update~
disclaimer dan warning ada di chapter 1, warning tambahan: chara death
sekarang akan ada POV
*time skip, lukas selalu mengajarkan cara bersopan santun di kamarnya, mathias tak pernah keluar dari kamarnya, sampai..*
(normal POV)
pagi itu adalah pagi yang tenang, sampai..
"lukas!" lukas membuka matanya perlahan lahan... dan dia menemukan sosok binatang yang berbulu lebat... di atasnya
"lukas! bangun! aku sudah siap untuk pelajaran hari ini!" katanya dengan riang
"... apa kau benar benar pangeran?" "hah?" mathias memiringkan kepalanya sedikit. "kau benar benar pangeran? sikap tidak sopanmu itu tidak menunujukkan bahwa kau seperti pangeran" lukas menjelaskan dengan panjang lebar "hei! aku ini pangeran! yang membenci peraturan... hehehe.." mathias menjulurkan lidahnya sedikit. "oke, apa yang ingin aku ajarkan padamu? hanya cara menaklukan anjing dan kucing?" tanya lukas sambil berjalan menuju tangga. "ya! sebelumnya lukas, aku lapar" "hm." lukas mengangguk tanda mengerti apa yang dikatakan mathias, segera lukas menuju dapur, mengambil ayam, panci, dan mengisinya dengan air. lalu dia menekan beberapa tombol untuk menyalakan kompor listriknya. "ternyata manusia itu makhluk yang bodoh ya.." mathias memperhatikan lukas "mau memasak saja tidak pakai kayu bakar...ah, bukan. bukan disitu letak kebodohannya... dia mau memasak tanpa api? ahahaha.. mathias melihat ke arah kompor listrik tersebut yang terletak di dekat jendela, sehingga panci tersebut terkena sinar matahari yang masuk lewat jendela. "ah... aku mengerti... pasti dia ingin memasak menggunakan sinar matahari... kucing itu makhluk yang lemah, ya.. kalah dengan makhluk sebodoh ini.. hihihi" lukas memperhatikan mathias yang dari tadi tersenyum, lukas pun memasukkan ayam ke dalam panci tersebut.. dalam 3 menit... "AIRNYA MENDIDIH TANPA API!" mathias berteriak karena kaget, padahal jendela sudah ditutup karena silau, tapi airnya bisa mendidih tanpa adanya api. mathias sangat kaget, tidak menyangka manusia yang dianggapnya bodoh itu dapat membuat barang yang sangat canggih, tidak heran kenapa kucing dan anjing bisa kalah dengannya. tak lama kemudian, telepon dari ponselnya lukas berdering. "ADA SIAPA DI SANA?! SIAPA ITU YANG BERNYANYIII!" lukas hanya memandang mathias dengan tatapan 'berisik', lalu mengangkat teleponnya. mathias yang dari tadi melihat lukas, hanya berkeringat dingin, karena menganggap lukas gila karena mengobrol dengan suatu alat yang dapat mengeluarkan lagu tanpa orang yang menyanyi. setelah selesai menelepon, lukas melihat mathias dengan aura marahnya, "duduk di sofa itu, jangan berisik. itu mengganggu." mathias langsung melompat pada sofa tersebut. "hey! ini sangat menakjubkan! kursinya sangatlah empuk!" mathias berputar putar di sofa tersebut sebelum tidur, sama seperti anjing lainnya, sampai tanpa sengaja ia menginjak remote tv, dan... "SIE SIND DAS ESSEN UND WIR SIND DIE JAGER" "HYAAAAAA! TOLOOOOOOOOOOOOONG!" mathias kaget mendengar suara tv yang sangat besar. "tch..." lukas segera menghampiri mathias yang ketakutan "hei... kau menyalakan tv di saat yang pas.. acara ini sudah kutunggu tunggu.." mathias hanya sembunyi di belakang sofa dengan badan yang bergetar hebat. "aah! ada orang yang tidak berkulit dari dunia lain terjebak di dalam kotak kaca!" mathias menunjuk karakter anime di dalam tv tersebut. "bodoh. itu hanya acara tv" mathias tidak mengerti, maka itu dia memutuskan untuk tidur di kasurnya lukas saja, dan tanpa sengaja ia menginjak ipad milik lukas... "hei? slide to unlock? menarik~ apa benar benar bisa disentuh? seperti komputer di duniaku~" mathias menggeser tombol kunci tersebut dengan susah payah karena jarinya terlalu besar. "uwaah! benar benar bisa disentuh!" mata mathias berbinar binar. "hey. apa yang kau lakukan?" ternyata lukas sudah berdiri di depan pitu kamarnya "oh~ ini! komputer ajaib yang bisa disentuh!" "... di duniamu ada komputer?" "ada! dengan windows yang terkenal itu!" "windows berapa?" mathias berpikir setelah mendengar pertanyaan lukas "98!" serunya bangga "..."
