka terlihat seperti robot yang dikendalikan seseorang." lanjut Trey.

"Atau mereka lebih terlihat seperti zombie...hiiii...aku takut..." kata Cinque bergidik ngeri.

"Kata 'zombie' untuk mereka terlalu berlebihan, Cinque. Mereka tidak sampai memakan kita seperti zombie tanpa otak." protes Sice.

"Mungkin ini semua adalah ilusi." tukas Ace.

"Ilusi?" tanya semua anak Class Zero serempak mendengar pernyataan Ace.

"Maksudmu? Kejadian saat sebelum kita pingsan dan kita tersebar di mana-mana itu kau pikir itu hanya ilusi?" tanya Nine yang benar-benar tak percaya pada pernyataan Ace.

"Hm. Benar. Maksudku bukan kitanya yang adalah ilusi. Orang-orang lain selain kita yang menurutku adalah ilusi." jelas Ace

"Kalian sudah lihat sendiri bukan bagaimana perilaku mereka yang terlihat seperti bukan diri mereka sendiri, seakan-akan mereka seperti gentayangan."

"Maksudmu kita ini memang benar-benar masih ada sedangkan mereka itu tidak nyata, begitu?" tanya Seven.

"Berarti mereka itu hantu dong?" celetuk Jack

"Hiii...Cinque takut hantu..."

"Bukan. Bukan hantu. Mereka itu tetap nyata. Tapi ada sesuatu yang membuat mereka sebenarnya 'tidak nyata'. Aku bingung menjelaskan ini. Terlalu rumit."

"Aku juga semakin tidak mengerti maksudm-" perkataan Nine dipotong oleh Machina.

"Sst! Diam, Nine! Tidak apa-apa, Ace. Tidak usah berpikir terlalu rumit begitu. Kalau menurutku, ada seseorang di luar sana yang mencoba memanipulasi pikiran kita. Atau lebih tepatnya, alam bawah sadar kita." tukas Machina.

"Alam bawah sadar?"

"Hm. Karena aku merasa aku pernah mengalami kejadian sebelumnya saat kedatangan Milites di Peristylium hingga aku dan Rem menjadi bagian dari Class Zero dan yang terakhir pertemuanku dengan Ace dan Deuce di Chrystarium di waktu yang lain." sejenak Machina menarik nafas mencari oksigen agar mampu berbicara lagi.

"Aku sama sekali tidak mengingat tentang masa laluku sebelum aku menjadi kadet Agito. Tapi anehnya, aku mengingat kematian kakakku padahal tak ada yang mengingatkanku sama sekali tentang itu, apalagi aku juga tidak tahu nama kakakku dan penyebab kematiannya, mengingat kristal membuat kita lupa pada orang-orang mati.

"Itulah kenapa aku ingin membaca Laporan Capital Liberation Campaign itu untuk mencari tahu berita tentang kematian kakakku jika memang benar dia gugur di medan perang. Maaf Ace kalau aku akhirnya baru jujur padamu sekarang ini. Karena aku tak mungkin cerita padamu tentang keluargaku di saat aku masih anak baru dan kita baru saja berkenalan. Aneh saja kalau aku cerita panjang lebar tentang itu."

"Tidak apa-apa kok. Aku mengerti kok sekarang."

"Tapi bagiku, yang paling aneh yang pernah kurasakan sampai sekarang ini adalah..." jeda Machina kemudian ia menghela nafas setelah ia bicara terlalu panjang.

"Aku merasa kalau... Aku pernah mengenalmu sebelumnya. Maksudku sebelum kau menyelamatkanku itu, aku pernah mengenalmu sejak lama. Tapi tidak tahu di mana dan kapan."

"Tentu saja kau sudah mengenalnya, karena dia kan bagian dari Class Zero yang telah melegenda, bukan? Makanya harusnya kau sudah tahu banyak tentang kam-" celetuk Nine dan giliran Sice yang memotongnya.

"Diamlah, Nine! Daritadi kau banyak sok tahunya. Berisik, tahu! Dengarkan saja ceritanya." omel Sice.

