"Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaa," Sakura berlari gesit saat Sasuke mulai berniat menghampirinya.
Dia takut dengan pemuda yang baru ditemuinya beberapa saat lalu. Karena ulahnya yang membuat pemuda itu geram. Ada sedikit rasa bersalah di hati Sakura. Tapi yang saat ini ada di benaknya adalah 'kabur' menyelamatkan diri dari amukan si rambut pantat ayam.
"Sial," desis Sasuke yang tak bisa mengejar Sakura. Melihat kondisi kakinya yang masih bertumpuh pada kursi roda.
.
eMJe Present:
Love, Love, Love!
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pinjem Character-mu yah oom, tanpa niat cari untung kok. XD
Warning : Typo, OOC, and bla bla bla XD
Genre : Drama, Humor, Friendship, Hurt.
SasuSakuSai
Rated T
.
.
"Hossh.. Hossh.. Hossh.." nafas Sakura masih tersengal-sengal. Ia berhasil melarikan diri dari pemuda bermata onyx yang sedang memburunya itu. Posisi Sakura sekarang tak jauh dari halaman. Hanya tersekat oleh dinding. Matanya masih menjangkau pemuda yang ada di sana. Ia masih memantaunya.
Tak lama kemudian, Sasuke pun berlalu dari halaman rumah sakit. Sakura merasa aman.
'Ah, syukurlaaaaah Tuhaaaan' benaknya.
Sakura meninggalkan tempat itu. Ia bermaksud untuk kembali ke ruangnnya. Beristirahat. Layaknya seorang pasien pada umumnya.
Tapi baru separuh jalan menuju kamarnya, tiba-tiba saja…
"Sakuraaaaaaaaaaaaaaaaa," teriak seorang wanita yang kini jaraknya tak terlalu jauh dari posisi Sakura. Sakura pun mencari sumber suara itu.
"Inooooooooo!" balas Sakura menyapanya. Ino berlari kecil menghampiri gadis berambut merah muda pucat itu.
"Aku mencarimu tau! Kau ini tak bisa diam di kamar yah" gerutu gadis pirang yang kini ada di hadapan Sakura.
"Habiiiisss aku bosaaaan di kamaaarrr.. Salah mu sendiri tak menemaniku dari pagi," gumam Sakura sambil memaju-majukan bibirnya.
"Maaf. Hari ini aku ada middle test. Jadi aku tak bisa mengunjungimu setiap saat, Maaf yah," bujuk Ino sembari memeluk Sakura dari belakang.
"Tak apa-apa kok. Aku ngerti," Sakura tersenyum, tapi entah kenapa tiba-tiba raut mukanya berubah menjadi murung.
"Ada apa?" Tanya Ino agak khawatir.
"Sudah lebih dari sepekan aku dirawat di rumah sakit. Aku juga merindukan sekolah," Sakura tertunduk.
Ino yang merupakan sahabat Sakura sejak kecil, sangat mengenal sahabatnya itu. Sakura sangat kesepian.
"Hmm. Makanya kau harus lekas sembuh. Mereka juga sangat merindukanmu. Sekolah sepi tanpamu, nona pembuat onar. Hahaha," ledek Ino mencoba mencairkan suasana.
"Hahaha sial kau," Sakura yang disebut sebagai pembuat onar pun langsung mengacak-ngacak rambut pirang sahabatnya itu dan berlari meninggalkan Ino sambil menjulurkan lidahnya.
"Heh. Awas kau Sakuraaaaaa," Ino pun berlari mengejar Sakura.
Momen seperti inilah yang sangat mereka rindukan. Bercanda bersama. Tertawa bersama. Berbagi dengan indahnya. Itulah gunanya sahabat…
"Ah Inooooooo, sakiiiiit," teriak Sakura. Hahaha Ino baru saja mencubit pipi gadis bermata emerald itu ketika mereka berdua sampai di depan pintu kamar Sakura.
"Suruh siapa kau mengacak-acak rambutku," gerutu Ino.
Sakura hanya tersenyum melihat rambut Ino yang sedikit berantakan karena ulahnya. Ino yang menyadarinya pun langsung tertawa kecil.
"Ayo masuk," pinta Ino. Sakura pun membuka pintu kamarnya.
Tapi,…
"Sai?!" Sakura kaget melihat seorang pemuda dengan wajah tenang dan datar sedang duduk di sebuah kursi kamarnya. Sakura masuk ke kamarnya, diikuti Ino dari belakang.
Sai bangkit dari duduknya. Dia menghampiri gadis berseragam pasien itu.
"Ada apa kau kemari?" Tanya Sakura.
