Author Notes :

Ngga nyangka ternyata ada yang sudi nge-review fic ini..., :D

Terima kasih minna-minna sekalian..., *bungkuk dalem- dalem*

Ini adalah fic pertama saya, jadi harap maklum kalau ceritanya gaje, typo, dsb.

Dan masalah cerita, maaph kan saya karena sya tidak tahu "The Heirs" (maaph saya baru tahu setelah tapa dengan mbah google),

Sebenarnya cerita ini terinspirasi dari sebuah lukisan karya van Gogh yang berjudul "The Rose and The Sunflower" (yang akhirnya sy pakai dalam jdul fic ini),

Dan untuk adegan cerita, saya memang menyukai adegan perebutan wanita diantara dua pria...gyahahahaa :D

*PLOK* (digaplok Ichigo dan Grimmjow)

Jadi begitulah, ide cerita dan adegan tidak terinspirasi dari "The Heirs" karena saya bahkan belum menonton drama itu *nangis mewek- mewek*

Akhir kata, silakan membaca dan mohon review dari minna-san sekalian (-.-)

Happy reading!


Disclaimer:

Bleach akan tetap milik Om Tite Kubo *sembah sujud*


Note:

"..." (dialog biasa)

'...' (dialog isyarat, biasanya dipakai Rukia yang bisu)

Tulisan bercetak miring (ucapan dalam hati)


Chapter 2

The Eyes

Rukia mengerjapkan matanya. Untuk yang kesekian kalinya ia berusaha untuk terbangun dari mimpi buruknya namun selalu saja gagal. Berapakalipun ia berharap bahwa dua sosok yang kini saling bertatapan itu hanyalah sebuah imajinasi, tidak bisa membuahkan hasil yang memuaskan. Semuanya tampak terlalu nyata untuk dijadikan mahluk dunia maya. Tatapan kasihan dan bingung dari orang- orang disekilingnya, ujung hidungnya yang masih terasa panas akibat terjatuh, dan kini, tatapan dingin dari dua orang lelaki yang paling tidak ingin dia lihat semakin menegaskan bahwa...ia sedang tidak bermimpi!

Gadis belia itu merasakan dingin menjalar dari ujung jari kakinya saat bertatapan dengan lelaki jeruk yang sepertinya masih memendam aura ingin membunuh akibat ulahnya kemarin. Ia menggigit bagian dalam mulutnya dan tak berusaha untuk bangun dari posisinya sedikitpun. Sedangkan lelaki ramen hanya menaikan satu alisnya saat menyadari perubahan sikap lelaki didepannya itu dan mengambil pose senyaman mungkin untuk menonton. Ia memilih untuk memasukkan kembali tangan kanannya yang sempat keluar ke dalam saku dan menatap Rukia seperti sesuatu yang menarik.

"He...Tak kusangka kau akan kembali dengan sendirinya, gadis pencuri." dengus Ichigo menampilkan senyum devil dan membuat kaki Rukia seperti mati rasa hingga ia tidak bisa menggerakannya untuk bangun dari posisi tengkurap dan mengambil langkah seribu seperti yang telah dilakukan kemarin. Ia menelan ludah dan mengunci mulutnya serapat mungkin. Ia sadar sudah tidak bisa kabur lagi dan hanya bisa berharap lelaki jeruk tidak akan mematahkan lehernya seperti yang ducapkannya kemarin.

"Ini." Ichigo menunjuk hidungnya. "Mahal sekali harganya." Senyum Ichigo semakin berkembang dan membuat Rukia bergidik ngeri. Rasanya ia ingin menggali lubang sedalam mungkin dan bersembunyi didalamnya agar lelaki jeruk itu tidak menemukannya.

"Baiklah, setidaknya harus kupatahkan satu." ujar Ichigo meremas tangannya dan berjalan mendekati Rukia, membuat gadis itu hanya mampu terdiam dan membisu.

Matilah aku...

Lidah Rukia benar- benar terasa kelu. Ia hanya memandang Ichigo dengan matanya yang membulat sempurna. Haruskah ia terdiam begitu saja dan membiarkan lelaki jeruk mematahkan lehernya? Ia ingin lari...sangat! Tapi kakinya benar- benar tidak bisa diajak kompromi. Entah syaraf otot ditubuhnya telah terputus semua akibat tatapan lelaki jeruk yang begitu tajam ataukah karena memang dia benar- benar lemah hingga bisa termakan dengan gertakan dari lelaki yang pernah dikalahkannya kemarin. Tidak! Dia berhasil meloloskan diri saat itu dan kali ini...ia juga harus berhasil.

' Ugh...'

Rukia berusaha keras menggerakan kakinya dan tidak ada pergerakan. Bahkan ia merasa setengah dari tubuhnya sudah mati rasa. Bagaimana mungkin? Ia memutar kepalanya yang terasa begitu berat dan matanya menangkap sepasang kaki lengkap dengan sepatu bertali dan kaos kaki hitam masih bertengger disana dengan mulusnya. Ia mencoba sekali lagi untuk menarik kakinya atau bahkan menggerakannya sedikit saja. Kali ini juga gagal. Dia tidak bisa merasakan kakinya sendiri dan kepanikan semakin menerjang wajahnya tanpa ampun.

Gadis malang itu membalikkan kepalanya dan ia sudah melihat bayangan hitam besar sedang berdiri dihadapannya dan menyeringai. Termometer dikepala Rukia pecah bak kelebihan muatan panas yang saat ini memuai dikarenakan level kepanikannya yang sudah melebihi batas. Ia memejamkan matanya kuat- kuat saat sosok itu mengangkat tangannya ke udara daaaaan...

CTAK

Rukia hanya bisa mengaduh sambil meringis saat sesuatu menyentuh ujung hidungnya yang sekarang terasa pias. Ia membuka matanya secara spontan dan terlihatlah lelaki jeruk sedang menatap telunjuknya. Menganalisa sesuatu dan kembali melanjutkan aksinya.

CTAK

'Akh'

Rukia memekik tanpa bersuara saat Ichigo menyentil hidungnya lebih keras dan membuat warna kemerahan sempurna disana. Wajah gadis berambut hitam sebahu yang tadinya ketakutan itu telah beralih menjadi melongo karena aksi kekanakan lelaki dihadapannya yang sedang menatap dengan datar.

"Apa?" Ichigo balik bertanya saat wajah Rukia berekspresi 'Apa yang sedang kau lakukan?'

Mereka berdua saling tatap. Ichigo yang berjongkok didepan Rukia akhirnya hanya nyengir dan lagi- lagi meninggalkan kebingungan diwajah polos gadis bermata violet itu.

"Kau pikir aku akan memukul wanita, hah?" ujarnya sembari menoyor kepala Rukia ke belakang berkali- kali hingga perkataannya selesai seperti boneka anjing di dashboard mobil yang akan mengangguk- angguk ketika mobil berjalan dan Rukia masih saja terdiam menerima perlakuan itu. Ia mengerjapkan matanya seolah baru tersadar, lalu memegang hidungnya yang sudah memerah seperti orang ling-lung.

"Rukia...!?"

Tiba- tiba saja Renji meneriakkan nama Rukia dengan wajah terkejut. Antara percaya dan tidak, ia menatap gadis yang sedang tengkurap dihadapan Ichigo itu dengan ekspresi 'tidak mungkin.' Ia menatap lekat- lekat seolah memastikan gadis yang dilihatnya saat ini adalah benar Rukia, sahabat karibnya saat kecil yang terakhir kali terlihat olehnya di upacara kelulusan sekolah dasar dan bukan sebuah penampakan atau ilusi.

"Kau...kau benar- benar Rukia?" tanyanya dengan suara terbata dan membuat seluruh mata berpusat padanya.

Rukia tersadar sepenuhnya saat melihat wajah yang tak asing dimatanya itu dan berhasil sembuh dari lumpuh syaraf sesaat yang disebabkan oleh Ichigo. Ia lalu mengangkat tangannya yang tertunjuk pada lelaki berambut merah jabrik seperti nanas yang berdiri diseberangnya dengan kecepatan jet coaster.

'RENJI! ' teriaknya dengan wajah yang hampir sama dengan Renji. Ichigo menoleh secepat kilat saat Rukia berteriak tanpa mengeluarkan suara dan menatap wajahnya yang sekarang berubah berbinar senang.

Bisu...? batin Ichigo dengan terkejut dan yang lebih membuatnya terkejut lagi adalah denyutan yang ada didadanya, sama persis seperti yang ia rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis pencuri dan melihatnya menangis. Ia tak bisa berhenti untuk menatapnya terus- dan terus.

Renji setengah tertawa melihat wajah Rukia yang sedang takjub melihatnya dengan gembira seolah Renji adalah sebuah harta karun beratus tahun yang hilang didasar laut dan berhasil ditemukan. Lelaki itu tak berhenti mengisi hatinya dengan perasaan bahagia. Bagi Renji, saat ini ia seolah melihat Rukia kecil datang berkunjung dan itu membuatnya rindu akan masa lalunya yang dilewati bersama. Ia bahkan serasa ingin meneteskan air mata terharu jika saja saat ini hanya berdua dengan Rukia.

"Kenapa kau ada disini?" tanya Renji dengan perasaan lega setelah mengetahui ia sedang tak berkahayal dan berjalan ke arah Rukia, melewati Grimmjow yang mengekor dengan pandangannya.

"Kau baik- baik saja?" cecarnya lagi tanpa memberi Rukia kesempatan untuk menjawab dan membantu berdiri.

Rukia tersenyum dan Renji tahu itu tanda terima kasih yang hanya bisa disampaikan oleh teman kecilnya itu sejak dulu karena suaranya yang tiba- tiba menghilang setelah kecelakaan Hisana-neesan, kakaknya.

Gadis itu kemudian menepuk seragam barunya yang kotor terkena debu dan membuat Ichigo yang sedang terbengong dibawahnya terbatuk akibat ulah jailnya.

"Uhuk...cewek sialan..." geramnya sambil terus terbatuk- batuk dan mengibaskan tangan kuat untuk mengenyahkan serbuan bubuk kecoklatan yang menyerang. Tidak...aku tidak mungkin tertarik dengan cewek menyebalkan seperti ini, sungut Ichigo yang sedang adu mulut dengan kata hatinya sendiri.

