Wonwoo terus mengumpat dalam hati ketika tiga orang pemeras itu berjalan mendekatinya dengan seringaian yang membuatnya muak, ia bisa saja lari namun percuma karena mereka akan mengejar dengan cepat dan yang Wonwoo tahu selama ini tak ada yang lolos dari tiga preman didepannya setelah mereka menjadi target. Dia benar-benar menyesal tidak memilih jalan memutar saja, seharusnya ia tahu jika pada waktu ini para pemeras sialan itu masih beraksi.
Dan sialnya lagi, ia tidak punya uang banyak didalam dompetnya. Dan yang Wonwoo tahu juga jika target mereka tidak memberikan nominal yang besar maka sasaran malang itu akan jadi bahan bersenang-senang.
Wonwoo menahan napas saat ia dan tiga orang menyeramkan itu berhadapan.
"Kau pasti tahu apa yang kami inginkan." Salah satu dari mereka yang mempunyai bekas luka melintang dipipi mengangkat pisaunya sambil tersenyum licik.
"Aku tak membawa banyak." Wonwoo memang takut saat ini, namun ia bisa mengendalikan dirinya. Dia adalah seseorang yang tak ingin terlihat lemah bahkan dihadapan mereka yang dirinya enggan menganggap sebagai manusia.
"Ow, sayang sekali.." ujung tajam dari pisau lipat kini menyentuh permukaan kulit pipi Wonwoo, tangannya basah oleh keringat, demi apapun ia ingin lari. "Harus kita apakan bocah ini?" mereka bertiga menatap satu sama lain sambil menyeringai licik.
Mata pisau yang dingin itu perlahan menancap pada kulit Wonwoo yang tipis. Perih. Wonwoo memejamkan matanya erat. Andai saja ia tidak melewati jalan ini, andaikan jika ia tidak berhenti dari latihan taekwondo, andai saja ada penyelamat dan lebih baik jika polisi yang kebetulan lewat jalan sempit ini. Sungguh bukan Jeon Wonwoo yang tiba-tiba memohon dan mengkhayal dalam dirinya kini.
"Yahh ahjussi, lepaskan pacarku!"
Wonwoo membuka matanya lebar-lebar, 'what the hell.' Pemuda yang keselamatannya kini sedang terancam itu terkejut luar biasa. Napasnya dihembuskan panjang pertanda ia lega, namun umpatan demi umpatan yang ia serukan dalam hati menyiratkan jika dirinya sama sekali tak mengharapkan orang ini akan muncul.
'freaking Mingyu.'
"Wah.. pacar? gay ada dimana-mana sekarang. Menjijikan." Preman itu tertawa, sangat culas dan sarkastis. Ia berjalan mendekati Mingyu menatapnya begitu remeh.
"Lepaskan dia." Tegas Mingyu sekali lagi.
"Woah haha! Kami tidak akan melepaskannya begitu saja, apa yang akan kau berikan?" si preman semakin mendekat, "dirimu?" dia memukul tulang pipi Mingyu keras. "atau dompetmu?" kerah jaket Mingyu dicengkram kuat.
Wonwoo melemas, dia menatap Mingyu putus asa. Orang itu datang untuk menyelamatkannya apa menambah hiburan bagi mereka.
Namun mendadak Wonwoo tertegun. Dilihatnya beberapa lembar uang lima puluh ribu won dilemparkan didepan wajah terkejut preman itu.
"Cukup untuk membeli baju yang bagus bukan?" ucap Mingyu sambil tersenyum miring, dia berjalan mendekati Wonwoo lalu memegang pergelangan tangannya dan berjalan secepat mungkin hingga mereka jauh dari para pemeras yang kini tengah memungut uangnya dengan tidak sabaran.
Setelah cukup jauh dan yakin mereka tidak dikejar, Wonwoo melepaskan pegangan tangan Mingyu.
"Kau gila?!" mata rubah itu menatap Mingyu dengan tak percaya.