"Ah, aku tunggu di luar saja yah," tawar Ino yang merasa canggung berada diantara mereka berdua.
"Tidak usah, Ino. Tetaplah di sini," Sakura menahan Ino.
Sakura masih menatap pemuda di hadapannya itu. Begitu pula dengan Sai. Ino hanya bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Karena yang ia tau, Sakura dan Sai itu adalah pasangan kekasih.
"Aku ingin bicara dengan mu," ucap Sai masih dengan wajah tenang menatap dalam emerald gadis itu.
"Bicaralah,"
"Hanya berdua," pinta Sai.
"Aku tidak mau. Kalau mau bicara, bicaralah di sini. Kalau kau enggan. Yaudah lupakan apa yang ingin kau bicarakan. Beres kan?" ketus Sakura yang sekarang duduk di tempat tidurnya. Ino masih tak mengerti dengan semua ini. Apa yang terjadi dengan mereka berdua? Kenapa suasana jadi setegang ini? Ada apa sebenarnya?
Sai mengerti betul. Gadis yang baru saja berbicara ketus ini sangatlah keras kepala. Makanya ia tak ingin memaksanya lagi…
"Aku hanya ingin dengar alasanmu. Kenapa kau putuskan hubungan kita?" Sai masih menatap Sakura.
"Sai, dengarkan aku. Kita sudah putus dari beberapa hari yang lalu. Untuk apa kita bahas lagi?"
"Bagimu semudah ini? Kau menerimaku, dan kita jalani hubungan ini yang hanya beberapa hari dan setelah itu kau langsung meninggalkanku? Apa salah ku? Katakan Sakura!" nada Sai agak meninggi. Ino masih diam.
"Kau tak salah. Aku yang salah. Karena aku tak pernah mencintaimu," ujar Sakura memalingkan wajahnya dari tatapan tajam Sai.
"Kau bohong! KAU BOHONG, SAKURA!" Sai pun tak bisa menyembunyikan rasa kekecewaannya.
Sai, mantan pacar Sakura. Mereka pacaran hanya beberapa hari. Dan Sai tak mengerti alasan Sakura menyudahi hubungannya itu. Ada yang tak beres. Sai tau, Sakura bukan tipe perempuan yang tega mempermainkan lelaki. Sai mengenal betul mantan gadisnya ini.
Sakura hanya tersenyum sinis. Sai menyambar lengan Sakura.
"Coba tatap mataku, dan bilang kalau kau tidak pernah mencintaiku! Tatap Sakura, ayo tatap aku!"
Sakura masih menunduk. Sai menggenggam lengan Sakura erat. Menatap gadis yang di hadapannya. Ino hanya menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tak pernah menyangka akan hal ini.
"Kau tak berani kan? Kau tak berani menatap mataku. Karena kau masih mencintaiku. Kau masih mencintaiku, Sakura,"
Hening sejenak…
"Aku.. Aku tak pernah mencintaimu,"
DEG~
Sakura pun menatap mata Sai, tajam. Sai tak percaya. Dia tak percaya bahwa wanita yang ia cintai selama ini tak mencintainya.
"Aku tak pernah mencintaimu," ulang Sakura. Masih menatap Sai. Sai pun melepas genggaman tangannya pada lengan Sakura. Sakura meninggalkan Sai, dan juga Ino di sana. Dia keluar. Sai tak mengejarnya. Ino pun tak berani. Ia mengerti bukan saatnya menanyakan hal ini sekarang pada Sakura yang masih terbawa emosi.
Sai tertunduk lemas. Batinnya sakit. Kecewa.
Ino pun merasa pilu melihat Sai yang seperti itu. Miris. Entah kenapa hati Ino terasa sakit melihatnya.
.
.
.
Di ruangan lain…
"AHHHHHHH….." rintih Sasuke.
"Tahan sakitnya, Sasuke," ujar dokter.
"AAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHH!"
Kini, Sasuke sedang menjalani terapinya bersama dokter Jiraiya dan dengan dibantu dokter lain. Nampak Mikoto dan Itachi ada di sana.
Sasuke merasa kesakitan.
"Hentikan!" bentak pemuda bermata onyx tersebut.
"Coba sekarang pelan-pelan, oke?" bujuk sang dokter.
"Cukup! Aku tak mau lagi!Aku tak mau menjalani terapi ini!" tersirat jelas di wajahnya, ia sangat frustasi.
.
.
.
Keesokan harinya..
Sakura seperti biasa, Ia pergi ke taman dan bermain dengan anak-anak kecil yang ada di sana.
"Leeeee, ambilkan satelkop-nya," teriak Sakura pada Lee, seorang anak laki-laki berumur 10 tahun. Yang juga merupakan pasien di rumah sakit ini.
