Because of a Game

.

.

By Mei Hyun

.

.

HaeHyuk

T

Friendship, Romance

GS for uke

.

.

Enjoy reading

.

.

.

Suara grasak grusuk membuat dahi Eunhyuk mengernyit. Ia membuka mata secara perlahan dan mendapati Sungmin dan Ryeowook baru saja memasuki kamarnya.

"Oh.. Eunhyukie.. Syukurlah kau sudah bangun. Kami baru saja akan membangunkanmu"

Eunhyuk mengerutkan dahinya saat melihat Sungmin yang terlihat begitu bersemangat.

"Ada apa denganmu? Dan untuk apa kalian membangunkanku?" tanya Eunhyuk.

Sungmin tersenyum lebar sebelum memghampiri Eunhyuk dan duduk di pinggir ranjang yang Eunhyuk tiduri. "Aku dan Kyuhyun akan tidur di paviliun barat malam ini. Yesung oppa dan Ryeowookie akan menempati paviliun timur"

Eunhyuk membulatkan matanya. "Ya! Jangan macam-macam! Kau bisa dibunuh ibumu!"

Sungmin mengerucutkan bibirnya sebelum menggeleng. "Hanya tidur honey, tidak macam-macam" tegas Sungmin. "Karena disini kamar tidurnya sudah penuh. Kamar Kyuhyun ditempati oleh Hyunhwa dan pacarnya, kamar tamu ditempati olehmu, kamar yang lain milik sepupu Kyuhyun dan kamar yang lain masih berantakan karena villa ini baru saja direnovasi. Kata Kyuhyun orang yang akan membersihkan kamar-kamar itu akan datang besok. Jadi malam ini terpaksa kami bermalam di paviliun"

"Tapi kalian berdua bisa tidur denganku. Ajak Hyunhwa juga bila perlu. Aku tak apa"

Ryeowook menggeleng. "Badanmu panas, dan kau butuh istirahat. Kalau kami satu kamar dengamu yang ada kau tidak bisa tidur dengan nyenyak"

Eunhyuk terkejut dan segera meraba dahinya sendiri.

"Dasar bodoh! Mana bisa kau mengukur suhu tubuhmu sendiri" Sungmin menepis tangan Eunhyuk dan menggantinya dengan kompres yang entah Sungmin dapat dari mana.

"Ini, makanlah. Jangan lupa minum obatmu. Untung saja aku membawa obat-obatan" gerutu Sungmin sambil memindahkan nampan berisi makanan, minuman, dan obat yang ia letakkan di atas meja ke meja nakas yang ada di samping ranjang.

"Oh iya, sepupu Kyuhyun--"

"Dia sepertinya sudah tidur. Tadi Kyuhyun mencoba untuk mengetuk pintu kamarnya tapi sepupunya tidak keluar juga. Mungkin dia terlalu lelah" potong Sungmin. "Oh iya, bagaimana sepupu Kyuhyun itu? Apa dia tampan? Apa kau tertarik padanya?" tanya Sungmin tiba-tiba yang membuat raut wajah Eunhyuk berubah.

"Dia--"

"Sayang.. Kenapa lama sekali?"

Kyuhyun datang membawa segelas susu dan meletakkannya di meja nakas yang ada di samping ranjang yang Eunhyuk tiduri.

"Aku baru saja selesai. Kau ini benar-benar" omel Sungmin.

Eunhyuk menatap Kyuhyun dengan pandangan curiga. "Hei, jangan macam-macam pada sahabatku. Hanya tidur saja. Jangan berbuat lebih" peringat Eunhyuk.

Kyuhyun terkekeh. "Terkadang aku berpikir kau jauh lebih cerewet dari ibuku. Ah... Tidak hanya ibuku, tapi ibu Sungmin juga"

Eunhyuk merengut kesal mendengarnya.

"Hei, sudah. Kalian berdua ini" lerai Ryeowook. "Hyukie, kau ini sedang sakit tapi masih saja bisa bertengkar dengan Kyuhyun. Ckckck"

Eunhyuk melirik Ryeowook. "Aku tidak bertengkar. Aku hanya mengingatkan saja. Kau tahu sendiri bukan jika Sungmin mengalami hal apapun orang yang pertama kali dihubungi oleh orangtua Sungmin adalah aku? Baby sitter ini hanya ingin menjaga baby nya"

Kyuhyun, Sungmin dan Ryeowook terkikik mendengarnya.

