Disclaimer : Naruto bukan milik saya! Kalau punya saya, mereka pasti jadi anak sekolahan. Jadi, Naruto punyanya mbah Masashi Kishimoto, tuh.
Naruto dan Dunia Avatar © Ru Unni Nisa
OC (selain Gina, Arashi, Fuyuki dan Gin adalah milik saya) © Readers yang sudah baik hati meminjamkan OC mereka
Warning : Sekuel dari 'Teman' ; AU, OOC, OC, Khayalan Tingkat Tinggi, Don't Like Don't Read
.
.
BAB I
Pertukaran
Kedua kelopak mata berkulit pucat itu terbuka dengan cepat. Menampilkan iris hijau dalam yang dapat menelan siapapun yang melihatnya. Pemilik mata hijau tersebut bangun dari posisi berbaringnya. Tanpa sadar menegakkan diri. Melihat kanan dan kiri dengan cepat, begitu mengetahui dimana dirinya.
Kanan dan kiri, depan dan belakang dimanapun dia melihat semuanya hanya pohon yang menunjukkan dirinya berada di hutan yang lebat. Ia menghela nafas lega, tak mengetahui dirinya dalam posisi tegang. Poni pirangnya jatuh menutup matanya. Melihat kebelakang dan menemukan sebuah sumpit atau batang kayu yang patah menjadi dua bagian. Batang kayu itu diukir dengan motif lingkaran spiral dengan huruf V diatasnya.
Ia kembali menghela nafas. Kembali melihat sekeliling dan memastikan dirinya sendiri, ia menggoyangkan tangan kanannya ketika ia mengucapkan sesuatu.
"Gemmis"
Bersamaan dengan itu, sebuah batang pohon besar yang ada didepannya mulai bergerak. Sebagian kecil dari batang itu memisahkan diri dengan panjang sekitar 30 centimeter dan terus mengukirkan dirinya sendiri, hingga membentuk sebuah sumpit yang diukir lingkaran spiral yang mengelilingi dan terdapat huruf V diatasnya. Sama seperti yang tadi.
Menggerakkannya, seolah menyuruh sumpit tersebut untuk mendekatinya. Ketika ia meraih sumpit tersebut dan menggunakan kedua bibirnya untuk menahannya sementara dirinya sibuk dengan rambut pirang panjangnya yang bergelombang untuk terus ia gelung dan akhirnya menusuknya dan menjadikannya sebuah konde.
"Selesai." Ia berkata pelan. Ia terus duduk hingga beberapa lama hingga berdiri dan melihat sekeliling. Ia hapal betul dengan hutan ini, hanya satu hal yang membuatnya bingung. Ia dilema untuk kembali ke rumahnya sendiri yang berhadapan dengan hutan ini.
Ia memang baru berusia 15 tahun, tapi bukan berarti dia adalah gadis manja. Dia hidup untuk dirinya sendiri dan kedua hewan peliharaannya yang menjadi teman.
Ia tidak suka hal ini. Kenapa penduduk tidak membiarkan dirinya sendiri? Dia sama sekali tidak menyerang mereka dengan 'kekuatan' anehnya, lalu apa salahnya?
Menahan dirinya untuk tidak mengutuk para penduduk yang tadi sempat mengejarnya ketika ia keluar rumah untuk mencari sesuatu yang dapat dimakan bagi kedua peliharaannya, Album dan Nigrum. Keduanya adalah kucing manis dengan masing – masing genre.
Album, si betina cuek yang sering marah ketika dirinya mengganggu kucing putih ini. Sementara Nigrum adalah kucing jantan yang manja dan senang untuk diajak bermain. Keduanya ia temukan di jalanan ketika ia dikejar oleh penduduk saat ia berumur 10 tahun. Mengingatnya, ia penasaran apakah kucing bisa hidup selama itu?
Ia menggelengkan kepalanya. Ia sudah cukup untuk hari ini. Melihat kedepan dan menemukan sebuah celah cahaya yang sepertinya adalah jalan keluar dari hutan lebat yang sangat familiar baginya. Berlari mengejar dan kemudian yang ia ketahui adalah dirinya berdiri dibawah sinar matahari yang terik dan suara air gemericik air dibawahnya.
Dirinya baru menyadari ketika ia berada ditepi sungai. Berjalan dan kemudian berjongkok, menatap air sungai didepannya yang menunjukkan cerminan dirinya. Ia memiliki rambut pirang panjang bergelombang yang ia gelung menjadi sebuah sanggul dengan menyisakan beberapa helai yang terlihat nakal untuk menurut. Poni pirang yang menutupi dahi dan alisnya yang memiliki warna yang sama. Dengan warna mata hijau seperti sebuah batu emerald yang sangat briliant.