"Hey aku menyelamatkanmu dan kau menyebutku gila, wah…" balas Mingyu sambil berdecak menggelengkan kepalanya.
"Pertama, kenapa kau bisa disana. Lalu apa-apaan uang itu, jumlahnya benar-benar…" Wonwoo membuang napas kasar kemudian berjalan semakin cepat. "dan pacar? what the fuck is that?!"
Mingyu mengambil napas sebanyak-banyaknya kemudian menggerakkan tungkainya seirama dengan Wonwoo. "Jeonghan hyung memberitahuku alamatmu, dia menjelaskan bahwa ada dua jalan untuk sampai kesana, dan karena kau terlihat buru-buru ingin pulang jadi aku pastikan kau memilih jalan tercepat menuju rumah." Mereka berjalan beriringan, mata Mingyu terpaku pada ekspresi Wonwoo yang tetap menatap lurus ke depan terlihat tak acuh meskipun mendengarkan. "Untuk uangnya kau tidak perlu khawatir. Dan yang terakhir aku hanya ingin menyebutmu seperti itu." Tuntasnya sambil terkekeh.
Wonwoo tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Bagaimana aku tidak khawatir. Kau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk menyelamatkanku. Bagaimana aku bisa menggantinya?!" suaranya meninggi, matanya berkaca-kaca, terlalu banyak emosi yang bercampur aduk dalam dirinya. "dan sungguh, berhenti bermain-main denganku."
"Hey Wonwoo," Mingyu memegang kedua bahunya membawa ia berhadapan "bisakah kau hanya ucapkan terimakasih dan jangan khawatirkan ini dan itu. Paling tidak kau aman dan baik—" kalimatnya terhenti, dia mendekati wajah Wonwoo. Kelopak matanya terbuka lebih lebar saat melihat darah menetes dari goresan kecil tapi cukup dalam di pipi pemuda tersebut.
Wonwoo langsung menyadari apa yang Mingyu lihat, ia segera memalingkan wajahnya dan berjalan lagi. "Aku akan mengganti uangnya." Yang lebih tinggi segera menyusul, maniknya berkilat khawatir.
"Seriously don't thinking about that money again. Wajahmu Wonwoo!"
"Pikirkan saja pipimu yang memar itu."
Mingyu sesaat menyentuh bagian wajahnya yang terasa sakit. "Jangan cemas, aku tak apa. Dan aku masih tetap tampan." Dia menyunggingkan bibir.
Wonwoo mendelik padanya. Dua penentangan terhadap ucapan Mingyu tadi tertahan diujung lidahnya. Dia malas beragumen lagi. Dua kontra itu adalah; Pertama, ia tidak cemas (tapi mungkin sedikit, sangat teramat sedikit), dan kedua, Mingyu tidak tampan (ia benar-benar ingin menentang ini, kepercayaan diri Mingyu yang begitu tinggi terkadang membuatnya sedikit kesal).
Melihat Wonwoo yang diam saja sibuk dengan pikirannya sendiri membuat Mingyu berdecak sebal, "You are really hard…"
"Hard what?!"
"Susah ditebak, susah didekati. Benar-benar susah."
Wonwoo menarik napas dalam lalu menghentikan langkah lagi, ia melipatkan kedua tangannya. "Siapa yang menyuruhmu mendekatiku?" ucapnya .
"Bisikan dalam jiwaku." Mingyu menyeringai.
"ck seriously…" Wonwoo tak tahu lagi harus berkata apa, orang didepannya ini benar-benar memancing emosinya. "dan kenapa kau mengikutiku Mingyu ssi—"
"Mingyu." Yang lebih muda menyela, merasa tak nyaman dengan panggilan formal tersebut.
"ah terserah. Pulang lah. Ambil jalan memutar."
"Rumahmu sudah dekat, biarkan aku mengantarmu." Pinta Mingyu, namun Wonwoo dengan jelas enggan menerimanya.