"Sudah, sudah. Lebih baik kau cepat makan, minum obat lalu kembali tidur. Apa besok kau tak ingin ikut berenang di pantai bersama kami?"

Eunhyuk kembali merengut mendengar nasehat Ryeowook, yang membuat Ryeowook kembali terkikik.

"Kami akan ke paviliun. Setelah selesai makan dan minum obat jangan ambil ponselmu. Kalau kau memainkan game itu lagi kujamin besok keadaanmu lebih buruk dari ini" pesan Sungmin.

"Kau memyumpahiku?" gerutu Eunhyuk. "Kalian juga jangan macam-macam. Hamil sebelum menikah akan terkena kutukan dari Tuhan"

"Siapa yang mengajarimu? Sok tahu sekali" sahut Kyuhyun.

"Orang yang jauh lebih suci darimu" balas Eunhyuk, yang disambut oleh tawa Sungmin dan Ryeowook.

"Cih... Kuda sialan itu mempengaruhimu begitu banyak" cibir Kyuhyun. "Sudah ya.. Kami pergi"

Dan setelah itu Eunhyuk benar-benar sendiri dan tenggelam dalam kesunyian selama beberapa saat.

"Lebih baik segera makan, minum obat, lalu tidur" gumam Eunhyuk sebelum mengambil sendok dan garpunya.

.

.

"Ck! Menyebalkan sekali" gerutu Eunhyuk sambil menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk yang ada di ruang tengah villa. "Padahal sudah tengah malam" sungutnya lagi.

Setelah makan dan meminum obatnya, bukannya mengantuk, mata Eunhyuk justru terbuka lebar. Benar-benar terbalik dengan efek samping yang seharusnya dirasakan setelah minum obat.

Eunhyuk menekan-nekan tombol di ponselnya dengan gerakan sedikit kasar. Cukup kesal juga karena saat ia membuka aplikasi game yang menjadi candunya, seseorang yang ia nyatakan sebagai kekasihnya tidak berada disana alias offline. Padahal biasanya mereka berkencan di game tersebut hingga pukul 1 dini hari.

Klek!

Suara pintu yang terbuka membuat Eunhyuk terlonjak kaget. Matanya memicing, menatap waswas arah yang diyakininya sebagai sumber dari suara tersebut.

"Omo!" pekik Eunhyuk kaget saat matanya menangkap seseorang dengan rambut acak-acakan keluar dari salah satu kamar yang ada di lantai dua dengan wajah kusut.

"Eoh?"

Mata orang tersebut terbuka saat telinganya menangkap pekikan kaget Eunhyuk.

"Oh.. Maaf mengagetkanmu. Aku hanya ingin mengambil minum dan beberapa camilan saja"

Itu adalah sepupu Kyuhyun. Seorang laki-laki yang diam-diam Eunhyuk kagumi. Dan itu terbukti dari tingkah Eunhyuk yang kembali menatap laki-laki itu hingga nyaris tak berkedip.

"Kau baik-baik saja?" Laki-laki itu berjalan mendekati Eunhyuk saat mendapati gadis itu diam tak bergerak. "Maafkan aku" sesalnya lagi.

"E-eum.. Tidak apa-apa" sahut Eunhyuk pelan.

Laki-laki itu menghembuskan napas lega sebelum melangkahkan kakinya menuju dapur yang hanya berjarak beberapa langkah dari sofa yang Eunhyuk duduki. Ia membuka kulkas, mengambil dua botol air mineral sebelum kembali melangkah mendekati Eunhyuk.

"Ambillah. Mungkin kau membutuhkan ini setelah hal tadi"

Eunhyuk mengambil sebotol air mineral yang laki-laki itu sodorkan dengan kepala mengangguk kaku. Ia kemudian membuka tutup botol itu dan meminum isinya dengan perlahan.

"Boleh aku duduk disini? Sepertinya rasa kantukku menghilang"

"S-silahkan" Eunhyuk kembali mengangguk kaku. Ia meletakkan botol airnya di atas meja dengan perlahan sebelum kembali menyandarkan tubuhnya di sofa empuk itu.