Bayangan itu buyar ketika dirinya meraup air sungai dengan kedua tangannya dan membasuhnya ke wajahnya yang miliki warna pucat. Ia juga mengambil beberapa raupan air untuk ia bersihkan pada beberapa bagian lengan atau kakinya yang kotor oleh tanah.
Begitu memastikan dirinya sudah bersih. Ia dapat melihat beberapa ikan yang lumayan besar untuk ia tangkap. Tersenyum senang. Ia kembali menggoyangkan lengan kanannya dan beberapa gumpal air yang lumayan besar – cukup untuk menenggelamkan sebuah batu sungai – melayang. Di gumpalan tersebut terdapat ikan yang berenang dan terjebak didalamnya. Kembali menggerakkan tangannya, gumpalan – gumpalan tersebut sekarang terbang melayang mendekatinya menuju tepi sungai.
Setelah cukup jauh dari sungai. Ia menepuk kedua tangannya dan gumpalan – gumpalan tersebut pecah, meninggalkan beberapa ikan besar yang tergeletak gelisah untuk meminta air. Ia terkekeh geli ketika terkena cipratan dari air yang ia sebabkan.
Mengambil beberapa daun kelapa yang entah ia dapatkan darimana, ia segera membungkus ikan – ikan tersebut didalamnya dengan ekspresi yang menunjukkan penyesalan. Ia harus berusaha keras menangkap ikan – ikan tersebut didalam bungkusan daun yang sudah ia lipat.
Bangun berdiri dan mengambil daun pisang berisi ikan – ikan yang akan ia gunakan untuk makanannya dan kedua kucingnya. Ia berjalan kembali ke dalam hutan dengan langkah lompatan yang ringan. Tanpa merisaukan bahwa apa yang ia lakukan adalah tidak normal.
...
"Aku akan membawamu pergi, Naruto."
Naruto memalingkan wajahnya pada kucing putih yang beberapa bulan yang lalu ia pungut dan menjadikannya sebagai teman. Ia merasa dirinya sudah gila saat ini. Mana mungkin seekor kucing bisa bicara? Mungkin, kegelisahannya mengenai dirinya yang tidak lulus ujian Genin adalah akibatnya.
Beberapa saat yang lalu ia dan teman – teman sekelasnya baru saja mengikuti ujian Genin yang diselenggarakan setiap tahun yang biasanya diikuti para siswa yang ingin menjadi seorang ninja atau shinobi. Dan dia menginginkannya setengah mati. Ia akan memberikan apapun agar dirinya menjadi ninja yang mampu melindungi Konoha, desa yang ia cintai ini. Ia akan melakukan apapun agar dirinya menjadi shinobi yang diakui dan dihormati di Konoha ini, desa yang membesarkannya. Meskipun dipenuhi dengan tatapan tajam dan benci yang ia terima selama ini, tapi, desa ini adalah tempat orang – orang yang peduli padanya. Hokage ketiga, paman Teuichi dan anaknya, dan beberapa penduduk yang mungkin peduli padanya dengan sembunyi – sembunyi agar tidak ada orang yang mengetahuinya.
Ia menerimanya. Apapun itu.
Tapi, ia gagal menjadi shinobi, ia gagal untuk dapat melindungi orang – orang yang peduli padanya. Ia gagal untuk menjadi seseorang yang diakui dan dihormati di desa yang ia cintai ini. Ia gagal. Dan ia tidak tahu bagaimana harus memperbaikinya.
Kebingungan dengan apa yang terjadi, ia berlari pulang tanpa memperdulikan tatapan tajam atau makian yang ia terima karena mengganggu. Ia hanya ingin pulang dan menyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah mimpi. Dan ketika ia bangun, ia akan siap untuk lulus ujian.
Tapi, itu tidak pernah terjadi, dirinya justru mendengar seekor kucing yang berbicara padanya. Padanya! Mungkin dia memang sudah gila.
"Bagaimana?"
Naruto menelan ludahnya. Ia mendengar suara dari kucing yang berada didepannya. Suaranya memang tidak seperti kucing. Mungkin lebih mirip suara anak – anak yang cempreng atau suara orang yang sedang mengejek. Dia tidak tahu mana yang benar.
"Ka-ka-kamu bisa bi-bi-bica-"
"Tentu saja aku bisa bicara, bocah." Kucing itu memotongnya dengan sebuah geraman rendah yang terdengar malas.
"T-t-tapi-"
Naruto kembali menelan ludahnya ketika ia menerima tatapan tajam dari kucing putih didepannya. Ia berharap, kucing itu bukanlah hantu atau apapun yang sejenis dengan hal yang paling ia takuti itu.