"Lebih dari mengenalnya. Aku bahkan merasa kalau aku sudah berteman lama dengan Ace."

"Kau juga merasakan apa yang kurasakan?" tanya Ace

"Kau...kau juga merasa kau pernah mengenalku?"

"Iya. ? Aku juga merasa kalau aku pernah dekat denganmu, serasa kita ini sahabat lama."

"Benarkah? Sudah kuduga memang ada yang nggak beres dengan alam bawah sadar kita."

"Selain itu, aku merasa bahwa kita ini dekat karena kita punya kesamaan. Bukankah kau dan aku sama-sama suka chocobo?" tanya Ace spontan yang membuat Machina kaget.

"Apa? Bagaimana kau bisa tahu kalau aku suka chocobo? Padahal aku sama sekali belum pernah cerita padamu kalau aku suka chocobo." tanya Machina tak percaya.

"Ah. Benar juga ya. Aku juga tidak tahu. Hal itu tiba-tiba terlintas di kepalaku mengenai dirimu. Mungkin jangan-jangan kita sebelumnya pernah berteman?"

"Kalau menurutku, mungkin kalian berdua ini sebelumnya merupakan teman masa kecil yang sudah lama berpisah hingga kalian sudah lupa tentang itu. Itu wajar saja sih kalau sudah begitu." kata Seven.

"Sejak kecil aku tidak pernah bertemu dan berteman dengan siapapun selain kalian bersebelas. Bukankan Ibu membatasi pergaulan kita dengan orang lain dan menasihati kita untuk tidak berteman dengan orang asing saat kita masih kecil?" kata Ace.

"Apalagi aku. Memang benar aku tidak mengingat masa laluku. Tapi seingatku, hanya Rem satu-satunya teman masa kecilku yang aku punya di sini. Setahuku aku tidak pernah bertemu Ace saat masih kecil."

"Mungkin kalian berdua tidak saling perhatian kalau kalian sebenarnya sering bertemu, hanya tidak berkenalan saja tapi tidak sadar kalau kalian saling bertem-." ujar Seven yang terpotong oleh Machina.

"Tapi bukan hanya Ace saja kok yang aku rasa kenal. Kalian semua aku juga merasa kenal. Seakan aku dan kalian semuanya teman lama. Dan aku merasa aku pernah menjadi bagian dari Class Zero sebelumnya."

"Aku jadi semakin tidak mengerti denganmu, kora~!"

"Aku juga seperti itu."

"Heh?! Rem juga?"

"Iya. Aku juga merasakan apa yang Machina rasakan. Saat aku sedang berbincang dengan Seven dan Cater, rasanya aku benar-benar telah mengenal mereka lama sekali. Padahal aku baru saja berkenalan dengan mereka." kata Rem meyakinkan.

"Aku sih juga merasa begitu. Bahkan bukan hanya ini saja aku merasa pernah mengalaminya, tapi beberapa kejadian saat kebersamaan kita, aku merasa pernah ingat itu semua." tambah Cater.

"Mungkinkah ini de javu?" kata Queen.

"De javu?" ulang Deuce mengernyitkan dahinya.

"Benar. De javu adalah suatu hal di mana kita pernah merasakan peristiwa baru yang kira alami sebelu-"

"Trey-san, aku tidak tanya tentang arti dari de javu. Aku hanya tanya tentang kebenaran ini semua." tegur Deuce.

"Kita ini lagi bicara serius kau malah mengoceh tidak jelas." omel Eight.

"Maaf. Kebiasaan..." ujar Trey malu sambil menggaruk kepalanya.

"Berarti jika ini memang de javu, berarti kita pernah menjalani kehidupan sebelum ini, mungkin semacam...reinkarnasikah?" tebak Deuce. Hanya kesunyian sebagai jawabannya karena tidak ada yang tahu tentang itu.

"Ngomong-ngomong soal de javu, aku merasa pernah memberikan sesuatu pada taichou. Padahal taichou baru satu hari sebagai guru di kelas kita dan aku sama sekali belum bertemu dengannya secara pribadi." cerita Sice.

