.
Gakuen no Fushigi na Gensou to Youkai
Higanbana Rin Lidde-2010
Mystery/Supernatural. T
Pandora Hearts by Jun Mochizuki
Gakkou Youkai Kikou~you~ and Higanbana no Saku Yoru ni by Ryuukishi07
Gakuen no Fushigi na Gensou to Youkai (The Illusionary Mystery and The Demon of School) by Higanbana Rin Lidde
OOCness, Gajeness, death charas, maybe a little bit bloody, AU
.
Would you become, the last?
.
.
"Hey, kek. Memangnya gadis itu seperti apa?"
"Hm… Dia manis, Jack. Seperti gadis pada umumnya. Tapi kecantikannya terkesan tidak lazim. Dia terlalu cantik untuk seorang gadis seusianya,"
.
Chapter 2
.
Kelas ini tidak lagi seperti biasanya. Tidak ada lagi tawa lepas, tidak ada lagi candaan-candaan dari penghuninya. Yang ada hanya sunyi. Semuanya berkabung atas kepergian salah satu dari mereka—bagian dari kelas yang tidak akan pernah kembali, seperti kehilangan satu organ tubuh untuk selamanya-. Segalanya terasa begitu mendadak, sangat rapi. Seolah telah direncanakan oleh seseorang—bukan Tuhan. Tuhan sangat baik, dan tidak mungkin merencanakan hal kejam seperti ini—
Entah, yang bisa tercium hanyalah hawa yang suram. Segalanya terasa monoton, hambar. Seperti film tanpa penonton. Tidak ada gunanya.
"Sampai sekarang, Echo masih belum ditemukan…" ucap Lotti sambil duduk berpangku tangan. Matanya menatap lurus ke arah mejanya, entah apa yang dilihatnya. Rasanya baru beberapa hari yang lalu Lotti dan dua sahabatnya itu tertawa bersama, namun kini yang tersisa dari mereka hanyalah abu—dan ketidakpastian-. Zwei meninggal dengan cara yang tidak wajar, dan Echo bahkan tidak ditemukan dimanapun.
"Sudahlah, Charlotte. Bersedih-pun tidak akan merubah keadaan," kata Oz menenangkan. Meski raut wajahnya menampakkan kesedihan mendalam. Echo—gadis yang dicintainya, meski dia belum mengungkapkannya—hilang tanpa jejak.
Gadis pemilik sepasang mata violet itu duduk diantara dua orang itu—Oz dan Lotti-, memandang mereka berdua dengan tatapan yang tidak bisa diterjemahkan—entah sinis ataupun simpati-. Yang dilakukannya hanya diam, tidak mau berkomentar apa-apa. Mungkin, dia hanya ingin larut dalam diam yang ikut berkabung.
Suasana tetap hening, hingga terdengar bunyi gebrakan pintu, agak keras. Semua menoleh, terlihat seorang anak laki-laki berambut emas dengan dua bola mata yang tidak sewarna.
"Hai, Vincent…" sapa Lotti, tersenyum tipis dan berusaha untuk tetap terlihat tegar. Meski tidak ada lagi semangat dalam ucapannya.
Vincent mendesah pelan sambil berjalan menghampiri Lotti, Oz, dan Alice. Duduk diantara Oz dan Lotti—berhadapan dengan Alice-.
"Kenapa tanganmu?" tanya Oz. Vincent memandangi tangannya yang digips.
"Tadi malam aku tabrakan waktu mau pulang ke rumah," kata Vincent.
"Dasar ceroboh, untung hanya tanganmu? Bagaimana kalau kau tidak selamat, hah?" canda Lotti. Meski dia tahu candaannya kini tidak berarti apa-apa, hambar.
"Hey, Vince! Kenapa tanganmu?" Jack tiba-tiba saja lewat—dengan setumpuk kertas bekas di tangannya-, menepuk kepala Vincent dan memandangi Vincent dengan tatapan mengejek. Sepertinya hanya dia saja yang tidak berkabung hari ini.
"Berisik, Jack!" kata Vincent. Alice tersenyum memandangi mereka berdua.