"Kamu kira aku hantu?"
Naruto memucat mendengarnya.
"Hmm... Bagaimana kamu bisa berfikir aku hantu, Naruto?" Kucing putih yang ia namai 'Neko-chan' itu melangkah mendekatinya. Ketika dirinya sendiri menggerakkan pantatnya untuk mundur menjauh dari apapun itu yang ada dihadapannya.
"I-itu-" Naruto tergagap menjawabnya. Bagian belakang tubuhnya merapat pada dinding apartemennya. Kepanikannya semakin menjadi ketika melihat kucing bisa bicara tersebut melangkah semakin dekat. "Pe-pergi, Tn. Hantu! A-aku adalah a-anak ba-baik."
Ada seringai yang muncul di mulut Neko-chan. Ia berdiri hanya beberapa centimeter dari kaki Naruto yang gemetar karena takut. "Ho? Kamu adalah anak baik?" Naruto mengangguk gemetar mendengarnya. "Kalau begitu kamu akan menuruti perintahku untuk ikut denganku, bukan?"
Naruto semakin memucat. Apa – apaan dengan Tn. Hantu didepannya ini. Kenapa Tn. Hantu sangat ingin membawanya pergi? Dia sudah memintanya untuk menjauh, kenapa menjadi seperti ini? Apakah Tn. Hantu ingin memakannya? Tanpa sadar, ia menggelengkan kepalanya, takut dengan pemikirannya sendiri.
Sayangnya, kucing didepannya ini mengetahuinya.
"Naruto."
Naruto mengalihkan perhatiannya pada kucing yang duduk sangat dekat dengannya. Ia semakin gemetar hebat ketika melihat salah satu kaki – atau tangan, mungkin? – depan kucing putih itu menggantung diatas kedua kakinya yang sama – sama gemetar.
Kucing putih itu menyeringai jahil ketika melihat betapa berantakannya bocah didepannya.
Sementara Naruto melihat bagaimana background kucing itu terlihat kucing putih yang tertawa jahat dengan api yang membara membuatnya semakin merasa buruk. Oh, dia merasa ingin sakit hari ini.
Dan dia tidak tahu apa – apa lagi ketika dirinya secara reflek, terlalu panik merasakan sesuatu yang menepuk ringan salah satu kakinya. Dia sudah pingsan lebih dulu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
.
Kucing putih itu menghela nafasnya. Menggelengkan kepalanya ketika ia mengangkat kakinya dari kaki Naruto yang sudah lemas. Memutar balik, ia menggetarkan seluruh tubuhnya, mengakibatkan semua bulu bergetar dan bergoyang menyisakan beberapa helai bulu yang jatuh. Berusaha mengumpulkannya dan tiba – tiba diatas salah satu kakinya yang berada diatas bulu – bulu itu sedikir mengeluarkan cahaya yang sepertinya sebuah energi.
Bulu – bulu itu terangkat keudara dengan adanya cahaya energi tersebut dan membentuk sebuah lingkaran yang lumayan besar.
"Morbi: aperite portas communicationis"
Usai pengucapan, lingkaran itu bercahaya cukup menyilaukan.
.
Kucing yang memiliki bulu yang super hitam lebat itu memperhatikan sungai yanng berisi ikan – ikan besar dan segar yang sedang menari didalam air. Perutnya bergerak dan berkumandang padanya untuk memakan ikan – ikan yang sangat lezat itu.
Dengan diawali jilatan pada bibirnya sendiri dan matanya yang menunjukkan kelaparan, ia merendahkan tubuhnya pada tepi sungai itu dan bermaksud untuk meraih ikan – ikan yang terlihat mengejek padanya dengan tangannya yang sudah siap dengan cakar – cakar yang tajam.
"Tamatlah riwayat kalian." Kucing hitam itu terkekeh pelan dengan seringai jahatnya. Cakarnya baru saja menyentuh air itu ketika ia melihat air dibawahnya berkilau dan bercahaya dengan tidak biasa. Seolah matahari ada didalam air itu.
Menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa tidak ada yang akan mengetahui apa yang ia temukan. Kembali lingkaran bercahaya itu, ia terus memperhatikan hingga cahaya itu mulai meredup dan menampilkan sosok yang sangat familiar dengannya.
"Shiro?"
Ia menatap pada kucing dalam lingkaran itu. Shiro, kucing yang memiliki bentuk fisik 99% sama dengannya kecuali perbedaan warna bulu. Dimana bulu Shiro berwarna putih dan dirinya hitam.
