CHAPTER 1


BANGUN BANGUN BANGUN!

Setidaknya itu adalah suara alaram laki-laki berambut coklat hazel ini. Alaram super berisik yang sengaja Ia pasang di dekatnya agar Ia bias bangun dengan cepat di pagi hari.

Matanya terbuka perlahan. Retinanya menangkap bayangan langit-langit kamarnya. Jujur saja Ia malas harus kembali ke sekolah paling terkutuk baginya. Dengan malas, laki-laki itu mengambil kacamata yang tergeletak di meja samping tempat tidurnya.

Jika tadi saat melihat langit-langit kamarnya terasa buram, kini pandangannya lebih baik. Ya, kacamata super tebal yang baru saja Ia pakai membuat penglihatannya membaik.

Iapun segera bergegas pergi keluar kamar untuk memulai aktivitasnya hari ini.

.

.

"Hey! Selamat pagi, Xi Lu Han!"

"Tidak-tidak, panggil saja Ching Chong! Pasti dia mengerti!"

"Apa dia mengerti apa yang kita bicarakan? Hahaha!"

"Aku akan mengucapkan selamat pagi dengan bahasanya, ching chong ching chong, Xi Lu Han! Hahahaha!"

Baru memasuki bus, Luhan—si laki-laki berambut hazel itu sudah disambut ejekan dari temannya.

Iapun menggelengkan kepalanya—mencoba mengacuhkan mereka walau sebenarnya Ia sangat gusar dengan teman-temannya atau para berandalan busuk itu. Biasanya mereka menghina-hina Luhan dengan'Ching Chong' karena Luhan berasal dari China.

Dan ini baru segelintir berandalan yang ada di dalam bus yang akan membawa mereka ke sekolah. Untuk menghindari hal usil lain dari berandalan itu, Luhan duduk di bagian depan bus. Jauh dari bagian belakang bus tempat berandalan itu berada.

Luhan duduk dengan mendekap tas ranselnya erat. Melalui kacamata tebalnya, Luhan melihat jalanan dari kaca bus. Setidaknya pemandangan jalan-jalan pinggiran kota Seoul bisa menenangkan pikirannya dari berandalan busuk itu.

"Hey, Ching Chong,"

Luhan melirik malas pada orang yang memanggilnya. Dan dialah Oh Se Hun—berandalan yang paling busuk. Luhan mengalihkan pandanganya dari Sehun ke arah lain.

"Aku pinjam buku tugas Lee-seonsangnim-mu," ujar Sehun memaksa.

Luhan berpura-pura tidak mendengarkan Sehun. Matanya memandang keluar jendela.

"Hey, aku bicara padamu!" emosi Sehun mendadak naik melihat Luhan yang mengacuhkannya.

Sehun tertawa kecil. Kemudian Ia merebut tas yang didekap Luhan erat dengan paksa. Tentu saja Luhan melayangkan protes.

"Jangan menariknya!" sentak Luhan saat Sehun tengah menarik tasnya.

Peristiwa-saling-menarik-taspun terjadi di bus yang hanya terisi berandalan busuk di belakang sana, Pak Supir bus serta Luhan dan Sehun yang tengah tarik-menarik. Di belakang sana, berandalan teman Sehun tengah berseru riuh karena perkelahian antara Sehun dan Luhan.

Mungkin mengecewakan bagi berandalan itu. Seorang berbadan besar memasuki bus. Orang itu menepuk-nepuk bahu Sehun sehingga membuat Sehun harus memalingkan wajahnya dengan malas kea rah orang itu.

"Ada apa?" pekik Sehun cetus.

"Maaf aku ingin duduk disini,"

Sehun terkejut setengah hidup, begitu juga dengan Luhan! Ayolah bus ini sangat sepi—banyak bangku kosong di bagian lain! Kenapa orang besar ini justru ingin duduk di bangku samping Luhan?

Orang itu menatap Sehun datar. Dan Sehunpun tak kalah mentap datar orang itu. Sehun mendecak sebelum akhirnya pergi meninggalkan Luhan bersama orang besar itu.

Luhan merasa sangat lega. Meski harus duduk berhimpitan dengan orang berbadan sebesar itu, hati Luhan merasa sangat senang. Setidaknya Sehun tidak jadi mengambil buku tugasnya. Luhan menaikkan kacamatanya dan kembali mendekap erat tasnya.