"Kau terlihat bersemangat, Jack..." kata Alice. Jack tersenyum.
"Untuk apa bersedih lama-lama, Alice?" katanya. Semua terdiam, dalam hati mereka masing-masing mengiyakan ucapan Jack.
"Hh… Kecelakaan lagi trend, ya?—kemarin kakakku juga kecelakaan, dan sekarang dia jadi mumi hidup—" kata Jack.
"Begitulah, menyebalkan sekali. Dari semua anggota tubuh, kenapa harus tangan kanan, sih? Merepotkan saja. Aku jadi sulit beraktivitas kalau tangan kananku tidak bisa digunakan begini…" ujar Vincent sambil mendesah.
"Daripada kau mati, Vincent…" kata Alice sambil tertawa kecil.
"Tapi aku tidak bisa menggunakan tanganku untuk dua bulan, Alice! Kau bayangkan saja, betapa merepotkannya!" kata Vincent.
"Hh… Dasar," gumam Alice. "Ngomong-ngomong, Jack. Apa yang kau bawa?" tanya Alice sambil menunjuk tumpukan kertas yang dibawa Jack tadi.
"Oh, iya! Tadi aku mau minta tolong Vincent membantuku mengurus kertas ini. Kata Break-sensei, kertas ini tolong dihancurkan pakai penghancur kertas yang ada di ruang Tata Usaha. Tapi melihat tanganmu, aku jadi tidak tega…" kata Jack sambil melirik Vincent. Vincent mendengus sebal—dia tidak suka terlihat lemah-.
"Cuma begini saja, tentu saja aku bisa!" kata Vincent sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Benar tidak apa-apa?" tanya Jack. "Tentu saja,"
"Aku bantu, deh…" kata Alice.
.
"Hey, Jack, Alice, kalian pernah dengar legenda di ruang Tata Usaha?" tanya Vincent dalam perjalanan mereka.
"Hah? Yang mana?" tanya Jack.
"Memangnya kenapa, Vincent?" tanya Alice. Vincent mengangkat bahunya, "Tidak jelas juga sih… Tapi katanya, dulu ada kecelakaan di ruangan itu…" kata Vincent.
"Kecelakaan? Ruang Tata Usaha?" Jack memainkan dua telunjuknya dan membuat gestur-gestur aneh.
"Dulu, ada siswa yang menggunakan mesin penghancur kertas di ruangan tersebut, lalu secara tidak sengaja, tangannya ikut masuk dalam mesin tersebut. Dia sempat dibawa ke rumah sakit, namun sialnya dia meninggal tepat saat sampai. Lalu anehnya…" Vincent tidak melanjutkan kata-katanya. Mereka terus berjalan menuju ruang Tata Usaha yang berada jauh di belakang. Suara derap langkah terdengar semakin menggema, hanya suara langkah mereka bertiga. Sesaat, suasana menegang.
"Hey, Vince… Jangan menakut-nakuti," kata Alice sambil tertawa kecil, hambar.
"Vincent, tidak lucu," kata Jack. Vincent menatap mereka berdua.
"Tangan siswa itu tidak ditemukan dimanapun. Meski sudah hancur, seharusnya masih ada sisanya, kan? Tapi di dalam mesin tersebut, semuanya bersih," kata Vincent.
"Wauw, sadis," komentar Alice.
"Haha, sekolah ini dikutuk…" Jack sweatdrop.
"Katanya sampai sekarang, kadang terdengar suara tangisan anak laki-laki, dan kalau sedang sial, orang bisa saja melihat sosok anak tersebut berkeliling ruangan sambil mencari tangannya. Dan… dari tangan kanannya yang putus itu, mengucur darah segar…" Vincent mendekatkan mukanya ke muka Alice. Alice mundur beberapa langkah sambil menjerit. "Kyaaa! Vincent! Tidak lucu!" kata Alice.
"Hey, hey, Vincent. Itu kan Cuma legenda. Lagipula kalau di jaman begini ada yang melihatnya, berarti dia cuma berhalusinasi. Mana mungkin ada hantu di era modern begini?" kata Jack sambil tersenyum mengejek.