"Apa? Kamu tidak menyangka aku akan menghubungimu secepat ini?" Kucing putih yang merupakan bayangan dari alat komunikasi itu menggeram dengan kesal dan malas. Ia menghela nafasnya, rekannya ini sama sekali tidak berubah.
"Kamu sudah menemukannya?" Ia berusaha memperbaiki keadaan. Ia melihat bagaimana Shiro menyingkirkan tubuhnya, sehingga dirinya dapat melihat seseorang dibelakang rekannya. Ia tidak akan terkejut ketika ia menemukan seseorang yang sangat mirip dengan orang yang ia kenal. Yang membuatnya mengangkat alisnya adalah bagaimana posisi orang tersebut. Pingsan dengan tidak elitnya.
"Apa yang terjadi, Shiro?" Jawaban yang diinginkannya hanyalah sebuah angkatan bahu. Kembali menghela nafas menghadapi sifat rekannya. Ia berusaha mencari topik lain. "Kapan?"
Ia melihat Shiro menengok sesuatu yang tidak bisa ia lihat. "Mungkin tengah malam."
"Hn." Ia menjawabnya dengan singkat. Ia tiba – tiba teringat dengan ikan – ikan yang masih bergerak bebas, sementara perutnya sudah mulai mengecil secara drastis. Ia melihat Shiro tersenyum palsu.
"Aku lihat sepertinya kamu sedang mengicar ikan di sungai sialan itu?"
Ia dapat mendengar suara Shiro yang sebenarnya mengejek, namun sebenarnya penuh kengerian. Ia kembali mengingat bagaimana tanpa sengaja Shiro tercebur di sungai yang sangat dingin ini karena sedikit dorongan dari Fuyuki. Ia berusaha menyembunyikan senyumnya, namun sia – sia.
"Diam." Ia melihat Shiro memberikan tatapan tajam. "Aku pergi dulu." Dengan itu bayangan didalam air itu menghilang dan kembali menampilkan ikan – ikan lezat yang ia nantikan. Tak memperdulikan bagaimana Shiro memutuskan komunikasi dengan kasar. Ia baru saja ingin meraup seekor ikan ketika ia mendengar namanya disebut.
"Kuro." Kucing hitam yang bernama Kuro merasa semua bulunya berdiri mendadak. Ia menengok pelan pada pelaku yang memanggil namanya dan menemukan seorang anak berumur sekitar 12 tahun, memiliki rambut pirang dengan mata biru. Ia berusaha membuat wajahnya tak bersalah, namun sia – sia rupannya. Ia memang tidak pandai menyembunyikan sesuatu dengan sungguh – sungguh.
"Dimana Shiro?" Suara itu menuntut, dan mau tak mau Kuro harus menjawabnya.
"Kamu tahu, dia mungkin sedang ada urusan." Ia berusaha menjawab dengan hati – hati.
Mata biru itu menyipit, terlihat tidak suka dengan jawaban yang ia terima. Berekspresi cemberut khas anak – anak. "Aku tahu kamu tidak berbohong. Tapi itu bukanlah jawaban yang aku inginkan."
Kuro menghela nafasnya. Ini akan menjadi siang yang sangat panjang. Dan perutnya terus menggeram karena sedari tadi dia tidak memiliki kesempatan untuk memakan ikan – ikan yang segar tersebut. Ini sangat menyiksanya.
.
~NARUTO DAN DUNIA AVATAR~
.
Berkedip beberapa kali, berusaha menjernihkan penglihatannya. Dan menemukan langit – langit kamar apartemennya yang gelap, dan itu sudah... biasa. Yeah, itu sudah biasa baginya. Bangun tidur hanya untuk disapa dengan langit apartemen yang sama sekali tak berwarna, semuanya normal.
Okay, mungkin tadi dia sedikit berhalusinasi, mimpi, berkhayal atau apapun itu yang tidak nyata. Ia melihat seekor kucing bicara padanya! Apa yang salah dengan otaknya? Dia pasti sudah gila.
Tenangkan, dirimu Naruto. Ia berusaha menenangkan diri. Pikirkan dengan baik, apa yang baru saja terjadi. Naruto kembali mengingat apa saja yang terjadi hari ini. Dimulai dari bangun dengan semangat untuk menjadi seorang Shinobi – ia merasa bodoh ketika memikirkannya kembali, gagal membuat bushin – Naruto kembali mengutuk kebodohannya, pulang mendapat tatapan tajam dari warga – hal itu sudah biasa, sampai di rumah menangisi kegagalannya – ia merasa seperti bayi, dan mendengar kucing yang menjadi teman satu – satunya kini bisa bicara! Dia sudah mulai gila!
