Hitam&emerald suram
_._._._
Onyx&shades of green
Cold&emptiness
All about...
them
E
N
I
G
M
A
Drowns in J y f i c i a
A world of forever and never
2010
By: Kiran-Angel-Lost
Disclaimer : Masashi-san owns Naruto story ever after.
Rated : T
Genre : Fantasy/Romance/Slight Horror
Warning : OOC, AU, OC, So many strange words, etc.
Pairing : SasuSaku, NaruHina, ShikaTema, SaiIno, NejiTen
So far away
The world calls my name
And I see the rainbow bleeds for the forgotten sky
From the horizon, Can you hear?
Their cries?
Fairies with broken wings
Centaurus without bow and arrow
Princess without fairytale
Give me one dream to dream about
Let me living this lie
And I will cry
And stay
Summary:
Dulu ketika aku masih berumur 9 tahun, aku menemukan sebuah buku tua di loteng rumah kakek. Buku itu bukan sebuah cerita dengan gambar manis serta sapuan kuas yang lembut. Buku itu menceritakan sebuah negeri...negeri yang jauh. Tentang lautan tak terbatas, dua bulan dan dua matahari. Menceritakan tentang makhluk-makhluk yang kuyakin tak pernah ada...sampai setahun yang lalu aku bisa melihat teman sekelasku sama dengan makhluk-makhluk itu.
Kemudian aku tahu ada yang salah dengan negeri yang seharusnya tidak ada itu...begitu pula denganku, kurasa ada yang salah denganku...
Chapter 2
The Call
Sudah musim gugur dan itu berarti tugas baru— membersihkan dedaunan di halaman belakang. Aku memandangi pohon oak dan birch itu dari balik kaca jendela loteng. Daunnya terayun-ayun karena angin.
Bayanganku sendiri bisa kulihat dari kaca jendela karena kaca itu sendiri sudah tua dan suram— yah Paman Ben tidak akan menghabiskan dollar berharganya hanya untuk membeli kaca untuk keponakannya tersayang yang hampir membeku di loteng setiap tahun. Jadi teringat satu setengah tahun yang lalu ketika Paman Ben berbaik hati mendaftarkanku di sekolah seperti Widelake Highschool— jujur itu cukup mengerikan mengingat sekolah itu mahal, tapi kemudian aku berhasil menemukan alasannya— tetangga, ugh kalian tahulah dengan rumah seperti ini dan tabungan, saham bla..bla..bla paling minim aku harus bersekolah di tempat yang layak— yeah tapi tidur di tempat yang tidak layak itu bukan masalah— sikap hipokrit Paman Ben. Kadang-kadang aku berpikir itu bodoh karena tetangga-tetangga kami itu benar-benar acuh pada kami.
Kurasa aku mulai bertingkah melankolis lagi.
Di seberang jalan, tampak Mrs. Fuller baru pulang dari mengajak Lucy— pudel pink kesayangannya— berjalan-jalan sore. Pintu rumah putihnya terbuka lebar sebelum anjing pudel itu berlari masuk, dan yang paling hebat adalah dengan keadaan seperti itu Mr. Fuller harus menjadi supir bus— jangan bercanda. Tapi kurasa seperti itulah— seorang suami yang tunduk pada istri mengingat semua kekayaan itu dari orangtua Mrs. Fuller— orang dewasa memang rumit.
Aku beringsut turun dari tempat tidur dan seperti biasa menghampiri lemari kecil dan menarik laci terbawahnya. Di bawah baju-baju tuaku yang tak layak pakai— bahkan jika baju itu didonaturkan pada sebuah panti asuhan.
Aku menarik sebuah buku tua— buku yang kutemukan dulu. Sampulnya tebal berukir, percampuran kulit dan kayu, pada permukaan buku itu, bagian depan maupun belakang terdapat sulur-sulur dengan sebuah lambang aneh di bagian tengah— benar-benar tipikal buku ajaib. Aku menarik napas panjang.
Sulur-sulur itu melilit seluruh permukaan buku seperti sebuah kunci. Aku meletakkan buku besar itu pada lantai kayu di depanku.
Meletakkan ujung jari telunjukku tepat di tengah lambang itu dan menutup mataku. "Bukakan pintu untukku," kataku kemudian menelan ludah sebentar,"dhiar mover," sambungku sambil membuka mata, walaupun aku sudah sangat sering melakukannya, tapi sensasi rasa tertarik yang berputar-putar di perutku tidak pernah berkurang, seolah menjelajahi sebuah rahasia milikku seorang yang tidak seorang pun tahu.