"Kenapa pula kau masih berjongkok disitu, Ichigo?" tanya Renji yang lebih mirip sebuah pernyataan daripada pertanyaan dengan ekspresi wajah 'bodoh' yang membuat Ichigo terlihat kesal saat mendapatkan Rukia juga berwajah sama.

Awas kau nanti, umpat Ichigo melirik Renji dan Rukia yang kini sudah saling berhadapan.

"Jadi kau murid pindahan?" Renji memulai interogasinya saat melihat Rukia mengenakan seragam yang sama dengannya, seragam Karakura High School yang berwarna keabuan. Ia melihat Rukia mengangguk dan mulai menggerakan tangannya menggunakan bahasa isyarat untuk menjelaskan kepindahannya kemari yang membuat Ichigo menaikkan kedua alisnya dan berhasil melebarkan pupil Grimmjow.

"Ah...begitu..." Renji mengangguk mengerti dan meletakkan tangannya didagu. Pose berpikir.

"Oi, Renji. Kau mengenalnya?" tanya Ichigo menunjuk Rukia dengan telunjuknya seolah ia adalah mahluk hina dan tatapan kesal Rukia terfokus pada jari itu.

Ini jari yang telah merubahku menjadi rusa kutub, sungut Rukia mengendus memastikan ujung hidungnya yang walau kemerahan tapi tetap baik- baik saja. Biaya pengobatan tidak termasuk dalam list pengeluarannya bulan ini dan akan tetap seperti itu. Uangnya sudah dihitung secara adil, tepat dan teliti, sehingga tidak akan ada anggaran untuk hal lain- lain-lain-lainnya lagi yang tidak ia rencanakan.

"Ng? Kau tidak tahu?" Renji malah berbalik bertanya pada Ichigo. Melihat wajah bingung Ichigo sudah menjadi jawaban dari pertanyaan Renji dan ia benar- benar tidak percaya dengan apa yang didapatnya. " Baka. " ujar Renji membuat pitakan empat muncul disudut dahi Ichigo.

"Dia ini'kan putri dari keluarga Ku...Hupmhbhhmmmmm."

Belum sempat Renji menyelesaikan perkatannya, tiba- tiba tangan Rukia sudah menyembur dan mendekap mulutnya hingga wakil ketua OSIS itu hanya bisa menggumamkan kelanjutan kata- katanya saja. Ah, ralat. Mungkin akan lebih tepat jika disebut menampar mulut Renji dengan segenap tenaga monster ketimbang membekapnya karena efek yang ditimbulkan cukup membuat bibir Renji terasa nyonyor.

Ichigo menarik kepalanya melihat tingkah aneh Rukia yang kini sedang memamerkan senyum malaikatnya. Sayangnya hal itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap Ichigo, apalagi Grimmjow yang kini malah menatapnya dengan tatapan menyelidik. Rukia akhirnya hanya tersenyum dengan ujung bibir yang berkedut. Kalau saja ia bisa bicara, ia pasti akan membisikan kata- kata 'Kau mau mati, hah?' ditelinga Renji saat ini yang pastinya bisa membuat lelaki itu berubah menjadi batu beku. Baru beberapa detik lalu ia mengatakan untuk merahasiakan nama keluarganya dari semua orang disekolah, tapi mulut ember Renji hampir menguak hal yang paling Rukia tidak ingin orang tahu.

"Cih." dengus Grimmjow menundukkan kepalanya seolah baru saja melihat hal yang membuat matanya rusak. Ia terlihat sedikit kesal dan menggelengkan kepalanya pelan seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi didepannya.

"Perkumpulan orang- orang bodoh." cibirnya lagi dan memandang Ichigo rendah. Ichigo tersenyum. Ia tidak terlihat tersinggung sama sekali dengan ejekan Grimmjow karena ia tahu ia sudah memencet tombol yang tepat. Teman, kawan, sahabat, atau apapun itu namanya adalah hal yang tidak dimiliki oleh seorang Grimmjow Jaegerjaquez, sang anak Wakil Kepala Sekolah, Sousuke Aizen.

" Yo, Grimmjow. Maaf, membuatmu kecewa." sindir Ichigo berhasil menciptakan tatapan dingin diwajah kawan yang kini telah menjadi musuhnya itu.

"Apa skenarionya melenceng dari perkiraanmu?" tambahnya lagi karena Ichigo sukses membohongi Grimmjow dengan akting marahnya pada Rukia. Ia tahu, Grimmjow sangat suka adegan perkelahian tapi ia tidak pernah menyangka kalau lelaki pecinta wine itu juga tidak pandang bulu terhadap wanita. Bagaimana mungkin ia berharap Ichigo akan memukul seorang wanita didepannya?

"Heh..." Grimmjow memiringkan kepalanya. "Melenceng?" tanyanya mengulang dengan senyum licik.

"Justru aku menemukan sesuatu yang menarik." tukasnya terdengar merencanakan sesuatu dan membuat senyum dibibir Ichigo beralih menjadi tatapan waspada.

"Aku belum sempat mengucapkan terima kasih atas pertolongannya kemarin." jelas Grimmjow dengan wajah meyakinkan dan berjalan mendekat. Wajahnya seolah mengatakan kalau sesuatu yang tidak diperkirakan Ichigo akan terjadi.

"Izinkan aku untuk melakukannya..." Bibir Grimmjow tertarik. Membentuk sebuah senyum yang menampilkan barisan gigi putihnya dan tatapan matanya tepat menusuk ke bola mata Rukia yang sedang berdiri ditengah dan membuatnya tercekat. " ... Ichigo." panggilnya pelan.

Rukia merasakan nafasnya tersumbat. Sekujur tubuhnya tiba- tiba menjadi dingin. Ketakutan yang ia rasakan saat melihat seringai Ichigo tadi tidak sebanding dengan apa yang sekarang menghantam dirinya. Saat ini ia seperti berhadapan dengan seekor macan besar yang sudah mengunci mangsanya dan dialah kelinci kecil yang meringkuk ketakutan karena menjadi target tancapan taring tajam. Menunggu jantungnya berhenti berdetak dan dikoyak dari tubuh mungilnya.

Ichigo melirik dari ekor matanya dan terkejut saat melihat wajah terpaku Rukia yang tampak begitu ketakutan. Gadis itu tidak berkedip sama sekali dan Ichigo bisa melihat sekujur tubuhnya yang gemetar.

Gadis pencuri...

"Oi."

Tiba- tiba Renji melangkahkan kakinya maju dan memotong langkah Grimmjow cepat. Ia mendongakkan wajahnya dan menatap lelaki dihadapannya itu tajam. Sementara Grimmjow tidak menggubris mata berkilat Renji yang mulai terpancing emosinya dan terus menjerat mata Rukia ke dalam bola mata birunya. Menikmati pancaran ketakutan sang murid pindahan yang tertangkap begitu kuat dan tak henti- hentinya tersenyum.

"Mau apa kau?" gertak Renji dengan wajah sombongnya.

"He...?" Grimmjow terdengar menikmati permainan yang ia lakukan. "Seharusnya aku yang bertanya begitu..." Ia mengalihkan matanya menatap Renji dan memiringkan kepalanya sebelum berbisik :

"Baka. "

Dan tepat setelah Grimmjow menyelesaikan kata terakhirnya, Renji melayangkan kepalan tangannya yang penuh amarah ke wajah Grimmjow yang terlihat menyeringai dan tenang- tenang saja. Renji benar- benar merasa tubuhnya begitu panas dan ingin menghajar wajah menyebalkan yang ada di depannya itu hingga babak belur sampai menghembuskan nafas terakhir.

Tangan Renji bergetar dengan syaraf yang menegang diseluruh permukaan kulitnya. Giginya bergemeratak dengan tulang rahang yang mengeras saat pukulannya tak kunjung sampai menyentuh rahang Grimmjow yang ia incar.

" Ukh..."

Suara Renji tertahan saat Ichigo memegang lengan tangannya yang tinggal satu centi lagi dari hidung Grimmjow yang terlihat runcing. Ia mencoba mendorong lengannya untuk maju mendobrak pertahanan Ichigo namun gagal. Cengkraman tangan di lengannya ternyata lebih kuat dari miliknya dan ia memang tahu, Ichigo memiliki kekuatan lebih besar dibanding dirinya.

" Hentikan..." ucap Ichigo pelan mencoba menyadarkan Renji dari luapan emosinya. "...Renji."

"Ukh..."

Renji menyatukan kedua alisnya dengan lengan yang bergetar.

"Aku bilang hentikan!"

Teriakanan Ichigo membuat Renji membelalak lalu tersadar dan dia melemaskan otot ditangannya secara perlahan,menuruti perintah dari tangan Ichigo yang menariknya untuk turun. Dan Grimmjow terlihat puas dengan kesuksesannya.

"Kau benar- benar melindungi teman- temanmu, ya, Ichigo." ucap Grimmjow menggerakan bola matanya ke arah lelaki yang berada disamping Renji.

"Lihat betapa baiknya dirimu." sindirnya membuat Renji kembali geram. Lengannya yang masih tercekal ditangan Ichigo mulai terasa kaku.

"Tentu saja." balas ichigo melepas tangan Renji dan membungkuk mengambil tasnya yang ia geletakkan tadi ketika menghukum Rukia. Ia menepuknya pelan untuk menghilangkan sisa tanah yang melekat dan setelah yakin tak ada noda yang tertinggal, ia berbalik lalu memasukan tangannya kedalam saku celana. Memantulkan bayangannya sendiri dibola mata Grimmjow yang masih tersenyum kecil.

"Aku tidak sepertimu yang tidak tahu bagimana caranya menghargai seorang teman." kata Ichigo dingin dan berjalan melewati Grimmjow yang langsung menarik bibirnya menjadi sebuah garis lurus sementara Renji sedikit terkejut mendengarnya. Ia bisa melihat perubahan diwajah Grimmjow yang terlihat menahan diri untuk tidak menghambur dan bergulat dengan Ichigo detik itu juga.

"Ah." Ichigo menghentikan langkahnya dan berbalik. " Renji, kalau kau mau bolos akan kukatakan pada sensei kau sedang sakit."

" Ah...eh...aa...ya..."

