Disclaimer: Masashi-sama, Hitoshizuku-sama, om-om dan tante-tante Crypton, mau tidak menyerahkan hak cipta Naruto, Secret~Black Vow~ dan Vocaloid ditukar dengan piring cantik -hadiah dari deterjen- saya?
Rating: M (ada )
Pairing: SasuNaru, ShikaNaru(slight), NaruSaku, SasuSaku(one-sided), ShikaTemari
Summary: Malaikat tak bersayap, kedua pengantin berbaju hitam, dan pemuda misterius. Takdir apakah yang akan mereka temui? Twoshot. SasuNaru. Lemon. Dark theme.
Author's Note:
Terima kasih untuk reviewnya—X3 Saya akan membalasnya dengan tubuh sa—#ditabok Shizune#
Haha, bagi yang bertanya lemonnya mana di sinilah jawabannya. Erm, tapi jangan salahkan saya ya, kalau lemonnya tetep kurang atau aneh (Jujur, saya malu dengan ketikan saya.*sembunyi di kolong jembatan*).
Dan, ya, fic ini angst dan dark. Untuk sad ending atau tidaknya, silahkan pikirkan sendiri. *smirk*
Sebagai ancang-ancang, fic ini paanjaaaang sekali. Jadi jangan berpikir berat-berat. Santai saja, sambil makan atau minum disarankan~ XD
Warning: YAOI. Explicit sex YAOI or Lemon or PORN With Plot (in my fic. 8P) or whatever you called it. I'm serious. If you can't read an explicit YAOI fic, please close this page and say goodbye to this fic. I don't want to read flames just because I made a YAOI fic. I warned you. Oh, if you want read this fic but you don't like explicit YAOI, you can scroll down -when you face the warning 'Yaoi part-beginning'- until you see 'Yaoi part-end'. 8D (but of course, you'll confuse with the story. A little… maybe…-_-)
Hm, Sho-ai too and language? I dunno if they're OOC or not…(jailah, sok-sok Inggris lu! Di rumah make logat betawi juga! Eet bujuk!) *berputar*
Italic : Naruto's think
Italic+Bold : The Alluring Secret~Black Vow~'s Lyric
Normal : Author's Narrative
"…" talk
'…' think
Naruto Masashi Kishimoto*sembah sujud*
This fic based on Vocaloid song, Kagamine Rin and Len -Vocaloid 02,
"The Alluring Secret ~Black Vow~" / "Himitsu ~Kuro Chikai~"
©HitoshizukuP
Kagamine Rin and Len – Vocaloid 02
©Crypton Media Future & Yamaha Corp.
Ati-ati, ni chapter terpanjang aye. Bujuk banget dah. Sante aja ya bang, eh, neng-eneng. Mangap ngebosenin. Enjoy—
X
Kagamiyo Neko
Present
.
.
.
.
SECRET
~Black Vow~
秘蜜〜黒の誓い〜
X
shikkoku ni somaru hanayome
sei naru chikai no basho de
hakanai hitomi de warau
fushigi na shōnen to deau
X
Sakura's Apartemen, 2 months ago.
Derap langkah kaki yang tidak ditutup-tutupi itu bergema kencang di depan sebuah apartemen tua yang berkiaskan pahatan kayu yang berwarna coklat tua. Tangan yang memegangi sebuah pistol silver yang bercahaya itu diselipkannya ke balik jas panjang putih miliknya. Dirinya yang sudah gelap mata, menunggu dibukanya pintu apartemen itu.
Tak berapa lama, pintu apartemen itu pun terbuka, memperlihatkan seorang wanita cantik berambut merah muda dan bergaun hitam yang terlihat heran dengan kedatangan dirinya. Dengan senyuman, wanita itu bergeser sedikit ke arah kanan dan mempersilahkannya masuk ke dalam apartemennya itu.
"Ada apa, Sasuke?" Satu pertanyaan terdengar di telinga malaikat itu. Pertanyaan yang ingin sekali ia jawab dengan sebuah tembakan tepat di jantung. Pertanyaan yang membuatnya muak. Saat ia akan membuka mulutnya, tiba-tiba suara lembut wanita itu terdengar.
"Kau mau membunuhku?"
Pernyataan yang terdengar datar itu membuat Sasuke terhenyak. Wanita itu tahu?
"Kalau kau tidak menjawabnya berarti benar, ya kan?" jawabnya sendiri sambil terkekeh kecil. Dituangkannya teh Assam yang masih mengepul ke dua gelas bercarik bunga yang sesuai dengan namanya, Sakura.
"Dari mana kau tahu?" tanya Sasuke sambil menggenggam keras pistol itu erat-erat, sampai tangannya itu memutih. Wanita itu tersenyum lembut tanpa menatap wajahnya. Masih meneruskan acara tuang menuang teh itu.
"Insting, Sasuke. Kau sering dengar kan, kalau insting wanita lebih tajam dibanding pria? Bahkan ada pula pria yang tak memiliki insting apapun, seperti Naruto itu…" ujarnya sambil tertawa kecil. Beda dengan dirinya, Sasuke justru makin mengerutkan alisnya. Kemarahan makin menutupi akal sehatnya.
"Araa— Jangan marah dulu, Uchiha-sama. Aku cuma bercanda. Lagipula untuk apa aku mengolok-olok calon suamiku? Oh, bukan calon suami ya… mantan calon suami, tepatnya…" ucapnya sambil membawa dua gelas itu ke meja tamu. Sasuke mendelik marah.
"Tahu dari mana kau kalau ia akan menjadi 'mantan calon suami'-mu, Sakura?" desisnya sinis sambil menatap Sakura yang duduk di kursi ruang tamu.
"Tentu saja tahu. Bukankah tadi sudah kukatakan? Kalau kau akan membunuhku hari ini, di hari pernikahanku?" ucap wanita berambut merah muda itu sambil meneguk tehnya. Ditawarkannya teh itu kepada Sasuke yang tentu saja ditolak dengan sinis.
"Lalu, kalau kau sudah tahu, kenapa kau tidak pergi atau melawanku?" tanya Sasuke lagi. Sakura pun menunduk untuk menatap cerminan dirinya di teh Assam itu.
"Aku… karena aku berdosa, Sasuke," jawabnya sambil menutup kedua mata hijau emerald miliknya.
"Berdosa…?" Sasuke tak habis pikir dengan wanita itu. Apa yang sebenarnya ada di pikirannya?
"Ya, aku ini wanita berdosa. Wanita yang seharusnya disiksa di neraka. Karena… aku mencintai malaikat berambut hitam yang kini berdiri di hadapanku…"
Pandangan kebencian Sasuke mulai mengendur. Otaknya mulai berpikir keras dengan kenyataan yang ada di hadapannya.
"Kau kaget, ya? Hihi, tentu saja. Karena selama ini pandanganmu hanya ada di Naruto. Seluruh pandanganmu hanya untuk Naruto. Tak sedikit pun pandanganmu ada di diriku."
"Kenapa…?"
"Kenapa? Aku juga tidak tahu, Sasuke. Jangan meminta wanita untuk menjawab pertanyaan yang ia tidak tahu jawabannya," Sakura terkekeh kecil.
"Bukankah kau mencintai Naruto?"
"Ya. Aku mencintainya. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku mencintainya."
"Lalu kenapa…"
"Tapi aku juga mencintaimu. Aku mencintai seorang malaikat dan seorang pemuda yang kukenal sangat dekat. Egois bukan?" tanyanya sambil mengelus-elus cangkir itu.
"…" Sejenak ruangan itu menjadi sunyi.
"Kau tahu kan, Sasuke. Gaun apa yang kupakai hari ini?" tanya wanita berambut merah muda itu sambil berdiri untuk memperlihatkan gaunnya.
Sebuah gaun mewah yang berwarna hitam kelam. Terbuka di bagian pundak dan sedikit di dada. Bermotif bunga di setiap pinggiran organdi hitam. Gaun yang sangat indah itu panjangnya hingga menyentuh lantai. Aksen bunga Sakura yang mempercantik gaun itu terletak di bagian dadanya. Perlambang wanita itu, perlambang cinta untuk wanita itu.
"Gaun pernikahanmu…" ujar malaikat itu sambil menolehkan kepalanya ke arah veil hitam transparan yang tergantung di manekin.
"Tepat sekali. Gaun yang dibuatkan khusus untukku. Dari orang yang kucintai…"
'Naruto…' pikir Sasuke melanjutkan.
"Bunuhlah aku, Sasuke…"
Pandangan Sasuke mulai terfokus ke seorang wanita yang kini tersenyum menatapnya.
"Bunuhlah aku, yang berdosa ini…" lanjut Sakura.
'Jika ia berdosa, bagaimana dengan diriku ini?'
"Setidaknya, sekarang kau telah melihatku seutuhnya…" ujar wanita itu sambil tertawa kecil. Terlihat butiran air mata di ujung matanya.
"Sakura…"
"Tak apa-apa, cepatlah. Naruto sedang menuju ke sini kan?" ujar Sakura sambil menyeka air matanya.