"Hey aku bukan bocah."
"Aku hanya ingin memastikan kau selamat sampai dirumah."
"Ahh kau benar-benar…"
"Aku harus mengantarmu."
"Memangnya kau siapa?"
"Your boyfriend."
"YA!" Wonwoo mengangkat tangannya, hendak memukul.
"ah baiklah baiklah, aku akan pergi." Melihat Wonwoo yang sepertinya mulai marah, pemuda tinggi itu menyerah, orang dihadapannya ini sangat keras kepala. Dia akan mencoba lain waktu. "Tapi paling tidak ucapkan terimakasih yang manis padaku."
Wonwoo menggertakkan giginya, "Terimakasih Lee Mingyu." Ucapnya sangat datar.
"Its Kim!" Mingyu protes keras. Bagaimana marganya diganti seenak jidat seperti itu.
"Oh. Kim Mingyu." Koreksi Wonwoo dengan polosnya.
Mingyu bersungut-sungut samar, ia hampir frustasi menghadapi orang didepannya. Namun ini juga membuat ia semakin tertarik dan penasaran. Akhirnya dengan berat hati pemuda bermarga kim itu mengucapkan selamat tinggal.
"Jangan lupa obati lukamu." Mingyu melirik lagi pipi Wonwoo, nampak darah yang sebelumnya mengalir itu kini bekasnya mengering, tapi tetap saja lukanya masih terlihat segar.
"Khawatirkan saja dirimu." Balas Wonwoo malas.
"Tunggu, dimana buku tercintamu omong-omong?" Mingyu menaikkan alisnya, dari awal sebenarnya ia penasaran melihat Wonwoo dengan tangan kosong begitu.
"Aku simpan dirumah Soonyoung."
"Eh kenapa? Bukannya kau tak bisa lepas dari itu."
Wonwoo entah sudah keberapa kalinya menghela napas kasar. Dia tak tahan lagi. "Sekarang berhentilah bertanya. Dan untuk uangnya aku janji akan membayar padamu."
Sebelum Mingyu sempat protes, Wonwoo segera berjalan cepat menjauhinya. Ia sudah sangat terlambat dan tak bisa berlama-lama mengobrol hal yang tidak terlalu penting dengan Mingyu. Wonwoo terus berjalan dengan gusar, ia menatap jam tangannya berkali-kali sebelum sampai didepan pintu rumahnya sekarang. Tangannya mencengkram gagang pintu, ia memejamkan matanya sejenak lalu membuka pintu coklat tersebut hati-hati.
"Kau tidak bisa lihat jam berapa sekarang?" begitu masuk rumah, Wonwoo langsung disambut sinis. Ia melangkah ke dalam tanpa menjawab. Tungkainya bergerak menuju salah satu kamar. "Ibu didapur, semalaman dia duduk disana menunggumu cemas. Apa maksudmu tidak menjawab telepon?!"
Wonwoo memutar badan, melangkah lagi ke bagian belakang, menuju dapur. "Disana berisik, lalu handphoneku mati kehabisan baterai."
"Kau hanya bisa mengelak dan menyusahkanku. Tengah malam ibu menelponku mengkhawatirkan mu ini dan itu jadi aku terpaksa kesini dan melihatnya belum makan sama sekali. Dia tak mau makan sekalipun aku memarahinya, bersikeras menunggumu pulang."
Mereka berdua berjalan menghampiri wanita paruh baya yang terduduk lemah. Keriput halus tergambar di kening dan bawah matanya yang menghitam. Rambutnya ditumbuhi sedikit uban yang masih tersembunyi samar. Mendengar ketukan langkah yang mendekatinya, seulas senyum merekah pada bibir keringnya.
"Dia sudah pulang bu, makanlah dan jangan hubungi aku lagi."
"Lalu kenapa kau kesini hah? Aku tahu kau selalu khawatir dengan ibu!" jawab Wonwoo nyalang.