Mungkin itu hanya mimpi. Mungkin dia terlalu banyak bertengkar dengan Sasuke ataupun Inuzuka dengan anjingnya itu hingga dia kelelahan dan akhirnya tidur terlalu lama seperti Shikamaru pemalas itu dan dia menjadi bermimpi aneh. Yeah! Pasti seperti it-
"Jangan terlalu banyak berfikir. Hidung dan telingamu mengeluarkan asap."
Naruto tiba – tiba merasakan wajahnya memerah. Apa ia terlihat jelas dalam berfikir? Apa benar ada asap keluar dari hidung dan teli- Tunggu! Tiba – tiba Naruto merasakan seluruh bulunya berdiri.
Dengan horor dia berusaha duduk dan menemukan Neko-chan tengah duduk tenang dan menatapnya malas. Dengan melebarkan matanya secara komikal, ia mulai berteriak. "WWAAAA!" Panik mundur dan hanya diberi kenyataan bahwa punggungnya sudah menempel pada dinding. Tubuh Naruto mulai gemetar, pikirannya terhadap hantu didepannya membuat pandangnnya berkabut dan ketika ia akan kembali pingsan, ia dibangunkan dengan adanya rasa sakit dipipinya.
"Aduh." Keluh Naruto ketika ia mengusap pipinya yang sakit. Ia melihat Neko-chan telah mencakarnya.
Neko-chan memutar bola matanya, merasa risih ketika ia melihat bagaimana tingkah Naruto. "Jangan pingsan lagi, baka. Kamu kira enak nungguin orang pingsan?"
Naruto mengedipkan matanya beberapa kali, kebingungan. "Eh? Tadi bukan mimpi, ya?" Dengan wajah tak bersalahnya. Dan langsung mendapat cakaran maut dari kucing putih di depannya. "Akh, aduh... Neko-chan, kenapa jahat sekali? Kamu sangat manis waktu pertama kali aku lihat, aku bawa, aku gendong, aku mandikan, aku dandani-"
Tepat saat itu, Naruto mengeluarkan suara 'eep' ketika ia kembali merasakan kuku Neko-chan di wajahnya. Dan Naruto bisa bersumpah, ia bisa melihat kucing putih dihadapannya ini memerah. Bagaimana bisa?
"Diam, baka." Neko-chan segera duduk berhadapan didepan Naruto. Pandangannya terlihat masih malas, meskipun terlihat ia menahan malu. "Sekarang, sampai mana kita tadi?"
Naruto menegakkan duduknya. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi sekarang. "Jadi, kamu benar – benar bisa bicara ya, Neko-chan?"
Neko-chan berusaha menahan diri untuk tidak kembali memutar bola matanya. "Hn."
"Uwah! Kamu kayak Sasuke-teme." Komentar Naruto ketika ia mendengar gumaman dari kucing yang bisa bicara didepannya ini. Ia teringat bagaimana rival dikelasnya itu selalu bergumam pendek yang membuat orang lain sebal.
Neko-chan mengeluarkan nafasnya yang terdengar seperti helaan nafas. Bagaimana bisa ia berurusan dengan bocah seperti ini. Ia melirik pada jam dan menemukan saat itu sudah mulai malam. Ia hanya memiliki waktu kurang dari enam jam untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Grooowwl~
Suara yang lumayan keras itu membuat suasana menjadi sunyi.
Neko-chan melihat bagaimana wajah Naruto yang memerah dan mulai memeluk perutnya sendiri dan bagaimana Naruto mulai salah tingkah. Ia dapat mendengar Naruto berbisik dibalik nafasnya mengenai, "Belum makan siang." Dan "Ramen~"
"Aku bisa jelaskan ini, setelah kita makan, Naruto." Neko-chan segera berbalik dan menuju dapur, ketika Naruto pelan – pelan mengikutinya dari belakang.
.
Suara kecapan dan mie ramen yang disedot itu memenuhi kamar apatemen yang terlihat sepi. Naruto baru akan memakan ramen instan yang keduanya ketika ia melihat Neko-chan hanya menatapnya makan. Merasa tak nyaman, Naruto memberanikan diri untuk bertanya.
"Um, Neko-chan kenapa kamu tidak makan?"
Neko-chan mengeluarkan senyum palsunya yang membuat Naruto kembali merinding. "Oh, yeah. Kamu baik sekali memberiku susu yang sudah kadaluarsa."
Seakan sesuatu yang baru saja ia ingat, Naruto kembali memerah. Ia seharusnya membeli persediaan. Tapi, ia menjadi malas untuk berbelanja ketika ia sendiri diusir dari tempatnya berbelanja. "Ugh, maaf Neko-chan. Aku tidak ingat." Neko-chan sama sekali tidak membalas permintaan maaf Naruto. "Jadi... mau ramen?" Naruto menawarkannya dengan takut – takut.