'Naruto…'
Diarahkannya pistol silver itu ke arah jantung wanita itu. Wanita yang selama ini memendam buah terlarang seperti dirinya. Wanita yang tidak pernah melepaskan pandangannya dari malaikat yang berdosa.
"Ah, ada satu kata terakhir untukmu, Sasuke."
"…?" Malaikat itu menaikkan alisnya.
"Tolong, bahagiakanlah dirimu dan Naruto. Jangan pernah meninggalkannya. Sebab, kalau kau melepaskan pandangan dari dirinya sebentar saja, ia akan rapuh."
"...itu bukan satu kata, Sakura…"
Wanita itu tertawa getir mendengarkan komentar pendek malaikat itu.
"Kau ini memang baik, hei, Malaikat…" Sakura memandang Sasuke dengan pandangan kasih. Mencoba menatapi malaikat yang dicintainya itu untuk terakhir kalinya. Sakura pun tersenyum manis sambil membisikkan,
"Selamat tinggal, Sasuke... Naruto…"
Satu tembakan menembus jantung wanita berambut merah muda itu. Membuat gaun hitamnya itu ternodai dengan siluet merah yang mulai menjelajahi seluruh gaunnya.
Terdengar bunyi debam keras bersamaan dengan jatuhnya wanita itu ke lantai. Ikat rambutnya yang tadinya mengikat rambut merah mudanya yang panjang, sekarang terlepas sehingga rambut merah muda yang panjang milik wanita itu menutupi wajahnya.
Malaikat itu berjalan pelan menuju mayat wanita yang mencintainya. Mencintai dirinya yang berdosa. Disingkirkannya rambut merah muda yang menutupi wajah cantik wanita itu.
Terlihat setetes air mata mengalir dari pandangan kosong wanita itu. Di wajah pucat malaikat itu, setetes air mata juga membasahi pipinya yang kering. Ia, dengan tangan gemetar, menutup mata hijau emerald yang terlihat kosong. Ia tersenyum sedih melihat wajah damai Sakura. Dengan suara serak, ia pun berkata,
"Selamat tinggal, Sakura…"
X
Berlin, Jerman; 2 months after 'the sorrow'.
"Naruto, kau tak lupa makan siang kan?"
Kata-kata yang setengah bertanya dan setengah memaksa itu hanya dibalas dengan gumaman pelan, "Ya," dari seorang pemuda yang sekarang tengah menyenderkan kepalanya ke peron kereta yang melaju menuju Berlin.
"Kau juga tak lupa dirimu itu siapa kan?"
"Candamu itu tak lucu, Shikamaru..." desah Naruto sambil memandang sungai Spree di ujung mata birunya.
"Aku ini serius, Naruto. Tentu tak lucu kalau tiba-tiba saat aku bertemu denganmu kau langsung lupa akan siapa dirimu dan semua masa lalumu. Kutanya sekali lagi, kau masih ingat dirimu itu siapa, Naruto?" sergah pemuda di seberang telepon seluler yang ada di genggaman tangan Naruto.
"Aku adalah Namikaze Naruto. Pemuda berumur 24 tahun yang lahir di tanggal 10 bulan Oktober. Ayah kandungku bernama Namikaze Minato dan ibu kandungku bernama Uzumaki Kushina yang berganti nama menjadi Namikaze Kushina, setelah ia menikah dengan ayahku. Makanan kesukaanku adalah ramen. Minuman kesukaanku adalah jus jeruk pemberian tetangga sebelah, Umino Iruka. Nah, apa perlu kusertakan warna apa dan bagaimana bentuknya pakaian dalam yang kupakai sekarang, Inspektur Nara-sama?" ujar Naruto sambil memejamkan matanya. Sedikit kesal.
"Terima kasih atas kerja samanya, Namikaze Naruto-san. Anda sangat membantu jalannya kasus di kepolisian akhir-akhir ini. Tapi tentunya, kepolisian tak membutuhkan penjelasan mengenai pakaian dalam milik korban pemakai pakaian dalam terburuk sepanjang masa ini."
"Buruk katamu? Memangnya kau tahu apa yang kupakai sekarang, Nara sialan? Huh, dari dulu kau tetap ketus. Bagaimana bisa Temari-neechan tahan denganmu yang begitu mendokusai ini."
"Jangan copy kata-kataku, Namikaze-san. Kalau mau, kau bayar finansial atas perbuatanmu itu."
"Puh, dasar mendokusai, mendokusai, mendokusai, mendokusaaaiii—" ulang Naruto sambil memberikan nada-nada lagu "sedikit" hancur di setiap kata-katanya.
"Baiklah. Namikaze Naruto, kau ditangkap atas perbuatan yang melecehkan nama baik milik Nara Shikamaru. Kau dikenai hukuman tidak diperbolehkan membeli cup ramen seumur hidupmu di segala penjuru dunia ini. Bang, bang, bang—" Terdengar Naruto yang tertawa keras di seberang.
"Pfft! Ma…mana ada anggota kepolisian yang bersuara sangat malas seperti itu saat menangkap penjahat dan apa-apaan hukuman itu? Itu namanya pelanggaran HAM!" ujarnya sambil melanjutkan tawanya.
Shikamaru pun menghela nafas lega. Setidaknya, ia telah mendengar tawa lepas Naruto sejak kematian Haruno Sakura, mantan calon istri Naruto. Bukan tawa palsu yang selalu Naruto berikan kepada dirinya ataupun teman-temannya yang lain di hari pemakaman itu.
"Hei, kau sedang ke mana? Kau sedang di kereta, ya? Suara di sana terdengar bising," tanya Shikamaru yang menghentikan tawa Naruto dalam sekejap. Shikamaru menaikkan alisnya. Pertanyaan yang burukkah?
"Aku… ke tempat Sakura…"
"Sakura— Boleh aku ke sana?" tanya Shikamaru.
"Tentu saja boleh! Kau itu bersikap seperti orang luar saja, Shika! Kau mau datang jam berapa?" Entah kenapa, berbeda dengan nada bicaranya yang ceria, tangan yang menggenggam telepon seluler itu terasa bergetar.
"Hm. Mungkin setengah jam lagi. Aku mau mengurus kasus kucing hilang milik Chouji dulu. Dia ribut sekali di sampingku. Entah sejak kapan ia mengurus kucing— yah, pokoknya sebentar lagi aku akan ke sana. Jangan pergi dari situ dulu, Naruto. Kau mau kutraktir cup ramen, tidak?"
"Tentu saja mau! Oke! Kutunggu kau di sana!Jaa!" seru Naruto. Tangan yang bergemetar itu mulai kembali normal. Ia pun menghela nafas panjang sambil memandang kota hiruk pikuk yang ditujunya yang mulai terlihat di ujung lembah, kota Berlin.
"Aku datang, Sakura…"
X
Berlin Jüdischer Friedhof Weißensee. Adalah sebuah pemakaman tua yang amat luas kedua di Berlin. Di sanalah mantan calon istrinya tidur untuk selamanya. Meninggalkan pemuda blonde itu sendiri di dunia ini.Pelan namun pasti ia berjalan ke arah batu nisan yang bertuliskan 'Haruno Sakura'. Ia menaruh sekuntum bunga bermacam jenis di depan nisan itu. Salah satu dari sekian macam bunga itu terdapat kelopak bunga Sakura pemberian dari ibu Sakura lewat kiriman tadi malam. Secara tidak langsung, ibu Sakura ingin memberikan kelopak bunga yang sesuai dengan nama putrinya itu.
"Selamat pagi, Sakura. Ibumu menitipkan bunga Sakura ini kepadamu! Ia bilang kalau ia ingin kau tetap bermekaran di hatinya seperti bunga Sakura yang bermekaran di Jepang sana! Dan kau tahu? Besok, Lee akan berangkat ke sini untuk menemuimu. Katanya ia rindu padamu..."
Ya, Rock Lee, seorang pemuda berambut dan beralis tebal yang selalu bertekad akan menjadi suami Sakura. Namun tekadnya yang sangat berkobar-kobar itu langsung redam hanya dengan kemunculan Naruto. Mengapa? Karena sejak awal Naruto dan Sakura bertemu, mereka telah saling jatuh cinta. Menyadari cinta Naruto pada Sakura dan begitu pun sebaliknya, Lee menyerah. Tapi ia selalu mengingatkan Sakura, jikalau nanti Naruto meninggalkan Sakura, maka ia dengan segenap hati siap memeluk Sakura untuk membuatnya lupa akan Naruto –yang biasanya pernyataan itu akan selalu Naruto balas dengan pukulan keras di kepala-.
"...aku..." Tangan tan milik Naruto menyentuh batu nisan yang berdiri tegak di hadapannya. Ia tersenyum sedih.
"Setelah kau tiada... aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang... Sakura," ujarnya sambil menyentuhkan dahinya di batu nisan.
"Kalau begitu, kau mau menjadi model lukisanku?"