"Tidak. Aku hanya takut dia akan salah melakukan sesuatu lalu mati."
"YA NOONA JAGA BICARAMU!"
"JEON WONWOO PIKIRKAN SAJA KELAKUANMU YANG TIDAK BERTANGGUNGJAWAB ITU!"
"TIDAK BERTANGGUNGJAWAB? LALU SIAPA YANG PERGI DARI RUMAH TEPAT SEHABIS KECELAKAAN DAN MEMILIH TINGGAL BERSAMA PACARNYA YANG SUDAH BERISTRI HAH?!"
"YA BRENGSEK! KAU MEMBUATKU MUAK!"
Manik kecoklatan mereka berkilat saling menantang, napas mereka memburu karena luapan emosi. Wajah keduanya yang putih pucat memerah. Keheningan itu tak berlangsung lama, ibu mereka yang meneteskan air mata dalam diam membuat suara.
"Tolong jangan bertengkar," dia terisak "Nari ya kau boleh pulang sekarang, maafkan ibu yang telah menyusahkanmu." Wonwoo berdecih mendengarnya, sedangkan kakaknya masih diam menatap tajam sang adik.
"Mengataiku tapi tak bisa mengurus dirinya sendiri." Nari memperhatikan luka diwajahnya dengan sinis. Lalu dia melenggang cepat dari sana dengan dingin, keluar dari rumah dan membanting pintunya keras.
"Jangan meminta bantuannya lagi ibu, dia bukan anakmu."
"Dia kakakmu Wonwoo, aku tahu perasaan Nari yang sebenarnya."
Wonwoo bosan mendengar ini, walaupun setelah apa yang terjadi dan apa yang selama ini Nari perbuat ibunya tak pernah marah, ia selalu membela kakaknya itu.
"Kenapa baru pulang Wonwoo ya? Tak terjadi apa-apa kan?"
"Maafkan aku bu, aku tidak melihat waktu sebelumnya. Jangan cemas lagi, aku tidak apa-apa" telapak tangannya terangkat menyentuh luka sayat dipipinya, ia meringis pelan, masih ada darah yang segar. Wonwoo menarik kursi disamping ibunya, lalu mendaratkan pantatnya disana. "makanlah bu." Ucapnya lembut, Dia memegang tangan ibunya lalu memberikan sendok tepat pada genggamannya.
"Kau juga makan nak."
"Tentu."
Namun pemuda itu tidak menyuapkan apapun ke dalam mulutnya, dia hanya memperhatikan ibunya yang kesusahan menyendok makanannya. Wonwoo ingin membantu tapi ibunya pasti menolak. Dia sering menangis saat awal-awal memperhatikan ini. Namun sekarang dirinya sudah terbiasa. Sunyi, hanya suara ujung sendok yang bertemu dengan piring yang menjadi bunyi.
Setelah selesai, Wonwoo menggandeng lengan ibunya, menuntun ia menuju kamarnya. "Selalu kabari aku nak, hubungi aku setiap saat." Ucap ibunya yang kini berbaring. Wonwoo mengangguk, "Iya ibu, sekarang tidurlah."
Wonwoo menyesal tak pulang lebih awal, sangat menyesal. Ia tak pernah menjadi anak yang baik untuk ibunya. Untuk kesekian kalinya ia berjanji pada diri sendiri agar tidak membuat sang ibu khawatir lagi. Dan hal itu membuat ia semakin membenci dirinya karena terus mengingkari janji tersebut. Ketika Wonwoo membuka pintu, perkataan dari ibunya membuatnya begitu terluka.
"Andai aku masih bisa melihat, aku pasti tahu apa yang terjadi padamu Wonwoo. Aku tahu ada sesuatu yang terjadi." Ucap sang ibu parau.