"Aku bukan maniak ramen sepertimu, Naruto." Neko-chan mengeluarkan senyum gelinya pada tingkah Naruto, dan hal itu membuat senyum lebar Naruto kembali muncul. "Dan perutku tidak akan berbunyi meskipun aku tidak makan sejak pagi." Senyum lebar Naruto berubah menjadi senyum malu.
"Iya, iya, aku tahu. Aku minta maaf mentelantarkanmu."
Neko-chan tiba – tiba menegang. Senyum gelinya menghilang ketika ia mendengar kalimat Naruto. "Jangan pernah berkata seperti itu, Naruto."
Naruto mengangkat kepalanya bingung.
"Kamu tidak mentelantarku. Kamu tidak mentelantarkan kami. Kamu hanya..." Kalimat Neko-chan bergantung di udara dan Naruto tidak yakin bahwa dirinya mengerti apa yang dikatakan Neko-chan. "... Jangan berkata seperti itu lagi dan jangan meminta maaf untuk itu!"
Naruto mengedip beberapa kali, masih kebingungan dengan berubahnya sikap Neko-chan tapi ia mengangguk mengiyakan.
"Jawab, Naruto! Kamu bisa bicara, kan?!"
"'kay, 'kay, aku tidak akan berkata seperti itu lagi dan tidak akan meminta maaf." Naruto merasa jantungnya berdetak lebih cepat ketika ia melihat bagaimana Neko-chan terlihat stres. Dan Neko-chan terlihat tidak mau memperpanjang hal tersebut dan lebih memilih diam.
Selama sunyi yang sama sekali tak nyaman itu membuat ramen yang ada di tangan Naruto terabaikan, membiarkan uap panas mengepul dari kotak ramen tersebut. "Jadi... bagaimana kamu bisa bicara? Kenapa kamu tidak bicara dari awal? Kenapa kamu menyembunyikannya selama ini? Kenapa kamu menyebut kami? Aku tidak memiliki siapapun lagi selain kamu disini. Dan kenapa kamu terlihat tegang-" Naruto tidak bisa mengontrol mulutnya dengan pertanyaan itu ketika ia sudah terlalu bingung dengan apa yang terjadi sekarang.
"Diam, Naruto. Sekarang mulutmu yang mengeluarkan asap."
Naruto memerah. Bagaimana bisa seekor kucing mengerjainya seperti ini? "Mulutku tidak mengeluarkan asap!" Naruto berteriak kesal.
Neko-chan mengeluarkan senyum palsunya. "Kalau begitu diam." Ia melihat mulut Naruto yang terkatup rapat. "Biar aku saja yang bicara." Neko-chan benar – benar harus sabar ketika si blonde didepannya ini mulai berteriak lagi, dan itu sangat berisik.
Neko-chan mengambil nafas dalam, bersiap untuk berdongeng.
...
Ada sebuah dunia yang berbeda dengan dunia Ninja. Ketika dunia Ninja dikaruniai chakra, maka dunia itu dikaruniai bayangan. Bayangan yang kuat. Bayangan yang terbentuk oleh berkah lahir, menghasilkan sesosok makhluk sedemikiann rupa yang akan menuruti Avu.
"Avu? Nama konyol apa itu?"
"Maksudnya adalah Pengguna Avatar, baka!"
Bayangan itu secara luas dikenal sebagai 'Avatar'. Dengan memiliki beberapa tingkatan. Gold, Silver dan Bronze. Masing – masing tingkatan tersebut memiliki level 61 sampai 90, 25 sampai 60 dan sisanya dibawah 20.
Tapi, hanya satu Avu yang memiliki level paling akhir dan paling tinggi, 99 atau yang disebut sebagai Platinumer. Seseorang yang menguasai semua elemen dari ada yakni Cahaya, Api, Air, Bumi, Angin, Logam dan Pikiran. Seorang Platinumer hanyalah penyeimbang dari sekian banyak elemen yang dikuasai.
Dimana ketika Avu pertama lahir, yang diberi gelar sebagai 'Prima'-
"Prima?"
"Dalam bahasa Latin yang artinya Pertama. Beliau adalah pengguna Avatar yang pertama dan seorang Platinumer." Naruto dapat melihat bagaimana Neko-chan menceritakannya seolah itu adalah nostalgia. Dia hanya memiringkan kepalanya, tak mengerti dengan sikap kucing putih yang bisa bicara itu.
-Hanya satu orang pengguna Avatar Platinum yang akan lahir dalam satu masa. Ketika seorang Platinumer meninggal, maka akan lahir pengguna Avatar Platinum yang baru, yang mewarisi semua ingatan sang Prima maupun Platinumer sebelumnya.