Walaupun mereka berdua kini berada di ruangan yang sama bahkan duduk di sofa yang sama, namun keduanya sama-sama hanya terdiam. Eunhyuk sibuk mengutak atik ponselnya, kembali tenggelam dalam keasyikannya memainkan game kesayangannya, sedangkan laki-laki itu terlihat melamun namun beberapa kali ia mencuri pandang ke arah Eunhyuk yang sepertinya tak terganggu sedikitpun dengan kehadirannya.

Mencoba untuk mencari kegiatan yang memungkinkannya untuk dapat merasakan kantuk lagi, laki-laki itu pun merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Sama seperti Eunhyuk, beberapa saat kemudian ia mulai tenggelam dalam kegiatannya bersama ponsel kesayangannya.

"Sun!" Pekikan tertahan Eunhyuk dapat didengar dengan jelas oleh laki-laki yang duduk disampingnya, membuat laki-laki itu mengernyitkan dahi. "Akhirnya..." sambung Eunhyuk saat ia melihat avatarnya bertemu dengan avatar Sun di cafe yang merupakan bagian dari game itu.

Laki-laki itupun menggelengkan kepalanya saat pekikan dan gurauan Eunhyuk tak terdengar lagi. Ia kembali fokus pada ponselnya.

Namun beberapa saat pekikan tertahan itu terdengar lagi. Masih dengan gurauan kata yang sama, yang membuat laki-laki itu sedikit tertarik untuk mengetahuinya.

"Sun?" gumam laki-laki itu, yang membuat Eunhyuk terperanjat kaget.

"Oh.. Maaf membuatmu terkejut lagi. Aku hanya bertanya" Laki-laki itu memasang wajah bersalahnya lagi, yang membuat Eunhyuk merasa tak enak hati.

"Tidak. Hanya sedikit kaget saja. Tidak apa-apa" Eunhyuk menyunggingkan senyum yang membuat laki-laki itu membalas senyum Eunhyuk untuknya. "Sun adalah kekasihku"

Laki-laki itu mengerjap. "Orang Jepang?"

Eunhyuk tersenyum. Namun beberapa saat kemudian ia menggeleng dengan kedua bahu menggendik. "Tidak tahu. Tapi dia bisa berbahasa Korea"

"Kalian belum pernah bertemu?"

Eunhyuk terdiam sejenak. Ia mematikan aplikasi gamenya dan meletakkan ponselnya di atas meja. "Kalau kuceritakan kau pasti akan menganggapku konyol dan bodoh, sama seperti apa yang dikatakan oleh sepupumu yang jenius itu"

Laki-laki itu menggeleng, tak setuju dengan yang Eunhyuk katakan. "Aku tak seperti Kyuhyun"

"Ya. Aku setuju. Kupikir juga kau berbeda dengannya". Eunhyuk terkekeh. "Mengenai kekasihku, dia adalah seseorang yang kukenal lewat aplikasi game. Kami hanya berhubungan lewat game dan Kakaotalk. Tidak pernah bertemu. Tapi mungkin besok kami akan bertemu karena tadi siang dia mengabariku jika ia juga sedang berada di Jeju saat ini"

Laki-laki itu mengernyit penasaran. "Game apa? Bagaimana bisa?"

Eunhyuk kembali terkekeh. "Pernah mendengar Line Play? Aku bertemu dengannya di cafe yang ada di game tersebut"

"Mwo?"

"Kenapa?" Eunhyuk mengernyit bingung melihat ekspresi laki-laki itu.

"Boleh kulihat game yang kau mainkan itu?"

Eunhyuk sesaat menatap ragu laki-laki itu sebelum ia mengangguk kaku dan mengambil ponselnya.

"Ini" Eunhyuk menyerahkan ponselnya pada laki-laki itu. "Gamenya menarik bukan?" tanya Eunhyuk, berusaha untuk mencairkan suasana yang mendadak terasa aneh baginya.

Laki-laki itu tak menjawab. Ia mengamati dengan seksama avatar Eunhyuk dan menekan tombol 'friends' untuk melihat friendlist avatar Eunhyuk dalam game itu. Tak hanya itu, laki-laki itu juga melihat ruangan Eunhyuk dalam game itu dan...

"Jadi kau Moon?" guraunya dengan suara pelan yang terdengar lirih, yang membuat Eunhyuk kembali mengernyit bingung.

"Ya.. Itu namaku dalam game itu. Kau sudah melihatnya sendiri, bukan?" sahut Eunhyuk.