Dan air mata yang mati-matian ia tahan lolos begitu saja melewati pipinya. Wonwoo muak, pada dirinya pada keadaan yang menimpa keluarganya. Bagaimana takdir bisa sekejam itu pada ibunya yang berhati bak malaikat. Dunia yang adil hanya omong kosong saja.
Wonwoo tidur dengan tidak nyenyak, ia terbangun tiga jam kemudian lalu pergi ke kamar mandi membersihkan dirinya. Tidak lupa ia menempelkan plester luka ringan pada pipinya itu. Ia makan dua lapis roti panggang sebelum pergi keluar dan pamit kepada ibunya, menyiapkan sarapan dan berjanji akan menelpon. Sebenarnya jika bisa, ia selalu ingin menemani sang ibu dirumah, membawanya jalan-jalan, merawatnya. Namun waktunya tersita oleh kuliah dan kerja paruh waktu dan ibunya tentu tak ingin Wonwoo menghentikan pendidikannya. Bersyukur sang ibu yang telah menghapal setiap sudut rumahnya dan ia punya beberapa tetangga yang ramah. Ia hanya harus memastikan agar selalu memberi kabar dan pulang ke rumah tak lebih dari tengah malam.
Pagi ini udara terasa lebih dingin dari biasanya, memasuki musim gugur memang seperti ini, angin kecil tak berhenti berhembus, Wonwoo menggosokkan tangannya lalu merapatkan cardigan tebalnya. Ini akhir pekan dan kuliah libur, ia menggendong tas yang berisi laptop juga beberapa buku, membawa tugas kuliahnya itu ke perpustakaan kota tempatnya bekerja.
Wonwoo tiba di perpustakaan yang cukup besar tersebut, membungkuk sambil menyapa seseorang yang duduk dimeja pengurus.
"Shift kerjamu masih lama kan? Mengerjakan tugas lagi?" Tanya orang tersebut yang sebenarnya sudah tahu jawabannya. "Ya, sangat menumpuk." Wonwoo terangguk lemah. Ia melangkah menuju bagian ujung perpustakaan. Tempat favoritnya, meja kecil didekat jendela. Ia mengambil beberapa buku sebagai bahan referensi untuk tugasnya lalu duduk berselonjor disana. Laptopnya dinyalakan, ia membuka aplikasi pengolah kata, makalah yang akan ia buat adalah tentang bagaimana perkembangan sastra pada masa sekarang ini. Dan isi dari tulisannya kebanyakan keluhan kekecewaan dan kritikan tentang bagaimana sastra tidak begitu dihargai dan diminati oleh kebanyakan anak muda sekarang, mereka lebih tertarik pada visual grafis yang gambarnya langsung bisa ditangkap oleh mata dibanding dengan membaca yang memerlukan otak juga menggunakan imajinasi mereka.
Tiga jam hampir berlalu, makalah Wonwoo pun hampir selesai. Ia berkali-kali menguap dan merenggangkan punggung serta tangannya. Shiftnya tiba, Wonwoo membereskan pekerjaannya dan segera melangkah ke meja pengurus, orang sebelumnya berpamitan dan memberikan ucapan semangat padanya.
Wonwoo duduk disana, memangku dagunya bosan. Pengunjung sangat sedikit hari ini mungkin karena udara yang dingin membuat orang-orang hanya ingin berbaring dan menyelimuti diri pada akhir pekan seperti ini. Ia beranjak dari kursinya, mengambil salah satu novel karangan Stephen King lalu duduk kembali ditempat semula. Novel tebal itu mulai ia baca. Puluhan menit berlalu, Wonwoo sudah sampai pada halaman ratusan. Saat ia hanya ingin membaca dan enggan diganggu, pengunjung datang.
"Tidak aneh menemukan kau bekerja disini."
Spontan Wonwoo menatap kaget orang yang berdiri didepannya. Ia menemukan Kim Mingyu yang sedang menyunggingkan bibir senang.
"Bagaimana kau—" dasar Yoon Jeonghan. Wonwoo tidak melanjutkan kalimatnya, ia memfokuskan lagi pada novel ditangannya.
