A/N : Konnichiwa, Minna-san~ Lama nya saya hiatus membuat saya lupa dengan ide di fic lalu demi Tuhan tapi saya bersyukur karena saya dapat ilham untuk buat fic baru~ Hahaha~ Dasar rempong deh bok~ Let's read! Oh ya~ Terima kasih, kepada para reader yang telah membaca chapter 1, selamat menikmati~

Rated :
T
saja untuk sementara ini~

Genre : Fantasy/Drama

Disclamer :
All Charater is mine?! Bullshit!

Summary :
Pergi ke dimensi lain dan memutuskan untuk tinggal di dimensi itu?! Itu bukan hanya sebuah bunga tidur belaka~ Pokoknya baca saja ya~ ^^

Warning :
Saya tidak menerima flamer ya~ Saya hanya menerima review~ ^^
Gaje, ooc, dan semacamnya ^^
Saya tak akan banyak bicara, hanya minta untuk baca ya~

Baka-Rii-Chan Present

-Ruang Direktur Utama Kaiba Cooperation-

08.00 a.m

Seorang cowo berparas tampan sedang duduk di kursi nya yang empuk nya dengan setumpuk berkas-berkas yang harus diteliti dengan mata blue marine yang tajam. Jari-jari lentiknya yang terbungkus kulit putih yang bagai kan sutra (walau sejujur nya nggak sampai segitunya) sedang membuka lembaran-lembaran laporan. Rambut nya yang unik seperti jamur dengan warna coklat yang manis benar-benar tidak sebanding dengan wajah nya yang terlihat dingin dan angkuh.

Kaiba Seto, 16 tahun.

Mungkin (?) semua orang sudah mengenalnya, otak nya itu rental-an otak nya enseten (gak yakin tulisan nya bener) yang ada di NASA. Secara otak si Jamur benar-benar encer nggak bisa ke saring sama saringan santan di dapur author *di cincang*. Kuping Seto sudah mulai panas (karena dengar segala ejekan author cempreng satu ini), dia sudah menyebutkan sumpah serahpah di dalam hati nya yang ingin di luapkan sekarang juga dari bibir kecilnya yang basah dan sekseh~ (?).

BRAKK

"Kakak!"

Double door di kantor Seto di dobrak orang dengan paksa, Seto tau siapa pelakunya ya itu adiknya yang manis.

Kaiba Mokuba, 12 tahun.

Mendobrak pintu adalah salah satu hobby Mokuba dan Seto memakluminya tapi jika itu dilakukan oleh oerang lain sudah dapat di pastikan orang tersebut akan di masukkan penjara dan di hukum berat. Wajah Moku yang sangat berbinar-binar itu benar-benar membuat Seto tak bisa bergerak.

"Apa mau mu, Moku?" Suara si jamur terdengar pasrah.

"Kakak~ bagaimana kalau kita buat X'mas party~?" Seto sweatdrop melihat adiknya yang pasang muka kekanakana nya lagi.

"Lain kali sa-.."

"Aku akan mengundang Yugi dkk~ lalu pesan kue natal, pendekor pohon natal dan.. bla.. bla.. bla.." Belum selesai Seto bicara sudah di potong Moku sepanjang itu dan alhasil Seto menyerah. Berbahagialah Moku, dia bisa menaklukan Seto yang bisa dikatakan punya kepala yang super duper keras, kemampunan Moku ini _melebihi kemampunan orang bisa_ dan ini di akui sang kakak yang malang (?).

Sebuah suara yang besar mengagetkan semua di Kaiba Coorperation, alarm penyusup berbunyi dari ruang penyimpanan data utama Kaiba Coorperation yang hanya bisa di masuki oleh Moku dan Seto dan lagi pintu ruangan itu di buat dari baja khusus yang berat nya berton-ton lalu di lengkapi dengan 10 ribu kunci dan password jadi mustahil ada penyesup. Seto dan Moku langsung cepat-cepat turun menuju ruang bawah tanah, tempat di mana ruangan itu berada.

-Beberapa detik kemudian-

Seto dan Moku sampai di sana, segera di buka nya pintu itu dengan kalung yang selalu melingkar di lehernya. Mata mereka berdua terbelalak lebar dan tak dapat berbicara apapun.