"Bukan itu" Laki-laki itu mematikan aplikasi game tersebut dengan gerakan cepat dan segera meletakkan ponsel Eunhyuk di atas meja. Ia kemudian menatap Eunhyuk dalam.

Plak!

"Apa yang kau lakukan?"

Laki-laki itu terkejut saat Eunhyuk menepis tangannya yang entah kenapa bergerak sendiri seperti hendak menangkup pipi kiri Eunhyuk.

"Ma-maaf... Aku tak sengaja"

Keduanya terdiam. Eunhyuk membuang wajahnya ke arah lain--tidak menatap laki-laki itu--dengan raut wajah yang terlihat marah, sedangkan laki-laki itu merutuki dirinya sendiri sambil menatap Eunhyuk dengan wajah bersalah.

"Maaf... Tadi aku hanya terlalu terkejut. Mungkin juga terlalu terbawa suasana" ucap laki-laki itu, mengawali pembicaraan. "Ini" Laki-laki itu menyodorkan ponselnya. "Orang yang ingin kau temui besok adalah aku"

Eunhyuk melirik ponsel laki-laki tersebut dan raut terkejut tergambar dengan jelas di wajah manisnya setelahnya.

"Kau..." Eunhyuk menatap laki-laki tersebut dengan pandangan tak percaya.

"Ya... Itu aku..." Laki-laki itu tersenyum tipis. "Sun kekasihmu adalah Lee Donghae. Sun adalah aku" ucapnya dengan senyum lebar di wajahnya.

Eunhyuk menggelengkan kepalanya. "Omong kosong apa ini? Apa kau sedang mengerjaiku? Kau bercanda?" Eunhyuk tak percaya.

Senyum lebar Donghae berganti menjadi senyum masam. "Jadi kau tidak mengharapkannya ya?" Donghae mengambil ponselnya lalu menekan-nekan layar ponselnya. "Lihat" Donghae mendekatkan ponselnya pada Eunhyuk agar gadis itu bisa melihat apa yang akan ia lakukan sebentar lagi. "Lebih baik diakhiri saja" ucap Donghae dengan suara lirih khas orang yang kecewa.

Eunhyuk sedikit terkejut dengan apa yang sudah Donghae lakukan. "Kau menghapus avatarmu? Kau gila? Semua player berharap memiliki jumlah heart sebanyak dirimu"

Donghae menutup aplikasi gamenya dan menghapus aplikasi itu juga dari ponselnya, sebelum menoleh menatap Eunhyuk yang juga tengah menatapnya. "Apa hanya itu yang ada dipikiranmu? Jadi apa yang kau katakan waktu itu benar? Game hanya game. Kau tidak benar-benar serius ya?"

Eunhyuk mengerutkan dahinya.

"Kau benar-benar memperhatikan setiap pointnya dengan baik" Donghae memalingkan wajahnya. Menatap lurus ke depan. "Jumlah heart, jumlah stuff, jumlah interior, jumlah gems, jumlah koin... Haahh... Sepertinya perkiraanku salah" Donghae menyandarkan tubuhnya dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Aku kecewa. Kukira pertemuan yang kuharapkan akan berakhir dengan indah" desahnya. "Jika tahu akan seperti ini, lebih baik aku tak mengiyakan ajakan Kyuhyun waktu itu"

Eunhyuk tertawa hambar mendengarnya, yang membuat Donghae kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Eunhyuk dengan pandangan aneh. "Apanya yang lucu?"

Eunhyuk balas menatap Donghae dan tersenyum sinis. "Aku curiga jika kau memperalat Kyuhyun untuk mengerjaiku lagi"

Donghae mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu?"

Eunhyuk tersenyum miring. "Jangan berpura-pura tidak tahu tuan Lee" Eunhyuk menatap Donghae tajam. "Semua kebetulan itu.. Ani.. Semua kejadian itu.. Kau pikir aku menyukainya? Kau tahu? Sahabat-sahabatku bahkan mengolokku karena hal itu. Dan sekarang kau menambah daftar olokan mereka untukku dengan berpura-pura kebetulan memainkan game yang sama denganku dan menjadi kekasihku. Apa kau belum puas melihatku digunjing banyak orang, hah?" Eunhyuk menatap Donghae berang. Ia kesal bukan main. Matanya bahkan memerah menahan tangis yang hampir tumpah kalau saja Eunhyuk tidak cepat-cepat mengendalikan diri.