makanan mereka sudah siap. lukas mengeluarkan beberapa macaroon dari toples kuenya, dan memberikan mathias semangkuk pot au feu mathias langsung makan dengan lahap. "rasanya macaroon dengan pot au feu beda ya!" mathias tersenyum "walau aku tak tahu apa nama rasa tersebut." "manis untuk macaroon dan asin untuk pot au feu" mathias hanya ber 'oh' ria. "aku mau beli sesuatu." lukas mengambil dompet dan bersiap siap untuk pergi. "aku ikut!" lukas hanya menoleh kepada mathias, lalu pergi ke kamarnya, kembali dengan sebuah tali, dan menyambungkannya dengan kalungnya mathias "eeeh?" mathias menoleh ke arah tali tersebut "ini salah satu cara kami menaklukan kalian. kalian tidak boleh kabur, dan harus berjalan di samping kami." "dan kalau aku melawan atau kabur?" tanyanya "kau akan lihat nanti" semangat mathias semakin menjadi jadi setelah mendengar bahwa itu adalah salah satu cara untuk menaklukan mereka. menarik~ "oh ya... di sana, kau tak boleh berbicara, hanya menggonggong." mathias menggoyangkan ekornya dan menggonggong tanda mengerti. walau di mall, mathias banyak kagetnya karena melihat tangga berjalan, dan kamar yang bisa naik turun atau disaebut juga lift. juga melihat begitu banyak makanan yang ditaruh di rak rak, dan membiarkan semua orang mengambil makanan tersebut sepuasnya, dan membayarnya di kasir. pulangnya, mathias berjalan dengan antusias dan bercerita kepada lukas. "di sini keren sekali! makanan sebanyak itu hanya didapatkan di kerajaan!~ itupun hanya setengahnya!" seru mathias sambil berlari lari mendahului lukas. lukas yang merasa tak dipatuhi aturannya, langsung menarik tali jalan jalannya mathias, dan memukul mathias. tepat di pipinya
PLAK!
"aduh!" mathias hanya melihat lukas dengan tatapan heran "itulah cara mendisiplinkan dan menaklukan anjing" katanya singkat. mathias yang mendengarnya semakin penasaran "aku akan mencoba memukulmu juga!" dia mengayunkan telapak tangannya yang lembut ke kaki lukas. lukas hanya menatapnya dengan datar "apa yang terjadi? kau tidak merasa sakit?" mathias keheranan, lukas hanya menggelengkan kepalanya. hal itu membuat mathias bingung dan kecewa "aneh. padahal di duniaku, akulah yang memiliki pukulan terkuat..." sesampainya di rumah, mathias teringat akan perkataan ayahnya, segera ia pergi ke kamarnya lukas, menutup pintunya, dan mencoba sesuatu..