"Ara~ sepertinya aku membuat keributan di tempat orang~ Perkenalkan saya Megurine Luka~" Gadis di depan di depan mereka hanya pasang muka ceria pada dua orang yang sedang beku di depannya.

Yume no Usagi
+ Chapter 02 +
Nice to Meet You
+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+

-Siang di Kaiba Mansion-

10.30 a.m

Ketiga orang itu sedang duduk di ruang tamu nomor 4 di mansion itu. Wajah Seto sepahit pare yang belum di rebus walau muka nya seperti teko yang ada di atas kompor yang menyala. Seorang maid masuk dengan membawa trolly menuju meja tamu, dia merasakan aura menakutkan yang menggantikan udara untuk bernafas. Dengan takut-takut di taruhnya cangkir-cangkir coklat panas pesanan Moku dan sekeranjang ginjer cookies di sana lalu bersiap-siap kabur dengan menunduk hormat dan mendorong trolly menuju pintu.

"Jadi bagaimana bisa kau ada di dalam ruang itu?" begitu maid itu keluar, Seto langsung to the point, dia kesal karena Moku membawa gadis penyusup a.k.a Luka pulang ke rumah mereka. Sedang Luka cuma senyam senyum.

"Tunggu sebentar, Tuan.. bisa aku pinjam kamar mandi mu? Aku merasa tidak nyaman basah begini.. dan lagi bisakah kamu memberikan ku baju ganti.. bajuku sudah kotor dan compang-camping begini.. lalu bolehkah aku tinggal disini.. aku nggak mau pulang~" wajah Seto yang sering stay cool sekarang mukanya hancur a.k.a tak dapat di definisikan. Moku cuma bisa ckikikan ngelihat muka sang kakak yang sangat terhormat di mata para pegawainya ini. Dan Luka hanya pasang senyum manis nan polos.

+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+ _+_+ _+Yume no Usagi +_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+

Seto's Inner : *white background*mata memutih*Seto totally shocked*

Reader : *cekakaka*

+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+ _+_+ _+Yume no Usagi +_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+

-Kelas 1A, Konoha High School-

Sasuke hanya menatap keluar jendela di mana salju sedang turun, dia terus memikirkan mimpi yang semalam dia alami. Dia sama sekali tak mengenal gadis merah muda itu, walau di adik kelasnya di waktu SMP ada yang memiliki warna rambut yang sama a.k.a Sakura Haruno (15 tahun) tapi tak mungkin itu sakura karena rambut Sakura di potong pendek dan lagi mata keduanya berbeda. Butir demi butir salju menyadarkan si tuan muda emo.

'Untuk apa memikirkan hal tak penting, seperti menghitung butir-butir salju saja. Hm.' Ditutupnya ke dua mata hitamnya yang dingin.

[ " Hei, buka mata mu, Sasuke-san~"]

" ! Hn?" Sasuke kaget setengah idup, soalnya kalau ditulis mati dia kan belum mati *digampar*. Dia clingak clinguk kesana kemari dengan nggak tau alamat (?). Orang yang duduk di sebelah mejanya, hanya bisa menyerit dahi atas tingkah polah sahabatnya itu.

"Oi, Teme kau ngapain sih?"

Uzumaki Naruto, 16 tahun.

Cowo berkulit tan dengan 3 garis di masing-masing pipi nya terlihat manis untuk wajahnya. Rambutnya yang kuning jabik sangat memunculkan sisi shota nya. Tipe cowo hiperaktif yang kadang bisa jadi dewasa saat ada adik perempuan kembarnya yang bernama Naruko yang punya rambut panjang yang dikiat twintail. Mata biru nya juga menggambarkan langit musim panas yang cerah. Sasuke cuma sedikit tertegun lalu mulai bicara.

"Hn." Naru langsung pasang senyum dipaksakan dan wajah horor.

"Bisa kau ulang?"

"Hn."

"Lagi.."

"Hn."

"Itu apa artinya?"

"Hn."

"Bisa pakai bahasa orang gak?!" Kuping Naru benar-benar sudah panas. Setiap hari cuma bisa denger si Teme bilang 'Hn' yang mungkin (?) sulit dipahamin oleh otak orang awam. Sasu tak perduli dan lebih memilih melihat jendela (yang nyaris lubang-lubang semua karena dilihatin terus pakai mata yang seperti senjata terselubung itu *poor jendela*plak*).