Mata biru itu pun membelalak kaget. Ia merasa mengenal suara itu. Ditolehkannya kepalanya ke arah pemilik suara itu.
Terlihatlah seorang pemuda misterius berambut hitam, berkulit pucat, serta ketampanan yang terpancar di wajahnya. Di mulutnya terukir senyuman namun di mata hitam legamnya menyiratkan kesedihan yang sangat memilukan.
Saat mata biru langit dan mata hitam legam itu bertemu, secara tak sadar Naruto bergumam pelan,
"Sa...suke...?"
Pemuda misterius itu tersenyum sambil menutup matanya. Ia pun berjalan mendekati Naruto berada. Semakin dekat jarak antara mereka, mata hitam legam itu pun sedikit demi sedikit terbuka. Tubuh Naruto tak bisa digerakkan. Ia bagaikan terhipnotis. Naruto hanya memandang kaget pemuda itu.
"Sasu—"
"Aku bukan Sasuke..." Suara baritone menyadarkan Naruto. Di jarak sedekat itu, tampak beberapa perbedaan antara Sasuke dengan pemuda misterius itu. Tatanan rambut pemuda itu tidak mencuat-cuat layaknya pantat ayam, melainkan tatanan rambut yang rapi. Serta perawakannya yang lebih lembut daripada malaikat itu.
Setelah sadar akan kesalahannya, Naruto segera berdiri dan membungkuk maaf.
"Ma—maaf! Kenalanku mirip denganmu, jadi... aku..."
'...mengira Sasuke adalah dirimu...' pikir Naruto melanjutkan.
Pemuda itu hanya menatap mata biru yang terlihat kelam itu. Diulurkannya tangan pucat itu ke depan tubuh Naruto. Naruto mendongak untuk menanyakan apa maksud dari tangan pucat itu, namun yang terlihat di wajah pemuda itu adalah senyuman. Mungkin senyuman yang terlihat sedih, tapi entah kenapa bagi Naruto, senyuman itu membuat dirinya merindukan sesuatu.
Dengan perasaan yang tercampur aduk, Naruto meraih tangan itu dan berdiri tegak. Saat itu ia sadar, pemuda itu sedikit lebih tinggi darinya. Pemuda itu pun tersenyum lagi.
"Tidak apa-apa. Kenalanmu itu... kalau boleh bertanya, apakah dia yang meninggal di sana?" tanya pemuda itu sambil menatap batu nisan Sakura. Naruto menggeleng pelan.
"Bukan. Ia pergi entah kemana dan aku masih tidak tahu bagaimana kabarnya sampai sekarang…" ujar Naruto. Pemuda itu menganguk mengerti.
"Ah ya, kita belum berkenalan, ya? Namaku adalah Sai," kata pemuda berkulit pucat itu.
"Aku Naruto. Namikaze Naruto. Kau tak memiliki nama keluarga, Sai-san?" tanya Naruto.
"Tidak. Lebih tepatnya, aku lupa dengan nama keluargaku. Dua bulan yang lalu aku hilang ingatan." Naruto tersentak mendengar kata-kata, 'dua bulan yang lalu'. Mengingatkannya pada memori kenangan yang ingin sekali ia hapus.
"Hee, tunanganku ini juga meninggal dua bulan yang lalu. Apa dua bulan yang lalu itu adalah bulan buruk bagi kita berdua?" ujar Naruto sambil terkekeh. Jelas terdengar sedikit paksaan di tawa pemuda blonde itu. Sai mengerling ke arah pahatan nama di batu nisan itu.
"Haruno Sakura… nama yang cantik. Pasti dia sangat cantik sekali sesuai dengan namanya…" Sai berjongkok di depan makam Sakura. Ia menutup matanya untuk berdoa. Naruto tersenyum.
"Ya, ia sangat cantik sekali." Naruto mencoba mengingat wajah Sakura yang biasanya tersenyum. Wajah cantiknya saat mereka di bangku kuliah. Namun, yang ia ingat justru senyum kematian yang ia lihat di apartemen Sakura. Mendadak isi makanan yang ada di perutnya memaksa untuk dikeluarkan. Naruto pun menutup mulutnya dan berlari ke arah pohon terdekat. Sai berjalan mendekati Naruto yang sekarang terbatuk-batuk. Ia mengambil saputangan dari saku celananya dan menyerahkannya pada Naruto.
"Kau sedang sakit?" tanya Sai khawatir. Naruto tersenyum simpul.
"Tidak. Aku tidak sa—"
"Mana mungkin orang yang sehat, wajahnya pucat dan muntah-muntah? Ikut aku. Kita makan di restoran terdekat," paksa Sai sambil menarik tangan Naruto. Naruto, dengan keadaan tubuh lemah, akhirnya terpaksa ikut dengannya.
Ia sendiri pun tidak mengerti kenapa ia mau ikut dengan orang yang baru dikenalnya. Tapi, entah kenapa ada perasaan yang rindu saat melihat Sai. Perasaan yang selalu ia kubur dalam-dalam saat ia bertemu pertama kali dengan malaikat bersayap putih itu.
Perasaan yang memendam buah terlarang yang busuk di dalamnya.
X
"Maaf, Shikamaru…" Terdengar hela nafas berat di seberang telepon.
"Kalau kau berkata seperti itu, ya apa boleh buat… Tapi lain kali kau bisa makan bersamaku dan Temari, kan?" tanya suara yang terdengar malas itu. Naruto tertawa kecil.
"Iya. Aku bisa, kok. Sudah ya, Shikamaru. Jaa," Naruto pun menutup telepon selulernya dan berjalan mendekati pemuda berkulit pucat di meja dekat jendela. Saat Naruto duduk di seberang pemuda berambut hitam itu, pemuda itu pun mendongak.
"Menurutmu lebih enak ramen atau udon?" tanya pemuda itu sambil mengelus-elus dagunya, seperti detektif yang sedang berpikir. Naruto menyeringai.
"Kau itu keturunan kerajaan apa? Masa makanan seperti ini saja kau tidak tahu? Tentu saja, RAMEN!" ujar Naruto semangat sambil mengepalkan kedua tangannya ke atas. Menarik perhatian beberapa pengunjung yang langsung tertawa tertahan atau tertawa kecil. Pemuda misterius itu pun terkekeh.
"Dasar bodoh…" ujarnya pelan seraya menutup menu makanan dan mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. Dengan langkah sedikit tergopoh-gopoh, pelayan itu pun sampai ke meja Naruto dan Sai.
"Selamat datang! Hari ini menu yang cocok dengan hari yang cerah ini adalah Tonkatsu ramen dan Sup miso! Saya, Tenten, akan melayani anda! Apa pesanan kalian, tuan-tuan?" ujarnya panjang lebar sambil tersenyum manis. Naruto, yang melihat senyum lebar di pelayan imut bercepol dua itu, ikut tersenyum.
"Baiklah! Aku…Tonkatsu ramen! Dan Sai-"
"Shoyu ramen dan dua ocha… Cukup itu." Tenten tersenyum lebar sambil mencatat pesanan Naruto dan Sai. Setelah selesai, ia mendongak dan mengambil menu makanan sambil berkata, "Terima kasih! Silahkan menunggu sepuluh menit! Kalau ada yang ingin dipesan lagi, panggil saja saya!". Naruto membalasnya dengan teriakan penuh semangat, "Iyaaa!". Membuat beberapa pengunjung terkikik pelan.
"Nee, Sai. Kenapa kita pergi ke restoran Jepang? Bukankah banyak restoran Jerman ataupun yang lain di sini? Lagipula, kita harus sampai berkeliling dulu, kan? Kau ini maniak Jepang atau bagaimana?" tanya Naruto heran. Walaupun ia senang dengan sajian hidangan ramen kesukaannya, tetap saja ia penasaran dengan tingkah Sai yang aneh. Sai menaikkan alisnya pelan.
"Makanan di Jerman terlalu berat. Sekali-kali memakan yang ringan, tak apa, kan? Walaupun makanan ini tak baik untuk kesehatan," jawabnya santai sambil tersenyum lagi. Alis Naruto merengut.
"Hei! Ramen itu makanan terbaik! Jangan coba-coba meragukan rasa enak ramen!" teriaknya sambil menunjuk-nunjuk Sai. Sai terkekeh lagi.
"Ah ya. Bagaimana dengan tawaranku tadi? Kau mau menjadi model lukisanku?" tanya Sai sambil tersenyum. Wajah Naruto pun memerah.
"Erm. Bagaimana ya… Kau tak salah pilih orang? Memangnya aku pantas untuk menjadi model lukisan?" Naruto menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal.
"Tentu saja cocok. Siapa bilang tak cocok? Lagipula, bagiku semua orang cocok untuk dilukis. Setiap orang itu berbeda. Masing-masing memiliki pancaran jiwa yang berbeda. Khusus untukmu, kau terlihat seperti matahari yang amat sangat cerah di siang hari."
"…jadi nanti aku akan dilukis menjadi matahari, begitu?" tanya Naruto bingung. Sai tertawa kecil.