Donghae terpaku sesaat sebelum ekspresinya berubah menyendu. "Aku sama sekali tidak bermaksud menyakitimu Eunhyuk-ah. Aku hanya--"

"Diam!" potong Eunhyuk. "Berhenti membual! Sekarang aku benar-benar harus mengikuti apa yang Sungmin sarankan padaku. Dia benar. Kau memang brengsek!--Ah!"

"Lihat aku!" paksa Donghae pada Eunhyuk setelah Donghae meraih kedua bahu Eunhyuk dengan gerakan yang sedikit kasar. "Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu tentangku? Kenapa kau bilang aku membual?"

Eunhyuk menatap Donghae dengan pandangan terluka. Airmatanya bahkan hampir menetes. "Kau tahu? Aku begitu tersiksa dengan semua ini. Kejadian-kejadian itu... Aku hampir gila karena terlalu bahagia. Kupikir aku adalah gadis paling beruntung di dunia ini karena impianku akan cinta pertama dan terakhirku akan segera terkabul. Tapi ternyata itu hanya ilusi semata karena pada kenyataannya orang yang kucintai memilih orang lain untuk mendampinginya"

Airmata Eunhyuk kini benar-benar menetes, membuat Donghae ragu menyekanya dari pipi Eunhyuk atau tidak.

"Tapi dia terus menjadi pasanganku disetiap kesempatan yang ada. Kebetulan-kebetulan itu membuatku melambung terlalu tinggi dan berakhir dengan mengharapkan hal tersebut terus menerus dan memaafkan setiap ganjaran yang kuterima setelah aku mendapatkan kebetulan itu, karena kupikir itu adalah bayaran dari apa yang kunikmati" lanjut Eunhyuk.

Donghae hanya diam. Mendengarkan dengan seksama hal-hal yang gadis itu katakan.

"Aku bahkan menganggap semua kebetulan itu sebagai keajaiban dan selalu membelanya meskipun aku harus berdebat dengan sahabat-sahabatku dan menjadi gunjingan orang-orang" Isakan Eunhyuk lolos begitu saja seiring dengan emosinya yang meluap. "Kau pikir ini lucu? Kau membuatku seperti orang yang paling bodoh diantara orang-orang bodoh. Kau benar-benar brengsek" lirih Eunhyuk diakhir, sebelum menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Donghae yang sudah tidak sanggup menahan diri segera membawa tubuh kurus gadis itu ke dalam pelukannya. Ia membelai punggung Eunhyuk berulangkali dan mencium kepala Eunhyuk beberapa kali sambil mengucapkan kata 'maaf'.

"Aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu mengalami semua hal buruk itu. Aku benar-benar minta maaf" ucap Donghae tulus setelah isak tangis Eunhyuk mereda. "Perlu kau ketahui, semuanya memang kebetulan. Aku tidak pernah merencanakan hal apapun, bahkan untuk game dan acara berlibur ini" jelasnya. "Kyuhyun bahkan tidak tahu apa-apa. Dan aku tidak pernah memperalatnya" jelasnya lagi.

"Benarkah?" gumam Eunhyuk, sambil berusaha untuk melepaskan diri dari kungkungan Donghae.

"Lihat aku" Donghae kembali meraih kedua bahu Eunhyuk, namun kali ini dengan gerakan yang sangat lembut. "Hyunhwa bilang kau bisa membaca seseorang lewat ekspresi wajah dan tatapan matanya 'kan? Sekarang coba kau lihat aku. Apa aku berbohong padamu?"

Eunhyuk memperhatikan wajah Donghae dengan seksama. Wajah itu... Tatapan mata itu... Semuanya hanya menunjukkan keseriusan. Tidak ada kebohongan sedikitpun disana. Tapi beberapa saat kemudian gadis itu memalingkan wajahnya dari Donghae.

"Tidak bisa... Karena kau tidak seperti orang-orang yang pernah kubaca. Aku... Perasaanku padamu... Tidak, tidak bisa" guraunya pelan, yang masih bisa didengar oleh Donghae. Membuat laki-laki tampan itu tersenyum kecil.