GREKK GREKK

Pintu di buka dan di tutup lagi oleh orang nya sama. Anko-sensei, guru seni yang menyeramkan ini pernah memberi tugas untuk bermain jalangkung (?) di sekolah tepat pukul 12 malam (kalau tidak datang tak di beri nilai plus tambahan hukuman yang entah apa macamnya) dan menyebabkan banyakkan hantu nyasar yang datang kesekolah. Tapi dia sama sekali tak terlihat bermasalah setelah kejadian itu, dia malah terlihat senang itu terjadi.

" Minna, tahun depan akan di adakan pertunjukan film antar sekolah se-Jepang. Karena ini di adakan tahun depan setelah kalian naik ke kelas 2, peraturan nya sedikit berubah yaitu berpasangan dengan sekolah lain~ dan kalian harus tau siapa yang jadi partner sekolah kita~" okay, sekarang murid-murid sudah merasakan hal buruk yang akan terjadi. "Domino High School~" Anko-sensei langsung mendramatis keadaanan dengan topeng Orochimaru dan ular putih peliharannya yang entah datang dari mana, membuat ruang kelas porak poranda dan penuh jeritan yang memekakan telinga.

Dari dulu kedua sekolah ini selalu memperebutkan tropi dari segala kejuaraan yang mempertemukan mereka. Lucunya~ (APANYA YANG LUCU COBA?!). Sasuke masih saja asik memperhatikan salju yang turun dengan datar, sejenak dia teringat sore ini ada seseorang yang memintanya menemani pergi membeli sesuatu yang entah apa dan orang itu memintanya mengunakan tatapan memelas yang maksa tinggat menengah ke atas (?). Sebut saja seseorang itu Haruno Sakura (15 tahun), tetangga Sasu yang nge-fans sama dirinya jadi terpaksa Sasu menurutinya. Sasu menghela nafas menyesali apa yang akan dilakukannya nanti. Anko-sensei masih saja membahas hal tadi hingga membuat suasana kelas jadi makin ricuh.

-Kembali ke Kaiba Mansion-

Muka Seto masih seperti teko yang dipanasin melihat Luka yang asik sendiri menggambar di meja ruang tamunya, entah apa yang di gambarnya tapi sedari tadi Luka terus bolak-balik melihat Seto.

"Seto-san, coba lihat ini! Bagus tidak?" Seto cuma bisa cengo , Luka benar-benar menggambar dirinya. Digambar itu Luka menggambar Seto dengan baju yang terlihat seperti anak sebayanya (yang dilihatnya dari suatu buku bergambar bernama majalah yang di perlihatkan Moku) dan sebuah senyum yang hangat.

"Saya berpikir Seto-san akan memperlihatkan senyuman ini suatu saat nanti" Luka tersenyum polos, "Saya pergi lihat-lihat keluar, bolehkan?" Luka langsung berlari dengan ceria sambil mengambil mantel coklatnya lalu pergi entah kemana. Seto menutup matanya lalu membukanya perlahan.

"Kisono, jaga gadis itu.. jangan biarkan dia membuat masalah di luar." Kisono yang sedari tadi diluar ruangan langsung membuka pintu.

Skip Time-

Luka yang sedang berlarian kecil sambil menari dan menyanyi di jalan yang dilewatinya dan dia terus begitu hingga dia sampai di sebuah pusat pertokoan yang ramai. Dilihatnya sebuah lapak yang menjual kue berbentuk ikan dan Luka menghampirinya.

"Maaf Paman.. apa ini bisa dimakan?" Luka penasaran. Paman penjual makanan itu tersenyum.

"Nona ini bukan orang sini ya? Tentu ini bisa dimakan." Jawab Paman itu ramah.

"Tapi saya tak punya sesuatu untuk membayar jika aku beli." Paman itu tersenyum di ambilnya beberapa kue itu dan dimasukannya kebungkusan kertas lalu memberikan nya pada Luka.

"Nona boleh membawanya jika Nona mau?" Paman itu masih tersenyum, Luka yang awalnya kaget ikut tersenyum.