"Kalau aku sih, aku merasa pernah menyukai salah satu guru di sini, tapi aku sendiri tidak tahu siapa orang yang kusukai saat itu, dan juga, aku belum pernah bertemu dengan guru itu untuk sekarang. Benar-benar aneh, kan?" cerita Nine.

"Kalau aku... Aku merasakan de javu bahwa aku adalah seorang anak band di sekolah ini." tukas Jack sambil berdiri dan mengacungkan tangannya dan menutup tangannya perlahan-lahan.

Semuanya diam memandangnya. Masih saja Jack berkelakuan konyol di saat seperti ini.

"Jack, apa kau sehat?" tanya Seven.

"Hah? Sehat? Tentu saja aku sehat. Aku memang serius kalau aku sebelumnya merasa pernah menjadi anak band padahal aku sama sekali belum pernah tahu seperti apa band itu." bela Jack.

"Jack! Yang kau pikirkan itu tidak terdengar seperti de javu. Tapi angan-angan belakamu yang kebetulan masuk dalam mimpimu." tukas Eight.

"Aku serius, kawan-kawan. Aku tidak pernah berangan-angan menjadi anak band. Tapi itulah yang kuingat saat itu. Saat itu aku ikut band bersama Trey dan King."

"Heh? Kenapa bawa-bawa namaku?" tanya Trey heran ketika namanya disebut.

"Mana aku tahu? Memang itu yang aku ingat. Kira-kira menurutmu gimana tentang ini, King? Apa kau juga mengalami de javu seperti aku?" tanya Jack pada King yang sedari tadi hanya diam saja.

King hanya diam tanpa menggubris perkataan Jack.

"King! Kau dengar aku tidak?" tanya Jack dengan nada kesal karena King mengabaikannya.

"Jendela dan pintunya ditutup." tukas King singkat. Sama sekali tidak nyambung dengan pertanyaannya Jack.

"Hah? Maksudnya? Kau mengalami de javu jendela dan pintunya ditutup gitu?" tanya Nine.

"jendela dan pintu mana maksudmu? Kok nggak nyambung sama pertanyaanku?"

"Bukan. Lihat itu." kata King sambil menunjuk jendela kelas mereka yang ditutup dengan...portal besi.

"Apa? Bagaimana mungkin?" Ace yang seharusnya duduk dekat jendela benar-benar tak menyadari bahwa jendelanya benar-benar ditutup. Beberapa anak lainnya yang seharusnya duduk menghadap jendela juga tidak menyadari kalau jendelanya ditutup dengan portal besi saking asyiknya mereka membicarakan tentang kejadian mereka sebelum pingsan.

"Pantas saja ruangannya gelap. Baru saja aku ingin tanya. Ternyata jendelanya ditutup toh." ujar Jack.

"Pintunya juga diborgol." seru Cinque.

Seketika mereka mengalihkan pandangan ke arah yang Cinque.

Nine kemudian bangkit dari tempatnya lalu mencoba mendobrak pintu yang dirantai gagangnya.

"Sial! Pintu sebagai akses menuju ke taman belakang kita juga dikunci."

"Ini seakan-akan akses ke luar tempat ini ditutup. Aku tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Trey.

"Tapi pintu utama kelas kita tidak diborgol. Tapi tetap saja terkunci dari dalam."

"Siapa yang melakukan semua ini? Hah?!" seru Nine mengamuk.

"Sepertinya orang yang telah membius kitalah yang melakukan semua ini. Seseorang di luar sana telah memerangkap kita di sini." kata Machina.

"Berarti kita terpenjara di kelas kita sendiri?" tanya Deuce panik.

"Ah, tidak! Aku tidak mau terkurung di sini selamanya. Seseorang di sana cepat keluarkan kami!" seru Cater meronta.

"Tapi jendela dan pintu taman itu dikunci dari dalam." kata Rem.

"Tapi pintu utamanya juga dikunci. Mungkin dikunci dari luar seperti itu." kata Seven.

"Apa jangan-jangan ini ulahnya si masker taichou sialan itu?" tuduh Nine.

"Kok bisa taichou?" tanya Deuce penasaran dengan tuduhan Nine.