"Terserah mau percaya atau tidak. Yang jelas…" Vincent membuka pintu ruang Tata Usaha. Kosong, hanya ada rak-rak buku yang sudah berdebu, buku-buku tua dan usang yang menjadi santapan para rayap, dan dua buah mesin penghancur kertas. Suasana di ruangan itu terasa pekat, namun kosong. Seperti berada di ruang waktu yang berbeda dengan dunia mereka. Sejenak, mereka bergidik ngeri, namun dengan segera menepis semua perasaan itu.
"…Bukti nyata masih ada," kata Vincent sambil menatap salah satu mesin penghancur kertas. Mesin itu terlihat sangat usang, berkarat dimana-mana. Entah sudah berapa puluh tahun tidak pernah digunakan.
Jack masuk pertama, dan langsung menghampiri mesin tersebut. "Sekolah kita ini suka sekali menyimpan barang usang," katanya.
"Hush, Jack. Itu benda keramat…" canda Alice.
"Hoy, sebaiknya cepat saja kita selesaikan pekerjaan ini lalu pergi," usul Vincent. Yah, biar bagaimana pun tidak ada diantara mereka yang mau berlama-lama di ruangan tersebut.
.
"Tch!" lagi-lagi Vincent menjatuhkan kertas-kertas yang mereka bawa. Dia, dibantu Jack langsung memungutnya.
"Menyebalkan, mana bisa aku beraktivitas dengan tangan kiri?" kata Vincent.
"Berarti otak kananmu tidak berfungsi, Vincent. Kau tahu kan? Tangan kiri mengindikasi kemampuan otak kanan, dan begitu sebaliknya…" kata Jack.
"Berisik! Coba saja kau jadi aku, pasti kau akan mengumpat juga!" kata Vincent.
"Sudahlah kalian berdua…" lerai Alice.
"Tch, aku berharap tangan kananku yang sekarang diambil dan diganti dengan tangan yang lebih baik," kata Vincent. Alice mengerjap, lalu menoleh ke arah pria dengan dua bola mata berbeda warna itu.
"Itu permintaanmu?" tanya Alice, tersenyum. Entah mengapa ia tersenyum.
Vincent mengangguk, "Yah, begitulah. Tapi siapa yang bisa mengabulkannya? Itu hanya permintaan bodoh, Alice. Tidak usah ditanggapi serius," kata Vincent sambil mengibaskan tangannya di depan dada.
Alice tidak menjawab, Jack tidak menimpali. Entah mengapa, yang ingin mereka lakukan hanyalah diam, tidak mau berkomentar apa-apa.
Pekerjaan mereka selesai, Alice yang pertama keluar.
"Tapi, itu kan permintaanmu," desisnya.
.
Dua saudara sepupu itu berbaring di atap sambil menatap langit, jauh, tidak terjangkau.
"Oz, ada yang tidak beres," kata Jack.
"Apa?"
"Alice,"
"Alice lagi…" Oz mendesah. "Katakan saja kalau kau menyukainya," kata Oz.
"Apa kau tidak merasakannya, Oz? Sebuah keanehan…" Jack bangkit, begitu pula dengan Oz. Mereka berdua duduk bersila, berhadap-hadapan.
"Dia tidak punya rasa takut, dan ekspresinya… Dia tersenyum, tertawa, sedih, tapi semuanya terasa monoton. Seperti…" Jack berhenti sejenak, mencoba mencari kata yang tepat.
Oz mengangkat sebelah alisnya, "Bosan?"
"Yak, betul! Dia seperti bosan, dan berpura-pura menikmatinya. Seolah-olah dia sudah tahu apa yang akan terjadi. Dan memang dia sama sekali tidak punya rasa takut, terhadap apapun,"
"Bukannya itu bagus? Berarti dia gadis pemberani, kan?" kata Oz.
Jack mengalihkan pandangannya, "Benar juga, sebenarnya. Tapi, melihat ekspresi takutnya ketika Vincent menceritakan legenda sekolah, itu… Itu palsu. Dia hanya berpura-pura. Pada dasarnya, dia sama sekali tidak takut," kata Jack. "Dan déjà vu, Oz! Alice persis dengan gadis yang diceritakan oleh kakek!"