.

.

Bel istirahat berbunyi nyaring menggema di setiap sudut sekolah. Semua siswa berhamburan keluar kelas. Ke kantin, mengobrol di luar kelas atau ya kemanapun sebebas mereka.

Tapi Luhan tidak. Ia memilih membaca beberapa buku yang Ia bawa dari rumah. Meski memakai kacamata super tebal, matanya masih harus memfokuskan bayangan tulisan buku agar jelas.

"Chong Ching sedang membaca? Uuu~"

Luhan terlalu hapal suara siapa saja yang selalu menganggunya. Kali ini pasti si berandalan busuk-Oh Se Hun. Luhan mengacuhkan ejekan Sehun yang diselingi tawaan kecil jahil.

Mata Luhan melebar saat Ia sadar tulisan di hadapannya menghilang-Sehun pasti mengambil bukunya. Ia mengadah pada Sehun yang berdiri di sampingnya. Seperti dugaannya, Sehun sudah mengambil bukunya.

"Sehun kembalikan!" sentak Luhan.

Sehun berkerenyit-ria. Mulutnya membentuk huruf ' o ' kemudian Ia tertawa bak orang gila. "Buku macam apa yang kau baca Ching Chong? Haha!"

Pipi Luhan memanas dan memerah dalam sekejap. Sehun kelewatan sekali baginya. Luhan berdiri dan mencoba mengambil buku yang sedang dibaca Sehun.

Buku itu Sehun acungkan ke atas tinggi-tinggi. Jelas membuat Luhan yang lebih pendek dari Sehun tak bisa mengambilnya. Sesekali Luhan mentitah Sehun untuk mengembalikan bukunya. Tapi tidak berhasil.

Sehun tertawa keras melihat si pendek Luhan yang mencoba menggapai buku yang jauh tinggi di tangannya. Luhan terus berusaha mengambil bukunya. Tapi entahlah hari ini Luhan begitu sial-secara tidak sengaja kakinya tersandung meja. Padahal tangannya sedang mencengkram lengan Sehun. Dan,

Brugh

"Ouh..." Luhan merintih kesakitan.

Anehnya Ia merasa tubuhnya terjatuh tapi tubuhnya tidak menatap lantai kelasnya, rupanya-Oh! Tubuh Luhan berada tepat di atas tubuh Sehun!

Luhan cepat-cepat bangkit saat menyadari Sehun berada di bawah tubuhnya. Si berandal Sehun segera bangkit saat tubuh Luhan sudah hilang dari atas tubuhnya.

"Hah," Sehun membuang nafasnya. Kepalanya menggeleng berkali-kali.

Sedang Luhan hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia malu betul! Sangat malu! Jatuh tepat di atas berandalan busuk Oh Se Hun? Itu memalukan!

"Buku ini, kau tak akan melihatnya lagi."

Luhan terenyak. Kini kepalanya mengadah untuk menatap tajam berandal busuk Oh Se Hun. Apa maksudnya mengancam bukunya tidak akan kembali?!

"Kau-"

Belum sempat Luhan bicara, Sehun sudah meninggalkannya dengan membawa buku bacaannya yang baru Ia beli sekitar satu-atau-dua minggu yang lalu.

Luhan duduk di kursinya. Kepalanya ia jatuhkan di atas meja. Kenapa hari ini Ia mendapat kesialan lagi? Padahal kemarin Ia sudah dipermalukan di depan teman sekelasnya karena Sehun.

Kenapa Ia harus mengenal Sehun?

Kenapa Ia harus sekelas dengan Sehun?

Kenapa Sehun terus menginjak-injak Luhan?

Luhan mendesah pasrah. Hidupnya di sekolah ini benar-benar sebuah kesialan yang teramat buruk.

"Luhan?"

Itu suara Minseok-teman sebangku Luhan sekaligus teman Luhan satu-satunya. Luhan membalikkan kepalanya malas untuk menatap Minseok.

"Ada apa?" tanya Minseok.

"Sehun... Aish dia mengambil bukuku..."

Minseok menarik kursinya agar lebih dekat dengan Luhan-walau sebenarnya Ia bersiap mendengarkan curhatan atau cerita dari Luhan.