"Baguslah kau mengurus lukamu dengan baik."
"Hanya menutupinya dengan plester."
"Tapi itu berarti kau mengobatinya dan mendengarkan pesanku." Mingyu pikir ia akan dibantah dengan tajam, tapi Wonwoo hanya diam tak tertarik menjawabnya. Dia harus sangat sabar.
"Kau bilang akan mengganti uangnya." Mingyu mendekatkan kepala mereka, mencoba menarik perhatian Wonwoo.
"Untuk saat ini aku belum bisa, aku akan menemuimu begitu uangnya terkumpul." Timpal Wonwoo tanpa mengalihkan maniknya dari buku.
"Bagaimana kalau membayar dengan hal lain." Mingyu smirk lagi, ia memperhatikan Wonwoo intens.
Mendengar itu pemuda yang sedang duduk mengangkat alisnya, menatap Mingyu bingung. Dan tak berapa lama umpatan keluar dari mulutnya. "Gila, apa yang kau perhatikan jerk!"
Mingyu terkekeh menggerakkan bola mata yang sebelumnya objeknya adalah bagian bawah Wonwoo itu. "Berapa lama lagi kau kerja?"
"Tiga jam." Jawab Wonwoo datar.
"Oke kalau begitu aku akan menunggu disini sampai kau selesai."
Mereka berdua bertatapan lagi, "Kau mau apa?"
"Mengajakmu kencan sebagai bayarannya."
Wonwoo mendengus kesal, "Bagaimana aku baru tahu jika ada playboy gila sepertimu dikampus."
"Ouch kata-katamu itu.." Mingyu memegangi dadanya seakan kasakitan. "karena kau lebih banyak memfokuskan perhatian pada kertas-kertas melainkan pada manusia. Bahkan kita pernah ada disatu ruangan yang sama namun sepertinya kau tidak ingat."
"Aku hanya mengingat hal-hal yang penting dan berguna." Mingyu tertohok lagi, ucapan Wonwoo memang sepedas itu.
"Kencan lah denganku, lalu kau akan menyadari banyak hal." Wajah mereka semakin dekat, Mingyu tidak main-main kalau menggoda.
"Tidak mau. Lagipula aku masih harus kerja setelah ini."
"Di kafe kan? Kalau begitu biarkan aku mengantarmu."
Wonwoo berdecak, "Tidak usah, dan jangan menunggu disini."
"Oh ayolah, sekali saja. Hanya mengantarmu, tidak lebih."
Yang lebih tua menarik napas, ia melirik singkat pipi Mingyu yang masih memar, ia memijat pelipisnya pening karena kelakuan orang yang sedang menatapnya ini.
"Terserah lah."
Dan setelah menjawab begitu, tiba-tiba pipi Wonwoo yang tidak ditempeli plester dicubit pelan oleh Mingyu. Pemuda cuek itu melotot, telinganya memerah. "Aku akan menunggumu." Sebelum terkena pukulan dari Wonwoo, Mingyu bergegas menjauh menduduki salah satu kursi disana, mengedipkan mata pada pemuda yang masih menatapnya tak percaya. "Idiot."
Waktu berjalan, semakin banyak orang yang datang. Wonwoo memberi cap pada peminjam, menegur siapapun yang berisik, dan diam-diam mencuri pandang pada eksistensi Kim Mingyu yang membaca bermacam-macam buku. Mingyu adalah tipe orang yang menilai buku melalui sampulnya, jadi beberapa buku yang ia pilih kebanyakan tentang resep makanan atau dongeng anak-anak. Dia membalik setiap halaman dengan cepat, kelihatan sekali tak ada minat, terkadang ia juga menguap dan mulutnya bergerutu pelan. "Stupid." gumam Wonwoo melihat tingkah laku Mingyu.
Pemuda tinggi itu menyerah dengan kumpulan buku tersebut lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia mengetikkan sesuatu.