Oz menghela nafas, dia sudah terbiasa menghadapi sepupunya yang hiper dan suka melebihi-lebihkan ini. Tapi kali ini, dia tahu kalau dia harus serius menanggapinya.
"Bagaimana kalau ternyata begini…" Oz memijat dagunya.
"Alice berpura-pura menjadi gadis biasa, karena tidak mau orang lain menyadari kalau dia bukan gadis biasa?"
"Kata-katamu tidak mudah dicerna,"
"Jack, aku berfikir keras agar menemukan kata-kata yang bisa kau pahami,"
.
Di ruang kelas, Alice diam di bangkunya sambil membaca novel misteri, sementara yang lain sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
"Alice!" panggil seorang perempuan berambut peach.
"Hai, Sharon…" Alice tersenyum.
"Kau melihat Vincent?" tanyanya.
Alice nampak berfikir sejenak, "Mungkin di kantin, tadi aku sempat melihatnya disana," kata Alice. Sharon menghela nafas sambil melipat kedua tangan didepan dada.
"Dasar anak itu, padahal aku ada urusan penting dengannya," kata Sharon. Alice tersenyum, "Sebaiknya cepat kau temui Vincent, Sharon…"
Alice memandangi jendela di sampingnya, "Sebelum mentari mengakhiri tugasnya hari ini,"
.
"Huaaaaaah… Akhirnya pulang juga," Vincent berjalan masuk ke kelasnya yang sudah kosong. Semua sudah pulang, dan bodohnya Vincent meninggalkan telepon genggamnya di kelas.
"Loh?" Vincent mengerjap, dia melihat ada setumpuk kertas—tidak terlalu banyak—di atas meja Jack.
"Sebegitu cerobohnya Jack sampai lupa membawa ini?" Vincent menggaruk belakang kepalanya. Dia lalu memutuskan untuk membawa kertas tersebut untuk dihancurkan.
.
Vincent memasuki ruang Tata Usaha dengan ragu-ragu. Wajar, hari sudah malam dan dia tidak ingin kena sial bertemu dengan mahluk-mahluk yang tidak diinginkan.
"Kalau dilihat malam-malam makin seram saja…" gumam Vincent. Dia mencoba menggunakan penghancur kertas yang baru, namun sialnya, tidak bisa hidup.
"Tch, barang baru begini bisa-bisanya rusak?" umpatnya. Dia memandang penghancur kertas yang lama, lalu menggunakan yang itu saja.
.
Kami mengabulkan permintaan.
Apa yang diucapkan adalah doa.
Permintaan yang diinginkan, meski tak terucapkan.
Dalam segala aspek, kami mengabulkan permintaan.
Apa yang diucapkan selalu kami dengarkan.
Permintaan yang diucapkan, namun tak disadari.
Biar bagaimanapun, kami mengabulkan permintaan.
Apabila ucapan adalah permintaan.
Kami akan mengabulkannya.
Kami, yang kau sebut roh. Yang kau sebut penunggu. Yang kau sebut legenda.
Yang kau sebut iblis. Yang kau sebut dewa.
Tujuh youkai.
.
Drrrt… Drrt… Bunyi mesin mulai terdengar aneh, seperti tersangkut sesuatu.
"Ah? Ada apa ini?" Vincent mengamati mesin tersebut, sepertinya ada yang tidak beres dengan mesin penghancur kertas tersebut. Tapi,
"?"
Vincent tidak dapat berkata-kata saat tangan berlumuran darah itu keluar dari mulut mesin, mencengkeram tangan kanannya dengan sangat erat, dan Vincent tidak cukup kuat untuk melawan. Dia berteriak, namun jelas tidak ada yang mendengar.
Yang ada hanya keputus-asaan. Peluh bercucuran, tubuhnya bergetar hebat. Dirinya dikuasai ketakutan yang teramat sangat.
'Aku mengabulkannya,'
CRASH! Tangan kanan Vincent ditarik masuk kedalam mesin, putus.