(lukas POV)
aku sedang diam di ruang tamu, dan melihat ada cahaya merah dan putih keluar dari kamarku. aku menatap datar cahaya tersebut, walau dalam hati aku merasa takut, penasaran, dan khawatir. sinar apakah itu? aku segera berlari ke kamar, dan membuka pintunya dengan cepat. mataku terbelalak saat melihat seorang pria, dengan rambut pirang, mata biru laut, dan ehemtelanjangehem dadanya bidang, dan membuatku merasa panas... jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. aku yakin pipiku sedikit merah. pria itu mengenakan kalung mathias, dan telinga anjing yang tertutup dengan rambutnya yang berdiri, ekor anjing yang berbulu tebal ada di belakangnya... tunggu... apa itu mathias? pria itu tersenyum hangan kepadaku, dan berjalan mendekatiku. aku merasakan pipiku semakin panas, aku melangkah mundur... senyuman hangatnya membuatku meleleh... tapi senyuman hangatnya tergantikan dengan senyuman iseng. aku cepat cepat memasang wajah datarku kembali. pipiku semakin memerah ketika melihat dia... berlari ke arahku?! dia mengayunkan tangannya dan memukul tanganku dengan keras "untuk apa itu?" kataku dengan aura marah, dan bisa aku rasakan ada troll di belakangku. pria itu langsung ketakutan. "a-aku hanya mengetes kekuatan manusia... aku mathias, lukas!" aku hanya menatapnya datar, dan berjalan ke kamarku, mencarikan baju yang pas untuknya di lemariku. "pakai ini." aku melemparkan satu set baju kepadanya. bisa kulihat dia sibuk mencari cara untuk memakainya... dengan akhir yang tak karuan. "lukaaaas ini tidaklah nyaman!" serunya, tentu saja. ia memakaikan pakaian dalam di kepala, celana di salah satu tangannya, aku hanya menatapnya datar, lalu membaritahu cara memakainya. aku sebal dengannya. ia tidak mempercayaiku sebagai teman baiknya untuk memberi tahuku semua rahasianya. aku menatapnya dengan kesal. "hei, lukas" aku menatapnya dengan tatapan datar kali ini. "terimakasih sudah mau mendaji sahabatku, dan mau mengajariku" dia tersenyum sepertinya aku mengidap penyakit aneh... di mana jantungku berdetak semakin kencang, dan pipiku memanas. aku segera memalingkan mukaku, tapi dia memegang daguku, dan menatapku, dia mengambil liontin dari kalungnya, dan memakaikannya pada kepalaku. ternyata liontin dari kalungnya adalah sebuah jepit. aku melihat diriku di kaca, rambutku... terlihat rapi... aku tersenyum kecil kepada kaca tersebut, dan segera berjalan menuju laci, aku menemukan sebuah topi kecil berwarna coklat, topi tersebut merupakan topi sahabatku yang sudah meninggal akibat umur manusia pada normalnya. ia adalah pangeran norwegia pada jaman dulu. aku tak akan melupakan pertemuanku dengannya
flashback
lukas sedang berjalan di suatu daerah terpencil di norwegia untuk mengecek keadaan. sampai suatu saat, dia bertemu dengan seorang anak kecil dengan topi kecil berwarna coklat, dan pakaian yang mewah. anak itu berjalan ke arahnya, "hei, siapa namamu?" anak itu bertanya dengan ramah. lukas sangat terkejut mendengarnya, pada jaman itu setiap negara dijauhi oleh orang orang, karena umurnya yang panjang itu membuat orang orang mengira bahwa para negara tersebut terkutuk. lukas hanya menundukkan kepalanya, dan menjawab dengan suara yang kecil "...lukas.." anak itu tersenyum, dan mengulurkan tangannya kepada lukas "kita teman ya?" katanya sambil tersenyum. lukas membalas senyumannya, dan mengangguk dengan cepat. mereka terus berteman selama pangeran tersebut masih hidup, hingga suatu saat, pangeran tersebut berumur 80 tahun, dia menyerahkan topi kecil tersebut kepada lukas, sambil tersenyum, dan minta tolong kepada lukas untuk menjaga topi tersebut, kalau bisa, berikan topi tersebut pada temanmu selanjutnya, dia tersenyum, dan tubuhnya sudah tak bernyawa. lukas yang dulunya ceria, mulai saat itu menyembunyikan ekspresinya, dan berwajah datar untuk seterusnya, walau ia memutuskan untuk tidak menjadi teman untuk manusia biasa, daripada dia mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya, ditinggalkan teman baiknya karena umur yang terbatas.
flashback off
aku segera memakaikan topi tersebut padanya, saat kulihat dirinya, aku sedikit terkejut. dia terlihat sangat mirip dengan temanku yang dulu. ingin rasanya aku memeluknya dengan erat, mengatakan bahwa dia adalah rekarnasi dari temanku dulu, tapi itu mustahil, karena dia hanyalah seekor anjing. tidak lebih. tak terasa, air mataku mulai mengalir, mathias terlihat terkejut melihatnya "lukas... kenapa menangis?" ia melihatku dengan tatapan khawatir. aku hanya menggelengkan kepalaku. memalukan rasanya menunjukkan padanya seperti apa aku ini sebenarnya. aku sangatlah rapuh, di balik mukaku yang datar dan tak peduli apapun ini, aku sangat kesepian, membutuhkan teman. tangisanku tak dapat ditahan lagi. lututku lemas dan aku terjatuh, aku menutupi mukaku dengan kedua tanganku, tak ingin ia melihat wajahku sekarang ini. kurasakan ada sesuatu yang hangat di tubuhku, aku menurunkan kedua tanganku, dan melihat mathias memelukku. "jangan tinggalkan aku.." kataku pelan. mathias langsung melepaskan pelukannya dan menatapku dengan tatapan yang tidak dapat kutebak, sepertinya tatapan tak suka, sedih, dan khawatir?