"Kau tahu? Aku juga sama sepertimu. Aku sangat menikmati semua kebetulan itu. Aku juga selalu mengharapkannya dan menganggapnya sebagai keajaiban. Sahabatku bahkan mengejekku. Katanya aku seperti orang-orang jaman dulu yang mempunyai pikiran klasik. Dia menyebutku pengecut karena aku selalu melarikan diri dari apa yang sudah kurencanakan. Tapi itu--"

"Cukup! Jangan dilanjutkan lagi" potong Eunhyuk.

"Kenapa?"

Ingin rasanya Eunhyuk memukul Donghae saat laki-laki itu melontarkan kata tersebut dengan wajah tak berdosa. Sudah jelas bukan Eunhyuk tidak mau mendengarnya? Apa Donghae tidak bisa menangkap maksudnya saat bercerita tadi? Dasar tidak peka!

"Semua sudah jelas 'kan? Apa kau tidak mengerti dengan apa yang kuceritakan tadi?" Eunhyuk kembali terlihat kesal.

Donghae tersenyum. "Aku mengerti. Aku hanya ingin memberitahumu tentang kebenaranku agar kau tak salah paham. Apa kau tidak mengerti dengan maksud ceritaku tadi?" Kini balik Donghae yang bertanya.

Eunhyuk menelan ludahnya. "Aku tidak mengerti kenapa kau harus menceritakannya padaku. Seharusnya kau senang karena ada satu orang yang berhenti mengharapkan apa yang memang seharusnya tidak dia harapkan. Kekasihmu juga pasti senang jika mengetahui hal ini"

"Kekasih?" Donghae menaikkan satu alisnya. "Jadi kau benar-benar tidak menangkap maksudku ya?"

Eunhyuk mengerutkan dahinya. "Aku benar-benar tidak mengerti denganmu. Kau ini sudah punya kekasih tapi masih saja merayu yang lain. Itu memang pembawaanmu atau apa? Aneh sekali..."

Donghae menghela napas. "Susah bicara dengan orang yang sudah terlanjur salah paham dan keras kepala seperti dirimu" Donghae melirik Eunhyuk yang mendelik marah padanya. "Dengar, aku bukan tipe orang seperti yang kau sebut tadi. Kekasih? Siapa? Aku bahkan belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun"

Eunhyuk menatap Donghae curiga. "Kau sedang membual lagi?"

Donghae menjentikkan telunjuknya di dahi Eunhyuk, yang membuat Eunhyuk mengaduh.

"Berhenti menuduhku"

Donghae kemudian menggantikan tangan Eunhyuk untuk mengusap kening gadis itu.

'Sepertinya terlalu keras' batin Donghae dalam hati saat melihat kening Eunhyuk yang memerah. "Mianhae" ucapnya tulus, yang dibalas dengusan oleh Eunhyuk.

"Kau menyebalkan seperti biasanya" ucap Eunhyuk yang disambut kekehan oleh Donghae.

"Saranghae"

"Aku juga--A-apa?" Eunhyuk terbelalak kaget.

Donghae tersenyum. Ia kemudian meraih kedua tangan Eunhyuk dan menatapnya dengan tatapan teduhnya. Terlihat jelas ia begitu mencintai gadis yang kini sedang menampakkan ekspresi kikuk di wajahnya.

Lee Eunhyuk.

Gadis yang sudah hampir 3 tahun mengalihkan dunianya. Gadis yang ia perhatikan sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Gadis yang telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.

"Aku mencintaimu Eunhyuk-ah" ucap Donghae lagi yang disertai dengan senyum yang membuatnya terlihat semakin tampan. "Semua berita itu tidak benar. Aku tidak punya kekasih. Aku bahkan belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Itu semua hanya bualan mereka yang menyukaiku" jelas Donghae.

Eunhyuk hanya diam. Ia bahkan masih terlihat bingung.

"Untuk orang-orang yang menggunjingmu, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa untuk melindungimu" Donghae menundukkan wajahnya.

"Aku selalu ingin menyatakan perasaanku padamu sejak dulu agar aku bisa menyelamatkanmu dari orang-orang itu, tapi entah kenapa aku begitu pengecut" Donghae tersenyum sedih. "Maaf karena diriku kau jadi menanggung masa-masa sulit itu sendirian. Andai aku lebih berani sewaktu itu... Kau pasti..."