Masa permasa, ganti dengan pengguna Avatar Platinum yang lain. Pengguna Avatar yang lain mulai berkembang dan tumbuh. Dengan semakin banyaknya pengguna Avatar yang tidak mengetahui cara mengendalikannya, mereka mulai membangun akademi – akademi. Begitu pula dengan mengontrol adanya penggunaan yang tidak seharusnya, mereka membentuk sebuah organisasi yang sekarang dipanggil 'Kementrian Avatar'.
"Konyol." Komentar Neko-chan dibalik nafasnya.
"Akademi?" Naruto terlihat tidak mendengar komentar Neko-chan, ia justru tertarik dengan apa yang diceritakan kucing putih itu.
"Oh, itu mungkin akan mirip dengan Akademi Ninja disini. Hanya saja, disana hanya ada 3 tingkatan. Kebanyakan untuk masuk ke akademi, setidaknya kamu harus berusia 15 tahun. Itu adalah syarat masuknya."
"Bagaimana kalau ada yang mau masuk akademi tapi belum berumur 15 tahun?"
Neko-chan mengeluarkan nafasnya, "Hal yang seperti itu sepertinya tidak akan pernah, meskipun Avatar adalah berkah semenjak lahir dan kita dapat merasakannya sebelum masuk akademi, tapi saat berumur 15 tahun, bentuk Avatar sudah solid dan dapat dikeluarkan dengan baik. Tapi, hal itu ada pengecualian."
Naruto semakin tertarik dengan apa yang akan dikatakan Neko-chan selanjutnya. Mata birunya membesar seakan ingin keluar, terlalu penasaran dengan jawaban Neko-chan.
"Khusus untuk seorang Platinumer, dia dapat mengeluarkan Avatar-nya sejak ia masih bayi." Neko-chan menghela nafasnya.
"Wuah... Keren! Aku juga ingin seperti itu." Neko-chan terkikik kecil mendengar komentar Naruto. "Tapi.. Aku penasaran, bentuk Avatar itu seperti apa?" Pertanyaan itu terdengar untuk dirinya sendiri, dibanding Neko-chan.
Namun, Neko-chan terlihat tidak sabar untuk menjawabnya. "Setiap orang memiliki Avatar yang berbeda. Avatar mereka merupakan kepribadian mereka. Sudah kukatakan, Avatar adalah bayangan kita, jadi itu adalah kita sendiri."
Naruto mengangguk. Matanya menerawang. "Kalau aku ada di dunia itu... lalu punya Avatar, kira – kira Avatarnya seperti apa, ya?"
Neko-chan sedikit tertawa mendengarnya. "Kamu sudah punya, Naruto."
"Eh?" Neko-chan hanya bisa meringis ketika ia mendengar suara 'crack' kecil ketika Naruto menengokkan wajahnya. "Aduh..." Keluh Naruto lemah sambil mengelus lehernya yang sedikit sakit.
"Sakit?" Neko-chan menanyakannya sedikit khawatir. Ia melihat Naruto mengangguk dan masih meringis. "Well, lanjut yang tadi... Kamu sudah punya Avatar sendiri, Naruto. Jadi tidak perlu membayangkan yang tidak perlu."
"Huh?"
Neko-chan memutar bola matanya mengetahui betapa lama otak Naruto dalam memproses. "Kamu seorang Avu, Naruto. Seorang Platinumer." Neko-chan langsung to the point.
"Hehe... Sepertinya telingaku bermasalah. Apa yang kamu katakan, Neko-chan?"
Neko-chan mengerutkan dahinya tidak suka. Ia harus menjelaskan lebih keras kali ini. "Kamu bukan berasal dari sini, Naruto. Kamu seorang Platinumer dari dunia Avatar."
"Apa?"
Neko-chan menghela nafasnya. "Kamu tidak punya chakra, bukan?" Pertanyaan itu membuat Naruto membeku. "Yang kamu punya adalah bayangan, Naruto. Avatar yang kamu punya, bukan chakra."
"A-a-aku tidak me-mengerti, Ne-Neko-c-chan." Naruto tergagap berusaha menggelengkan kepalanya dengan gemetar. Itu tidak mungkin! Dia mungkin memang menyadari dirinya tidak memiliki Chakra, tapi bukan berarti dia harus percaya dengan semua dengan apa yang Neko-chan katakan, bukan?