"Darimana kau berpikir seperti itu? Tentu saja tidak. Yang akan kulukis adalah lukisan dirimu yang tertawa ceria dengan kombinasi warna cerah yang sesuai dengan pancaran jiwamu…" ucap Sai sambil tersenyum untuk kesekian kalinya. Wajah Naruto kembali memerah.
"Terserah kaulah…" gumam Naruto pelan sambil menatap sumpit di depannya.
"Jadi, kau terima?" terka Sai sambil mengatupkan tangannya di depan dagunya.
"Iyaaa! Aku terima! Puas, kan?" teriak Naruto frustasi sambil memukul meja yang tak bersalah. Sai pun tersenyum lagi, membuat wajah Naruto kembali bersemu merah.
"Ah ya... Menjadi model lukisanku, berarti kau harus pindah ke kediamanku..." ujar Sai datar. Mata biru langit Naruto membesar.
"Haah?"
X
Kenapa saat aku berada di sisinya, hatiku selalu berdebar?
Kenapa saat ia memanggil namaku, hatiku melonjak senang?
Perasaan apa ini?
X
Sudah hampir setengah tahun, Naruto hidup bersama Sai di bawah satu atap. Kediaman Sai terletak di Helgoland, sebuah pulau wisata yang terkenal di Jerman. Saat ditanya kenapa ia membangun kediamannya di sana, ia hanya menjawab dengan ringan, 'Hanya untuk mencari inspirasi…'.
Dasar orang kaya sialan, pikir Naruto sebal.
Tak disangka, Sai itu ternyata pelukis baru yang terkenal di Jerman. Walau baru dua bulan ia diorbitkan, ia sudah terkenal karena lukisannya yang sering dibilang 'hidup' ataupun 'realistis'. Kurun waktu dua bulan itu, Sai sudah terkenal di seluruh kalangan art Jerman. Ternyata sudah berkali-kali, Sai membuat pameran kecil untuk karya-karyanya.
Selama ini, Sai hanya menyuruhnya untuk bergaya sesuka hatinya. Karena itu, Naruto selalu memilih untuk pergi ke taman bermain ataupun pegunungan. Tanpa disadari Naruto sendiri, ia selalu menolak saat Sai mengajaknya pergi ke laut. Tentunya tanpa menyebutkan alasannya.
x
Entah ia kerasukan apa, kemarin malam, ia langsung menyetujui tawaran Sai saat Sai mengatakan kalau ia ingin melukis dirinya yang bertemakan 'desire'. Ia tak tahu kalau ternyata 'desire' yang dimaksud di sini adalah keinginan yang mendekati 'lust' atau 'nafsu'. (Ia pikir kalau 'desire' yang dimaksud adalah keinginannya untuk makan ramen atau keinginan–bodoh-nya yang lain)
Ia duduk sendiri di ruangan pribadi Sai untuk menunggu persiapan Sai dan persiapan dirinya juga, tentunya. Ia memandang kancing kemeja putih yang terbuka seluruhnya.
'Berpakaianlah yang terlihat seksi, Naruto,' adalah komentar Sai saat Naruto bertanya pakaian seperti apa yang harus ia kenakan.
Untuk kesekian kalinya, Naruto menghela nafas. Ia memandang langit-langit kamar berwarna krem. Sejenak ia terdiam.
'Apakah aku mencintai Sai?' pikirnya yang tiba-tiba merasuki dirinya.
Selama ia berada di samping Sai, hatinya terasa hangat. Ia selalu mengagumi pandangan lembut Sai. Namun ada sesuatu yang selalu mengingatkannya pada masa lalunya. Sesuatu yang ingin Naruto lupakan.
Beberapa saat kemudian, Sai pun masuk ke dalam kamar sambil membawa perlengkapannya. Ia menempatkan berbagai alat lukisnya dan menaruhnya tepat di depan Naruto. Naruto makin salah tingkah.
"Erm... Ada yang bisa kubantu?" tanya Naruto bingung. Sai menggeleng pelan dan melanjutkan acara tata-menatanya.
Setelah selesai, Sai pun berjalan ke arah Naruto untuk memberi tahunya pose apa yang harus ia lakukan. Naruto menganguk mengerti dan bergaya sesuai keinginan Sai. Sai, setelah merasa puas dengan gaya Naruto, kembali ke depan kanvasnya. Ia pun menuang cat minyak dengan refined linseed oil ke palet dan memulai pekerjaannya dalam diam.
Naruto, secara tak sengaja, memandang mata hitam legam Sai. Ia tahu, dari lubuk hatinya ia selalu ingin menatap mata Sai. Mata yang mengingatkannya akan sesosok yang penting baginya— dulu. Naruto pun menunduk. Ia menggigit bibir bawahnya. Bisakah ia sekali saja tidak memikirkan orang itu?
"Naruto." Panggilan itu menyadarkan lamunannya.
"Posisimu berubah..." ujar Sai sambil berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah Naruto.
"Ah, ma—maaf..." Naruto pun segera memperbaiki posisinya. Sai menghela nafas.
"Bukan seperti itu..." Sai mengangkat paha Naruto sedikit ke atas. Ia lalu menyentuh dada Naruto yang terasa lembut di tangannya dan memundurkannya. Namun, karena keseimbangan Naruto masih goyah, Sai pun terjatuh di atas tubuh Naruto. Sai dan Naruto yang menyadari posisi mereka saat ini langsung terdiam.
Harum tubuh Sai yang dihirup Naruto terasa menyegarkan. Detak jantung Naruto yang cepat terdengar di telinga Sai. Pertemuan antara kulit dengan kulit saat itu membuat Sai hampir kehilangan kendali. Ia mendongak untuk menatap mata biru langit yang setengah tertutup itu. Pandangan Sai ke bawah dan menatap bibir merah yang tadi digigit oleh Naruto. Bibir yang halus dan nampak lembut.
Tak mengikuti akal sehatnya, Sai mencium bibir Naruto. Ciuman biasa yang membuat mata Naruto membesar. Mata hitam legam itu bertemu dengan mata biru langit. Menyadari tatapan horor Naruto, Sai langsung melepaskan ciumannya dan duduk di atas tubuh Naruto.
"Ma—maaf! A...aku..."
"Maaf?" tanya Naruto ambigu.
"Maaf karena aku menciu—"
Perkataan Sai terpotong saat bibir Naruto kembali bertemu dengan bibir pucat Sai. Sekilas, mata hitam itu terbelalak kaget. Menyadari kekagetan Sai, Naruto pun menjilat bibir Sai dan mengigitnya perlahan. Sai hampir berteriak kesakitan, namun ditahannya saat lidah Naruto menyusuri mulutnya.
Seakan mengerti dengan 'undangan' Naruto, Sai ikut dalam ciuman dalam itu. Ia pun menjilat lidah Naruto yang mulai balik menjilat lidahnya. Terdengar desah nafas Naruto yang meminta untuk mengambil nafas sebentar, namun Sai hiraukan. Sai makin memperdalam ciumannya dan menyentuh rambut blonde halus yang selama ini menjadi impiannya.
Mengetahui limit nafasnya makin sedikit, Naruto pun mendorong tubuh Sai pelan. Nafas mereka berdua tak beraturan. Naruto menghirup nafas dalam-dalam dan menjilat daun telinga Sai sambil berbisik sensual,
"Lanjutkan, Sai…"
Sai tersenyum dari balik pundak Naruto dan mendorong tubuh Naruto ke kasurnya.
~Yaoi part- beginning~
Naruto tertawa kecil saat Sai menjilat leher tan-nya. Ia merasa geli di bagian leher itu. Tawanya terhenti dan berganti dengan desahan saat Sai mulai menggigit lehernya, menandakan Naruto adalah miliknya.
Merasa tak mau kalah, Naruto pun mengigit leher pucat Sai. Cukup untuk meninggalkan bekas gigitan merah di leher pucat itu. Naruto membuka kedua kakinya untuk menyamankan posisi mereka. Dengan posesif, Naruto melingkarkan kedua lengannya di sekitar leher Sai sambil mendesah pelan saat Sai menggesekkan teritorial sensitif miliknya.
Sai, dengan cepat, melepaskan kemeja putih yang sudah terbuka itu dari tubuh Naruto. Memperlihatkan tubuh yang berotot namun terlihat lembut di matanya. Tak sampai di situ, Sai membuka celana hitam dan celana dalam Naruto sekaligus lalu melemparkannya ke sebelah kirinya. Secara tak sadar, Sai mengagumi tubuh indah milik Naruto yang selama ini tak terlihat olehnya.
Merasa tidak adil hanya dirinya yang telanjang bulat, Naruto langsung membuka kancing kemeja dan celana bahan Sai dan membukanya hampir bersamaan. Melihat kejantanan Sai menyembul dari balik celana dalam itu, Naruto menyeringai. Ia menyentuh bagian sensitif itu dan menggigitnya pelan.
