Disclaimer : God only knows

Rate : T?

Genre : Romance

Sehun x reader

Sehun's profile

Occupation: CEO

Type: Yandere

Readers Occupation: Student

.

.

Insert your name in the space [...]

.

.

Readers POV

Tap! Tap! Tap!

Langkah itu...

Krieettt!

Bunyi derit pintu yang dibuka itu...

"Aku pulang, [...]-ya,"

Suara rendah itu...

"Seharian ini aku sangat merindukanmu, sayang. Apa kau juga merasakan hal yang sama denganku?"

Belaian lembut di pipiku yang semakin tirus ini...

"Kau juga merindukanku? Senangnya!"

Bahkan monolog itu...

Sudah menjadi makanan ku sehari-hari semenjak aku terkurung di sini. Di ruangan remang tanpa penerangan pasti. Hanya sedikit cahaya mengintip dari sela-sela pintu mau pun jendela yang tertutup gorden. Aku yakin, saat ini kulitku pasti sudah sangat pucat karena terlalu lama tak terkena cahay matahari. Itu pun kalau aku dapat berkaca.

Namun, aku tak bisa. Rantai yang membelenggu kaki ku tak memperbolehkanku untuk beranjak sama sekali dari posisiku saat ini. Semua ini ulahnya. Salahnya. Pria yang kupikir adalah pria baik-baik yang bisa menjadi suami sempurnaku di masa depan. Tapi apa ini, nyatanya ia hanyalah seorang...

"Hmm, kulitmu makin pucat, [...]-ya. Sayang sekali padahal aku suka warna kulitmu yang dulu. Ah, tapi aku tidak ingin matahari melihatmu barang sedikit pun. Habis, kau... milikku, 'kan?"

Pengidap pengakit jiwa.

Ia menganggapku barangnya. Miliknya. Tak boleh terlihat atau pun tersentuh siapapun. Bukan hanya oleh makhluk hidup. Bahkan oleh... benda mati sekali pun.

"Oh ya, sebelum aku pulang tadi, aku membelikanmu crepes kesukaanmu. Nah, ayo. Makan!" ujarnya seraya menyodorkan crepes yang seharusnya menjadi makanan kesukaanku itu ke depan mulutku.

Namuan aku hanya diam. Menatapnya datar tak berekspresi. Aku frustasi. Depresi. Aku ingin keluar. Aku ingin ke makam ayah dan ibu ku yang sudah ia bunuh itu. Aku ingin ke makan teman-temanku yang juga sudah ia bunuh. Aku ingin meminta maaf pada mereka. Aku lah yang membuat mereka mati. Aku... aku yang terburuk. Menarik perhatian iblis sepertinya dan mengacaukan kehidupan manusia lain. Aku bodoh! Bodoh! Bodoh!

"Ada apa, [...]-ya? Kau tidak suka crepes ini lagi? Tidak apa. Aku bisa membelikanmu yang lain. Jadi, kau mau ap-"

Drrrtt! Drrrt!

Ucapannya terpotong dengan getaran ponselnya sendiri.

"Ah, maaf. Sepertinya tikus-tikus got itu memutuhkanku. Ini, aku tinggalkan crepes nya di sini jaga-jaga kalau kau berubah pikiran," ujarnya meletakkan crepes itu di dekat tangan kurusku yang terkulai.

Cup! Di kecupnya pelan bibirku dan bangkit berdiri, "Aku akan cepat kembali. Jadilah anak baik dan tunggu a-"

"Mati sana," lirihku pelan.

"Jangan kembai lagi. Aku membencimu! Mati kau, iblis!" desisku penuh dendam dan amarah.

Namun yang kulihat di wajahnya justru senyuman manis dan lembut yang justru terlihat menjijikkan di mataku.

"Ahahaha, aku juga cinta pada [...]-ya kok. Sangaattt~ cinta. Sampai-sampai rasanya aku bisa membunuh orang yang berani-berani memikirkanmu lho. Nah, aku pergi dulu ya,"

Kau sudah melakukannya, dasar orang gila!

Kau membunuh semua temanku.

Kau membunuh keluarga ku.

Kau mengambil semua hal yang berharga untukku.

Menculikku dan mengurungku dalam ruangan ini.

Merantaiku seolah aku ini hewan peliharaanmu.

Dan sekarang... sekarang...

Yang kau sisakan untukku hanyalah rasa depresi dan keinginan untuk membunuh diri.

Seharusnya... seharusnya aku tak mempercayai senyuman manismu waktu itu.