"Aku sedang membaca buku, lalu Ia mendekat dan... bukuku di ambil. Terlebih lagi tadi aku jatuh dan menindih tubuhnya... Dia marah dan mengambil bukuku..." Luhan mengakhiri ceritanya dengan hembusan nafas panjang.

Tangan Luhan memukul-mukul kecil mejanya. Minseok cukup prihatin dengan Luhan. Tiada hari tanpa diganggu oleh Sehun. Ia pasti sangat menderita.

"Mungkin sekotak susu bisa menenangkanmu?"

Minseok menyodorkan sekotak susu rasa coklat ke Luhan. Luhan menegakkan tubuhnya untuk mengambil kotak susu pemberian Minseok. Ah, sahabatnya yang satu ini, selalu tahu bagaimana menenangkannya.

"Terima kasih," ucap Luhan lemas.

"Ah-um," Minseok mengangguk sambil menggembungkan pipinya.

.

.

Pukul 7 malam dan Luhan baru sampai di rumahnya. Bimbingan belajar-tidak-penting-itu menyita waktunya untuk melakukan sesuatu di rumah.

Sehabis mandi kilat, Luhan buru-buru memasak air untuk makan malamnya-ramyun. Setelah ramyunnya siap untuk di makan, Luhan cepat-cepat pergi ke depan komputer, laptop dan perlatan elektronik lainnya di sebuah meja khusus. Selama beberapa saat jari-jarinya sibuk berkutat dengan peralatan elektronik.

Kemudian komputernyapun menyala. Kursornya meng-klik beberapa bagian di komputernya. Hingga munculah sebuah halaman situs. Luhan segera mengetik username dan password akunnya. Beberapa saat kemudian, Ia sudah masuk sebagai admin di situs tanya jawab itu.

"Apa?! 250 pertanyaan?!" pekik Luhan.

Baru saja kemarin malam Ia menjawab sekitar 321 pertanyaan. Sekarang Ia harus menjawab 250 pertanyaan. Itu benar-benar melelahkan!

Luhan membuka satu per satu pertanyaan. Banyak pertanyaan seputar sex yang dewasa dan ada pula yang bertanya dengan maksud cabul. Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya saat membaca pertanyaan demi pertanyaan yang masuk di situsnya, ask-masternim.

Deer-ssi, apa kau tahu dimana tempat wanita cantik ber-boobsbesar? Hehe
-Kim Jung Do, 41 tahun.

Luhan tahu bahwa ini pertanyaan seorang bocah. Tapi Ia menggunakan nama orang tua atau mungkin pamannya. Karena jika ingin mendaftar di situsnya diperlukan kartu tanda penduduk agar anak dibawah umur tidak bisa mendaftar, bertanya aneh-aneh atau ikut percakapan dewasa.

Tapi tentu saja ada anak dibawah umur yang melewati jalan lain untuk mendaftar di situsnya.

Kembali ke pertanyaan tadi, Luhan tidak akan menjawabnya.

Hi,Deer. Aku ingin bertanya kenapa situsmu tidak bisa dibuka di negaraku. Aku harus bersusah payah dahulu untuk bertanya disini. By the waynama asliku Brian James asal Amerika dan aku menggunakan akun temanku.
-Nam Jin Reok, 23 tahun

Pertanyaan ini menggunakan bahasa Inggris. Untungnya Luhan mengerti bahasa Inggris.

Luhan menghela nafasnya. Sudah beberapa kali Ia mendapati pertanyaan macam ini. Apa mungkin situsnya sudah terkenal hingga negara-negara lain? Ya mungkin begitu. Kalau pertanyaan macam ini harus Ia jawab.

Re: Halo, aku mohon maaf sebelumnya jika situsku tidak bisa dibuka di negaramu. Ini karena situsku hanya bisa dibuka di asia. Aku masih belum memikirkan untuk bisa dibuka di wilayah lain. Jadi aku meminta maaf ^^

Jari-jarinya kemudian sibuk membalas pertanyaan-pertanyaan yang lain. Sesekali Luhan tertawa membaca pertanyaan polos dari orang-orang yang jauh lebi.h tua darinya.

Drrrt Drrrt

Ponsel Luhan bergetar. Luhan mendesah kesal. Siapa sih yang menganggunya saat sedang seperti ini?

Oh Jae Woon

Mata Luhan membulat. Ia berdeham-deham sebelum menggeser layar ponselnya untuk menjawab panggilan telponnya.