"Tentu saja. Bukankah saat kita masuk ke kelas untuk pertama kalinya dia menyerangku, Cater, dan Ace ya?"

"Itu sih karena kita yang menyerangnya duluan, makanya dia reflek menyerang balik kita." ujar Cater.

"Tapi memang bisa jadi taichou lah pelakunya." ucap Queen.

"Kita baru saja mengenalnya, dan sikapnya begitu dingin pada awalnya. Mungkinkah dia berusaha mengurung kita seperti ini untuk tujuan tertentu?"

"Tapi bukankah taichou bilang dia diperintahkan oleh ibu untuk mengajari kita? Apakah itu juga perintah dari ibu?" tanya Eight bingung.

"Bisa saja itu hanya bohong. Dia jelas-jelas seorang penipu. Apa kalian sama sekali tidak mencurigainya, hah?!" tanya Nine.

"Entahlah...tapi semuanya terlihat meyakinkan. Tapi setahuku taichou sangat baik hati walaupun di luarnya dia tampak dingin." kata Rem.

"Tapi dilihat dari jendela yang tertutup portal besi, rasanya tidak akan mungkin dilakukan oleh seorang saja, tapi juga beberapa orang untuk membawa portal-portal besi berat itu untuk menutup semua jendela di kelas ini." kata Machina.

"Kalau begitu, siapa saja orang-orang yang berbuat seperti ini pada kita?" tanya Ace masih mencari jawaban atas semua kejadian ini. Mulai dari sakit kepala dan pingsan berjamaah, de javu tentang kehidupan yang belum pernah ia alami saat ini hingga terkunci dari kelas mereka sendiri.

"Popopopopo..."

"Hah?! Suara apa itu? Siapa yang tertawa kayak gitu? Mengerikan sekali." Kata Nine hampir bergidik ngeri.

Suara tawa khas tersebut semakin keras, membuat seisi ruanga merinding. Pasalnya, suara tawa tersebut tidak diketahui asalnya sedangkan tidak mungkin salah satu Class Zero tertawa seperti itu. Suara tersebut terdengar melengking seperti suara anak kecil namun mengerikan di saat bersamaan, seakan mencoba mengintimidasi Class Zero.

"WOI! SIAPAPUN JAWAB KAMI! SIAPA KAU?! DAN NGGAK USAH TERTAWA ANEH SEPERTI ITU! DASAR SIALAN KAU!" umpat Nine kesal sambil memutarkan badannya untuk mencari sumber suara tersebut. Sisanya hanya bisa terdiam mendengar suara yang tidak jelas asal-usulnya.

Tiba-tiba di belakang meja commander Kurasame mengepullah asap tebal yang mulai menyebar ke hampir seluruh ruang, mengakibatkan beberapa anak batuk karena tak sengaja menghirup asap tersebut.

Tiba-tiba...

POP...DUK!

Muncullah moogle setelah meloncat dari bawah meja Kurasame dan mendarat di atas meja tersebut. Namun moogle tersebut duduk menyamping, hanya memperlihatkan badan dan wajah sebelah kanannya saja.

"Mo-moglin? Kaukah yang tertawa tadi? Tawamu sungguh aneh tadi." tanya Cinque mencoba memastikan. Semua juga ikut memperhatikan. Semua menganggukkan kepala mereka.

"Moglin?" tanya Moglin balik.

"Aku bukan Moglin." semua mengernyitkan dahi mereka, bingung dengan jawaban Moglin yang seakan-akan ia tidak mengakui dirinya sendiri, padahal ia benar-benar Moglin.

"Aku adalah... MONOGLIN!"

Sontak, semua anak Class Zero sangat kaget dengan seruan dari Moglin, bukan, maksudku Monoglin.

Yang membuat mereka lebih kaget lagi adalah tubuh dan wajah sebelah kirinya berwarna hitam, mata kiri merah berbentuk seperti halilintar dan juga mulut menyeringai lebar yang sangat mengerikan di bawah hidung besarnya padahal sebelah kanan kepalanya tidak terdapat mulut. Seakan-akan tubuh makhluk itu terlihat seperti tempelan saja.

.

.

.

.

TBC