Buku itu tidak bercahaya, berkelip atau yang lainnya seperti dalam adegan dramatis. Buku itu hanya terasa hangat di bawah telunjukku— hidup dan sulur-sulur itu mulai bergesar dan tertarik mundur dengan lembut, sekaligus susah payah seakan mereka itu rantai besi yang kuat. Halaman kuning dan tua terbentang di hadapanku. Aku belum membaca buku ini sampai akhir, tapi aku sekarang ingin membaca tentang makhluk-makhluk berwujud manusia yang kubaca 2 tahun yang lalu. Halaman demi halaman aku buka dengan hati-hati, menyusurkan telunjukku dengan pelan.
Rivara
Kata itu menarik perhatianku.
Dan aku mulai membaca dengan teliti. Halaman demi halaman.
Bisakah kau berhenti menceritakan sebuah dongeng untukku
Karena kita sendiri hidup di dalamnya
Koridor ini cukup ramai, dengan anak-anak lain berdiri bergerombol, mengobrol dekat loker dengan pacarnya, berdesakkan ke ruang ganti dan sejenisnya. Trigonometri adalah kelasku berikutnya. Dengan hati-hati aku menutup lokerku dan mulai berjalan lagi. Bukannya aku tidak menyadari tentang keadaan di sekelilingku, pandangan orang-orang ini tentangku, atau kadang aku akan merasa heran sendiri kenapa aku tidak pernah khawatir— kurasa memang masalahnya ada dalam otakku sendiri. Maksudku, lihat mereka— akan sangat ketakutan jika satu menit saja berdiri sendirian, tidak kelihatan bersosialisasi, bergosip dan mengobrol. Berusaha sekuat tenaga untuk bisa ikut dalam suatu percakapan. Hn...tapi sekali lagi mungkin yang salah itu memang diriku— pernah dengar zoon politicon, ya ya tentu. Dan kurasa aku harus berhenti berpikir untuk berpikir bahwa diriku lah yang aneh.
Tapi aku cukup baik bukan— memberikan diriku sebagai bahan perbincangan mereka. Dan jangan lupakan kemampuanku yang hebat dalam mengerjakan essay, dan aku tidak sedang menyombongkan diri. Huh, sarkasme memang indah,eh?
Aku masih sibuk dengan pemikiranku sendiri ketika langkahku terhenti.
Tubuhku membeku dengan tiba-tiba, bulu kudukku meremang dengan cepat, ini bukan perasaan takut akan hantu— bukan, ini hampir seperti tubuhku berubah menjadi alarm tanda bahaya. Ada perasaan geli menjijikkan yang datang melewati aliran darahku. Jantungku berpacu tidak terkendali dan yang terakhir adalah pandanganku mulai tidak jelas. Perutku terasa mual, ini lebih buruk daripada perasaan ketika kau habis menaiki roller coaster dan dipaksa untuk menyeberangi jurang dengan jembatan kecil setelah itu.
Suara itu berdesis bersama angin.
"Tolong, tolong aku!" bisik suara lirih itu.
Tubuhku sudah benar-benar tegang sekarang.
"Tolong aku," suara itu terdengar berulang-ulang— seperti hanya ada di dalam kepalaku. Terus berulang-ulang sampai rasanya otakku sakit. Keringat dingin turun melewati tenggkukku. Dan kemudian suara itu menjauh.
Aku memutar tubuhku dengan bingung, menuju ke arah mana suara itu.
"Tolong aku."
Rasa dingin merambati tulang belakangku lagi. Ini tidak lucu, bagaimana mungkin aku merasa seperti ini padahal aku tengah berdiri di antara kerumunan orang. Dan suara itu mulai menjauh, seperti berada di ujung lorong ini. Dan yang kulakukan hanya berjalan secepat mungkin, menggenggam erat buku di tanganku. Langkah kakiku berderap di lantai, aku berjalan dengan terengah-engah. Melewati lorong-lorong yang masih penuh siswa dengan kecepatan penuh. Setidaknya, tetap berusaha untuk tidak menarik perhatian maupun tidak sengaja menubruk seseorang. Napasku sudah terputus-putus, aku memang tidak berbakat dalam olahraga— terutama lari, kurasa aku mempunyai sakit paru-paru atau sejenisnya karena setiap berlari dadaku selalu sakit luar biasa.
Tak lama kemudian suara itu membawaku ke luar dan menuntunku ke sebuah bangunan tua yang tidak terpakai. Bangunan itu tidak terpakai karena konstruksi yang buruk dan tanah yang tidak rata—membuat bangunan itu benar-benar tampak memprihatinkan, tetapi karena sekolah ini luas sekali jadi bukan masalah, entah bangunan ini mungkin dijadikan monumen atau sejenisnya.