"Aah..." Sai mendesah pelan sambil mengusap rambut blonde Naruto. Naruto makin menyeringai saat mendengar desahan penuh kenikmatan itu. Dimainkannya bagian yang tertutupi celana dalam itu sambil kadang menjilat perut six-pack Sai.
Sai tidak tahan lagi dengan permainan –kejam- Naruto. Ia menghempaskan tubuh Naruto ke arah kasur lagi dan menaikkan kedua kaki ramping Naruto di pundaknya. Ia, dengan senyuman, memegang kejantanan Naruto di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya menyentuh nipple merah muda Naruto yang mulai terasa keras. Naruto mengangkat wajahnya sambil mendesah. Pinggangnya sedikit terangkat saat Sai menaik-turunkan tangan kanannya.
"Sa…Sai- Aah!" desah Naruto makin tak terkendali. Ia merasakan tubuhnya semakin terasa sensitif setiap sentuhan Sai. Matanya makin melebar saat gua hangat menyelimuti kejantanannya. Mata hitam Sai tetap lurus menatap Naruto. Membuat wajah Naruto makin memerah. Sai menggerakkan kepalanya seiring dengan desahan Naruto yang bagaikan lagu di telinganya. Tangan Naruto menjambak rambut hitam Sai.
"Ukh… He… hentikan, Sai. A… aku akan datang..." pinta Naruto yang berlawanan dengan gerak tubuhnya. Sai justru mempercepat gerakannya dan melingkari anus Naruto dengan main-main.
"Sa…Sai!" Naruto seakan melihat bintang putih di matanya. Sai melepas kejantanan Naruto dan mengusap cairan yang mengalir di dagunya dengan punggung tangannya. Ia merayap naik dan mencium bibir Naruto. Naruto, mau tidak mau, 'merasakan' cairan miliknya yang tersisa di mulut Sai.
Setelah nafas Naruto mulai terkendali, Naruto pun mencium lagi bibir pucat Sai. Sai tidur telentang di kasur dengan Naruto di atasnya. Sai menyuruh Naruto untuk berbalik menghadap ke arah selatan tubuhnya. Naruto menganguk pelan. Ia berbalik dan menghadap kejantanan Sai yang mulai terbangun. Tiba-tiba skrotum Naruto terasa hangat. Naruto menatap dari pundaknya untuk melihat Sai yang mulai menjilat skrotum dan anusnya secara sensual.
Ia mendesah lagi saat jari Sai mulai memasuki teritorialnya. Mencoba untuk bertahan, Naruto menjilat penis Sai dan menggigitnya. Terdengar desahan samar dari arah Sai. Naruto mengulum kejantanan Sai itu sambil menyentuh skrotum Sai. Dua, tiga jari masuk ke dalam Naruto. Naruto menggeliat pelan dan bergerak menjauhi jari itu. Namun, pinggang Naruto ditahan Sai sehingga ia tak bisa bergerak leluasa.
Tak lama, kejantanan Sai mulai mengeras dan mengeluarkan cairan sperma di dalam mulut Naruto. Naruto hampir tersedak cairan itu saat Sai menemukan spot manis di teritorialnya. Merasa menemukan apa yang dicarinya, Sai menyeringai.
Sai bangun dari posisinya dan menempatkan tubuhnya di belakang Naruto. Dengan kejantanannya berada di dekat anus Naruto. Sai meminta ijin pada Naruto yang dibalas dengan angukan kecil. Sai menghela nafas sekali dan mulai memasukkannya di dalam tubuh Naruto.
Tubuh Naruto terasa bergetar di bawahnya. Dijilatnya tulang belakang Naruto hingga ke leher Naruto untuk merilekskan tubuh yang tertahan itu.
"Shh, Naruto. Rileks..." ucapnya menenangkan di tengah-tengah nafasnya yang berat. Saat tubuh Naruto mulai terasa rileks, Sai pun bergerak. Terdengar erangan yang keluar dari bibir Naruto.
"Naruto..."
"Hmm... mmh..." Naruto mendesah saat ia merasa kenikmatan yang bercampur dengan kesakitan.
Gerakan Sai makin dipercepat saat Naruto berteriak memanggil namanya. Tentu, ia menemukan kembali spot yang tadi ia temui. Tak berapa lama, Naruto pun menggerakan tubuhnya berlawanan dengan Sai. Menyamakan irama mereka berdua di dalam teritorial Naruto.
"Sa…Sai!" Tubuh Naruto kembali menegang. Sai pun merasa ia akan datang sebentar lagi.
Dengan satu hentakan, Sai mengeluarkan cairannya di dalam tubuh Naruto. Naruto pun datang tak berapa lama kemudian, mengotori perutnya dan kasur Sai.
"Sai…" desah Naruto sambil terjatuh di atas kasur. Sai yang masih berada di dalam Naruto pun ikut terjatuh di atas tubuh Naruto.
"Aku mencintaimu, Naruto..." ujar Sai sambil mencium tengkuk leher Naruto.
"Aku juga, Sai..." Sai pun mengeluarkan kejantanannya, yang membuat Naruto mengerang, dan tidur telentang di sebelah Naruto.
~Yaoi part-end~
"Fuh… Bagaimana dengan lukisanmu, hei, Sai-sensei?" goda Naruto sambil mendekati kehangatan tubuh Sai. Sai menyeringai kecil.
"Itu bisa diatur…" jawabnya sambil melingkarkan tangannya di pundak Naruto membuat Naruto menggeliat pelan dan tertidur di atas pundaknya.
Sai menghela nafas lalu menatap langit-langit kamarnya. Ia tak menyangka, ia akan bercinta dengan Naruto. Kalau ia tak salah ingat, sebulan yang lalu, Naruto pernah mengatakan mengenai orang yang ia cintai yang meninggalkannya dulu. Bukan Sakura, melainkan pemuda yang mirip dengannya. Tangan Sai menggenggam kuat pundak Naruto saat mengingat wajah Naruto saat itu. Begitu sedih dan tersakiti.
Setelah mendinginkan tubuhnya, Sai pun melepaskan dekapannya dari tubuh Naruto dan bangun secara pelan-pelan. Saat kakinya menyentuh lantai kamarnya, ia mendengar Naruto menggumamkan sesuatu.
Ia pun berbalik menatap Naruto yang menggeliat kecil dan meringkukkan tubuhnya. Didekatinya wajah Naruto dan diarahkannya bibir pucat itu ke bibir Naruto, tepat sebelum Naruto menggumam lagi.
"Sa…suke…"
Seketika, hati Sai mencelos. Ia menunduk pelan dan bangun dari kasurnya dalam diam. Ia pun melangkah ke arah kamar mandi. Saat Sai sampai di depan pintu kamar mandi, Sai pun menggumam pelan dengan wajah yang tertutupi rambutnya.
"Maaf— Naruto…"
X
Naruto terbangun saat angin dingin menusuk-nusuk tubuhnya yang tak berpakaian. Ia mengerjapkan matanya berulang kali untuk memfokuskan pandangan matanya. Ia menatap sekeliling, mencari keberadaan Sai. Dilihatnya pintu beranda yang terbuka.
Setelah ia memakai pakaiannya yang berserakan di dekat kaki tempat tidur, Naruto melangkahkan kakinya ke beranda. Di sanalah, Sai duduk di pagar besi yang setinggi perut Naruto. Menyadari keberadaan Naruto, Sai menoleh ke arah Naruto lalu tersenyum.
"Ah, aku membangunkanmu, ya?" tanyanya lembut. Naruto menggeleng pelan lalu berjalan ke arah Sai. Ia memandang matahari yang terbit di ufuk timur. Angin dingin yang membangunkannya kembali menusuk-nusuk tubuhnya. Ia menggigil sedikit lalu memandang Sai yang menatap langit kelabu.
"Ada apa, Sai?" ujar Naruto sambil mengusap-usapkan tangannya, mencoba meraih kehangatan dari tangannya sendiri.
"Tidak. Hanya saja… eum… tidak, tidak apa-apa..." ucapnya tidak jelas. Sai mengangkat kedua tangan Naruto lalu menyentuhkannya ke pipi pucatnya. Tak disangka pipi pucat Sai terasa hangat di tangan Naruto.
"...kalau kau ada masalah, katakan saja..."
"Tidak. Aku hanya ragu untuk mengatakannya..." Sai menghela nafas. Naruto menaikkan alisnya.
"Mengatakan apa...?" tanya Naruto sambil memiringkan kepalanya.
Sai melepas tangan Naruto lalu memasukkan tangannya ke saku jaketnya. Dikeluarkannya cincin yang terbuat dari bunga, yang dilingkarkan lalu diikat rapi, sambil tersenyum. Mata biru Naruto membesar.
"Apakah kau mau menikah denganku, Namikaze Naruto?"
Naruto tertegun. Setengah hatinya bahagia saat mendengar lamaran itu, namun, entah sebab apa, setengah hatinya terasa sakit. Ia hanya bisa memandang cincin bunga berwarna kuning di tangan Sai.
Keduanya terdiam. Menyadari keraguan di wajah Naruto, Sai pun menurunkan tangannya. Lagi-lagi, ia tersenyum. Dari sudut mata Naruto, terlihat kekecewaan di mata hitamnya.