Renji yang masih terkejut dengan ucapan Ichigo hanya bisa bergumam gagap seperti orang idiot. Ia hanya mengangguk pelan dengan gaya patah- patah untuk mengiyakan apa yang diusulkan Ichigo karena mungkin temannya itu sadar, Renji butuh waktu untuk mengembalikan kesadaran Rukia masuk kembali ketempatnya. Dan ia hanya perlu pergi ke ruang OSIS agar bisa bicara berdua dan menenangkan sohib kecilnya itu.

"Ayo, Rukia." ajak Renji menggandeng tangan Rukia yang hanya bisa terdiam mengekor kemana Renji membawanya pergi.

"Ayo, Inoue."

"Ah...eh, i...iya..."

Inoue yang tidak sadar Ichigo sudah berdiri didepannya mengangguk dan mengikuti langkahnya dari belakang disusul dengan Ishida dan siswa lainnya. Rambut gadis itu melambai ketika kepalanya kembali menengok ke belakang untuk menatap lelaki yang tengah membelakanginya dan langkahnya terhenti. Menatap punggung itu lekat sebelum akhirnya kakinya kembali berjalan mengikuti pacarnya yang sudah lebih dulu meninggalkannya.

Kerumunan pun bubar. Seolah pertunjukkan baru saja selesai dan saatnya untuk kembali ke tempat masing- masing. Membiarkan lelaki berambut biru yang masih berdiri seorang diri dengan wajah menggeram disana.

"Oaahhhhhmm..."

Lelaki berambut kuning sebahu dengan tipe straight hair seperti habis mengalami pencatokan selama berjam- jam berjalan gontai dari arah gerbang sambil terus menguap. Tubuhnya yang kurus terhenti ketika ia melihat sosok yang dikenalinya sedang berdiri dengan wajah gondok.

"Ng?"

Ia berjalan mendekat dan dengan suara yang malas menyapa lelaki yang tertangkap dimatanya seperti orang depresi.

"Apa yang kau lakukan dengan wajah seperti itu di tengah- tengah halaman?" tanyanya memutar kepala memeriksa sekeliling. Tidak ada keganjilan yang berhasil ditemukan dan ia menyimpulkan temannya itu memang sedang depresi yang ia tidak tahu apa sebabnya.

" Kegiatan tidak berguna ini yang menyebabkan kau pergi pagi- pagi buta hari ini?" ungkapnya melihat jam yang tertempel ditangan kirinya.

"Ah, sudah masuk, ya." bisik lelaki itu lagi dan kembali menguap. Ia berjalan melewati Grimmjow santai dan membalikkan tubuhnya setelah beberapa kali melangkah.

"Apa kau sedang menyambut kedatanganku hari ini, Grimmjow? " tanyanya dengan wajah datar tanpa ekspresi yang langsung membuat Grimmjow menoleh dengan kesal.

"Mau kurobek mulutmu, Shinji? " jawabnya dengan tidak sabar dan dibalas dengan cengiran dari laki- laki bernama Shinji Hirako itu.


"Kau baik- baik saja, Rukia?"

Rukia tersenyum sebisa mungkin meskipun terlihat kaku sambil mengangguk pelan saat Renji bertanya tentang keadaannya. Sungguh, setelah mendapatkan intimidasi dari lelaki ramen tidaklah bisa dibilang baik- baik saja. Mata buasnya yang seolah melihat Rukia sebagai makan malam, seringainya yang membuat bulu kuduknya berdiri, wajah menakutkan itu...mengingatnya saja masih membuat tubuh kecil gadis itu merinding.

Ia memandang Renji yang sedang memegang segelas air dan Rukia melihat banyak kekhawatiran tergantung disana. Ia tak mau membuat wajah cemas Renji melebihi dari yang terpampang didepannya sekarang dan akhirnya tangannya bergerak.

'Aku baik- baik saja.' ujarnya menimbulkan tatapan tak percaya diwajah Renji.

'Tidak usah cemas.' lanjutnya lagi masih mencoba meyakinkan lelaki berambut merah didepannya itu dengan meminum air yang ada ditangannya, menegak sampai habis dan tersenyum menutupi gemetar yang masih terasa.

"Syukurlah." ucap Renji seolah terdengar lega meskipun tahu perempuan yang sedang duduk disofa itu berbohong. Selama hampir dua jam Renji hanya bisa meremas hatinya yang terasa sakit karena melihat tubuh menggigil Rukia yang begitu ketakutan dan ia merasa begitu jengkel karena tak ada yang bisa ia perbuat untuk menenangkannya. Dalam hatinya ia benar- benar bersumpah akan menghajar Grimmjow meski harus dirinya yang dikirim ke rumah sakit sekalipun.

'Maaf, kau harus bolos gara- gara aku.' sesal Rukia dengan wajah bersalah.

"Ah...tidak..." tukas Renji cepat sambil mengerjap karena pergerakan tangan Rukia yang ada didepannya. "Aku memang tidak suka pelajaran Mayuri Sensei." jelasnya menjatuhkan diri di sofa samping Rukia dan menyandarkan tubuhnya serileks mungkin. Ia mendongakan wajahnya yang sedang terpejam, mempertanyakan kenapa ia mengambil kelas science kalau ia tidak menyukai eksperimen.

" Bagiku kelasnya hanya terlihat seperti percobaan yang mengerikan."

Renji berkata sambil memutar memori otaknya kembali ke beberapa hari yang lalu saat Mayuri Sensei menyuruhnya untuk memasukkan ikan ke dalam alkohol dan melihat mata membeliak dengan darah muncul disana. Mengingatnya membuat Renji merasa mual dan ia segera membuka mata.

Renji mendapati Rukia sedang terpaku dengan layar ponselnya dan mungkin ia mendapatkan pesan selama Renji menutup matanya tadi.

"Mayuri Sensei benar- benar pandai membuat nafsu makan siswanya hilang." keluh Ishida tiba- tiba muncul dari balik pintu ruang OSIS dan masuk dengan wajah berkerut. Ia sedikit terlihat pucat dan tanpa bertanya, ah, bukan, Renji bahkan hafal diluar kepala sampai bisa memperkirakan apa yang kali ini dilakukan sensei penggila sciene itu sampai membuat Ishida terlihat lemas. Ia akan langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi dalam perutnya jika mendengar apa yang terjadi di laboratorium hari ini.

"Dimana Ichigo?" tanya Renji mengalihkan pembicaraan agar Ishida tidak mengungkit kelas biologi lagi.

"Dia sedang menenangkan Inoue yang syok berat setelah melihat..."

"Baiklah. Cukup." potong Renji kilat sambil merentangkan tangannya agar Ishida berhenti. Firasatnya mengatakan bahwa bayangan yang muncul diotaknya akan terjadi jika ia melanjutkan untuk mendengar kelanjutan dari perkataan Ishida.

Ishida mendengus. Menarik kursi Ketua OSIS dan duduk di sana sambil mulai membuka- buka dokumen yang ada di atas meja.

"Apa Kepala Sekolah Kurosaki datang ke sekolah hari ini?" tanya Ishida tanpa mengalihkan matanya dari dokumen berwarna jingga dan telah melupakan mual di perutnya.

Kebiasaan buruk, gumam Renji yang kini menatap ketuanya itu dengan malas. Tidak menatap lawan bicara saat bicara adalah hal yang tidak sopan.

"Kenapa kau tidak tanyakan saja pada anaknya?" jawab Renji gusar dan kembali merebahkan punggungnya ke sandaran sofa sementara jawaban yang baru saja terlontar membuat Ishida mendongak dan menatapnya dingin.

"Kau mau mati?" Ishida balik bertanya dan membuat Renji terbungkam seribu bahasa. Ia memilih untuk berdehem pelan dan menegakkan punggungnya kembali. Menyinggung tentang kepala sekolah pada Ichigo itu berarti sudah bosan hidup dan siap untuk mati. Ichigo benar- benar sensitif sekali jika telinganya mendengar nama Isshin Kurosaki dan kedua temannya itu sudah paham mengapa.

Tiba- tiba Rukia bangkit dari duduknya dan menatap Ishida lalu Renji secara bergantian yang kini juga tengah menatapnya. Setelah berpikir harus pamit pada siapa, akhirnya ia memutuskan untuk bicara pada Renji karena ia yakin ketua OSIS yang kini sedang duduk di singasananya itu tidak akan mengerti dengan apa yang dia katakan.

'Ukitake Sensei bilang mau bertemu denganku.'

Renji menampilkan wajah bertanya dan Ishida menaikan posisi kacamatanya.

'Aku pergi dulu.' pamit Rukia tersenyum tak menghiraukan rasa penasaran Renji dan membungkuk pada Ishida lalu berbalik pergi. Terdengar bunyi 'KLEK' saat pintu ruang OSIS tertutup dan sosok Rukia pun hilang. Meninggalkan Renji yang masih menatap daun pintu yang berwarna kecoklatan dan Ishida kembali menenggelamkan diri dengan dokumennya. Suasana menjadi hening. Tak ada yang bersuara karena para petinggi OSIS itu sedang berkutat dengan pikirannya masing- masing dan memilih untuk tidak saling mengganggu.

"Jangan sekali- sekali berpikir untuk menantang Grimmjow."

Tiba- tiba Ishida memecahkan dinding kesunyian yang sempat berdiri diantara mereka. Membuat Renji terkejut dan langsung memutar kepalanya ke belakang. Rasa tak percaya tersembur keluar dengan jelas dari wajahnya.

"Apa?" tanya Ishida sambil mengatur posisi kacamata.

Renji mengernyitkan keningnya. Dia memutar tubuhnya kembali ke posisi semula. Berhadapan dengan pintu OSIS yang terbuat dari kayu ginko dan termenung. Apa dia bisa membaca pikiran orang, selidik Renji dengan perasaan ngeri saat mendengar Ishida mengatakan apa yang ada dalam kepalanya.

"Kau beruntung karena Ichigo langsung mencegahmu tadi." tandas lelaki dibelakang Renji itu menutup dokumennya dan berdiri. Melangkahkan kakinya mendekati jendela yang ada di sisi kiri dan tidak lama kemudian angin berhembus pelan memasuki ruangan.

Musim panas telah berakhir dan sebentar lagi akan datang musim gugur. Serangga yang biasanya berdengung saling bersahutan kini sudah tak terdengar lagi, menghilang bersamaan dengan berakhirnya musim mereka. Yang terdengar sekarang hanyalah suara para siswa yang saling berteriak berebut bola di lapangan basket dan terdengar begitu ramai.