Dengan terengah-engah aku berhenti di depan bangunan ini. Memandang dengan mata lebar dan jantung berdetak keras. Aku suka film horor tapi aku tidak ingin mengalaminya sendiri, maksudku berbeda duduk di sofa dan melihat, daripada seperti ini. Tapi aku melangkahkan kakiku juga, berusaha mengacuhkan suara di belakang kepalaku untuk kembali.
Dan sialnya suara aneh yang satunya malah menghilang, hasilnya bangunan ini begitu sunyi. Bisa kulihat cat-cat di dindingnya sudah mengelupas. Sejujurnya aku sudah beberapa kali masuk ke sini— tanpa keinginanku sendiri tentunya.
Aku melangkahkan kakiku dengan hati-hati sekarang. Lantai di sini sudah sangat kotor— sudahlah, seakan aku belum pernah ke sini saja. Aku menaiki tangga menuju lantai kedua, berjalan dengan hati-hati. Tetap memasang pendengaranku kalau-kalau suara seram itu muncul lagi. Dan aku tidak berhenti di lantai dua tapi terus naik ke lantai tiga, terakhir lantai empat. Perasaanku mulai tidak enak, dan semoga tidak ada hantu di belakangku untuk mengagetkanku— seperti di film-film.
Aku berhenti di ruangan paling pojok sebelum tangga menuju atap. Ruang seni.
"Tolong aku," bisik suara itu lagi, membuat telapak tanganku langsung berkeringat ketika memegangi kenop pintu.
Aku masuk ke dalam. Kosong.
Baiklah, ini keterlaluan!
Napasku masih berat karena jantungku yang dipacu oleh adrenalin.
Tiba-tiba saja kudengar langkah kaki, berderap dan lebih dari satu orang, secepat mungkin aku menyembunyikan diriku di dalam kegelapan. Bersembunyi seperti tikus.
Terdengar pintu dibuka, dan bunyi sesuatu jatuh terjembam,
"Bangun!" teriak sebuah suara.
Seorang gadis,eh? Aku masih belum berani bergerak. Terdengar tawa mengalir dari dua orang. Jadi jumlahnya ada empat orang yang datang. Aku semakin merapatkan tubuhku ke dinding. Mata terbuka lebar.
"Kubilang bangun!"
"Maafkan aku Tayuya!"
"Gadis bodoh!"
Dan yang kulakukan selanjutnya adalah tidak melakukan apa-apa.
Gadis yang sekarang sedang dijambak rambutnya adalah teman sekelasku, namanya Sasame. Dengan muka beringas Tayuya menarik tubuh Sasame ke atas dan menghantamkannya ke rak. Terdengar rintihan sebagai jawaban. Aku berusaha menutup mataku, tapi suara tubuh yang terus ditubrukkan ke rak itu mencegahku untuk bertindak acuh. Aku pernah berada di sini, dikerjai seperti ini tapi dengan cara yang berbeda, seperti dikunci di dalam ruangan ini sendirian, kacamata atau barangku yang lain disembunyikan di salah sudut gelap di sini. Tapi...
Brukk!
"Kumohon hentikan...kau menyakitiku," kata Sasame di antara tangisnya. Pipinya kelihatan berkilat karena air mata dan cahaya dari ventilasi.
Brrukk
"Arghh...hen..hentikan!"
Tapi kurasa Tayuya memang punya sakit mental. Wajahnya memegang perasaan nikmat setiap kali tubuh korbannya jatuh ke lantai oleh rasa sakit.
Brukk
Bruuk.
"Eng...Tayuya kurasa kita terlalu ber..berlebihan," tukas salah seorang gadis lain dengan gemetar disambut anggukan lemah dari yang lain.
"Diam!" teriak Tayuya sebelum mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Terdengar suara keras kulit dengan kulit beradu. Tayuya menampar Sasame dengan keras hingga ia jatuh terpuruk.
I-ini berlebihan. Bulu kudukku meremang lagi, jantungku berdetak semakin cepat.
Bruuk.
Bruuk.
"Hentikan...kumohon hentikan." Tangis Sasame seperti berdering di telingaku.
Dan perasaan itu datang lagi.
Membuatku sulit bernapas, seperti ada yang menghembuskan hawa dingin ke tulang belakangku. Sial, kepalaku mulai pening. Lututku sudah tidak bisa diajak kerja sama, peluh membanjir di keningku.
"Tolong aku," bisik suara itu. Aku tidak bisa mendeteksi itu suara laki-laki atau perempuan. Perutku rasanya diobrak-abrik.