"Sudahlah" Eunhyuk meremas kedua tangan Donghae yang menggenggam telapak tangannya, yang membuat laki-laki itu mendongak. "Tidak apa-apa" Eunhyuk tersenyum pada Donghae dengan kedua mata dan kedua pipi yang basah, yang membuat Donghae terkejut.

"Hyukie kau menangis?" Donghae buru-buru mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan mengusap kedua pipi itu dengan gerakan lembut.

Eunhyuk tertawa, namun beberapa kali ia tersedak airmatanya sendiri.

"Mianhae Hyukie... Mianhae..." Donghae menyerah. Kedua mata dan pipi Eunhyuk akan tetap basah jika gadis itu masih menangis, jadi Donghae memilih untuk kembali membawa Eunhyuk ke dalam pelukan hangatnya dan mengusap punggung gadis itu berulangkali agar tangisannya mereda.

.

.

"Donghae"

"Hm?"

"Apakah aku sedang bermimpi saat ini?"

Bertanya mereka dimana?

Saat ini mereka sedang berbaring di kasur Eunhyuk.

Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak.

Tadi saat Donghae memeluk Eunhyuk, Donghae dapat merasakan jika panas tubuh Eunhyuk kembali naik. Oleh karena itu laki-laki tampan itu menggendong Eunhyuk ke kamarnya dan berakhir dengan tidur di ranjang sambil memeluk Eunhyuk karena gadis itu menggigil kedinginan walaupun pemanas ruangan sudah dinyalakan.

"Menurutmu kau sedang bermimpi atau tidak?"

"Iya" sahut Eunhyuk cepat.

"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Donghae.

"Karena ini mustahil terjadi"

Donghae terkekeh melihat wajah Eunhyuk yang terlihat menggemaskan.

"Perlu bantuan untuk membuktikan jika kau tidak sedang bermimpi?"

"Boleh"

Cup!

Satu kecupan kilat Donghae berikan di bibir Eunhyuk tepat setelah bibir Eunhyuk terkatup.

"Kau kenapa?" tanya Donghae khawatir saat melihat wajah Eunhyuk terlihat lebih memerah dari sebelumnya.

"Jangan lakukan itu lagi" ucap Eunhyuk sebelum menaikkan selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.

Eunhyuk malu...

Donghae tertawa cukup keras. Namun laki-laki itu segera menghentikan tawanya saat mendengar gerungan tak suka dari Eunhyuk.

"Baiklah, baiklah" Donghae menepuk-nepuk pelan kepala Eunhyuk. "Sekarang tidurlah yang nyenyak agar panasmu turun karena besok kita semua akan jalan-jalan ke pantai"

Donghae melihat pergerakan dari Eunhyuk. Gerakan mengangguk.

"Selamat malam... Have a nice dream" tutup Donghae sebelum mengecup puncak kepala Eunhyuk dan jatuh tertidur.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Annyeong yeorobun~

Maaf baru nongol lagi hehe

Apa kabar?

Oiya, ni ff ga jadi 2shot karena nanti kepanjangan kalo diposting semua, jadi aku bagi 2

Chap depan yang terakhir yaa (beneran yang terakhir)

Maaf kalo bahasa penyampaian ceritanya berubah, lama ga nulis sih hehe.. Dimaklumin aja yah :')

.

Buat yang nanyain Red Thread, ntar dulu ya.. Sabar.. Masih dalam tahap pengetikan dan nunggu My Strawberry Boy selesai soalnya mau diposting barengan hehe

Buat yang udah ninggalin jejak berupa review, fav atau follow terima kasih banyak *bow*

Maaf ga bisa nulisin nama kalian satu persatu kek dulu karena sekarang aku ngetik ff nya di hape, ga di laptop lagi, soalnya kalo di laptop ribet kudu mindahin ke hape dulu kalo mau posting *karena laptopku dah ga bisa dipake internetan :')*

Buat sider juga makasih ya... Tapi boleh dong ya ninggalin jejak di kotak review sebagai penyemangat lanjutin ff ini walaupun cuma bilang 'lanjut' doang wkwk

Untuk yang KMS... Aaa~ Kangen~ *hug*

Udah lama banget ya aku ga kasih kalian suguhan ff KyuMin :') Miaan~ *bow*

Tapi aku lagi buat ff KyuMin kok. Nanti kalo udah selesai pasti diposting ;)

.

See ya on next chap~

.

30'05'17

-Mei Hyun-