" Lain kali kau harus lebih mengatur emosimu, Renji." tutur Ishida memberikan nasihat yang hanya dibalas kebisuan dari sahabatnya itu.

Renji menunduk. Menatap kedua tangannya yang kini sudah bertumpu dikedua pahanya. Di kepalanya sudah terngiang kembali wajah sengak Grimmjow dan kepalan tangannya yang tertahan oleh cengkraman Ichigo. Amukan yang terasa sesak dan memenuhi rongga dadanya seperti mau meledakkan tubuhnya berkeping- keping jika tidak ia lampiaskan. Terlebih lagi saat melihat gadis yang ia sukai bergetar begitu ketakutan. Ia ingin menghentikan itu semua saat itu, karena ia tak sanggup melihat Rukia tersiksa.

Renji memejamkan matanya. Dalam hati kecilnya ia bersyukur atas apa yang dilakukan oleh Ichigo didepan koridor masuk tadi. Ya, jika saja saat itu ia berhasil memukul Grimmjow, pasti saat ini ia sudah berada di rumah sakit...seperti tiga tahun yang lalu.

Flashback.

DUAKH

Tubuh Renji terpelanting jauh membentur tembok dan akhirnya terjatuh diantara tumpukan sampah plastik yang berserakan. Darah mengalir dari mulutnya yang telah robek dan membengkak. Wajahnya babak belur. Disudut mata kirinya terdapat goresan yang menimbulkan titik- titik darah yang sudah mengering. Mata kirinya menyipit karena lebam akibat pukulan telak dari lelaki yang kini berdiri dengan bugar didepannya.

"Khh...ukh..."

Lelaki itu berjalan mendekati Renji yang berusaha untuk terbangun dari tubuhnya yang tertelungkup lemah. Tangannya sudah bergetar dan sakit dirasakan diseluruh sendinya yang nyeri seakan anggota tubuhnya akan terlepas satu per satu.

"Aaakh!"

Renji memekik saat telapak sepatu Grimmjow menginjak kepalanya yang berdenyut. Ia tak berusaha untuk melawan sama sekali karena kekuatannya benar- benar sudah terkuras habis dan tak ada lagi yang tersisa.

"Cih."

Grimmjow mengangkat kakinya dan mendorong tubuh Renji agar berguling. Matanya yang terlihat bosan kini bertatapan dengan mata sayu Renji yang sudah tak fokus. Nafas Renji yang terengah berangsur melemah.

"Kau menyedihkan sekali." ujar Grimmjow menyeka darah yang ada dimulutnya. Dari puluhan kali serangan Renji, hanya satu yang bisa menyentuh wajah Grimmjow dan membuat sudut bibirnya terluka sementara dia sudah berdekatan dengan kematian.

"Mati saja kau."

Renji melihat wajah Grimmjow yang terlihat kabur mengangkat kakinya dan akan mengarahkan sebuah tendangan penutup. Ia menarik nafas dengan susah payah, menyiapkan tulang rusuknya yang mungkin akan menjadi sasaran terakhir Grimmjow dan menghentikan detak kehidupannya. Namun ketika ia menunggu rasa sakit yang akan menusuk dadanya itu datang, samar- samar terdengar teriakan bersuara parau yang sangat familiar di telinganya. Membuat lelaki berambut merah terurai itu mendengus pelan sekali sambil merintih.

Lama sekali...keluhnya.

" GRIMMJOOOOWWW!"

Renji menarik bibirnya sedikit. Tersenyum. Lalu matanya terpejam bertepatan dengan terpentalnya Grimmjow dari atas tubuhnya.

End of Flashback.

Tiba- tiba Ishida menepuk pundak Renji dan membuatnya terkejut.

"Tidak usah dipikirkan apa yang telah terjadi." saran Ishida menatap langit- langit ruangan. Menerawang. Lama ia mengikuti alur kejadian tiga tahun lalu yang terputar di file otaknya lalu menghela nafas panjang.

"Ichigo memang membutuhkan pemicu saat itu." kenangnya lagi menunduk menatap Renji, membuat pemuda bertato itu tak mengerjap dan tersenyum gagu saat Ishida menampilkan wajah tersenyum lembut yang membuat seluruh bulu kuduknya berdiri.

"Aku tahu kau berniat baik." ujar Ishida lagi- lagi membuat Renji terbungkam.

Laki- laki ini benar- benar lebih menakutkan daripada Grimmjow, desah Renji membuang muka sedikit was- was.


Rukia berjalan menyusuri lorong koridor dengan langkah yang gontai. Wajahnya menunduk dan terlihat banyak proses berpikir yang sedang terjadi disana. Untungnya meskipun masih pada suasana jam istirahat, koridor nampak sepi karena murid- murid memilih untuk berkumpul di kantin atau tempat lainnya ketimbang bercengkrama dikoridor yang terlihat sangat tidak mengasyikkan.

Putri angkat keluarga Kuchiki itu menghentikan langkahnya menuju ruangan Ukitake Sensei lalu menghela nafas dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menangkap dua mahluk berambut orange yang sedang duduk di sebuah kursi taman. Wajah Rukia nampak tertarik. Ia mengatur tubuhnya menempati posisi arah jam dua dan memperhatikan gerak- gerik seorang lelaki yang sedang berusaha menenangkan seorang perempuan yang sedang menangis di depannya dengan kaku. Rukia mengenali lelaki yang sedang kebingungan itu namun tidak pada perempuan berambut panjang dan berbody menakjubkan yang kini masih terisak.

Rukia tertegun. Seolah terlihat asyik melihat kegiatan yang dilakukan dengan lelaki jeruk dan...ah, mungkin pacarnya, batin Rukia.

Angin berhembus pelan dari sisi jendela, melambaikan rambut Rukia yang ia biarkan tergerai dan mengedarkan aroma lily. Membiarkan gadis berpostur mungil itu tenggelam dengan tatapan kosongnya yang entah sekarang sedang melihat kemana.

"Apa hobimu mengintip?"

Suara berat yang terdengar kasar membuyarkan angan Rukia yang sedang bergelut dengan angin musim gugur. Ia mengenali suara ini dan hal itu yang membuatnya berat untuk membalikkan badan. Sampai detik ini ia masih belum mengerti kenapa lelaki ramen terlihat seolah ingin memakannya hidup- hidup saat kembali bertemu tadi. Setelah apa yang ia lakukan hingga nyaris mengorbankan nyawanya sendiri hanya untuk menolong lelaki tidak tahu diuntung itu, bagaimana bisa ia mendapatkan perlakuan hina sebagai balasan? Rasa menyesal dan sedikit kekesalan kini menghinggapi hati Rukia.

Lelaki dibelakang Rukia itu sedang menatap dengan datar. Menunggu tubuh Rukia berbalik dan menghadapnya. Namun melihat tak ada pergerakan yang kunjung terjadi, ia berjalan mendekat dan saat itu lah Rukia mengambil beberapa langkah sigap kesamping untuk menjauhinya. Membuat lelaki bermata tajam dan berwarna biru itu terkejut akan tindakan Rukia barusan dan ia tersenyum.

"Heee...?" Ia menghentikan kakinya yang baru mencapai satu langkah. Ditatapnya Rukia yang kini sedang menatapnya dengan ragu- ragu. Ada rasa takut yang sedang berusaha ditutupi oleh gadis itu meskipun terihat sia- sia dimata Grimmjow, karena pada akhirnya ia tetap bisa menangkap sikap waspada yang disembunyikan Rukia.

Sementara Rukia berusaha untuk menguatkan pijakan kakinya agar tidak terjatuh tiba- tiba, Grimmjow menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan memperhatikan Rukia seolah dia sedang menonton seekor kelinci bugil menari di depannya. Sangat terhibur.

"Kenapa menjauhiku seperti itu?" tanya Grimmjow berhasil membuat mata Rukia terbuka lebih lebar.

Grimmjow memberikan kesempatan Rukia untuk menatapnya lebih waspada dan berwajah sedih.

"Kau menyinggung perasaanku." akunya seolah terdengar buruk sambil menekan dada yang kini bersembunyi dibalik kemeja putih yang ia kenakan, namun seulas senyum terkembang setelahnya, membuat Rukia ingin menarik bibir itu hingga molor dan tak bisa kembali seperti semula.

Rukia menggerakan ibu jari kakinya perlahan dan ia benar- benar merasa lega karena tidak hanya jari kaki, bahkan seluruh anggota badannya bisa ia kontrol seperti yang diinginkan dan itu membuktikan kalau ketakutannya sudah berangsur turun, mungkin malah sudah lenyap. Kekuatannya sudah pulih dan ia bisa menghadapi lelaki Ramen karena rasa dendam yang ia rasakan lebih kuat sekarang.

"Ng?"

Grimmjow menaikan satu alisnya saat melihat ada sorot kemerahan dibola mata Rukia ketika menatap mata indigo miliknya. Tanpa sadar ia ditarik begitu saja seperti magnet berkutub yang bertemu pasangannya hingga pemuda bertubuh atletis itu tidak bisa beralih dan dengan tunduk berlutut pada kilauan batu safir itu. Ia terpesona, sangat terpesona sampai- sampai tak ada suara yang sanggup ia keluarkan. Membiarkan waktu berlalu begitu saja dalam kebisuan yang menyergapnya.

Melihat lelaki ramen yang tiba- tiba menjadi patung bersedekap dan tak henti- henti menatapnya, membuat Rukia mengerjapkan matanya dan berpikir lelaki ramen sedang merencanakan sesuatu yang membahayakan dirinya. Dan ia segera mengantisipasi dengan memilih untuk segera pergi dari tempat itu selekas mungkin.

Gadis bermata bulat itu segera membalikkan badannya tepat ketika bel masuk berbunyi dan sayangnya berhasil membangunkan tidur sang patung dewa yunani yang langsung memanggilnya dengan keras.

"Oi! "

Rukia tak bergeming. Melangkahkan kakinya tanpa berniat untuk menoleh ke belakang apalagi berhenti. Siapa sudi, batin Rukia.

" Gadis yakuza!"

Tetap tak ada tanda- tanda menghentikan langkahnya. Grimmjow menarik nafas putus asa. Entah sejak kapan dan darimana asalnya,dia sendiri juga tidak percaya kalau saat ini ia sedang merasakan apa yang disebut 'putus asa'. Seumur hidup ia tidak pernah menemui hal yang membuatnya susah begini.