Setelah sekian lama menahan diri untuk diam akhirnya aku tidak tahan juga, dengan mengepalkan tangan dengan erat aku mulai mengambil satu langkah dengan susah payah. Aku memang bukan seorang pemberani, aku lebih suka diam dan tak peduli pada sekelilingku, tapi melihat orang lain seperti itu menyebabkan perasaan mual di perutku. Dengan hati-hati aku mengawasi mereka sebelum mengambil jarak satu langkah ke depan. Tapi, mataku segera membulat besar saat menyadari ada patung gips sebatas pundak yang cukup besar di atas rak itu bergeser turun. Wajah Socrates itu tampak dingin dan bergetar semakin ke samping. Pelan-pelan dan pasti.
Brukk!
"Ta..yuya."
Brukk.
Semakin ke tepi dan ke tepi. Patung itu tepat berada di atas kepala Tayuya, dan jika jatuh...aku tidak bisa meneruskannya.
Brukk
Brukk.
Aku megap-megap mengambil napas.
Pergi dari situ! Aku mencoba berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar. Bibirku terasa kering.
Brukk.
Brukk.
Dengan gemetar aku mengangkat tanganku yang telah basah oleh keringat dingin.
"Tolong aku!"
Sial, suara ini benar-benar membuatku merinding.
Apa-apa yang harus kulakukan! Aku memang punya kekuatan untuk menggerakkan benda, tapi dalam posisi seperti ini apakah aku bisa. Pikiranku terus berpacu sedangkan syaraf indera-indera perasaku mulai berjumpalitan tak keruan.
"Tayuya...kumohon, maafkan aku, tapi bukan aku yang melaporkanmu," isak Sasame membuat perutku melilit dengan kejam. Ini lebih buruk daripada memakan burger basi.
Bruuk!
Terdengar patung itu berdecit keras sebelum menabrak tepian rak, dan mulai oleng ke samping.
Tidak-tidak!
Crittt!
Tayuya memandang ke atas dengan mata lebar. Detik berikutnya hanya rasa ngeri yang kubaca dari celah-celah matanya.
Dan patung itu jatuh tepat di atas kepala Tayuya.
Darahku berdesir.
"Menyingkir!" teriakku parau.
Menggunakan kekuatanku seperti ini layaknya kau berkonsentrasi untuk menempelkan potongan puzzle dengan benar, atau seperti memasukkan benang pada lubang jarum—namun pada saat yang tepat kau seperti memegang benda itu dengan pikiranmu—seperti memegang udara yang padat. Akan ada getaran aneh pada aliran darahmu yang menumbuhkan kepercayaan dirimu—tentu ini butuh latihan, seperti kita latihan menggunakan kaki untuk berjalan. Kurasa seperti itulah rasanya.
Terdengar bunyi lantai retak, dan suara benda pecah berantakan dengan suara decitan keras yang menyakiti ulu hati.
Terlihat Tayuya dengan wajah luar biasa pucat dan berkeringat bersimpuh di lantai memandangi pecahan patung gips yang berjarak 3 meter darinya. Mata lebar dan berair, kemudian pandangannya beralih padaku—
Sial.
— yang berdiri di tengah ruangan dengan tangan terangkat.
"Tolong aku,"bisik suara itu.
Tidak lagi.
Tiba-tiba saja terdengar jeritan keras, meleking, dan Sasame sudah berlari keluar dengan muka yang tidak bisa kudiskripsikan. Gerakannya kaku, otot-ototnya menegang seakan ia bergerak tanpa keinginannya.
Aku hanya bisa memandang Tayuya jatuh pingsan ke lantai bersama dua gadis lainnya. Tetap berdiri membatu dengan napas berat, tidak tahu apa yang harus kulakukan.
Akhirnya sedetik kemudian aku sudah melesat keluar.
"Sasame!" teriakku. Berlari sekuat tenagaku.
Napasku terengah-engah, dan dadaku terasa sakit luar biasa.
Aku memelankan langkah kakiku ketika kulihat sosok itu berdiri di tengah koridor. Tenang layaknya patung yang sangat mirip dengan aslinya.
"Sasame..." bisikku.
Dia berdiri dan masih terus bergeming. Napasku benar-benar berhenti ketika kulihat matanya— sangat kosong. Tubuhnya putih pucat— seputih salju. Seakan tubuhnya tidak dialiri darah sama sekali.
Aku berusaha merangkai kata. Tapi sekali lagi tidak ada suara yang keluar.
Rambutnya sedikit tergerai ke depan, wajahnya juga menunduk, tapi tangan kanannya yang pucat terangkat perlahan menunjuk tembok di sisi kiriku.
Mataku membulat lebar.
Di tembok itu terdapat sebuah tulisan berwarna merah, dan lambang di bagian bawahnya, dan kau tahu apa yang paling buruk, lambang itu sama dengan lambang di bukuku.
Bunyinya: 'Pintu Terakhir Sudah Terbuka'
Apa maksudnya?