"ARGH!" Vincent mengerang, dia kehilangan keseimbangan, lalu jatuh.
Karena rasa sakit yang teramat sangat, Vincent mulai kehilangan kesadarannya. Samar-samar, dia melihat sesosok anak laki-laki yang sedikit lebih pendek darinya. Berjalan mendekatinya.
Tes. Tes. Bunyi tetesan darah terdengar begitu nyata dari tangan kirinya yang putus.
"Ka…kau?" Vincent semakin panik, dia ingin kabur, namun sudah tidak punya tenaga lagi. Kini, anak laki-laki itu berdiri di atas tubuhnya.
"Aku sudah mengabulkannya," ucapnya.
"Mengabulkan apa?"
"Permintaanmu,"
"Aku tidak pernah meminta apa-apa darimu!" erangnya.
"Kau berkata, 'Aku berharap tangan kananku yang sekarang diambil dan diganti dengan tangan yang lebih baik,', kan?" ucapnya sambil tersenyum tipis. Vincent membelak kaget.
"Tapi tangan kananku diambil! Dan aku tidak mendapatkan gantinya! Kau tidak mengabulkan apapun!" umpatnya. Anak laki-laki itu berjongkok, dan meraih tangan kiri Vincent.
"Kau menggunakan kata 'dan', kan? Itu artinya, 'diganti dengan tangan yang lebih baik' adalah permintaan kedua. Sayang sekali, Vincent. Kau tidak sanggup membayar dua permohonan, jadi aku hanya bisa mengabulkan permohonan pertamamu,"
"Kau…"
"Bayaran untuk permintaanmu," anak laki-laki itu menyeringai. Vincent membelakkan matanya. Menatap anak laki-laki berambut putih dan bermata violet itu.
Dan yang terdengar kemudian hanyalah teriakan pilu Vincent.
.
"A…lice…." desis Vincent sambil memandang laki-laki yang kini berjalan pergi sambil membawa tangan kirinya. Lalu, kesadarannya terenggut, selamanya.
.
Manusia hanya punya kesempatan sekali, kenapa mereka selalu berharap ada kesempatan kedua?
.
Alice berdiri di atap sekolah. Angin malam ini berhembus cukup kencang, membuatnya harus terus memegang rambutnya agar tidak tersibak angin.
Dia memandang jauh ke depan, namun tidak ada apapun di garis yang dilihatnya.
"Murid, huh? Bodoh sekali yang membuat legenda itu. Padahal, mereka sudah ada jauh sebelum mereka diciptakan ke dunia. Manusia memang suka sekali mengumbar cerita palsu," gumamnya.
.
Kami mengabulkan permintaan.
Ketika dua saudara kembar itu ingin terus bersama, kami mempersatukan mereka dalam kematian.
Ketika laki-laki itu ingin membuang tangannya, kami menjauhkannya dari tangannya selamanya.
Kami mengabulkan permintaan.
Apa yang kau inginkan?
.
TBC
.
Ah, ada yang tahu siapa anak laki-laki itu?^0^
Saya benar-benar kehabisan ide, dan akhirnya memakai dia dalam fanfic ini. Haha, malah jadi crossover rasanya…==a
Anak laki-laki itu adalah salah satu tokoh manga yang dikarang oleh Jun Mochizuki, silahkan cari tahu sendiri. :3
Fanfic ini sepertinya tidak akan memuat semua dari tujuh keajaiban sekolah. Mungkin hanya tiga keajaiban saja, dan chapter depan adalah yang terakhir. Maaf kalau banyak pihak yang tidak berkenan, masalahnya adalah kegiatan sekolah saya sudah dimulai sejak senin ini cukup menyita waktu, jadi saya lebih baik menyelesaikan cerita tanpa mengurangi esensinya, ketimbang hiatus berkepanjangan. Sekali lagi mohon maaf. Identitas Alice akan terungkap di akhir chapter depan, dan yang menjadi korban selanjutnya akan menjadi korban yang paling tidak diinginkan mati oleh penggemar Pandora Hearts. Fanfic ini akan berakhir di chapter empat.
Yasud, review?
Fujoshi rocks!
Xoxo
Rin