" Gadis bisu!" teriak Grimmjow dengan wajah gondok dan berhasil membuat kaki Rukia berhenti. Ada perasaan lega yang langsung membuat Grimmjow mengumpat saat menyadari senang menghinggapi hatinya hanya karena perempuan didepannya itu berhenti meninggalkannya.

Rukia menarik nafas panjang sebelum memutar tubuhnya dengan kesal. Ia melihat Grimmjow berdiri dengan tangan yang sudah turun dan berada di posisi kanan dan kirinya. Lelaki itu sedang berwajah kebingungan dan itu malah menambah kerutan jengkel di wajah Rukia.

Ia mengeluarkan notebook yang memang selalu ia kantongi kemanapun ia pergi dan sebuah pena ungu untuk membantunya berkomunikasi dengan orang- orang yang tak mengerti bahasa isyaratnya. Tangannya bergerak cepat sambil kembali mendekati Grimmjow dan hasil tulisannya langsung ia tunjukkan tepat dimata lelaki itu.

'Kau ada urusan denganku?'

Grimmjow menggeser kepalanya sedikit setelah membaca tulisan dibuku dan mendapati Rukia sedang menatap dengan dongkol di baliknya.

" Ya." kata Grimmjow singkat sambil menarik buku dari tangan Rukia dan menutupnya. Membuat wajah kesal Rukia berubah dengan tanda tanya karena sikap Grimmjow yang mendadak berubah. Lelaki itu baru saja menemukan alasan yang tepat agar gadis yakuzanya itu akan selalu datang menemuinya dan menyuguhkan apa yang ia mau tanpa repot- repot meminta.

"Ada yang ingin kutanyakan padamu. " lanjutnya lagi mengembalikan buku yang hanya diterima dengan pelototan tajam dari Rukia. Melihat aura negatif dari lawannya, membuat Grimmjow mengangkat tangan kirinya yang sedang bebas dengan wajah dingin. Bergerak dengan pelan, membentuk kata demi kata yang pada akhirnya membuat gadis dihadapanya itu begitu tercekat.

Rukia membuka mulutnya tak percaya. Ia seperti baru saja tersambar petir di siang bolong saat melihat tangan Grimmjow bergerak begitu luwesnya bertanya tentang rahasia yang hanya diketahui oleh dia dan Renji

'Kenapa kau merahasiakan nama keluargamu?'

Tanyanya lagi pada Rukia yang kali ini hanya mengerjapkan matanya dan tak berani menatap ke arah lain selain buku yang kini sedang terpegang di tangan Grimmjow. Keringat dingin mulai menjalar menuruni punggungnya, terasa seperti liukan ular berjalan yang sedang menapaki tiap jengkal pori- pori kulit milik Rukia.

'Apa nama yang kau sembunyikan itu?'

Urat leher Rukia menegang saat ia mendapati pertanyaan yang tak kunjung bisa dijawab olehnya namun semakin datang bertubi- tubi.

Kenapa...kenapa lelaki ramen bisa bahasa isyarat...?

Seolah pertanyaan yang ada dibenak Rukia itu terpasang jelas diwajahnya, Grimmjow menyunggingkan senyum kemenangan.

"Aku bukan si bodoh Ichigo yang tidak mengerti bahasa isyarat." ejeknya membuat Rukia tersadar kalau Grimmjow sudah mengetahui rahasianya sejak di koridor masuk.

Pemuda 'High Class' itu mengambil tangan Rukia yang gemetar dan meletakkan buku diatas tangannya yang sedang menengadah. Ia menarik satu per satu jari Rukia untuk memegang bukunya agar tak terjatuh yang dimulai dari ibu jari...

"Jangan dijawab sekarang." cegah Grimjjow begitu senang saat Rukia tak mengeluarkan perlawanan sama sekali ketika ia menarik telunjuk putih gadis itu menjepit sampul buku. Ia mendekatkan wajahnya ke teling Rukia dan berbisik :

"Aku masih punya banyak waktu untuk menunggunya."

Grimjjow menyuguhkan senyum iblisnya saat jari terakhir Rukia menyentuh sampul buku dan menepuk tangan gadis itu pelan sebelum meninggalkannya berdiri dengan wajah pucat ditengah koridor yang mulai ramai berdatangan para siswa. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku dan berjalan santai melewati tatapan memuja dari para siswi yang dilewatinya.

Sesi perkenalan selesai, bisiknya melebarkan senyuman. Ia mendapatkan sesuatu yang menarik setelah kepulangannya dari Amerika selain Ichigo. Kini ia memiliki dua alasan untuk hadir disekolah setiap hari yaitu Rukia yang bisa membuat hatinya merasakan sesuatu yang aneh namun disukainya, dan Ichigo yang selalu diganggunya untuk menghabiskan waktu luang.

Grimmjow masih menyusun rencana untuk pertemuannya lagi dengan Rukia ketika tiba- tiba saja...

BRUKH

"Aakk!" Grimjjow terpekik kecil dan membiarkan tubuhnya mematung sejenak bersama benda yang ada dibawahnya.

Sebuah notebook berwarna ungu telah terbang tepat mengenai kepalanya dan kini tergolek dilantai koridor dengan posisi terbuka. Lelaki itu menghela nafas tak percaya saat ada perasaan yang menggelitik sedang terjadi di dadanya dan bukan amukan panas seperti biasa. Dia pasti sudah gila karena merasa ada kupu- kupu beterbangan dalam perutnya gara- gara Rukia melemparinya dengan buku. Memang sejak kapan dia menjadi seorang psikopat?

Grimmjow membalikkan tubuh tegapnya yang bisa membuat wanita ingin terlentang diatasnya itu dengan sukarela, secara perlahan dan mendapati Rukia sedang terengah dengan kesal disana.

Sial, mata itu lagi, umpat Grimmjow yang tanpa daya kembali terperangkap didalamnya.

'Kalau kau sampai membeberkan rahasiaku...'

Rukia menghentikan tangannya yang tergantung di udara. Ia sedang menimbang akan melanjutkan ancamannya atau tidak pada lelaki yang membuatnya berada diantara hidup dan mati itu. Kalau ia berani melakukannya, kemungkinan besar lelaki ramen akan marah dan melakukan hal yang sama seperti kejadian tadi pagi di koridor, tapi kalau tidak, ia benar- benar merasa terintimidasi dan sebetulnya paling anti jika direndahkan seperti mahluk sampah yang tidak berdaya seperti itu. Lama berkutat dengan pikirannya sendiri, akhirnya Rukia Kuchiki, gadis bangsawan yang sedang menyembunyikan jati dirinya dari mata dunia, memilih untuk menantang Grimmjow Jaegerjaquez didepan seluruh siswa Karakura High School yang sedang berkerumun dikoridor.

'...Aku...'

Rukia menarik nafas panjang dan dengan mantap menggerakan tangannya:

'...akan membuatmu menyesal...' ancamnya dengan mata berkilat yang sudah kembali didapatkannya dengan segenap keberanian yang tersisa.

Sebagai tambahan ia menunjuk Grimmjow dengan telunjuknya yang kini tengah terangkat begitu lurus diudara dan disaksikan oleh semua murid yang ada dengan wajah terkejut tak percaya. Gadis gila mana yang mau mati dengan berani mengangkat jarinya dihadapan seorang Grimmjow.

'...Kau.'

Kata terakhir Rukia berhasil membuat seluruh siswa berbisik- bisik ribut dan memperhatikan Grimmjow yang kini sedang terpaku menatap Rukia dan membuat mereka bertanya-tanya kenapa lelaki bertemperamen tinggi itu tidak menghambur ke Rukia sekarang setelah apa yang dilakukan gadis itu padanya. Ia terlihat begitu terpukau dan malah mengulum senyum saat Rukia berbalik meninggalkannya dengan hentakan kaki yang terdengar marah.

" Hahaha..."

Grimmjow menunduk, menutupi wajah tertawanya dengan satu tangan dan membuat siswa yang berdiri di sepanjang koridor tercengang. Setengah dari para siswi yang melihatnya harus rela terduduk lemas dan bersandar pada dinding karena penampakan sesosok malaikat surga yang baru saja mereka lihat. Seorang Grimmjow yang selalu memasang muka garang, mata tajam dan sangar kini sedang tertawa pelan dengan aura hangat. Gadis mana yang bisa tahan dengan wajah super ganteng yang terlalu berkilau itu!

Shinji yang sedari tadi menyaksikan rangkaian adegan menghibur itu dari balik kerumunan, datang mendekat sambil menjilat permen lolipop besar kesukaannya. Grimmjow masih tertawa dan membuat wajah Shinji menatap semakin datar. Ia membiarkan saja sahabatnya itu menikmati olahraga pipi yang sebenarnya juga sedikit menimbulkan tanda tanya. Lama ia memperhatikan dan bertanya jawab sendiri dalam hati, dan akhirnya, karena tak tahan lagi karena penasaran, ia membuka mulut.

"Apa kau baik- baik saja?" tanya Shinji menghentikan kegiatannya makan lolipop.

Grimmjow menghentikan tawa dengan susah payah.

" Tentu saja aku tidak baik- baik saja. " jawabnya disela- sela nafas yang tertahan dan kembali tertawa, bertolak belakang sekali dengan perkataan yang ia lontarkan.


Ichigo berlari dengan tergesa saat melewati koridor lantai dua yang kini sedang menggemakan derap langkah kakinya. Ia tak terlihat terengah meskipun sudah melewati deretan anak tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua. Bahkan masih tidak ada keringat yang berhasil menetes didahinya setelah pembakaran kalori yang ia lakukan. Mungkin berkat latihannya di klub basket yang membiasakannya untuk selalu berlari, membuat Ichigo baik- baik saja saat menempuh jarak yang baginya tak seberapa itu.

Jas sekolah yang dibiarkan tak terkancing melambai saat ia menambah kecepatannya berlari. Saat ini ia harus segera mengambil jam tangan yang tertinggal dikelas karena ulah Renji yang menantangnya adu panco saat pelajaran terakhir dan harus mencopot jam sporty berwarna hitam itu kalau tidak mau lengan Renji merusaknya. Jam itu adalah barang berharga peninggalan orang yang sangat penting bagi Ichigo dan ia harus berkejaran dengan sang waktu sekarang karena bisa saja benda tersebut sudah raib diambil orang. Telebih lagi Inoue juga yang sedang menunggunya di depan gerbang sekolah dan dia tak mau membuat perempuan itu berdiri terlalu lama.