"Dunia ninja dan Dunia Avatar saling berdampingan, Naruto. Semua yang ada di dunia ninja mungkin ada di dunia Avatar. Aku berasal dari dunia Avatar, dan kamu juga berasal dari dunia Avatar. Kamu dengan Naruto dunia ninja saling terlempar ke masing – masing dimensi. Hal itu disebabkan ketika kalian baru saja lahir. Bukankah, disini adanya sebuah musibah besar yang disebabkan Kyuubi? Begitu juga dengan di dunia kami, semua elemen disana terbuka lebar karena suatu hal. Kedua hal tersebut menyebabkan dimensi ruang dan waktu terbuka, sehingga kalian yang tanpa sengaja adalah sasaran langsung dari kejadian tersebut."
"Ja-jadi ka-ka-kamu bi-"
"Jangan tergagap, Naruto."
Naruto mengedip beberapa kali, ia menelan ludahnya. Berusaha agar dirinya dapat berbicara dengan lancar. "Jadi, kamu ingin bilang bahwa aku dan diriku yang satu lagi saling tertukar?" Dijawab dengan anggukan kecil dari Neko-chan. "Ta-ta-" Naruto kembali berusaha untuk tidak tergagap. "Kamu mengatakan elemen disana terbuka lebar, a-apa maksudnya?"
Ekspresi Neko-chan tiba – tiba menggelap. Dan Naruto tidak yakin apakah dirinya harus menarik kembali apa yang tanyakan atau tidak. Sebelum ia bisa bicara apa – apa, Neko-chan sudah lebih dulu bicara. "Itu adalah hari dimana semua elemen berduka cita. Semua orang akan merasa kosong pada saat itu. Karena itulah elemen terbuka lebar, mereka menangisi kepergian dan kekosongan tersebut."
Naruto tetap tidak yakin dengan jawaban yang ia terima.
"Saat itulah seorang Platinumer lenyap."
Swing~
Angin dingin yang menyelinap masuk kedalam kamar apatemennya membuat Naruto merasakan seluruh tubuhnya menegang. Ia dapat merasakan gorden yang ia gunakan untuk menutup sebagian jendela melambai – lambai terbawa angin, namun tak sampai lepas. Ia tidak tahu apa maksudnya. Tapi, ia dapat merasakan dalam dirinya sesuatu yang pecah dan kepedihan yang mendalam. Naruto menutup matanya, ia dapat merasakan air mata yang menyelinap keluar.
Neko-chan tersenyum lemah. "Dan kemudian kamu lahir, kaulah penerus penyeimbang elemen dunia Avatar selanjutnya, Naruto." Naruto dapat mendengar Neko-chan meminta penuh padanya. "Kami harus segera menukar kalian. Keadaan disana sudah krisis."
Naruto tidak tahu harus melakukan apa. Demi Tuhan! Dirinya baru berusia 12 tahun. Apa yang bisa diharapkan darinya?
"Cukup dengan biarkan kami yang menuntunmu, Naruto. Seandainya kamu memang kebingungan. Percayakan padaku dan Kuro."
Naruto tidak terlalu yakin siapa Kuro. Tapi, ia dapat merasakan Kuro adalah teman dari Neko-chan. Kembali ia memikirkannya, ia masih belum yakin apa yang dikatakan Neko-chan benar atau hanya guyonan. Selama ini penduduk Konoha membencinya, jadi bukannya tidak mungkin mereka melakukan sesuatu yang membuatnya ditertawakan, bukan? Tapi, jika memang apa yang dikatakan Neko-chan benar-
"Lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya?"
Neko-chan tersenyum lega mendengarnya. "Serahkan saja padaku."
~oOo~
Edit : 16 Agustus 2014
Adanya kesalahan yang mengakibatkan kekeliruan pemahaman.
A/N:
Taaraa! Bab pertama selesai! #grins.
Chapter ini memang hampir sama dengan chapter di fic TWoA, tapi chapter yang akan datang akan lumayan berbeda. Chapter depan, alur akan langsung ngebut maju beberapa tahun!
Nah, dari sini pertanyaan dari readers di review mungkin sudah terjawab. Kemungkinan ini bukanlah lanjutan dari TWoA, tapi versi terbaru.
Sekali lagi saya juga menyesal mengetahui saya tidak akan melanjutkan TWoA. Saya harap, ini tidak terlalu mengecewakan kalian. Dan terima kasih banyak pada readers yang sudah meninggalkan jejak kalian, kalian mendapat kecupan manis dari adik saya! XD
Saya harap, para readers untuk tidak meminta saya update kilat. Mengingat di kehidupan nyata, saya sedang di sibukan sidang setelah Prakerin, mohon dimaklumi.
But, Pastikan meninggalkan jejak! Baik Review, Fav, Follow!
Ru Unni Nisa
Sign Out
Jaa ne~