"Ah, sepertinya aku terburu-buru, ya? Maaf, aku— tak akan menyinggung masalah ini lagi..." Sai mengarahkan tangannya ke dekat pagar beranda untuk membuang cincin bunga itu.
Tiba-tiba cincin bunga itu direbut Naruto lalu dipakainya di jari manis miliknya. Sai terlihat kaget saat Naruto menunjukkan cincin bunga yang kini tersemat di jari manis Naruto.
"Tadi— aku hanya kaget… bu— bukannya aku menolaknya…" gumamnya terbata-bata sambil menatap wajah Sai. Sai kembali tersenyum –yang bagi Naruto saat itu adalah senyum palsu-.
"Iya. Terima kasih…" ujarnya pelan sambil mengusap-usap rambut blonde Naruto. Sai pun turun dari pagar lalu pergi ke arah pintu berada.
"Ka…kau mau kemana?" seru Naruto panik.
"Hanya menyiapkan sarapan, kok. Kalau sudah selesai, aku akan memanggilmu..." ujar Sai sambil berlalu, meninggalkan Naruto di beranda sendirian.
Naruto menunduk.
'Bodohnya aku. Kenapa aku harus kaget dengan lamarannya? Bukankah ini yang paling kutunggu selama ini?' batinnya. Ia pun mendudukkan dirinya di lantai beranda sambil menatap awan kelabu yang mulai berpencar dan memperlihatkan langit biru di matanya.
Naruto menutup kedua matanya sambil tersenyum kecut.
'Mungkin— karena aku berharap yang mengatakannya adalah malaikat itu…' Naruto menghela nafas panjang.
"Tidak… aku tak boleh seperti ini terus…" Naruto memandang cincin bunga di jari manisnya. Ia pun tersenyum lembut lalu mengecup cincin bunga itu.
"Aku harus mencintai Sai sepenuh hatiku…"
X
Malam itu, Sai meminta Naruto untuk menjadi modelnya lagi –karena lukisannya kemarin terhenti karena 'kegiatan' mereka tadi malam-, yang tentu diterima Naruto dengan senang hati. Setidaknya, Naruto ingin meminta maaf atas sikapnya tadi pagi kepada Sai. Naruto pun diminta Sai untuk berpose seperti tadi malam. Naruto mengikuti permintaan Sai dan duduk di tempat tidur.
"Eum, Sai?" panggil Naruto.
"Ya?"
"Aku— mencintaimu, Sai…" ucap Naruto saat melihat Sai menyembul dari kanvasnya. Sai tersenyum dari balik kanvas saat mendengar pernyataan Naruto.
"Aku juga, Naruto," jawab Sai dengan nada yang ringan sambil menggoreskan kuasnya di kanvas. Alis Naruto mengerut.
"Aku benar-benar mencintaimu! Yang tadi pagi itu… aku minta maaf. Tapi aku bahagia dengan lamara—"
"Tidak apa-apa, Naruto… Aku tahu. Kau pasti tak bisa— bukan, sulit menerimaku karena kau selalu mengingat dia, kan?" ucap Sai sambil menaruh beberapa warna cat minyak di palet.
"Kalau benar begitu, lalu kenapa aku mau tidur denganmu?" tandas Naruto kesal walau hatinya terasa sakit saat mengingat orang itu.
"Hm, mungkin karena... terbawa keadaan?" jawab Sai sambil mencampurkan warna cinnamon dengan hitam.
"Jadi maksudmu aku ini murahan, begitu?" geram Naruto.
"Bukan begitu, Naru—"
"Kalau begitu akan kubuktikan kalau aku mencintaimu. Bukan karena 'terbawa keadaan' seperti katamu…" potong Naruto sambil membuka kancing celananya. Sai menghela nafas pelan lalu meletakkan palet dan kuas di dekat easel.
"Tidak… aku tidak akan melakukannya. Sekarang kau sedang bingung, Naruto. Jangan memaksakan dirimu…" jelas Sai sambil berjalan ke arah Naruto. Ia pun berlutut di depan Naruto dan mengancingkan celana hitam Naruto itu.
"TIDAK!" Naruto menampar tangan Sai yang berada di kemejanya. Sai mendongakkan kepalanya. Ia melihat wajah Naruto yang sangat frustasi.
"Naruto..." bisik Sai sambil menatap Naruto. Tubuh Naruto terasa bergetar.
"A... aku— mohon, Sai. Buat aku melupakannya... buat aku menghilangkan segala ingatan tentangnya— kumohon..." Naruto pun menarik tubuh Sai hingga Sai berada di atas tubuhnya. Naruto membelai lembut pipi pucat Sai sambil tersenyum sedih.
Pantaskah ia mendapat cinta Sai?
Dilemparkannya kemeja hitam Sai lalu dikecupnya dada bidang itu. Sai menghela nafas pelan lalu mencium bibir Naruto lembut. Naruto memiringkan kepalanya lalu membuka mulutnya, mempersilahkan lidah Sai menyusuri mulutnya.
Apakah ia bisa melupakan malaikat itu?
Naruto mengerang pelan saat Sai mencium kejantanannya. Ia sedikit menjambak rambut hitam yang lurus itu saat Sai mengulum dan menggigit pelan penis-nya. Naruto mendesah sambil menutup kedua matanya, menikmati perlakuan Sai terhadapnya.
Melupakan Uchiha Sasuke…
"Naruto…" Panggilan itu menyadarkan Naruto dari lamunannya.
Mata biru itu terbuka untuk menatap wajah Sai. Naruto bingung dengan berhentinya gerakan Sai.
"Tatap wajahku… Setidaknya, saat ini, kau akan melihatku seorang. Bukan bayangan dirinya…"
Naruto menganguk pelan sambil tersenyum pahit. Ia pun meraih Sai dan mencium bibirnya.
Aku harus melupakan Sasuke.
Malam itu, saat mereka bercinta, Naruto selalu memandang mata hitam legam Sai. Mata yang memancarkan cinta dan nafsu hanya kepada dirinya. Naruto mengerang saat Sai mulai masuk ke dalam dirinya. Ia mengeratkan tangannya di leher Sai. Berkali-kali ia memanggil nama Sai yang dibalas dengan desahan pelan dari Sai.
Aku harus melupakan segala masa lalu tentangnya.
Air mata pun mengalir di pipi Naruto saat mereka berejakulasi hampir bersamaan.
Untuk selamanya.
X
Aku selalu bahagia saat bersama Sai.
Sai adalah figur sahabat, kekasih, dan saudara yang sempurna bagiku.
Lalu kenapa hatiku masih ragu saat menerima cintanya yang tulus?
X
"Kau mau makan apa, Naruto?"
"Eum… Ramen!"
Sai terkekeh kecil saat mendengar jawaban kekanakan Naruto. Ia pun mengusap-usap rambut blonde Naruto lalu mengambil jaketnya.
"Baiklah. Aku pergi dulu. Jaga rumah baik-baik ya, Naruto…"
"Roger!" Sai membuka pintu lalu menutupnya pelan. Naruto pun berlalu ke arah ruang kerja Sai, tepatnya ruang penyimpanan lukisan miliknya.
Naruto berkeliling untuk melihat hasil karya kekasihnya itu, yang kebanyakan adalah hasil lukisan dirinya. Terkadang, Naruto suka tertawa saat melihat potret dirinya di lukisan itu.
'Tak seperti diriku,' ujar Naruto saat melihat lukisan Sai yang tentunya dibalas lembut oleh Sai,
'Gambaran tentang dirimu di mataku itu seperti ini, Naruto...'
Tentu saja, tak lebih dari semenit, pipi Naruto bersemu merah. Ia pun dengan telak memukul kepala Sai untuk menahan malunya.
Ia tahu, seberapa besar Sai mencintai dirinya. Ia tipe orang yang setia, Naruto tahu itu. Tapi itulah yang membuat Naruto salah tingkah, saat ia kadang merasa cemburu saat Sai sedang berbincang hangat dengan asistennya, Yamanaka Ino. Tak disangka, Ino, anak tunggal dari keluarga Yamanaka yang menguasai Jerman, Paris dan Jepang di komoditas perdagangan, adalah sahabat jauh Sakura. Awalnya Ino kaget dengan kehadiran Naruto sebagai model lukisan. Namun setelah beberapa bulan, ia pun mengerti dengan hubungan khusus antara Naruto dan Sai. Ino pun tak ingin Naruto larut dalam kesedihannya atas kematian Sakura.
"Waah! Ini kan lukisan aku yang sedang tidur!" seru Naruto saat melihat lukisan dirinya yang tertidur pulas sambil memeluk bantal. Entah kapan Sai melukis itu, tapi yang pasti, terlihat bahwa Sai melukis dirinya dengan penuh cinta. Ia tersenyum saat melihat lukisan itu.