Dan dengan pelan tubuh Sasame terangkat naik, bagian-bagian tubuhnya tampak begitu lemah dan tak bisa digerakkan. Tangannya menggantung ke depan seiring kepalanya yang semakin jauh menunduk. Kurang lebih aku harus memikirkan dia seperti marionette dengan tuannya yang tidak terlihat.
Hal berikutnya yang terjadi benar-benar membuat air mata mengalir deras di pipiku disertai tubuhku yang jatuh terduduk.
Pyaarr!
Suara keras kaca yang pecah memekakkan telinga, bagian-bagiannya terserak di lantai. Tubuh Sasame seperti dilemparkan keluar dengan keras— menabrak kaca, dan jatuh—
Dari lantai 4.
Aku memandang dengan mata terbelalak lebar, tubuhku gemetar tak keruan, bahkan untuk bangkit saja rasanya sulit. Aku semakin memandang nanar ketika tulisan merah tak beraturan di dinding itu mulai menghilang, seakan dinding itu menyerap cairan itu dengan pelan. Tetesan-tetesan pekat berwarna merah yang mengalir kecil di bawah tulisan itu juga mulai menghilang. Perutku benar-benar mual. Cairan itu mirip darah. Atau memang—
Bulu kudukku berdiri lagi. Sekuat tenaga aku bangkit, mengangkat bukuku yang sempat terjatuh tadi dan berlari menuruni tangga. Dadaku rasanya mau meledak karena rasa sakit.
Pikiranku masih kacau.
Kalau Sasame mati—
Aku menggelengkan kepala cepat.
—aku akan jadi satu-satunya...
Aku menjerit dengan keras ketika tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menarik lenganku. Aku berteriak dan meronta sekuat tenagaku. Tapi lengan itu sangat kuat menahanku sampai-sampai bisa kurasakan kulitku telah membiru karena memar.
"Lepaskan!" jeritku sekuat tenaga. "Lepaskan aku—"
"Diam,"desis suara di sampingku.
Tubuhku membeku. Mataku membelalak lebar. Dengan pelan aku memutar kepalaku untuk melihat siapa yang berbicara.
"Sa...Uchiha Sasuke," ucapku dalam bisikan. Mataku segera diseret onyx tak berdasar itu lagi. Pandangannya yang mengintimadasi membuatku semakin sulit bernapas. Udara menjadi pekat dan membuat mataku terasa panas.
"Apa-yang-kau-lakukan-di-sini!" desisnya lagi. Setiap garis wajahnya menegang.
"Ti..tidak ada."
"Jangan berbohong padaku, lalu kenapa kau berlari seperti orang gila?" sentaknya semakin mempererat pegangannya.
"Tidak..tidak...aku tidak bohong." ucapku berusaha merangkai kalimat yang baik, tapi dengan tubuh kami yang berdekatan membuat tubuhku terasa panas, sentuhannya seperti api di kulitku.
"Suara ribut apa tadi?" tanyanya lagi dengan mata menyipit.
Dan baru kusadari aura Sasuke benar-benar tidak terkendali. Bisa kulihat pandangan haus darah itu terpatri di bola matanya. Seperti seekor singa yang mempunyai hasrat untuk bertarung. Tubuhnya bergetar oleh rasa ingin berburu. Dan pelan-pelan baru kusadari getaran itu juga kualami—mengalir dalam darahku. Seakan-akan tubuhku meronta-ronta untuk menghancurkan sesuatu, memusnahkan segala sesuatu yang menggangguku—menyakitiku. Aura Sasuke menarik sesuatu dalam diriku untuk bangkit—rasa penasaran, hasrat dan ambisi.
Tubuhku gemetar semakin hebat.
Aku tidak bisa mengendalikannya!
Dalam pikiranku mulai terlihat gambar-gambar mengerikan—imajinasi terliarku. Sasuke yang kuhantamkan ke dinding, tulang-tulangnya satu-satu aku patahkan, kemudian aku akan melemparkan tubuhnya ke bawah lewat jendela, setelah itu—
Apa-apa yang kupikirkan!
Dan ekspresinya juga tidak berbeda denganku, Sasuke seperti menahan sesuatu, napasnya berat beradu dengan napasku sendiri. Dagu wajah aristokrat itu menegang diiringi pundak yang begitu kaku.
"Apa yang kau lakukan di sini!" teriaknya, mulai kehilangan kendali.
"Aku...aku...tidak melakukan apa pun," kataku mencoba untuk menjawab lebih keras dan tegas.
Kemudian tangannya yang semula memegang lenganku terlepas, terangkat naik dan menghantam kaca jendela tepat di samping wajahku. Mataku terbuka lebar, pecahan kaca itu beberapa menggores pipiku.
Rasa sakit membuat tubuhku menegang dengan tiba-tiba.
Aku...