Kenapa juga harus tertinggal, sih, gerutu Ichigo menghentikan kakinya tepat di ruang kesenian, kelas terakhir yang ia ikuti sebelum bel pulang sekolah berbunyi. Ia menggeser pintu kelas dan langsung mengedarkan matanya mencari kursi nomor dua paling depan yang malah menangkap seorang gadis berambut hitam sedang mengistirahatkan kepalanya diatas meja. Ichigo terperangah sejenak karena mendapati sosok perempuan tengah tertidur dan bermandikan sinar matahari sore itu terlihat begitu...cantik, bisiknya merasakan ada sesuatu yang asing terjadi dihatinya.

Dada Ichigo sudah berdenyut keras dan ia merasakan kakinya begitu berat untuk dilangkahkan. Padahal ia harus segera bergegas dan mengantar Inoue pulang, tapi tubuhnya benar- benar tidak bisa mengikuti perintah yang dikirim oleh otaknya. Ia tetap terdiam selama beberapa saat dan seperti kerbau dicocok hidungnya, Ichigo seolah pasrah ketika tubuhnya yang kesulitan berjalan, akhirnya menyeret kakinya yang tidak menurut untuk memasuki kelas. Dan bukannya segera mengambil jam tangan yang ada di meja depan, ia malah melangkah pelan melewati jam tangan yang tergeletak disana. Tatapannya tak kunjung lepas dari paras manis gadis yang kini masih terpejam dengan begitu damainya di bangku kelas itu. Ia terus menganalisa satu per satu bagian wajahnya yang bisa terlihat. Bulu matanya yang lentik dan garis kelopak mata tergambar jelas disana. Bibirnya juga mungil, merona lembut dan nampak begitu manis dengan perpaduan kulit putih diwajahnya, membuat Ichigo merasa gila hanya dengan menatapnya saja. Gadis itu seperti sebuah lukisan yang indah dan dia benar- benar mengaggumi sosok malaikat yang sedang tak sadarkan diri itu.

Tak ada hal lain lagi yang terbersit di kepala Ichigo selain keinginan untuk menyentuhnya dan tanpa ia sadari, jarinya sudah merasakan lembutnya kulit wajah gadis yang sempat ia juluki pencuri itu.

Menangkap tangannya sendiri sedang ada diwajah Rukia, Ichigo langsung membelalakan matanya dan seolah tertangkap basah, ia menarik tangannya cepat dengan was- was. Ia menoleh sekeliling seperti pencuri yang sedang beraksi. Memastikan bahwa tidak ada mata yang melihat kelakukannya yang seperti lelaki mesum barusan.

Tidak ada yang lihat kan? tanya Ichigo sedikit cemas. Ia takut kalau esok akan muncul berita yang santer mengabarkannya sedang mengelus pipi seorang murid pindahan dikelas yang sepi dan akan menimbulkan salah paham yang berujung pada penjelesan selama berjam- jam ke Inoe. Membayangkannya saja sudah membuatnya malas.

Angin meniup korden kelas seolah ingin memberitahu bahwa ia telah melihat apa yang dilakukan Ichigo terhadap Rukia, dan seakan memberi jawaban, mata Rukia mengerut dan membuka perlahan, membuat Ichigo menarik dirinya kalang kabut lalu menabrak meja yang ada disisi belakang.

'Nghhm...'

Rukia membuka sebelah matanya dan pemandangan yang ia dapat adalah warna hitam setinggi orang dewasa yang berujung orange dan terlihat kabur. Memastikan bahwa sosok itu bukanlah imajinasi dari mimpinya saja, ia berusaha membuka mata yang satunya lagi meski terasa begitu berat. Ia mengerjap pelan selama beberapa saat dan membiarkan Ichigo mematung dengan wajah khawatir disana. Apa dia tahu yang telah kulakukan?

Lama ia mengerjap dan tak membuahkan hasil, akhirnya Rukia bangun dari posisi tidurnya sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. Dan saat kesadarannya sudah kembali, ia tertegun dengan kehadiran Ichigo yang sedang condong kebelakang dengan topangan kedua tangan diatas meja. Ia membiarkan saja bola matanya yang berwana violet bertautan dengan bola mata Ichigo yang berwarna orange, seperti langit senja, dan tak menggubris perubahan dari lawan yang sekarang telah menjadi tawanannya itu.

Ichigo membuka bibirnya seolah ingin bicara dengan wajah yang terkejut. Suaranya tertahan dan tak bisa ia keluarkan sama sekali, sama seperti saat ia pertama kali melihat mata violet Rukia yang telah mengambil seluruh jiwanya. Dan kejadian itu kini terulang lagi, untuk yang kedua kalinya, ia terpesona dengan kilauan lensa ungu yang begitu jernih itu.

Rukia memiringkan kepalanya. Bertanya- tanya dengan kemunculan lelaki jeruk, yang sekarang sudah ia tahu bernama Ichigo Kurosaki, sedang berdiri seperti seorang anak kecil yang menatap es krim di depannya. Aku yakin tadi tidak ada orang dikelas ini, kenang Rukia mencoba mengingat kejadian sebelum ia jatuh tertidur.

Setelah keluar dari ruang Ukitake Sensei, Rukia diserang rasa kantuk yang luar biasa dan berencana untuk tidur sebentar sebelum kerja part-timenya, lalu ketika melewati ruang seni yang terbuka, ia melihat meja yang disinari lembayung sore yang nampak begitu nyaman. Tanpa pertimbangan yang rumit, ia pun memutuskan untuk merasakan kehangatan sang senja dengan cara tidur disitu dan menutup pintu kelas. Begitulah kronologis ceritanya.

Lalu bagaimana jeruk baka ini ada disini? tanya Rukia menambahkan kata 'baka' di perkatannya karena merasa kesal dengan ulah Ichigo tadi pagi yang setelah disadari, membuatnya terlihat seperti seorang bocah idiot.

Rukia menegakkan kepalanya kembali saat teringat dengan penjelasan Ukitake Sensei yang memberitahunya bahwa Ichigo adalah anak dari kepala sekolah dan ia memiliki kekuasaan yang tak terbatas yang memungkinkan lelaki dihadapannya itu muncul dihadapannya saat ini.

Gadis itu menyedekapkan tangannya sambil menatap Ichigo yang masih tak bergeming dari kondisi terakhirnya dan meneliti. Ia menggeleng tak percaya.

Bagaimana mungkin dia seorang anak kepala sekolah? keluhnya lagi menatap rambut orange Ichigo dengan malas.

Wajahnya berubah menjadi ekspresi 'ah' saat ia teringat akan perkataan Ukitake Sensei mengenai Grimmjow Jaegerjaquez, lelaki yang mengetahui rahasianya dan telah ia ancam, yang ternyata adalah anak dari wakil kepala sekolah.

Rukia meringis dan membebaskan tangannya. Kenapa bisa orang- orang menyebalkan ini adalah anak dari orang penting? gerutunya memjiat kepala yang tiba- tiba terasa sakit ketika membayangkan betapa berat kehidupan sekolahnya mulai saat ini.

Dahinya berkerut saat sadar Ichigo tidak kunjung bergerak dan hal itu membuat Rukia bingung. Ia kembali mengarahkan bola matanya ke Ichigo dan diserbu pertanyaan. Apa yang sedang dilakukan si bodoh ini? batinya beranjak dari duduk dan mendekatkan wajahnya pada Ichigo.

"Ah, Rukia ! Apa kau sudah...!"

Teriakan Renji terhenti saat ia melihat Rukia sedang berpandangan dengan Ichigo pada jarak yang super dekat dan langsung menyihirnya untuk menjadi patung selamat datang ditengah pintu. Sementara Ichigo yang tersadar berkat teriakan Renji yang keras dan pintu yang tergeser kasar, spontan berteriak saat mendapati wajah Rukia yang sangat amat dekat dengan wajahnya.

"Huwaaaaa !"

Ichigo mendorong tubuhnya ke belakang menaiki meja dengan wajah panik dan berakhir dengan terjungkal seperti orang idiot. Ia mengusap bagian belakang kepalanya yang terasa sedikit benjol setelah berbenturan dengan kaki meja sambil meringis. Sial, umpatnya.

Dan Rukia, setelah menarik wajahnya tak mengerti dengan kelakukan Ichigo yang menurutnya aneh, menoleh ke arah Renji yang sedang terpukul dan melambaikan tangan sembari tersenyum.

'Hai, Renji.'

Lalu Renji hanya bisa membalas dengan senyum ragu.

"H...hai..."

"Aduh...sakit sekali..." gumam Ichigo menyembul dari barisan meja dan belum menurunkan tangannya dari kepala. Ia berjalan menuju depan kelas sambil menyapa Renji yang tetap dengan posisi satu tangan menggeser pintu.

"Apa yang sedang kau lakukan, Renji?"

Renji tak menjawab dan menggerakan kepalanya seperti robot menghadap Ichigo.

"Apa...?"

"Ng ?"

"Kau..."

Tiba- tiba mata Renji berkilat dan langsung menghambur menarik kerah Ichigo.

"Apa yang kau lakukan !?"

"O...oi..."

"Kenapa kalian berduaan di kelas yang sepi dengan posisi yang mencurigakan?" selidiknya membuat semburat merah muncul di wajah Ichigo dan membuat Renji terkejut.

"Le...lepaskan, bodoh." suruh Ichigo membuang muka.

"Ichigo..."

Renji hanya mampu memanggil nama Ichigo yang kini sedang bersusah payah menyembunyikan wajah malunya.

Ichigo melirik Renji, dan dia terkejut melihat wajah Renji yang seperti mendapat berita kalau dia satu- satunya murid yang tinggal kelas.

"Renji...?"

Renji melepaskan kerah seragam Ichigo dan menunduk tak mau menatap kawan satu klubnya itu yang sedang berrwajah bingung. Ia memilih untuk menatap Rukia yang sekarang sudah berdiri di depannya.

"Aku...mencarimu kemana- mana..." Suaranya terdengar mengambang.

' Maaf. Aku ketiduran. ' sesal Rukia nyengir tanpa menangkap perubahan aneh diwajah sahabatnya, Renji.