Naruto menaruh lukisan itu di tempat semula lalu melihat lukisan Sai yang lain. Banyak lukisan dirinya dalam berbagai pose. Ia yang sedang duduk di kursi meja makan, ia yang sedang memakan ramen, ia yang sedang tersenyum, dan berbagai pose lainnya. Tentu, Naruto sendiri tidak sadar dirinya sedang dilukis oleh Sai –mungkin karena Sai menyuruhnya bergerak seperti biasa-.
Lalu, Naruto melihat sebuah lukisan yang ditutupi kain putih di sudut ruangan. Penasaran, Naruto pun berjalan ke arah lukisan itu berada dan membuka kain putih itu secara perlahan.
Nafas Naruto pun tercekat.
Lukisan itu adalah lukisan dirinya yang sempat terhenti karena malam pertama mereka.
Dirinya yang tidur telentang di kasur putih milik Sai dengan satu tangan yang menahan tubuhnya. Mata birunya yang terlihat gelap itu lurus menatap ke depan, mungkin ke Sai untuk lebih tepatnya. Kancing kemeja putih yang terbuka seluruhnya, menampilkan sedikit tubuh tan-nya yang terlihat mengundang.
Naruto tak berani menatap lama-lama lukisan dirinya itu. Entah mengapa ia sendiri malu dengan lukisan dirinya yang begitu mengundang seperti itu. Saat menutup lukisan itu dengan kain putih, mata biru Naruto mengerling ke arah judul lukisan yang berada di bawah kanvas.
'The Lover'
Mata Naruto membesar. Bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat judul lukisan itu. Senyum tulus yang dulu ia berikan kepada Sakura. Senyum penuh cinta.
Ia pun menghela nafas pelan lalu menutup mata birunya.
"Sai…" ucapnya tanpa sadar sambil menyentuh lukisan di depannya itu.
"Ya?"
Reflek, mata Naruto langsung terbuka dan menatap Sai yang sekarang berada di dekat pintu ruang kerjanya. Seketika wajah Naruto langsung bersemu merah. Mata hitam Sai menatap ke lukisan di dekat Naruto. Sai pun tersenyum lembut. Ia berjalan ke arah kekasihnya itu.
"Kau melihatnya, ya?" tanyanya sambil membuka kain putih itu. Membuat Naruto memalingkan wajahnya dari lukisan itu.
"I…iya," jawab Naruto pelan.
"Kau malu?"
"Te—tentu saja! Ka... kau! Sejak kapan aku terlihat seperti model porno?" teriak Naruto dengan semu merah yang tak hilang di wajahnya. Sai terkekeh.
"Kau bukan model porno, Naruto. Tapi, auramu yang membuat lukisan ini menjadi seperti ini…"
"A…aura?"
"Cinta dan nafsu. Dua hal itu yang membuat lukisan ini terkesan begitu menggoda."
"Menggo— ukh, terserah kaulah…" gumam Naruto karena kehabisan kata-kata. Sai kembali tertawa.
Mata biru Naruto kembali melirik Sai.
"Sai?"
"Hm?"
"Kau akan tetap bersamaku, kan?" Sai tertegun mendengar pertanyaan itu. Naruto menyentuh tangan Sai lalu mendekapnya di dadanya.
"Kau… tidak akan meninggalkanku, kan?" tanyanya lagi. Sai menutup matanya sambil mengeratkan tangannya di dekapan Naruto.
"Tidak… aku tidak akan meninggalkanmu— selamanya," janji Sai yang bergema di hati Naruto.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata hitam yang berkilat merah menatap mereka dengan penuh kebencian dari kejauhan.
X
The pieces of the past that linked us
After removing them all
As though mourning would repent us
Let me plunge in and drown inside you
X
"Aku pergi dulu sebentar ya, Naruto." Sai tersenyum lembut sambil merapikan kemeja hitamnya. Ia pun berbalik dan menuruni tangga.
"Iya! Hati-hati!" Naruto menutup pintu lalu berjalan ke arah ruang keluarga. Ia menatap cincin bunga yang ada di jari manisnya. Ia pun tersenyum senang.
Saat ia mau meraih apel di meja makan, tiba-tiba bunyi keras terdengar dari arah kamar tidur Naruto dan Sai. Bunyi keras itu membuat jantung Naruto terlonjak kaget.
'Perampok...? Lebih dari satu orang—kah?' pikir Naruto sambil meneguk air ludahnya.
Ia pun meraih pisau di meja makan untuk berjaga-jaga. Ia mengatur nafasnya perlahan lalu menenangkan pikirannya. Secara perlahan ia berjalan menuju ke arah kamar tidur. Langkahnya sebisa mungkin, ia buat tidak menimbulkan suara.
Sesampainya di depan pintu kamar tidur, Naruto pun menaruh tangan kirinya di kenop pintu. Setelah menghela nafas panjang, ia langsung membuka pintu dan berteriak keras,
"Siapa kalian?"
Mata birunya terbelalak.
Di dekat tempat tidurnya, terlihat sesosok malaikat berambut hitam berambut panjang yang berdiri dengan mata penuh kebencian. Wajah malaikat itu mirip dengan malaikat yang dulu ia kenal.
"Sa...suke...?" ucap Naruto tak sadar. Malaikat itu mengerling tajam ke arah Naruto.
Di tangan malaikat itu tergenggam pistol silver laras pendek yang mulai mengarah kepada Naruto. Mata Naruto membesar ketakutan.
'Bukan! Ia bukan Sasuke!' pikir Naruto panik.
Naruto langsung berbalik dan berlari ke arah pintu keluar. Ketakutan menyelimuti dirinya. Ia langsung berbelok saat menemui ruang keluarga dan berlari menuju pintu keluar.
Sekelebat sayap putih menutupi pandangannya dalam sekejap. Naruto berteriak ketakutan. Dihujamkannya pisau yang tergenggam di tangannya menuju jantung malaikat itu.
Malaikat itu sama sekali tak bergeming.
Darah sama sekali tak keluar dari dadanya. Malaikat itu tetap menatap Naruto penuh kebencian. Malaikat itu menggenggam tangan kiri Naruto. Dilihatnya cincin bunga yang tersemat di jari manis Naruto.
"Baka otouto..." gumamnya geram sambil menatap kembali Naruto yang berekspresi horor.
"Kau... pendosa sepertimu... bisa-bisanya kau bisa memanipulasi adikku..." Malaikat itu menodongkan pistol itu tepat di jantung Naruto.
"He—hentikan! Lepas! Lepaskan aku!" teriak Naruto panik.
Ia tidak mau mati.
Ia tidak mau mati tanpa Sai di sampingnya. Tanpa orang yang dikasihinya.
"Pendosa terkutuk sepertimu… lebih baik mati…" Malaikat itu menyentuh tokalev sambil menggeram penuh amarah. Naruto makin meronta-ronta di tangan malaikat itu.
"TIDAK! TIDAK! LEPASKAN AKU, BRENGSEK!"
DOR!
Satu tembakan tepat mengenai jantung Naruto.
Otaknya mulai berhenti bekerja. Tubuhnya tak dapat lagi ia kendalikan. Pandangan matanya kabur. Sesaat sebelum terjatuh, ia melihat wajah malaikat yang membunuhnya itu. Wajah yang begitu mirip dengan malaikat yang dulu merebut hatinya.
Tubuhnya tergolek lemah di lantai kayu. Darah membasahi kemeja hitam kesukaannya.
Sebelum ia menutup mata dan menghembuskan nafas terakhirnya, ia tersenyum lemah dan berpikir,
'Mungkin ini adalah takdirku…'
X
Sesampainya di depan gerbang kediamannya, Sai langsung menatap pintu rumahnya. Sekilas ia tersenyum geli sambil memandang belanjaannya, empat cup ramen untuk Naruto. Tak akan dilewatkannya tawa bodoh dari kekasihnya itu.
Sai pun berjalan menuju tangga marmer tepat lima meter di depannya. Merasa dingin, Sai pun memasukkan tangannya yang tidak menggenggam belanjaan di saku jaketnya. Saat kaki Sai menyentuh anak tangga pertama ia melihat sehelai sayap putih di dekat kakinya. Ia meraih sayap putih itu dan menatapnya.
Sehelai sayap yang lebih besar dari sayap burung dan begitu putih. Sayap…
Mata Sai pun membesar ketakutan. Ia langsung melempar sayap putih itu dan kantong belanjaannya ke arah kirinya. Ia meloncati dua atau tiga anak tangga sekaligus. Nafasnya tak beraturan karena panik. Begitu sampai di depan pintu kediamannya, ia langsung membukanya dengan kasar.
Mata hitamnya membesar dan nafasnya tercekat.
"Naruto!"
Ia langsung berlari ke arah Naruto yang tergolek lemah dengan noda darah di sekitarnya. Ia pun memeriksa denyut nadi kekasihnya itu. Berlawanan dengan keinginannya, di nadi Naruto sama sekali tak ada denyut. Tubuh Naruto memucat dan terasa dingin. Darah mengalir di mulutnya.
Senyum ceria yang biasanya ia lihat saat ia datang kini berganti dengan senyum lemah.