Kenapa! Aku tidak pernah melakukan apa-apa, tapi kenapa semua orang melakukan ini—kenapa semua orang meyakitiku?
Apa salahku?
Aku...
Dengan suara derak mengerikan semua kaca di deretan lorong ini pecah berantakan, lebih mudah membayangkan seperti terkena ledakan ataupun resonansi tinggi. Bunyi gemeretak yang memekakkan telinga. Pecahan-pecahannya berkilau di udara sebelum jatuh ke lantai.
Aku tidak pernah melakukan kesalahan apa pun—tapi kenapa!
Mata Sasuke masih mengebor dalam. Kemarahan tergambar jelas di matanya.
Kenapa dia marah padaku? Apa salahku?
Dan kemudian pandanganku beralih pada obyek melayang di belakang Sasuke. Kaca-kaca yang terpecah tadi mengarah lurus, tergantung pelan di udara—sedikit berkilau karena sinar matahari. Aku menelan ludah dan bisa kurasakan air mata mengalir pelan di pipiku. Lagi—sedikit lagi aku tinggal melayangkan kaca-kaca itu tepat ke tubuh Sasuke dan selesai. Perasaan ini benar-benar membuat bulu kudukku meremang.
"Apa salahku?" kataku lirih sambil memejamkan mata.
Ayo Sakura arahkan kaca-kaca itu, kemudian kau tidak akan merasa sakit lagi.
Arahkan tepat di kepalanya!
"Apa yang kau katakan tadi," sahut Sasuke dengan suara sedingin es yang menyayat tajam. Tubuhnya bergetar oleh amarah.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Dan aku mulai meronta-meronta seperti orang gila, mencakar sisi wajah Sasuke dan berusaha menendangnya. "Kubilang lepaskan aku!" jeritku tanpa henti.
Perasaan ini—menakutkan.
Aku tak pernah seperti ini—apa pun yang pernah terjadi aku selalu diam, bahkan aku tak pernah takut pada hantu, lapar dan rasa dingin. Tapi kenapa sekarang aku takut sekali, kenapa aku sekarang kehilangan kendali. Aku lebih suka mengalah dan menahannya sendirian tapi kenapa sekarang—
Kemudian yang kulihat hanyalah mata semerah darah dengan tiga koma hitam yang berputar kejam sebelum kegelapan menelanku. Sepenuhnya.
Normal POV
Kakashi menggebrakkan tangannya ke meja dengan keras. Mata yang biasa tampak penuh humor kini menyipit dalam kemarahan yang luar biasa. Kemeja biru tuanya tampak berantakan, begitu pula rambut peraknya. Tangan itu mengepal dan menghantam meja lagi hingga menimbulkan retakan, sekaligus cairan merah yang mengalir di punggung tangannya.
Sasuke duduk di kursi, tak jauh dari meja itu. Pandangan tegang dan kosong. Seragam sekolahnya tampak berantakan, dasinya sudah mengendor dan kemeja putih di balik vest coklat-hitamnya menggantung berantakan.
Tiga sosok yang lain hanya berdiri dalam diam di pojok ruangan. Wajah mereka menunduk. Mereka semua tidak pernah melihat guru mereka semarah ini.
"Aku tidak tahu apa yang lagi yang harus kulakukan, Sasuke," desis Kakashi sambil mendekati murid kesayangannya itu.
"Bagaimana mungkin kau menggunakan kekuatanmu pada seorang gadis yang tidak tahu apa-apa!" Suara Kakashi dalam dan tenang—tapi setiap orang tahu nada seperti itu adalah pertanda bahaya.
Hening.
"Jawab-Sasuke," kata Kakashi lagi, suaranya semakin pekat oleh amarah
"Aku tidak tahu," jawab Sasuke masih belum memandang gurunya.
"Tidak tahu—kau membuatnya memar-memar, menggoresnya dengan kaca dan yang terakhir kau menggunakan— Sharingan," sentak Kakashi lagi,"apakah bagimu ini masih seperti sebuah permainan untuk bersenang-senang."
Sunyi.
"Tidak."
"Jika para dewan tahu apa yang kau lakukan, mereka akan lebih giat untuk menyeretmu pulang, jadi lebih baik jawablah..."
Wajah pias Sasuke tampak semakin suram.
"Aku," kata Sasuke masih dengan sedikit ragu-ragu," aku hanya merasakan suatu perasaan aneh yang menyenangkan..seakan naluri bertarungku sampai pada titik paling tinggi, darahku mendidih oleh rasa tertarik untuk menyakiti—dan melihat tangisan dan permohonannya membawa rasa nikmat tersendiri—menyakitinya, membuatku merasa—merasa puas," akhirnya Sasuke berhasil merangkai kalimat itu dengan baik. Tangannya mengepal kuat. Wajah tampannya masih tetap jauh dari emosi.