"Terimakasih, Paman. Aku akan memakannya sampai habis dan membayarnya." Belum sempat paman itu menjawab Luka sudah menghilang. Kisono pun ikut kelabakan karena Luka menghilang tanpa bekas. Sementara itu Luka sudah sampai disebuah taman, di sana ada seorang pria yang membawa gitar dan dibawahnya ada kotak gitar nya yang dibuka. Luka sempat bertanya-tanya untuk apa itu, dan mulai mendekat. Orang itu memainkan gitarnya sambil bernyanyi, Luka kaget melihat orang-orang melemparkan sesuatu ke tempat gitar itu. Beberapa saat kemudian orang-orang bertepuk tangan bersamaan saat pria itu selesai dengan permainnya lalu orang-orang itu pergi. Luka yang kebingungan langsung bertanya kepada pria yang sedang mengambili hasil dari kerjanya.

"Maaf Tuan, apa yang anda lakukan? Benda ini apa? Apa gunanya?" Pria itu sempat kaget tapi akhirnya menjawab pertanyaan gadis di depannya.

"Aku tadi sedang mengamen.. kamu tak tau kalau ini nama nya uang?" Luka memiringkan kepalanya, orang itu sempat sweatdrop karena gadis ini tak tau uang (padahal jaman sekarang semuanya dibeli dengan uang dan banyak koruptor yang menghabiskan banyak uang negara di berita). "Uang ini dipergunakan untuk membayar atau membeli apa yang kamu mau."

"Membayar.." Luka ingat bahwa dia harus membayar paman tadi karena telah memberinya kue-kue ini. "Ini.." Luka memberikan sebuah kuenya, pria itu benar-benar kaget.

"Ini untuk apa?"

"Saya belum membayar Tuan tadi saat Tuan bernyanyi tadi.. jadi kue ini bisa kan untuk membayar?" Pria itu tersenyum melihat kepolosan gadis ini, di masukan nya uang-uang itu ke dalam sakunya dan di tepuk-tepuknya pelan kepala Luka.

"Baiklah, Nona manis.. aku anggap ini bayaran ku, terima kasih ya.." Pria itu tersenyum sambil menerima kue itu dan Luka mulai masang muka cerianya. "Nah, sudah waktunya aku pergi.. sudah dulu ya, Nona.. nikmati hari mu.." Pria itu pun berlalu, Luka yang sedari tadi punya ide, mulai menghabis kan kue-nya yang benar-benar enak dan berjalan lagi menuju sisi pertokoan yang cukup ramai lainnya.

Sementara itu~ Kisono masih lari pontang panting kesana kemari layaknya lagu ayu ting tong.

Luka sudah berdiri di depan toko yang sering dilewati orang-orang, di taruhnya sapu tangannya di depan kakinya dan mulai bernyanyi. Salju yang mulai turun memperindah suasana.

Suya suya yume wo miteru
Kimi no yokogao
Kidzukazu koboreta namida
Hoo wo tsu tau

Suara Luka yang indah cukup menyita perhatian orang-orang dan orang-orang mulai berkerumun.

Setsuna no tokimeki wo
Kono mune ni kakushiteta no

Last Night, Good Night
Last Night, Good Night
Kono yoru kimi no te
Nigitte nemuru yo

Oyasumi

Orang-orang yang mulai terkesan, sangat menikmati lagu Luka. Uang-uang kecil pun mulai terkumpul. Kisono yang sedari tadi mencari pun mulai tertarik menuju kekerumunan di pinggir jalan itu, dan menemukan Luka yang bernyanyi. Kisono yang semula cengo mulai terbawa suasana nyaman dari nyanyian Luka sama seperti orang-orang yang sedang memperhatikan Luka.

Suteki na asa wo mou ichido
Kimi to suyo setara
Chisana sonna kibou sae
Omou dake no kiseki

Nani mo tsutaenai mama
Sayo nara wa ienai yo

Lampu-lampu mulai menyala, Luka masih terus melanjutkan nyanyian nya dan juga orang-orang yang tak bisa mengalihkan perhatian dari Luka.

Last Night, Good Night
Last Night, Good Night
Kono koe karete mo
Kienai Merodii

Last Night, Good Night
Last Night, Good Night
Itsuka wa mokaeru
Saigo wo omou yo
Yozora ni negau no
Tokiwa no egao wo

Oyasumi

Orang-orang bertepuk tangan dengan meriah, Luka pun tersenyum lebar karena bisa membayar kue-kue dari paman tadi.