Mata biru cerahnya yang biasanya menatapnya hangat kini berganti dengan pandangan kosong di balik matanya yang tertutup.
My dear, lying cold
"Na… Naru…" ujarnya tegar sambil menyentuh pipi pucat Naruto. Ia membelai dengan penuh kelembutan, berharap Naruto akan membuka matanya dan tersenyum jahil.
I will spend all my life for you as I swore on that day.
"Naruto— kumohon bangunlah…" ujar Sai pelan sambil menggerak-gerakkan tubuh itu pelan. Air mata hangat mengalir di pipinya dan jatuh di pipi pucat Naruto.
My sin against God...
Pemuda berambut hitam itu pun menutup matanya dan membukanya lagi secara perlahan. Air matanya mengalir di pipi pucatnya. Ia pun menunduk hingga sejajar dengan wajah Naruto.
All my acts of treachery should be paid by my death,
Dengan penuh kasih, diciumnya kekasih abadinya itu. Merasakan dingin kematian Naruto di bibirnya. Tak ada lagi kehangatan di tubuh Naruto. Tak ada lagi senyuman di wajah Naruto.
Tapi…
Itu tak akan terjadi jika ia melakukan pertukaran yang terlarang ini.
so I will die for you...
Detak jantung dan nadi Naruto mulai berdenyut lagi. Otaknya mulai bekerja kembali. Seluruh tubuhnya kembali menghangat seperti sedia kala. Mata biru itu pun terbuka perlahan. Menatap wajah seseorang yang ia cintai saat dulu.
Uchiha Sasuke.
Mata biru itu pun membesar. Ia mencoba memfokuskan kembali matanya. Ia takut jika ia salah mengenali Sai dengan malaikat i—
"Tetaplah hidup, Dobe..." lirih Sasuke sambil tersenyum sedih. Air mata kembali jatuh di pipi pucat Sasuke, malaikat yang kini tak bersayap dan memakai kemeja hitam milik seorang pemuda misterius, Sai.
Seketika, Naruto sadar dengan apa yang terjadi. Sai bukanlah pemuda yang hilang ingatan. Sai bukanlah pemuda yang tak mengetahui masa lalu Naruto.
Sai adalah…
"Sa… su… ke…"
"Aku mencintaimu, Naruto..." Sasuke tersenyum penuh kasih.
Bersamaan dengan kata-kata itu, malaikat tak bersayap itu pun...
"Sasu—"
...menghilang.
Mata biru Naruto membesar ketakutan. Apa yang ada di hadapannya saat ini hanyalah sehelai sayap hitam pekat yang terjatuh di kedua tangannya. Ia menatap sayap itu dengan pandangan horor.
"Tidak..."
Selama ini yang berada di sampingnya adalah Sasuke.
"Tidak mungkin..."
Orang yang mencintainya sepenuh hati hanyalah Sasuke.
"Tidak…"
Orang yang bersedia menyerahkan jiwa kepada dirinya hanyalah Sasuke.
"TIDAK!"
Naruto berteriak kencang hingga suaranya serak. Ia menyesali segala kebodohannya. Ia menyesali ketidakberdayaannya.
Mengapa dia yang hidup?
Mengapa Sasuke menitipkan jiwanya kepada dirinya?
Bukankah yang lebih pantas hidup adalah Sasuke?
'Pendosa terkutuk sepertimu lebih baik mati…'
Kata-kata malaikat yang membunuhnya kembali tersirat di otaknya.
Benar juga…
Ialah yang pantas mati. Bukan Sasuke. Tapi kenapa Sasuke dengan kejamnya menyuruhnya hidup?
'Aku mencintaimu, Naruto…'
Mata biru yang menyiratkan kesedihan itu pun menatap pintu kediamannya yang terbuka lebar. Ia tidak bisa berpikir dengan jelas. Otaknya menyuruhnya untuk mengakhiri hidupnya, namun ingatannya menyuruhnya untuk hidup.
Mengapa ia harus tetap hidup jika semua orang yang ia cintai sudah meninggalkannya?
Ia pun mencoba berdiri. Tubuhnya bergetar hebat. Isak tangis terdengar pilu di telinganya. Dilewatinya genangan darah miliknya yang berwarna merah pekat. Di tangannya tergenggam erat sehelai sayap hitam, peninggalan terakhir Sasuke untuk dirinya.
Ia pun menatap salju pertama yang turun dari langit. Mata birunya yang tak lagi cerah itu menyusuri langit kelabu. Sama dengan warna hatinya saat ini.
Ia menangis lagi dalam diam. Tenggorokannya terasa sakit. Tubuhnya bergetar, entah karena dingin atau karena kesedihan hatinya. Kakinya menyuruhnya untuk duduk. Namun semua itu ia hiraukan. Ia berjalan lagi menuju halaman luas di rumah miliknya dengan Sasuke.
Rumah yang dulu ia tempati bersama Sasuke. Rumah yang menjadi saksi bisu saat paling bahagia bersama orang yang ia cintai dan saat kematian orang yang ia cintai.
Salju mulai turun lebih banyak lagi. Menyentuh kulitnya yang terasa hangat. Ia membuka mulutnya perlahan sambil menahan tangis.
Malaikat tak bersayap yang jatuh ke dunia.
"Tuhan..." ujarnya serak.
"Aku tahu aku ini pendosa yang terkutuk..." Air mata menyusuri pipinya.
"Aku tahu aku tak boleh memohon apapun lagi kepada-Mu..."
Terbebas dari kontrak iblis yang mengikatnya.
Ia terisak beberapa kali sebelum mengangkat kedua tangannya ke arah langit.
"Tapi kumohon. Aku mohon... Tuhan..."
Dengan sebagai ganti pertukaran jiwanya.
"Aku mohon... untuk sekali ini saja..."
Menyisakan sehelai sayap hitam.
Pemuda blonde itu pun tersenyum.
"Sesaat sebelum neraka menjemputku nanti…"
Ia menyelamatkan nyawa pemuda yang dicintainya.
"...izinkanlah aku melihatnya— untuk terakhir kalinya..."
Dan ia pun menghilang…
X
秘蜜〜黒の誓い〜
-Owari-
X
Kucing Cermin-yo's Note:
Bunuh saja saya! BUNUH! *dibom tabung gas lemon, eh, melon*
Tidak ada yang terkecoh, kan? Toh dari awal cerita saya bilang SasuNaru, bukan SaiNaru. Uekekekeke— /shot
FYI, Sai itu adalah Sasuke. Wujud manusia dari Sasuke. Sasuke mengganti wajah dan namanya karena, eh, karena dia takut kalau ia tetap dgn wujudnya sendiri, ia akan didamprat lagi ma Naruto. Naruto sendiri mau ber-ehem ma Sai karena ia melihat sosok Sasuke di Sai. Bukannya Naruto itu gampangan. Uhuk, uhuk... Jadi, kalau anda terganggu dengan lemon yg mengatas namakan Sai di atas, silahkan merubahnya menjadi Sasuke. W w w w w /cter
Lemonnya aneh tidak? Kalau iya, saya mau mengeditnya lagi. ;;A;; Saya merasa awkward dengan tulisan saya. =lllll= -orang yang biasanya baca yaoi lemon dalam bahasa Inggris. /pletak
Saya minta maaf sebesar-besarnya karena fic yang panjaaaaang, sad ending tapi epic phail, lemon aneh plus cerita gaje. _(;;A;;)_ hontou ni gomenasaaii.
Omake:
-Veil itu kerudung (apalah itu) transparan yang biasanya dipakai di kepala bride.
-Berlin Jüdischer Friedhof Weißensee(lidah kebelit waktu baca)itu beneran ada. Tapi yang bener ntu kuburan khusus kaum Yahudi di Jerman.
-Helgoland memang pulau wisata yang terkenal. Tapi kayaknya tidak mungkin bangun rumah di sono. Tapi ga tau juga sih. :P
-Palet itu tempat menaruh cat minyak. Easel itu semacam meja kecil untuk meletakkan palet. Refined linseed oil itu untuk cairan untuk mengencerkan cat minyak. Maaf, kalau cara melukis Sai rada salah. Saya tak terlalu mengerti dengan melukis-melukis. Melukis pernah sekali waktu SMP, buat nilai ujian praktek. Saya bisanya menggambar tradisional (pensil warna) dan modern (program SAI) saja, bukan melukis cat minyak tentunya. orz
Bai~ Bai~ Mata ato nee~ nya~! Shiawase na no yo~! #berguling
Review or flame please? 83
Special thanks for Red Ocean, hime, Matsuo Emi, rhie-chan no midori, Sinta namikaze, L-d'7th-angel, Ri-Ero-Fujo, Magna Evil, Aku no Saya, Kaito Akaito, Dark dobe, Uzumaki Winda, Assassin Cross, Urukaze touru, Uchiha Shira-nii, NaruEls, Misyel, winny, Saia anak smp, Arashi Chika, Hoshirin Hyuunma, Satsume Ookamito and you!