Hening.
"Kau lemah Sasuke— bahkan kau tidak bisa mengendalikan kekuatanmu sendiri." respon Kakashi sambil menegakkan tubuhnya dan memandang tajam Sasuke.
"Tapi ada yang berbeda dari gadis itu, aku yakin dia bukan manusia biasa—keberadaannya, auranya membuatku ingin membuktikan bahwa aku lebih kuat darinya!" kata Sasuke masih dengan nada dingin.
"Ino." kata Kakashi sambil memandang gadis berambut pirang yang sejak tadi berdiri di antara Naruto dan Neji.
"Tidak, aku sudah memeriksanya tidak ada setitik pun ficels* pada tubuhnya, jadi aku sudah menghapus memorinya, dia tidak akan ingat apa-apa setelah ia bangun nanti!"
"Bagus," jawab Kakashi.
Semuanya terdiam lagi.
"Aku kecewa padamu Sasuke, dan saat kakekmu mengirim anak buahnya untuk menjemputmu aku tidak akan melindungimu," kata Kakashi kemudian berjalan keluar tanpa menoleh ke belakang.
Tiga sosok yang sejak tadi terdiam akhirnya mendekat.
Naruto mendesah panjang, mengusap-ngusap rambut pirangnya dengan frustasi. Memandang dengan bingung ke arah Sasuke yang masih sediam patung. Rasa khawatir bisa terlihat jelas pada desahan napasnya.
"Aku selalu menyangka kau itu psycho, sadis dan sejenisnya...tapi aku tidak menyangka itu benar, Sasuke, dan apa yang kau lakukan di bangunan tua seperti itu?" ujar Naruto sambil memegang keningnya. "Aku tidak pernah melihat Guru Kakashi semarah itu!"
"Hn..."
Mata Naruto membesar.
"Aku tahu sekarang! Sasuke sudah kubilang kau harus menghentikan kebiasaan merokokmu itu!" seru Naruto dengan wajah kesal.
Tidak ada sahutan.
"Sasuke," kata Neji akhirnya buka suara. "Kau tahu tindakanmu sudah melanggar batas dan kau tahu apa yang lebih dramatis lagi— aku baru saja menerima kabar bahwa ada seorang gadis mati karena terjatuh dari gedung itu."
"Apa!" teriak Naruto.
"Dan mayatnya begitu pucat— darah gadis itu tersedot habis."
Hening.
"Selanjutnya juga ditemukan tiga gadis pingsan di ruang seni bangunan itu!" tambah Ino. Matanya tampak mengandung kekhawatiran.
"Yah, menurut semua fakta itu aneh jika..jika.."
"Haruno," sahut Ino cepat.
"Memang aneh jika Haruno tidak tahu apa-apa," sambung Neji dengan muka serius kemudian berbalik menghadap Ino. "Apa kau yakin tidak ada ficels di tubuhnya?"
"Nope." Jawab Ino dengan yakin. "Aku sudah memeriksa dengan teliti."
"Aa..aku yakin gadis itu ada hubungannya dengan semua ini," kata Sasuke tajam setelah sekian lama bungkam. Tubuhnya menegang lagi disertai alis hitamnya yang bertautan. Suasana bertambah tegang.
"Tapi kau tidak punya bukti, Teme!" sahut Naruto ikut mengerutkan alis. "Dan kenapa kau tampak marah dengan gadis itu, eh?"
Ino memainkan rambutnya dengan gelisah. Sedangkan Neji hanya berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.
Tiba-tiba saja Sasuke melesat keluar, mengacuhkan panggilan dari yang lain.
Langkah kakinya tegap dan cepat. Pandangannya lurus dan dingin. Dia melangkah di lorong sekolah dengan wajah tanpa ekspresi, menubruk beberapa kerumunan dan mendorong siswa lain yang menghalanginya ke samping. Mengacuhkan beberapa gadis yang berusaha menyapanya.
Dia terus berjalan dan mendorong siswa lain yang berada di rutenya dengan kasar. Tapi tidak ada yang memprotes, bukan keputusan yang bijak melawan Uchiha Sasuke dalam keadaan seperti itu. Dia melewati hall sekolah dan menuju tempat parkir.
Tangannya merogoh saku celananya mengeluarkan sebungkus rokok, menyulutnya dan menghirupnya dengan cepat. Rambut gelapnya yang berantakan, menjuntai ke keningnya. Mata onyxnya masih menggambarkan kekacauan yang sedang berlangsung di dalam kepalanya.
Sesaat kemudian tampak mobil Maserati Diablo hitam menyentak ke depan dan melesat dengan kecepatan tinggi disertai bunyi decitan keras.