"Eum, halo?"

"Sayang? Apa yang sedang kau lakukan?"

"Eum menjawab pertanyaan aneh-aneh dari pengunjung,"

"Kau pasti sibuk. Apa aku mengganggumu sayang?"

"Tidak kok. Lagipula pertanyaan aneh dan ya, tidak penting. Sedikit malas untuk menjawab semuanya~ Ada apa kau menelponku, sayang?"

"Eum, hanya merindukanmu,"

Luhan terkekeh geli. Jantungnya berdebar sangat keras. Meskipun hanya mengenal melalui suara di tiap telpon dan situs Luhan, mereka berdua saling meyangangi. Walau hubungan mereka hanyalah partner-phone sex.

Luhan bergumam mendengar jawaban Jae Woon. Sesekali Ia tersenyum.

"Aku boleh bertanya?"

"Tentu saja boleh,"

"Bagaimana cara membuat orang yang membencimu setengah mati menjadi memaafkanmu dan menyukaimu?"

Luhan tertawa. Itu adalah pertanyaan paling konyol daripada pertanyaan aneh di situsnya.

"Kau tahu sayang, itu mustahil!"

"Aigoo jangan tertawa... aku benar-benar pusing memikirkan bagaimana cara agar dia bisa memaafkanku..."

"Hmm... bagaimana jika mulai bersikap baik padanya?"

"Bersikap baik? Tapi—ah sudahlah semua jawaban sama..."

Dahi Luhan mengkerut. Tunggu sebentar. Apa Jae Woon orang yang jahat hingga ada yang mebencinya setengah mati? Mungkin saja.

"Memangnya kenapa dia bisa menbencimu?"

Jawaban dari sebrang sana cukup lama. Luhan tahu Jae Woon sedang berpikir. Tapi Luhan sabar menunggu.

"Aku hanya bingung bagaimana cara berinteraksi dengannya, jadi aku melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan padanya,"

Luhan menaruh simpati pada jawaban Jae Woon. "Kau tahu manusia tidak luput dari kesalahan,"

"Dan..?"

"—Dan kau harus memperbaiki kesalahan selagi sempat,"

Hening. Jae Woon terdiam karena sedang berpikir sedangkan Luhan diam karena menunggu Jae Woon membalasnya.

"Kau benar... jadi cara memperbaiki kesalahanku dengan—"

"—bersikap baik padanya!" sambung Luhan semangat. Keduanya pun tertawa.

"Baby Deer, kau memang penjawab pertanyaan yang terbaik,"

Untungnya Jae Woon tidak tahu jika Luhan sedang merona hebat. Rasanya ingin memeluk tubuh Jae Woon yang asli sekarang juga!

"Ja-jae Woon-ssi..." ucap Luhan malu-malu.

"Baby aku mau minta jatahku, boleh kan?"

Suara Jae Woon memberat. Jantung Luhan berdegup kencang. Malam ini fantasi Luhan pasti akan liar kemana-mana.

"Hmmhh~ boleh." goda Luhan dengan suara yang Ia buat se-sexy mungkin.

Dan yang berada di sebrang sana menyeringai nakal.

Te

Be

Ce


HAAAAIIIIIIIIIIIII~~~ Mwehehe~ (?) senangnya bisa kembali ke dunia ff habis liat the lost planet kemaren B) LIAT HUNHAN MOMENT LIVE LOH SODARAH-SODARAH READERS SEKALIAAAN (?) /okeskip abaikan/

Dakuh gak nyangka maksimal yang minta lanjut banyak banget melebihi ekspetasi :")) terima kasih loh :"))

Dan maaf kalo chapter 1 masih gakjelas soalnya ya emang menyesuaikan alur ._. terus juga jelek dan lainnya. author meminta maaf /deep bows/

Oh ya, author ketawa baca review kalian soal oh jae woon XD siapa ya oh jae woon? XD paling ngakak ada yang bilang bapaknya sehun XDD jawabannya bisa dilihat di chapter-chapter selanjutnya ya MUHAHAA /?

Author menerima segala bentuk review yang kalian tulis. kritik yang pedesz banget, saran yang lemah lembut /? bahkan yang ngereview cuman lanjut :") author terima se lapang-lapangnya (?)

Okelah sekian dari author gila ini (?) sampai ketemu di next chap yesh bubye and salam,

Michyeosseo!