Mereka berdua sedang asik bermain badminton. Lee yang masih kecil itu agak kesulitan menyeimbangkan permainnya dengan gadis berambut soft pink itu.
"Ah, kau ini. Yang benar Lee lemparnya," gerutu Sakura yang harus berlari mengambil satelkop yang melebihi posisinya berdiri.
Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang pemuda yang duduk di kursi roda mengambil benda yang Sakura cari sedari tadi. Sakura pucat. Ia seperti melihat hantu saja. Sasuke wajahnya masih dingin.
"Ke- kembalikan.. kembalikan satelkop-ku," pinta Sakura. Suaranya agak bergetar. Jarak mereka hanya terpaut 1 meter.
"Kau bodoh kalau kau berfikir aku akan mengembalikannya padamu," Sasuke tersenyum sinis.
"Apa sih mau mu? Itu milikku! Kembalikan," Sakura tak ingin kalah dari pemuda bermata onyx ini. Sakura mendekatinya, berusaha mengambil benda yang ada di tangan Sasuke. Namun pemuda itu sangat kuat. Ia tak semudah itu akan berbaik hati kepada gadis yang sekarang tepat berada di hadapannya ini, setelah insiden kemarin.
"Siniiiiiii, berikan padaku," Sakura masih bergulat dengan tangan Sasuke yang berusaha menampik jangkauan Sakura.
"Yah! Kenapa kau lempar ke sana, bodoh!" gerutu Sakura ketika Sasuke melempar benda miliknya itu ke kolam yang ada di sebelah mereka.
"Katanya kau menginginkannya. Ambillah," Sasuke tersenyum manis. Sakura tau, pemuda yang ada di hadapannya ini hanya memasang wajah manisnya yang membuatnya ingin muntah.
"Kauuuuuuu?! Kau tau kau itu pemuda bodoh, aneh, idiot dan menyebalkan yang pernah aku temui! Kau itu sangat sangat menyebalkaaaaaaaaannnn tauuuuu!" teriak Sakura yang mendekatkan wajahnya ke wajah manis pemuda itu.
"Begitukah?" Sasuke masih mempertahankan wajah innocent-nya. Dan itu malah membuat Sakura makin geram melihatnya.
"Kau harus tanggung jawab! Cepat ambil, bodoh!"
"ti.. dak.. maaaa… uuu!" jelas Sasuke dengan penekan di kalimatnya itu.
"Arrrggghhhh. Kau ini sangat menyebalkaaaaaaan!" Sakura menghentak-hentakan kakinya di tanah. Geram.
Mereka masih saling tatap. Tatapan sengit tentunya.
"Cepat ambil. Kalau tidak, aku akan…." ucapan Sakura menggantung.
"Akan apa? Hah? Kau akan melempariku lagi dengan sandalmu? Seperti waktu itu? Kau adalah gadis sangat aneh yang pernah aku temui. Dan kau pun sangat sangat menyebalkan!" ucap Sasuke tak kalah sengit.
"Arghh.. KAUUUUU!" Sakura pun maju menjambak rambut raven milik Sasuke. Sasuke yang tidak terima pun membalasnya. Mereka saling jambak. Ini seperti perkelahian antara perempuan dan perempuan. Lucu saja kalau Sasuke yang seorang pria harus berkelahi dengan seorang gadis dengan gaya kekanak-kanakan seperti ini.
Penghuni rumah sakit yang ada di taman pun tak ada yang berani melerainya. Mereka semua hanya menontonnya, termasuk Lee yang bersorak sorai seperti supporter yang mendukung Sakura.
Tak lama kemudian, seorang lelaki tampan melerai mereka berdua. Ia menahan gadis itu. Memapah gadis itu, hingga kaki Sakura tak menyentuh tanah. Tapi kaki dan tangannya masih memburu pemuda berkursi roda itu. Nafas mereka panas. Tatapannya sengit. Rambut mereka sangat sangat berantakan. Kacau.
"Lepaskan aku! Turunkan aku! Aku masih belum puas mengahajar lelaki menyebalkan seperti dia," tunjuk Sakura ke arah Sasuke. Sasuke hanya diam. Dia masih mengatur nafasnya.
"Kau masih sama seperti dulu yah, Sakura Haruno," ujar pria yang masih memapah Sakura itu.
Sakura kaget. Ia pun menoleh ke pemuda yang baru saja melerai perkelahiannya itu.
"Senseiiiiiiiiii," sapa Sakura girang. Orang yang dipanggil sensei itu pun menurunkan Sakura. Sakura yang senang langsung memeluk pria itu.