"Hei Nona, bisa kamu bernyanyi lagi? Kami ingin mendengar suara mu lagi." Pinta salah seorang dari kerumunan yang mengerumuni Luka.

"Kami akan menambahkan uang hasil mengamen mu.." kata yang lain. Luka pun setuju-setuju saja asalkan orang-orang itu senang.

"Kalau begitu selamat menikmati~"

Donna kimi ni atte mo~
Nanigenai mainichi ga~

Luka menari dengan PD-nya, emang kadang-kadang dia sikap layaknya badak yang nggak perduli apa pun yang lihatnya.

Tomadaou Kimochi wa
Suki no uragaeshi datte
Kaze ni hodokeru kami ni
Shinkuro suru Buresu

Luka mengerak-gerakan jari telunjuknya sambil melafalkan mantra di dalam pikirannya.

Koi Ka Na~
(dou ka na~)

Satu.

Aitai na~
(koi ka mo~)

Dua.

Amai amai Caramel Rythm

Tiga. Luka mengakat kedua tanganya tinggi tinggi dan itu membuat orang-orang mengalihkan pandangan ke langit. Salju yang turun mulai bercahaya satu per satu menampakkan keindahan tak terkira. Selama itu Luka mengambil uang hasilnya mengamen dan cepat-cepat di masukan ke sakunya lalu melanjutkan nyanyiannya.

Donna kimi ni atte mo~
Donna kokoro o egaita to shite mo
Imagination, Merry-go-round
Nanigenai mainichi ga
Kakegea nai jikan ni naru

Arukou so, love

Donna Time capsule mo
Kimi no kokoro o kaerare wa shinai
Daijoubu mayowanai de
Nanigenai mainichi ga kakegai nai kioku ni naru

Arukou so, love

Dan saat orang-orang akan kembali menatap tempat Luka berdiri dan bernyanyi mereka sudah terkejut karena Luka sudah menghilang dan hanya meninggalkan sebuah meno.

= ll = Minna-sama, maaf saya meninggalkan kalian begitu saja.. Saya masih ada urusan. Tapi saya harap kalian menikmati nyanyian saya tadi. Terima kasih~ dan sampai jumpa lagi! = ll =

Orang-orang itu hanya menghela nafas dengan berwajah maklum lalu mulai berhamburan entah kemana. Kembali ke Luka, dia sudah berlari menuju tempat paman penjual kue berbentuk ikan yang baik itu. Akhirnya dia sampai di warung itu dengan wajah memerah dan uap nafasnya yang sangat banyak.

"Paman~ Maaf, saya ingin membayar kue tadi~" Wajah Luka yang merah dengan senyum dan suara yang polos di berikannya semua uang yang dibawanya. Paman itu sedikit kaget dan tersenyum.

"Nona, tidak perlu memberikan semua uang Nona. Harga kue-kue itu tidak sebanyak ini." Luka memiringkan kepalanya.

"Paman~ Uang ini Luka kasih ke paman saja~ soalnya Luka sangat suka kue dan paman yang sangat baik dengan Luka~ Luka harap uang itu bisa berguna untuk paman~" Paman itu mengelus-elus kepala Luka. "Paman, Luka permisi dulu ya~ Luka ingin jalan-jalan lagi~"

"Kalau begitu hati-hati ya." Kata paman itu.

"Iya~ Bye bye, Paman~ Terima kasih ya~ Kue nya enak sekali~" Luka langsung berjalan dan kembali menyusuri pertokoan.

+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+ _+_+ _+ Jaa Matta +_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+ _+_+ _+

Terima kasih telah membaca chapter 2 ini~ Saya menyisipkan beberapa lagu di fic saya. Berikut judul dan singer nya :

# Last Night, Good Night – Hatsune Miku
# Flyable Heart – KIYO

Author : Maaf, saya kelamaan hiatus T^T habis saking sibuknya~
Sakuke : Sibuk tidur
Author : Enak aja! Aku bukan kerbau tau!
Sakuke : ... *cuek wek wek wek bebek*

Luka : *tiba-tiba muncul* Review please~ XD