Sakura POV
Udara mengalir—angin berhembus semilir, di kulitku seperti mengirimkan kabar-kabar di ujung negeri yang lain. Aku berada di atas sebuah tebing yang tinggi. Dataran rendah di bawahku tampak menghijau dipagari hutan-hutan. Cahaya matahari seperti membangkitkan cerita-cerita lama, setiap sudut tampak hidup dengan warna paling berwarna yang bisa kau bayangkan. Tapi yang kulakukan hanya memandang ke arah cakrawala. Baju perangku berkibar oleh angin dengan sebuah jubah merah tua membungkus tubuhku. Panah dan busur tergenggam erat di tanganku.
Tiba-tiba saja terdengar suara derap kaki kuda. Seorang centaurus berbaju zirah berdiri tepat di sampingku.
"Pangeran ingin bertemu dengan dengan Anda, Milady!" suaranya besar dan serak—tapi enak didengar. Suara itu semakin membuyarkan lamunanku.
"Ya, aku akan segera datang, suruh Sasuke—maksudku pangeran untuk menunggu!" sahutku tenang.
...
Aku menarik napas dengan megap-megap dan membuka kelopak mataku dengan sentakan.
Mim-mimpi!
Atap putih di atasku aku pandangi dengan tajam. Ruangan kesehatan ini kosong—tidak. Tak berapa lama kemudian kudengar pintu dibuka.
Mimpi itu?
Apa?
Walaupun begitu...
Suatu saat nanti ceritakan sebuah dongeng
Tentang diriku menjadi itik buruk rupa
Tapi tidak akan ada pangeran yang akan datang
Untuk mematahkan kutukanku
Suatu saat nanti ceritakan juga sebuah dongeng
Tentang aku menjadi puteri salju
Dan kau menjadi pemburu yang sanggup
Untuk mengambil hatiku
~TBC~
Terimakasih telah membaca! ^_^
Centaurus: makhluk ini udah terkenal kok. Lihat aja di google XD #ditampol
Ficels : Sejenis aliran kekuatan tenaga dalam maupun kekuatan yang diambil dari alam. Mirip dengan cakra (saya gaje jadinya kata ini yang buat saya sendiri XD)
Loha! Minna-san. Ini saia udah update chap dua. Maaf kalau mengecewakan. Untuk kekuatan-kekuatan mereka akan saya munculin satu persatu nanti. Hehehe. Di sini Sakura maupun Sasuke terkena shock treatment, hohoho. Jadi yah begitulah jadinya. Saya benar-benar gaje ya. Dan maaf kalau sakuranya berkurang misteriusnya #nangis gelindingan (halah) karena saia pakai POV sakura jadinya perasaan saku mau ga mau terlihat jelas (lha! Salah sendiri kan?) hehehe. Iya sih, tapi semoga tidak mengecewakan. Maaf juga kalau deskrip kurang, Karena pakai POV pertama saya lebih suka pakai deskrip perasaan XDDD voila...jadilah seperti di atas. T.T Untuk karakter Sasuke agak sedikit mirip sama sasuke di fic saia yang the desire is over...engg...tapi beda juga sih, di sini sasuke emang kasar, egois, bla..bla..bla walaupun begitu Sasuke yang ini setia kawan lho, dan nanti sasuke yang mengejar sakura (enggak secara terang-terangan sih), bukan saku yang mengejar sasuke. Mwuhohoho *ketawa gaje*
Saatnya bales review
Aurellia Uchiha
Maaf kalau updatenya lama
Yap ini udah kanan terus kiri-kiri! Semoga besok updatenya makin cepet ya! #ngeles
Arigatou for everything. Makasih udah review. Maukah review lagi? ^_^
4ntk4
Makasih, semoga chapter ini bikin tambah penasaran #ngarep
Yap, sakunya misterius, tapi lebih misterius lagi masa lalunya. Hohoho (promosi) #digebuk
Arigatou for everything. Makasih udah review. Maukah review lagi? ^_^
Hyuuga 'rissa' uchiha
Makasih =D *blushing-diguyur air*
Akan saya usahakan tapi kalau pas adegan action-halah- agak sulit bikin saku kalem. Hehehe ^^7
Arigatou for everything. Makasih udah review. Maukah review lagi? ^_^
Smiley
Astaga, saia blushing-nya ga ketulungan #pingsan (lebayyy) XD
Arigatou~
Yap, ini udah update, semoga besuk semakin cepat update.
Arigatou for everything. Makasih udah review. Maukah review lagi? ^_^
Yah, itu saja. ^_^
Silakan kalau mau memberikan kritik dan saran.
PLEASE REVIEW!
Your reviews make me write!
C u at the next chappie! Ganbatte! ^_^