Layar ponsel dimeja Wonwoo menyala, satu pesan dari nomor tak dikenal masuk.
'Jgn hanya memperhatikanku, datang dan hampiri aku.'
Wonwoo terkejut, pasti Jeonghan atau Seungcheol yang memberikan nomornya. Dia menatap tajam Mingyu yang melemparkan smirk padanya. Ponselnya diletakkan kembali, tak ingin membalas sama sekali. Dia mengabaikan tatapan Mingyu yang terus tertuju padanya dengan membaca bukunya kembali.
Tiga jam telah terlewati, orang yang menggantikan Wonwoo tiba disana, menyapa dirinya. Mingyu yang sebelumnya seolah mati kebosanan kini segar kembali. Dia langsung berdiri dan menghampiri Wonwoo dengan semangat.
Yang lebih tua hanya meliriknya malas. Mereka berdua melangkah bersisian, kafe nya tidak terlalu jauh jadi hanya perlu berjalan. Disepanjang perjalanan itu Mingyu selalu melemparkan smirk dan mengedipkan matanya pada gadis-gadis yang memandangnya terpesona. Dan Wonwoo memutarkan bola mata malas atau berdecak melihat reaksi para gadis itu yang tertawa dan senyum-senyum malu sekaligus senang setelahnya. Baiklah dia mengakui Mingyu memang menarik, bahkan hanya dengan atasan kemeja biru langit dan jeans putih sekarang ini. Tapi tentu saja Wonwoo tidak termasuk golongan yang tertarik tersebut.
"Sudah berapa lama bekerja diperpustakaan itu?"
"Sepuluh bulan."
"Lalu di kafe?"
"Empat bulan."
Mingyu mengangguk-ngangguk mendengarnya, sudah pasti Wonwoo akan mencari pekerjaan yang ia sukai terlebih dahulu.
"Ada pekerjaan lain?"
"Ditoko kelontong, aku menyesuaikan pekerjaan dengan jam kuliahku. Dan sekarang aku membutuhkan tempat kerja lagi."
"Untuk apa? Itu sudah banyak, kau akan kelelahan."
"Untuk membayar uangmu, aku harus mengumpulkannya secepat mungkin."
"Kan sudah dibayar dengan aku mengantarmu ini. Jangan pikirkan lagi Wonwoo."
"Aku tetap akan membayarnya Mingyu, kau mengeluarkan uang itu untuk menyelamatkanku dan aku tidak ingin menerima penolakan lagi."
Mingyu mendengus, Wonwoo benar-benar keras kepala."Aku juga menggunakannya untuk menyelamatkan diriku Wonwoo. Jika kau memang sangat bersikeras untuk menggantinya, bayar setengahnya saja."
"Tapi—"
"Aku juga tidak menerima penolakan, uang itu untuk menyelamatkan kita berdua."
Wonwoo tak membalas lagi, dia hanya mengangguk lemah. Mingyu menghela napas lega melihatnya, dia hanya tak ingin Wonwoo bekerja sekeras itu dan sampai melewati batas, ia khawatir.
Mereka sampai ditempat tujuan, seperti biasa kafe itu ramai pada akhir pekan. Wonwoo tersenyum dan membuka pintunya, Mingyu mengekori yang lebih tua memperhatikan suasana kafe. Kemudian mereka berdua sama terkejut ketika salah seorang gadis dari meja yang tak jauh berlari memeluk Mingyu dan mencium pipinya.
"Oppaaa"
Wonwoo menggelengkan kepalanya. "benar-benar Playboy kelas berat."
*.*
Song rec : Dean – D (Half Moon) feat Gaeko
a/n : kayaknya bakal jadi chapter terpanjang :D dan maaf kalau ada typo atau kalimat yang aneh terkadang suka tidak teliti mengedit.
Thanks for reading, jangan lupa vote dan stream buat seventeen kita ya~ ^^