(mathias POV)
aku memandangnya terkejut. apa dia tahu apa yang kubicarakan semalam? aku pikir dia sudah tidur...
flashback on
aku sedang tidur, sampai ada telepati sampai kepadaku. aku baru ingat... ayah menyelipkan permata yang berfungsi untuk telepati pada kalungku. sangat kecil, bahkan aku tak menyadari di mana keberadaan permata tersebut sampai ada telepati.
"nak, apa kabarmu?"
"baik, ayah! manusia sangatlah keren!" aku bercerita dengan semangat, aku bisa mendengar ayah tertawa kecil, lalu suaranya menjadi kembali serius "nak, seminggu lagi... kau harus pulang untuk berperang" katanya dengan nada serius. aku terkejut, selama ini, tanpa diketahui lukas, aku sering sekali menonton acara bertarung, dan mendapat ilmu bagaimana cara manusia berperang. diam diam aku menirukan gayanya untuk bertarung, maka itu bisa dibiang sekarang ini aku sudah terlatih... aku menjawab pelan "ya ayah.." lalu mengakhiri percakapan tersebut
flashback off
aku tak berani menatap lukas lagi... sepertinya dia tahu dari tatapanku ini bahwa suatu saat nanti aku akan meninggalkannya... aku menghela nafas... dan tersenyum kepadanya. aku punya rencana "tidak akan lukas! sekalipun aku harus kembali ke duniaku, kau boleh ikut denganku!" aku tersenyum tulus dan menghapus air matanya. seketika aku melihat pemandangan yang tak pernah kulihat selama ini. lukas tersenyum lebar. menunjukkan sikap sebenarnya padaku. rasanya... aku bahagia... dan rasanya... aku... semakin menyukainya. kupeuk tubuhnya yang bergetar hebat karena menangis...
*time skip*
sudah waktunya aku meninggalkan dunia manusia yang hebat ini. aku sudah banyak dibuatnya terkejut~ mulai dari tv, sampai pesawat. lukas membuatku terkejut~ dia mengajakku jalan jalan dengan pesawat melewati kolam besar berarus tersebut yang mereka sebut dengan laut. sudah saatnya aku mengaktifkan kalungku untuk membuka portal ke duniaku. aku segera masuk bersama lukas. seperti biasa, kami berakhir jatuh dari awan. untuk orang normal, pertama kalinya jatuh dari ketinggian akan membuat orang berteriak ketakutan, tapi lukas hanya memasang wajah datar. aku tersenyum, merasakan rambutku tertiup angin, lalu aku melolong untuk memanggil beberapa penyihir yang bisa terbang menyelamatkan kami. sesampainya di istana, aku berlari kepara ayah. ayah... terlihat lebih kecil dengan tubuh manusiaku ini. aku menunduk di hadapan ayah, pelajaran sopan santun yang diajarkan lukas sangat berpengaruh di sini. ayah tersenyum bangga, dan melihat ke arah lukas. "dia lukas, majikanku selama di dunia manusia. dia juga sahabatku, dan aku tak bisa meninggalkan sahabat sendirian" jelasku tanpa ditanya. ayah mengangguk mengerti. lalu menunjuk kepada sebuah kalung berwarna merah dengan motif bendera norwegia. aku segera mengambilnya. memberikan kalung tersebut kepada lukas. aku segera merubah wujudku ke wujud asalku, anjing berbulu panjang dan pirang, dengan mata biru laut. aku melihat ke arah lukas, dia berubah menjadi anjing yang imut, anjing berbulu pirang pucat, bulunya cukup panjang, tingginya tidak setinggi aku, namun tetap digolongkan sebagai anjing besar. aku tersenyum simpul, melihat ke arah anjing berbulu pucat tersebut. mata biru keunguannya terliat indah, aku menggerakan kaki depanku, untuk menarik ujung mulutnya lukas, demi melihatnya tersenyum lagi... wajahnya kembali datar. akupun terkekeh kecil melihat lukas yang sedikit kesal