" Oh..." Renji mengangguk pelan. "Ukitake Sensi memberitahuku kalau kau mungkin ada disini...dan..."

Ia menatap Ichigo yang menaikan satu alisnya.

"Kenapa kalian bisa berdua?"

" Ah, aku..."

' Dia datang saat aku sedang tidur.' potong Rukia yang membuat Renji mengirimkan tatapan curiga pada Ichigo.

Ichigo mendesah keras.

"Aku mau mengambil ini. " bela Ichigo terdengar gusar mengambil jam tangan diatas meja dan mengangkatnya. Bagaimana mungkin ia dituduh sebagai seorang kriminal oleh sahabatnya sendiri, meskipun...ya, dia sedikit melakukannya.

Ichigo hanya bisa memarahi dirinya sendiri saat teringat tangan nakalnya yang menyentuh wajah Rukia dengan lancangnya. Sungguh, ia benar- benar tidak menyangka akan bertemu dengan gadis pencuri di kelas dan membuatnya hilang akal.

"Kenapa kau tidak datang ke klub?" lanjut Renji masih mencoba mencari tahu sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Ichigo.

"Aku sedang mengantar Inoooo..." Ichigo mengayunkan suaranya dan terhenti seketika saat akan menyebut nama kekasihnya, membuat Renji dan Rukia menatapnya dengan pandangan bertanya.

Ichigo mengatupkan bibirnya. Merasakan lidahnya yang sehat- sehat saja dalam mulutnya dan mencoba usaha kedua untuk menjelaskan keabsenannya dari klub.

"Aku mengantar..." Ia lagi- lagi terhenti.

Entah kenapa, tiba- tiba mulutnya terasa berat untuk mengucapkan nama Inoe di depan Rukia yang sangat ia tahu, gadis itu tidak akan peduli kalau ia akan pergi mengantar siapa, dan membuat Ichigo ditumbuhi rasa kesal saat hatinya berkata demikian.

"Ah, maksudmu mengantar Inoue belanja?" tebak Renji manggut- manggut saat ingatannya kembali pada perbincangan mereka dikelas biologi dan membuat Ichigo mendelik. Ia beralih menatap Rukia yang sedang menimpali dengan wajah datar yang itu artinya tidak tertarik sama sekali dengan permasalahan ini, sukses membuat lelaki berwajah ganteng itu menggigit mulut bagian dalam sambil mengumpat. Bisa- bisanya aku berharap dia akan memasang wajah cemburu.

"Kenapa tidak memberitahuku? Aku kan bisa mengizinkanmu pada Kaien Senpai." ujar Renji sumringah dan memusnahkan wajah mendungnya yang kelabu.

Ichigo tersenyum simpul sambil memasang jam tangan di pergelangan kirinya.

"Aku hanya sebentar."

Renji mengangguk sambil be-oh ria.

"Baiklah. Apa kau sudah siap?" tanya Renji beralih ke arah Rukia dan gadis itu menjawab dengan sebuah anggukan kecil.

"Ngomong- ngomong kenapa kau tidak mengirimiku pesan?" todongnya mengingat ia harus mengelilingi satu sekolahan hanya untuk menemukan keberadaan Rukia dan baru bisa ketemu setelah bertanya pada Ukitake Sensei.

'Maaf.'

Lagi- lagi ia hanya bisa meminta maaf dengan wajah cengengesan.

"Aku'kan sudah bilang untuk mengirim pesan setelah kau selesai." protesnya lagi mengacak- acak rambut Rukia keras dan langsung menyolok mata Ichigo.

Rukia menarik kepalanya sambil menggerutu dan menyisir rambutnya dengan tangan karena ulah Renji. Sedangkan Ichigo mengerutkan alisnya dan merasa risih. Ia tahu Renji dan Rukia adalah teman sejak kecil dan kedekatannya merupakan suatu hal yang wajar- wajar saja. Tapi bagi Ichigo, hal itu membuatnya terganggu dan menimbulkan efek nyeri di dadanya.

'Jangan mengacak rambutku.'

"Haha...Maaf, maaf..." ujar Renji merangkul pundak Rukia dan mata Ichigo langsung menyoroti tangan itu dengan death glarenya.

Ia tidak tahu apa sebabnya, tapi yang jelas ia merasa ada api yang sedang perlahan berkobar di tubuhnya. Ia seharusnya segera pergi saja dengan cuek meninggalkan mereka berdua, tapi pada kenyatannya, kerutan kekesalan malah semakin bertambah dan bertambah diwajahnya.

"Baiklah, baiklah. Ayo berangkat." ajak Renji menggandeng tangan Rukia dan tanpa Ichigo sadari, tiba- tiba tangannya bergerak begitu cepat mencengkram lengan kiri Rukia, mencegahnya untuk pergi.

' Eh ?'

"Eh ?"

Ichigo dan Rukia bersamaan mengatakan kata 'eh' dengan wajah yang sama- sama terkejut. Rukia terkejut karena tiba- tiba Ichigo menarik lengannya, dan Ichigo terkejut karena...tiba- tiba ia reflek menarik lengan Rukia !

"Ng? Ada apa, Ichigo?"

Renji mewakilkan Rukia yang sedang terpaku melihat Ichigo untuk bertanya dan menunggu jawaban dari lelaki berwajah bingung itu.

"Ah...anooo..."

Sial, kenapa tangan ini tiba- tiba bergerak sendiri?

" ...itu..."

Ichigo memutar otaknya berusaha mencari alasan yang pas agar terdengar tak mencurigakan dan matanya menangkap sebuah daun kering berwarna kecoklatan tersangkut di ujung rambut Rukia.

"Ada daun dirambutmu . " jelas Ichigo merasa lega dan menunjuk ujung rambut Rukia. Rukia memutar kepalanya untuk mencari daun yang dimaksud meskipun hal itu sia- sia karena ia tak bisa memindahkan matanya ke belakang. Ichigo mendesah.

"Bukan disitu..."

"Kau habis darimana, sih?" tanya Renji mengambil daun di ujung rambut Rukia dan memotong perjalanan tangan Ichigo yang sekarang terhenti di udara. Ia tertegun dan membiarkan tangannya mengambang begitu saja. Meresapi gigitan- gigitan semut kecil yang semakin lama terasa semakin banyak menggerogoti rongga dadanya.

'Mungkin tadi saat aku pergi ke taman.' jelas Rukia mengingat ia pergi ke taman setelah bertemu dengan Grimmjow untuk menghilangkan stressnya disana.

Renji menggumam.

"Aku pergi dulu, Ichigo." pamit Renji membuat Ichigo mengerjapkan matanya dan mengangkat tangannya yang sempat tertahan tadi untuk melambai dengan gaya orang terkena serangan stroke.

"Hati- hati." gumamnya hampir tak terdengar.

Rukia memutar kepalanya untuk sekedar tersenyum pada Ichigo yang malah membuat lelaki itu menahan nafas. Setelah pintu tertutup, baru ia bisa menghela nafas keras dan tertunduk dengan terengah.

"Apa itu tadi?" bisiknya menutup mulut tak percaya.


Hari kedua Rukia menikmati masa sekolahnya di tempat yang baru, yang ia rasakan adalah lelah yang tak terhingga. Matanya terlihat sayu seperti habis dijatuhi satu ton semen perekat yang membuat kelopak matanya selalu ingin menempel. Seluruh sendi badannya mengadakan demonstrasi mendadak tadi pagi saat ia bangun akibat kerja sambilannya yang cukup menguras tenaga. Ia bekerja sambilan di dua tempat sekaligus demi membiayai hidupnya dan tubuh mungil itu ternyata tak menyimpan banyak sisa tenaga setelah urusannya di sekolah. Dan efeknya telah ia rasakan sekarang yaitu menjadi zombi berjalan.

'Oaaaahhh...'

Rukia menguap sejadi- jadinya kali ini sambil berjalan gontai menuju kelasnya yang terletak di Gedung C sebelah barat. Ia harus melewati Gedung B yang terletak di tengah, dimana kelas sosial berada dan Geduang A yang sedang dipijaknya sekarang, yaitu kelas jurusan science. Setelah kembali menguap entah untuk yang ke berapa kalinya, ia merasa tak yakin akan sanggup mengikuti pelajaran pertamanya hari ini dan ia memutuskan untuk berbelok ke gedung D, menuju ruang kesehatan dan bertemu dengan Unohana Sensei untuk memberinya tempat bersitirahat.

Ia tahu Unohana Sensei akan sedikit banyak mengomel karena ia murid pindahan yang baru dua hari masuk dan sudah membolos pelajaran. Tapi setidaknya ia bisa mengistirahatkan otot- otot kaku ditubuhnya meskipun hanya sebentar saja sambil mendengarkan kicauan sensei-nya nanti. Ya, yang paling penting untuknya sekarang adalah berbaring!

Rukia tiba- tiba saja menghentikan langkahnya dan selain kantuk, sekarang ada raut kusut diwajahnya saat melihat sosok berkemeja putih dan tanpa jas sekolah sedang bersandar di dinding ruang perpustakaan yang bersebelahan dengan ruang kesehatan. Ia memejamkan matanya sambil menyesali keputusannya untuk pergi ke ruang kesehatan dan membalikan tubuhnya.

"Gadis bisu!"

Panggilan yang cukup keras untuk mengumpulkan perhatian siswa yang ada di koridor tertuju pada sumber suara dan Rukia yang kini sedang berdiri dengan wajah keruh. Kenapa harus pagi- pagi begini, dengusnya sebal dan mau tidak mau memutar tubuhnya kembali.

Di seberang Grimmjow sudah tersenyum dan berdiri dari sandarannya. Ia berjalan mendekat diiringi dengan bel masuk yang berdentang dua kali dan membuat Rukia memiliki alasan untuk segera enyah dari situ.

'Sudah bel. Aku mau masuk.' kata Rukia cepat- cepat memutar tubuhnya 360 derajat.

"Kalau begitu aku ikut." timpal Grimmjow enteng dan membuat Rukia menghentikan kakinya yang akan melangkah sesuai dugaan.

Murid- murid yang ingin melihat keonaran apa lagi yang akan Rukia lakukan terhadap Grimmjow terpaksa harus rela melewatkan tontonan itu kali ini karena bel yang menitahkan mereka untuk segera masuk kelas dan itu adalah hal yang mutlak. Dalam sekejap koridor menjadi sepi dan hanya tertinggal mereka berdua disana.