"Hah Sensei?" Sasuke terkejut. Karena orang yang baru saja dipanggil sensei itu adalah kakaknya. Uchiha yang lain.
"Itachi-sensei, aku sangat merindukanmu. Sudah lama sekali kita tidak bertemu,"
"Kau makin cantik, Sakura-chan. Gomen ne, setelah pindah aku pun tak mengabarimu. Aku terlalu sibuk saat itu,"
Sakura hanya mengangguk.
"Oh yah, kenapa kau berkelahi dengan Sasuke?" Tanya Itachi. Sasuke masih berada di dekat mereka berdua.
"Sasuke? Pria itu?"
"Hn."
"Habis dia sangat menyebalkan, senseiiii. Kau tau? Dia menggangguku, lalu melempar benda milikku ke kolam. Dan dia tak mau tanggung jawab untuk mengambilnya. Dia sangat sangat sangat menyebalkan pokoknya," tuturnya pada Itachi. Sasuke yang mendengar laporan gadis itu pun hanya memutar kedua bola matanya. Bosan.
"Hn. Begitu yah?"Itachi masih merapikan rambut Sakura yang berantakan. Sakura sudah Itachi anggap seperti adiknya sendiri. Dia sangat menyayangi mantan murid karate-nya ini.
Itachi, saat ia masih kuliah. Dia bekerja part time di sebuah tempat kursus karate. Dia pun mengajari Sakura tehnik-tehnik karate saat Sakura masih duduk di bangku SMP. Tapi sejak Itachi lulus kuliah, dan harus pindah. Itachi pun berhenti mengajar. Dan memulai bekerja di perusahaan milik keluarga Uchiha. Sejak saat itulah Sakura tak pernah bertemu dengan Itachi lagi.
"Dua orang bodoh sedang bercakap. Cocok sekali," sindir Sasuke.
"Tuh kan, liat Itachi-sensei. Dia sangat-sangat menyebalkan, bukan?"
"Sudahlah, Sakura- Chan. Jangan hiraukan dia, dia memang begitu orangnya. Dan kau Sasuke, apa kau tidak malu berkelahi dengan anak perempuan?" Itachi menegur adiknya.
"Bukan urusanmu!" ketus Sasuke.
"Kau itu memang idiot yang tak pernah bersikap ramah pada orang lain," sindir Sakura.
"Kalau aku idiot berarti kau adalah orang gilanya!" balas Sasuke.
"Idiot! Cepat minta maaf padaku!" tuntut Sakura.
"Aku tidak mau! Jelas?"
"Iiiihhhhh kau ini menyebalkan! Sudah salah juga tapi masih keras kepala!"
"Aku tak pernah salah. Kau lah yang memulai semua ini duluan. Pertama, kau melempariku dengan sandal. Kedua, kau menarik rambutku. Kau yang salah, nona berjidad lahan parkiran!"
"DIAM KAU PANTAT AYAM!"
"KAU YANG DIAM!"
"KAU!"
"KAUUU!"
"KAUU!"
Itachi yang melihat dua remaja ini bertengkar hanya memegangi kepalanya. Tak sanggup.
'Kami-sama, tolong hentikan kekecauan ini' batin Itachi.
Sakura dan Sasuke masih saling menyalahkan satu sama lain. Tak ada yang mengalah diantara mereka. Itachi berusaha melerai mereka.
"Sudahlah kalian. Kenapa malah bertengkar lagi," Itachi berusaha memisahkan mereka berdua tapii…
"DIAAAAAAAMMMM!" Bentak Sakura dan Sasuke secara bersamaan terhadap lelaki yang baru saja ingin melerainya tersebut. Itachi langsung sweatdrop.
.
.
.
To be continued dulu yah XD
.
Gomen ne baru publish, lagi sibuk UAS~ hahhah .
Chp 2 aku buat Sasu Saku masih belum akur.. Berusaha mendapatkan feel yang pas.
Semoga kalian suka dengan chp 2 ini.. *tegang nunggu respond*
Terimakasih buat kalian yang sudah review, follow story dan Fav story.. :
Hidan Cantik - Ayano Futabatei - Mako chan - Akasuna no ei chan - Maya Kimnana - Uchiha Shige - – Sasurakun – Cherrysakusasu – KunoichiSaki Mrs Uchiha Sasuke – Hikari 'ShiChi' ndychan
Thanx yah…
Aku harap tidak ada "silent reader" karena aku pun ingin melihat respond kalian.. Kalau ingin aku lanjutkan, tolong REVIEW yah … Karena semangatku meneruskan atau tidak cerita ini tergantung kalian .. *ojigi* INI CIYUS LOH! hahaha XD #ngancam #dibantai XD