seekor anjing yang berbadan besar, berbulu hitam pendek mendobrak pintu dengan senjata senjata yang ada di mulutnya. dia membawakan senjata untuk kami, para anjing. ayah segera memerintahkanku untuk memakainya. aku segera memakai perlengkapan perangnya. ada besi yang berfungsi dikaitkan ke mulut, untuk melapisi gigi dengan besi tersebut, agar gigi kami tidak patah dan mempertajam gigi kami. aku memakai kalu dari besi untuk melindungi leher kami dari serangan pada kucing. kami juga mengenakan sepattu yang melapisi kuku kami dengan besi untuk melindungi dan mempertajam kuku kami. juga besi yang berongga untuk hidung kami. kamiadalah makhluk yang lemah tanpa hidung kami~ kau pukul hidung kami dengan keras sampai berdarah, hidup kami tak akan lama lagi. ayah juga membekalkan kami dua buak perisai yang terletak di sisi kiri dan sisi kanan tubuh kami. tak lupa mengikatkan pedang yang dapat menembus kalung besi sang kucing, karena laporanku tentang kompor listrik kepada ayah menginspirasikannya pada sebuah pedang yang panas dan dapat melelehkan besi, tapi tanpa api. tak lupa memakai pelindung kepala, aku tersenyum kepada lukas, yang khawatir melihatku akan berperang. aku mendekatinya dan tersenyum. "aku takkan meninggalkanmu! aku akan selamat!" perkataanku membuat pipinya merah.
(normal POV)
mathias segera meninggalkan ruangan tersebut, sang ayah memerintahkan beberapa penjaganya untuk membawa lukas ke tempat yang aman, dan beberapa penjaga kelas tinggi untuk melindunginya, berjaga jaga kalau ada pasukan kucing yang masuk. mathias sendiri sedang bersemangat untuk perang kali ini. kalau dia berhasil, dia akan meminta persetujuan ayahnya untuk tinggal di dunia manusia. karena ini adalah perang terakhir. perang di mana salah satu raja akan mati. melihat pasukan kucing yang berdiri dengan arah berlawanan, mathias maju untuk mengawali persiapan perang mereka. sang pangeran kucing tersenyum sinis "bersiaplah kalah, pengendus..." "kau yang akan mati di tangan kami, bola bulu..." mathias tersenyum penuh keyakinan. terdengar suara mengeong dari pangeran kucing dan lolongan dari mathias, yang menandakan perang akan dimulai. kedua pasukan tersebut mulai menggigit, mencakar, membunuh satu sama lain. mathias bergerak dengan sangat cepat, meniru bagaimana para petarung yang ada di film film manusia beraksi. memotong kepala banyak kucing dengan cekatan, melempar bom ke arah pasukan kucing. dengan cepat, anggota pasukan kucing berkurang. saat salah satu perisainya hancur, mathias memiliki ide untuk berubah menjadi manusia saat tengah menyerang, di saat keadaannya gawat, dia langsung menjadi anjing lagi untuk menghindari musuhnya. pasukan kucing pun terbang dengan bantuan peri peri. "sial... ternyata selagi aku mempelajari teknologi di dunia manusia, kucing mempelajari dunia peri, terlebih para peri membantunya..." mathias segera menyerang peri peri tersebut, karena peri tersebut sangatlah kecil, dia dengan mudah menggiggitnya, bahkan memakannya, dengan cara kejam, seperti film yang pernah ia tonton. tapi tiba tiba...
BOOOM!
mathias melihat ke arah suara tersebut.. ayahnya! istananya dijatuhi beberapa peri yang dapat meledak bila terbentur! tapi dia tidak ada waktu untuk memikirkan ayahnya, karena ia yakin ayahnya dan lukas sudah aman.
sedangkan lukas yang tengah kabur di dalam istana, mendengar suara ledakan bom dari luar. bom yang dilempar mathias. merasa mathias belum pernah melihat bom, dia mengira bahwa pasukan kucing-lah yang mengebom. ia segera merebut perlengkapan perang yang tanpa sengaja ia temukan di meja di lorong istana tersebut. dia kabur dari para penjaga, sampai..