'Kau mau apa?' tanya Rukia berharap ia salah mendengar apa yang dikatakan Grimmjow barusan.

"Masuk kelasmu." jawab lelaki itu santai dan menunjuk jalan ke Gedung C.

Rukia berusaha menyabarkan diri untuk tidak melayangkan tendangan terbangnya ke kepala Grimmjow dan membuat sebuah tanda bekas sepatu disana atau bahkan mengirimnya ke rumah sakit. Ia benar- benar ingin hidup damai di sekolahnya ini dan tidak mau terlihat tindakan kriminal yang akan membuat Nii-sama nya malu jika ketahuan.

'Kenapa kau selalu menggangguku?'

Rukia kembali bertanya dengan wajah bersungut. Sungguh, apa lelaki ini tidak tahu kalau aura membunuh milik Rukia sudah mulai menguap menyelubungi tubuhnya sekarang?

"Lucunya aku juga mau bertanya seperti itu padamu." ujarnya dengan wajah terkejut karena memiliki pertanyaan yang sama dengan Rukia.

Rukia baru saja akan meminta penjelasan dan harus terpaksa bungkam saat kepala Grimmjow mendekat ke wajahnya dan berbisik.

"Karena aku ingin melihatmu."

Membuat jantung Rukia tercekat dan membiarkan saja tangan lelaki itu menggandeng tangannya.

"Ke kelasku saja." ujar Gimmjow seolah mengartikan kepasrahan Rukia sebagai tanda setuju untuk lelaki itu membawanya ke kelas sosial, namun persetujuan itu dibatalkan secara cepat oleh Rukia dengan menepis tangan Grimmjow dari tangannya.

'Aku mau kembali ke kelas.' jelas Rukia dengan wajah marah dan lagi- lagi tubuhnya terhenti karena lengannya yang kembali terjerat dan memutar tubuhnya dengan paksa.

"Apa aku ada bilang iya?" desis Grimmjow menatap Rukia dengan mata tajam dan menusuk tombol frezze di diri Rukia hingga membuatnya tak bisa berontak.

"Lepaskan tanganmu."

Tiba- tiba suara parau yang terdengar serak menghentikan Grimjjow yang baru saja akan melanjutkan aksinya dan ia merasa terganggu. Terasa ada hawa dingin dari sisi kirinya yang sangat ia kenali kepunyaan siapa dan tatapan seperti sinar laser yang sedang membolongi kulit tangan Grimmjow membuat lelaki itu akhirnya gerah juga.

"Aku bilang lepaskan."

Suara itu kembali memerintah Grimmjow untuk melepaskan tangan Rukia yang masih terkunci di tangannya dan ia menoleh dengan wajah terusik. Menatap lelaki yang mengenakan kemeja dengan style yang sama yaitu tanpa dimasukkan kedalam celana dan tanpa jas sekolah.

Grimmjow merenggangkan cengkramannya dan Rukia berhasil menarik tangannya kasar. Ia menoleh ke samping dan disana berdiri Ichigo dengan wajah dinginnya sedang menatap tajam. Ia terkejut karena melihat Ichigo yang sedang terdiam dengan aura hitam pekat diseklilingnya seolah ingin menghancurkan semua yang ada dihadapannya. Ia nampak sangat marah dan Rukia tidak tahu karena apa.

Ichigo...?

"Rasanya aku benar- benar ingin memukulmu, Ichigo." komen Grimmjow dengan suara yang tertahan dan mengandung emosi yang besar. Ia terlihat seperti akan membunuh banteng hidup- hidup saat ini.

"Aku ada perlu denganmu. "ujar Ichigo tak menghiraukan perkataan Grimmjow dan menatap Rukia yang kini sedang memandangnya dengan bingung.

Grimmjow mengepalkan tanganya dan berusaha untuk tidak memutuskan urat nadinya sendiri yang sedang tertarik tegang disekujur tubuhnya. Sementara Ichigo berjalan mendekati Rukia dengan langkah yang tidak sabar saat melihat gadis itu tak kunjung menjauh dari lelaki didepannya.

"Ikut aku." perintahnya menyabet lengan kanan Rukia dan menyeretnya untuk pergi bersamanya. Rukia hanya terbelalak kaget saat lengannya yang satu lagi tiba- tiba tertarik ke belakang dan menahan tubuhnya untuk melangkah mengikuti Ichigo.

"Aku melarangnya pergi." tolak Grimmjow marah dan membuat Ichigo menoleh. Memusatkan matanya pada tangan yang kini menempel di lengan Rukia dan membuat pilar penahan emosinya hancur.

"Aku tidak perlu meminta izin darimu."

"Ya kau perlu." jawab Grimmjow cepat dengan mata berkilat dan membuat Ichigo menghentikan kata- katanya yang sudah berada di ujung lidahnya. Rukia hanya bisa menatap dua lelaki yang sedang memegang kedua tangannya itu secara bergantian dengan cemas dan kecemasannya berubah menjadi sebuah kekagetan yang tak terduga saat mendengar Grimmjow berkata :

"Karena aku menyukai gadis ini."

Membuat mulut Rukia menganga dan mengirimkan ultimatum keras pada Ichigo yang sedang terbelalak.

Grimmjow mendapat kesempatan untuk menarik lengan Rukia yang langsung terlepas begitu saja dari tangan Ichigo yang masih terkejut dengan apa yang didengarnya, dan membiarkan Rukia pergi mengiringi langkahnya karena ia sendiri juga masih belum mendapatkan kesadarannya.

Namun baru beberapa langkah Grimmjow berhasil membawa Rukia pergi, Ichigo sudah kembali mengejar dengan langkah besar yang terlihat gusar untuk menyusul dan mencekal lengan Rukia kuat.

"Kalau begitu aku juga tidak bisa mengizinkannya pergi." kata Ichigo tajam dan membuat Rukia mengernyitkan keningnya. Memaksanya untuk berpikir apa gerangan yang sedang dilakukan dua mahluk aneh dihadapannya ini dengan saling menariknya kesana kemari seperti orang bodoh?

"Apa?" tanya Grimmjow dengan nada mengejak seolah ia baru saja mengalami ganguuan pendengaran dan memberikan kesempatan Ichigo untuk mengulanginya, namun lelaki yang kini tengah menggenggam erat tangan kiri Rukia itu memilih untuk mengibarkan bendera perang kepada musuhnya dan siap bertempur.

"Karena aku juga menyukainya." ucapnya tegas dan Rukia semakin tak sanggup untuk menahan mulutnya agar tak terbuka lebar dengan mata melotot seperti ikan dalam percobaan Mayuri Sensei dan membuat Grimmjow langsung mengerutkan bibirnya tak percaya.


It's done! Huwaaaaa...I can't believe it!

My 2nd chapter,

Thank you for reading this one, I hope you can enjoy the story,

and review please minna-san...(_ _)


Terima kasih banyak yng sudah mereview, dan akan sy jawab sekarang...

*bungkuk hormat*

FafaCute: Iya disini sy buat Orihime uda jadian sma Ichigo karena kk Orihime si Sora nitipin dy ke Ichigo, nnti bs FafaCute-san lihat di chapter selanjutnya, *kalo berkenan, (^-^)*

Yups...Anda benar! Rukia mngalami trauma krn kecelakan Hisana.

: arigatou ne ichacaca-san...trima ksih sudah membaca fanfic tak sberapa ini *nangis terharu*

Naruzhea Aichi : hahhaakkk...maph kan kslahan sya, *bungkuk dalem*

Sya dicero sma Grimmjow (yess, uda bner tulisannya) selama tiga hari dan disembuhin sma Inoue yang mski salah tulis ttep sudi mengobati. Trimaksih atas reviewnya, naruzhea-san...

Hanna Hoshiko : iyahhh Hanna-san, trimaksih reviewnya, sekarang uda sy benerin dn smoga ngga slh lg...:D

Eigar alinafiah : yooo Eigar-san, trima ksih sudah mau mampir dan membaca, ditunggu review slanjutnya, *ngarep*

Azura Kuchiki : aah, Azura-san, maaf pengupdate-an sdikit molor...(_ _)"

*ambil katana, mau harakiri*

: sudah sy updateeeee Anita-san...! :D

Silakan di baca...

Rini desu : yoroshiku ne Rini-san...tria msih sudah membaca fic ini...

Maaf update nya lama...

15 Hendrik Widiyawati : Iya Hendrik-san, Rukia di cerita ini sedang mengalami kebisuan...:)

darries : hhahaa...sy juga sngat mnyukai Ichiruki dan ad sedikit ide jail untuk mengganggu hubngan mereka dengan mendatangkan Grimmjow, *deserang pake zangetsu Ichigo*,

mereka punya mslah di masa lalu, akan diceritakan di next chapter nantinya karena belum sempet dijelaskan di chapter ini, maaaaf...(_ _),

Rukia mmang bisu dan sy blm memutuskan apakah dia akan permanen atau tidak...maaph kan sya lagi...(_ _)"

rukiruki 86 : sudah sy updatee ! :D..., silakan dibaca,

saphiraonfuyu: nope, it's not The heirs saphira-sama...

seperti yg sy jelaskan di atas, sy belum menonton The heirs (karena blm dapet episodenya, hikshikshiks)

ide cerita murni dari imajinasi sy yang kacau dan ngayal, :D

begitu lah...

ichirukilover : sudah sya updet ichiruki-san...:D

hikarooo: maaphh...sebenarnya tdk terinspirasi dari The Heirs, sya malah ngga tau klo ada kemiripan adegan di fanfic dgn The Heirs *makin nangis guling2 karena blm nonton*,

trima ksih atas dkungannya (?) *emang festival olahrga sekolah*

sy akan berusha cari The Heirs dan melihat adegan yg sama itu...*semangat menggebu*

(*_*)9

Ah, smpe lupa, yoroshiku ne hikarooo-san...

azure249 : lagi- lagi The Heirs...huaaaaaaanggg *lari ke tengah ujan*

sya belum tau bagian mn yang sma karena belum menonton, ah, nanti psti akan sya tonton dan cocokan,

maaph, kalau ternyata ada kmiripan adegan yang tidak sya tahu,

*bungkuk dalem- dalem*