Harusnya aku menuruti kata ibu untuk menjauhimu.

Seharusnya... seharusnya... mereka tak perlu mati.

"Ukh... Ukh... hiks,"

Air mataku mengalir.

Mataku sembab dan tenggorokanku sakit.

Aku ingin mati.

Ingin mati.

Tapi aku takut untuk bunuh diri,

Aku memang pengecut. Tak bisa melakukan segala sesuatunya dengan benar. Aku bodoh dan tidak berguna.

Dan yang bisa kulakukan saat ini adalah... menunggunya pulang.

Iblis itu.

flashback

Hari itu, aku bertugas piket. Mau tak mau aku akan pulang lebih telat dari hari biasanya. Sekolah mulai sepi. Hanya beberapa anak yang tinggal. Setelah membuah sampah terakhir ke tempatnya aku pun segera menyambar tasku dan berjalan menuju gerbang sekolah.

Hari mulai gelap. Aku pun memutuskan untuk mengambil jalan pintas menuju rumahku melewati sebuah taman. Aku berjalan agak cepat, ingin cepat samapi rumah dan menonton acara tv kesukaanku. Dan saat itu, mataku tertumbuk pada seorang pria.

Ia memakai pakaian formal. Kulitnya putih dan wajahnya tampan tanpa cacat. Namuan, wajahnya terlihat begitu dingin. Entah kenapa, terlihat kesepian.

Aku pun menghampiri pria itu.

"Hei, kau tidak apa-apa?" tanyaku khawatir.

Ia melirikku dengan tatapan tajam dan tak menjawab.

Aku menggaruk pipiku bingung. Aduh, bagaimana ya? Aku sudha terlanjut menyapa sih. Oh ya!

"Uhm... ini, kue cokelat. Sudah tidak hangat sih, tapi pasti bisa membantumu menjadi lebih ceria!" ujarku dan menyodorkan kue cokelat yang kubeli di kantin saat istirahat tadi.

Ia menatapku agak lama sebelum menyambar kue itu dan melahapnya. Aku duduk di sebelahnya dan menatap ke depan.

Tak lama,

"Hatcih! Hatcih! Hatcih!"

Pria di sampingku bersin 3 kali berturut-turut.

Aku terkikik, "Kau tahu? Katanya kalau kita bersin 3 kali berturutan artinya ada orang yang mencintai kita, lho,"

"Mencintaiku?"

"Yup! Kau bisa menebak kira-kira siapa?" tanyaku iseng.

"Huh! Tidak ada orang yang mau mencintaiku," ujarnya acuh.

Aku mendengus, "Begitu ya? Hmm, kalau begitu bagaimana kalau aku saja?"

Dia diam, menatapku lurus.

"Biar aku saja yang mencintaimu. Bagaimana?" jelasku.

Ia kemudian tersenyum, tampan. Wajah dinginnya hilang.

"Janji, ya? Kaulah yang satu-satunya mencintaiku dan begitu pun aku,"

End of flashback

Dan itu lah awal neraka ku.

Aku tak menyangka jika semenjak saat itu hiduku akan berubah. Teman-temanku yang biasa mengobrol dengan ku satu persatu menghilang secara misterius. Semua semakin menyeramkan ketika aku melihat sendiri dengan mata kepalaku bahwa laki-laki yang kuanggap pria baik-baik itu membunuh orang tua ku.

Aku berteriak.

Histeris

Namun ia hanya tersenyum dan berjalan ke arahku dan memelukku erat. Aku berontak, namun ia hanya bergeming dan berbisik lembut di telingaku.

"Dengan begini, tak ada lagi yang akan menghalangi cinta kita, [...]-ya. Aku mencintaimu,"

Dan semenjak itu, aku tahu.

Bahwa hidupku...

Matiku...

Tubuhku...

Sudah dikuasai sepihak olehnya.

.

.

.

Tap! Tap! Tap!

Langkah itu lagi...

Krieeettt!

Bunyi derik itu lagi...

"[...]-ya! Seharian ini aku sangat merindukanmu, bagaimana denganmu?"

Suara itu lagi...

"Aku mencintaimu, [...]-ya. Sangat mencintaimu. Kau... juga begitu, 'kan?"

Dan aku kembali teringat pada kesalahanku waktu itu...

Lagi...

END.

Jadiiii~ Gimana, nih? Aku buatnya sengaja pendek begini sih.

Sebenernya Gaku pengen nungguin req yang lain tapi kayaknya ngga dateng-dateng jadinya... Gaku bikin aja deh.

Ya udah, ayo review! Review! Request ya!