BOOOOM!
atap istana tersebut hancur dan menimpa lukas, dia dengan mudahnya menyingkirkan bebatuan tersebut dengan bantuan troll-nya, namun, tulang ekornya lukas telah patah, dan membuatnya susah untuk berlari dan menyeimbangkan badan. akan tetapi, dia berhasil keluar. peri perinya melawan peri peri pasukan kucing, dan troll-nya dengan mudah memakan para kucing dan melindungi lukas. lukas berlari secepat dia bisa. tulang ekornya menyulitkan dia. sampai dia bertemu dengan mathias. pasukan kucing hampir kalah. tersisa sang pangeran kucing dengan dua penjaganya, sedangkan mathias hanya sendiri. para penjaganya merobek tubuh mathias dengan cepat, sedangkan mathias menghabisi mereka dengan mudah. dalam sekali gigit di perut, pada penjaga kucing tersebut sudah sekarat. tinggallah mathias dengan sang pangeran, keduanya saling menatap dengan tajam. akhirnya, lukas bisa tenang dengan keadaan tersebut, karna ia yakin mathias pasti menang, namun, mathias menyerang sang pangeran terlebih dahulu, yang menyebabkan perutnya ditusuk oleh pedang sang pangeran. mata lukas terbelalak melihatnya. namun, gerakan cepat mathias membuat sang pangeran kucing mati dengan cepat, tak lupa dia melempar 5 bom kepada istana kucing tersebut, dan dia melihat para penjaganya melempar sang raja dari jendela, dan mengenai bom yang dilempar mathias, sehingga raja tersebut mati. mathias mencabut pedang dari perutnya dengan mudah, dan menoleh kepada lukas dengan senyumnya. "aku takkan mati! tusukan seperti ini hanya hal kecil, hehe.." dia berjalan dengan lemah kepada lukas. lukas menangis senang, berlari dengan susah payah kepada mathias, tanpa disadarinya, ada sebuah batu besar melayang di atasnya, mathias segera menggigit leher lukas yang dilapisi dengan kalung besi, dan melemparnya jauh, itu menyebabkan tubuhnya sendiri terpental ke arah batu tersebut, dan dalam hitungan detik, tubuh mathias tertimpa batu besar tersebut. melihatnya, lukas berteriak histeris, dengan cepat, troll-nya mengangkat batu tersebut dengan mudah, dan menemukan mathias dengan keadaan sekarat. lukas meneriakkan namanya berkali kali "mathias! MATHIAS! KAU TAK BOLEH MATI! TETAPLAH HIDUP! KAU SUDAH BERJANJI!" dia menangis sejadi jadinya. mathias menatap lukas dengan lemah dan tersenyum. "lukas... aku mengantuk..." lukas memeluknya dengan cepat "lukas... aku...me...n..cin..tai..mu..." katanya sebelum ia tersenyum lagi. dengan cepat, lukas menciumnya. ciuman pertama dan terakhir mathias sebelum dia menutup matanya untuk selamanya.
*2 bulan kemudian*
kerajaan anjing telah merdeka, para kucing yang tersisa dijadikan budak. lukas diangkat sebagai pangeran terbaru di sana. dunia tersebut menjadi dunia yang tidak kalah canggihnya dengan dunia manusia. dari pintu belakang istana, terlihat seekor anjing dengan bulu yang tebal dan berwarna pirang pucat sedang keluar bersama troll-nya. dia menuju ke sebuah gundukkan tanah, terlihat ia sedang membawa setangkai bunga. ia tersenyum sedikit, dan meletakkan bunganya di atas gundukan tanah tersebut. "mathias... semenjak kematianmu itu... kerajaanmu menjadi makmur! seperti impianmu... aku mencintaimu mathias... setelah kau tidur di dalam gundukan tanah ini, tumbuh bunga mawar kunig seperti bulumu, padahal tak ada yang menanamnya di sini... hehe... beristirahatlah mathias..." anjing itu bergumam kepada gundukan tanah tersebut, menyentuh batu nisannya, lalu pergi meninggalkannya. setelah dia pergi jauh, terlihat sosok anjing berbulu tebal. warna pirang bulunya itu berkilauan, dia memiliki sepasang sayap, mata buri lautnya menatap anjing berbulu pirang pucat itu pergi, ia tersenyum, "kita akan bertemu lagi.." katanya pelan. lalu menghilang bersama cahaya yang membawanya ke atas langit, di mana dia bisa beristirahat dengan tenang. selamanya.
THE END
